May I Love For Twice

May I Love For Twice
Honeymoon II



Warning!! (17+)


*


*


****


Sekian jam Jacob, dan Alesha berkeliling kota Istanbul, Turki. Sekian restoran pula yang sudah mereka datangi.


Alesha makan banyak sekali hari ini, belum lagi ditambah dengan beberapa cup ice cream yang ia habiskan sendirian.


"Aku makan bukan untuk sendirian, tapi anakmu juga harus diberi asupan! " Elak Alesha ketika Jacob meledeknya karna banyak menyicipi kuliner setempat.


Niat dalam hati Jacob adalah menghabiskan waktu berdua, dan bersenang-senang juga membahagiakan hati istrinya, Alesha. Maka dari itu, satu hari penuh mereka habisi dengan banyak momen manis, dan romantis, tidak lupa canda tawa yang turut berikut serta, apalagi saat Alesha melihat restoran yang menurutnya menarik, dan saat itu pula ia memaksa Jacob untuk berkuliner di restoran tersebut.


Tapi bukan Jacob namanya kalau tidak suka membercandai atau meledek Alesha. Kalau dihitung-hitung, dalam kurun waktu sembilan jam, ada sekitar sepuluh restoran, dan tiga taman kota yang sudah mereka berdua kunjungi.


"Ah, aku lelah!" Alesha menyandarkan tubuhnya yang sudah kelelahan, dan kekenyangan pada punggung kursi di dalam taman.


"Puas makan, dan kelilingnya?" Goda Jacob. "Atau masih lapar, dan ingin makan lagi?"


"Tidak mau!" Alesha menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku sudah kenyang, aku ingin pulang, dan beristirahat."


"Setelah makan disepuluh restoran berbeda, dan menghabiskan delapan cup ice cream sendirian kau baru mengatakan kalau kau kenyang?" Jacob terkekeh.


"Kenapa memangnya?" Balas Alesha, jutek.


"Alesha... Alesha...." Jacob tertawa kecil sembari mengelusi puncak kepala Alesha. "Kalau begitu ayo kita pulang. Taylor sudah menunggu di depan gerbang taman," Lanjutnya.


"Bantu aku berjalan, perutku terasa sangat besar, dan berat," Alesha menjulurkan lengannya.


"Bagaimana tidak? Kau makan banyak sekali, Alesha." Balas Jacob sembari merangkul tubuh istrinya untuk membantu berjalan.


"Baby J pasti sudah sangat kenyang," Ucap Alesha.


"Baguslah, agar dia bisa semakin bertumbuh dengan baik di dalam rahimmu."


"Tapi, Jack, aku membaca beberapa artikel di internet kalau hamil di usia muda memang memiliki risiko tinggi, apalagi yang bertubuh ramping, dan berpinggul kecil sepertiku, itu akan menyulitkan proses persalinan, ditambah belum siapnya kondisi tubuh, dan rahim, bisa-bisa bayi lahir prematur, atau bahkan meninggal."


" Positif thinking, Alesha. Kita berdoa, dan berusaha semoga kehamilanmu akan baik-baik saja sampai nanti kau melahirkan."


"Kau harus bertanggung jawab untuk membantu menjaga kehamilanku! Kau yang sudah menaruh benihmu!" Alesha mendengus.


"Tentu saja, Alesha. Tanpa harus kau minta aku pasti akan bertanggung jawab, sayang. Ada apa denganmu?" Jacob terkekeh.


"Aku hanya takut," Alesha menundukkan wajahnya. Ia murung sekarang. "Bagaimana jika nanti sesuatu yang buruk menimpaku, dan juga bayiku. Lalu dengan mudahnya kau pergi begitu saja karna tidak mau mengurusku."


Besitan luka sedikit menggoresi hati Jacob ketika ia mendengar ucapan istrinya itu. "Alesha," Jacob menghentikan langkahnya, dan beralih dengan mengangkat wajah Alesha agar merek bisa baling berpandangan.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, dan anak kita, sayang," Ucap Jacob setulus-tulusnya.


"Kau mengatakan itu sekarang, tapi bagaimana dengan nanti, bisa saja kau berubah pikiran," Balas Alesha.


"Kau meragukanku, Alesha?" Jacob menatap sangat lekat kedua manik coklat istrinya.


"Tidak. Tapi aku meragukan diriku sendiri. Aku takut jika aku tidak bisa menjaga kehamilanku, dan membuatmu kecewa lalu pergi meninggalkanku," Lirih Alesha. "Jangan tinggalkan aku, sudah cukup orang tuaku yang pergi, aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi."


Ucapan Alesha barusan membuat Jacob terhenyak. Sedih rasanya untuk Jacob melihat Alesha yang memohon untuk tidak ditinggalkan, apalagi dengan tatapan yang menyiratkan sebuah pengharapan besar, semakin saja Jacob dibuat tidak tega.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Alesha. Aku mencintaimu, sangat amat mencintai gadis manisku ini," Jacob membelai lembut permukaan wajah istrinya.


Mendapati itu, Alesha pun langsung menghamburkan dirinya pada pelukan Jacob. "Jangan pergi. Aku takut jika kau tidak akan menaruh perhatian, dan kasih sayang padaku lagi. Aku membutuhkanmu," Lirih Alesha. Baru kali ini ia mengatakan apa yang ada dalam lubuk hatinya secara gamblang pada Jacob. Sengaja ia mengatakan itu supaya suaminya itu mengerti jika ia benar-benar mencintai, dan membutuhkan kasih sayang, juga perhatian lebih. Bertahun-tahun tinggal bersama sang kakek yang sakit-sakitan, tentunya membuat Alesha merasa terabaikan dalam hal perhatian, dan cinta murni, meski pun ia tahu jika kakeknya itu sangat menyayanginya.


"Kau tahu, aku selalu merasa nyaman, dan aman saat bersamamu, aku merasa jika kasih sayang, dan perhatian yang selama beberapa tahun menghilang kini telah kembali lagi. Jangan bosan untuk selalu menyayangiku karna aku akan terus berusaha untuk menjadi istri yang lebih baik lagi untukmu. Aku mencintaimu," Alesha semakin mengencangkan pelukannya.


Sedangkan Jacob, hatinya mendadak tenang setelah mendengar permintaan juga pernyataan istrinya barusan. Beberapa tahun, akhirnya kini Jacob mendengar sendiri ucapan Alesha yang terasa begitu tulus, dan serius. Jacob sangat bahagia karna Alesha mau menyampaikan apa yang dipendam oleh hatinya selama ini.


"Jadi, apa keinginan terbesarmu?" Tanya Jacob untuk memastikan kembali ucapan istrinya.


"Aku ingin kau tetap bersamaku, jangan tinggalkan aku, aku membutuhkanmu, aku ingin kita melewati susah senang bersama. Jujur saja, aku sangat mencintaimu, Jack. Kau adalah mentor yang sudah membuatku jatuh cinta kembali. Tapi aku takut kau akan meninggalkanku suatu saat nanti."


Jacob tersenyum tipis. "Sesuai permintaanmu, Nona mudaku," Kemudia ia melepaskan pelukan istrinya, dan beralih dengan mencium lembut bibir perempuan yang sangat dicintainya itu.


"Tidak akan pernah aku meninggalkanmu, Alesha," Ucap Jacob menyelesaikan ciumannya. "Sekarang ayo, kita harus segera pulang karna hari sudah semakin larut."


Alesha mengangguk. Lalu ia pun kembali berjalan beriringan bersama suaminya.


Setiba di dengan gerbang taman, sebuah mobil hitam mengkilat sudah menunggu kehadiran Jacob, dan Alesha.


Tidak mau membuang banyak waktu, akhirnya dua sejoli itu pun masuk ke dalam mobil, dan membiarkan Taylor menyetir dijok pengemudi.


"Jack, sandal wedgesku dimana?" Tanya Alesha. Ia baru ingat kalau tadi ia dipaksa oleh Jacob untuk mengganti sandal wedges yang ia pakai, dengan flat shoes biasa.


"Ada dibagasi mungkin," Jawab Jacob.


Alesha mengangguk sebagai balasan. Lalu setelah itu, ia kembali memanjakkan tubuhnya pada pelukan Jacob.


Sepanjang perjalanan selama hampir satu jam, kedua sejoli itu begitu menikmati tiap waktu yang berlalu dalam hangatnya dekapan juga cengkrama kecil.


Hingga ketika mereka tiba di hotel pun tetap sama, selalu saling bergandengan, dan membuat iri beberapa orang yang dilewati. Namun setelah mereka masuk ke dalam ruang kamar hotel, barulah Alesha memisahkan diri karna ingin mandi terlebih dahulu sebelum ia beristirahat.


Lagi lagi, satu jam terbuang habis untuk Alesha dan Jacob membersihkan tubuh mereka masing-masing.


Ceklek.....


Suara gagang pintu kamar mandi yang dibuka.


Lalu kemudian Jacob muncul dari balik pintu tersebut dengan hanya memakai celana joger pendek, dan rambut yang tertata cukup rapih namun basah hingga membuatnya semakin terlihat sexy.


Setelah itu, didapatinya oleh Jacob sang istri yang tengah berdiri, dan termenung sendiri di pinggir jendela. Akhirnya, sebuah inisiatif pun membawa Jacob untuk menghampiri istrinya itu.


"Lil Ale..."


Alesha melirik ke asal suara yang barusan menyerukan nama panggilan kesukaan suaminya.


"Big Guy, ada apa?" Tanya Alesha.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya balik Jacob.


"Tidak ada, aku hanya sedikit bosan."


Sepersekian detik kemudian, posisi mereka berdua pun sudah berubah. Jacob membawa tubuh istrinya untuk terduduk diatas pangkuannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Jacob begitu lembut.


"Tidak ada, aku hanya merasa bosan saja."


Tiba-tiba, sebuah ide nakal pun muncul dalam pikiran Jacob setelah mendengar jawaban dari istrinya.


"Bagaimana kalau kita bermain saja?" Tawaran Jacob yang terkesan menggoda.


"Bermain?" Ulang Alesha.


"Iya," Jacob mengangguk.


Sejenak Alesha diam untuk berpikir. Bermain? Bermain apa? Tapi setelah beberapa saat berlalu, barulah Alesha menyadari tawaran 'Bermain' yang suaminya itu maksudkan.


"Hmmm... Dasar!" Alesha mencubit gemas perut sispack suaminya.


"Aw! Hehehe. Bagaimana? Mau atau tidak?"


"Terserah," Balas Alesha seperti mau tidak mau.


"Sungguh? Baiklah kalau begitu, ayo kita bermain."


Baru saja Jacob menyosor untuk dapat mengecupi bagian leher Alesha, namun dengan cepat Alesha pun menghindar.


"Ish! Main nyelonong saja!" Alesha mendengus.


"Kenapa memangnya?" Jacob tampak kecewa.


"Nah, seharusnya seperti itu dari tadi," Merasa nyaman akan pelukan yang istrinya berikan, kini Jacob menyandarkan kepalanya pada dada Alesha. Namun karna hasratnya sudah terlanjur bergerilya dalam lubuk, secara perlahan, dan satu per satu kancing baju tidur Alesha pun terlepas kala jemari Jacob melepaskannya dengan samar.


"Jack, kau ingat tidak kejadian satu tahun lalu? Saat Mr. Thomson memberitahu jika aku hamil anakmu setelah kita tidur berdua waktu malam itu," Ucap Alesha.


"Iya, aku ingat, sayang," Balas Jacob.


"Kau tahu? Aku sungguh kaget, dan syok. Aku benar-benar membencimu waktu itu. Aku pikir bagaimana bisa pria sebaikmu berani menodai gadis sepertiku," Alesha mulai bercerita. "Aku malu pada diriku sendiri saat mendapati kalau aku hanya memakai pakaian dalam saja ketika aku terbangun, belum lagi kau yang tertidur disebelahku. Aku takut, panik, dan khawatir. Aku pikir kau sudah melakukan 'Hal itu' padaku."


"Aku tidak mungkin melakukannya karna aku sangat mencintaimu, Alesha. Aku tidak mau menodaimu. Malam itu kau sedang dibawah pengaruh obat perangsang, aku pikir tidak akan benar jika membawamu ke messmu, jadi aku memutuskan untuk membawamu ke kamarku. Hmmmm, kau tahu, Lil Ale, kau sangat brutal, dan aku berpikir jika kau sedang mencoba untuk memperkosaku waktu itu."


"Maaf," Potong Alesha sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku sudah kewalahan, satu sisi aku kasihan padamu, tapi disisi lain kau terus menggodaku, dan membuatku kesulitan untuk menghadapimu. Ingin sekali rasanya malam itu aku membalas setiap godaanmu, dan hanyut dalam kejadian yang syukurnya dapat aku hindari."


"Terima kasih sudah menghindariku malam itu, Jack. Kau mentor terbaikku. Aku benar-benar beruntung memiliki mentor sepertimu," Alesha mengecup singkat puncak kepala suaminya. "Dan maaf karna aku sudah menuduhmu, sebenarnya aku tidak percaya jika kau benar menghamiliku, tapi ucapan dan bukti alat testpack yang Mr. Thomson tunjukkan membuat pikiranku buntu."


"Sudah, tidak apa, Alesha. Itu sudah berlalu, dan aku terbukti tidak melakukan apapun padamu, apalagi menodaimu," Balas Jacob sembari mencium kilat kulit pada area dada bagian atas istrinya.


"Jack, elusi perutku," Pinta Alesha, lirih.


Jacob sendiri malah tersenyum ketika mendengar permintaan istrinya itu.


"Baiklah, sayangku," Sekali lagi, Jacob mengecup kulit leher istrinya. Baru setelah itu, sebelah telapak tangannya mulai bergerak vertikal, dan horizontal diperut Alesha.


Sensasi merinding didapati oleh Alesha ketika telapak tangan Jacob menyentuh lembut kulit perutnya. Namun nyaman, dan tenanglah yang membuat Alesha begitu suka ketika ia diperlakukan seperti itu oleh suaminya, tepatnya sejak beberapa hari lalu ketika ia, dan Jacob sama-sama mengetahui kalau buah cinta mereka telah hadir dalam bentuk embrio.


Tanpa terasa, malam semakin larut, angin dingin membuat Alesha beberapa kali bergidik.


"Alesha..."


"Hm..."


Jacob diam tidak membalas.


"Ada apa, Jack?" Tanya Alesha.


Tanpa memberi jawaban, Jacob pun mulai beraksi dengan meraba-raba, dan menghisab harum kulit Alesha untuk memberikan sinyal pada istrinya itu.


"Aww!!" Pekik Alesha ketika merasakan gigitan pelan pada lehernya.


"Aku mencintaimu, Alesha," Gumam Jacob sebelum akhirnya ia mengulum bibir istrinya dengan posesif.


Alesha tidak memberontak, apalagi menolak. Ia diam tanpa memberikan balasan apapun, karna ya memang ia masih sangat kaku, dan tabu dalam hal berciuman.


Sesekali Alesha meremas pelan rambut Jacob saat ia merasakan gigitan kecil pada bibirnya. Sesekali pula Alesha mengeluh nikmat ketika telapak tangan suaminya itu meremas pelan area sensitifnya.


"Eungh, Jack..."


Jacob melepaskan ciumannya, dan beralih menuju lekuk leher istrinya. Dihirup kuat-kuat oleh Jacob aroma bayi yang selalu melekat pada tubuh Alesha.


Alesha pun mulai memejamkan matanya kala ciuman, dan hisapan Jacob semakin menuruni tiap jengkal tubuh minimalisnya.


Alesha menggigit bibirnya untuk menghalau desahan yang meronta untuk dilepaskan. Jantungnya berdegub begitu kencang saat Jacob mulai bermain diarea dadanya.


"Ah, Jack, cukup..." Lirih Alesha.


Alesha merasa tidak enak dengan posisinya kali ini. Terduduk diatas pangkuan Jacob membuatnya merasakan sesuatu yang mengeras dibagian bawah pahanya.


"Jack..." Alesha mulai meracau.


Tapi hal itu sama sekali tidak menggubris Jacob, ia malah semakin asik, dan menikmati ulahnya itu.


"Jack, jangan di sini..." Alesha memberontak pelan, namun dengan sigap Jacob langsung mengunci erat tubuh istri kecilnya itu.


Perlahan, Jacob mulai melepaskan piyama Alesha dengan sebelah tangannya.


"Jack...."


"Katakan kalau kau mencintaiku, Alesha."


"Emmm, lepaskan dulu, aku merasa tidak enak."


"Turuti dulu apa yang aku perintahkan!"


"Baiklah," Alesha menjeda ucapannya. "Aku... Emm... Aku mencintaimu, Jacob Ridle."


"Aku juga mencintaimu, Alesha Sanum Malaika," Balas Jacob sembari mengecup gemas dada istrinya yang masih terbungkus oleh bra.


"Jack, geli!"


Jacob tersenyum menang. Saat-saat terindah dalam hidupnya adalah ya seperti saat ini, yaitu 'Bermain' bersama istri kesayangannya.


"Ayo, kita pindah, sayang," Jacob mengangkat tubuh Alesha lalu dibaringkan tepat di tengah-tengah kasur.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Jacob segera melucuti pakaian yang istrinya kenakan, lalu segera menutupi tubuh polos mereka yang saling bertumpang tindih dengan selimut.


"Jack, dingin.." Lirih Alesha.


"Nanti kau akan merasa hangat, Alesha," Balas Jacob.


Karna ingin membuat Alesha merasa nyaman terlebih dahulu, Jacob pun memilih untuk tidak langsung keinti penyatuan mereka.


Dalam kurun waktu kurang lebih lima belas menit Jacob membiarkan Alesha beradaptasi, dan mempersiapkan diri untuk kegiatan mereka selanjutnya.


Sedangkan Alesha sendiri, sejak awal ia berbaring diatas kasur ia memang sudah merasakan jika suaminya itu sudah sangat tegang, dan ingin cepat-cepat masuk, namun Alesha tidak tahu apa yang membuat suaminya itu menahan dalam waktu yang lumayan lama.


Ting... Tong.....


Jacob, dan Alesha sama-sama tersentak kaget kala mendengar bunyi bel yang pastinya berasal dari pintu


"Permisi, Tuan."


"Ck! Argh! Kenapa harus sekarang!" Jacob mendumal sebal. Ia menundukkan wajahnya tepat dihadapan dada Alesha yang masih tetap tertutupi oleh bra.


"IYA, TUNGGU SEBENTAR!!" Balas Jacob dengan sedikit bentakan.


"Huh, kasian," Alesha terkekeh sembari tersenyum geli. "Memangnya ada apa Taylor memanggilmu?"


Bukannya menjawab, Jacob malah berucap gusar. "Argh! Alesha, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Temui Taylor, kenapa harus bertanya?" Balas Alesha.


"Masalahnya aku!" Jacob menatap frustasi pada Alesha. "Oh ya ampun! Alesha aku tidak bisa menahannya lagi!"


Alesha tertawa kecil mendengar ucapan suaminya barusan. Sungguh lucu melihat wajah frustasi Jacob karna menahan gejolak batiniahnya sebagai seorang suami.


"Sekarang menyingkirlah, lalu temui Taylor," Sembari menahan tawanya, Alesha pun mendorong tubuh Jacob, dan melepaskan tubuhnya dari kukungan suaminya.


"Alesha, apa kau tidak merasakan apa yang aku rasakan!" Geram Jacob.


Alesha bangkit, dan terduduk dengan selimut yang menutupi area tubuhnya. "Memangnya apa?"


"Ck! Sudahlah lupakan!" Jacob turun begitu saja dari atas kasur dengan ekspresi marah, dan merajuk.


Diraihnya dengan kasar sebuah celana jeans selutut dengan baju kaus santai.


"Jangan kemana-mana, kau harus bertanggung jawab karna sudah membuat yang dibawah tegang!" Ancam Jacob pada Alesha. Buru-buru ia memakai pakaiannya itu, dan segera membuka pintu untuk menemui Taylor.


"Ada apa?" Tanya Jacob tanpa ekspresi.


"Tuan Fernando sudah menunggu anda di taman hotel, Tuan," Jawab Taylor.


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Setelah mendengar balasan dari Jacob, Taylor berpamit pergi, lalu Jacob kembali menutup pintu kamar hotelnya.


"Alesha, aku akan menemui rekanku dulu di taman hotel. Kau tunggu di sini karna setelah kembali aku ingin melanjutkan kegiatan kita tadi!"