May I Love For Twice

May I Love For Twice
Cepatlah Pulih



"Bodoh! Bagaimana jika kau ketahuan!! Sekarang di mana kau sembunyikan pakaian yang kau gunakan untuk menghabisi gadis itu? "


"Di dalam tasku." Isakan seorang gadis yang kini sedang berada di dalam kamar mandi rumah sakit. Ya, gadis itu atau orang yang menghajar Alesha juga turut pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Alesha.


"Bodoh!! " Bentak Vincent melalui sambungan telepon yang menghubungkannya dengan gadis itu.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? " Gadis itu menyerka air mata ketakutan yang menelusuri wajahnya.


"Aku sudah bilang untuk jangan gegabah! Jika Thomson tahu ini, dia akan menggagalkan misi kita! Dan kau juga tidak akan bisa mendapatkan Jacob!! Aku sudah bilang jangan sakiti gadis itu tanpa perintah dariku!! "


"Maafkan aku, tuan, hiks, aku terbawa emosi tadi, jadi aku matikan saja lampunya dan saat Alesha selesai aku langsung menghajarnya. Aku terlalu membencinya, tuan, hiks. "


"Kau menjerumuskan dirimu sendiri kedalam masalah, Laurent!! "


"Aku tahu, maafkan aku, tuan, bantu aku, hiks. "


"Kau sangat menyusahkan!! "


Dengan penuh emosi, Vincent pun mematikkan sambungan teleponnya. Ia sangat marah. Rencana yang sudah disusunnya bisa hancur hanya karna kecerobohan seorang gadis yang dijadikan alat olehnya.


"Bagaimana?" Tanya dingin Vincent pada anak buahnya.


"Tidak ada, tuan. Untuk sementara gadis itu masih aman karna di dalam kamar hotel yang ditempati oleh Alesha tidak dipasangkan CCTV."


Setelah mendengar itu, Vincent beralih untuk duduk disofa besar di tengah-tengah ruang kerja pribadi yang cukup besar. Jemarinya memijit pelan kening dan pelipisnya. Vincent sangat pusing kali ini. Beberapa anak buahnya berhasil ditangkap oleh agent SIO, yang Vincent khawatirkan saat ini adalah rencananya mungkin saja terbongkar jika salah satu anak buahnya ada yang membuka suara saat diintrogasi oleh direktur SIO, yaitu Frank.


Vincent tahu kalau ini semua adalah akal-akalan Thomson dengan mengirim dua kelompok murid WOSA untuk melaksanakan ujian akhir di Los Angeles, yang merupakan tempat bersarang baginya dan juga anak buahnya.


Seharusnya Vincent juga tidak terlalu mengambil langkah cepat, ia sudah diperingati oleh asistennya untuk tidak bergerak terlebih dahulu, namun karna ia terlalu geram, akhirnya ia pun memilih untuk mengirim anak buah agar menangkap kelompok tim Bastian dan Brandon. Vincent terlalu percaya diri, ia berpikir anak buahnya itu akan mampu untuk menghindari para agent SIO, karna memang biasanya mereka juga selalu bisa lolos dari kejaran para agent SIO, tapi kali ini keberuntungan sedang memusuhinya.


"Kemas semua perlengkapan kita! Aku tidak mau tinggal di tempat ini lagi. Para agent tidak berguna itu akan segera menyergap tempat ini. Kita harus pergi sekarang juga!" Perintah Vincent yang segera dituruti oleh anak buahnya yang tersisa.


***


Di dalam ruangan yang begitu sunyi, Jacob kini membenamkan wajahnya pada lekukkan leher Alesha yang berkulit pucat dan sedikit dingin. Jacob mewajari hal itu, gadisnya kehilangan banyak darah akibat pendarahan pada kepalanya. Tapi tenang saja, Lucas berhasil mendapatkan dua kantung darah yang Alesha butuhkan, syukur lah darah yang bergolongan AB masih tersisa di bank darah yang ada di rumah sakit itu, jadi Lucas dan yang lain tidak perlu pusing untuk mencari dan mendapatkan dua kantung darah bergolongan AB di tempat lain.


Suara membisu dalam ruangan itu, padahal semua anggota tim berada di dalam sana. Mereka tidak tahu harus berkata apa saat melihat sang mentor yang mendekap tubuh rekan setim mereka dengan sangat posesif.


Jacob tidak perduli dengan keberadaan anggota timnya yang lain. Ia hanya ingin berada disebelah gadisnya, merasakan setiap hembusan napas Alesha untuk memastikan kalau si manis itu masih bernyawa. Sejak setengah jam yang lalu, Jacob sudah berhenti menangis, dan ia sibuk dengan bibirnya yang terus bergumam untuk menyemangati Alesha agar bisa bertahan dan berangsur pulih. Tapi bagaimana juga hal itu hanya lah sebuah kesia-siaan karna Alesha tidak mungkin bisa mendengarnya.


"Aku tahu kau gadis yang kuat, kau bisa melalui ini, Al." Elusan lembut dari jemari Jacob menyapu rambut halus milik Alesha.


Jacob menghembuskan napasnya dengan tenang. Disaat seperti ini, ia benar-benar merasakan kasih sayangnya untuk Alesha. Jacob tidak akan bisa jika harus kehilangan gadis yang begitu dicintainya untuk yang kedua kali, maka dari itu Jacob akan lakukan apapun agar bisa membuat Alesha kembali pulih.


"Kau sudah membuka dunia baru untukku, jangan tinggalkan aku sendirian di sana. Kau ingat tujuh bulan lalu? Kau sekarat, dan aku harap kali ini kau tidak akan sekarat lagi. Teruslah membaik, aku menunggumu di sini, Alesha."


Jacob mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah Alesha. Lengannya bergerak menuju perut Alesha yang diatasnya sudah terdapat jemari cantik milik si manis kesayangannya.


"Tim kita berhasil meraih peringkat pertama, Al. Apa kau tidak mau merayakannya bersama kami?" Jacob mulai mengaitkan kelima jemarinya pada setiap ruas jemari Alesha.


"Dua bulan lagi WOSA akan memberikan jatah liburan akhir semester untuk kalian, aku ingin mengajakmu dan yang lain pergi berlibur. Kita akan menghabiskan waktu bersama." Jacob tersenyum simpul. Ia sangat ingin menghabiskan waktu dengan anggota timnya, terkhusus untuk Alesha. Tapi melihat kondisi Alesha yang seperti ini membuat Jacob ragu.


"Mr. Jacob, ini makanlah sesuatu, kau belum makan pasti sejak pagi." Stella menyodorkan sebuah bungkusan yang berisi roti lapis kepada mentornya. Ia baru saja kembali dari kantin bersama Merina.


Melihat ada sebungkus rori dihadapan wajahnya, Jacob hanya tersenyum kecil. "Terima kasih, Stella. Tidak apa, kau makan saja rotinya, aku tidak lapar."


"Tapi kau belum makan, Mr. Jacob."


"Itu tidak masalah bagiku, lagi pula aku tidak merasa lapar. Atau kau bisa memberikan rotinya pada temanmu, mereka juga pasti merasa lapar karna belum makan." Jacob membalikkan tubuh untuk menghadap pada anggotanya.


"Kalian makan saja duluan, jangan pikirkan aku. Kalian pasti sangat lelahkan? Pergilah ke kantin dan cari makanan." Walau sedang dirundung kesedihan, Jacob tidak bisa abai akan tanggung jawabnya sebagai mentor. Ia harus memastikan kesehatan anak-anak didiknya itu dalam kondisi baik.


"Kami tidak akan makan jika kau juga tidak makan, Mr. Jacob." Balas Tyson.


Jacob mengukir senyum hangatnya seketika. "Aku tidak ingin kondisi kalian menurun karna kelelahan, kembali lah ke hotel dan istirahat yang cukup. Aku tidak apa-apa."


"Tidak, kami tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, Mr. Jacob." Ucap Aiden. "Kami tidak akan bisa tenang sebelum kondisi Alesha membaik, jadi biarkan kami untuk tetap di sini dan menemanimu."


Seluruh anggota tim mengangguk setuju mendengar ucapan Aiden barusan. Mereka pun diam di tempat dan tidak pergi kemana-mana.


Satu malam berlalu, Bastian dan timnya menginap di rumah sakit itu. Mereka tertidur, namun bukan tidur yang pulas. Sesekali telinga mereka mendengar gumaman sang mentor yang mengajak Alesha berbicara. Tapi mereka menghiraukan itu karna mereka butuh waktu untuk mengistitahatkan tubuh yang seharian tadi dipacu untuk beraksi di jalanan demi menuntaskan ujian akhir.


"Bermimpi lah yang indah, dan buka matamu besok pagi." Gumam Jacob. Lengan besar nan berotot itu kini melilit perut Alesha, dan lengannya yang satu lagi asik bergerak pelan dipuncak kepala gadisnya itu.


"Aku akan terjaga malam ini, menjagamu seperti tujuh bulan yang lalu. Kau berbaring dikasur pasien, dan aku yang selalu berada disisimu. Persis sama seperti sekarang ini."


Jacob mengangkat tubuhnya yang semula bersandar pada pinggiran kasur. "Aku melihat kau yang mulai membaik malam ini, dan jangan buat kepanikan secara mendadak."


Bahagia bukan bisa hidup bersama dua wanita yang amat dicintai? Tapi itu tidak mungkin, Jacob enggan melukai hati salah satu dari kedua gadisnya.


Sudahlah, lupakan saja. Sekarang Jacob hanya perlu memfokuskan perasaannya pada Alesha. Tidak perduli apa yang harus dihadapinya, ia hanya ingin memiliki kehidupan yang damai bersama pendamping hidupnya kelak. Pilihan Jacob sudah jatuh pada Alesha. Secepat mungkin Jacob ingin membuat gadis itu menjadi miliknya dalam ikatan yang sah. Tapi masih ada satu tahun lagi yang perlu dilalui, dan usai Alesha juga masih sangat muda jika Jacob meminangnya dalam waktu dekat, belum lagi jika Alesha hamil, resiko buruk masih berpeluang besar.


Memikirkan itu saja membuat Jacob gelagapan sendiri. Ia sudah memikir kedepannya, sedangkan perasaannya sendiri masih belum ia nyatakan pada Alesha. Dasar Jacob.


Tapi tidak masalahkan jika Jacob memperkirakannya dari sekarang ini. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Siapa yang tahu jodoh? Bisa saja Alesha benar-benar menyandang status sebagai Nyonya Ridle tahun depan. Bayangan akan pernikahan manis juga malam pertama yang begitu romantis membuat Jacob merona. Melihat wajah damai Alesha dipagi hari ketika Jacob membuka matanya, Morning Kiss, percakapan kecil, dan saling menyalurkan kasih diatas busa empuk berlapis sutra putih dan lembut.


Hal itu harus terwujud, Jacob tidak mau yang lain. Alesha yang harus merealisasikan itu semua dan menjadi seorang wanita sejati.


"Maaf, Al. Seharusnya aku tidak berpikir seperti itu sekarang." Jacob mengelus lembut pipi Alesha. "Tapi kau harus merealisasikan itu."


Melihat kulit Alesha yang sudah tidak pucat lagi membuat Jacob merasa semakin tenang. Tetapi sepersekian detik kemudian wajah Jacob berubah datar, telapak tangannya mulai mengepal juga sorot mata yang menajam. Siapa yang sudah berani melukai gadisnya itu? Pikir Jacob.


Apa mungkin anak buah Vincent? Jacob harus berwaspada, kini Alesha adalah incaran musuhnya itu. Memang sudah tidak asing untuk para murid WOSA menjadi incaran para pejahat gelap dunia. Sejak awal pertama WOSA dibuka, salah seorang murid WOSA ada yang melakukan pengkhianatan dengan bekerja sama dengan musuh SIO. Iming-imingan kekuasaan dan kekayaan adalah hal yang membuat murid itu tergiur, namun akhirnya murid WOSA yang berkhianat itu pun berhasil ditaklukkan beserta tuannya dan mereka pun dijebloskan ke dalam penjara yang dikhususkan untuk penjahat kelas teratas yang ada di bumi ini.


"Aku berjanji untuk semakin menjagamu kali ini, Al. Tidak akan ku biarkan orang yang berniat jahat mendekat padamu. Kau akan aman selagi bersamaku. Akan aku pastikan itu." Jacob mengangkat lengan Alesha lalu ditempelkan pada pipinya.


Malam berjalan dengan teratur, hingga gesekan waktu membuat bentrokan antara cahaya hangat matahari dengan udara dingin.


Kesibukkan seperti biasa terus terjadi di rumah sakit itu. Para dokter memeriksa pasiennya, dan para perawat membantu dokter mereka.


Suara ketukan halus pada pintu membuat Jacob dan anggota timnya terlonjak kecil.


Saat pintu terbuka, nampak lah seorang dokter wanita tua yang memakai kaca mata emas berjalan mendekati kasur pasien yang Alesha tempati.


Dia adalah dokter terbaik yang ada di rumah sakit itu. Atas permintaan WOSA akhirnya Alesha bisa langsung ditangani oleh dokter yang memiliki bergudang-gudang pengalaman hebat. Dokter itu adalah yang terbaik, WOSA tidak mau hal buruk terjadi pada Alesha, juga muridnya yang lain. Biaya yang sangat besar sudah WOSA keluarkan, dan tiba-tiba saja muridnya itu mendapatkan tragedi lalu meninggal. Rugi sekali. Pasalnya semua kebutuhan dan biaya hidup sudah ditanggung oleh WOSA untuk para muridnya, dan sebagai gantinya murid itu harus mampu menjadi apa yang WOSA inginkan, maka dari itu WOSA sangat menjaga semua anak muridnya.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" Tanya Jacob.


"Cukup baik." Jawab Dokter itu. Kedua matanya menyipit memperhatikan setiap inchi wajah Alesha. Lalu pandangannya beralih pada sebuah map yang berisi surat hasil tes CT Scan dan lain-lain.


"Tidak ada keretakkan dalam tengkoraknya." Gumam sang dokter sembari membulat-balikkan surat dalam map itu.


Jacob dan yang lain terdiam menunggu kalimat lanjutan dari dokter itu.


"Semuanya bagus. Hanya mungkin luka dalam kepalanya saja yang masih harus diobati."


Dokter itu kembali menyerahkan map yang dipegangnya pada seorang perawat. Lalu setelah itu, ia mendekati Alesha untuk memeriksa kondisi tubuh Alesha saat ini.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya dokter itu pun selesai dengan tugasnya untuk mengecek keadaan Alesha hari ini.


"Bagus, tubuh gadis ini sangat sehat dan segar sebelumnya, dan hal itu membuat proses pemulihannya berlangsung dengan cepat."


Jacob tersenyum ketika mendengar ucapan sang dokter barusan. Ia sangat senang karna kondisi Alesha yang semakin membaik. Tentu saja tubuh Alesha dalam keadaan sehat dan segar sebelumnya, Jacob selalu memantau semua makanan yang Alesha makan juga memerintahkan gadis itu untuk selalu berolah raga. Jacob sering melatih anggota timnya untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan tubuh dengan beberapa olahraga kebugaran. Hal itu sangat perlu dilakukan mengingat banyaknya kegiatan pelatihan yang menguras habis tenaga.


"Jika ia sudah sadar segera beritahu saya." Dokter itu mengucapkan kalimat terakhir sebelum meninggalkan ruangan bersama dengan dua perawat yang mendampinginya.


"Syukur lah, Alesha semakin membaik, aku sangat takut jika terjadi sesuatu padanya." Ucap Merina sembari berjalan mendekati kasur pasien.


"Cepatlah bangun dan pulih, kau benar-benar membuat kami cemas, Al." Merina bergumam tepat disebelah wajah Alesha.


"Aku sangat terkejut dan takut saat melihat tubuh Alesha yang tenggelam dalam air dan dipenuhi oleh darah, Mr. Jacob." Pandangan Merina beralih menuju mentornya, menatap dengan penuh kecemasan.


Sedangkan Jacob hanya tersenyum kecil. Bukan hanya Merina, semua pasti cemas dan panik, bahkan Jacob yang paling terpukul saat melihat keadaan gadisnya kemarin malam.


"Alesha akan baik-baik saja, dia bukan gadis yang lemah, kondisi yang lebih parah dari ini pernah ia alami sebanyak dua kali, dan ia bisa melewatinya." Jacob menepuk bahu Merina untuk meyakinkan gadis itu kalau temannya akan kembali membaik.


"Waktu Alesha sekarat, aku berpikir kalau kecil kemungkinan ia akan bangun lagi, tapi syukurnya ia masih bisa bertahan dan kembali pada kita." Saut Bastian. "Racun yang dimasukkan kedalam tubuhnya nyaris saja merebut nyawanya waktu itu, dan untungnya tubuh Alesha memiliki imun yang bagus." Sambung Bastian.


"Hmm, kalau begitu karna Alesha semakin membaik, apa aku boleh pergi ke kantin untuk makan?" Tanya Lucas dengan wajah polosnya. "Aku sangat lapar." Memprihatinkan sekali wajahnya, nampak seperti seorang anak yang tidak terurus.


Jacob hanya terkekeh saat melihat raut menyedihkan yang Lucas tunjukkan. "Aku kan sudah bilang kemarin untuk kalian makan terlebih dahulu. Sekarang pergilah cari makanan."


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Maudy.


"Aku akan menysul setelah kalian." Jawab Jacob.


"Oke baiklah. Kalau begitu ayo semuanya, kalian harus makan dan jangan ada yang membantah! Aku tidak mau ada anggotaku yang sakit karna kelaparan." Ucap si ketua yang bukan lain adalah Bastian.


"Aish, baiklah, Pak ketua." Ledek Nakyung.


"Dan untuk kau, Mr. Jacob." Bastian menunjuk pada Jacob. "Aku akan membawakan makanan untukmu, tidak boleh menolak! Tubuhmu membutuhkan asupan!" Tegas Bastian pada mentornya sendiri. Yah boleh dibilang sisi ketuanya sedang muncul saat ini, perintahnya tidak boleh dibantah, dan itu juga berlaku untuk sang mentor.


"Baiklah." Balas Jacob sembari mengedikkan bahunya.