May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kejutan!!!



Hari ini, bertepatan dengan malam minggu, setengah dari kapasitas bangku pada tribun yang terdapat di dalam stadion kebanggaan warga Bandung itu sudah sangat penuh oleh para penonton yang akan menyaksikan acara promosi besar-besaran yang diadakan oleh induk perusahaan milik Laura. Dengan mengundang, dan menjadikan salah satu boygroup yang sedang tenar-tenarnya diseluruh penjuru dunia sebagai brandambassador, Laura, Maya, dan Jacob berharap kalau bisnis-bisnis mereka akan semakin dikenal, dan digemari oleh masyarakat dunia.


Khusus untuk para tamu undangan yang sudah datang, mereka akan menempati bangku, dan meja yang sudah disiapkan di tengah-tengah lapangan, tidak jauh dari lokasi panggung berada.


"Mona, ini tinggal satu jam lagi, kenapa Jacob belum juga datang?" Tanya Laura yang begitu panik karna belum mendapati kehadiran anak laki-lakinya itu.


"Aku sudah menghubungi Jacob, namun tidak ada jawaban darinya. Tapi Taylor sudah memberitahu padaku kalau Jacob sudah bersiap untuk datang kemari, hanya saja sejak sore tadi Alesha terus-terusan muntah, dan tubuhnya mulai demam. Sepertinya Jacob sangat mengkhawatirkan Alesha, maka dari itu dia belum datang juga, Bu, "Jawab Mona yang tidak kalah paniknya.


Ibu, dan anak itu sudah benar-benar salah tingkah, dan kebingungan karna Jacob yang tak kunjung tiba sedangkan acara akan dimulai setengah jam lagi.


***


Sementara itu.


Di mansionnya, tepatnya di dalam kamar, dan diatas kasur, kini Jacob tengah memeluk tubuh istrinya yang terasa begitu lemah.


Alesha seperti tidak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya kelelahan karna sejak jam tiga sore tadi, ia terus saja muntah-muntah, sedangkan yang dimuntahkan pun hanya sebatas saliva saja. Perutnya sampai-sampai sakit karna terus dipaksa untuk mengeluarkan sesuatu.


Mual, pening, tidak berenergi, sakit, dan ngilu diseluruh tubuh. Sudahlah, Alesha benar-benar pasrah. Ia sungguh lemas saat ini. Wajahnya pucat pasi, tatapannya sayu tidak beraura.


"Jack, pergilah. Aku sudah merasa lebih baik saat ini," Bohong Alesha.


"Bagaimana aku bisa pergi jika kondisimu saja seperti ini, Alesha?" Balas Jacob.


Alesha menghembuskan napasnya. "Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang," Alesha melepaskan tubuhnya dari pelukan Jacob. "Pergi saja, aku tidak apa-apa. Mungkin setelah ini aku akan langsung tertidur."


Tampak Jacob yang sedang berpikir.


"Kau yakin?" Jacob menatap intens pada Alesha.


"Iya, aku tidak apa-apa sekarang. Aku merasa jauh lebih baik," Jawab Alesha sembari menganggukkan kepalanya.


Jacob kembali berpikir. Ia memang harus segera pergi untuk menghadiri acara promosi perusahaan ibunya, tapi ia juga tidak akan tenang jika meninggalkan Alesha saat ini.


"Tidak usah panik. Aku hanya kelelahan, jika terjadi sesuatu padaku, pasti aku akan langsung menghubungimu," Alesha menyentuh bahu suaminya untuk memberikan keyakinan.


"Berjanjilah kau akan menghubungiku jika terjadi sesuatu yang buruk padamu," Jacob menggenggam erat jemari istrinya.


"Iya."


Dipandanginya dengan lekat wajah Alesha oleh Jacob. Jika saja bisa, ingin sekali Jacob tetap berada disebelah istrinya itu.


"Aku mencintaimu, Alesha," Jacob memeluk erat tubuh lemah istrinya.


"Aku juga, Jack," Balas Alesha, lirih.


Baru setelah itu, Jacob kembali melepaskan pelukannya, dan beralih dengan menciumi wajah istrinya.


"Cukup, Jack, kau membuang-buang waktumu."


"Taylor!" Panggil Jacob yang menggema hingga keluar kamar.


"Ya, Tuan," Balas Taylor sembari menghampiri Jacob.


"Awasi Alesha selama aku pergi! Tidak usah kunci pintu kamar ini supaya nanti jika terjadi sesuatu yang buruk pada Alesha maka kau akan mudah mengetahuinya!" Titah Jacob.


Taylor mengangguk. "Baik, Tuan."


"Alesha aku pergi dulu, aku berjanji setelah promosi itu selesai, maka aku akan langsung pulang," Jacob membelai pipi istrinya, baru setelah itu, ia pun beralih bangkit, dan pergi meninggalkan kamar itu.


"Nona, bagaimana perasaan Nona sekarang?" Tanya Taylor pada Alesha.


"Masih sama," Lirih Alesha.


"Mau dipanggilkan dokter saja?"


"Tidak! Tidak usah." Alesha membaringkan tubuhnya. "Aku ingin tidur saja sekarang."


Sejenak, Taylor bergeming. Namun setelah melihat Nyonya mudanya yang menutup mata untuk tertidur, barulah ia pergi, keluar dari kamar itu


***


Malam minggu yang sangat meriah, dan begitu memuaskan untuk para pemimpin perusahaan yang berada dibawah naungan StarStellar Corp. Terutama Laura, Mona, dan Jacob. Mereka sangat amat bahagia karna promosi perusahaan yang sudah direncanakan sejak beberapa bulan lalu kini telah berjalan sesuai ekspektasi.


Harapan yang dipanjatkan setelah promosi itu, semoga saja semua cabang usaha yang berada dalam naungan perusahaan Laura akan semakin terkenal, dan banyak diminati oleh masyarakat dunia.


Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama untuk Jacob. Kenapa? Karna ia mengingat istrinya yang sedang dalam kondisi tubuh kurang baik.


Meski masih ada beberapa tamu undangan yang sedang berbincang-bincang dengan para pemimpin perusahaan walau acara promosi itu sudah selesai, Jacob lebih memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia benar-benar mencemaskan Alesha, pikirannya tidak akan tenang sebelum ia berjumpa dengan Alesha.


Tidak perduli dengan padatnya jalan raya di pusat kota Bandung, Jacob tetap memacukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak perlu khawatir, ia sudah biasa kejar-kejaran dengan para penjahat dijalan raya umum menggunakan mobil sewaktu ia masih menjadi agent intelegent dari SIO. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan oleh Jacob ketika ia membawa mobilnya dengan kecepatan maximum, toh ia sudah terbiasa.


Sekitar tiga puluh menit melesat dijalan raya aspal, akhirnya Jacob pun tiba di mansionnya. Buru-buru ia mematikan mesin mobil lalu keluar dari dalam mobil, dan berjalan dengan sangat cepat menuju kamarnya.


"Tuan Jacob...." Panggil Taylor yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar majikannya bersama dua lelaki lain yang juga anak buah Jacob.


"Taylor, bagaimana kondisi Alesha?" Tanya Jacob, panik.


"Nona baik-baik saja, Tuan. Sejak Tuan pergi kondisinya semakin membaik, dan Nona juga sudah tertidur sejak kurang lebih satu jam yang lalu," Jawab Taylor.


"Sungguh? Syukur kalau begitu. Aku sangat cemas," Jacob mengelus dadanya setelah merasakan sedikit ketenangan dalam dirinya.


"Kalau begitu, karna Tuan sudah datang, saya, dan yang lain ingin meminta izin untuk pergi dari sini, Tuan," Ucap Taylor.


Taylor, dan dua lelaki lain yang bersamanya pun tersenyum pada Jacob.


"Sama-sama, Tuan, ini memang sudah tugas kami untuk menjaga Nona Alesha saat Tuan pergi," Ucap Taylor.


Selepas Taylor, dan dua anak buahnya pergi, Jacob segera membuka pintu untuk masuk ke dalam kamarnya.


Ceklek....


Suara gagang pintu yang ditekan.


Tapi sebentar.


Di mana Alesha?


Indra penglihatan Jacob tidak mendapati adanya siapapun di ruang kamar itu, terutama di atas kasur yang seharusnya ada Alesha sedang tertidur di sana. Lalu kemana istri tercinta Jacob itu?


Perlahan, Jacob kembali menutup pintu kamarnya, baru setelah itu, ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang yang bernuansa putih ke pink-pink -an itu.


"Jack..."


Panggilan lirih dari salah satu sudut ruangan pun membuat Jacob mengalihkan pandangannya ke asal suara itu.


"Alesha?" Jacob mengerutkan keningnya. Ia mendapati Alesha yang sedang berjalan lemas ke arahnya. "Tadi Taylor bilang kau sedang tidur," Ucap Jacob sembari mendekati istrinya.


Alesha menatap sayu pada suaminya. "Aku baru bangun, dan habis dari kamar mandi," Meski terlihat sangat lemas, dan wajah yang teramat pucat, senyum manis pun malah mengembang pada wajahnya.


"Kapan kita akan berbulan madu?" Tanya Alesha begitu lirih, namun masih tetap menunjukkan senyumannya.


Sebentar.


Jacob merasa sedikit aneh.


Kenapa Alesha tiba-tiba menanyakan hal itu?


Jacob pun berkerut bingung. "Rencananya lusa, namun mungkin akan diundur kembali sampai kau sembuh," Jawab Jacob masih dengan ekspresi bingungnya.


"Apa akan ada yang kita ajak?" Alesha kembali bertanya dengan senyuman yang semakin mengembang.


Tetapi Jacob malah semakin kebingungan. "Mungkin Taylor, dan delapan anak buahnya."


Entah apa yang terjadi dengan Alesha, tiba-tiba saja ia tertawa kecil.


Sangat aneh. Sebenarnya ada apa? Jacob sungguh dibuat bingung oleh sikap istrinya itu.


"Lalu apa saja yang akan kita lakukan di sana?" Lagi, Alesha kembali bertanya disela-sela tawanya.


"Alesha, sebenarnya ada apa?"


"Jawab dulu pertanyaanku!"


Meski masih dilanda kebingungan, Jacob pun menjawab. "Tentu saja kita akan menghabiskan waktu berdua di sana. Apa lagi?"


"Kau yakin hanya kita berdua saja?" Sebelah alis Alesha terangkat, dan masih dengan senyum yang terukir pada wajahnya.


"Kita berbulan madu untuk menghabiskan waktu berdua, sayang. Apa sebenarnya yang terjadi padamu, Alesha?"


Alesha kembali tertawa kecil.


"Sepertinya ada yang mesti kita ajak, Jack."


Apa?


Ada yang mesti diajak lagi? Siapa?


Jacob semakin penasaran. Alesha benar-benar membuatnya kebingungan. "Siapa?"


Alesha melirik pada suaminya. Sejenak, ia tidak menjawab apapun, dan hanya senyuman lah yang tetap ia tunjukkan pada Jacob.


Lalu, setelah dirasa cukup lama, perlahan Alesha meraih telapak tangan suaminya untuk diletakkan tepat diarea perutnya.


Tiba-tiba saja jantung Jacob berdegub kencang. Ia mulai memiliki firasat akan satu hal.


Masih dengan ekspresi wajah yang sama, Alesha pun mengerahkan sebelah lengannya yang lain untuk merogoh sesuatu didalam saku baju tidurnya.


"Anakmu," Satu kata terucap dari mulut Alesha bersamaan dengan ditunjukkannya alat testpack tepat dihadapan wajah Jacob.


*


*


.………………………………………………………


....................................................................


...........................................................................


*Maaf ya, hari ini aku gak bisa up panjang-panjang soalnya badan aku lagi bener-bener gak enak dari semalem, pusing, mual, gak jelas gitu 🙏🙏🤧🤢


Oh ya, makasih juga buat yang udah sering mampir, baca, vote, like, komen, and rate 🙏😘💋 Luv U💋💞🌹