
"Jack, Alesha hamil.."
*
*
*
Bak tubuh yang kosong tidak bernyawa. Kaku semua tubuh Alesha, dari ujung kaki hingga kepala ketika Mr. Thomson mengatakan kalau ia positif hamil. Tatapan Alesha lurus datar, tidak mengisyaratkan apapun saking besarnya rasa syok yang langsung menikam lubuk hati dan dirinya, hanya ada aura dingin yang melingkupinya saat ini.
Bagaimana mengutarakan apa yang sedang Alesha rasakan kali ini? Sulit jika hanya harus diekspresikan melalui raut wajah. Alesha merasakan jiwanya yang seperti sudah melayang ditarik paksa oleh ketidak percayaan, kemarahan, kekecewaan, keterkejutan, dan malu. Hanya itu saja? Tidak! Ada berapa banyak macam perasaan buruk dan yang paling buruk? Sekarang Alesha merasakan itu semua yang menjadi suatu kesatuan besar yang membuat dirinya hanya bisa berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun, bahkan kedua iris coklatnya pun hanya bisa terpaku di tempat tanpa beredar kemana-mana.
"Alesha.. Alesha, sadar!" Laras yang menyadari diri Alesha yang sedang melayang dibawa oleh segala perasaan buruk pun langsung menghamburkan pelukan erat demi membawa gadis itu kembali pada kesadarannya.
"Alesha, istigfar, sayang, hiks." Laras mulai menangis. Ia takut, diri dan pikiran Alesha sedang kosong, bagaimana jika ada sesuatu yang berasal dari alam lain mengambil alih tubuh Alesha.
"Alesha, istigfar. Astagfirullah... Sadar.., Alesha.." Isakan Laras semakin kencang, ia pun turut menggoncangkan tubuh Alesha.
Jacob terpaku selama beberapa saat ketika melihat tubuh Alesha yang seolah kehilangan jiwa didalamnya. Namun mendengar isakan dari Laras, Jacob pun tersadar dan secepat kilat mendekati Alesha.
"Alesha, Alesha... Ini tidak benar. Aku bersungguh-sungguh." Kepanikan, ketakutan, dan apalagi? Jacob sama seperti Alesha, merasakan semua perasaan buruk yang terolah menjadi kesatuan besar, hanya saja bedanya jika Jacob masih bisa mengendalikan dan menyadarkan dirinya akan situasi dan kondisi yang sedang dihadapannya saat ini.
"Mr. Thomson, kau pasti salah! Alesha tidak mungkin hamil! Aku tidak melakukan apapun padanya!" Ucap Jacob dengan tensi suara yang tinggi.
"Jika kau tidak percaya maka lihat ini." Mr. Thomson pun menunjukkan alat tes kehamilan yang sudah ditempelkan kertas kecil yang sudah tertera nama Alesha disana.
Bagaimana bisa?
"Itu tidak benar, pasti petugas laboratoriumnya melakukan kesalahan, Mr. Thomson!" Balas Jacob setengah panik setengah marah.
"Tidak mungkin, Jack! Petugas laboratorium WOSA tidak pernah melakukan kesalah dalam menguji sampel!"
"Apa kau ada di sana untuk memastikan kalau petugas laboratorium itu tidak melakukan kesalahan, Mr. Thomson?" Mata Jacob sudah memerah, dan berkaca-kaca, guratan urat-urat pada leher pun kian menunjukan keberadaannya.
"Tidak! Tapi petugas laboratorium itu tidak mungkin lalai, Jack! Kau tahu sendirikan bagaimana cara kerja mereka yang begitu telaten dan fokus!"
"Tapi aku tidak melakukan apapun pada Alesha!"
"Kau mengatakan itu karna kau tidak mau mengakuinya, Jack! Buktinya Alesha hamil sekarang!" Sentak Laras disela-sela tangisnya.
Alesha sendiri masih dalam keadaan yang sama sejak ia mendengar pernyataan Mr. Thomson tadi. Tidak perduli Laras yang mengguncang tubuhnya, dan terus menepuk-nepuk pipinya, Alesha tetap diam tanpa menunjukan ekspresi apapun. Jelas hal itu membuat Laras dan Jacob semakin panik.
Lain halnya dengan Dela, gadis itu terpaku dengan mata membulat dan mulut yang sedikit terbuka. Ia tidak percaya kalau Alesha lah yang ternyata hamil. Lalu bagaimana dengannya? Bukankah ia yang diperkosa oleh Hatric? Tapi kenapa Alesha yang hamil? Apa mungkin Jacob benar melakukannya pada Alesha? Dan mungkin saja memang keberuntungan sedang berada dipihaknya, jadi ia bisa terloloskan dari kehamilan yang dibuat oleh Hatric. Begutulah yang Dela pikirkan.
"Apa ini caramu mencintaiku, Mr. Jacob?" Alesha pun berucap, namun dengan pelan, dingin, dan datar. "Atau kau memang sengaja melakukannya saat aku tidak sadarkan diri?"
"Alesha, aku bersungguh-sungguh, aku tidak melakukan apapun padamu." Isak Jacob yang sudah kebingungan harus menjelaskan bagaimana lagi agar membuat orang-orang yang ada dalam ruangan itu percaya pada ucapannya.
"Kau mengambil kesempatan, Mr. Jacob. Aku tidak menyangka, lelaki yang mengakunya menyayangiku dan mencintaiku ternyata malah menjerumuskanku." Alesha tersenyum miris.
"Aku membencimu, Mr. Jacob. Aku sangat membencimu." Setelah mengungkapkan pesan singkat dari hatinya itu, Alesha pun langsung melepaskan pelukan Laras lalu berlari secepat mungkin meninggalkan ruangan itu.
"Alesha, tunggu..." Jacob segera bergegas memacu langkah kakinya untuk mengejar Alesha yang sudah melepaskan semua perasaan buruk itu dengan tangisannya.
"Jacob mencintai Alesha?" Gumam Laras dengan ekspresi wajah yang sudah bercampur-campur.
Alesha berlari menyusuri koridor, dan untung saja keadaan koridor pun sangat sepi karna para murid sedang belajar di dalam ruang kelas masing-masing.
"Alesha benci Mr. Jacob! Alesha benci, benci, benci!!" Gumam Alesha dalam tangisannya yang semakin menjadi.
"Alesha benci!!!!!!"
Brughh..
"Aww..." Ringgis Alesha ketika tubuhnya bertabrakkan dengan tubuh lain yang menjulang tinggi.
"Alesha..."
"Mr. Levin.."
Alesha pun langsung melanjutkan larinya kala ia mendapati kalau seseorang yang ia tubruk adalah pria yang bukan lain adalah kakaknya sendiri sekarang ini.
Levin yang baru saja tiba di WOSA bersama beberapa pengurus SIO yang lain hanya bisa terpaku di tempat melihat adik angkatnya itu menangis dan berlari begitu saja meninggalkannya.
"Alesha... Tunggu..."
Suara Jacob itu menyadarkan Levin dari lamunan singkatnya.
"Tunggu, apa yang terjadi pada Alesha? Kenapa ia menangis? Dan kenapa Jacob mengejarnya?" Gumam Levin penuh tanda tanya. Enggan berpikir lebih panjang lagi, Levin pun segera menyusul Alesha dan Jacob yang sudah berlari mendahuluinya.
***
Di dalam kamar mandi. Salah satu siswi WOSA sedang memandangi wajahnya pada cermin. Ia tersenyum, antara senang dan takut.
"Maaf jika aku berkhianat. Aku sangat membencimu, Alesha. Tidak seharusnya Mr. Jacob mencintaimu."
Si Pengkhianat itu pun memutar kembali ingatan akan aksinya yang baru saja ia selesaikan.
Flashback On
Saat itu, ruangan laboratorium sedang diisi oleh tiga orang petugas yang sedang sibuk dan fokus pada pekerjaan masing-masing, dan salah satu dari tiga petugas itu sedang sibuk bersama dua alat testpack yang sudah diuji cobakan pada dua cup mini berisi urine.
Berbekal pengetahuan dan trik-trik yang sudah diajarkan oleh mentornya, si pengkhianat itu pun berhasil menyamar menjadi seorang petugas laboratorium.
Dengan gerak-gerik santai dan tenang, si pengkhianat itu masuk ke dalam ruangan laboratorium saat mendapati petugas laboratorium yang sedang menguji dua alat testpack tersebut pergi untuk membuang dua cup mini berisi urine itu. Si pengkhianat pun lalu menukar alat testpack milik Alesha dan Dela. Si pengkhianat itu sudah menduga kalau Dela yang akan hamil, karna ia tahu jika Dela lah yang menjadi korban keganasan nafsu Hatric malam itu.
Lalu bagaimana dengan CCTV nya?
Ayolah, si pengkhianat itu merupakan murid dari seorang peretas terhandal di SIO. Dengan mengandalkan kecanggihan teknologi yang ada dalam ponsel pintarnya, ia pun meretas sistem CCTV dan mengubah posisi kamera CCTV ruang laboratorium agar menghadap ke arah lain hingga ia dapat melancarkan misinya tanpa perlu takut ada yang mengetahui ulahnya tersebut. Tapi itu tidak lama, hanya kurang lebih dua menit, si pengkhianat itu berjalan keluar ruangan laboratorium setelah menyelesaikan misinya, lalu posisi kamera CCTV ruangan laboratorium pun ia kembalikan seperti semula.
Petugas CCTV tidak akan ada yang mengetahui ulahnya tersebut. Kenapa? Tentu saja, karna dalam layar pengawas, kamera CCTV tidak bergerak ke mana pun, dan dalam videonya juga akan tetap menampilkan tiga petugas laboratorium yang sedang mengurus pekerjaan masing-masing.
Jadi, si pengkhianat itu berpikir kalau tidak akan ada seorang pun yang akan mengetahui perilaku buruknya tersebut.
Flashback Off
"Aku, Stephani Laurent, kalian mengenalku sebagai sosok gadis baik dan asik, atau lebih tepatnya Stella si periang." Smirk licik terukir pada wajah si pengkhianat yang bukan lain adalah sahabat tedekat Alesha, Stella.
Tidak disangka jika Stella yang setiap dalam hal apapun selalu bersama dengan Alesha, kini malah menjerumuskan temannya itu.
Awalnya ia tidak mau, tapi mengetahui mentornya yang menyukai Alesha, perlahan rasa benci pun membenak dalam diri Stella hingga ia berani menyamar menjadi Alesha pada malam itu dengan hanya mengandalkan wangi parfum lalu mencuri ciuman bersama mentornya sendiri, Stella pula yang kala itu menghabisi Alesha hingga membuat Alesha mengalami pendarahan dan nyaris saja disambangi oleh ajal, hanya saja waktu itu Stella berpura-pura pingsan, jadi tidak akan ada yang mencurigainya.
"Tapi kini aku bukanlah Stella lagi, melainkan Laurent, anak buah tuan Vincent yang tidak lama lagi akan meluluhkan hati Mr. Jacob." Gumam Stella seperti seorang psikopath, tapi ia bukanlah psikopath.
Stella pikir dengan bekerja sama bersama Vincent akan membuatnya mendapatkan hati Jacob. Stella sudah ditutupi oleh perasaan cinta yang begitu besar, hingga ia sendiri lupa akan resiko yang akan ia tanggung jika mentornya yang ia cintai itu mengetahui kalau ia sudah bekerja sama dengan musuh SIO dan WOSA.
Stella tidak berpikir panjang, yang ada dalam kepalanya hanyalah bagaimana caranya untuk mendapatkan hati Jacob dan membuat Jacob jatuh padanya. Segala hal akan ia lakukan, bahkan menjadi pengkhianat sekali pun sudah ia jalani agar mendapat bantuan dari Vincent yang sudah menjanjikan kalau Jacob akan jatuh hati padanya, pada Stella, dan hanya Stella saja.
***
Di dalam kamar messnya, Alesha pun menangis sejadi-jadinya, melampiaskan segala perasaan buruk yang menghancurkan hatinya. Bantal guling diremas sekuat tenaga, kedua matanya tidak berhenti menghasilkan air mata, kepalan tangannya tertahan pada dada yang begitu sesak dan berat.
Sakit, sungguh sakit yang Alesha rasakan. Dirinya seperti hancur dan berakhir. Hamil diluar pernikahan, apa mesti Alesha menerima kenyataan itu? Ia mengandung anak dari mentornya sendiri? Alesha tidak menyangka. Bagaimana bisa? Ia tidak merasakan apapun pada malam itu, dan kenapa mentornya itu bisa menghamilinya? Apa yang mentornya itu lakukan hingga ia tidak merasakan apapun?
"Hiks... ENGGAK!! ALESHA GAK MUNGKIN HAMIL!! MR. JACOB JAHAT!! ALESHA BENCI MR. JACOB!!!"
"Alesha, dengarkan aku.." Balas Jacob yang baru saja tiba dan langsung berlari menuju Alesha lalu menaruh pelukan erat pada tubuh gadisnya itu.
"ENGGAK!! MR. JACOB JAHAT!! KENAPA MR. JACOB HAMILIN ALESHA? APA YANG MR. JACOB LAKUIN MALEM ITU? ALESHA BENCI MR. JACOB!!" Sekuat tenaga Alesha meronta dan memukuli dada mentornya, namun itu tidak membuat pelukan sang mentor terlepas begitu saja.
"Aku tidak melakukan apapun, Alesha! Percayalah! Aku..."
"CUKUP!! BUKTINYA SEKARANG APA? ALESHA HAMIL!!"
"Apa?" Pekik Levin yang sudah berdiri kaku diambang pintu. Ekspresi yang begitu jelas menunjukan rasa keterkejutan yang amat sangat langsung terbentuk pada wajah Levin. "Alesha hamil?" Gumam Levin seperti tidak mempercayai ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Alesha.
"MR. JACOB GAK USAH BOHONG!! APA YANG MR. JACOB LAKUIN SAMA ALESHA MALEM ITU? KENAPA ALESHA GAK NGERASAIN APAPUN SAAT MR. JACOB MELAKUKANNYA? APA MAU MR. JACOB? BEGINIKAH CARA MR. JACOB MENCINTAI ALESHA? JAWAB, MR. JACOB!!"
"Al, aku tidak melakukan apapun, kau tidak merasakan apapun malam itukan? Itu karna aku tidak melakukan apapun, Alesha." Jacob tetap bersikeras dengan pernyataannya, karna memang itulah kenyataannya.
"MR. JACOB SENGAJA BAWA ALESHA KE KAMAR MR. JACOB SAAT ALESHA SEDANG DIBAWAH PENGARUH OBAT PERANGSANG ITU!! DAN SETELAH ALESHA PINGSAN, MR. JACOB MELAKUKANNYA KAN? JANGAN BOHONG, MR. JACOB!!!"
"Alesha, aku..."
Bugh....
"Arghhh.." Jacob meringgis menahan sakit pada perutnya karna tonjokkan yang Levin layangkan.
"Aku tidak menyangka kau seperti itu, Jack!" Geram Levin penuh emosi.
Bughh....
"Arghhhh.."
Levin melayangkan tonjokan yang lebih keras lagi pada perut Jacob, lalu setelah itu Levin juga memberikan tamparan mematikan pada wajah Jacob.
Plak....
"AKU MENGIKHLASKAN ALESHA PADAMU BUKAN UNTUK KAU JADIKAN SEBAGAI PEMUAS NAFSUMU, JACOB!!" Pikiran dan diri Levin sudah tidak dapat terkendalikan lagi karna sulutan amarah yang menggebu-gebu.
Bughh.....
Tanpa ada ampun, Levin terus menikam Jacob dengan banyak pukulan keras. Namun Jacob sendiri tidak bisa melawan Levin kali ini. Jacob sadar ini semua adalah kesalah pahaman, dan ada yang tidak beres. Jacob enggan membalas pukulan Levin bukan karna tidak mampu, tapi karna Jacob tahu kalau Levin sangat menyayangi Alesha dan tidak akan terima jika tahu kalau Alesha hamil akibat hubungan haram yang sebenarnya tidak pernah terjadi pada Alesha atau pun Jacob.
"Cukup, Levin. Dengarkan aku dahulu, aku mohon.." Pinta Jacob yang terengah-engah karna menahan sakit akibat pukulan-pukulan Levin yang begitu keras.
"APA YANG KAU PERBUAT PADA ALESHA?" Teriak Levin tepat dihadapan wajah Jacob. Lengan Levin mencengkram kuat leher Jacob dan membuat Jacob cukup kesulitan untuk bernapas.
"Aa-aku.. ti-dak.. mela-ku-kan...apapun...pada..al-ale-sha." Jawab Jacob yang terbata-bata.
"JANGAN BOHONG, JACOB!! AKU MEMPERCAYAIMU UNTUK MENJAGA ALESHA!! TAPI KAU MALAH MENGHAMILINYA!!"
"Levin!!" Bentak Mr. Thomson yang tiba-tiba saja muncul bersama Laras.
Mr. Thomson sangat terkejut saat melihat Levin yang mencekik leher Jacob, sedangkan Jacob sendiri tidak memberikan balasan apapun pada rivalnya itu.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan Jacob!!" Tegas Mr. Thomson sembari memisahkan Levin dan Jacob.
"Alesha..." Laras segera menghampiri Alesha dan langsung memeluk erat tubuh Alesha yang bergetar karna tangis sedu yang begitu memilukan dan menyedihkan.
"JIKA TAHU BEGINI AKHIRNYA, AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKANMU MENDAPATKAN ALESHA!! SEHARUSNYA AKU MEREBUT ALESHA DARI DULU HINGGA ALESHA TIDAK PERLU BERADA DIPOSISI SEKARANG!!!" Levin terus mengeluarkan emosinya yang benar-benar meledak dan tidak dapat tertampungkan.
"Levin, aku tidak melakukan apapun pada Alesha, ada yang tidak beres, kita harus mencaritahunya, aku sama sekali tidak menghamili Alesha." Balas Jacob dengan ekspresi semeyakinkan mungkin. Tetapi hal itu tidak berefek pada Levin yang sudah terlanjur terbakar oleh emosi.
"KAU SEHARUSNYA MENJAGANYA JIKA KAU BENAR MENCINTAI ALESHA!! BUKAN MALAH MENJERUMUSKANNYA!!" Balas Levin.
"Apa? Jacob mencintai Alesha?" Pekik Mr. Thomson.
"YA. PRIA INI!" Levin menunjuk keras pada Jacob. "DIA MENCINTAI ALESHA, NAMUN CINTANYA BUSUK!!"
Mr. Thomson ternganga tidak percaya akan ucapan Levin barusan. Ia baru tahu kalau ternyata Jacob sudah menaruh rasa lagi pada salah satu murid WOSA.
"Jacob mencintai Alesha?" Gumam Laras antara percaya dan tidak percaya akan ucapan Levin.
"ALESHA TIDAK PANTAS BERSAMA PRIA BRENGSEK SEPERTIMU!!"
Bughh...
"Argh..."
Lagi dan lagi, Levin menonjok perut Jacob dengan kepalan tangan yang begitu keras dan kokoh.
"Levin, CUKUP!!" Bentak Mr. Thomson seraya menjauhkan Jacob dari jangkauan Levin.
Levin berdecak sebal, dan saking larutnya ia dalam amarah, tembok yang ada disebelahnya pun menjadi sasaran pukulan yang sangat keras.
Sungguh Levin ingin sekali menghabisi Jacob saat ini. Ia sangat tidak terima jika Alesha dihamili oleh Jacob tanpa ada ikatan pernikahan yang sah. Tetapi saat melihat Alesha yang menangis tersedu-sedu dalam pelukan Laras, amarah Levin pun mulai mereda dan tergantikan dengan rasa sakit, sedih, prihatin, dan kasihan.
"Seharusnya aku tidak membiarkanmu bersama Jacob, Al." Lirih Levin.
"Mr. Thomson, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku tidak menghamili Alesha. Aku mohon."
Melihat raut permohonan yang begitu menyedihkan dari wajah Jacob membuat Mr. Thomson turut merasakan kesedihan pula. Mr. Thomson sangat kenal bagaimana Jacob, dan sesungguhnya Mr. Thomson pun tidak yakin dan tidak percaya kalau Jacob sudah menghamili Alesha.
"Alesha... Alesha, katakan tanggal berapa biasanya kau datang bulan?" Tanya Jacob dengan tatapan yang benar-benar mengharapkan sebuah jawaban dari Alesha.
Alesha pun melirik pada mentornya itu dengan tatapan yang membingungkan.
"Akhir bulan.." Jawab Alesha pelan.
"Akhir bulan! Satu minggu! Kumohon, Mr. Thomson, satu minggu lagi. Jika Alesha hamil maka akhir bulan sampai awal bulan ini ia tidak akan mungkin datang bulan."
Mr. Thomson terdiam sembari berpikir. Mungkin ide Jacob itu bisa dilakukan untuk membuktikan kalau Alesha benar tidak hamil.
"Tapi alat testpacknya sudah membuktikan kalau Alesha hamil, Jack." Mr. Thomson mengucapkan kalimat itu antara yakin dan tidak yakin.
"Aku akan mencaritahu yang sebenarnya, biarkan aku membuktikan pada kalian kalau aku tidak pernah menghamili Alesha." Balas Jacob dengan sungguh-sungguh.