May I Love For Twice

May I Love For Twice
Sleep In Your Arms



Alesha mengedipkan matanya beberapa kali, hampir empat jam setengah berlalu dan Alesha masih enggan untuk keluar kamar. Alesha berharap kalau tidur dapat menjadi alternatif untuknya melupakan pikiran-pikiran tidak jelas yang terus saja berputar dalam kepalanya, namun mata Alesha sedang tidak bisa diajak berkompromi. Bukannya terpejam dan membawa kedalam mimpi, malah sekarang Alesha terdiam seperti orang linglung. Celingak-celinguk menatap sekitarnya tanpa mengatakan apapun. Yang ada dipikirannya kini adalah setiap kata yang Levin ucapkan tentang Jacob tadi.


Apa yang sudah Alesha tahu? Alesha mengerutkan keningnya. Kepalanya kembali dibuat pusing untuk berpikir lebih ekstra lagi.


"Mr. Jacob menyukaiku?" Gumam Alesha saat pikirannya tiba-tiba saja menghasilkan sebuah jawaban dari proses pengolahan pertanyaan yang dilakukan oleh kepalanya.


Tidak ada hasil lainkah? Alesha harap itu tidak benar. Hasil dari pengolahan pertanyaan dalam kepalanya itu pun langsung Alesha buang jauh-jauh.


"Ah, mikirin Mr. Jacob gak bakal ada akhirnya. Hmm, Alesha lapar lagi, mendingan makan aja." Alesha segera bergeser kesisi kasur yang bersebelahan langsung dengan meja yang diatasnya sudah diletakkan sepiring makanan dan segelas jus jambu.


***


Kini Jacob sudah berada di ruangan berukuran sedang tempat ia memimpin misi virtualnya. Dua jam lalu adalah saat-saat yang begitu menegangkan untuk Jacob. Ia nyaris saja kehilangan anggota timnya untuk yang kedua kali karna kelompok jaringan gelap itu mengancam akan melakukan aksi pembunuhan terhadap anggota tim Jacob dan juga anggota tim Eve. Namun, syukurnya Rendi mampu menjalankan tugasnya dengan sangat baik, selain itu Rendi juga terus melakukan komunikasi dengan Jacob hingga akhirnya ia bisa menjalankan misinya untuk menghabisi semua anggota jaringan gelap itu tanpa menyisakan satu orang pun. Jacob yang membantu Rendi dalam menyusun strategi, dan Rendi yang memimpin timnya untuk menyerang kelompok jaringan gelap itu.


"Jack, mereka aman, anggotamu dan Eve sudah bersamaku sekarang, dan kelompok sialan itu sudah kami tangani. Mr. Thomson sudah memanggil pihak kepolisian internasional untuk menangani kasus mereka. Kau bisa bernapas lega sekarang." Ucap Rendi melalui alat komunikasi kecil yang ia gunakan.


"Terimakasih, Ren, kau sudah sangat membantuku."


"Hei, apa yang kau katakan, ini memang sudah tugasku, dan tugasmu saat ini hanyalah terus jaga Alesha hingga ia kembali sehat, aku cukup merindukan adik manisku itu."


Jacob terdiam saat Rendi mengucapkan nama Alesha. Rendi tidak tahu prahara apa yang sedang terjadi antar Jacob dan Alesha.


"Oh, ya, Alesha sudah membaikkan?"


"Sudah."


"Kalau begitu aku titip dia, Jack, semoga Alesha bisa segera kembali ke WOSA."


Jacob tidak menjawab. Lalu sepersekian detik kemudian Rendi kembali melanjutkan ucapan penutupnya.


"Kalau begitu, aku akan matikan sambungan ini sekarang, sampai jumpa nanti, Jack, dan kau tenang saja, timmu akan kembali aman, Aldi yang menjadi mentor pengganti untuk mereka."


"Baiklah, tolong sampaikan terima kasihku juga pada Aldi, sampai jumpa nanti, Ren."


Sambungan komunikasi antara dua agent SIO pun terputus. Jacob segera melepaskan alat komunikasi kecil yang terpasang pada telinganya.


"Dimana, Nyonya Laura?" Tanya Jacob pada salah seorang bodyguard.


"Ruang kerjanya, tuan, bersama nona Irene." Jawab bodyguard itu.


"Katakan padanya kalau misi ini sudah selesai. WOSA sudah terbebas dari kelompok jaringan gelap, dan untuk SIO, aku masih menunggu kabar dari temanku!" Perintah Jacob dengan ekspresi wajah yang dingin. Jacob benar-benar malas melakukan apapun saat ini. Otaknya sudah dipaksa untuk berpikir sejak pagi tadi, dan Jacob butuh istirahat.


Sembari berjalan, Jacob terus saja memijiti keningnya yang terasa berdenyut. Ia sudah tidak mau memikirkan apapun, yang ingin sekarang adalah beristirahat. Jacob tidak tahu kenapa ia bisa begitu lelah seperti.


Langkahnya pun kini sudah berhenti tepat dihadapan pintu kamarnya. Ingin sekali rasanya Jacob segera membaringkan tubuhnya diatas kasur yang empuk, namun lagi dan lagi pikirannya tertuju Alesha. Hati Jacob tidak akan tenang jika Alesha belum memaafkannya.


Sembari terus memijiti keningnya yang masih terasa pusing, tiba-tiba saja sebuah ide terlintas dalam pikiran Jacob.


"Sharon.." Gumam Jacob yang menyebutkan nama adik perempuannya itu. "Aku harap Sharon bisa membantuku."


Jacob segera bangkit dari sofa dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar sang adik.


***


Kali ini, Mack dan sedang menyusun rencana baru untuk bisa menculik Alesha. Bersama Vincent, Mack memiliki banyak keleluasaan untuk bergerak. Aparat kepolisian yang sedang mengincarnya kali ini tidak dapat melacak keberadaannya berkat bantuan Vincent.


"Kita akan culik Alesha malam ini, dan aku sendiri yang akan langsung turun lapangan. Kalian bertiga berjaga didalam mobil." Ucap Mack. Beberapa rencana dalam otak Mack kini sedang berputar, memastikan agar semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan.


"Nanti malam pukul dua, kalian harus sudah berada di depan gerbang, jangan sampai ada yang mengetahui keberadaan kalian, aku ingin rencana kali ini berjalan sesuai dengan alur yang sudah aku rencanakan."


Mack mengepalkan tangannya. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera terjun dalam melancarkan misinya.


Waktu hening yang terjadi selama beberapa detik kemudian terpecahkan dengan adanya suara nada dering ponsel. Mack pun segera mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan yang berasal dari Vincent.


"*Hallo."


"Bagaimana?"


"Sekarang aku sedang mempersiapkan semuanya, kemungkinan pukul tujuh aku akan segera melancarkan aksiku."


"Bawa gadis itu ke markasku, ada sesuatu yang harus dia beritahukan kepadaku tentang WOSA."


"Tapi setelah itu, gadis itu akan menjadi milikku."


"Jangan lupakan perjanjian kita, Mack!!"


"Tentu saja, aku tidak akan lupa*."


Vincent pun memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia sempat sebal dengan ucapan Mack yang mengklaim Alesha. Jika semua rencana dalam otaknya sudah tersalurkan, maka Vincent tidak akan membuang-buang waktu untuk membunuh Mack. Satu persatu dan secara lambat laun Vincent ingin rencananya berjalan sesuai alur. Diam-diam, Vincent sudah merencanakan banyak hal agar semua yang diinginkan dapat tercapai. Mungkin akan membuang banyak waktu, karna Vincent juga tidak ingin terburu-buru. Tapi itu tidak masalah, terburu-buru hanya akan menjadi kendala, karna yang Vincent hadapi sekarang bukanlah musuh biasa. SIO dan WOSA adalah aset yang berharga untuk Vincent, namun jika salah menempatkan satu langkah saja, maka semua langkah-langkahnya yang lain dapat hancur dan rencana yang sudah dibangun rapih sejak awal akan runtuh seketika.


"Tuan Mack, semua sudah siap, kami sudah mendapatkan denah rumah Nyonya Laura." Ucap salah satu anak buah Mack.


"Kerja bagus, ini akan menjadi hari terakhir kita di kota ini." Ucap Mack seraya berseringai jahat.


***


Waktu kembali membuktikan kalau semuanya berjalan begitu cepat. Terik matahari yang sudah pudar menjadi saksi bahwa semua yang terjadi hari ini sudah berakhir dan malam akan berganti bersamaan dengan suasana baru.


Jacob dan Alesha berada di kamar masing-masing. Belum ada percakapan yang terjadi diantara keduanya sejak kejadian tadi siang saat Jacob berusaha meminta maaf, namun Alesha malah mengacuhkannya.


"Alesha, permisi ini aku, Sharon." Ucap Sharon sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Alesha.


"Tunggu sebentar." Saut Alesha dari dalam.


Tidak lama kemudian pintu kamar pun terbuka, dan Alesha mendapati seorang gadis seusianya sedang berdiri bersama dengan seekor kucing cantik yang juga sedang terduduk di lantai depan pintu kamar.


"Ayo masuk." Alesha mempersilahkan Sharon untuk masuk ke dalam kamarnya, namun Sharon menggelengkan kepalanya tanda kalau ia menolak.


"Kau masih pusing?" Tanya Sharon.


"Tidak. Aku merasa lebih baik sekarang, ada apa?" Tanya balik Alesha.


"Aku bosan, kau mau kan menemaniku berkeliling taman." Sharon mengambil salah satu lengan Alesha dan ekspresinya menunjukan sebuah permohonan.


Alesha merasa ragu, entahlah ia baru kenal dengan Sharon dan perasaan canggung tidak mungkin kalau tidak ada.


"B-baik.."


Belum sempat Alesha menyelesaikan ucapannya, Sharon segera menarik lengan Alesha agar mulai berjalan.


"Ayo, aku sungguh bosan di rumah ini, temanku di sini hanya Maya." Ucap Sharon.


Meongg... Saut Maya.


"Maya?" Alesha mengerutkan keningnya.


"Dia." Sharon menunjuk pada kucingnya sedang ikut berjalan juga.


"Apa dia jinak?" Tanya Alesha.


"Sangat. Dia juga baik terhadap orang asing." Jawab Sharon dengan santai.


"Sungguh, boleh aku menggendongnya?" Pinta Alesha yang sedikit bersemangat. Ia sangat menyukai kucing, walau terkadang suka merasa takut karna Alesha sering kali dicakar oleh kucing kampung yang biasa berkeliling disekitaran rumahnya di Bandung, Indonesia.


Meong...


Maya mengeong saat tiba-tiba saja tubuhnya diangkat oleh Alesha.


"Bulunya sangat harum dan juga bersih." Alesha mengelus dan memijiti pelan kepala Maya, sedangkan Maya sendiri terdiam sambil menutup matanya dan menikmati setiap sentuhan yang Alesha berikan.


"Berapa usianya?" Tanya Alesha.


"Tiga tahun kalau tidak salah." Sharon menebak-nebak, ia lupa tahun dan tanggal kucingnya itu lahir.


Kedua gadis itu kini berjalan menuju arah taman di halaman belakang. Sambil menikmati cahaya matahari yang sudah sangat menipis, Alesha dan Sharon pun duduk disebuah bangku taman.


Alesha cukup terpukau dengan pemandangan alam yang membentang dihadapan matanya. Sungguh indah, belum lagi taman yang cukup luas dan dikelilingi oleh berbagai jenis bunga dan rerumputan halus juga bersih.


Dalam benaknya, Alesha bertanya-tanya mengenai kapan kah Alesha dapat memiliki rumah seperti yang Sharon dan ibunya miliki sekarang? Semoga saja setelah lulus dari WOSA dan mulai bekerja sebagai karyawan di SIO, Alesha dapat menyicil uang untuk membeli rumah yang saat ini sangat ia idamkan.


"Oh ya, Al, apa kau pernah pergi berlibur ke hawaii?" Tanya Sharon yang berbasa-basi agar kecanggunan yang terjadi antara ia dan Alesha dapat menghangat.


Alesha menggelengkan kepalanya. Berlibur ke hawaii? Ia tersenyum kecil, beberapa kali Alesha membayangkan dirinya yang sedang berjemur dipinggir pantai saat musim panas, namun itu semua hanya sebatas angannya saja. Dari pada untuk berlibur, Alesha lebih memilih menggunakan uangnya untuk pengobatan sang kakek, bahkan walau saat ini kakek Alesha harus dititipkan secara terpaksa kepanti jompo, Alesha berjanji kalau ia akan menyenangkan kakeknya itu setelah ia memiliki cukup uang dari hasil kerjanya bersama SIO nanti.


"Aku sering bermimpi untuk pergi berlibur ke Maladewa, Hawaii, dan beberapa kepulauan mewah yang terkenal disaat musim panas. Tapi ya perlu diingat, itu semua hanyalah mimpi." Jawab Alesha dengan santai.


"Kau harus pergi salah satu resort mewah di hawaii, aku sangat merekomendasikan itu. Kau akan sangat betah di sana." Ucap Sharon dengan bersemangat.


"Aku harap aku bisa, tapi aku tidak yakin." Alesha menganggukkan kepalanya dengan samar.


Sharon terdiam tidak membalas ucapan Alesha. Matanya kini memperhatikan sekeliling taman mencari sosok sang kakak yang mungkin sudah berdiri disudut taman tanpa diketahui oleh Alesha.


Dengan gerakan yang tidak mencurigakan, Sharon pun kembali memutar kepalanya kesebelah kiri berharap kalau matanya dapat menemukan Jacob. Dan benar saja, Sharon pun dapat melihat Jacob yang kini sedang bersandar pada pohon dengan gaya lengan yang dilipatkan. Jacob memberikan isyarat pada Sharon untuk segera pergi meninggalkan Alesha.


"Al, aku boleh pergi dulu tidak sebentar saja, aku ingin membuat jus coklat." Bohong Sharon. "Kau mau?" Lanjutnya.


"Tidak terimakasih." Balas Alesha dengan senyuman manis.


Sharon pun bangkit dari duduknya. "Kalau gitu aku pergi dulu ya, aku akan segera kembali."


Alesha mengangguk. Lalu setelah itu, Sharon pun mulai berjalan meninggalkan Alesha sendiri bersama Maya yang masih tertidur pada pangkuan Alesha.


Jacob segera berjalan menuju Alesha saat melihat Sharon yang sudah pergi meninggalkan gadisnya.


Tidak mau membuat Alesha kaget dan menyadari keberadaannya, Jacob pun menyamarkan langkah kakinya sambil terus berjalan tepat dibelakang Alesha.


"Ekhm." Jacob berdehem tepat ditelinga Alesha.


Alesha hampir saja terjatuh karna kaget ketika suara berat itu berdehem tepat disisi telinganya. Alesha bisa merasakan ngilu dikupingnya selama beberapa saat karna ulah mentornya itu. Maya pun jadi ikut terbangun dan akhirnya, kucing itu loncat dari pangkuan Alesha lalu pergi begitu saja.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jacob dengan santai sambil mengambil tempat untuk duduk disebelah kiri tepat didekat Alesha dan menghiraukan ekspresi Alesha yang kini sedang terlihat sebal karna kehadiran sosok mentor yang sangat mengesalkan.


Jacob melirik Alesha melalui ekor matanya. "Masih marah?"


Alesha merajuk dan enggan menjawab pertanyaan Jacob.


Jacob menghembuskan napasnya dengan sabar, dan setelah itu tangannya terangkat lalu digantungkan pada bahu Alesha yang sebelah kanan.


"Aku lelah kau tahu, masalahku hari ini sangat banyak, bahkan kepalaku pun terasa sangat pusing. Maaf soal yang tadi, aku benar-benar tidak dapat mengendalikan emosiku." Ucap Jacob yang berbicara dengan logat seperti bocah kecil.


Alesha hanya menyimak, namun sepersekian detik kemudian matanya membuka lebar. Ia ingat sesuatu.


"WOSA." Gumam Alesha. Sebenarnya Alesha malas mengatakan hal ini pada Jacob, namun mau bagaimana lagi? Hingga akhirnya Alesha pun mau membuka suaranya.


"Tadi Stella menelpon, ia dan yang lain, juga WOSA diserang oleh orang-orang jahat." Alesha menatap panik pada Jacob.


Jacob hanya memiringkan kepalanya saja dan ia menatap Alesha melalui ekor matanya. Jacob pun terkekeh karna ucapan Alesha barusan. Alesha baru mengatakan itu sekarang setelah semua masalah yang menimpa WOSA dan timnya sudah terselesaikan.


Jacob tersenyum lalu menarik lengannya kembali dari atas bahu Alesha.


"Masalah itu sudah berlalu, kau dan Bastian belum tahu apa pun?" Jacob menatap kedua mata Alesha.


"Tidak, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Alesha.


Jacob menatap Alesha dengan sorot licik. Seringainya terbentuk dan sebuah ide muncul dikepala Jacob.


"Aku akan mengatakan padamu jika kau mau memaafkanku." Ucap Jacob sambil menyingkirkan rambut Alesha yang terbawa angin dan menghalangi wajah manis gadis itu.


Alesha mendengus. Dasar Jacob, selalu saja membuat Alesha merasa jengah.


"Bagaimana, hmm?" Tanya Jacob dengan lembut.


"Baiklah." Jawab Alesha dengan pelan dan malas.


Jacob tersenyum menang. "Aku tahu kalau kau akan selalu memaafkanku." Ucap Jacob sambil menangkup wajah Alesha.


Deg....


Perasaan aneh menyelinap memasuki hati Alesha. Ada apa dengannya kini? Sikap Jacob yang seperti itu malah membuat hatinya berbunga-bunga. Tidak! Alesha menyangkal hal itu. Ia tidak mau berpikiran aneh. Jacob melakukan hal itu bukan berarti ia menyukai Alesha.


"Alesha.." Jacob terkekeh saat mendapati wajah Alesha yang memerah.


Alesha yang merasakan sesuatu memanas diwajahnya pun segera menundukkan kepalanya. Ia malu, lagi dan lagi Jacob mendapati wajah Alesha yang memerah.


Aish, nih orang maksudnya apaan coba? Malu, Alesha, malu.... Ucap Alesha dalam hatinya.


Rasa gugup tiba-tiba saja menyapa Alesha hingga Alesha harus menggigit bibir bawahnya.


Jacob sendiri merasa sangat gemas pada gadis dihadapannya ini. Ingin sekali Jacob membenamkan wajah Alesha pada pelukannya. Disaat yang seperti itu, ide jahil kembali meracuni otak Jacob. Ia berniat untuk membuat wajah Alesha semakin memerah.


Jacob menjatuhkan kepalanya pada pundak Alesha dan sebelah tangannya memeluk pinggang Alesha. Jacob memejamkan matanya dan menghirup aroma wangi dan segar dari kulit leher Alesha.


"Sebenarnya aku lelah, tapi aku tidak tenang jika kau belum memaafkanmu." Ucap Jacob seraya memberikan isyarat pada Alesha kalau sebenarnya Jacob itu menyukai Alesha.


Perasaan Alesha pun malah bertambah kuat dengan prediksinya kalau Jacob itu benar-benar menyukainya.


Tidak, Al, kau ini hanya seorang murid dari mentor aneh ini, jangan berpikiran kemana-mana.... Ucap Alesha yang meyakinkan dirinya agar tidak mendengarkan apa kata hatinya.


"Mr. Jacob, cukup, bagaimana kalau ada yang melihat?" Alesha berusaha mendorong tubuh mentornya itu agar menjauh, namun Jacob malah menahan dorongan dari Alesha, dan yang lebih parahnya lagi Jacob malah membenamkan wajahnya pada lekuk leher Alesha dan memeluk tubuh Alesha.


"Kepalaku sakit, Al." Ucap Jacob dengan lemas.


"Iya, tapi tidak seperti ini caranya!" Alesha memberontak dan berusaha melepaskan pelukan Jacob.


"Sebentar saja kumohon, kepalaku sangat sakit, aku terlalu dipaksa untuk berpikir dan mengambil tindakan agar bisa memimpin pasukan yang menyerang balik orang-orang jahat yang berniat untuk menculik anggota tim kita juga menghancurkan alih WOSA." Balas Jacob masih dengan nada yang lemas.


"Tunggu aku tidak mengerti." Alesha mulai berhenti memberontak dan membiarkan mentornya itu.


"Orang-orang jahat itu berniat menculik tim kita, dan juga menghancurkan WOSA, tapi aku dan yang lain sudah mengatasinya dengan cepat dan tepat." Jelas Jacob.


"Lalu bagaimana dengan tim kita?" Tanya Alesha.


"Mereka aman, orang-orang jahat itu berhasil ditangkap."


Alesha berpikir sebentar. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi dengan anggota timnya dan WOSA, siapa orang-orang jahat itu pun Alesha tidak tahu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Alesha tidak mengetahui apapun tentang WOSA yang diserang?


"Mr. Jacob!" Alesha kembali memaksa Jacob untuk melepaskan pelukannya. Namun Jacob tetap menolak, ia sudah terlanjur nyaman dengan posisinya sekarang.


"Al, sebentar saja, aku bersungguh-sungguh kepalaku sangat sakit, apa kau tidak kasihan pada mentormu ini?"


Alasan Jacob barusan membuat hati Alesha menjadi luluh. Rasa kasihan terhadap mentornya perlahan muncul. Mungkin Jacob benar-benar kelelahan setelah berpikir keras untuk melawan orang-orang jahat yang tidak Alesha tahu.


Alesha pun menghembuskan napasnya dengan pelan. Baiklah mungkin kali ini ia akan membiarkan Jacob, tapi ini hanya untuk yang terakhir kalinya.


Angin yang membawa udara sejuk pun membuat Jacob semakin kehilangan kesadarannya. Ia sangat lelah dan rasa kantuk mulai menyerangnya. Alesha yang merasakan ketenangan sedang melanda diri mentornya itu seketika mengingatkannya pada pikiran awalnya tadi. Apa benar mentornya itu menyukai Alesha? Kalau seperti ini caranya Alesha semakin yakin kalau Jacob memang menyukainya, namun Alesha tetap menyangkal itu semua. Jacob bersandar dan memeluknya kali ini karna Jacob merasa kelelahan dan pusing dikepalanya. Dengan gerakan reflek, tangan Alesha terangkat dan mengelus pelan punggung lebar Jacob. Alesha tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu, tapi memang secara tiba-tiba otak dan hatinya memerintahkan Alesha untuk melakukan hal itu. Alesha pikir rasa kasihanlah yang membuatnya mau mengangkat tangannya dan memberikan elusan lembut pada punggung Jacob. Kalau dipikir lagi, tanggungjawab Jacob saat ini memang cukup besar, belum lagi masalah yang tadi harus diselesaikan.


Merasakan sentuhan dan gerakan lembut dari tangan dan jemari Alesha, Jacob pun semakin terbawa suasana dan hanyut dalam ketenangan yang semakin membawanya pada titik ternyaman. Jacob terus memejamkan matanya, dan tidak lama setelah itu alam mimpi pun menyambutnya. Kini Jacob tertidur sambil memeluk tubuh gadis yang ia cintai.