May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kecemburuan



"Mr. Levin.." Panggil Alesha.


"Ya." Saut Levin.


"Aku ingin bertanya."


"Silahkan.."


"Kau bilang waktu itu aku sudah tahu tentang Mr. Jacob. Jujur saja aku masih tidak mengerti tentang ucapanmu itu, apa maksudnya?"


Levin yang tadinya sibuk dengan ponselnya seketika langsung menatap bingung pada Alesha. Ia mengerutkan keningnya, bagaimana mungkin Alesha masih belum paham juga maksud dari ucapannya? Levin ingat beberapa hari yang lalu memang ia memberikan sinyal pada Alesha tentang perasaan Jacob pada gadis itu. Tapi Alesha masih belum menyadarinya juga, atau mungkin Alesha sudah menyadari itu, hanya saja Alesha terus menyangkalnya. Dan sekarang, Levin tidak mungkin mengatakan secara terus terang kalau Jacob menyukai Alesha, Jacob akan sangat marah jika sampai itu terjadi.


"Kau tahu kan kalau Jacob begitu perhatian padamu." Levin menatap kedua mata Alesha dengan tatapan lembut.


Alesha mengangguk. "Ya."


"Itu berarti kau sadar kalau mentormu itu...." Levin mengangkat sebelah alisnya dengan mengisyaratkan pada Alesha agar melanjutan potongan dari kalimat yang ia ucapkan barusan.


"Menyukaiku." Lanjut Alesha yang secara reflek kata-kata itu keluar begitu saja dari dalam mulutnya tanpa ada perizinan dulu dari dalam hatinya. "Hah!" Alesha pun terkejut dan segera menutup mulut dengan kedua tangannya setelah menyadari kata yang barusan ia ucapkan. Tidak ada maksud sama sekali untuk Alesha melontarkan kalimat itu, tapi dengan enaknya otak Alesha memerintahkan agar kata itu keluar begitu saja tanpa ada perundingan terlebih dahulu dengan dirinya.


Levin tersenyum saat mendengar ucapan Alesha barusan. Ia tahu kalau Alesha memang sudah menyadari perasaan mentornya itu.


Mendadak Alesha gugup. Mulutnya membuka dan menutup, ia bingung harus mengatakan apa. "Tidak, maksudku - tidak begitu,- aku berpikir - kalau Mr. Jacob - maksudnya - itu - memanglah baik - tapi - aku - tidak mau - asal - menyimpulkan saja." Lanjut Alesha yang terbata-bata.


"Tidak, kau salah, Al." Ucap Levin yang disertai senyuman tampan penarik hati. "Jacob sangat menyayangimu, dia begitu perduli dan begitu memperhatikanmu karna kau adalah anggota timnya. Jacob adalah pria yang penuh dengan tanggung jawab, jika dia sudah mendapatkan tugas, maka dia akan menjalankan tugasnya itu sebaik mungkin. Begitu pun menjaga dan melindungimu." Lanjut Levin sembari mengusap pelan puncak kepala Alesha. "Juga anggota tim yang lain. Jacob sudah menjadi mentor sebelum kalian menjadi tim di WOSA, dia begitu menyayangi anggota timnya layaknya keluarga. Aku sendiri yang menyaksikan betapa besar tanggung jawab dan kasih sayang yang Jacob berikan pada anggota timnya dulu. Kalian beruntung memikiki mentor sebaik dia, Jacob selalu menganggap anggota timnya sebagai keluarga sendiri. Jacob adalah guru kalian di sini, dan yang bertugas untuk menjaga dan memantau kalian, jadi sayangi dan hormatilah dia."


Setelah mendapat ceramahan singkat dari Levin, akhirnya Alesha pun paham kalau selama ini yang Jacob lakukan padanya adalah karna tanggung jawab dan rasa sayang Jacob pada anggota timnya, bukan atas dasar sebuah perasaan cinta atau apapun itu. Kini Alesha tahu kalau yang selama ini ia pikirkan terhadap mentornya itu adalah salah, dan Alesha bersyukur atas itu, Alesha sedang tidak mau berurusan dengan lelaki lain yang didasari atas perasaan suka atau cinta. Alesha tidak mau melibatkan hati lain karna kini Alesha masih belum bisa melepas Adam dalam hatinya. Siapa pun lelaki yang menyatakan cinta pada Alesha untuk saat ini, maka dengan tegas Alesha akan menolaknya. Alesha masih mau menutup hati untuk lelaki lain, dan tidak ada satu pun yang bisa mengganggu akan hal itu.


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Alesha sembari menghembuskan napasnya dengan tenang.


"Memangnya kenapa kau menanyakan hal itu? Kau merasa kalau Jacob menyukaimu?" Goda Levin.


"Tidak!" Bantak Alesha sekaligus secara cepat tanpa ada jeda antar percakapan. "Aku hanya ingin kejelasan saja, kadang aku merasa sedikit risih dengan sikap Mr. Jacob yang selalu berlebihan padaku."


"Itu karna dia menyayangimu, Alesha." Balas Levin yang sukses membuat Alesha menjadi ambigu. Lagi?


"Sebagai seorang anggotanya. Aku sudah bilangkan tadi." Lanjut Levin.


"Ya, kau benar, sebagai seorang anggota, tidak lebih." Alesha menunduk wajahnya, membayangkan bagaimana jadinya jika mentornya itu benar-benar menyukainya. Disatu sisi, Alesha memang senang jika berada dekat dengan mentornya, ia selalu merasa nyaman dan aman, tapi disisi lain Alesha takut kalau apa yang ia pikirkan adalah kenyataan. Tidak untuk sekarang, Adam masih mendominasi hatinya.


"Memangnya kenapa kalau Jacob benar-benar menyukaimu?" Pancing Levin dengan memanfaatkan sebuah candaan agar Alesha tidak begitu curiga. Levin hanya ingin tahu bagaimana respon gadis itu jika tahu yang sebenarnya kalau Jacob itu bukan hanya sekedar menyukainya, namun sudah mulai mencintainya.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya balik Alesha yang kembali mencurigai sesuatu. Sebuah permainan, Alesha merasa kalau Levin mempermainkannya. Setiap ucapan yang Levin katakan seolah memberi isyarat pada Alesha.


"Aku hanya bercanda, tidak usah dianggap serius." Levin mencubit dengan gemas kedua pipi Alesha. Ingin sekali ia menggigit kedua pipi Alesha. Jacob sudah mendapatkan bagian bibir, tidak masalah, dan Levin bagian pipi, namun hal itu hanya akan menimbulkan masalah, pertama adalah Alesha yang sudah pasti akan memusuhinya, dan kedua adalah Jacob yang akan menghajarnya.


"Mr. Levin, sakit!!" Pekik Alesha ketika rasa nyeri pada pipinya itu semakin kuat. "Lepas!" Alesha pun menepis kedua tangan Levin yang masih mencubit kedua pipinya. Emangnya bapau? Empuk, manis, dan tidak akan memberontak walau dicubit segimana kuat pun.


Ngomong-ngomong bapau, kini Alesha jadi merasa kelaparan ketika mengingat salah satu makanan kesukaaannya itu.


"Bagaimana kalau aku menyukaimu, apa kau mau menerimaku? Hahahah.." Goda Levin sekali lagi, dan setelah itu, ia pun tertawa ketika melihat ekspresi malu pada wajah Alesha. Mudah sekali membuat Alesha tersipu, sungguh beruntung Jacob jika memiliki seorang kekasih lucu dan menggemaskan seperti Alesha.


"Ck, sudahlah, aku lapar." Balas Alesha sembari memajukan bibirnya sejauh beberapa milimeter.


Lagi dan lagi pikiran untuk membercandai Alesha kembali muncul dalam kepala Levin. Kapan lagi bisa bercanda berdua dengan Si Manis kesukaaannya itu? Jacob selalu saja berada dekat dengan Alesha, dan hal itu membuat Levin susah untuk bisa bercanda dengan Alesha. Sifat asik dan periang yang Alesha miliki adalah faktor utama yang membuat Levin begitu tertarik untuk bercanda atau hanya sekedar berbicara dengan Alesha.


"Tuan putri Alesha lapar?" Ucap Levin dengan begitu sopan layaknya seorang pelayan kerajaan yang sedang bertanya pada tuan putrinya.


"Mr. Levin, jangan gitu." Alesha pun mendengus ketika mendapat perlakuan seperti itu dari Levin. Ia merasa risih dan tidak enak. Sungguh dua pria yang bukan lain adalah Jacob dan Levin kadang benar-benar membuat Alesha merasa pusing atas tingkah dan perilaku mereka. Jacob yang over protective dan Levin yang selalu saja menggodanya. Tapi Alesha merasa senang bisa kenal dengan dua pria hebat itu. Sosok kakak yang Alesha dapatkan dari dalam diri mereka membuat Alesha begitu nyaman jika bersama mereka. 


"Kalau begitu sebentar, aku ambilkan makanan dikulkas untukmu." Levin pun segera bangkit dan berjalan menuju kulkas. Didapatinya beberapa macam buah dan beberapa makanan lain yang sudah tersedia dikulkas tersebut, namun Levin lebih memilih cebuah roti yang tergeletak diatas nakas yang berada disebelah kulkas.


"Ini." Levin menyodorkan roti itu pada Alesha.


Alesha pun segera mengambil roti yang Levin berikan sembari membalasnya dengan segaris senyum manis dan eye smile khasnya.


"Jangan seperti itu, kau bisa membuatku semakin menyukaimu." Levin tersipu dan wajahnya memasnas, hingga akhirnya Ia mengalihkan pandangannya agar ia tidak dapat melihat senyuman Alesha.


Yang Alesha tahu adalah Levin hanya bercanda dengan ucapannya itu, jadi Alesha pun malah semakin menggoda Levin dengan terus menunjukan eye smilenya. Tidak masalahkan? Lagi pula Alesha hanya sekedar ingin bercanda saja dengan Levin ketimbang harus terdiam kaku dan canggung.


"Cukup." Levin menutup seluruh wajah Alesha dengan satu telapak tangannya yang lebar.


"Aarghhh, Mr. Levin!" Alesha cukup terkejut karna tiba-tiba saja wajahnya ditapaki oleh telapak tangan yang menguasai setiap ujung wajahnya. "Lepas!"


"Aku sudah memperingatkanmu." Balas Levin dengan gemas sembari menurunkan telapak tangannya dari wajah Alesha.


"Ekhmm..."


Suara deheman berat khas seorang lelaki tiba-tiba saja terdengar dan membuat Alesha juga Levin mengalihkan kepala mereka menuju asal suara deheman itu.


"Mr. Jacob." Alesha mengerutkan keningnya ketika mendapati lelaki yang sejak tadi menjadi bahan perbincangannya dengan Levin kini sedang bersandar pada ambang pintu sambil melipatkan kedua tangannya. Sejak kapan Jacob ada di sana?


Wajah Jacob terlihat sedang tidak bersahabat. Tentu saja, melihat Alesha yang asik bercanda berdua dengan Levin membuat hati Jacob terasa panas. Cemburu? Jelas saja, hanya tidak perlu dan tidak bisa diungkapkan oleh Jacob.


"Silahkan lanjutkan candaan kalian, aku akan dengan sabar menunggu hingga kalian selesai menghabiskan waktu berdua." Sindir Jacob yang mengeluarkan sinyal kecemburuan.


"Bagaimana kita bisa menghabiskan waktu berdua jika ada kau." Balas Levin. Keinginannya untuk memancing rasa cemburu Jacob pun muncul begitu saja, dan mungkin hal itu akan cukup mengasikkan untuk Levin ketika melihat Jacob yang bertambah cemburu padanya karna bisa begitu dekat juga dengan Alesha.


Dan benar saja, wajah Jacob memerah bukan karna malu, tapi karna menahan amarah setelah mendengar balasan dari Levin barusan. Jacob pun berpikir kalau Levin ingin bermain-main dengannya.


"Alesha, tidur sekarang juga dan hiraukan Levin!" Perintah Jacob dengan begitu datar dan dingin.


"Tapi aku lapar." Balas Alesha yang pasrah dengan perintah mentornya itu. Jacob cukup membuat Alesha takut karna aura yang menyeramkan yang Jacob keluarkan jika ia sedang marah atau menahan emosi.


"Kalau begitu ikut ke ruanganku sekarang!" Jacob berjalan menuju Alesha lalu meraih lengan Alesha agar gadis itu segera turun dari kasurnya.


Jacob berniat untuk membawa Alesha ke ruangannya karna Jacob tidak mau menahan rasa cemburunya. Ia tidak mau Alesha ditemani lebih lama lagi oleh Levin, sedangkan Jacob juga tidak akan tenang jika meninggalkan Alesha sendiri di messnya tanpa ada yang menemani, jadi keputusan yang tepat adalah membawa Alesha ke ruangannya lalu setelah itu Alesha bisa kembali lagi ke messnya bersama yang lain.


"Mr. Jacob, lepaskan aku!" Alesha meronta berusaha untuk melepaskan tangan mentornya yang menarik tangan Alesha agar mau berjalan.


Levin terkekeh ketika melihat reaksi Jacob yang sedang menahan sebuah kecemburuan. Mungkin Levin juga akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi Jacob sekarang.


Dengan malas, Jacob pun memutar kedua bola matanya dan melepaskan lengan Alesha.


"Aku ingin makan dan istirahat." Ucap Alesha lalu membalikkan tubuhnya dan mulai kembali berjalan menuju kamar messnya. Namun baru saja dua langkah yang Alesha dapatkan, Jacob kembali menahan lengan Alesha.


"Kau bisa istirahat dan makan di ruanganku." Ucap Jacob lalu menarik lengan Alesha agar kembali berjalan.


"Hei, heii, lepas, Mr. Jacob kau mau mempermalukanku ya? Lepas!" Alesha memberontak agar lengannya bisa terlepas dari genggaman sang mentor, namun tetap saja tenaga Alesha kalah jauh dibandingkan dengan Jacob.


"Di sana ada anggota tim kita, mereka aku suruh untuk berkumpul di ruanganku, jadi tidak usah berpikir macam-macam." Balas Jacob.


"Ya, tapi biarkan aku berjalan sendiri, kau menyeretku kalau begini caranya, langkahmu terlalu cepat dan lebar." Balas Alesha yang berusaha untuk mengimbangi jalan mentornya itu.


Jacob pun berhenti melangkah kakinya saat mendengar ucapan Alesha barusan, sedangkan Alesha nyaris saja menubruk tubuh mentornya yang secara mendadak berhenti berjalan.


"Jalan duluan!" Kini Jacob menunduk untuk menatap Alesha. Ekspresinya begitu dingin dan datar hingga membuat Alesha tidak berani menatap mentornya itu, apa lagi untuk melawan.


"Baik." Balas Alesha dengan pelan lalu mulai mengambil langkah demi langkah didepan mentornya.


Dibelakang, Jacob berjalan sambil melipatkan kedua tangannya. Wajahnya terangkat namun tatapannya tidak beralih dari tubuh bagian belakang Alesha. Kalau menurut pikiran beberapa murid yang berpapasan, saat ini Jacob terlihat seperti sedang memberikan hukuman pada Alesha. Kepala yang tertunduk dan ekspresi pasrah Alesha, wajah dingin dan ekspresi Jacob yang berjalan dibelakang Alesha semakin memperkuat dugaan kalau Alesha memang sedang diberi hukuman oleh Jacob.


"Dia sudah kembali ke WOSA?" Bisik salah satu murid wanita pada temannya.


"Tentu saja, kau tidak akan melihatnya sekarang jika ia belum kembali." Balas temannya.


"Mr. Jacob, dia semakin tampan saja." Puji yang lain ketika melihat Jacob yang sudah kembali ke WOSA.


"Ya, aku selalu meleleh jika melihatnya." Saut yang lain yang tidak kalah terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh salah satu mentor WOSA itu.


"Tapi dia begitu dekat dengan Alesha, kadang aku mendapati mereka yang sedang asik berduaan."


"Ya kau benar, bisa-bisanya Alesha dekat dengan Mr. Jacob."


"Apa yang kau bicarakan, tentu saja Alesha begitu dekat dengan Mr. Jacob, mereka itu satu tim."


"Sayang, walau begitu ramah Mr. Jacob hanya mau bercanda dan dekat dengan anggota timnya saja."


"Tidak, aku yang akan mendekatinya, dia ramah, dan akan mudah untukku mengambil perhatiannya."


"Silahkan, palingan kau akan dimusuhi oleh para penggemar rahasia Mr. Jacob, termasuk aku."


"Mr. Jacob memiliki banyak penggemar rahasia, tapi tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Hahahahaha, miris."


"Aku yang akan mendapatkan perhatian."


"Silahkan pindah tim lebih dahulu maka kau akan dekat dengan Mr. Jacob."


Dan masih banyak lagi kalimat yang para gadis itu bicarakan mengenai Jacob. Mulai dari ini, itu, dan yang lain-lain. Jacob sendiri tidak pernah menanggapi para gadis WOSA yang selalu berusaha untuk mengambil perhatiannya.


"Kenapa kau berjalan disebelahku?" Tanya Jacob ketika mendapati Alesha yang berjalan disebelahnya.


"Kau lihat, mereka memperhatikan kita sedari tadi dan berbisik-bisik." Jawab Alesha dengan pelan. Kakinya masih melaju, namun ekor matanya bergerak-gerak untuk memperhatikan para murid WOSA yang ia dan Jacob lewati.


"Lalu?" Tanya Jacob dengan santai.


Alesha melirik kesebelahnya berharap bisa bertatapan dengan mentornya, tapi sayang yang ia lihat hanyalah pundak Jacob. Alesha pun akhirnya mendongkak.


"Aku curiga mereka mengatakan sesuatu." Ucap Alesha.


Jacob berhenti seketika dan hal itu membuat Alesha sedikit kaget. Alesha pun ikut berhenti dan menatap kepada mentornya.


Jacob menunduk lalu menyunggingkan senyum usilnya pada Alesha.


"Biarkan mereka melihat ini." Tiba-tiba saja lengan Jacob meraih pinggang Alesha dan mereka pun kembali berjalan.


"Mr. Jacob, apa yang kau lakukan?" Tanya Alesha dengan tingkah seperti orang yang gugup akan keadaan sekitar namun menahan agar tetap tenang.


"Agar mereka berhenti membicarakan kita." Jawab Jacob dengan santai.


Alesha memutar bola matanya dengan malas. "Tidak sebaliknya? Mereka malah akan semakin membicarakan kita." Ucap Alesha dengan pelan namun penuh dengan emosi.


"Hai.." Sapa Alesha yang memaksakan untuk memberikan senyuman pada salah satu murid WOSA yang berpapasan dengannya.


Sedangkan murid WOSA itu, matanya melebar sempurna dan mulutnya membentuk huruf O. Tidak percaya dengan matanya sendiri yang melihat Jacob sedang merangkul pinggang Alesha dan berjalan dengan begitu tenang dan santai.


Untuk Jacob, hatinya merasa senang saat ini. Akhirnya ia dapat membuat sebuah hentakan untuk para penggemar rahasianya yang melihatnya sedang merangkul Alesha. Jacob sengaja melakukan itu agar para penggemar rahasianya berhenti bertingkah 'Caper' dihadapannya.


"Oke cukup, kau membuatku malu dihadapan para murid WOSA." Alesha pun melepaskan paksa lengan Jacob yang memeluk pinggangnya lalu memajukan beberapa langkahnya agar dapat kembali berjalan didepan mentornya.


Bugg....


Sebuah tonjokkan mendarat tepat pada dinding ketika salah satu murid WOSA melihat Alesha yang pinggangnya sedang dirangkul oleh Jacob.


"Alesha!!" Ucap wanita itu dengan penuh emosi.


"Sabar.." Saut temannya.


"Bagaimana aku bisa sabar! Mereka bertingkah mesra dihadapanku!"


"Kau pikir hanya kau saja? Mr. Jacob memiliki banyak pengagum rahasia, pasti mereka juga merasakan hal yang sama denganmu."


"Aku tidak perduli!! Aku hanya ingin Mr. Jacob melirikku saja! Apa kurangnya aku? Aku cantik, lebih cantik dari Alesha pastinya, tapi kenapa Mr. Jacob tidak pernah memperdulikan aku?!" Ucap wanita itu dengan frustasi.


Tiga teman wanita yang sedang dipenuhi oleh rasa kecemburuan itu hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah, apalagi saat wanita itu menyombongkan dirinya. Ketiga temannya jadi berpikir negatif pada wanita itu. Memangnya siapa wanita itu ingin diperdulikan oleh Jacob? Kira-kira begitulah yang mereka pikirkan.


Alesha, Alesha, tingkahmu itu membuatku sulit jika harus marah lebih lama lagi padamu..... Ucap Jacob dalam hati.


Senyuman tidak luntur dari wajah Jacob selama dalam perjalanan menuju ruangannya. Alesha kembali memenuhi pikiran Jacob dan bermain-main didalam sana. Hal yang begitu kecil namun dapat menyehatkan hati jika terjadi setiap hari dan setiap saat. Arah pikirannya itu membuat Jacob semakin menginginkan agar Alesha bisa cepat-cepat lulus, hingga Jacob bisa mengungkapkan perasaannya dan membawa Alesha ke kantor pemerintahan untuk mengajukan syarat-syarat pernikahan mereka.