
Di dalam kamarnya, sejak sejam yang lalu Alesha terus bergulang-guling mencari posisi yang tepat untuk bisa mengurangi rasa nyeri pada area pinggul hingga perutnya.
"Astagfirullah, ini kok sakit kaya gini," Alesha meremas bulu-bulu halus boneka beruang besarnya.
Sudah duduk, berjongkok, balik badan kiri-kanan, tengkurap, terlentang. Posisi apa lagi yang belum Alesha coba?
Lalu Alesha harus bagaimana lagi? Kira-kira apa ya obat yang bisa mengurangi rasa nyeri itu?
Alesha berpikir sejenak.
Obat?
Sebelah alis Alesha pun terangkat ketika mendapatkan satu jawaban yang meragukan dalam kepalanya.
"Pedas?"
"Asinan?" Gumam Alesha.
Sepertinya memakan makanan yang pedas bisa mengurangi rasa nyeri yang sedang mengadu-aduk perut Alesha.
Tapi kenapa harus pedas, dan asinan?
Ah sudahlah. Alesha jadi ingin makanan itu kan!
Lalu Alesha maraih ponselnya untuk menghubungi suaminya, Jacob.
Selang beberapa detik menyambungkan, akhirnya panggilan telepon Alesha pun diterima oleh sang suami.
"Hallo, Assalamualaikum, ada apa, Lil Ale? "
"Waallaikumussalam, Jack, apa kau akan pulang malam ini? "
"Sepertinya aku pulang. Ibu akan datang nanti malam, sayang."
"Ibu datang? " Alesha mengerutkan keningnya.
"Ya. Taylor belum memberitahumu? "
"Tidak. Aku belum keluar kamar sejak tadi. Oh ya! Jack, boleh tidak aku meminta satu permintaan?"
"Permintaan apa, sayang? "
"Aku ingin asinan Bogor yang pedas. Bisa kau membelikannya untukku dua bungkus? "
"Asinan Bogor? " Ulang Jacob. Sebentar, ia jadi bingung dengan permintaan istrinya itu.
"Ah iya! Kalau bisa sekalian dengan kue lapis talas toping keju! " Seru Alesha yang begitu bersemangat.
Sedangkan Jacob, keningnya masih berkerut bingung. "Memangnya Taylor sibuk, Al? "
Alesha sedikit terkejut dengan ucapan, ralat, tapi pertanyaan suaminya itu. Apa Jacob tidak mau membelikan dua jenis makanan yang Alesha minta itu?
Baiklah, kini Alesha mulai bersedih. "Kau sangat sibuk ya? Baiklah tidak apa-apa. Kau tidak usah membelikannya. Maaf aku merepotkanmu." Lirih Alesha. Benar juga sih, seharusnya Alesha ingat jika suaminya itu pasti sedang sangat sibuk, dan kenapa juga ia harus meminta dibelikan makanan? Sudah pasti itu akan merepotkan suaminya.
" Tidak, bukan begitu, sayang. Baiklah aku akan membelikan dua bungkus asinan Bogor yang pedas, juga kue lapis talas bertoping keju." Jacob kasihan pada istrinya yang meminta sebuah permintaan kecil. Sebulan ini Jacob tidak bisa membuat atau pun memberikan apa-apa pada Alesha, mungkin kali ini Jacob harus menuruti permintaan Alesha agar bisa memberikan sedikit kebahagiaan untuk istrinya.
"Sungguh? " Gembira Alesha.
"Iya, sayang. Tapi kau bersabar ya, mungkin aku baru akan sampai rumah pukul delapan malam." Balas Jacob begitu lembut.
"Terima kasih, Jack. Aku mencintaimu."
Terdengar gembira sekali Alesha. Tentunya hal itu membuat Jacob menyunggingkan senyum bahagianya. Memang ya, untuk membuat Alesha merasa senang itu tidaklah sulit.
"Sama-sama, sayang," Rona merah pada wajah Jacob menghantarkan senyum tampannya yang mempesona. Si manis kesayangan baru saja menyatakan cinta, dan hal itu membuat Jacob tersipu.
"Yasudah, kalau begitu aku matikan dulu ya sambungan teleponnya. Semangat, aku tidak akan tidur sebelum kau pulang." Masih dengan nada yang gembira, Alesha begitu bahagia karna keinginannya akan dipenuhi oleh sang suami.
"Iya, sayang."
"Assalamualaikum..."
"Waallaikumussalam, Lil Ale."
Tut... Tut... Tut...
Beres!
Alesha menggigit bibir bawahnya sembari tersenyum.
Akhirnya, asinan pedas, dan kue lapis talas toping keju akan menjadi hidangan makan malamnya.
Dan oh ya! Ibu mertuanya akan datang malam ini. Itu berarti Alesha harus menyiapkan masakan, berpakaian simpel namun enak dipandang, dan juga memastikan jika mansion ini dalam keadaan rapih.
"Alesha harus masak buat Ibu!" Tekad Alesha.
Alesha ingin menunjukkan pada ibu mertuanya jika ia adalah menantu yang baik, maka dari itu khusus untuk malam ini Alesha akan memasakkan hidangan spesial untuk ibu dari suaminya itu.
"Jam tiga sore?" Alesha berpikir sejenak.
Ia merasa lelah, dan ia pikir masih ada waktu untuknya dapat tertidur.
"Hoammm...." Alesha mengangkat kedua ke lengannya, merenggangkan tubuh, lalu memeluk bonekanya, dan mulai tertidur.
Kalau sudah dalam posisi seperti itu, rasanya berat sekali untuk Alesha tetap membuka kedua kelopak matanya. Belum lagi semliwir hembusan angin AC yang menyejukkan kian menambah niatnya untuk berganti alam selama beberapa saat.
****
Ketika cinta sudah terlanjur menumbuh, apabisa dikata jika cinta itu pun harus ditumbangkan secara paksa?
Ingin menerima keadaan hati yang sudah terlanjur patah, namun Adam sangat menyesal karna sudah pernah mensia-siakan Alesha.
Dulu, semasa SD hingga SMP, mereka selalu bersama-sama. Menghabiskan banyak momen berdua. Hingga pada akhirnya, berkat kepintaran Alesha yang menurun dari bapaknya, ia pun sukses masuk salah satu Universitas dengan mengandalkan beasiswa, dan meninggalkan sisa masa sekolah menengahnya.
Adam, dan Alesha masih sering meluangkan waktu bersama, bertahun-tahun menjalin persahabatan, tentu saja tidak terhitung lagi momen-momen yang sudah dilalui.
Lalu tiga tahun setelah Alesha menyelesaikan pendidikannya di Universitas, surat undangan dari WOSA pun datang. Ia juga tidak memberitahu hal itu pada Adam, tentu saja.
Alesha beralasan jika ia akan melanjutkan pendidikan di negara lain lewat jalur beasiswa. Tapi Alesha tidak menyangka, hanya dalam kurun waktu beberapa bulan tiba-tiba saja ia menerima kabar langsung dari Adam, jika sahabat, sekaligus cinta pertamanya itu akan melangsungkan pernikahan.
Patah hati bukan main Alesha ketika tahu kalau Adam akan menikah dengan wanita lain. Berapa lama mereka menjalin persahabatan? Kedekatan seperti sepasang kekasih ternyata tidak mampu meluluhkan hati Adam untuk Alesha.
Namun, sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan untuk Adam. Ia begitu menyesal karna tidak pernah membalas cinta Alesha dulu.
"Sejak SD kita selalu bersama, Sha. Apa kamu yakin enggak mau nerima aku yang kenal kamu lebih jauh, dan lebih lama ketimbang suami kamu yang sekarang?" Gumam sedih Adam.
"Kamu ingetkan dulu kita selalu berziarah ke makam orang tua kamu, Sha? Kadang kita main ke alun-alun buat saling bantu ngerjain tugas sekolah," Adam tersenyum kecut memandangi wajah manis Alesha dalam sebuah album foto.
"Aku nyesel, Sha. Rumah tangga aku hancur sekarang. Satu-satunya yang aku harapin cuman kamu. Aku pengen bangun rumah tangga baru sama kamu, tapi ternyata aku telat. Maaf, Sha."
Kemudian pikiran Adam pun teringat akan satu hal. Sebuah tawaran berupa ajakan yang bertujuan untuk menghancurkan rumah tangga Alesha, dan Jacob.
"Aku gak mau hancurin rumah tangga kalian, tapi aku gak bisa kalau terus tahan perasaan ini. Alesha, maaf...." Sedikit isakan terdengar kala Adam memeluk erat album foto Alesha.
Menyesal, menyesakkan, Adam tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ia mencari wanita lain? Namun itu tidak mudah. Hatinya sudah terpaku pada istri Jacob.
Kini Adam merasakan bagaimana sakit, dan menderitanya Alesha ketika ia memberikan kabar pernikahannya bersama wanita lain. Adam sangat menyesali keputusannya yang waktu itu terburu-buru menikah hanya karna tidak mau menjalin hubungan tanpa adanya status yang sah, baik agama atau pun negara.
****
Tring.... Tring..... Tring.....
Alarm yang berasal dari ponsel itu berdering tepat disebelah wajah Alesha, dan membuat sang empunya wajah terlonjak kaget dari dunia tidurnya.
"Ish, astagfirullah, kirain apaan!" Dumal Alesha masih diambang kantuk.
Alesha memejamkan matanya dan tertidur kembali selama beberapa detik.
Namun itu bukanlah hal bagus. Pertama, ini sudah larut sore, dan Alesha harus segera mandi, kedua ibu mertuanya akan datang, dan Alesha harus menyiapkan makan malam sebagaimana yang pernah ibu mertuanya ajarkan.
"Hoaammm....." Merenggangkan tubuh sembari menguap leba. Istri Jacob itu masih membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk tertidur.
"Bangun, bangun, Alesha, bangun!" Beberapa tepukan pada pipinya pun sengaja Alesha lakukan agar ia niatnya untuk mengakhiri sesi tidur pun terkumpul.
"Jam lima, jam lima, jam lima...." Alesha bergumam tidak jelas. Namun kini langkah kakinya sedang berjalan menuju kamar mandi.
"Aduh, ini badan kok pada sakit kaya gini sih, astagfirullah," Lirih Alesha. Ia bingung karna rasa nyeri, dan ngilu pada tubuhnya malah semakin bertambah, bahkan wajah Alesha terlihat pucat, putih tidak sehat.
"Astagfirullah, ini kenapa sih?" Baru saja Alesha memutar kran untuk mengisi bathub dengan air, namun tiba-tiba saja ia terlonjak, dan mundur beberapa langkah.
"Bbbbrrrrrr, kok dingin banget airnya?" Karaguan nampaknya jelas pada sorot mata Alesha. Ia ingin mandi, tapi airnya terasa sangat dingin, meski suhunya biasa-biasa saja. Ingin mandi dengan air hangat? Alesha tidak suka. Rasanya seperti tidak mandi kalau menurut Alesha.
Lalu dengan tekad, juga keberanian yang kuat, akhirnya Alesha pun melanjutkan mandinya dengan kilat, meski tubuhnya sangat menolak, dan menggigil karna bersentuhan dengan tekstur air yang sebenarnya bersuhu standar.
Selepas mandi, sekitar tujuh hingga delapan menitan, buru-buru Alesha memakai pakaian yang menurutnya nyaman, dan hangat, tidak lupa kerudung yang hanya dimodel simpel-simpel saja.
"Selesai!" Alesha menatap dirinya dalam cermin.
Tunggu.
Seperti ada yang kurang?
Alesha menatap lekat-lekat tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala.
"Ya ampun! Harus pake make up inimah!" Alesha risau dengan wajahnya yang terlihat memucat.
Ia lalu mengarahkan pandangannya pada jam dinding.
"Jam setengah enam."
Secepat mungkin Alesha memolesi wajahnya dengan bedak, dan sedikit sentuhan lipstik. Ia tidak mau membuat ibu mertua, suami, serta seisi mansion besar ini merasa khawatir hanya karna wajahnya yang terlihat pucat.
Setelah dirasa cukup dengan make up seadanya, Alesha pun langsung berjalan meninggalkan ruang kamar. Setibanya ia di lorong yang akan menghubungkan area kamar dengan ruangan lainnya di lantai dua mansion itu, Alesha mendapati beberapa pelayan sedang berlalu-lalang, ada pula yang memberikan sapaan ramah pada Alesha.
Rame juga ya nih rumah...... Alesha terkekeh karna pikirannya sendiri.
"Selamat sore, Nona," Sapa Taylor, sang asisten, dan guardian pribadi Alesha.
"Hai, Taylor," Sapa balik Alesha yang tidak kalah ramahnya.
"Mau pergi kemana, Nona?" Tanya Taylor.
"Aku ingin ke dapur untuk ikut memasak, ibu akan datang malam ini, jadi aku ingin ikut menyiapkan makan malam juga."
Taylor tersenyum saat mendengar jawaban Nyonya mudanya itu.
Beruntungnya Tuan Jacob mendapatkan istri seperti anda, Nona.......
"Mau saya antar, Nona?" Tawar Taylor.
"Tidak usah, aku hanya akan pergi ke dapur. Tidak ada ******* yang akan menculikku di mansion ini."
Kekehan Taylor lolos begitu saja kala mendengar jawaban dari Alesha.
Ya siapa juga ******* yang bisa menculik Alesha? Di mansion itu ada sekitar sepuluh anak buah milik Laura, termasuk Taylor, dan Jacob sengaja memilih kesepuluh pria itu karna mereka lah yang terbaik.
Maklum, sebelum menjaga seorang Nyonya muda, Taylor, dan kesembilan antek-anteknya sudah biasa mengawal sang Nyonya besar, ibunda Jacob.
"Oh ya, kau tahu ibu suka makanan apa?" Tanya Alesha.
"Maaf, Nona tapi saya tidak kurang tahu soal hal itu," Jawab Taylor.
"Hmm, begitu ya," Refleks, Alesha menaruh jari telunjuknya disalah satu sudut bibirnya. "Baiklah, aku akan coba untuk memberikan makanan khas Indonesia saja, semoga ibu suka."
"Aku dapur dulu ya, Taylor," Ucap Alesha seraya berjalan meninggalkan Taylor.
"Iya, Nona," Balas Taylor dengan anggukan juga senyuman ramahnya.
***
Di dapur, kini Alesha sudah berhadapan dengan sejumlah bumbu dapur. Para pelayan yang ada terheran-heran malihat Nyonya muda mereka tiba-tiba saja datang, dan memaksa untuk ikut memasak.
Tok... Tok... Tok...
Suara perpaduan antara mata pisau dengan talenan plastik yang tebal.
Alesha mulai memotong satu persatu rerempahan untuk nanti digabungkan lalu diolah agar menjadi sebuah hidangan makan malam yang semoga saja akan terasa nikmat.
Memang Alesha tidak begitu pandai dalam hal memasak, tapi dia juga tidak bodoh-bodoh amat untuk masalah yang satu ini.
Kurang lebih dua jam bergelut dengan bumbu dapur. Mulai dari mengiris, mengulak, menggoreng, dan lain-lain, kini Alesha tinggal memberikan sentuhan akhir untuk hidangan makan malam yang sengaja ia buat untuk ibu mertua, dan suaminya tercinta.
"Selesai! Yeeee..." Alesha bertepuk kecil dengan rasa senang, dan bangga karna berhasil membuatkan hidangan makanan malam yang sempurna.
"Kalian semua makan saja makanan yang sudah aku buat. Aku sengaja membuat banyak, dan menghabiskan sisa stok daging yang ada untuk kita semua. Jangan makan makanan sisa, aku sudah memisahkan untukku, Jacob, dan Ibu Laura, jadi kalian makan saja semua yang ada dipenggorengan itu." Ucap Alesha kepada para pelayannya.
Namun para pelayan yang mendengar itu malah terkejut, dan seolah tidak mempercayai apa yang Alesha katakan.
Benarkah Nyonya muda itu memasak banyak untuk para pelayannya juga? Dan memang Alesha sendiri sudah membawa dua mangkuk berukuran sedang yang berisi rendang, juga semur daging.
Jangan makan makanan sisa, aku sudah memisahkan untukku, Jacob, dan Ibu Laura, jadi kalian makan saja semua yang ada dipenggorengan itu.........
Ucapan itu langsung melekat erat pada kepala para pelayan yang mendengarnya.
"Baik sekali Nyonya kita itu," Komen salah satu pelayan setelah Alesha pergi meninggalkan area dapur.
"Dia memasak untuk kita juga. Aku bersyukur memiliki majikan sebaik, dan seramah Nona Alesha," Sambung pelayan yang lain.
Dan kini, ujian, juga komentar positif terus terucap dari mulut-mulut para pelayan untuk sang Nyonya muda, Alesha.
****
Alesha menyusun dengan rapi hidangan makan malam yang sudah ia buat diatas meja makan.
Bagaimana ya mengungkapkannya? Pasalnya, entah kenapa Alesha merasa sangat bahagia, dan bangga karna bisa menyajikan jamuan makan malam khusus untuk ibu mertua, dan suaminya. Padahal jamuan kali ini hanyalah makan malam biasa.
"Assalamualaikum..."
"Waallaikumussalam," Alesha membalikkan tubuhnya untuk melihat seseorang yang barusan mengucapkan salam. "Jack!" Ternyata Jacob. Langsung saja Alesha berlari mendekati pria itu, dan dengan sedikit melompat, Alesha pun sukses melingkarkan kedua lengannya pada leher sang suami.
"Hay, sayang, ada apa?" Tanya Jacob yang seketika merasa bahagia karna tiba-tiba saja istri kesayangannya itu memberikan sebuah pelukan selepas ia tiba di rumah.
Tidak biasanya Alesha seperti itu. Begitulah yang Jacob pikir.
Namun, ketika sedang asik menikmati pelukan hangat dari istrinya, tiba-tiba saja tubuh Jacob terhempas ke belakang karna Alesha yang mendorongnya dengan cukup kencang.
"Eungh! Bau!!!" Alesha mendengus lalu menjepit kedua lubang hidungnya dengan ibu jari, dan jari telunjuknya.
Sedangkan Jacob, ia malah tertegun di tempat dengan raut kaget, bercampur bingung.
Bau?
Apanya yang bau? Tubuh Jacob kah?
Penasaran, Jacob pun menciumi bau tubuhnya sendiri.
Wangi parfum yang biasa, tidak ada bau yang tidak enak...... Gumam Jacob dalam hati.