
Keesokan harinya, tepatnya pukul tujuh pagi waktu setempat para murid kembali sibuk dengan aktivitas biasanya, berlalu-lalang di koridor gedung sekolah, ada yang sedang menunggu rekan setimnya di taman dan di depan kelas, ada yang sedang mengaca sibuk dengan make up, dan lain lain.
Suasana layaknya sekolah seperti biasanya, Alesha pun menghembuskan napasnya dengan tenang disertai senyuman bahagia karna bisa kembali mengikuti kegiatan belajar. Kalau dihitung sekitar dua minggu lebih beberapa hari Alesha tidak mengikuti kegiatan belajar. Lamanya seperti waktu liburan akhir semester di Indonesia.
Mojang cantik itu kini sudah siap dengan seragam serta rompi yang melekat ditubuhnya, satu buku besar yang merupakan buku catatan dari salah satu tiga mata pelajaran utama telah berada pada pelukan Alesha.
"Kau ikut belajar hari ini?" Tanya Stella.
"Tentu saja, dua minggu aku tidak ikut, dan pasti aku ketinggalan banyak materi." Jawab Alesha.
Maudy berkacak pinggang dengan sebelah alisnya yang terangkat, ia juga melontarkan sebuah pertanyaan pada Alesha. "Bagaimana kalau Mr. Jacob melarangnya?"
Alesha menggelengkan kepalanya. "Ah ya, dia tidak bisa melarangku kali ini." Alesha sedikit mengangkat jari terlunjuknya lalu digerakkan beberapa kali kekiri dan kanan.
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Merina pada Alesha. Merina merasakan ada sesuatu yang mengherankan yang terjadi antara Alesha dan mentornya itu.
"Tidak ada, hanya saja Mr. Jacob itu sungguh menyebalkan, kalian harus tau itu." Jawab Alesha sembari menjentrikkan jarinya.
"Aku pikir kau benar, Al." Saut Nakyung.
"Tentu saja, ucapanku akan terbukti nanti." Lanjut Alesha. Ia kini menatap keempat teman setimnya lalu sepersekian detik kemudian ia mulai melangkahkan kakinya untuk menuju ruang kelas yang sudah dua minggu ini cukup membuat Alesha rindu.
Baru saja Alesha keluar beberapa langkah dari dalam kamar messnya, para murid wanita yang notabennya adalah para pengagum rahasia Jacob melayangkan tatapan sinis pada Alesha. Ada yang berbisik, ada juga yang secara terang-terangan menyindir Alesha. Oke baiklah, kini Alesha mendadak menjadi bahan ghibahan para murid centil itu. Sungguh Alesha jengah akan hal yang sedang terjadi pada dirinya kini, dicibir dari belakang oleh para pengagum rahasia mentornya.
Tapi Alesha tidak mau terpancing hanya karna hal yang menurutnya sepele itu, Alesha lebih memilih untuk terus berjalan dengan santai bersama keempat temannya.
"Al, kau tidak berniat untuk mencolok mata mereka?" Tanya Nakyung yang geram akan tatapan sinis para murid centil yang diarahkan pada Alesha.
"Untuk apa? Biarkan saja mereka membicarakanku dari belakang sampai mereka puas, lagi pula apa yang mereka pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya." Jawab Alesha.
"Kau benar, Al, aku juga geram pada mereka, kalau kau tahu, aku juga menjadi bahan cibiran mereka hanya karna kedekatanku dengan Mr. Aldi." Saut Merina.
"Maudy saksinya." Merina menunjuk Maudy yang berjalan disebelahnya.
Maudy pun mengangguk setuju. "Mungkin karna kita adalah yang paling cantik, jadi mereka sirik terhadap kita."
"Kau benar, kita berasal dari negara dan kebudayaan berbeda, kelompok kita yang paling unik, dan kita juga mendapatkan mentor terbaik yang ada di WOSA." Sambung Stella dengan bangganya.
"Ingin sekali aku menarik mulut mereka semua. Panas kupingku karna hampir setiap hari kita selalu dijadikan bahan perbincangan mereka. Aku tidak tahu dimana salah kita, tapi mereka selalu saja membicarakan kita." Ucap Nakyung yang masih terlihat geram.
Melihat ekspresi temannya yang sedang menahan rasa sebal, Alesha pun menepuk bahu Nakyung. "Tidak ada gunanya juga jika kita meladeni mereka juga."
Setelah Alesha mengucapkan kalimat itu, tidak ada lagi balasan dari Nakyung atau pun yang lain. Mereka berlima fokus pada jalanan di koridor yang dipenuhi oleh para murid WOSA.
Sekitar dua menit berlalu, akhirnya Merina dan Maudy sampai lebih dahulu di kelas mereka, lalu beberapa langkah kedepan sampailah Alesha, Nakyung, dan Stella di kelas mereka juga.
Ketiga gadis itu segera menempati bangku masing-masing dan duduk manis menunggu bel masuk dan guru pengajar. Beberapa menit berjalan dengan cepat hingga terdengarlah bunyi bel yang disusul datangnya sang guru pengajar.
"Selamat pagi semua." Sapa manis dari Mrs. Lea yang merupakan guru mata pelajaran sains.
"Selamat pagi, Mrs Lea." Balas para murid.
"Pagi yang cerah, semoga kalian bisa bersemangat dengan pelajaran dipagi hari ini." Ucap Mrs. Lea dengan senyum cerianya.
Mrs. Lea pun membuka lembaran kertas yang berisi data absensi kehadiran murid. "Absen urutan pertama, Alesha Sanum Malaika."
"Hadir, Mrs." Alesha pun mengacungkan lengannya ketika namanya dipanggil.
"Kau sudah hadir? Aku pikir kau tidak akan hadir pula hari ini." Ucap Mrs. Lea.
Alesha yang mendengar itu pun seketika merasa malu. Tentu saja dua minggu ia tidak hadir, dan Alesha sudah menduga kalau kejadian ini akan terjadi ketika ia kembali masuk untuk mengikuti pelajaran, dan ternyata perkiraan Alesha itu benar terjadi.
"Maaf, ada beberapa masalah yang harus diselesaikan hingga aku terpaksa absen dua minggu." Balas Alesha yang menunduk malu dengan segala rasa bersalah yang kini berada dalam dirinya.
Mrs. Lea pun tersenyum mendengar ucapan Alesha barusan. Ia tahu apa yang terjadi pada Alesha karna Mr. Thomson yang memberitahunya.
"Tidak masalah, yang penting saat ini kau bisa segera kembali pulih sepenuhnya." Balas Mrs. Lea dengan ramah, dan kemudian ia pun melanjutkan untuk mengabsen murid yang lain.
"Alesha, sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tanya Stella.
"Kau akan sangat terkejut jika mengetahui yang sebenarnya, akan aku ceritakan nanti." Jawab Alesha yang masih murung.
Stella pun mengedikkan bahunya. "Baiklah."
Pelajaran dimulai, para murid memandang fokus pada Mrs. Lea yang sedang menjelaskan materi, setelah itu, keheningan dalam ruang kelas begitu terasa ketika para murid sibuk mencatat tugas yang Mrs. Lea berikan. Awalnya Alesha merasa dirinya baik-baik saja hingga ia mampu mengerjakan jawaban dari soal-soal rumit yang Mrs. Lea berikan, walau tertinggal banyak materi, Alesha cukup baik dalam mengerjakan soal kali ini, ia mengandalkan logika dan instingnya dari penjelasan rumus yang tadi sudah Mrs. Lea jelaskan. Otak Alesha mampu bekerja dengan cepat ketika rumus-rumus rumit berputar dalam kepalanya. Hingga tinggal dua soal tersisa, Alesha kembali merasakan sakit yang teramat sangat pada kepala hingga keningnya. Sekuat tenaga Alesha menahan rasa sakit itu dengan mencengkram pinggiran meja. Tidak ada yang menyadari pergerakan Alesha yang sedang menahan sakit, kecuali Stella.
"Al, kau baik-baik saja?" Tanya Stella dengan sangat pelan.
"Kepalaku sakit, Stel." Jawab Alesha yang suaranya tidak kalah pelan dari Stella.
"Haruskah aku katakan pada Mrs. Lea?" Tanya Stella yang mulai khawatir akan keadaan temannya itu.
"Tidak, jangan dulu." Jawab Alesha. Secara perlahan Alesha menarik napas lalu menghembuskannya kembali.
"Alesha, aku pikir lebih baik kau istirahat dan jangan ikut pelajaran dahulu." Ucap Nakyung yang kini sudah khawatir dengan kondisi wajah Alesha yang sudah pucat.
"Mr. Jacob, aku butuh obatku, Mr. Jacob yang menyimpan obatku." Rintih Alesha dengan pelan. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi dalam kepala Alesha dan membuat Alesha semakin kewalahan untuk menahannya.
Nakyung yang tidak tega melihat temannya yang sedang menahan rasa sakit pun segera bangkit dari duduknya. "Mrs. Lea, boleh aku izin untuk menemui Mr. Jacob, Alesha butuh obatnya yang berada di Mr. Jacob."
Mendengar ucapan Nakyung barusan, Mrs. Lea pun bangkit dan menatap ke arah Alesha yang sudah menunduk pasrah karna menahan rasa sakit dikepalanya. Mrs. Lea panik, begitu pula para murid lain yang berada dalam ruang kelas itu.
"Alesha, ada apa?" Tanya Mrs. Lea yang menghampiri Alesha.
"Mr. Jacob, aku butuh obatku yang disimpan oleh dia." Jawab Alesha.
Setelah mendengar jawaban Alesha, Mrs. Lea pun dengan sigap segera mengambil ponselnya dan menghubungi Jacob agar segera menyusul Alesha ke ruang kelasnya.
"Tunggu sebentar, Jacob akan segera datang kesini." Ucap Mrs. Lea. "Yang lain, kalian lanjutkan saja belajar kalian, dan kau Nakyung, kau tidak usah khawatir, mentormu akan kesini untuk menjemput Alesha." Lanjut Mrs. Lea.
Kini Alesha hanya bisa menunduk dan memejamkan matanya. Ia bingung kenapa kepalanya masih bisa terasa sakit, padahal ia sudah berangsur pulih. Tarikan yang sepertinya terjadi pada urat dan syaraf dikepala membuat Alesha meringgis menahan sensasi sakit yang begitu berkuasa dalam kepalanya. Berapa lama lagi Alesha harus menunggu mentornya datang? Alesha merasa seperti ada sesuatu yang memacu kepalanya untuk berputar cepat.
"Permisi." Ucap Jacob yang memasuki ruang kelas tempat Alesha sedang menunggunya.
Akhirnya, mentor itu datang juga.
"Jacob, cepat bantu Alesha, dia bilang dia butuh obatnya yang kau simpan." Ucap Mrs. Lea.
Melihat Alesha yang kini menunduk karna menahan rasa sakit dikepalanya, dengan sigap Jacob pun berjalan menghampiri gadisnya itu.
"Alesha.." Panggil Jacob dengan lembut. Pelan-pelan Jacob pun mengangkat dagu Alesha. "Kenapa kau ikut berlajar hari ini?"
Jacob menatap sedih pada Alesha, ia tidak tega melihat wajah pucat Alesha yang bercampur dengan sebuah rasa sakit yang tertahan.
"Ayo, ikut ke ruanganku."
Akhirnya, Jacob pun membantu Alesha yang sudah lemas untuk berdiri. Jemari Alesha mencengkram kuat lengan Jacob agar ia tidak kehilangan keseimbangannya, sedangkan Jacob, ia menahan tubuh Alesha agar tidak terjatuh.
"Hari ini Alesha tidak akan mengikuti kegiatan belajar, ia masih harus beristirahat." Ucap terakhir Jacob lalu setelah itu ia pun menuntun Alesha untuk berjalan.
Alesha tidak mampu untuk mengangkat kepalanya, ia hanya bisa menunduk dengan lengan yang diletakkan dikeningnya.
Sesampainya di ruangan Jacob, Alesha pun dibawa untuk duduk bersandar pada sofa besar. Di sana juga masih ada Bontot atau Baby Ale, boneka beruang Alesha. Dipeluknya tubuh boneka yang sangat empuk itu oleh Alesha.
"Belum." Jawab Alesha dengan pelan.
"Tunggu sebentar." Jacob bangkit lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan entah pergi menuju kemana.
Kini Alesha sendirian di ruangan mentornya itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa karna kepalanya yang masih dihantami oleh rasa nyeri. Selama kurang lebih sepuluh menit Alesha memejamkan matanya sambil menunggu sang mentor untuk kembali, akhirnya terdengarlah suara pintu ruangan yang terbuka.
Jacob masuk dengan membawa sepiring makanan untuk Alesha.
"Makan ini." Ucap Jacob seraya mengambil posisi duduk disebelah Alesha.
Alesha tidak menjawab, namun ia memberikan respon dengan mengangkat kepalanya secara perlahan lalu menatap pada Jacob dengan tatapan sayu.
"Kau harus minum obat, tapi sebelumnya kau harus makan terlebih dahulu." Ucap Jacob dengan begitu ramah.
"Makan ini." Jacob menyendokkan sesuap makanan pada sendok lalu menyodorkannya pada Alesha. Niat hati ingin menyuapi Alesha, tapi sayangnya niat itu gagal karna Alesha malah mengambil alih sendoknya lalu menyuapkan sendiri makanan itu kedalam mulutnya.
"Habisi ini, aku akan ambil obatmu dulu." Jacob memberikan piring berisi makanan itu pada Alesha. Ia bangkit dan berjalan masuk menuju kamarnya.
Sebenarnya Alesha sangat enggan untuk makan, perutnya terasa mual jika pagi-pagi ia harus makan, ditambah lagi dengan kepalanya yang kini sedang berkeliling dunia. Tapi bagaimana lagi? Ia tidak mungkin memakan obatnya jika belum ada asupan makanan diperutnya.
Ini semua karna dosis obat yang waktu itu dokter berikan sangat tinggi, dan efeknya saat ini kepala Alesha lah yang menjadi korbannya, walau hanya akan berlangsung sekitar beberapa hari hingga Alesha sudah benar-benar pulih.
Alesha jadi ingat waktu itu, Mack memasukan racun kedalam tubuhnya dengan dosis yang sangat tinggi hingga membuatnya harus kembali menuju rumah sakit dan merasakan sekarat untuk yang kedua kalinya. Tapi syukurnya sekarang Mack sudah mati.
Senyum kecil muncul pada sudut bibir Alesha, meski kepalanya kini sedang dilanda rasa sakit, tapi tetap saja pikirannya membawa Alesha untuk kembali mengingat bagaimana perjuangan Jacob untuk menjaganya. Sesayang itukah Jacob pada anggota timnya?
"Habiskan makanannya, jangan tersenyum senyum tidak jelas seperti itu." Ucap Jacob yang tiba-tiba saja muncul tanpa Alesha sadari.
"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Jacob yang kini sudah duduk disebelah Alesha.
"Aku ingat waktu malam itu. Kau menghabisi Mack dan anak buahnya." Jawab Alesha.
"Aarrghh.." Ringgis Alesha ketika rasa nyeri dikepalanya berdenyut. Ayolah, apa kepalanya itu tidak memberi izin pada Alesha untuk hanya sekedar berbicara saja? Apa salahnya?
"Sudah jangan banyak bicara, kau habiskan dulu makanannya lalu minum obat ini." Ucap Jacob.
Alesha hanya bisa menurut, walau dalam hati ia sudah benar-benar menolak untuk memasukan makanan itu kedalam perutnya.
Satu suapan...
Dua suapan...
Tiga suapan...
Empat supan...
Dan Alesha hampir saja memuntahkan makanan yang kini sedang diolah dalam mulutnya. Dengan cepat Jacob pun mengambilkan air lalu memberikannya pada Alesha. Tangan Alesha pun meraih gelas berisi air itu lalu dengan sigap memasukan air dalam gelas kemulutnya. Dengan air itu akan memudahkan Alesha untuk membawa makanan yang ada didalam mulutnya terjun langsung menuju lambung.
"Cukup, aku mual jika dipaksa untuk makan lagi bisa-bisa makanan yang barusan aku makan keluar lagi." Ucap Alesha sambil menahan rasa mual dalam perutnya.
"Berikan obatku." Dengan sepihak, Alesha merebut obatnya dari tangan Jacob lalu membuka bingkusan obat itu.
Jacob mengangkat sebelah alisnya. Bukan bingung, hanya sekedar reflek saja. Ia pun tidak bisa menghalangi Alesha untuk meminum obatnya.
"Ya ampun, aku benar-benar tidak suka jika seperti ini terus, sangat tersiksa." Alesha menghela napas dengan sabar. Sungguh Alesha sangat tidak menyukai kondisinya saat ini, ia lebih memilih untuk kembali terbaring lemah diatas kasur pasien dan bangun kembali setelah tubuhnya benar-benar pulih sepenuhnya, daripada harus seperti ini, menahan nyeri dikepala yang berkepanjangan.
"Kenapa tadi kau mengikuti pelajaran?" Tanya Jacob.
"Kenapa? Kau tidak ingat berapa lama aku absen dan berapa banyak materi yang tidak aku pelajari?" Tanya balik Alesha. Kenapa pula mentornya itu menanyakan hal itu? Jelas saja Alesha harus kembali belajar, tujuannya bersekolah di WOSA agar ia bisa mendapatkan banyak pengetahuan juga mendapatkan jaminan tempat kerjanya di SIO.
"Tapi kepalamu tidak boleh dipaksa untuk berpikir keras dulu, Al." Jacob sebenarnya ingin memberitahu pada Alesha agar gadis itu tidak mengikuti pelajaran dulu untuk beberapa hari, tapi Jacob lupa. Kini Jacob jadi merasa bersalah sendiri pada Alesha.
"Aku tidak berpikir keras." Balas Alesha.
"Kau tidak berpikir keras sedang tadi kau menyelesaikan soal rumus yang Mrs. Lea berikan, apa kau mendapatkan jawabannya dari hasil mencontek?"
Dimulailah kembali sebuah perdebatan antara sang mentor dengan salah satu anggota yang disukainya. Tidak ada habisnya, hanya karna hal kecil mereka selalu saja mendapatkan celah untuk berdebat.
"Aish, bicaramu tolong jaga ya, Mr. Jacob. Aku tidak mungkin bisa masuk WOSA jika aku hanya bisa memplagiati jawaban temanku. Tiga bulan aku mengikuti pelatihan kau pikir aku hanya diam melihat teman-temanku mengerjakan soal lalu setelah itu menconteknya? Mr. Thomson bisa langsung menconreng namaku sejak itu juga dan kita tidak akan mungkin bertemu seperti ini." Balas Alesha. Tapi sepertinya Alesha mulai sedikit bicara melantur.
Sikap sensitif Jacob secara mendadak keluar setelah mendengar kalimat terakhir Alesha barusan. Apa maksud Alesha kalau ia tidak akan bertemu dengan Jacob? Tapi memang benar juga apa yang Alesha katakan. Lalu bagaimana jadinya Jacob sekarang jika waktu itu Alesha tidak lulus seleksi?
"Jangan bilang seperti itu. Kau lulus waktu itu karna memang sudah takdirmu, dan kita bertemu juga karna memang sudah takdir kita seperti ini." Balas Jacob yang sedikit dibumbui oleh rasa kesal.
"Takdir ya? Kau benar," Alesha menguruti keningnya, ia merasakan setiap sensasi yang sedari tadi menyakiti kepalanya, namun pria disebelahnya ini malah memancing Alesha untuk berdebat. Malas sebenarnya untuk Alesha meladeni ucapan mentornya, tapi rasanya sangat gemas jika Alesha tidak membalasnya.
"Mr. Jacob, takdir ada yang bisa diubah dan tidak bisa diubah. Bisa saja aku ditakdirkan untuk lolos, tapi aku menyerah waktu itu, jadinya aku tidak jadi lolos." Balas Alesha.
"Cukup! Tidak usah mendebatkan hal ini!" Geram Jacob. Ia tidak suka topik pembicaraan seperti ini. Ia dan Alesha adalah takdir yang sama, dan Jacob tidak ingin takdir itu berubah, ia tidak ingin lagi terpuruk karna ditinggal orang yang begitu dicintai.
"Terserah." Kini Alesha sudah terlanjur malas. Ia pusing dan ingin istirahat.
"Istirahat di sini, aku akan kembali bekerja, aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Jacob. Daripada harus berdebat lagi dengan Alesha, lebih baik Jacob melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk.
Tapi disaat Jacob ingin beranjak, tiba-tiba saja Alesha menahan lengannya.
"Tunggu." Ucap Alesha sembari menarik kembali lengan Jacob untuk duduk disebelahnya.
"Aku ingin bilang terima kasih." Lanjut Alesha dengan pelan. Malu, sungguh tidak bisa Alesha sangkal saat ia mengungkapkan kalimat itu pada Jacob.
Jacob terkekeh. Ia pun kembali duduk disebelah Alesha dengan salah satu sudut bibir yang terangkat.
"Kau sudah berkali-kali menyelamatkanku, bahkan kau juga bertarung mati-matian hingga kau atau lawanmu ada yang mati terlebih dahulu, dan itu kau lakukan untuk menyelamatkanku."
Panas. Seluruh hawa yang ada di dalam ruang itu seperti berubah tiba-tiba, suhu panas membuat pipi Alesha memerah. Ditambah malu, lengkap sudah.
Alesha hanya bisa menunduk saat mengucapkan kalimat barusan. Ia tidak berani menatap wajah mentornya yang kini sedang tersenyum.
Jacob tidak mengira Alesha akan mengatakan hal itu. Ia memang ikhlas melakukan hal apapun demi menjaga Alesha, walau ibarat nyawa sebagainya taruhan.
"Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Yang aku bisa hanya berterima kasih sebesar-besarnya karna kau sudah amat sangat dan begitu baik padaku." Lanjut Alesha, namun kini Alesha memberanikan diri untuk menatap wajah mentornya.
Senyum manis Alesha terukir sesaat sebelum Jacob merasakan sentakkan dalam hati dan dirinya.
Kaget? Tidak percaya dengan apa yang ia dapatkan sekarang, Jacob hanya bisa tertegun. Alesha, gadis itu tiba-tiba saja mengalungkan lengannya pada leher Jacob dan memeluknya.
Kini gantian, Jacob lah yang merasakan sensasi panas disekujur tubuhnya.
"Terima kasih, aku menyayangimu, dan semua anggota timku di sini, aku beruntung bisa bertemu kalian, terutama kau, Mr. Jacob, kau adalah keluarga baru untukku, juga yang lain."
Jacob melayang, ia merasa dirinya tidak sedang di bumi melainkan diatas awan lembut dengan taman pelangi dan sinar matahari yang menyejukan dipagi hari. Jacob melayang saat Alesha memeluknya.
Tidak mau kehilangan momen, Jacob pun kemudian memeluk balik tubuh Alesha yang seperti guling untuknya. Merasakan kembang api yang kini saling bersautan dalam hatinya.
Hangat sekali, Jacob dan Alesha sama-sama merasakan kehangatan itu dari pelukan masing-masing. Alesha menyadarkan kepalanya pada leher jenjang Jacob, karna mau dalam posisi apapun saat ini rasa nyeri itu tetap saja tidak mau hilang dari kepalanya.
Jacob enggan untuk melepaskan tubuh Alesha dari peluknya untuk saat ini. Biarlah waktu berlalu asal Jacob bisa merasakan tersalurnya rasa sayang dan cinta yang semakin tumbuh membesar dalam hatinya untuk si manis kesayangan itu.
Kau membuatku semakin mencintaimu, Al, tetap bersamaku karna aku mencintaimu, manis..... Ucap Jacob dalam hati.