May I Love For Twice

May I Love For Twice
LDR Part 3



Tidak perduli dengan hujan yang mengguyur lebat. Tiga pria suruhan Jacob itu langsung berlari menuju teras pertokoan tempat Alesha berada.


Melihat ada tiga pria asing yang memiliki postur tubuh tinggi besar mendekatinya, dengan sigap Alesha langsung bangun dan bersiap siaga mengambil ancang-ancang untuk menghajar jika pria-pria itu berani melakukan hal-hal buruk padanya.


"Siapa kalian?" Tegas Alesha ketika tiga pria suruhan Jacob itu mengelilinginya. Walau napasnya lumayan tersendat-sendat karna menangis, dan juga tubuh yang sudah sangat kelelahan, Alesha harus bisa menjaga dirinya dari orang-orang jahat, apalagi ia juga cukup mahir dalam hal bela diri.


"Tenang, Nona, jangan takut, kami adalah orang suruhan tuan Jacob." Ucap salah satu dari tiga pria yang menurut Alesha asing itu.


"Orang suruhan Mr. Jacob?" Ulang Alesha sembari mengerutkan keningnya.


"Ya, kami adalah anak buah Nyonya Laura, dan tuan Jacob meminta kami untuk menjaga anda, Nona."


"Apa? Mr. Jacob menyuruh kalian untuk menjagaku?" Pekik Alesha. Posisi tubuhnya masih dalam keadaan siap siaga untuk berjaga-jaga jikalau tiga pria itu berbohong dan memang memiliki niat buruk padanya.


"Ya, Nona."


Alesha terdiam sesaat. Ia berpikir dan bertanya-tanya. Benarkah tiga pria asing itu orang suruhan mentornya? Tapi kenapa juga mentornya itu menyuruh tiga pria itu untuk menjaganya? Atau mungkin saja tiga pria asing itu adalah anak buah Mack atau Vincent yang masih memburunya?


Iris mata Alesha menajam dan semakin menatapnya waspada pada tiga pria yang ada dihadapannya itu. Alesha takut, tapi ia tidak boleh ciut.


"Katakan apa mau kalian? Jangan bawa-bawa nama mentorku jika kalian memang memburuku untuk diserahkan pada tuan kalian yang jahat itu!" Ucap Alesha dengan lantang.


"Tidak, tidak, Nona. Kami memang orang suruhan tuan Jacob."


"Kami akan menghubungi tuan Jacob agar Nona percaya pada kami."


Salah satu dari tiga pria itu segera mengeluarkan ponselnya dan untuk melakukan panggilan video dengan tuan mudanya.


"Hallo, ada apa? "


Terdengar jelas suara Jacob yang berasal dari speaker ponsel itu.


"Tuan, Nona Alesha menyangka kami sebagai musuhnya."


"Apa? Dimana dia? Biarkan aku bicara dengannya."


Alesha yang tadinya bersiap siaga dan sudah mengambil ancang-ancang, kini ia kembali memposisikan tubuhnya


"Mr. Jacob.." Lirih Alesha ketika salah satu dari tiga pria itu menyerahkan ponsel yang sedang terhubung panggilan video dengan Jacob.


"Alesha, ya ampun. Aku berusaha untuk menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif." Ucap Jacob penuh kepanikan. Lega iya, sedih iya. Jacob senang bisa melihat wajah gadis kesayangannya walau hanya melalui panggilan video, tapi ia juga sedih setelah mengetahuinya kondisi yang sedang dialami oleh Alesha.


"Ponselku mati karna habis daya baterainya, maaf. "


"Ya sudah, tidak apa-apa. Sekarang kau ikuti tiga pria itu. Mereka akan membawamu ke apartemen agar kau bisa beristirahat di sana."


Tunggu dulu...


Alesha merasa seperti ada yang aneh. Jacob menyuruhnya untuk beristirahat di apartemen. Apa mentornya itu tidak berpikir kalau Alesha pulang ke rumahnya, atau jangan-jangan mentornya itu tahu kalau Alesha sudah tidak memiliki tempat tinggal.


Tatapan Alesha pun beralih pada sosok tiga pria dihadapannya. Ia kembalik berpikir, mungkin tiga pria itu mengikutinya sejak tadi dan menguping pembicaraannya dengan bu Salma.


"Alesha, jangan banyak berpikir. Patuhi ucapanku! Kau tidak usah risau tentang masalah apapun. Aku yang akan menjamin semuanya." Tegas Jacob.


"Tapi, Mr. Jacob, aku..."


"Tidak ada penolakan, Alesha! Aku melakukan ini karna aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpamu." Potong Jacob yang sudah menebak kalau gadisnya itu pasti akan menolak.


Memang benar, Alesha merasa tidak enak pada sikap kebaik hatian mentornya itu. Jacob terlalu sering membantunya, dan Alesha tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Bahkan Jacob pun menyuruh tiga orang pria datang jauh-jauh menuju Bandung, Indonesia hanya untuk menjaga Alesha.


Seperduli itukah Mr. Jacob sama Alesha? Ya Allah, Alesha beruntung banget sih. Mr. Jacob, makasih buat semuanya..... Ucap Alesha dalam hati.


"Mr. Jacob...." Panggil Alesha begitu lirih. Tatapan menatap sendu pada wajah sang mentor yang terpampang jelas dilayar ponsel.


"Ya...? " Balas Jacob begitu lembut.


"Aku sendirian di sini, hiks. Kakekku dipindahkan ke panti jompo yang berada di kota lain oleh bibi dan pamanku." Tanpa Alesha sadari, ia mengungkapkan kesedihan yang sedang melanda hatinya pada sang mentor.


Hati Jacob langsung merintih ketika mendengar ucapan Alesha barusan. Jacob menghela lalu menghembuskan napasnya yang seolah terasa berat. Ia turut merasakan kesedihan yang mendalam. Alesha membutuhkan seseorang yang bisa menghibur dan menemani saat ini, sedangkan Jacob sendiri tidak bisa apa-apa karna ia berada sangat amat jauh dari Alesha.


"Jangan takut, Alesha. Tiga orang suruhanku akan selalu menjaga dan juga menemanimu. Kau tidak sendirian. Jika bosan atau merasa kesepian, hubungi aku." Ucap Jacob setenang mungkin.


"Tapi aku ingin bertemu dengan kakekku. " Ucap Alesha yang dibarengi oleh isakan kecil.


"Kau bisa bertemu dengan kakekmu besok, sekarang istirahatlah. Tubuhmu pasti sudah kelelahan." Jacob berusaha untuk mengatur nada dan cara bicaranya agar bisa membuat Alesha tenang.


Ingin sekali Alesha memeluk tubuh mentornya itu sambil mengucapkan kalimat 'Terima kasih' sebanyak mungkin. Betapa beruntungnya Alesha yang bisa bertemu dengan pria sebaik mentornya. Begitu perduli dan menggantikkan peranan orang tua dan keluarganya.


"Alesha, jangan buang-buang waktumu."


"Baik. Tapi... Terima kasih, Mr. Jacob, terima kasih banyak. Kau selalu membantuku, aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Terima kasih banyak, Mr. Jacob."


"Kau tidak perlu membalas apa-apa, Alesha. Aku melakukannya karna aku sangat perduli padamu. Cukup turuti saja apa yang aku ucapkan, aku tidak ingin kau kesusahan."


Alesha tersenyum. Ia tidak akan pernah melupakan semua kebaikan dan pengorbanan mentornya itu. Alesha janji, ia akan bersikap sebaik mungkin dan berusaha untuk membantu jika Jacob sedang dilanda kesusahan.


Terima kasih banyak, Mr. Jacob...... Hanya itu yang bisa Alesha ucapkan dalam hatinya. Ia bahagia karna masih ada orang baik yang mau membantunya. Puji dan syukur harus sering Alesha panjatkan. Setiap cobaan yang menerpanya, pasti selalu ada pertolongan dari sang Maha Kuasa.


Karna udara malam semakin dingin dan hujan juga belum berhenti. Akhirnya Alesha pun dibawa kesalah satu apartemen mewah di pusat kota Bandung. Tiga pria yang kini menjadi bodyguard -nya benar-benar menjalankan perintah dengan baik. Sekarang ini, Alesha hanya tinggal merebahkan tubuhnya diatas kasur dan menikmati waktu istirahatnya di dalam kamar yang cukup luas dan sangat nyaman. Sedangkan untuk ketiga bodyguard -nya berjaga di ruang tengah.


Hidangan main course dan dessert lezat kini sudah berada tepat didepan mata Alesha. Tanpa diminta oleh Alesha, salah satu dari tiga bodyguard -nya itu memesakan makanan sesuai permintaan si tuan muda, Jacob.


Dengan lahap, Alesha langsung menyantap hidangan itu di balkon apartemen sembari menikmati waktu malam di kota kelahirannya.


"Taylor, apa yang sedang Alesha lakukan sekarang? " Tanya Jacob pada salah satu pria suruhannya melalui panggilan telepon.


"Nona Alesha sedang makan di balkon apartemen, tuan." Jawab Taylor.


"Jangan tinggalkan dia, pastikan semua kebutuhannya selama satu bulan ini tercukupi. Turuti semua permintaannya, dan kalau bisa ajak dia berjalan-jalan ke tempat rekreasi yang ada di kota itu. Buat Alesha seceria mungkin, aku tidak mau dia bersedih lagi."


"Sesuai perintahmu, tuan. Kami akan berusaha untuk menjalankan tugas sebaik mungkin dan membuat nona Alesha sebahagia mungkin. Tuan bisa mempercayai kami untuk menjaga nona Alesha."


"Terima kasih, kalau begitu saya tutup dahulu sambungan telponnya."


"Baik, tuan."


Jacob menghembuskan napasnya dengan lega. Ia bisa tenang sekarang. Alesha aman, dan semua kebutuhannya akan dipenuhi.


Sekarang ini jam sedang berhenti pada pukul 10.00 waktu Florida, Amerika Serikat.


Jacob merentangkan tubuhnya diatas kasur empuk di dalam kamarnya. Rumah besar milik sang ibunda kini hanya diisi oleh Jacob, para pelayan dan juga penjaga. Si adik perempuan, Sharon sedang bersekolah dan tidak lama lagi akan pulang.


Jacob menyunggingkan senyumnya kala ia mengingat waktu tujuh bulan yang lalu. Di rumah itu, tepatnya di dalam kamar khusus tamu, Jacob mencuri ciuman pertama Alesha tanpa sepengetahuan gadis itu.


"Permisi, tuan." Ucap seorang pelayan dari balik pintu kamar.


"Ya, masuklah." Saut Jacob.


Cekrek..


Gagang pintu ditekan dan pintu pun terbuka. Seorang pelayan wanita menunduk sembari berdiri diambang pintu.


"Nona Irene sudah sampai, dan sedang menunggu anda di ruang tamu."


"Katakan padanya aku akan segera ke sana sebentar lagi." Balas Jacob.


Pelayan itu mengangguk dan berpamit pada Jacob.


"Huh, semangat, Jacob." Ucap Jacob dengan ekspresi setengah malas.


"Hai, Irene." Sapa ramah Jacob yang membuat Irene langsung mematung di tempat.


Tidak seperti yang dibayangkan, Irene pikir Jacob akan kaku dan dingin padanya, tapi kenyataannya malah berbalik. Anak lelaki dari CEO -nya itu cukup ramah dan semakin saja memikat hati Irene.


"Pagi, tuan." Sapa balik Irene yang sedikit salah tingkah setelah mendapati Jacob duduk disofa yang berhadapan dengannya.


"Mana berkas-berkas perusahaan yang akan kau berikan?" Tanya Jacob.


"Ini, tuan." Irene menyerahkan beberapa bandel map berisi dokumen dan surat-surat perusahaan. "Berkas itu berisi data dan grafik kenaikan saham serta perencanaan pengajuan pembangunan apartemen mewah di Singapura. Beberapa clien baru mengajukan kontrak kerja sama untuk membangun kawasan industri di daerah Kalimantan, Indonesia."


"Indonesia?" Potong Jacob.


"Ya, tuan."


Jacob terdiam untuk berpikir sejenak mengenai penjelasan yang Irene katakan barusan. "Berapa persen saham yang dimiliki perusahaan ibuku dalam setiap bidang dan, cabang perusahaan?"


"Enam puluh persen untuk perusahaan mineral, empat puluh lima persen untuk pertambangan minyak bumi di kawasan Pasifik Utara, dan Nonya Laura juga sudah menambahkan sumbangan saham yang semula dua puluh persen kini menjadi sebesar dua puluh lima persen untuk organisasi SIO. Lalu untuk industri tekstil sendiri, perusahaan kita masih menjadi yang pertama dan satu-satunya menjadi pemegang saham." Terang Irene.


Jacob hanya mengganggu kecil tanda kalau semua yang Irene jelaskan sudah dapat dipahami oleh otaknya.


"Jadi, perusahaan kita sedang tidak mengalami masalahkan?" Tanya Jacob dengan santai.


"Hanya satu, tuan. Perusahaan mineral kita sedang mengembangkan pabrik baru untuk memproduksi merk minuman berenergi, namun para warga yang berada disekitaran pabrik itu menolak program CSR yang sudah perusahaan beri. Mereka merasa kurang puas dan masih meminta jatah lebih, tuan."


Jacob menghembuskan napasnya dengan sabar. Ia lebih memilih untuk berhadapan dengan musuh dan saling menjual belikan pukulan ketimbang harus beradu mulut dan argumen dengan para warga.


"Sudah dilakukan negosiasi?" Tanya Jacob lagi.


"Sedang dilakukan, tuan." Jawab Irene.


"Jadi untuk rapat besok kita akan membahas mengenai pengalihan kepemimpinan untuk sementara waktu, lalu program perencana pembangunan apartemen mewah di Singapura, dan juga program CSR di sekitaran pabrik pengolah minuman berenergi?"


"Tambahan satu lagi, tuan. Beberapa clien baru yang mengajak kerja sama untuk mengembangkan kawasan industri di Kalimantan, Indonesia meminta agar anda bisa segera membicarakan mengenai hal ini dengan mereka."


"Sudah kau buatkan jadwalnya?"


"Besok pukul satu siang setelah rapat bersama para petinggi perusahaan selesai, tuan."


"Huftttt. Baiklah."


***


Seperti biasanya, waktu berjalan cepat, dan hari telah berganti. Jacob yang kini sudah sampai disebuah gedung perkantoran berlantai lima itu segera berjalan menghampiri pintu masuk berbahan kaca tebal yang sudah terbuka lebar.


Irene yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan tuan mudanya, kini memamerkan senyum menawan sebagai sambutan hangat.


"Selamat datang, tuan Jacob." Sapa Irene dengan sangat ramah.


"Terima kasih, Irene." Balas Jacob yang melemparkan senyuman menawan pula pada sekretaris mudanya itu.


"Mari, saya akan antar menuju ruangan anda, tuan."


Jacob mengangguk dan segera berjalan dengan mengikuti Irene. Setibanya Jacob di ruangan yang sangat luas tempat para pegawai menjalankan tugasnya, ia langsung menjadi pusat perhatian dari banyak pasang mata yang ada di ruangan itu.


"Apa dia anak dari Nyonya Laura?"


"Tampan sekali."


"Nona Irene beruntung bisa berjalan berdampingannya."


"Diakah tuan Jacob itu?"


"Masih muda rupanya."


"Jadi benar, Nyonya Laura memang memiliki anak lelaki."


"Ya. Awalnya aku berpikir kalau anak dari Nyonya Laura hanyalah Nona Sharon saja."


Bisik-bisik para karyawan ketika melihat kehadiran calon bos baru mereka, Jacob.


Jacob sendiri tidak memperdulikan dan pura-pura tidak mendengar ucapan pegawai-pegawai itu. Ia tetap fokus mengikutinya langkah Irene.


Lift kantor membawa Jacob dan Irene naik ke lantai empat. Setelah sampai, pintu lift otomatis terbuka, dan ada sekitar empat ruangan yang mesti dilewati oleh Jacob juga Irene.


"Ini ruanganmu, tuan Jacob." Ucap Irene sembari membukakan sebuah pintu yang di dalamnya terdapat sebuah ruangan besar yang rapih, bersih, dan nyaman untuk ditempati.


"Sementara, anda bisa menunggu di sini sebentar. Saya akan pamit sebentar untuk mengurus ruangan tempat kita akan melangsungkan rapat bersama para petinggi perusahaan." Lanjut Irene.


Jacob mengangguk dan Irene pun membalikkan tubuhnya untuk bergegas pergi menuju ruang rapat dan mengurus segala kebutuhan agar rapat nanti bisa berjalan dengan lancar.


Pukul 08.00 pagi.


Jacob mengira kalau di Bandung, Indonesia sekarang ini sudah pukul 07.00 malam. Perbandingan waktu Florida, USA dengan Jakarta/Bandung, Indonesia adalah sebelas jam, dan waktu berjalan lebih dulu di Indonesia.


"Hallo, bisa aku bicara dengan Alesha? " Ucap Jacob pada salah satu dari tiga orang yang menjaga Alesha melalui sambungan telepon.


"Hallo, ya, tuan, tentu saja bisa. Nona Alesha juga sedang asik menonton film di dalam kamarnya."


Orang itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Alesha.


"Permisi, Nona Alesha..."


"Ya, masuk saja." Saut Alesha dari dalam kamar.


Ceklek..


Bunyi gagang pintu yang ditekan hingga membuat pintu tersebut terbuka.


"Nona Alesha, tuan Jacob ingin berbicara denganmu.


Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Alesha segera meraih ponsel yang disodorkan okeh salah satu bodyguard -nya.


" Haii, Mr. Jacob. " Sapa Alesha dengan ceria.


"Haii, Alesha. Bagaimana di sana? Kau baik-baik sajakan? Tiga pria itu tidak melakukan hal-hal aneh padamukan? "


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja di sini, dan mereka tidak melakukan hal-hal buruk padaku, Mr. Jacob. Malah mereka menemanku dengan baik."


"Syukur kalau begitu. Kau sudah makan? "


"Sudah, tadi aku membeli nasi padang, dan es teh manis. Kau tau, tiga pria suruhanmu itu ternyata sangat menyukai nasi padang. Mereka membeli empat bungkus, satu untukku, dan tiga untuk mereka. Tapi setelah nasi padangnya habis, mereka malah membeli tiga bungkus nasi padang lagi. Aku sempat ditawari lagi oleh mereka, tapi aku kenyang, jadi aku menolak. "


Mendengar Alesha yang bercerita dengan begitu antusias, Jacob pun hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Hatinya begitu bahagia melihat Alesha yang ceria seperti sekarang ini. Jacob harap, Alesha akan terus seperti ini dan tidak dirundung kesedihan lagi selama mereka berpisah.


Jacob menghabiskan waktu menunggu dimulainya acara rapat dengan berkomunikasi bersama Alesha melalui panggilan telepon. Dengan begitu, ia pun tidak merasa bosan, apalagi setelah mendengar Alesha yang berbicara penuh keceriaan, rasanya seperti Jacob mendapatkan energi lebih untuk memulai rapatnya nanti.


..................


..............................


...............................................


......................................................................


Holla, kakak-kakak readers ๐Ÿ˜Š aduh aku cuman mau bilang aja nih, maaf banget ya buat kakak-kakak Author lain karna aku masih belum sempet feedback cerita kalian, soalnya akutuh masih harus ngerjain banyak banget tugas menugas dari cekulah๐Ÿฅบ tapi kalo ada waktu aku bakal sempetin kok buat mampir kecerita kakak-kakak Author yang lain๐Ÿ˜Š semangat selalu buat kita semua ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ’ช