May I Love For Twice

May I Love For Twice
Berjanji Untuk Satu Masa Baru



Setelah semua yang sudah terlewati, dua tahun lebih kebersamaan yang menghasilkan bibit cinta hingga tumbuh rindang dalam kalbu jiwa. Kini, Jacob dan Alesha akan memasuki masa baru, dimana mereka akan sama-sama melangkah disatu jalan yang sama. Kesiapan diri adalah aset besar untuk mereka dapat menjalani satu masa kebersamaan lagi, namun dalam hubungan dan status yang sah, baik secara agama atau pun negara.


Segala persiapan akad dan pesta pernikahan sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari oleh asisten kepercayaan Jacob, yaitu Taylor. Dimulai dari gedung, hingga para tamu undangan yang akan hadir dalam perayaan sakral kedua mempelai.


Sanak saudara, rekan bisnis, dan para sahabat yang diundang berjumlah hampir seribu lima ratus orang. Perayaan itu pun akan berlangsung hingga larut malam.


*Satu Hari Sebelum Akad*


Di dalam ruangan apartemennya, kini Alesha bersama Nina, Laura, Sharon, Nakyung, Maudy, Merina, Laras, Mona bersama anak laki-lakinya, Haris, dan istri Levin, Tessa sedang berbincang ria mengenai hari pernikahan yang akan dilaksanakan besok pagi. Sedangkan Jacob, tentunya ia berada di apartemennya sendiri bersama Bastian, Lucas, Mike, Tyson, Aiden, Ustadz Fariz, Kakek Alesha, Levin, Wiliam, juga sang ketua WOSA, yaitu Mr. Thomson, dan direktur SIO, Mr. Frank.


"Alesha bagaimana perasaanmu sekarang?" Ledek Merina.


"Bahagia, gugup, malu-malu, semuanya pokonya," Sahut Maudy begitu bersemangat.


"Aku bertanya pada Alesha! Bukan kau!" Ketus Merina.


Alesha bingung, padahal ia yang akan menikah besok, tapi malah teman-temannya yang heboh, terlebih Merina dan Nina begitu excited menunggu hari esok.


"Oh iya, astagfirullah Alesha lupa! Nin, anak-anak teater udah dikasih tahukan?" Tanya Alesha pada Nina.


"Udah dari minggu kemaren kali, Sha," Jawab Nina. "Kamu mau tahu gimana reaksi mereka? Aku udah kaya narasumber tahu gak! Apalagi si Ara, bawel bat mulutnya, nyerocoosss terus."


"Iyatah?" Alesha tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. "Jangankan mereka, aku aja baru dikasih tau dua minggu lalu sama Mr. Jacob."


"Beruntung kamu, Sha dapetin suami kaya Mr. Jacob, doain ya semoga aku juga bisa kaya kamu, dapetin laki-laki mapan, ganteng, penyayang, sholeh," Ucap Nina sembari merangkul lengan Alesha.


"Aamiin, Nina, aamiin," Balas Alesha.


"Alesha, selamat ya, kita gak nyangka kalau kamu bisa bikin mentor kita jatuh cinta, bahkan besok Mr. Jacob bakal nikahin kamu, Al," Ucap Maudy.


"Sama aku juga. Ternyata diam-diam Mr. Jacob jatuh cinta sama salah satu anggota timnya. Lucu tahu, Al, tapi ini kenyataannya, semoga kamu sama Mr. Jacob bisa bahagia selalu ya," Sambung Merina.


"Aamiin, makasih semua buat doanya," Balas Alesha. Beruntungnya ia memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik dan selalu bisa menjadi penghibur untuknya. Namun, ada satu hal yang membuat Alesha murung.


"Alesha, ada apa? Kenapa kau jadi terlihat sedih seperti itu?" Tanya Nakyung yang menyadari kemurungan Alesha.


"Andai saja ada Stella," Hanya itu lah yang keluar dari dalam mulut Alesha. Meski sudah dikhianati, Alesha tetap saja mengingat sosok sahabatnya yang satu itu. Bagaimana juga Stella sangatlah dekat dengan Alesha, mereka selalu bersama-sama dalam segala hal, bahkan Stella adalah kawan pertama Alesha saat ia masuk WOSA.


Hai, namamu Alesha bukan, perkenalkan namaku Stella dari United State......


Awal mula perkenalan dan pertemanannya dengan Stella tidak akan pernah Alesha lupakan. Di dalam pesawat, sesaat sebelum lepas landas. Ingatan itu masih sangat jernih dalam pikiran Alesha.


"Kau masih saja mengingatnya? Dia sudah jahat padamu, Alesha!" Ketus Maudy.


"Tapi bagaimana juga dia pernah menjadi sahabatku, dan mengukir banyak kisah juga keceriaan bersamaku. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku," Balas Alesha, lirih.


"Ya! Saudara bermuka dua! Baik didepan, busuk dibelakang!" Sindir Nakyung.


"Sudahlah, Alesha, tidak ada gunanya juga memikirkan Stella, dia sudah jahat, bahkan berniat untuk membunuhmu. Sekarang kau fokus saja dengan apa yang akan kau hadapi," Ucap Merina.


Ting... Tong...


Suara bel pintu apartemen yang berbunyi.


"Biar aku buka pintunya," Ucap Maudy sekalian beranjak dari duduknya.


"Alesha, Stella sudah mengkhianatimu, dan kita juga, jangan pikirkan dia lagi," Ucap Merina.


"Sangat disayangkan, jika saja Stella tidak melakukan itu, ia pasti sudah berada diantara kita," Lanjut Nakyung dengan malas.


"Alesha.. Mr. Jacob mencarimu!" Sahut Maudy yang disebelah sudah terdapat Jacob bersama ustadz Fariz.


"Jacob, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya sang kakak, Mona.


"Menemui calon istriku, apa lagi," Jawab Jacob begitu santai.


"Seharusnya kalian tidak boleh bertemu dahulu," Ledek Nina.


"Ya, aku setuju! Kalian jangan bertemu dahulu seharusnya sekarang!" Sambung Mona.


"Tidak! Tidak! Aku ingin menemui Alesha malam ini," Jacob langsung menarik lengan Alesha dan membawa gadis itu keluar.


"Hei, Jacob! Kau jangan temui Alesha terlebih dahulu!" Pekik Mona dari dalam ruangan.


"Tutup pintunya!" Setelah memberikan perintah itu pada Maudy, Jacob segera membawa Alesha berjalan menuju sebuah lift.


"Kemana kita?" Tanya Alesha.


"Sky garden."


Kemudian pandangan Alesha beralih pada ustadz Fariz. "Loh, Pak Ustadz juga ikut?"


"Jacob yang minta saya buat ikut."


Lalu Jacob pun menyahut. "Supaya orang-orang percaya kalau kita tidak melakukan apa-apa berdua, sayangku."


Alesha mengerutkan keningnya.


Dasar aneh.....


Setibanya di sky garden, Jacob langsung membawa Alesha pada salah satu spot dimana ada sebuah teleskop kecil yang biasa digunakan oleh penghuni apartemen untuk melihat langit lebih jelas lagi.


Selama beberapa saat tidak ada seorang pun yang membuka percakapan. Bukannya canggung, melainkan mereka terlalu menikmati malam yang sejuk dan membuat suasana terasa sangat nyaman.


Didalam keasyikannya memandang langit malam, tiba-tiba saja Alesha teringat akan satu keinginannya yang sudah sejak remaja ia harapkan dan hanya bisa direalisasikan oleh calon suaminya nanti.


"Mr. Jack.. " Alesha langsung menggelengkan kepalanya. Lagi dan lagi ia salah menyebut nama panggilan baru untuk calon suaminya itu. "Argh maksudnya, Jack, boleh Alesha minta satu permintaan?" Alesha menatap lurus pada calon suaminya itu.


"Apa?" Tanya Jacob yang penasaran akan permintaan dari gadis kesayangannya.


"Alesha pengen minta mahar surat Ar-Rahman ayat satu sampe sepuluh."


Jacob dan ustadz Fariz langsung terkejud ketika mendengar perintaan si calon pengantin wanita itu.


"Maaf, kalau Alesha baru bilang malem ini, Alesha lupa, tapi Alesha pengen banget dibacain surat Ar-Rahman ayat satu sampe sepuluh buat dijadiin mahar, itu keinginan Alesha sejak Alesha tahu apa itu pernikahan," Alesha tampak tidak main-main dengan ucapannya.


Sedangkan Jacob, ia malah kebingungan karna mendapatkan permintaan yang mengejutkan dari calon istri. Bisa atau tidak? Itu yang ada dalam pikiran Jacob.


"Mahar bacaan surat Ar-Rahman ayat satu sampai sepuluh?" Jacob menatap Alesha, lalu setelah itu pandangannya beralih pada ustadz Fariz untuk meminta pendapat dan bantuan dari ustadz itu.


Mengerti tatapan yang Jacob berikan untuknya, Ustadz Fariz pun berjalan mendekat sang calon mempelai pria.


"Saya bakal bantu kamu, sepuluh surat Ar-Rahman pertama tidak ada yang panjang," Ucap Ustadz Fariz sembari menepuk bahu Jacob untuk meyakinkan pria itu supaya mau permintaan mahar yang Alesha inginkan.


Lalu Jacob kembali mengalihkan pandangannya pada Alesha. "Kamu yakin mau mahar itu?"


Alesha mengangguk pasti. "Alesha pengen dihari pernikahan Alesha, suami Alesha kasih mahar surat Ar-Rahma satu sampai sepuluh buat Alesha."


Jacob terdiam sejenak. Calon istrinya itu meminta mahar lain yang tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan materi, dan Jacob tidak boleh menolaknya, ia harus bisa, ia harus mampu dan yakin, meski hari pernikahannya akan jatuh pada esok hari, maka malam ini ia akan berusaha keras untuk menghafal sepuluh ayat suci yang diminta oleh Alesha untuk dijadikan salah satu mahar pernikahan.


"Baiklah, Alesha," Jacob mengangguk yakin. "Akan aku laksanakan permintaanmu itu, mahar sepuluh surat Ar-Rahman akan siap besok pagi.


Mata Alesha langsung berbinar-binar saat mendengar jawaban dari calon suaminya. Alesha sangat bahagia, dan bersyukur, Jacob benar-benar serius dengan niatnya, bahkan ia mau menjabani permintaan mahar yang Alesha inginkan meski waktu pernikahan mereka hanya tinggal menghitung jam saja.


"Terima kasih banyak, Jack," Ingin rasanya Alesha memeluk tubuhnya tinggi besar milik calon pemimpin kehidupannya, namun itu tidak boleh terjadi, Alesha harus ingat jika saat ini ia sedang membenahi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.


"Sama-sama, sayang," Balas Jacob dengan senyum tulusnya. "Oh ya malam ini istirahatkanlah tubuhmu, besok akan menjadi hari besar," Entah apa yang sudah merasuki Jacob, tiba-tiba saja ia memasang senyum nakalnya. "Tidurlah yang nyenyak malam ini, karna besok malam kau tidak akan memiliki kesempatan tidur yang cukup."


Wajah Alesha merona seketika, ia merasakan sekujur tubuhnya yang memanas hingga membuatnya menjadi salah tingkah tidak jelas karna membayangkan apa yang calon suaminya itu maksudkan dari perkataan yang terlontar barusan.


Dasar cowo mesum!!...... Umpat Alesha dalam hati.


****


*The Day*


Alur yang telah melebur waktu, sempat menanam benalu dalam kalbu. Namun, itu semua sudah musnah dengan yang baru.


Keseriusan, Kejujuran, dan keyakinan akan cinta telah mengubah banyak hal. Jikalau pun ada waktu seribu tahun yang dapat dilalui, tidak akan lebih berarti dari dua tahun kebersamaan yang terjalin hingga pucuk cinta sudah mengkelopaki bunga-bunga hati.


Sebuah aula pernikahan yang sudah di desain sedemikian rupa pun akan segera menjadi saksi bisu dimana dua anak manusia akan mengikat janji sehidup semati.



Alesha tidak tahu bagaimana bentuk atau pun rupa dekorasi dari aula yang akan digunakan untuk acara pernikahannya, Jacob sengaja melarang Alesha untuk melihat aula itu sebelum hari pernikahan mereka tiba.


Tapi pagi ini, tepatnya pukul delapan, Alesha bersama iring-iringan pengantin wanita sudah bersiap untuk berangkat menuju gedung tempat resepsi pernikahan akan berlangsung.


Sesaat sebelum keberangkatan, Alesha menyempatkan untuk menatapi pantulan dirinya dalam cermin. Gaun putih panjang bak baju putri kerajaan, kerudung putih yang dibentuk dengan sangat sempurna untuk memahkotai kepala, make up tebal yang membuat Alesha merasa asing akan dirinya sendiri, dan satu ikatan bunga besar dalam genggamannya yang begitu cantik.


Siapa gadis itu? Siapa dia yang berada didalam cermin? Nampak bidadari manis yang sedang termenung.


"Alesha...."


Segerombol gadis-gadis yang bukan lain adalah Nakyung, Maudy, Merina, dan Nina pun berlari dan menghambur memeluk tubuh Alesha.


"Lihatlah, Putri kerajaan dari mana ini?"


"Kau sangat cantik, Lil' Ale."


"Alesha, kau begitu sempurna hari ini."


"Selamat, Sha, aku bahagia melihatmu yang secantik ini."


Keempat gadis itu terlihat begitu bahagia dan terkesima atas aura kecantikan yang terpancarkan dari tubuh seorang gadis sunda bernama Alesha.


"Hari ini adalah hari besar untukmu juga Mr. Jacob, tersenyumlah, berbahagia lah kalian, aku terharu, tidak menyangka sahabatku yang satu ini sudah akan menikah bersama mentorku, dan mentor kita," Ucap Nakyung yang sudah meneteskan air matanya karna haru yang sedang ia rasakan.


"Kau cantik sekali, Alesha, aku bangga memiliki sahabat sepertimu," Sambung Merina.


Benar saja, ternyata wanita itu adalah Laura, calon ibu mertua Alesha.


"Ya ampun, Alesha..." Laura bergeming memandang calon menantunya yang sangat cantik, anggun seperti seorang putri dari negri dongen.


"Ibu..." Panggil Alesha balik.


"Kau," Laura mendekat dan menyentuh pipi calon menantunya dengan lembut. "Sangat cantik."


"Terima kasih, Ibu," Balas Alesha dengan malu-malu.


"Ayo, mobil penjemput sudah datang," Ucap Laura. Ibunda Jacob itu tidak berhenti tersenyum sejak ia memandang wajah calon menantunya yang sangat ayu dalam balutan gaun pengantin.


Alesha mengangguk, lalu menatap pada teman-temannya.


"Semangat, cantik, hari ini adalah hari pernikahanmu bersama mentor kita, kau harus tersenyum dan bahagia," Ucap Merina.


"Aku gugup," Lirih Alesha.


"Itu hal wajar, Alesha, nanti juga tidak. Sudah ayo, Mr. Jacob pasti sudah menunggumu bersama yang lain," Balas Nakyung.


Alesha mulai melangkahkan kakinya yang dibaluti oleh high-heels setinggi dua belas centimeter untuk menuju keluar kamar. Sedangkan keempat sahabatnya, mereka membantu Alesha untuk berjalan agar tidak terjatuh.


Lorong apartemen cukup sepi, karna rombongan besan sudah menunggu dilantai bawah.


Hari ini Alesha bakalan nikah. Umi, bapak, tolong restuin hubungan Alesha sama Mr. Jacob, Alesha bahagia sama dia. Seandainya umi sama bapak masih ada, kebahagiaan Alesha pasti bakal semakin bertambah......


Alesha memejamkan matanya ketika lift membawanya bersama keempat sahabat juga calon ibu mertua menuju lantai dasar.


Kurang lebih dua menit, pintu lift pun kembali terbuka lebar. Laura berjalan berdampingan dengan Alesha.


Alesha merasa sangat terkesan dengan para pelayan apartemen yang ternyata sudah berdiri berjejer disisi kanan dan kiri untuk menyambut dan memberikan penghormatan padanya.



Kini Alesha mulai menuruni enam anak tangga yang akan langsung menghubungkan area receptionist dengan pintu utama yang biasa dipakai untuk keluar masuk pengunjung atau pun penghuni bangunan apartemen mewah itu.


"Selamat atas pernikahannya, Nona Alesha," Ucap para pelayan apartemen secara serentak.


Sungguh Alesha merasa sangat gugup, namun ia harus tetap tenang dan tersenyum semanis mungkin.


"Ya ampun, cantiknya," Puji Mona. "Tidak salah Jacob memilih calon adik ipar untukku," Mona yang terkesima oleh kecantikan Alesha pun tidak dapat mengenyahkan pandangan dari Alesha.


Bukan hanya Mona, tapi semua orang yang ada disitu bergeming karna melihat sang mempelai wanita yang begitu cantik dan memancarkan aura ayu nan lembut.


***


Di tempat lain, tepatnya di aula pernikahan mewah itu, Jacob sudah tidak sabar menunggu kedatangan gadis tercintanya. Sejak tadi Jacob begitu gugup dan gelisah, beberapa kali Bastian dan yang lain mencoba untuk menenangkan Jacob, namun sepertinya hal itu tidak berhasil.


Aku tidak akan tenang sebelum Alesha datang....


Itulah yang selalu Jacob katakan ketika ada orang yang berusaha untuk menenangkannya.


Beberapa tamu undangan khusus sudah memenuhi ruangan akad itu dan menanti kedatangan sang calon istri.


Jacob yang sudah sangat siap dengan pakaian tuxedo dan celana bahan serba putih pun terus mondar mandir di belakang panggung pelaminan.


"Alesha sangat cantik," Puji Mike sembari menatap layar ponselnya yang menunjukkan visual pengantin wanita yang sedang tersenyum. Mike mendapatkan foto itu karna Nakyung yang mengirimnya.


"Apa? Mana?" Jacob mencoba untuk melihat foto calon istrinya, Alesha, namun Mike sudah terlebih dahulu menghindar dan mematikan layar ponselnya.


"Tidak, Mr. Jacob, kau harus melihatnya secara langsung," Ucap Mike.


Jacob mendengus sebal. Ia sangat amat menantikan kedatangan calon istrinya itu, sedangkan waktu akad akan berlangsung sekitar lima belas menit lagi.


Secantik apa Alesha? Bagaimana rupanya? Jacob terus berkhayal, membayangi sosok gadis tercintanya dalam balutan gaun pengantin.


"Mr. Jacob, kau tampak sangat gelisah, tenanglah, Alesha akan segera datang sebentar lagi," Ledek Lucas.


"Daripada gelisah seperti itu, lebih baik kau ingat-ingat kalimat ijab kabulnya, Mr. Jacob, supaya kau tidak perlu mengulangi beberapa kali," Sambung Mike yang sama-sama meledeki pria yang pernah menjadi mentornya itu.


"Ide bagus!" Jacob menjentrikan jemarinya. Ia pun segera beralih menuju salah satu bangku dan duduk di sana. Matanya terpejam, dan hatinya merapalkan ayat-ayat yang Alesha minta untuk dijadikan sebagai mahar pernikahan.


Ya. Karna Jacob sudah hapal ucapan ijab yang akan ia tunaikan nanti, maka dari itu ia lebih memilih untuk menghafal salah satu surat Al-Quran yang akan dijadikan sebagai mahar.


Beralih kembali pada Alesha, gadis itu kini sudah dalam perjalanan bersama iringan-iringan mobil para besanan.


Sepanjang jalan, Alesha hanya mengeluarkan suara ketika ada yang bertanya padanya, itu pun dengan nada yang sangat rendah dan lebih anggun dari cara biasanya ia berbicara.


Diam dan sangat tenang, Alesha tidak mau merasakan gugup atau grogi yang berlebihan. Ia akan menjadi ratu disatu hari ini, dan sebagai ratu, tentunya ia harus ber- atitude baik, sopan, kalem, dan yang paling utama yaitu ketenangan.


Setelah sekitar setengah jam berlalu, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Alesha dan yang lain pun sampai disebuah gedung besar tempat resepsi dan pesta pernikahan akan berlangsung.


Salah seorang pelayan tiba-tiba saja menghampiri mobil yang Alesha tumpangi untuk membukakan pintu.


***


Perhatian perhatian, pengantin wanita telah tiba bersama rombongannya, para tamu undangan diharapkan berdiri untuk menyambut kedatangan pengantin wanita.


Pengumuman dari pihak MC pun tentunya membuat Jacob terkejut bukan main.


"Alesha sudah tiba! Ayo, Mr. Jacob kau pergilah ke meja akad, penghulu, kakek Alesha, dan para saksi sudah menunggumu di sana," Ucap Bastian sangat semangat.


Jantung Jacob berdebar-debar. Ia berjalan dengan kaki yang sedikit bergetar. Seluruh pasang mata menatap padanya.


"Wah tampan sekali."


"Sangat gagah."


"Hebat sekali Nyonya Laura memiliki anak lelaki sepertinya."


"Dia pengantin prianya?"


"Aku tidak tahu Nyonya Laura memiliki anak setampan dia."


Komenan para tamu undangan khusus yang samar-samar terdengar oleh telinga Jacob. Namun Jacob tidak memperdulikan hal itu, kini ia sudah berdiri tepat didepan bangku dan meja pengantin, menunggu calon istrinya memasuki aula gedung pernikahan itu.


"Jacob, kau sudah hafalkan kalimat ijab dan surat Ar-Rahman itu?" Bisik ustadz Fariz.


"Sudah, Pak Ustadz," Jawab Jacob singkat.


"Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang kau fokuslah, jangan tegang, jangan panik, istigfar, Jacob. Alesha akan masuk sebentar lagi," Ucap ustadz Fariz.


Jacob hanya mengangguk pelan. Sebisa mungkin ia menahan dirinya agar tidak terjerumus pada ketegangan dan kepanikan.


Hening.....


*


*


Aula resepsi itu menjadi sangat hening ketika pintu ruangan yang besar tiba-tiba terbuka lebar.


Satu detik.....


Dua detik......


Tiga detik.....


Empat detik..


Volume ruangan membisu dalam beberapa waktu, digantikan dengan sorotan mata yang terarah lurus fokus pada ambang pintu ruangan, menantikan kehadiran seseorang di sana.


Hingga akhirnya, terdengarlah suara lantang dari sang MC.


Mari semuanya, kita sambut kedatangan sang mempelai wanita, Nona Alesha Sanum Malaika......


Prokk...


Prokk...


Prokk...


Tepukan tangan riuh menghancurkan dinding keheningan ketika munculnya sosok bidadari cantik sang pemilik acara juga ratu disatu hari yang berbahagia ini.


Alesha sudah berdiri tepat di ambang pintu bersama para rombongan yang tadi ikut bersamanya.


Jacob yang sudah sejak tadi menunggu kehadiran ratunya, kini malah membeku di tempat seperti boneka maneken hidup.


"Cantik...." Satu kata itu terdengar amat lirih dari mulut Jacob. Pria itu sungguh terkesima dan tergoda oleh tarikan aura kecantikan yang Alesha pancarkan saat ini, sampai-sampai ia juga menelan salivanya sendiri karna terlalu terpaku pada sosok perawan manis yang beberapa saat lagi akan dipersunting olehnya.


Serupa dengan Jacob, Alesha pun begitu terkesima dengan ruangan aula pernikahannya yang terlihat mewah dan berkelas itu. Alesha sangat bahagia ketika pandangannya menyapu bersih setiap sudut ruang aula pernikahan itu, sampai-sampai ia tidak mampu menahan untuk menunjukan senyum menawannya yang memperlihatkan deretan gigi-gigi yang begitu rapih dan bersih. Hingga diakhir, pandangan Alesha berhenti pada sepasang manik hitam yang selalu menatapnya dengan penuh cinta.


.......


................


.............................


...........................................................


Holla kakak para readers yang uwuwuuw sekalian 😍😍💋💋


Author na mao curhat dikit nih, kalau bikin part ini sembari dengerin lagu Christina Perry yang A Thousand Years itu feelnya aduhh, kerasa benerrrrrr.


Heheh happy reading, you all... 💋💋😍❤️