
Anakmu......
"Alesha kau jangan bercanda," Ucap Jacob yang benar-benar syok akan ucapan istrinya barusan.
"Apa alat testpack ini terlihat sedang membercandaimu?" Alesha berbalik tanya.
Sejenak tubuh Jacob mematung, otaknya sedang berusaha untuk mencerna apa yang Alesha ucapkan juga dua garis merah yang ditunjukkan oleh alat testpack itu.
Lalu kemudian Jacob menggelengkan kepalanya. "Kau hamil, Alesha?" Parau Jacob. Antara senang, dan sulit menerima kenyataan jika istrinya sudah hamil, Jacob malah terlihat seperti seorang yang linglung saat ini.
Berbeda dengan Alesha, senyumannya semakin memancar bersamaan air mata yang mulai membasahi wajahnya. "Iya, aku hamil. Aku sedang mengandung anakmu, anak kita, Jack."
Jacob terkesiap. Ia bahagia karna akhirnya Alesha sudah mengandung anaknya, tapi disisi lain ia juga merasa bersalah atas kehamilan Alesha. Bukan karna Jacob enggan untuk memiliki anak, tapi karna ia merasa khawatir dengan kondisi Alesha. Usia Alesha masih sangat muda, belum lagi riwayat darah rendah juga penyakit ASMA yang Alesha miliki, dan Jacob sadar kalau risiko besar sedang menunggu Alesha.
"Jack, apa kau tidak bahagia?"
Pertanyaan Alesha barusan membuat Jacob terbuyarkan dari lamunannya.
"I-iya, Al?"
Alesha menatap haru pada suaminya. "Apa kau tidak bahagia dengan kehamilanku?"
Bahagia? Tentu saja! Jacob sangat bahagia dengan kabar itu, tapi disisi lain ia juga merasa takut, dan khawatir akan kondisi Alesha ketika sudah hamil besar nanti.
"Tentu saja aku bahagia, Alesha," Jacob menangkup wajah istrinya. "Banyak pasangan suami istri diluar sana yang kesulitan untuk mendapatkan kehamilan. Tapi kita, belum genap dua bulan kita menikah kau sudah hamil."
Jacob meraih pinggang Alesha, lalu mendekap tubuh istrinya itu dalam pelukan erat.
"Aku sangat bahagia, Alesha. Akhirnya kita akan segera memiliki anak," Ucap Jacob.
Tapi aku juga takut, Alesha. Maaf, karna aku kau jadi hamil secepat ini........ Lanjut Jacob dalam hatinya.
"Kita harus memberitahu kabar ini pada yang lain, Jack. Kakek! Oh ya ampun kakek pasti akan sangat bahagia karna akan segera mempunyai cicit!" Girang Alesha dalam pelukan suaminya.
"Besok kita kedokter, kita akan cek kandunganmu," Ucap Jacob.
"Aku jadi tidak sabar, kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan?" Meski masih dalam pelukan suaminya, Alesha sangat bersemangat hingga tiada hentinya berjingkrak penuh suka cita. "Ah, aku sangat bahagia, aku akan segera menjadi ibu. Kita akan segera memiliki anak, Jack!"
Tetapi Jacob masih diam, dan kian mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri tercinta.
Kau tidak tahu risiko besar apa yang akan kau hadapi, Alesha...... Lirih Jacob dalam hatinya.
***
Keesokan harinya....
Disalah satu rumah sakit besar yang berada di pusat kota Bandung, kini Alesha, dan Jacob sedang duduk di ruang tunggu depan poli kandungan.
"Ibu Alesha," Ucap seorang perawat wanita yang keluar dari dalam ruang poli kandungan tersebut.
Langsung saja Alesha, dan Jacob bangkit dari duduk mereka lalu berjalan masuk ke dalam ruangan dimana terdapat seorang dokter wanita yang khusus menangani para ibu yang sedang hamil.
"Assalamualaikum..." Ucap Alesha.
"Waallaikumussalam... Eh dengan ibu Alesha ya?" Balas dokter wanita itu dengan sangat ramah.
"Iya, saya sendiri," Alesha mendudukkan tubuhnya pada bangku yang sudah disiapkan tepat dihadapan meja sang dokter kandungan itu.
"Ehmm, ada apa nih?" Canda sang dokter.
"Hehe, gak papa, Dok, cuman mau cek kandungan aja," Balas Alesha.
"Owh, oke kalo gitu," Dokter kandungan itu pun mengambil beberapa lembar kertas yang berisi data diri Alesha.
"Udah hamil dari kapan nih?" Tanya dokter itu dengan senyum manisnya yang ditujukan untuk Alesha.
"Gak tau, Dok, soalnya baru ketahuan semalem kalau saya itu hamil," Jawab Alesha.
"Wah, selamat ya kalau begitu," Dokter tersebut terlihat antusias, dan turut merasa bahagia atas kehamilan Alesha yang baru diketahui malam tadi.
"Heheh, iya makasih, Dok."
Lalu dokter kandungan tersebut bangkit dari bangku kerjanya. "Ayo sini, biar saya cek dulu."
Alesha tersenyum sembari melirik pada suaminya, dan Jacob pun membalas senyuman istrinya itu dengan senyuman juga.
Sejurus kemudian, Alesha bangkit, dan berjalan menuju kasur khusus pasien.
"Usianya berapa, Bu?" Tanya sang dokter.
"Baru dua puluh tahun, Dok."
"Wih, masih muda banget dong."
"Heheh, iya, Dok."
Alesha membaringkan tubuhnya diatas kasur pasien. Lalu kemudian sang dokter kandungan itu pun memeriksa kondisi kehamilan, dan juga tubuh Alesha. Hanya selang beberapa menit berlalu, barulah dokter tersebut beres mengecek kondisi Alesha.
"Sudah ayo," Ucap sang dokter.
Alesha bangkit, dan beranjak turun dari kasur pasein. Lalu setelah itu ia pun berjalan kembali menuju kursi yang tadi ia tempati tepat disebelah suaminya, Jacob.
"Sebelum ini ada keluhan yang dirasain gak?" Tanya sang dokter.
"Udah sekitar seminggu ini, atau mungkin lebih, saya ngerasa kalau badan saya itu pada sakit, trus kepala pusing sama mual-mual, Dok," Jawab Alesha.
Dokter kandungan itu malah terkekeh ketika mendengar jawaban dari Alesha.
"Gak apa-apa, itu emang gejala awal kehamilan, nanti juga enggak."
Alesha mengangguk- anggukkan kepalanya dengan pelan.
"Tapi, Dok, istri saya punya riwayat darah rendah sama ASMA," Ucap Jacob yang tampak mulai khawatir.
"Waduh, darah rendah sama ASMA!" Dokter kandungan tersebut melirik pada Alesha.
"Hmmm, bahaya juga ya, apalagikan istri anda juga masih usia dua puluh tahun, trus punya riwayat darah rendah juga."
"Trus baiknya gimana, Dok?" Tanya Jacob.
"Sebenarnya memang hamil diusia sebelum dua puluh lima tahun itu memiliki risiko yang cukup bahaya juga buat kesehatan kandungan, dan ibu hamilnya sendiri. Apalagi kalau ibu hamilnya juga punya riwayat penyakit, contohnya ya seperti ibu Alesha ini," Jelas sang dokter. "Ada baiknya buat jaga kesehatan, dan pola makan, jangan terlalu banyak pikiran, apalagi kelelahan, sering-sering konsultasi kedokter atau bidan, minum banyak vitamin, rajin olahraga, seperti senam ibu hamil, yoga, dan yang lain-lain, juga mengonsumsi obat asma yang bisa dihirup atau inhaler kan banyak tuh dijual di toko. Dan kalau usia kandungan udah menginjak dua puluh delapan minggu sering-sering pantau pergerakan janinnya setiap hari."
"Lalu untuk darah rendahnya gimana, Dok?" Tanya Jacob.
"Untuk darah rendahnya sendiri bisa diatasi dengan sering makan makanan yang sehat, dan bernutrisi, banyak minum air putih, anjuran dari saya sih kalau bisa dua koma lima liter perhari, kalo mau bangun, atau berdiri jangan terlalu cepat, cukup pelan-pelan aja. Atau gak nanti saya bakal kasih resep vitamin sama suplemen khusus buat dikonsumsi sama ibu Alesha sehari sekali."
"Tapi, Dok, risiko yang bisa dialami sama ibu hamil yang masih muda kaya saya ini, trus punya riwayat darah rendah sama ASMA itu apa aja ya?" Alesha tampak khawatir ketika mengajukan pertanyaannya barusan.
"Hmmm... Cukup banyak juga, tapi yang biasanya terjadi sih yaitu bayi terlahir dengan berat badan yang kurang, prematur, atau bahkan yang lebih parah lagi bisa menyebabkan kematian."
Terdengar helaan napas berat dari Alesha. Ia mulai panik. Bagaimana tidak? Mendengar risiko besar dari dokter barusan membuat Alesha benar-benar takut. Ia khawatir dengan keadaan janinnya nanti.
Refleks, Alesha meremas kuat jemari suaminya.
"Berarti-kehamilan saya-berisiko-besar ya, Dok?" Lirih Alesha.
"Bisa dibilang begitu," Jawab sang dokter.
"Hhhhhh..." Alesha menarik napasnya dengan panjang.
"Jangan panik!" Ucap sang dokter secara mendadak. "Nanti kalau panik takutnya malah berpengaruh buruk sama kehamilan ibu yang sekarang."
"Trus saya harus gimana, Dok?" Tanya Alesha sangat lirih.
"Ikutin apa yang tadi saya anjurin. Sering-sering aja konsultasi sama dokter, check up yang rajin, dan yang pasti jangan sampe stres karna itu bakal kasih pengaruh buruk yang cukup besar buat kehamilan."
Dokter kandungan itu pun kemudian menuliskan sebuah resep vitamin untuk Alesha. "Ini saya bakal kasih vitamin ya, dimakan sehari sekali, jangan lupa atur pola makan yang baik, dan harus makan makanan yang mengandung gizi, sama protein. Gak boleh kecapean, stres, atau mikirin hal yang berat-berat."
"Ini resep vitaminnya. Dimakan teratur ya."
Alesha pun meraih selembaran kertas yang berisi resep vitamin itu dari tangan sang dokter. "Makasih, Dok," Lirih Alesha.
"Sama-sama," Balas dokter itu dengan senyum ramahnya. "Jangan terlalu dipikirin. Sekarangkan masih awalan, jadi fokus aja sama kesehatan, sering-sering turutin apa yang dokter anjurin, insyaallah risiko besar bisa diminimalisir, atau bahkan bisa terhindarkan."
Alesha mengangguk pelan. "Iya, Dok."
"Yaudah, kalau gitu kita permisi dulu ya, Dok. Makasih buat informasi, dan anjurannya," Ucap Jacob seraya bangkit dari duduknya, begitu pula dengan Alesha yang turut menyusul suaminya untuk berdiri.
"Sama-sama. Semangat ya, Ibu Alesha," Senyum ramah dari sang dokter kandungan pun menjadi penghantar Alesha, dan Jacob untuk keluar dari dalam ruang periksa poli kandungan tersebut.
Setelah di luar, kini Jacob mendapati Alesha yang menunduk murung.
"Alesha..." Panggil Jacob yang dihiraukan begitu saja oleh istrinya.
"Sayang.." Jacob kembali memanggil istrinya, namun kali ini disertai dengan rangkulan.
Alesha masih terdiam, hingga pada akhirnya mereka sampai di apotek yang berada di dalam rumah sakit tersebut.
Alesha segera mengambil tempat untuk terduduk dikursi yang sudah disiapkan tepat di depan apotek mini tersebut, sedangkan Jacob yang bertugas untuk memesan resep vitamin yang tadi sudah dokter kandungan itu berikan.
Dalam pikirannya, Alesha sedang bergelut dengan banyak sekali pertanyaan juga rasa kekhawatiran atas kehamilan pertamanya ini. Petaka besar apa yang nanti akan ia hadapi? Lalu bagaimana dengan calon anaknya kelak? Alesha takut. Ia tidak mau kehamilannya ini dapat menjadi sebuah masalah besar. Lalu Alesha harus bagaimana?
"Alesha, jangan berpikiran yang macam-macam, ingat pesan dokter tadi," Ucap Jacob yang sudah terduduk tepat disebelah istrinya.
"Aku takut terjadi sesuatu pada calon anakku," Balas Alesha, pelan.
Itulah yang Jacob takutkan sejak awal, dan menjadi dasar kenapa ia tidak ingin segera memiliki anak. Ia juga takut jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa Alesha, dan calon anak mereka. Tidak mungkin jugakan ia menggugurkan kandungan Alesha, bisa-bisa ia dijadikan sebagai bahan kebencian oleh istrinya itu, lagi pula ia tidak akan tega jika harus menggugurkan janin yang ada dalam rahim Alesha, bagaimana juga janin itu adalah anaknya, hasil dari buah cintanya bersama Alesha.
"Tidak akan, Alesha. Itu tidak akan terjadi. Apa kau akan menyerah begitu saja?" Jacob menatap lekat wajah istri tercintanya. "Kita berjuang sama-sama. Kita lakukan segala hal agar kondisimu, dan," Jacob menyentuh area perut Alesha. "Calon anak kita untuk tetap stabil, dan sehat."
"Ibu Alesha..." Panggil petugas apotek.
Jacob segera bangkit untuk mengambil, dan membayar suplemen vitamin yang dibelinya untuk sang istri.
"Terima kasih, Tuan," Ucap sang petugas apotek.
Jacob hanya mengangguk. Lalu setelah itu ia pun kembali mendekati Alesha yang masih duduk lemas, dengan wajah menunduk murung.
"Ayo, Alesha."
Jacob meraih telapak tangan istrinya, dan membuat Alesha terbuyarkan dari lamunan sesaatnya.
"Ayo kita pulang," Ucap Jacob sangat lembut.
Alesha mengangguk, lalu ia bangkit, dan berjalan beriringan bersama suaminya, Jacob.
Sepanjang jalan, Alesha tidak mengeluarkan sedikit pun suara, tentunya hal itu membuat Jacob cemas.
Lalu ketika mereka berdua sudah tiba di parkiran rumah sakit, dan masuk ke dalam mobil, Jacob pun kembali mencoba untuk mengajak istrinya berbicara.
"Alesha..."
Alesha hanya melirik tanpa memberikan ucapan balasan.
"Sayang, jangan seperti ini. Kau ingat jika sampai kau stres, dan terlalu banyak pikiran? Itu akan memberikan dampak yang buruk juga terhadap calon anak kita, Alesha," Ucap Jacob seraya mengelus lembut wajah istri mudanya.
"Hei, kitakan besok akan pergi ke Turki untuk berbulan madu, apa kau tidak senang?" Lagi, Jacob berusaha untuk menghibur Alesha. "Kita akan menghabiskan waktu, dan bersenang-senang di sana. Apalagi sekarang ada juniorku dalam rahimmu, itu akan semakin menambah kebahagiaan kita, Alesha."
Ucapan Jacob barusan berhasil membuat seukir senyum tipis pada wajah Alesha.
"Jangan berpikiran yang macam-macam, kau harus menjaga anakku, dan aku berkewajiban untuk menjagamu, juga anak kita yang masih berada dalam rahimmu."
"Iya," Balas Alesha, pelan, namun kali ini dibarengi dengan senyuman.
"Aku mencintai kalian," Jacob mengelus-elus perut Alesha, sedangkan bibirnya kini menaruh kecupan lembut pada kedua rona pipi istrinya.
Alesha yang menerima perlakuan manis dari suaminya itu hanya bisa terdiam dengan seluas senyum tipis.