
Tiga bulan sudah berlalu. Sangat tidak terasa dan begitu cepat, bukan? Ya, memang seperti itulah. Mereka menjalani masa-masa di WOSA dengan penuh kebahagiaan dan pengalaman baru. Alesha sudah saling mengenal sifat masing-masing temannya, begitu pula sebaliknya. Jujur saja, Alesha sungguh betah berada di WOSA, teman-temannya tidak seperti yang dipikirkan, mereka semua sangat mengasyikkan dan juga seru. Terkadang, Jacob menghukum Mike dan Lucas karna ulah mereka yang jahil dan suka ceroboh, Stella yang selalu berdandan dan memperhatikan penampilannya, Nakyung yang selalu bersikap dewasa walau kadang kalau sudah sekalinya bercanda suka kelewatan, dan si kembar Maudy dan Merina. Mereka tidak kembar wajah, bahkan tidak ada silsilah persaudaraan diantara mereka, namun mereka selalu kompak dan bersamaan dalam segala hal, dan Jacob yang baik, tampan, namun jahat kalau sudah memberikan hukuman.
Adaptasi yang bagus diantara mereka menciptakan sebuah anggota tim yang sesungguhnya. Tidak ada canggung. Bastian juga tidak sombong dan seenaknya walau ia ketua tim. Tidak seperti beberapa ketua tim yang lain. Alesha juga mendapat banyak teman baru dari anggota tim lainnya. Alesha kadang berpikir kenapa ia bisa seberuntung saat ini. Masuk WOSA dan mendapatkan teman juga pengalaman baru.
***
Saat ini Alesha dan yang lain sedang belajar seperti biasa di taman bersama Jacob.
"Mr. Jacob, Mr. Thomson memanggilmu," ucap Bastian.
"Memanggilku? Kenapa?" tanya balik Jacob.
"Entah," jawab Bastian. Jacob bangkit lalu bergegas pergi untuk menemui Mr. Thomson.
Bastian sebagai ketua tim tentu sudah tahu tugasnya, ia harus mengawasi anggota timnya untuk lanjut belajar.
Jacob berjalan menuju ruangan Mr. Thomson yang ada di lantai dua gedung mentor. Setelah sampai, ia mengetuk lalu membuka pintu ruangan kepala sekolah WOSA itu.
"Ada apa, Mr. Thomson?" tanya Jacob.
"Jacob, aku ingin menyampaikan pesan dari SIO untukmu." Mr. Thomson menarik Jacob untuk duduk di sofa, "SIO memanggilmu, Mr. Frank mengirimkan pesan itu padaku sejam lalu."
"SIO memanggilku? Ada apa?" tanya Jacob.
"Aku tidak tahu. Sore nanti akan ada helikopter yang akan menjemputmu," jawab Mr. Thomson.
"Apa? Tidak! Bagaimana dengan timku?" tolak Jacob.
"SIO akan meminta Laras untuk mementori timmu sementara," jawab Mr. Thomson, "Kau mempercayai Laras, kan?"
Jacob mengangguk, namun hatinya terasa berat untuk meninggalkan timnya.
"Kau bersiaplah, dan kemas pakaianmu, itu perintah Mr. Frank," ucap Mr. Thomson.
Jacob mengangguk dengan ragu, "Baiklah, aku akan bersiap," ucap Jacob.
Mr. Thomson tersenyum lega mendengar itu.
Tak membuang waktu, Jacob segera pergi keluar ruangan Mr. Thomson. Ia bingung kenapa SIO memanggilnya? Ditambah ia juga tidak bisa meninggalkan timnya begitu saja. Ia takut terjadi hal-hal yang buruk pada mereka.
Jacob berjalan masuk ke kamarnya lalu berkemas. Ia membawa beberapa pakaian seperti yang diperintahkan Mr. Thomson. Sungguh jika Jacob bisa menolak ia ingin sekali menolak. Ia khawatir dengan Bastian dan anggota timnya. Jacob masih berpikir-pikir. Berangkat atau tidak? Tapi sore ini helikopter dari SIO akan menjemputnya.
***
"Bas, dimana Mr. Jacob? Tumben lama sekali perginya," tanya Aiden.
"Aku juga tidak tahu," jawab Bastian.
"Dia sudah berjanji untuk mengajari kita cara bertarung." Lucas berdecak.
"Apa aku temui dia keruangannya saja?" usul Bastian.
"Ya, ini sudah hampir jam empat, satu jam dia pergi." Lucas setuju.
"Heyy, Mrs. Laras mengirimkan pesan. Kita di minta untuk menemui Jacob di halaman belakang gedung asrama!" seru Aiden.
"Benarkah?" tanya Stella.
"Iya. Dia meminta kita untuk ke sana secepatnyanya," jawab Aiden.
"Ya ampun, halaman belakang gedung asrama itu jauh dari sini," ucap Nakyung dengan malas.
"Sudah, ayo, jangan buat mereka menunggu lama." Bastian segera berjalan di depan dan diikuti yang lain di belakang.
Mereka melangkah secepat mungkin. Jarak dari taman tempat mereka belajar tadi dengan halaman besar di belakang gedung asrama cukup jauh.
Setelah sampai dalam beberapa menit, Bastian dan anggota timnya terkejut karna ada sebuah helikopter yang sedang parkir di tengah halaman yang luas itu. Jacob, Laras, dan Mr. Thomson sudah menunggu mereka.
"Mr. Jacob, ada apa?" Bastian mendekati Jacob.
Jacob tidak menjawab.
"Beberapa hari kedepan Laras akan menjadi mentor kalian sementara waktu karna Jacob dipanggil oleh SIO," ucap Mr. Thomson.
"Hanya sementara sampai Jacob kembali," sambung Laras.
Alesha dan yang lain terkejut mendengar itu. Tentu saja, pengumuman dan kabar ini mendadak sekali.
"Berapa lama?" tanya Bastian.
"Kami tidak tahu," jawab Mr. Thomson.
"Tuan, kami akan berangkat sebentar lagi. Mr. Frank sudah menunggu," ucap sang pilot.
Bastian mendekati Jacob sambil tersenyum, "Segeralah kembali, kami membutuhkanmu, aku masih membutuhkanmu untuk membantuku menjadi ketua grup yang baik."
Jacob tersenyum kecil, "Jangan ucapkan kata-kata itu dengan nada seolah kita akan berpisah. Aku hanya pergi beberapa hari." Ia menatap seluruh anggota timnya, "Dan kalian, jangan merepotkan Laras, atau Danish akan menghukum kalian lebih berat dibandingkan hukumanku," ucap Jacob, yang lebih tepatnya, sih menyindir pada Mike dan Lucas.
"Baik, Mr. Jacob." Mike dan Lucas tertunduk malu.
Jacob tersenyum memandangi setiap anggota timnya. Matanya berhenti pada Alesha. Ia teringat akan Yuna, lagi.
"Jaga kesehatanmu, jangan terlalu sering keluar malam, aku tidak mau ada anggota timku yang sakit." Jacob menatap lembut pada Alesha.
Alesha tertegun saat mendapatkan tatapan lembut itu dari Jacob.
Jacob segera masuk ke dalam helikopter yang akan membawanya ke kantor SIO pusat.
Sekali lagi, sesaat sebelum pintu helikopter tertutup, Jacob menatap Alesha, lagi.
Yuna... Jacob menggelengkan kepalanya, pelan.
Helikoper SIO itu segera terbang dan semakin bergerak menjauh.
"Ayo, kalian harus melanjutkan belajar kalian lagi. Aku yang akan menemani kalian sekarang," ucap Laras sambil tersenyum.
Bastian dan kawan-kawannya mengangguk, lantas berbalik badan dan kembali menuju taman tempat mereka belajar tadi.
Jacob menatap ke arah pulau dimana WOSA berada, pikirannya masih belum bisa fokus. Ragu? Ya. Ia harus meninggalkan timnya. Walau setidaknya ada Laras yang akan menjaga mereka. Sebenarnya Jacob penasaran apa yang membuat SIO memanggilnya?
Ia menatapa ke arah hamparan laut yang membentang di sepanjang perjalanannya. Sekitar dua jam waktu yang di butuhkan untuk sampai di SIO, jadi, Jacob lebih memilih untuk mendengarkan lagu sambil menyandarkan kepalanya pada kaca yang cukup tebal.
***
"Dimana Jacob?" tanya Mr. Frank.
"Diruangannya, tuan," jawab seorang pelayan.
Mr. Frank segera berjalan menuju ruangan Jacob.
Jacob sendiri sudah sampai sekitar sejam yang lalu. .
"Selamat datang, Jacob, aku senang kau kembali," sambut Mr. Frank yang kini sudah berada di dalam ruangan Jacob.
Jacob tersenyum kecil, "Terima kasih."
"Jacob, aku akan langsung mengatakan ini saja padamu. Aku minta kau untuk memimpin ekspedisi kesebuah gua di wilayah Selandia Baru. Agen SIO yang aku kirim sudah menemukan sesuatu di gua itu, aku ingin kau membawa beberapa agen SIO ke wilayah itu dan memimpin mereka," ucap Mr. Frank.
"Ekspedisi ke gua? Untuk menemukan apa?" tanya Jacob.
"Mereka menemukan tanda-tanda kalau di dalam gua itu terdapat bongkahan berlian yang berusia jutaan tahun," jawab Mr. Frank, "Aku tidak mau sampai ada oknum jahat yang menemukan gua itu dan memanfaatkan berlian di gua itu."
Jacob berpikir sesaat, "Baiklah, kapan aku akan kesana?" tanya Jacob.
"Sekarang juga lebih bagus," jawab Mr. Frank.
"Kau yakin, Mr? Aku baru saja sampai di SIO." Jacob menatap tidak percaya pada Mr. Frank.
"Baiklah, kalau begitu nanti malam."
Jacob mendengus pelan mendengar jawaban Mr. Frank.
"Aku harus pergi dulu, banyak sekali hal yang perlu aku urus," ucap Mr. Frank, "Aku percayakan misi ini padamu," bisik Mr. Frank sebelum akhirnya ia pergi dari ruangan Jacob.
Jacob menghela nafasnya. Sudah berapa lama ia tidak kembali ke SIO? Tapi untungnya teman-temannya yang bekerja di SIO tidak melupakan wajah Jacob. Ia tersenyum sembari berjalan ke arah jendela besar yang menunjukan hamparan bukit yang indah, dan di bawah bukit itu ada sebuah danau yang sangat jernih.
Malam ini, Jacob akan langsung terbang ke Selandia Baru untuk menjalani misi yang Mr. Frank berikan.
"Jacob!" panggil seorang wanita yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu.
Jacob berbalik dan mendapati wanita itu berlari ke arahnya lalu memeluknya dengan erat. Ia tersenyum kecil.
"Bagaimana keadaanmu? Aku sangat mengkhawatirkanmu." Wanita itu mendongkak untuk menatap Jacob.
"Aku baik, dan bagaimana kondisimu?" tanya balik Jacob.
"Aku baik," jawab wanita itu sambil tersenyum bahagia.
"Hai, Jack, senang bisa bertemu denganmu lagi, sudah lama kita tidak bertemu." Seorang laki-laki masuk ke ruangan Jacob. Dia adalah William, kakak ipar Jacob, dan wanita yang tadi memeluk Jacob adalah Mona, kakak kandung Jacob.
Jacob tersenyum lagi, "Senang bisa bertemu dengan kalian lagi."
"Kau jauh lebih baik sekarang, aku sangat bersyukur," ucap Mona sembari memeluk adiknya itu lebih erat lagi. Ia sangat menyayangi Jacob, dan ia lah yang mengasuh Jacob sejak umur dua tahun, karna orang tua mereka menelantarkan mereka begitu saja. Saat itu, Mona benar-benar sedih dan kebingungan setengah mati ketika melihat Jacob yang depresi sekitar tiga tahun lalu, namun melihat kondisi Jacob sekarang, Mona tentu merasa bahagia.
"Mr. Frank bilang kau akan memimpin kelompok untuk mendapatkan berlian purba di gua itu," ucap William.
Jacob mengangguk.
"Hati-hati, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa adikku." Mona mengusap rambut Jacob.
Jacob tersenyum, "Aku akan baik-baik saja."
"Aku akan siapkan obat dan bekal kesukaanmu untuk perjalanan nanti," ucap Mona dengan semangat.
William hanya menggeleng sambil tersenyum saat melihat Mona begitu dekat dan over care Jacob, adiknya.
"Buatkan yang banyak," balas Jacob.
Mona mengangguk, "Akan ku buatkan sebanyak mungkin."
"Baiklah, kami harus segera kembali untuk lanjut bekerja, dan aku juga harus membuatkan bekal untuk adikku yang tampan ini, jadi, kami pergi dulu ya." Mona mencubit pelan pipi Jacob dengan gemas.
Jacob meringgis pelan sembari tersenyum. Ia kadang bingung kenapa kakaknya itu masih memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi, ya begitulah Mona. Malaikat cantik pengganti ibu bagi Jacob.
Mona dan William segera pergi keluar ruangan, meninggalkan Jacob sendiri.
Di tempatnya, Jacob tersenyum kecil. Ia merasa bahagia karna setidaknya di dunia ini masih ada Mona, kakaknya yang begitu perduli dan menyayanginya.
***
Malam ini tepatnya jam delapan, Jacob bersama beberapa anak buahnya sudah siap untuk pergi menuju Selandia Baru untuk sebuah misi.
"Aku buat begitu banyak olahan daging cincang pedas untukmu. Aku menyimpannya ditasmu. Cukup untuk sampai besok sore," ucap Mona.
Jacob mengangguk, "Terima kasih Kakakku yang cantik."
"Aku baru saja bertemu denganmu, aku akan merindukanmu, Jack," ucap Mona sembari memegangi kedua telapak tangan adiknya itu .
"Jangan terlalu banyak pikiran, jaga keponakanku, aku akan kembali saat mereka sudah lahir," balas Jacob.
Ya, saat ini Mona memang sedang hamil.
"Kau baru mengatakan padaku? Kenapa?" tanya Jacob, menuntut jawaban.
Mona tersenyun malu, "Aku saja baru tau minggu lalu kalau aku sedang hamil."
Jacob mendengus, "Semoga kalian baik-baik saja."
"Hati-hati, jangan lakukan hal yang bisa membuatmu dalam bahaya," lirih Mona. Ia sangat mengkhawatirkan Jacob, takut terjadi yang buruk menimpa adiknya itu.
"Aku akan baik-baik saja, Mona," balas Jacob, "Aku pergi dulu, mereka sudah menungguku, lepaskan aku." Jacob mencoba untuk melepaskan pelukan kakaknya, Mona yang sangat erat.
"Biarkan dia, Jack, aku rasa ini efek dari kehamilannya," ucap William.
"Kau adikku yang sangat jelek, aku akan merindukan adik jelekku." Mona mencubit pipi Jacob. Lagi?
"Mona, sakit," ringgis Jacob, "Sudah, aku harus pergi, jaga dirimu." Jacob segera melangkah menuju pesawat berukuran sedang yang akan membawa ia bersama timnya ke tempat misi mereka.
"Oh, ya, tolong sampaikan salamku pada Mr. Frank." Jacob tidak sempat berpamitan dengan pucuk kepemimpinan di SIO itu sebab mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Mona dan William mengangguk.
Jacob segera masuk ke dalam pesawat. Sang Pilot juga sudah siap dan tinggal meminta izin untuk lepas landas.
Jacob menatap ke arah Mona dan William lewat jendela. Ia tersenyum manis. Dua kakaknya itu adalah orang yang paling ia sayangi saat ini. Terutama Mona.
***
Malam ini Alesha diminta untuk menemui Laras diruangannya.
"Mrs. Laras?" Alesha masuk ke dalam ruangan Laras.
"Alesha, ayo sini." Laras menarik tangan Alesha dan membawanya duduk.
"Kira-kira tempat yang tepat untuk acara pernikahanku dimana, ya?" Laras menunjukan beberapa gedung pernikahan yang ada di kota kelahirannya, Bandung.
Alesha berpikir. Ia bingung.
"Aku akan melangsungkan akad pernikahan dua minggu lagi, dan aku berencana untuk menjadikanmu pager ayu, bersama beberapa sepupuku," ucap Laras.
Alesha terkejut! Jadi pager ayu? Diacara pernikahan Laras? Alesha mengerutkan keningnya. Hey! Apakah itu mungkin?
"Mau, kan? Aku akan mengajak Bastian, Lucas, Mike, Nakyung, dan Jacob pastinya kalau ia sudah selesai dengan urusannya di SIO," lanjut Laras.
"Mau, ya," mohon Laras.
Sebentar. Alesha bingung. Ia berpikir. Apa yang harus dijawabnya?
"Berarti nanti aku akan pulang ke Bandung?" tanya Alesha.
"Ya, tapi aku tidak menjamin kau akan pulang ke rumahmu," jawab Laras.
Alesha berpikir lagi sesaat.
"Baiklah, aku akan.." ucap Alesha.
"Terima kasih, Al," potong Laras dengan senyum sumringahnya.
"Oh ya, jadi, kira-kira tempat yang bagus untuk acara pernikahanku dimana?" tanya Laras sambil menunjukan tempat-tempat indah yang ada di Bandung untuk acara pernikahannya.
"Mrs. Laras, kalau boleh aku bertanya, kenapa kalian tidak memutuskan tempat untuk melangsungkan acara pernikahan kalian sendiri?" tanya Alesha.
"Danish meminta ku untuk memutuskannya sendiri, makanya aku meminta bantuanmu," jawab Laras.
Alesha mengangguk. Akhirnya, ia membantu Laras mencarikan tempat untuk acara pernikahan wanita itu dua minggu lagi.
***
Jarak dari pusat kantor SIO ke titik dimana goa yang diyakini menyimpan berlian purba itu cukup jauh. Meski sama-sama berada di Selandia Baru. Beberapa jam dipesawat membuat Jacob bosan. Ia ingin mencoba untuk melakukan suatu hal, namun apa? Jacob terdiam. Pikirannya menerawang jauh tentang ingatan masa lalunya, tepatnya tiga tahun yang lalu. Ia berada di dalam pesawat juga bersama anggota timnya yang sedang pergi menuju pegunungan Himalaya.
Flashback....
"Mr. Jacob, kira-kira berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya ketua tim.
"Tidak lama lagi," jawab Jacob.
Seorang gadis dengan rambut Lurus dan wajah yang sangat cantik tiba-tiba menghampiri Jacob dan ketua tim itu.
"Kau ini, sudah berapa kali kau menanyakan hal itu? Ya ampun!" ucap Yuna. Gadis itu duduk di sebelah Jacob.
Jacob terkekeh, "Mungkin ia sudah tidak sabar dengan misinya."
Ketua tim itu mendengus lalu pergi.
Jacob dan Yuna sama-sama tersenyum geli melihat si ketua tim yang nampak sebal. Namun, sejurus kemudian, Jacob mengalihkan tatapannya pada Yuna. Menatap gadis itu dengan penuh arti.
"Berhenti menatapku seperti itu," ucap Yuna yang tersipu.
Jacob menyeringai, "Kau cantik."
Yuna mengalihkan pandangannya untuk menghindari kontak mata dengan Jacob.
"Hey, lihat aku," ucap Jacob.
Yuna menghiraukan itu.
"Aku punya sesuatu untukmu."
Mendengar itu, refleks Yuna berbalik lalu menatap pada Jacob.
Jacob menunjukan sebuah cincin yang indah tepat di depan mata Yuna. Tentunya hal itu membuat Yuna sangat terkejut. Kemudian, Jacob meraih sebelah telapak tangan Yuna lalu memasukan cincin itu ke jari manis Yuna.
"Jack?" Yuna menatap Jacob dengan raut bingung.
"Ini milikmu," ucap Jacob dengan senyuman hangat. Ia sengaha6 membeli cincin cantik itu untuk Yuna, kekasihnya.
Akan tetapi, Yuna seperti tidak menyangka. Maksudnya, apa Jacob memang benar-benar serius tentang perasaannya? Kini Yuna pun terdiam. Seperti sebuah firasat. Yuna melepaskan telapak tangannya dari genggaman Jacob, dan juga melepaskan cincin itu.
"Tidak, Jack," ucap Yuna.
Jacob yang mendapati itu tentunya merasa bingung, dan aneh, belum lagi saat melihat tatapan mata Yuna yang terlihat sedih.
"Aku harus pergi jauh, dan kau juga tidak akan ada bersamaku nanti, kau harus menjaga cincin ini sampai waktu yang tepat, setelah itu kau baru bisa memakaikan cincin ini padaku." Yuna menatap Jacob dengan senyum sendu.
Jacob menyerngit, tidak mengerti maksud dari ucapan kekasihnya itu.
Yuna tersenyum hangat, "Kau pasti tidak mengerti."
Jacob menggelengkan kepalanya.
Yuna tertawa, "Maksudku, aku ingin kau memakaikan cincin ini saat misi tim kita sudah selesai nanti. Jika aku memakai ini sekarang aku tidak bisa menjamin cincin ini akan tetap ada bersamaku saat kembali dari Himalaya nanti. Aku takut jika cincin ini hilang. Jaga ini sampai aku kembali bersama yang lain." Yuna menyimpan cincin itu ditelapak tangan Jacob.
Jacob mengangguk sambil tersenyum, tapi ia merasa seperti ada yang mengganjal dan aneh.
Hingga pada akhirnya sampailah mereka di pegunungan Himalaya, tempat WOSA mengirim tim Jacob untuk menjalani ujian tes akhir. Jacob berpisah dengan timnya. Timnya harus melanjutkan misi mereka tanpa Jacob. Begitu pula tim yang lain. Para mentor hanya akan menunggu tim mereka kembali dengan memantau tim masing-masing dari jarak yang sangat jauh. WOSA juga sudah menyiapkan jalur khusus untuk beberapa tim yang akan menjalani tugas akhir di Himalaya. Ada tiga tim yang WOSA kirim untuk menjalani tes akhir di Himalaya, yaitu tim Jacob, Laras, dan Eve.
"Kembali lah secepatnya, aku tidak sabar untuk memakaikan benda ini padamu," ucap Jacob.
Yuna hanya tersenyum. Namun dengan senyum yang tidak meyakinkan.
Hal itu membuat Jacob merasa aneh, "Kau tidak apa-apa?" tanyanga.
Yuna mengangguk.
"Sampai jumpa, aku akan kembali, dan segera pulang. Jaga cincin itu hingga kita bertemu nanti, aku ingin kau memakaikan aku cincin itu saat aku pulang nanti," ucap Yuna dengan nada sendu.
Jacob tertegun. Raut wajahnya nampak seperti bingung. Entahlah, tapi perasaannya tidak enak.
"Aku akan sangat merindukanmu, Mr. Jacob," ucap Yuna dengan raut sedih lalu memeluk Jacob sebentar.
"Aku akan menunggumu, cantik," balas Jacob.
Yuna tersenyum sambil meneteskan air matanya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Jacob.
"Aku takut. Ini pertama kalinya aku menjalani misi seperti ini. Aku takut jika aku dan timku gagal," ucap Yuna.
"Aku akan mengawasi kalian dari sini. Tenang saja. Aku sudah membekali kalian dengan banyak pengetahuan dan kalian juga sudah melakukan beberapa misi sebelumnya." Jacob menangkup wajah Yuna. Ia berusaha menenangkan gadis itu.
"Tapi misi ini berbeda, ini jauh lebih berbahaya," balas Yuna.
"Apa kau bisa menjamin keselamatan kami?" tanya Yuna.
Jacob tersenyum, "Aku tidak akan membiarkan kalian dan kau dalam bahaya. Bersemangat lah, cincin ini menunggu pemiliknya," ucap Jacob sembari mencubit gemas kedua pipi gadisnya.
"Kau benar. Aku akan segera kembali agar cincin itu kembali padaku," ucap Yuna dengan senyuman yang bersinar, "Dan tidak ke pemilik yang lain," bisik Yuna, meledek.
Jacob terkekeh mendengar itu. "Cincin ini hanya milik seorang bukan dua apa lagi tiga," balas Jacob lalu menoel hidung Yuna. Ia menghela nafasnya.
Itu adalah saat terakhir untuk Jacob bisa bercanda dengan Yuna dan ia ingat senyuman manis Yuna saat ia dan timnya berangkat menuju bukit Himalaya. Terakhir kali bagi Jacob. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Ia merasa tidak rela jika Yuna dan timnya harus pergi menuju Himalaya tanpa bersamanya.
***
Dua hari berlalu, Jacob masih bisa terhubung dengan timnya yang sedang berada di kaki bukit Himalaya. Hari itu, Jacob merasa hari itu begitu berat. Jacob tak mengerti, firasatnya tidak enak. Ia terus menghubungi ketua tim untuk memastikan keadaan timnya.
Mereka terus berkomunikasi hingga sore tiba.
Seorang petugas menghampiri Jacob dan dua mentor lain, yakni Laras dan Eve. Petugas itu meminta para mentor untuk memerintahkan tim mereka kembali ke pos saat itu juga karna akan ada badai salju yang sangat besar di Himalaya. Jacob panik, Laras dan Eve segera menghubungi tim mereka masing-masing. Jacob juga mencoba untuk menghubungi timnya. Gangguan sinyal membuat Jacob kesal, ia kesulitan menghubungi timnya.
"Mr. Jacob.... Tolong.... Tolong kami..." ucap sang ketua tim yang membuat Jacob panik setengah mati.
"Kembali.. Cepat kembali! Melalui jalan yang tadi kalian lewati!" tegas Jacob.
"Tidak.... Aaaa... Mr. Jacob... Badai sangat besar!!"
"Kembali! Ken!!! Kembali!!!" Jacob menggeram kesal sebab gangguan sinyal yang sangat buruk.
"Mr. Jacob... Tolong...!!!"
Jantung Jacob berdegub kencang. Ia mendengarkan percakapan terakhir timnya.
"Tidaakkk... Mr. Jacob... TOLONG!!!"
"Dimana Yuna, Melvin, Edward, dan Liam? Mr. Jacob tolong kami!!!"
Jacob terdiam telak dengan ekspresi yang sudah tidak bisa ditebak, hatinya sangat panik, ia bahkan sudah tidak bisa lagi untuk berkata-kata.
"Kalian ikuti aku!!! Yuna, Melvin, Edward, Liam...... Mr. Jacob!!!!" teriak sang ketua tim, Ken.
"Mr----Yun---aaaa---badai---"
Suara aneh yang bergemuruh dapat Jacob dengar melalui telepon itu tepat setelah teriakkan terakhir sang ketua tim.
Jacob berteriak, memanggil-manggili timnya. Namun nihil! Hanya suara gemuruh yang terus ia dengar melalui alat komunikasinya.
Sinyal terputus. Jacob terus berusaha menghubungi timnya lagi dan lagi, namun ia tetap tidak bisa.
"Mr. Jacob, kami kehilangan kontak dengan timmu, alat pelacak mereka mati!" ucap panik seorang petugas pos yang menghampiri Jacob.
Flashback Off
Jacob meneteskan air matanya mengingat kejadian itu.
"Mr. Jacob, kita akan segera mendarat, pakai sabuk pengamanmu," ucap seseorang menyadarkan Jacob yang sedari tadi melamun.
"Kau tidak apa-apa?" tanya orang itu saat melihat air mata Jacob mengalir.
Jacob tersenyum, "Tidak apa, aku hanya sedang mengingat sesuatu yang membuatku sedih."
Orang itu mengangguk.
Sedangkan Jacob segera memakai sabuk pengamannya. Ia masih terdiam untuk mencoba menenangkan pikirannya yang sedikit kalut karna mengingat kejadian waktu itu.