May I Love For Twice

May I Love For Twice
Tidak sengaja



Balkon kamar yang lumayan lebar menjadi tempat yang begitu tepat saat ini untuk Jacob dan Alesha. Seperti layaknya sepasang kekasih, mereka menghabiskan waktu dengan penuh candaan dan tawa yang merekah dari bibir masing-masing. Cuaca yang begitu cerah, ditambah lagi karpet hijau yang membentang luas hingga deretan perbukitan menambah unsur kegembiraan dan ketenangan dalam benak kedua mahluk berbeda jenis itu. Terangnya langit dengan cahaya dari spot bulat besar yang menjadi salah satu sumber penghidupan kehidupan dibumi. Angin yang berhembus kencang pun bagai memberi restu dan dukungan pada kedua insan yang sedang asik menikmati kebersamaan dengan memberikan kesejukan sebagai isyarat agar momen itu terus berlangsung selama sinar mentari belum mencapai titik ujung pergantian belahan dunia.


Tawa geli dari Alesha lagi-lagi membuat Jacob merasa gemas. Saat ini mereka berdua sedang asik berbincang tentang masa kecil masing-masing. Sayangnya, tiba-tiba saja Bastian muncul dan memecahkan momen yang sedang berlangsung.


"Alesha...." Panggil Bastian sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Alesha. Ia tidak tahu kalau Alesha sedang berada dibalkon  kamar dibalik tembok.


"Aku punya ide." Ucap Alesha dengan senyum jahilnya setelah ia mendengar suara Bastian.


Kini, Bastian mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Setahu ia, Alesha ada di kamarnya dan tidak mungkin juga Alesha berkeliaran di rumah besar itu. Langkah kaki Bastian pun melaju ke arah pintu yang menghubungkan ruang dalam kamar dengan balkon.


"Alesha..." Panggil Bastian lagi.


"Syut..." Alesha meletakkan jari telunjuk didepan bibirnya sambil menatap pada Jacob. Kini, ia dan mentornya itu sedang sembunyi dan berjongkok dibalik guci yang berukuran cukup besar. Jacob yang berada dibelakang Alesha pun hanya bisa tersenyum kecil saat melihat wajah Alesha dari pinggir.


Walau Alesha tidak melakukan apapun, entah kenapa Jacob merasakan sensasi panas diwajahnya, terutama bagian pipi. Ada apa dengannya kini? Apa Jacob tersipu karna Alesha yang tidak melakukan apapun? Kemudian, Jacob mengubah posisi wajahnya dengan menghadap kesebelah kiri untuk menahan rasa malu yang tiba-tiba saja menjalar diseluruh tubuhnya.


Alesha pun mengintip dari pinggir guci untuk memastikan keberadaan Bastian, dan dapat dilihat kalau saat ini sang ketua tim Luxury-1 itu sedang berdiri diambang pintu dengan ekspresi wajah yang sedang menikmati pemandangan alam sambil meresapi hembusan angin yang berlalu-lalang.


"Mr. Jacob, hey." Alesha menepuk pelan pundak Jacob tanpa menghadap ke arah mentornya itu. Karna merasa tidak ada balasan dari Jacob, Alesha pun berbalik dan mendapati mentornya yang sedang mengalihkan wajah ke arah tembok.


"Mr. Jacob." Alesha memutar pundak Jacob hingga membuat Jacob berbalik dan tatapan mereka pun akhirnya saling bertemu. Senyum tersipu yang saat ini sedang terpampang pada wajah Jacob membuat Alesha terkekeh. Wajah dan pipi mentornya itu memerah tanpa sebab yang Alesha tahu. Pipi Alesha seketika mengembung, ia berusaha keras menahan tawa yang mungkin akan meledak jika ia membuka sedikit saja celah pada mulutnya.


"Hey, apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Bastian secara mendadak.


Pertanyaan Bastian barusan sukses membuat Alesha terkejut hingga ia kehilangan keseimbangan. Karna hal itu, secara tidak sengaja Alesha pun terjatuh kelantai dan reflek tangannya menarik kerah baju milik Jacob. Sungguh saat ini mereka berdua sedang dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan untuk Alesha, gadis itu terjatuh kelantai dengan posisi tubuh Jacob yang berada tepat diatas tubuhnya yang terlentang, untung saja kedua sikut Jacob secara cepat segera bertumpu pada lantai, jadi pria itu tidak menindih gadis yang saat ini sedang berada tepat dibawah tubuhnya. Jarak antar wajah Jacob dan Alesha sangat dekat, hingga Jacob bisa merasakan hembusan napas Alesha.


Bagaimana Alesha bisa membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi? Jantungnya berdegub sangat kencang, tatapan matanya tidak bisa lepas dari wajah sang mentor. Mulut Alesha kaku, begitu pun anggota tubuhnya yang lain. Kaget? Tentu, Syok? Apalagi. Selama beberapa saat kedua insan yang tidak sengaja saling bertumpang tindih itu menatap satu sama lain.


Ini adalah momen terbaik untuk Jacob, dan ia tidak mau menyangkal itu. Kupu-kupu dalam hatinya semakin berterbangan ketika menikmati momen yang masih berlangsung. Disela-sela kejadian yang mungkin tidak akan terjadi dua kali itu, Jacob menyempatkan untuk memberikan segaris kecil senyuman kemenangan pada Alesha. Akhirnya, Jacob bisa mendapatkan kesempatan spesial seperti ini bersama Alesha, walau hal itu terjadi secara tidak sengaja.


"Ekhem.." Bastian berdehem. Kedua alisnya terangkat dan bibirnya membentuk garis vertikal.


Alesha terkesiap dan kembali tersadar. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu mendorong tubuh mentornya itu. Jacob memberikan sedikit tatapan sinis pada Bastian. Ia kecewa karna Bastian malah menggubris momen yang begitu menguntungkan diri dan hati Jacob.


Alesha pun bangun dan terduduk dilantai, wajahnya masih menunjukan ekspresi kaku dan tegang. Mulutnya sedikit terbuka dengan disertai beberapa kedipan dari kelopak matanya. Apa yang sudah Alesha lakukan? Apa yang barusan terjadi padanya juga pada mentornya? Alesha menggelengkan kepalanya lalu menatap Jacob.


"Aku tidak sengaja." Ucap Alesha yang mulai panik. "Bastian, kau membuatku kaget! Aku tersentak dan kehilangan keseimbangan pada kakiku, kau yang bersalah!" Alesha melotot pada Bastian.


"Maaf." Balas Bastian dengan malas. Jiwa jomblonya menjadi teriris-iris saat melihat kejadian barusan. Cemburu? Tentu. Bukan karna ia suka pada Alesha, tapi melihat mentornya yang saat ini sedang dimabuk cinta dan bisa melakukan banyak hal seperti sepasang kekasih pada gadis pilihannya. Sedangkan Bastian? Dia hanyalah seorang jomblo yang belum menemukan cintanya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alesha sambil beranjak untuk berdiri.


"Apa aku mengganggu waktu kalian?" Tanya balik Bastian dengan kedua iris mata yang mantap pada Jacob.


Jacob pun membalas senyum jahil pada Bastian, mungkin sedikit bermain-main tidak ada salahnya, lagi pula Bastian sudah tahu kalau Jacob menyukai Alesha. Jacob sudah terlanjur terbawa suasana, jadi ia memberikan isyarat pada Bastian melalui matanya untuk menggoda Alesha.


"Tentu saja, kau mengganggu waktu kami." Ucap Jacob sambil nempelkan lengan besarnya pada pinggang Alesha. "Lain kali kau harus lihat-lihat waktu, benarkan, Ale?" Jacob menunduk lalu memberikan sebuah kedipan dari sebelah matanya untuk Alesha.


Alesha mengerutkan keningnya saat menerima perlakuan aneh dari mentornya itu. "Tidak, tidak! Lepaskan!" Alesha menggelengkan kepala lalu melepaskan paksa lengan Jacob yang melingkari pinggang dan punggung belakangnya.


"Ayo lah, sayang, kau tidak ingat apa yang sedang kita lakukan tadi?" Goda Jacob. "Hmm.." Jacob mengedikkan dagunya lalu meletakkan kembali lengannya pada pinggang Alesha.


"Apa?! Apa kau bilang?" Alesha menatap tajam pada Jacob.


"Bastian mengganggu kegiatan kita tadi, tentu aku merasa terganggu." Jacob menunjukan ekspresi wajah yang terkesan so' polos, padahal usianya sudah dewasa, dan hal itu membuat Alesha bergidik ngeri. Bisa-bisanya Jacob bertingkah seperti anak kecil seperti itu.


"Kegiatan apa?" Tanya Bastian yang mulai mengikuti alur kejahilan mentornya itu. Ya kalau dibilang nyesek sudah pasti, tapi apa salahnya membantu sang mentor yang sedang jatuh cinta.


"Itu rahasia kami, benarkan, sayang." Jacob menggerakkan kedua alisnya sambil menunduk dan tersenyum pada Alesha.


"Apa? Rahasia apa? Mr. Jacob, jangan kau katakan yang tidak-tidak!" Balas Alesha yang masih sibuk melepaskan lengan Jacob yang merengkuh pinggangnya.


Jacob pun memberikan sebuah kedipan pada Bastian sebagai isyarat terimakasih karna sudah membantunya menggoda Alesha.


Bastian menghembuskan napasnya dengan malas.


Sabar, Bas, akan ada waktu untukmu bisa diposisi Mr. Jacob...... Ucap Bastian dalam hati sambil mengasihani dirinya sendiri.


"MR. JACOB, LEPAS!!" Bantak Alesha sambil menghentakkan kakinya kelantai. Jacob sedikit terlonjak kaget, namun yang terjadi selanjutnya adalah ia malah terkekeh pada gadis dihadapannya itu.


"Silahkan lanjutkan kegiatan kalian, aku hanya ingin memberitahu saja kalau tadi Nyonya Laura mencari Alesha." Ucap Bastian. "Byee, aku pergi dulu." Bastian membalikkan tubuhnya lalu berjalan dengan malas. Bastian tidak mau berlama-lama, jiwa jomblonya akan bertambah menangis jika terus melihat tingkah Jacob yang menganggap seolah Alesha adalah kekasihnya. Benar kata Levin, Jacob selalu saja berlaku mesra pada Alesha, sayang Alesha tidak menyadari itu.


"Bas, astagfirullah, kenapa jadi gini? Mr. Jacob, kau harus bertanggung jawab!" Laser mata Alesha kini membidik objek hitam kecil dalam mata Jacob.


"Tenanglah, aku hanya bercanda." Balas Jacob sambil cengengesan.


"BERCANDA! HELLO, BAGAIMANA KALAU BASTIAN MENANGGAPINYA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH? BAGAIMANA KALAU IA MENGATAKAN HAL INI PADA YANG LAIN? KAU ITU KADANG SUKA TIDAK BERPIKIR JAUH YA!" Cerocos Alesha dengan penuh emosi. "JANGAN MEMBUAT MASALAH, MR. JACOB! AKU TIDAK MAU ADA RUMOR ATAU BERITA TIDAK JELAS! LAGI PULA APA MAKSUDNYA TADI, SAYANG-SAYANG SEGALA, KALAU BERCANDA ITU LIHAT SITUASI DAN KONDISI DULU MAKANYA!" Kini Alesha sudah lepas kendali, lagi dan lagi mentornya itu membuat emosinya memuncak.


"Alesha, kau harus tenang, Bastian tidak akan mengatakan pada siapa pun." Balas Jacob yang mencoba untuk menenangkan Alesha.


"Bagaimana kau tahu kalau Bastian tidak akan mengatakan pada siapa pun? Bagaimana kalau Bastian marah?" Tanya Alesha yang mulai menurunkan sedikit tempo emosinya.


"Aku yang akan mengatakan padanya, lagi pun Bastian tidak akan marah, kita juga hanya bercandakan, tidak usah dibawa hati, Al." Balas Jacob.


"Baiklah, kalau Bastian marah, apalagi sampai ada rumor tidak jelas, kau harus bertanggungjawab!"


"Iya. Aku bertanggungjawab."


"Dan soal yang tadi, maaf-aku tidak-sengaja." Ucap Alesha yang sedikit gugup namun dengan ekspresi dan cara bicara yang datar.


Jacob menyeringai. Kenapa harus minta maaf? Jacob malah menikmati itu.


"Oh, ya, tadi Bastian bilang kalau Nyonya Laura.." Alesha terdiam seketika. Ia baru teringat sesuatu. "Kau tidak bilang kalau Nyonya Laura adalah ibumu?" Alesha menyipitkan matanya sambil mendongkak menatap Jacob.


Alesha mengangguk paham. Mungkin mentornya itu sedang tidak mau diganggu tentang pertanyaan Alesha barusan.


"Yasudah, kalau begitu aku akan... Aduh.." Alesha menggeram pelan sambil memegangi kepalanya. Saat ini ia kembali merasakan sensasi pusing dikepala dan lemas disekujur tubuhnya.


Dengan sigap, Jacob segera menopang tubuh Alesha agar tidak oleng.


"Cukup, kau kelelahan, istirahat lah sekarang." Ucap Jacob sambil membantu Alesha berjalan menuju kasur.


"Tapi Nyonya Laura memanggilku, Mr. Jacob." Balas Alesha yang masih menahan rasa tidak karuan dalam tubuh dan kepalanya.


"Kau bisa bertemu dengannya nanti."


***


Saat ini, ketegangan mulai terasa disegala penujuru WOSA. Tiga orang murid WOSA ditemukan tidak sadarkan diri ditepi hulu sungai yang berada tidak jauh dari gerbang utama WOSA. Mr. Thomson segera mengambil keputusan cepat dengan meliburkan proses pembelajaran selama dua hari untuk mempermudah proses penyelidikan yang akan dilakukan oleh agen dari SIO.


"Aldi, bagaimana tim Jacob dan Eve?" Tanya Mr. Thomson.


"Mereka aman, aku sudah memerintahkan mereka untuk tetap berada dalam mess masing-masing." Jawab Aldi.


"Lalu bagaimana Jacob dan Eve?"


"Aku sudah memberitahu Eve dan Jacob, namun mereka sama-sama tidak bisa dihubungi."


"Permisi, Mr. Thomson." Ucap Rendi yang tiba-tiba muncul. "Kau harus ikut denganku." Lanjut Rendi.


Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Mr. Thomson pun segera beranjak dari bangku kerjanya lalu mengikuti Rendi yang sudah berjalan terlebih dulu. Penasaran, Aldi pun bangkit dan mengikuti Mr. Thomson serta Rendi.


Tidak jauh dari gedung mentor, tepatnya berada diujung taman yang terletak di belakang gedung aula utama, terdapat dua orang murid WOSA yang kembali ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Aarrghh.." Mr. Thomson menonjok pohon besar yang berada disebelahnya. "Bawa mereka!"


"Mr. Thomson, aku rasa kelompok jaringan gelap itu sudah berada disekitar kita." Ucap Aldi.


"Ya, mereka menyeludup. Berhati-hatilah, mereka berada diantara kita." Balas Mr. Thomson.


Suasana saat itu cukup mencekam, ditambah lagi langit sore yang sangat mendung semakin mendukung aura ketegangan dalam diri setiap murid WOSA.


"Kau sudah menghubungi Bastian?" Tanya Stella.


"Tidak bisa, ponselku tidak bisa menjangkau sinyal." Jawab Nakyung sambil menggerakkan ponselnya.


"Aku juga, jaringan diponselku menunjukan tanda silang." Saut Merina dengan pasrah.


"Apa yang terjadi?" Maudy mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat sesuatu yang mulai menyelinap masuk kedalam kepalanya.


"Hey, kalian, kemarilah." Ucap Maudy sambil berbisik.


"Ada apa?" Tanya Nakyung.


"Aku ingat, aku pernah melihat seorang petugas kebersihan WOSA yang bergerak mencurigakan dua hari lalu, dan saat ia melihat ke arahku, ia malah terkejut dan pergi begitu saja. Apa mungkin ini semua ada hubungannya dengan apa yang terjadi saat ini?" Cerita Maudy.


Kini keempat gadis itu berkumpul dan duduk dilantai kamar mess mereka.


"Oh, ya!" Merina menaikkan lengannya dan meletakkan jari telunjuk disebelah pelipisnya. "Aku ingat, waktu itu juga aku mendapati seorang petugas kebersihan WOSA yang sedang memandang secara diam-diam ke arah kita."


"Kau ingat tidak, Stel, kalau aku berbisik padamu waktu itu." Merina menunjuk pada Stella.


"Ya, kau benar, aku juga mendapati petugas kebersihan itu sedang mengawasi kita secara diam-diam." Lanjut Stella.


"Kita harus beritahu Mr. Aldi." Ucap Nakyung.


"Ya, tapi kita harus menunggunya sampai ia datang ke mess kita." Balas Maudy.


Keempat gadis itu kini saling termenung. Mereka sibuk dengan berbagai pertanyaan dalam pikiran masing-masing dan hanyut dalam suasana hening bersama semliwir angin dingin yang menandakan akan datangnya hujan badai karna langit sangat gelap gulita.


***


Langit sore telah berubah warna, mentari pun sudah sampai digaris awal belahan bumi lain. Langit sungguh cerah saat ini, sangat cocok untuk dinikmati bersama secangkir coklat panas. Ruang keluarga Laura kini terasa lebih hangat setelah kehadiran Jacob. Pria itu kini tengah duduk disofa panjang sambil memandangi langit luar melalui dinding kaca yang tebal. Disebelahnya, terdapat Alesha yang juga sedang asik menikmati pemandangan bersama suguhan coklat panas buatan Sharon. Tanpa Alesha sadari, Jacob sudah merentangkan sebelah lengannya yang panjang diatas kepala sofa belakang punggung Alesha. Jacob menikmati momen itu dan membayangkan seolah ia sedang memeluk Alesha sambil melihat pemandangan sunset dari dalam rumah.


Dari arah tangga yang terletak tidak jauh dari ruang keluarga, Irene menghentakkan kakinya pelan sambil mendengus. Ia kesal melihat Jacob yang kalau diperhatikan lebih dalam lagi begitu dekat dengan Alesha. Dalam kepalanya, Irene pun berpikir bagaimana mungkin Alesha yang jauh lebih muda darinya bisa mendapatkan perhatian Jacob? Tentu saja, Irene juga pasti mampu mendapatkan perhatian Jacob karna ia merasa jauh lebih cantik dan perfect dibandingkan Alesha.


Irene pun memberanikan diri untuk menghampiri Jacob dan Alesha yang sedang asik menikmati momen berdua.


"Hai, Tuan Jacob, hai Alesha." Sapaan manis dari Irene.


"Hai." Balas Jacob yang kemudian memberikan senyuman kecil untuk menghargai Irene yang tadi tersenyum padanya.


"Hai, Nona Irene." Balas Alesha yang membalas dengan senyuman manis pula.


"Kalian lagi ngapain? Kayanya asik banget berduaan?" Tanya Irene yang mulai berbasa-basi.


"Gak ada, kok, kami sedang menunggu Nyonya Laura." Jawab Alesha.


"Owh.." Irene mengangguk. Untuk memanfaatkan momen, dengan sengaja Irene memainkan lalu membetulkan rambutnya yang sangat wangi untuk menarik perhatian Jacob. Bukankah Irene akan terlihat sangat cantik? Tentu, wanita itu memang cantik saat sedang memainkan dan membenarkan rambutnya, tapi sayang, Jacob sama sekali tidak tergubris, bahkan menengok pada Irene saja tidak.


Menyadari perilaku Jacob yang tidak menunjukan respon sedikit pun padanya, Irene hanya bisa menghela napasnya dengan pelan.


Sabar, tuan muda tampan itu akan tertarik padamu, cantik.... Ucap Irene dalam hati hanya untuk sekedar memberikan semangat pada dirinya sendiri.