
Beberapa kedipan dari kelopak mata indah yang Alesha miliki membawa gadis itu untuk kembali membuka matanya. Cukup berat, Alesha masih ingin terlelap tetapi telapak tangan Jacob terus saja menepuk-nepuk pipinya.
"Bangun, ayo kau harus kembali ke messmu, Al."
"Aku masih mengantuk." Balas Alesha sambil menggesekan dua jari telunjuk pada matanya.
"Kau bisa lanjutkan lagi, memangnya kau mau tidur di tempat seperti ini?"
"Tidak apa jika kau mau menemaniku." Ucapan Alesha barusan adalah tanda dari belum terkumpulnya kesadaran penuh dan masih berada dalam bayang-bayang kantuk yang memabukkan.
Jacob hanya terkekeh. Ia tersenyum saat membayangkan bagaimana jadinya jika Alesha benar-benar tidur dalam pelukan Jacob di tempat itu? Tapi tidak. Jacob mungkin akan membawa Alesha ke kamarnya dan melewati waktu malam berdua. Menikmati setiap momen indah layaknya surga yang terlebih dulu didapatkan di dunia.
Jacob hanya bisa menggeleng kecil sambil tersenyum kikuk ketika bayangan kejadian itu muncul dan menari-nari dalam pikirannya. Segeralah Jacob tepis jauh-jauh bayangan itu, ia tidak mau melakukan hal apapun yang bisa merugikan dirinya, terutama Alesha. Pernikahan adalah jalur satu-satunya untuk mewujudkan kejadian yang barusan membayangi isi kepala Jacob.
Setelah tadi siang Jacob dibuat menangis dan membatin oleh mendiang Yuna, lebih tepatnya ingatan kebersamaan bersama Yuna, kini Jacob dibuat tersipu oleh bayangannya kelak setelah ia menikah dengan Alesha.
Jacob menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa malu dan panas yang kini menjalar dari ujung kaki hingga kepalanya. Tapi untungnya gelap malam dapat menyamarkan ekspresi wajah Jacob dan Alesha juga tidak akan menyadarinya.
"Ayo." Jacob pun bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Alesha.
Tapi sebelum mereka sama-sama mengambil langkah, tubuh mereka terlebih dahulu saling berhadapan. Jacob berdiri tepat dihadapan Alesha, begitu pun sebaliknya. Waktu yang terus berlanjut dan malam yang semakin larut, mereka mengabaikan dua hal itu.
Sepertinya pertunjukan kedua akan kembali dimulai. Para bintang pun sudah mengambil posisi ternyaman di langit untuk menyaksikan persembahan selanjutnya. Malam menjadi bingkai, laut menjadi orkesta dadakan yang menciptakan melodi alam yang saling berdeburan. Sorotan cahaya dari spot bulat yang menggantung pada malam hari adalah properti tambahan yang akan membuat aura malam semakin kental akan romansa teater perpaduan alam dan cinta.
Alesha kaku. Tubuhnya mendadak seperti patung yang tidak dapat bergerak dengan sendirinya. Begitu pun Jacob yang sama halnya dengan Alesha. Kapan suasana itu akan berlalu? Siapa yang akan mulai berjalan untuk memecah nuansa yang mendebarkan hati Alesha?
"Istirahat yang cukup, jangan bergadang apalagi membicarakan murid lain bersama teman-temanmu."
Alesha pun mendongkak setelah mendengar ucapan mentornya barusan. Anggukan kecil dan seulas senyum akhirnya terukir pada wajah Alesha sebagai balasan.
Jacob pun segera meraih jemari Alesha layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu waktu kebersamaan. Alesha hanya bisa terdiam dan menunduk. Ia tidak mampu menatap mentornya, ia tidak mampu berkata apapun, namun hatinya malah bersenang-senang didalam sana. Kenapa? Kenapa Alesha sangat menyukai sikap romantisme Jacob yang selalu meluluhkan hatinya? Alesha tidak mau berpikiran macam-macam, tapi tetap saja instingnya berkata lain. Sikap Jacob yang seperti itu membuat Alesha berspekulasi kalau mentornya itu memiliki rasa khusus, tapi Alesha selalu menepis pikiran itu. Ia tidak mau asal menyimpulkan, mungkin Jacob melakukan itu karna sifat keperduliannya yang tinggi.
"Aku tidak ingin kau terlibat lagi dalam bahaya, Al. Aku tidak ingin kau sakit atau terluka atau apapun itu. Aku tidak mau melihatmu yang seperti beberapa hari yang lalu. Terbaring kaku dan lemah di rumah sakit. Jadi aku mohon tolong turuti dan patuhi semua ucapanku, aku hanya ingin memastikan kau dalam keadaan aman dan baik-baik saja." Sebuah sinyal kuat sengaja Jacob pancarkan agar membuat Alesha peka terhadap perasaannya. Jacob ingin mengungkapkan, tapi keraguan selalu menjadi penghalang.
Mungkin Jacob tidak akan mengatakannya secara langsung, namun Jacob akan terus menebar sinyal-sinyal cintanya agar Alesha bisa peka dan memahami isi dari lubuk hatinya. Seperti sekarang ini saja contohnya, Jacob memberikan kode pada Alesha dan berharap gadis itu akan merasakannya.
Sedangkan Alesha, gadis itu mengangguk paham dengan apa yang Jacob katakan barusan. Alesha juga ingin jujur pada mentornya akan suatu hal, hingga ia menguatkan dirinya untuk mengungkapkan apa yang selama ini selalu ia pendam dan rasakan.
"Aku juga ingin berterima kasih lagi karna kau selalu menjagaku dan sangat perhatian padaku, Mr. Jacob. Aku ingin jujur padamu akan suatu hal."
Ekspresi wajah Jacob pun seketika berubah setelah Alesha mengucapkan kalimat barusan. Bingung dan penasaran memenuhi lubuk hati dan pikiran Jacob, kira-kira hal apa yang akan Alesha katakan, dan kejujuran apa yang akan Alesha buka?
"Aku merasa sangat nyaman jika dekat denganmu. Kau sudah aku anggap seperti seorang kakak yang sudah mengambil alih peran orang tuaku. Aku selalu merasa kalau aku sudah menemukan sosok orang tua baru yang dapat mendidik dan menjagaku sejak aku mengenalmu. Terima kasih sudah menjadi orang tua kedua untukku, sejak orang tua kandungku meninggal aku tidak pernah mendapatkan perhatian atau kasih sayang, tapi mengenalmu adalah keberuntungan besar untukku." Ucap Alesha dengan penuh kehati-hatian. Alesha sudah mengatakan yang sejujurnya. Bagi Alesha, Jacob bukan hanya sekedar mentor, tapi lebih dari itu. Teman, sahabat, keluarga, kakak, dan orang tua. Apa perlu Alesha jabarkan lebih detail lagi? Tapi sepertinya Jacob sudah paham tentang kejujuran Alesha itu.
"Aku tahu, Al, kau kekurangan kasih sayang dan perhatian sejak kecil, lebih tepatnya saat orang tuamu meninggal. Tapi tenang, kau akan segera mendapatkan hal itu. Aku akan dengan senang hati memberikannya padamu, kau lebih dari sekedar murid untukku, begitu pun anggota yang lain. Kalian adalah keluarga dan adik-adikku. Aku menyayangi kalian semua." Balas Jacob dengan penuh kelembutan.
Alesha menundukkan kepalanya. Ia tidak kuasa menahan air mata. Bagaimana bisa ia bertemu degan Jacob yang berhati sangat baik? Meski kadang mengesalkan. Beruntungnya Alesha karna bisa menemukan sosok orang tua baru dalam hidupnya.
"Hapus air matamu, ada aku yang akan selalu menemanimu, jangan pernah merasa kesepian lagi, ada anggota timmu yang dapat menghiburmu. Kalian keluarga sekarang, dan harus saling menyayangi satu sama lain." Ucap Jacob sambil mengangkat lengannya untuk menghapus air mata yang membentuk aliran kecil pada wajah Alesha.
Alesha mengangguk. Ia pun menghirup udara dan melepaskannya kembali dengan pelan. Setelah melakukan hal itu, kini Alesha merasa tenang kembali.
"Ayo." Jacob segera membawa Alesha agar mulai berjalan dan mengantarkan gadis itu ke kamar messnya.
***
Berlainan tempat, berlainan pula ceritanya. Laura yang kini sudah sampai di kantor pusat SIO harus kembali merasakan bagaimana sakitnya tidak dianggap oleh anaknya sendiri. Setelah Jacob, kini Mona lah yang mesti Laura bujuk agar mau menerima kembali sosok ibunda yang sudah berbelas-belas tahun pergi meninggalkan tanpa kabar.
Dengan tegas Mona menolak kehadiran Laura sebagai ibunya. Kakak Jacob itu berlari secepat mungkin menuju kamarnya dan mengunci diri di dalam sana. Wiliam pun mesti bersusah payah untuk membujuk istrinya itu agar mau membukakan pintu kamar mereka.
"Sayang, kamu harus tenang, jangan seperti ini." Ucap Wiliam sambil memeluk tubuh Mona yang bergetar karna tangisan yang sejak tadi tidak kunjung usai.
"Kenapa dia harus kembali? Kau lihat bagaimana ekspresi Mr. Frank dan yang lain saat mendengar kalau wanita itu mengaku sebagai ibuku dan Jacob? Aku membencinya, Wil!"
Mona meronta dan memukul-mukul dada suaminya untuk melampiaskan segala emosi yang menggolak dalam dirinya.
"Kenapa Jacob tidak bilang kalau dia sudah bertemu wanita itu? Dia bahkan sudah sempat tinggal beberapa hari di rumah wanita itu, Wil." Pecahnya air mata tidak menunjukkan ada tanda penyelesaian pada tangisan Mona.
"Aku harus menghubungi Jacob!" Mona mendorong tubuh Wiliam dan bangkit mencari ponselnya.
"Dimana ponselku?!" Geram Mona ketika ia tidak menemukan letak ponselnya berada.
"Mona,..." Panggil William yang dihiraukan begitu saja oleh Mona.
"Mona,...."
"Argh, dimana ponselnya!"
"Mona,..."
"Jacob kenapa kau tidak bilang padaku!"
"Mona!" Dengan terpaksa William pun menarik kasar lengan Mona lalu menguncinya agar Mona tidak dapat bergerak.
"Dengar! Kau harus tenang! Ingat siapa yang dalam kandunganmu! Jika kau stress itu akan berpengaruh buruk pada kehamilanmu, sayang!"
Spechless
Mona tidak bisa berkata apapun. Bukan karna bentakkan ringan yang suaminya itu berikan, namun rasa kecewa dan sakit hati membuat mulut Mona kaku. Tidak tahu harus bagaimana, Mona hanya bisa menangis dalam pelukan lelaki yang merupakan calon ayah dari bayi yang sedang dikandungnya.
"Aku sudah menemukan kebahagiaan dan kehidupan yang baik bersama adikku walau tanpa ada orang tua yang mendampingi. Aku mati-matian bekerja banting tulang demi adikku, aku berusaha agar bisa menjadi sosok yang lebih tegar lagi, aku dan Jacob sudah menemukan kehidupan kami, dan dia tiba-tiba datang mengemis agar aku dan Jacob mau menerimanya kembali sebagai sosok orang tua. Mudah sekali jalan pikirannya itu."
"Dengan mudahnya dia meninggalkan aku dan Jacob. Jika bukan karna Jacob dan tanggung jawabku sebagai kakak juga pengganti orang tua untuk Jacob, mungkin kita tidak akan pernah bersama, Wil. Aku memilih untuk mengakhiri hidupku, tapi Jacob yang waktu itu masih bocah membuatku menghentikan niat itu. Aku membenci ibuku, Wil." Luapan emosi dan kekecewaan sudah membanjiri wajah Mona. Dada William pun menjadi tempat didaratkannya pukulan-pukulan kecil yang lengan Mona lemparkan.
William diam ketika istrinya itu menjadikannya sebagai bahan pelampiasan. Wiliam tahu apa yang Mona rasakan itu pasti sangat melukai batin istrinya. Lengan besarnya melingkari punggung dan pinggang istrinya, enggan untuk melepaskan dan lebih membiarkan kesedihan yang Mona rasakan turut mengalir deras kedalam diri Wiliam.
***
Belahan bumi lain sudah kembali keposisi semula. Kini adalah waktu untuk sang cahaya raksasa kembali menembus atmosfer menuju daratan kepulauan yang dikepung oleh benda cair penunjang kehidupan.
Kegiatan kembali berlanjut pada lingkungan academy besar penghasil orang-orang hebat yang akan terlibat dalam pergelutan dunia modern. Bangunan yang berarsitektur seperti istana abad pertengahan itu menjadi pusat pelatihan bagi para remaja pilihan yang memiliki banyak kemampuan berbeda.
WOSA kembali siap dengan kegiatan pembelajaran hari ini. Para murid sudah siap di kelas mereka masing-masing menunggu sang guru untuk datang dan mengajar. Kecuali Alesha. Setelah hampir pukul delapan ia masih belum juga bangun dari kehidupan dalam tidurnya. Bagaimana bisa Alesha yang tidak terbiasa bangun sampai sesiang itu kini malah tidur hingga matahari sudah sejajar dengan jarum jam?
Malam itu, tepatnya malam tadi. Alesha terjaga hingga pukul lima subuh selepas melaksanakan sholat, baru lah mata Alesha terpejam. Semalaman Alesha menenangkan dirinya dengan ibadah malam dua rokaat, membaca dan mempertahankan hapalan ayat-ayat suci yang sudah melekat pada kepalanya. Ia ingin merasakan kehadiran kedua orang tuanya. Bersamaan dengan murotal indah dan merdu yang dilantunkan, pelukan dari orang tua pun dapat Alesha rasakan.
Dalam benaknya Alesha kembali memikirkan jalan hidup selanjutnya. Jika sudah menemukan waktu yang tepat, maka orang akan dengan jelas mengenali perbedaan yang ada pada diri Alesha. Kerudung milik umi Alesha masih tersimpan dengan rapih dan wangi dalam lemari pakaian. Alesha selalu membawa benda itu berharap suatu saat ia akan dapat memakainya.
Sempitnya waktu malam yang terasa panjang membuat Alesha melupakan setiap detik yang terlewat. Ketika dua rokaat subuh telah ditunaikan, Alesha segera membawa tubuhnya untuk terlelap dengan kondisi mukena yang masih belum terlepas, bahkan tasbih pun masih menggantung pada jemarinya. Kini, ketika pagi mengucapkan salam hangat dan sejuknya, Alesha masih berada dalam bayang malam yang mengurungnya pada kematian sementara.
Sang mentor yang bukan lain adalah Jacob kini sudah berada tepat dihadapan pintu yang menjadi akses masuk menuju ruangan tempat si manis kesayangannya menetap bersama anggota tim yang lain. Gagang pintu ditekan dan dorongan kecil membuat pintu itu terbuka.
Ada sedikit rasa keterkejutan dalam diri Jacob ketika mendapati seorang gadis yang masih tertidur dengan balutan kain yang digunakan untuk menunaikan peribadatan. Mendapati Alesha yang ternyata belum sadar dari dunia semi dalam tidur membuat Jacob merasa tidak tega jika harus membangunkan gadis itu.
Jacob menghembuskan napasnya dengan lancar ketika melihat ketenangan dan cahaya serta aura yang wajah Alesha pancarkan begitu cerah. Bukan karna efek mentari yang menerangi ruangan itu, namun wajah Alesha terlihat benar-benar jernih, dan menyejukkan. Bisa jadi itu adalah efek dari sholat tajahud dan murotal yang Alesha lakukan sepanjang malam, makanya saat pagi hari wajah gadis itu sangat berbeda dan semakin indah dipandang.
Tarikan kecil dari salah satu bibir Jacob menandakan kalau ia semakin merasa tertarik untuk terus membawa Alesha masuk kedalam dunianya, ataukah mungkin sebaliknya yang akan terjadi? Alesha yang akan membawa Jacob masuk dalam dunianya.
Jacob sama sekali tidak memiliki niat untuk membangunkan Alesha, namun tangannya begitu gatal untuk mengelus wajah Alesha yang sedang memancarkan cahaya indah seperti rembulan penuh pada malam hari.
"Ajari aku semuanya, aku ingin masuk kedunia baru tempat kau mendapatkan semua yang kau butuhkan."
"Aku akan siap jika kau mau mengizinkanku untuk masuk dalam duniamu."
Jacob pun beralih untuk melipat sejadah yang masih tergeletak diatas lantai dan menaruhnya pada pinggiran kasur Alesha.
Jacob tidak mau ada yang menghalangi jalannya untuk mendapatkan Alesha, sekali pun kenangan tentang Yuna yang enggan terlepas dari dalam dunianya. Tapi itu bukan menjadi alasan Jacob untuk menyerah. Cepat atau lambat Yuna akan segera tergantikan oleh keberadaan Alesha. Memanglah sakit untuk Jacob, tapi bukan hatinya yang merasakan itu, melainkan pikiran Jacob yang masih mengelak akan kepergian Yuna yang masih dalam tanda tanya besar. Jiwa gadis itu sudah menghilang, tapi tubuhnya akan tetap utuh dalam selimut salju yang tertimbun selama bertahun-tahun.
Kini, Jacob sedang mencoba untuk melepaskan tasbih yang masih mengait diantara jemari Alesha, namun tindakan Jacob itu malah membuat Alesha terusik.
"Eungh..." Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali dan berusaha membawa dirinya agar kembali pada kesadaran penuh.
"Hoaamm..." Alesha menguap dan merenggangkan tubuhnya tanpa menyadari keberadaan Jacob yang kini sedang terduduk diam ditepian kasur.
Karna merasa kalau dalam kamar messnya itu hanya ada dirinya seorang, Alesha pun abai dengan waktu dan memilih untuk membalikkan tubuhnya lalu memejamkan matanya kembali. Tapi setelah beberapa detik, tiba-tiba saja insting Alesha merasakan keberadaan sosok lain dalam kamar messnya itu.
Benar saja, ketika Alesha membalikkan tubuhnya keposisi awal lagi, matanya menangkap sosok yang sangat tidak asing. Mentornya, Jacob sedang terduduk tepat disebelah tubuh Alesha yang masih berbaring. Senyum manis pun Jacob kembangkan ketika pandangannya dengan Alesha saling bertautan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alesha yang masih dalam bayang-bayang kantuknya.
"Melihat kondisimu dan memastikan kalau kau susah memakan obat atau belum." Jawab Jacob dengan ramah.
"Aku baik, aku belum minum obat, dan aku masih mengantuk." Balas Alesha dengan malas sambil membalikkan tubuhnya untuk berbaring memunggungi mentornya. "Aku ingin tidur kembali, aku tidak tidur semalaman."
"Tidak, aku berniat untuk tidak membangunkanmu awalnya, tapi karna sekarang kau sudah bangun maka kau tidak boleh tidur lagi." Ucap Jacob sambil mengangkat paksa tubuh Alesha untuk bangun dan terduduk.
"Kyaaaa, Mr. Jacob! Aku masih mengantuk, jangan ganggu aku, biarkan aku beristirahat!"
"Tidak baik tidur dijam seperti sekarang ini, Al. Kau bisa menimbulkan penyakit lain dalam tubuhmu."
"Hanya kali ini saja, aku benar-benar mengantuk."
"Tidak, ayo bangun."
Dengan nekadnya, Jacob membuka mukena yang Alesha kenakan, dan hal itu membuat Alesha berteriak keras.
"Aaaaa, apa yang kau lakukan? Mr. Jacob!" Alesha menepis kasar lengan mentornya dan memberikan tatapan tajam seperti laser yang sedang membidik suatu titik.
Sungguh Jacob tidak memiliki maksud buruk, ia hanya ingin membawa Alesha ke kamar mandi dan membiarkan gadis itu untuk membersihkan dirinya sendiri.
"Maaf." Balas Jacob. "Buka mukenamu, mandi lalu makan dan minum obatmu, setelah itu kau harus ikut denganku."
"Nanti saja!"
"Tidak ada nanti-nanti, cepat buka atau aku yang akan membukanya!" Ancam Jacob yang tidak akan mungkin ia lakukan.
"Baiklah, baiklah." Alesha pun mau tidak mau harus menuruti perintah mentornya itu. Ia mendengus dan menggerutu sendiri karna rasa kesalnya pada sang mentor yang mengganggu waktu tidurnya.
"Tau masih ngantuk, ganggu aja! Kaga tau apa ya kalau semalem Alesha itu gak tidur juga!" Gerutu Alesha sambil mengambil handuknya dan seragam sekolah yang akan ia kenakan. Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan memulai ritual paginya.
Sedangkan Jacob, dengan santainya ia bersandar pada bangku sambil menatap layar televisi yang kini menyala dan menayangkan sebuah film bergenre action kesukaannya.
Di dalam kamar mandi, Alesha tidak langsung membasuh dirinya atau pun membuka pakaiannya. Ia memilih untuk duduk pada lantai dan menyadarkan kepalanya pada dinding sambil memejamkan matanya.
"Alesha, jangan tidur di dalam sana. Mandi yang cepat, aku menunggumu!" Teriak Jacob yang hanya bisa didengar oleh Alesha.
"Arghhhh.." Geram Alesha dalam kamar mandi saat mendengar ucapan mentornya barusan. Bagaimana Jacob bisa tahu kalau Alesha berniat untuk kembali tertidur? Tentu saja, insting pria itu sangat kuat. Sambil mengoceh tidak jelas, Alesha pun akhirnya segera bangkit dan mulai mengumpulkan niatnya agar dapat membasuh tubuhnya dengan air yang terasa sangat dingin.