May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kembali Berkorban II



"Mr. Jacob!!"


Jacob menatap ke arah gadisnya. Senyum simpul sempat terukir ketika melihat wajah Alesha yang tetap terlihat manis walau pun terus dialiri oleh air mata.


"Hiks, maaf..." Alesha menundukkan wajahnya. Ia sama sekali tidak henti-hentinya menangis. Bagaimana bisa berhenti? Hati Alesha begitu merintih dan seperti dihujani oleh banyaknya anak panah tajam. Alesha sudah pasrah, ia tidak mampu melihat tubuh mentornya yang terbaring lemah. Alesha merasa sangat bersalah dan menyesal.


"Maaf, Mr. Jacob, aku selalu merepotkanmu." Rintih Alesha.


Jacob sangat tidak tega ketika melihat yang Alesha terus-menerus menangis hingga suaranya habis dan menjadi serak.


"Lepaskan Alesha, majulah dan hadapi aku." Tantang Jacob yang kembali mengemas dengan rapih energi dan kekuatannya agar bisa menghajar lelaki yang kini sedang menahan gadisnya. "Aku muak denganmu, kau terus saja mengganggu Alesha, padahal kau tahu kalau Alesha tidak bersalah sama sekali." Jacob menghapus noda darah yang berada pada sudut bibirnya.


"Alesha harus membayar semuanya!" Balas Mack.


"Apa masih tidak cukup untukmu membunuh orang tuanya?!" Jacob meninggikan nada suaranya. "Apa lagi maumu? Jangan jadikan gadis itu sebagai sasaranmu berikutnya, dia tidak mengetahui apapun, dia tidak bersalah, Mack!" Bentak Jacob.


Mack pun menggeram. Emosinya sudah siap untuk segera diledakkan. Malam ini, tepatnya beberapa menit lagi, Mack akan memastikan kalau Jacob, musuhnya itu tidak akan mampu untuk berkata apapun, Mack sudah sangat tidak sabar untuk mengantarkan Jacob menuju dunia lain.


"Tidak!" Alesha berusaha menahan lengan Mack agar tidak maju dan menghadapi mentornya. Alesha sudah tidak mau melihat Jacob bertarung lagi, sudah cukup Alesha melihat Jacob yang tersiksa dengan banyaknya pukulan dan tonjokkan demi bisa menyelamatkan Alesha.


"Kumohon, silahkan bunuh aku jika itu maumu, tapi biarkan Mr. Jacob pergi, ia tidak bersalah." Alesha berlutut dan memeluk kaki Mack. Memohon seperti seorang budak yang tidak berdaya.


"Lepaskan dia, Alesha, aku akan menghabisinya malam ini juga. Aku tidak ingin lagi ada seseorang yang terus mengincarmu hanya untuk membalaskan dendam yang tidak seharusnya kau terima!" Perintah Jacob.


"Tidak, aku tidak mau terus melibatkanmu, ini masalahku, kau tidak seharusnya ada di sini dan bertarung demiku tadi, pergilah." Balas Alesha yang masih memeluk kaki Mack.


"Cukup dramanya!" Mack menendang Alesha hingga membuat Alesha tersungkur.


"Mack! Kau benar-benar membuatku marah, kali ini aku pastikan kalau ajalmu akan segera menjemputmu!" Bentak Jacob. Ia sungguh tidak terima melihat gadisnya yang diperlakukan seperti tadi oleh Mack.


"Ajalmu yang akan segera menghampirimu!" Mack mengeluarkan pisau kecilnya yang tadi ia gunakan untuk mengancam Alesha.


"Tidak, cukup!!" Alesha ingin bangkit, namun tubuhnya tidak memberikan dorongan atau dukungan apapun.


Dengan penuh emosi, Mack segera menghantamkan pisau belatinya ke arah Jacob. Menyadari ada sebuah pisau yang sedang terarah kepadanya, Jacob pun segera menghindar dengan gerakan kilat.


"Kau harus mati malam ini! Dan SIO akan kehilangan salah satu agent terbaiknya!" Mack menyeringai licik. Ia pun kembali memberikan serangan pada Jacob.


"Kau salah!" Balas Jacob sembari menghindari serangan Mack. "Tapi kau yang harus mati agar dunia ini bisa kehilangan satu lagi penduduknya yang tidak berguna sepertimu!" Balas Jacob dan mulai maju menyerang Mack.


Dengan berani, Jacob pun mendaratkan sebuah bogem mentah tepat pada urat nadi yang terletak dileher milik Mack. Sesaat, Mack merasa kesulitan untuk bernapas karna Jacob berhasil mengenai titik lemahnya. Melihat sebuah peluang, Jacob pun tidak mau menyia-nyiakan itu. Ia kembali menghantami Mack dengan banyaknya pukulan-pukulan matang yang mendarat pada perut dan wajah Mack.


"Mr. Jacob, awas!!" Pekik Alesha ketika ia melihat tangan Mack yang memegang pisau melesat cepat ke arah Jacob.


Dengan instingnya yang kuat, Jacob pun berhasil menghindar diwaktu yang tepat. Nyaris saja pisau itu merobek punggungnya, namun syukurnya hal itu tidak terjadi. Pertarungan sengit pun kembali berlanjut saat Jacob dan Mack saling menjual beli pukulan yang dibayar mahal oleh trik dan teknik matang untuk dapat menghindar.


"Menyerahlah, Jack!" Mack memutar pisaunya dengan cepat menggunakan trik yang sudah dihapal oleh jemarinya.


"Tidak akan pernah!" Balas Jacob.


"Kau sudah kelelahan dan kekurangan banyak tenaga, kau tidak akan menang." Mack tersenyum licik. Ia dapat merasakan tubuh Jacob yang mulai lemah karna kehilangan banyak tenaga.


Jacob pun merasakan hal yang sama. Ia sadar dengan tenaganya yang kini semakin melemah. Lelah? Pastinya. Nyeri diseluruh tubuh? Sudah tidak Jacob pikirkan. Jacob tetap menahan posisinya. Ia tidak boleh kehilangan keseimbangan dan harus tetap fokus, lawan yang ada dihadapannya kini masih memiliki tenaga dan energi yang utuh. Jacob bisa saja terkalahkan jika ia lengah sedikit saja.


"Maaf, Mr. Jacob, Alesha minta maaf, ini salah Alesha, maafin Alesha.." Ucap Alesha yang mulai berhenti menangis namun tergantikan dengan suara yang serak dan begitu lemah. Alesha merasa kelelahan karna terus menangis, tenggorokannya sakit, tubuhnya bergetar hebat, dan suaranya hampir habis. Alesha juga sama sekali tidak bisa bergerak dari posisinya, ia tidak memiliki cukup tenaga untuk bisa bangun dan membantu mentornya.


Ucapan Alesha tadi seolah menjadi energi baru untuk Jacob. Semua yang Jacob lakukan kali ini, semua pengorbanan yang harus Jacob terima kali ini adalah untuk Alesha. Jacob ikhlas, ia benar-benar ikhlas menjalankan ini semua agar Alesha bisa selamat. Jacob akan melakukan apapun agar Alesha tetap aman dalam genggamannya.


Jacob menarik napasnya dan kembali mengumpulkan energinya. Ditatapnya tajam-tajam wajah Mack. Dalam kepalanya, Jacob sedang memikirkan sebuah strategi yang dapat membuat Mack menerima kekalahannya.


"Cukup..." Ucap Alesha yang sudah pasrah ketika melihat Jacob yang sedang mengumpulkan energi untuk dapat kembali menyerang Mack.


"Ini akan menjadi yang terakhir, Mack. Ada kata terakhir yang ingin kau katakan sebelum kau meninggalkan dunia ini?" Jacob menyeringai licik.


"Kau akan mati setelah ini, Jacob Ridle." Balas Mack yang juga membentuk smirk liciknya.


"Baiklah, kita akan bertarung hingga salah satu dari kita ada yang mati!" Ucap Jacob dengan datar namun begitu dalam dan menakutkan.


"Tidak!" Alesha kembali menangis setelah mendengar ucapan mentornya barusan. Pertarungan sampai salah satu dari kedua lelaki itu ada yang mati? Ayolah, Alesha tidak mau suasana bertambah buruk. Alesha benar-benar lelah karna terus menangis, namun sangat disayangkan karna kata-kata mentornya barusan malah sukses mengalirkan lebih banyak air mata lagi pada wajah Alesha.


Pertarungan kembali berlanjut setelah ada jeda selama beberapa saat. Alesha sudah mengungkapkan semua isi hatinya, namun tenggorokannya tidak memberikan kuota lebih padanya agar bisa mengeluarkan suara.


Jacob menghiraukan Alesha yang terus saja menangis, ia hanya memfokuskan dirinya agar bisa segera melenyapkan parasit dunia yang kini sedang bertarung dengannya. Beberapa pukulan berhasil mendarat pada perut Jacob, dan beberapa kali pula Mack menghantamkan tubuh Jacob pada batang pohon yang kokoh.


Perbuatan Mack itu membuat kepala Jacob berputar hingga ada beberapa kunang-kunang yang menari-nari dihadapan mata Jacob. Mack yang menyadari kalau lawannya itu sudah hampir kehilangan kesadarannya segera memanfaatkan peluang yang ada.


"Mr. Jacob!" Teriak Alesha dengan suara serak ketika melihat tubuh mentornya yang dihempaskan ketanah dengan sangat mudah oleh Mack.


Jacob menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum tangannya terangkat untuk menahan ujung lengan Mack yang sudah tergumpal keras. Dengan sekali gerakan, Jacob mampu mendorong tubuh Mack agar menjauh dari tubuhnya.


Mack menggeram saat tubuhnya sedikit terpental akibat Jacob yang mendorongnya. Vincent benar, Jacob tidak mudah untuk dikalahkan, dan hebatnya lagi Jacob masih mampu menahan setiap serangan walau tubuhnya sudah bisa dikatakan tidak berdaya.


Mack pun tidak mau banyak berpikir, ia bangkit secepat mungkin lalu menekan dada Jacob menggunakan telapak kakinya.


"Tidak! Aku yang mati!" Balas Mack. "Atau dia yang mati!" Mack semakin menekankan telapak kakinya pada dada Jacob.


Mata Jacob membulat dan jalan napasnya terhambat. Dadanya begitu sesak dan sakit ketika kaki Mack menghantamnya. Dengan semua tenaga yang tersisa, Jacob pun mengangkat lengannya dan berusaha sekuat mungkin untuk dapat mengangkat kaki Mack dari atas dadanya.


"Aarrgghhhhh..." Erang Jacob saat ia berusaha untuk melepaskan dadanya dari tahanan kaki kotor Mack. Urat disekitaran leher Jacob pun sampai mengeras dan dapat terlihat dengan jelas.


"Jacob!" Bentak Mack ketika tubuhnya terhempas kembali untuk yang kedua kali. Jacob benar-benar tidak bisa diremehkan, kekuatannya sungguh besar melebihi yang Mack kira.


Jacob pun segera memaksakan tubuhnya untuk kembali bangkit. Walau sudah sangat lemah dan tidak berdaya, Jacob masih harus berusaha demi Alesha, demi bisa menjaga gadisnya dari manusia jahat seperti Mack.


"Cukup bermain-mainnya, ini akan menjadi akhir, Jack!" Ucap Mack dengan penuh emosi.


Mack pun maju dan menghunuskan pisaunya ke arah Jacob. Tidak ada hindaran atau gerakan yang Jacob lakukan, ia sudah terlanjur lelah jika harus menghindar dari Mack. Jadi, Jacob pun tetap membiarkan Mack melancarkan aksi terakhirnya itu.


Setelah beberapa langkah yang sudah Mack ambil, dengan sekali gerakan dan kecepatan yang sangat tinggi yang didorong oleh lengannya, akhirnya ia pun sukses menancapkan pisaunya pada titik yang paling tepat.


"Aarrgghhhhh..." Sebuah erangan kesakitan pun tidak bisa luput. Darah mulai dimuntahkan dari dalam mulut setelah pisau belati itu menancap tepat pada ulu hati.


Hening....


Deru angin di tengah hutan memburu dan menggoyangkan setiap daun dan ranting pohon yang menggantung.


"Mr. Jacob!!!!!" Teriak Alesha dengan sangat kencang saat melihat Mack yang berhasil menancapkan pisaunya pada tubuh sang mentor. Hati Alesha hancur berkeping-keping, tubuhnya lemas tidak berdaya, detak jantungnya seakan berhenti ketika menyaksikan peristiwa mengenaskan dihadapannya barusan. Air mata deras dan tangisan kencang dari Alesha pun menjadi melodi pengantar dari akhir pertarungan sengit yang sangat menguras banyak tenaga. Pengorbanan sang mentor yang berjuang mati-matian demi melindungi anggota timnya. Alesha tidak akan pernah melupakan hal itu. Jacob adalah lelaki terbaik dalam hidup Alesha setelah ayahnya. Betapa rapuhnya diri Alesha saat membayangkan bagaimana jadinya jika mentornya itu meninggalkannya? Alesha tidak mau sampai hal itu terjadi, Alesha ingin hanya Jacob saja yang menjadi mentornya, dan tidak digantikan oleh yang lain.


"Tidak.. Mr. Jacob!!" Rintihan tangis Alesha yang begitu mendalam membuat rasa sesak dalam dada gadis itu sendiri.


"Senang bisa melatih kembali kemampuanku bersamamu." Ucap Jacob dengan seringai kemenangannya. Lengan Jacob berhasil menahan lengan Mack pada waktu yang sangat tepat lalu membelokkannya hingga tusukan pisau belati itu berbalik pada diri Mack sendiri.


Senjata makan tuan, itu istilah yang tepat untuk Mack saat ini.


"Selamat tinggal." Bisik Jacob sambil memperdalam tusukan pisau belati itu hingga mencapai tulang punggung Mack.


"Aaarrgghh.." Darah kembali bersembur dari dalam mulut Mack.


Jacob mundur beberapa langkah agar menjauhkan tubuhnya dari tubuh Mack hingga membuat tubuh Mack kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh begitu saja ketanah.


Alesha terlonjak kaget, kedua matanya membulat sempurna. Ternyata ia salah, mentornya itu tidak mengalami apapun, dan malah Mack yang menjadi korban dari senjatanya sendiri. Alesha tidak percaya, ia benar-benar syok. Bagaimana mungkin Jacob bisa selamat? Jelas-jelas tadi Alesha melihat sendiri kalau Mack menghunuskan pisaunya ke arah Jacob. Wajah Alesha pucat pasi, tubuhnya sudah sangat lemas dan tidak dapat bergerak. Alesha benar-benar bersyukur karna mentornya itu selamat, dan berhasil mengalahkan semua lawannya, tapi disisi lain Alesha masih tidak percaya, bagaimana bisa mentornya itu membalikkan pisaunya hingga berbalik menusuk tubuh Mack?


"Alesha.." Dengan langkah yang tertatih, Jacob pun mendekati Alesha yang saat ini sedang terdiam bungkam dan terlihat begitu syok. Jacob tahu, Alesha pasti kaget saat menyadari kalau pisau itu malah balik menusuk pada tubuh Mack.


"Alesha.." Jacob berlutut dan menangkup wajah Alesha. Tatapan mereka pun saling bertemu. Jacob memperhatikan dan sekalian memastikan bahwa Alesha tidak terluka sama sekali, sedangkan Alesha, ia menatap mentornya dengan tatapan datar dan kosong.


"Alesha, aku sangat khawatir." Jacob pun segera membawa Alesha pada pelukannya. Mendekap Alesha dengan sangat erat.


"Mr. Jacob.." Panggil Alesha dengan pelan dan bergetar.


"Aku baik-baik saja, Al, kau lihat, aku baik-baik saja, tenanglah." Jacob mengelus punggung Alesha. Walau saat ini rasa lelah dan letih sudah menguasai seluruh tubuhnya, tapi Jacob tetap enggan melepaskan pelukannya pada Alesha.


"Hey, tatap aku, aku baik-baik saja, tenanglah. Kau aman sekarang, orang yang selama ini mengincarmu sudah mati, dan kau tidak perlu takut lagi." Jacob menatap mata Alesha dan berucap dengan sangat lembut agar membuat Alesha menjadi tenang.


"Maaf.." Lirih Alesha seraya mengalungkan lengannya pada leher Jacob. "Maaf, Alesha selalu saja merepotkan Mr. Jacob, Alesha selalu bikin susah Mr. Jacob, Alesha minta maaf." Tangis Alesha kembali pecah dalam pelukan mentornya.


Jacob menghela napas dengan tenang. Ia sangat bahagia saat Alesha memeluk tubuhnya, rasanya seperti energi baru kembali mengisi tubuh Jacob.


"Alesha baru tahu kalau Mr. Jacob itu sampai segitunya dalam menjaga Alesha. Makasih, makasih banyak, Mr. Jacob." Alesha mempererat pelukannya.


"Aku senang bisa menjagamu, aku senang bisa melindungimu dari ancaman orang-orang jahat seperti Mack." Balas Jacob sambil mengelus kepala Alesha hingga turun sampai punggung Alesha.


"Kenapa? Kenapa kau sangat baik dengan Alesha?" Alesha menyandarkan dagunya pada bahu lebar Jacob.


"Ini adalah tugas dan kewajibanku." Jawab Jacob.


Aku yang akan bertanggung jawab untuk hidupmu setelah ini, Alesha..... Lanjut Jacob dalam hati.


"Terima kasih banyak, Mr. Jacob, terima kasih banyak untuk semua kebaikan yang sudah kau lakukan padaku. Aku tidak akan pernah melupakan itu, aku sangat beruntung ada kau disisiku." Alesha menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher Jacob.


"Aku juga senang ada kau bersamaku, Alesha." Balas Jacob dengan pelan.


Tangan Jacob tidak henti-hentinya mengelus rambut dan punggung Alesha.


"Tidurlah, kau lelahkan?" Jacob menyandarkan tubuhnya juga tubuh Alesha pada batang pohon yang berjarak sangat dekat dengan letak posisi awal mereka.


"Kau yang kelelahan, tidurlah, aku yang akan menjagamu kali ini." Balas Alesha.


Jacob terkekeh dengan ucapan Alesha barusan. Senyuman pun kembali terukir pada wajah tampan Jacob.


"Kau harus banyak istirahat, Al, tidurlah. Aku akan tetap terjaga untuk memulihkan energiku." Ucap Jacob sambil membenamkan wajah Alesha pada lehernya. Kedua tangan Jacob meraih pinggang Alesha lalu membawanya masuk pada pelukan hangat yang sangat menenangkan.


"Mr. Jacob, bagaimana kalau masih ada yang lain?" Tanya Alesha.


"Tidak, tenang saja, mereka tidak akan datang lagi, kau tidak usah takut." Jawab Jacob sambil terus memberikan usapan lembut pada punggung Alesha.