May I Love For Twice

May I Love For Twice
I Miss You



*Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mengelilingi matanya.


Ia terbangun. Matahari bersinar sangat terang dan langit pun biru cerah tanpa awan. Disekelilingnya adalah hamparan rumput hijau yang sangat lembut dan harum, burung berkicau dan terbang diatasnya. Alesha memandang dirinya melalui air sungai yang sangat jernih yang ada disebelahnya. Dimana dia? Apa yang terjadi?


Alesha berdiri. Ia mengenakan baju dress putih panjang hingga menyentuh rumput. Alesha sangat bingung. Ia tidak ingat ada taman seluas dan seindah ini di WOSA. Alesha mulai berjalan. Kakinya melangkah di atas rumput halus, dress putihnya menyapu rerumputan itu.


Alesha terus berjalan hingga menemukan sebuah pohon besar yang rindang. Dipohon itu ada ayunan indah yang talinya terbuat dari akar dan dihiasi bunga. Alesha mendekati ayunan itu. Ia berpikir kalau ayunan itu akan aman-aman saja jika ia naiki. Alesha duduk dan mulai berayun.


Seekor tupai yang membawa  kacang tiba-tiba saja mendekati Alesha. Alesha mengerutkan keningnya. Tupai itu naik kepangkuan Alesha lalu menatap Alesha. Alesha tersenyum. Tupai itu juga tersenyum pada Alesha. Alesha mengelus lembut bulu tupai itu. Sesaat kemudian tupai itu loncat dari pangkuan Alesha. Alesha terkejut lalu berlari mengikuti tupai itu.


Hingga sampailah Alesha disuatu tempat dimana ada hamparan bunga yang luasnya sejauh mata memandang. Diantara hamparan bunga itu ada sebuah jalan setapak. Alesha berjalan dijalan setapak itu sambil menyentuh bunga-bunga yang ia lewati.


"Aww.." Pekik Alesha. Ia melihat ke arah kakinya. Ternyata tupai yang tadi. Tupai itu membawa beberapa ekor tupai lain.


Tupai-tupai itu menatap pada Alesha. Alesha tersenyum lagi. Namun seekor tupai menatap ke arah Alesha seperti memberi sebuah isyarat. Alesha mengerutkan keningnya. Tupai-tupai itu segera berlari meninggalkan Alesha. Alesha juga jadi ikut berlari mengikuti tupai-tupai itu. Disaat ia sedang berlari tiba-tiba saja sebuah ranting pohon mengait didressnya. Alesha terjatuh. Tupai-tupai yang sedang berlari itu segera berhenti dan menatap ke arah Alesha. Alesha segera bangkit lagi. Ia kembali berlari mengikuti tupai-tupai yang ada didepannya.


Alesha terus berlari hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas. Alesha berhenti sejenak untuk melepas letihnya. Setelah beberapa menit, Alesha kembali berlari. Entah ia berlari kemana dan sudah seberapa jauh ia berlari, Alesha tetap tidak berhenti. Ia memandang sekelilingnya dengan kagum. Setiap bunga yang ia lewati seperti menyambutnya. Angin juga begitu sejuk dan berhembus dengan damai. Alesha merentangkan tangannya sambil tersenyum. Entah kenapa hatinya merasa sangat bahagia, namun Alesha sedikit takut karna ia belum menemukan seseorang.


Alesha akhirnya berhenti didepan sebuah pohon jambu air. Tupai-tupai itu menatap ke arah Alesha lalu menatap ke arah jambu air yang menggantung disetiap ranting pohon.


Oh jadi tupai-tupai itu minta untuk diambilkan jambu di atas ya. Kenapa tidak ambil sendiri? Pikir Alesha.


Alesha segera mendekati pohon itu dan mulai memanjat. Alesha sedikit kesusahan karna dressnya yang panjang membuatnya kagok untuk memanjat. Alesha meraih sebuah ranting pohon kemudian perlahan beralih untuk berdiri diranting pohon itu. Tupai-tupai di bawah sudah melihat pada Alesha dari tadi. Alesha mendengus. Ia segera mencabut semua jambu air yang bisa ia capai. Jambu air dipohon itu sangat bagus. Berwarna merah cerah dan tidak ada yang cacat. Setelah dirasa cukup, akhirnya Alesha berhenti mencabut jambu yang ada dipohon itu.


Alesha menatap ke bawah dan mengerutkan keningnya. Tupai-tupai itu sudah pergi bersama dengan jambu yang tadi sudah Alesha petikan. Mereka pergi begitu saja meninggalkan Alesha sendiri di atas pohon. Alesha mendengus. Sekarang ia malah bingung bagaimana caranya untuk turun.


Alesha mencoba mencari akal. Pelan-pelan ia meraih ranting kayu lain untuk dijadikan pegangan. Namun perhitungannya salah. Alesha terpeleset.


"Kyaaaaa.." Alesha kaget saat tiba-tiba saja kakinya kehilangan pijakan. Dengan sigap Alesha segera meraih ranting pohon yang ada didekatnya. Alesha bergelantungan di atas pohon dengan ketinggian sekitar lima meter, dan sayangnya tangan Alesha tidak bisa lebih lama menahan berat badannya. Tangan Alesha mengendur dan terlepas begitu saja dari batang pohon. Alesha terjatuh ke tanah.


"Aduhh.." Pekik Alesha. Ia memegang punggungnya yang terasa sangat sakit. Alesha meringgis. Ia mengelus-elus kakinya yang tadi menjadi tumpuan saat ia terjatuh.


"Alesha." Seseorang memanggil Alesha sambil mengulurkan tangannya. Kemudian Alesha mendongkak untuk menatap orang yang memanggilnya itu. Seorang wanita cantik berkerudung yang wajahnya tidak asing.


Mata Alesha membulat seketika.


"Umi.." Panggil Alesha. Wanita itu tersenyum pada Alesha. Alesha bangkit lalu memeluk wanita yang tidak lain adalah ibu Alesha. Alesha menangis. Ia sangat rindu dengan uminya itu.


Selang beberapa menit seorang lelaki mendekat dan menyentuh pundak Alesha. Alesha menatap pada lelaki itu. Tangisnya semakin menjadi-jadi saat menyadari kalau lelaki itu adalah ayahnya. Alesha langsung memeluk ayah dan uminya sekaligus.


"Alesha kangen." Tangis Alesha. "Jangan tinggalin Alesha lagi. "Umi dan ayah Alesha hanya tersenyum dan membiarkan Alesha untuk terus memeluk dan melepas semua kerinduannya. Alesha menangis sejadi-jadinya. Ia sangat bersyukur Allah sudah mempertemukannya dengan orang tuanya. Alesha tidak mau berpisah lagi. Ia ingin terus berada ditempat itu agar bisa bersama dengan orang tuanya lagi.


Ibunya Alesha melepaskan pelukan itu, dan Alesha masih menangis sesegukan. Ibu Alesha segera menghapus air mata putrinya yang sangat ia rindukan itu. Ia tersenyum pada Alesha.


"Kau sangat cantik sekarang." Puji ibu Alesha.


"Cantik juga hatinya." Sambung ayah Alesha.


"Kami merindukanmu, sayang." Ibu Alesha mengelus rambut Alesha dengan penuh kasih sayang.


"Semoga kita bisa cepat berkumpul ya, terus minta dan berdoalah pada Allah agar kita bisa bersama." Ucap ibu Alesha.


"Apa? Tapi kita sudah bersama sekarang. Apa kita akan berpisah lagi?" Tanya Alesha dengan wajah sedikit panik. Ibu dan ayah Alesha hanya tersenyum. Alesha memegang tangan ibu dan ayahnya dengan sangat erat. Seolah tidak mau melepas lagi karna takut akan berpisah.


"Aku tidak mau kehilangan kalian lagi, aku ingin bersama kalian terus." Alesha kembali menangis.


"Tenanglah, kita akan berkumpul lagi saat waktunya sudah tepat." Ucap ibu Alesha dengan lembut.


Tiba-tiba saja seseorang dari belakang menepuk bahu Alesha. Alesha berbalik. Lelaki itu seperti tidak asing, namun Alesha menjadi bingung. Alesha menatap balik keorang tuanya. Air matanya terus menetes. Jantungnya berdegub kencang. Ayah dan ibu Alesha melepaskan genggaman tangan Alesha dengan mudahnya, padahal Alesha sudah sekuat mungkin menggenggam tangan kedua orang tuanya itu.


Lelaki yang tadi menepuk bahu Alesha, sekarang ia mengambil alih tangan Alesha dan membawa Alesha pergi. Lelaki itu tersenyum pada Alesha.


"Kau harus kembali." Ucap lelaki itu dengan lembut.


"Tidak!!!" Alesha meronta. Tiba-tiba tubuhnya bergerak menjauh dari kedua orang tuanya, padahal Alesha tidak merasa kalau ia sedang berjalan mundur. Alesha menatap kedua orang tuanya yang sudah semakin jauh dan semakin memudar.


Alesha menangis melihat orang tuanya yang kini pergi lagi. Alesha baru saja bertemu. Kenapa harus seperti ini? Batin Alesha serasa hancur.


Lelaki yang menggenggam tangan Alesha kini menatap Alesha dengan tatapan lembut dan senyuman hangat. Lelaki itu kemudian menutup kedua mata Alesha dengan telapak tangannya hingga kegelapan menghampiri Alesha lagi*.


***


"Dok, detak jantung pasien semakin kencang." Ucap seorang perawat.


Saat ini para perawat dan seorang dokter sedang sibuk dan dibuat panik karna secara tiba-tiba detak jantung Alesha berdetak begitu kencang. Alesha bisa terkena serangan jantung jika dibiarkan saja. Padahal sebelumnya kondisi Alesha sudah mulai membaik sejak ia mendapatkan suplai tiga kantung darah yang dibutuhkan tubuhnya.


Mr. Frank sudah berhasil mendapatkan darah golongan AB dan segera mengirimnya ke rumah sakit tempat Alesha dirawat. Alesha mengalami koma selama dua hari dan itu membuat Jacob dan Levin frustasi, meski dokter bilang kondisi Alesha kian membaik. Dan sekarang, semua yang di ruangan itu dibuat panik lagi oleh kondisi Alesha yang berubah drastis. Dokter, para perawat, Levin, dan Jacob sempat dibuat bingung saat melihat mata Alesha yang mengeluarkan air mata. Jacob segera mendekati Alesha dan terus berbisik ditelinga Alesha.


"Kembalilah, kau harus bangun." Bisik Jacob dengan lirih. "Kau gadis pemberani dan kuat, kau harus kembali."


Ketegangan terjadi di ruangan itu selama hampir setengah jam. Hingga pada akhirnya dokter dan para perawat berhasil membantu untuk menormalkan kembali detak jantung Alesha.


Dokter dan para perawat itu bernafas lega. Kondisi Alesha sedikit demi sedikit kembali normal.


"Cek tekanan darahnya!" Perintah sang dokter. Seorang perawat mengangguk lalu segera melakukan apa yang dokternya perintahkan.


"Dok, bagaimana?" Tanya Levin.


"Detak jantungnya kembali normal, kondisinya mulai pulih kembali." Jawab Dokter.


"Seratus sepuluh per tujuh puluh, Dok." Ucap perawat yang memeriksa tekanan darah Alesha. Dokter itu mengangguk.


"Saya juga bingung, kondisi pasien sudah membaik sebelumnya, namun secara tiba-tiba detak jantungnya menjadi berdetak begitu kencang." Jawab dokter sambil memandang bingung ke arah Alesha.


Jacob memandang wajah Alesha. "Apa yang terjadi padamu?"


Jacob menunduk. Ia bisa merasakan hembusan nafas Alesha dengan jarak yang lumayan dekat. Jacob terdiam. Ia terus memegang tangan Alesha yang berkeringat dingin. Keheningan menghampiri ruangan itu selama beberapa saat. Jacob merasakan nafas Alesha yang mulai teratur kembali. Hingga beberapa detik setelah itu Jacob merasakan satu gerakan ditangannya. Jacob menatap ke arah tangannya yang sedang memegangi tangan Alesha. Beberapa detik kemudian Jacob merasakan gerakan itu lagi. Jacob menatap ke arah tangannya. Ia mendapatkan jari Alesha yang bergerak pelan.


Jacob menatap pada Alesha dan jari Alesha bergerak lagi, namun dengan gerakan yang lebih jelas.


"Alesha?" Panggil Jacob pelan.


Perlahan Alesha membuka sedikit matanya, lalu menutup kembali.


"Alesha?" Panggil Jacob lagi. Levin, dokter, dan para perawat menatap ke arah Jacob saat mendengar suara Jacob yang memanggil nama Alesha.


Mata Alesha masih tertutup, namun Alesha bergumam sangat pelan.


"Umi, bapak." Ucap Alesha lirih. Mungkin hanya Jacob saja yang bisa mendengar itu.


Seorang perawat mendekat. Ia melihat Alesha yang perlahan membuka matanya.


"Dok, sepertinya pasien sadar." Ucap perawat itu.


"Umi, bapak." Ucap Alesha lagi dengan lemas, namun kali ini semua orang yang ada di ruangan itu bisa mendengarnya.


"Alesha." Panggil Jacob. Alesha mengedipkan matanya. Ia menyesuaikan cahaya yang saat itu masuk ke dalam matanya. Alesha menatap sekelilingnya dan mendapati Jacob, Levin, dokter, dan beberapa perawat sedang menatap kearahnya.


Air mata Alesha mulai turun mengalir melewati pipinya yang pucat. Ia mulai menangis. Alesha sadar ia ada dimana sekarang. Jacob panik, dokter bersama para perawatnya segera mengecek kondisi tubuh Alesha lagi.


"Aku ingin kembali." Ucap Alesha lirih disela-sela tangisnya.


"Kau sudah kembali, Alesha." Balas Jacob.


"Tidak. Aku ingin kembali keorang tuaku." Ucap Alesha. Jacob merasa kebingungan. Ia paham tidak paham tentang ucapan Alesha barusan.


"Aku bertemu mereka, aku ingin ikut bersama mereka." Ucap Alesha yang mulai meronta.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" Tanya Levin.


"Dia baik-baik saja." Jawab sang dokter.


"Tidak! Aku tidak baik-baik saja!" Alesha mulai meronta. Ia tiba-tiba bangun dan membuat Jacob terkejut. Alesha berusaha untuk mencopot alat uap yang membantunya untuk bernafas, serta selang impusan yang ada ditangannya. Dengan sigap Jacob segera menahan tangan Alesha.


"Apa yang kau lakukan!" Bentak Jacob.


"Lepas!" Bentak balik Alesha yang terus meronta. Levin dan beberapa perawat membantu menahan tangan Alesha agar tidak bergerak.


Alesha terus menangis dan ia tidak kehilangan akal. Alesha menjedotkan kepalanya kedinding belakang. Jacob kaget. Ia segera menahan kepala Alesha dan membawa Alesha pada pelukannya.


"AKU INGIN KEMBALI KEORANG TUAKU! KALIAN TIDAK MENGERTI! AKU BERTEMU MEREKA! AKU INGIN IKUT BERSAMA MEREKA!" Teriak Alesha dalam pelukan Jacob.


"Jangan tahan aku! Biarkan aku kembali ke orang tuaku." Lanjut Alesha sambil menangis sesegukan.


Semua orang yang ada di ruangan itu menatap prihatin pada Alesha.


"Biarkan aku bersama dengan orang tuaku." Alesha mulai berhenti meronta. Alesha merasa tubuhnya mulai lemas. Tubuhnya bergetar.


"Aku ingin kembali pada orang tuaku, Mr. Jacob." Alesha membalas pelukan Jacob. Ia terus menangis. "Aku baru saja bertemu dengan mereka, aku merindukan mereka."


Jacob menghela nafasnya. "Kau akan bertemu dengan mereka suatu saat, Al."


"Aku ingin sekarang." Balas Alesha lirih. Jacob tidak membalas. Alesha terus saja sesegukan. Hatinya masih ada di tempat itu, tempat ia bertemu dengan orang tuanya.


"Mr. Jacob, aku merindukan mereka."


Jacob hanya mengangguk. Jacob tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa sangat sedih melihat Alesha yang menangis seperti itu didalam pelukannya.


Alesha melepaskan pelukan Jacob. Ia memandang semua orang yang ada di ruangan itu.


"Berapa lama aku pingsan?" Tanya Alesha. "Bisa kalian buat aku pingsan lebih lama lagi agar aku bisa kembali ke tempat itu dan bertemu dengan orang tuaku lagi?"


Dokter dan para perawat seketika kaget mendengar ucapan Alesha.


"Jangan bilang seperti itu, Al. Kau tau, kami semua di sini berusaha semaksimal mungkin agar kau bisa pulih." Ucap Jacob sambil menangkup dan memandang wajah Alesha.


Alesha menunduk. Ia terdiam sesaat. "Maaf.." Ucap Alesha dengan lirih.


Jacob menghela nafasnya. "Sudah, tidak apa-apa. Sekarang lebih baik kau berbaring dan biarkan dokter mengecek tubuhmu lagi." Ucap Jacob. Alesha menangguk. Ia kembali berbaring. Tubuhnya terasa sangat lemas dan ringan.


Dokter dan para perawat mengecek kondisi Alesha sekali lagi. Mereka cukup tenang karna kondisi Alesha lebih baik dari sebelumnya. Alesha meringgis menahan pusing dikepalanya saat dokter itu menyuntikan cairan kedalam impusannya.


Alesha merasa sangat pusing dan kepalanya serasa diputar.


"Tenang saja, saya baru menyuntikan obat tidur, dia akan tidur dalam beberapa jam agar proses pemulihan tubuhnya berlangsung lebih cepat dan mudah." Ucap dokter itu pada Jacob dan Levin.


Jacob dan Levin mengangguk.


"Kalau terjadi sesuatu segera kabari saya." Ucap sang dokter dan segera pamit lalu pergi meninggalkan ruangan itu.