
Alesha segera merentangkan dirinya diatas kasur dan menutup seluruh bagian tubuh dengan selimut. Ia malu, bahkan rona pada wajahnya masih belum luntur.
Apa yang tadi ia lakukan bersama sang mentor? Kenapa itu bisa terjadi? Dan yang paling membingungkan adalah kenapa ia malah menikmatinya, membiarkan sang mentor menciumnya dengan begitu dalam dan hangat?
Alesha tidak bisa marah, ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tadi adalah suatu kekhilafan tersebar, tapi Alesha tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Detak jantung yang masih berpacu dengan kencang membuat Alesha sadar kalau dirinya mulai jatuh pada sang mentor. Tatapan hangat, ucapan yang lembut, dan sentuhan yang begitu memikat masih bisa Alesha rasakan.
Alesha menggigit bibirnya sendiri untuk menahan gejolak asmara yang muncul secara tiba-tiba. Ia ingat jika ia tidak akan membuka hati terlebih dahulu untuk siapa pun. Namun tidak disangka, hanya karna ciuman beberapa saat mampu menumbuhkan rasa baru dalam hati Alesha.
"Mr. Jacob.." Menggumamkan nama itu membuat Alesha semakin luluh. Mentornya itu benar-benar mengubah hidup Alesha.
Astagfirullah, kenapa jadi begini. Aaaa, Alesha khilaf, Alesha khilaf. Mr. Jacob, kenapa sih? Kenapa Alesha jadi begini?......
Dret...
Ponsel Alesha bergetar secara tiba-tiba dan membuat Alesha sedikit terkejut. Ia pun segera mengaktifkan ponsel dan mencari tahu penyebab ponselnya itu bergetar, dan ternyata ada sebuah notifikasi pesan masuk.
Alesha melihat kalau mentornya itu yang mengirim pesan.
"Hah." Refleks Alesha menutup mulut dengan telapak tangannya. Jantungnya berdegub kencang, dan hatinya kembali berbunga-bunga. Ia senang? Bahagia? Hanya karna Jacob mengirimkan sebuah pesan? Ayolah, Alesha seperti seseorang yang sedang kasmaran namun terlalu jaim dan malu-malu.
Dan sesaat kemudian Alesha pun merutuki dirinya sendiri karna malah membuka pesan dari mentornya itu.
(Mr. Jacob: Alesha, buku rumus kimia dan fisikamu tertinggal di ruanganku.)
"Ya, ampun!" Alesha memukul keningnya sendiri saat menyadari kalau buku rumus fisikanya masih ada di ruangan sang mentor. Ia baru ingat kalau tadi sebelum mengerjakan pekerjaan mentornya Alesha terlebih dulu meminta Jacob untuk membantunya memahami beberapa rumus fisika, dan sekarang Alesha malah meninggalkan bukunya itu di ruangan sang mentor.
(Me: Iya, besok Alesha ambil bukunya, Mr. Jacob) read
Typing.....
Jantung Alesha terus berdegub tidak sesuai tempo saat tahu kalu mentornya itu akan membalas pesannya.
(Mr. Jacob: Oke👍☺️) read
"Huft." Alesha menghela napas dengan tenang saat membaca balasan pesan dari mentornya.
Ting.. Tong..
"Eh!" Alesha kembali menatap pada layar ponselnya.
(Mr. Jacob: Selamat malam, Alesha 🤗🥰)
Refleks, Alesha menjatuhkan ponselnya. Emot senyum dan Love? Tidak salah Alesha melihatnya? Alesha sungguh terkejut melihat dua emoticon yang mentornya itu berikan. Jacob tidak pernah mengirim emoticon seperti itu sebelumnya, sekali pun belum pernah. Tapi sekarang? Apa maksudnya?
Ting.. Tong..
(Mr. Jacob: Mimpi indah, Lil' Ale 🌌☺️🥰)
"Hahahahhaha....." Alesha tertawa cukup lepas saat membaca pesan singkat susulan yang mentornya itu kirimkan lagi.
Keempat temannya yang sedang asik dengan urusan masing-masing pun langsung menengok dan menatap aneh pada Alesha.
"Kau kenapa, Al?" Tanya Merina dengan semangkuk popcorn dipelukkannya.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Jawab Alesha yang berpura-pura untuk menahan tawanya.
"Aneh." Komen Nakyung.
Beralih menuju gedung mentor, dalam kamarnya, Jacob pun sedang merasakan hal yang sama seperti yang sedang Alesha rasakan saat ini. Ia tersenyum dan tertawa sendiri, membayangkan kejadian tadi membuat tubuh dan wajahnya memanas.
"Alesha tidak marah?" Gumam Jacob disela-sela senyumnya.
Ia pun kembali meraih ponselnya saat mendengar deringan tanda ada notifikasi pesan yang masuk.
(Lil' Ale: Selamat malam dan semoga mimpi indah juga, Mr. Jacob. 🤭🤗)
Wajah Jacob semakin merona panas saat ia membaca balasan pesan dari gadis kesayangannya itu. Ia harap, dengan kejadian tadi Alesha dapat memahami dan mengerti apa yang sudah ia pendam selama beberapa bulan ini.
Kedua ibu jari Jacob kembali berutak-atik untuk menyusun huruf-huruf dipapan keyboard digitalnya.
Ting... Tong...
Alesha merebut ponselnya dan membaca pesan balasan dari sang mentor.
(Mr. Jacob: Matikan ponselmu, tidur sekarang, aku tidak mau kau sakit karna bergadang☺️)
Aish, perhatian Jacob itu membuat Alesha enggan mengakhiri percakapan pesan via digital mereka. Alesha sudah terlanjur nyaman dan untuk malam ini ia ingin terus bertukar pesan dengan mentornya.
(Me: Tidak, aku belum mengantuk 😋) read
Typing...
Ting... Tong...
(Mr. Jacob: Aku mengucapkan selamat tidur padamu agar kau segera tidur, Alesha.) read
(Me: Ini masih jam sembilan, Mr. Jacob)
Dan akhirnya percakapan mereka pun terus berlanjut hingga berlarut-larut, bahkan sesekali Alesha melepaskan tawa gelinya ketika membaca balasan pesan dari sang mentor.
Segala hal mereka bahas, kecuali kejadian 'Ciuman Kekhilafan' tadi. Baik Jacob atau pun Alesha, mereka sama-sama malu dan tidak berani untuk membahas hal itu.
Lalu keesokan harinya, Alesha benar-benar tidak fokus dalam proses pembelajaran. Pikirannya tidak mau membuang ingatan yang semalam. Ingatan ketika ia dan mentor saling menautkan bibir dan menikmati momen yang berlangsung. Alesha ingat bagaimana tubuhnya yang melayang ketika sang mentor mengangkatnya dengan sangat mudah, Alesha ingat setiap pergerakkan dan sentuhan lembut yang bibir mentornya itu berikan, Alesha ingat bagaimana lengannya yang mengalungi leher sang mentor dan memberikan jenggutan kecil pada rambut mentornya itu, lalu ketika bibirnya diapit dan digigit, Alesha memainkan jemarinya pada rambut sang mentor. Alesha ingat itu semua. Ia masih bisa merasakannya dengan sangat jelas.
Napasnya juga napas Jacob yang kala itu sama-sama memburu, menambah kesan memikat yang Alesha rasakan. Itu pertama kalinya untuk Alesha, dan Alesha tidak bisa menyangkal kalau ia menyukainya. Pasalnya yang melakukan hal 'Itu' bersamanya adalah pria yang menurutnya sudah tidak asing dan begitu bertanggung jawab serta tidak segan untuk menunjukkan rasa kasih dan sayangnya terhadap Alesha.
Apa Alesha baru menyadarinya atau Alesha baru membuka matanya kalau sang mentor sudah sejak lama mendambakannya?
Alesha masih butuh penjelasan lebih. Ia yakin kalau mentornya itu menaruh rasa padanya, namun yang ia inginkan adalah jawaban dari mulut Jacob langsung untuk memastikan kalau prediksi Alesha selama ini benar apa adanya.
"Alesha, hei!" Ucap Mrs. Sara, guru pengajar yang menepuk bahu Alesha hingga membuat Alesha tersadar dari lamunannya.
"Ah iya?" Reflek Alesha segera menegakkan tubuhnya dan menatap pada Mrs. Sara.
"Jangan melamun, cepat selesaikan soalnya." Ucap Mrs. Sara sambil tersenyum kecil.
"B-baik." Alesha langsung menundukkan kepalanya dan mencoba untuk memfokuskan kembali pikirannya pada persoalan yang diberikan Mrs. Sara.
Beberapa soal sudah Alesha kerjakan dengan baik, begitu pun soal yang lain, Alesha mampu mengerjakannya sesuai logika yang dihasilkan oleh otaknya. Hingga tepat saat bel istirahat berbunyi, Alesha dan murid yang lain yang ada di kelas itu sukses menyelesaikan tugas mereka.
"Kau kenapa tadi?" Tanya Nakyung.
"Kenapa? Kenapa apa?" Tanya balik Alesha.
Nakyung memutar bola matanya dengan jengah. "Mrs. Sara tadi menegurmu, kau kenapa?"
Alesha tidak menjawab, tetapi malah menundukkan kepala sembari tersenyum sipu. Ia malu dan tidak mungkin juga menceritakan apa yang membuatnya ditegur oleh Mrs. Sara tadi kepada teman-temannya.
"Hmm, pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan." Sindir Stella.
Alesha pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap panik pada kedua temannya itu. Alesha menjadi salah tingkah, gerak-geriknya itu membuat Nakyung dan Stella menaruh rasa curiga.
"Kau menutupi sesuatu dari kami, Al?" Nakyung menelisik penuh keseriusan pada raut wajah Alesha.
Kedua pupil mata Alesha bergerak kekiri dan kanan, berpikir dan kebingungan. Alesha harus jawab apa?
"Sudahlah lupakan saja, oh ya, Al boleh aku minta parfummu? Aku lupa memakai parfumku."
Alesha pun menghembuskan napasnya secara samar setelah mendengar ucapan Stella barusan. Untung saja Stella mengalihkan pembicaraannya, kalau tidak Alesha bisa semakin dibuat gelagapan dan kebingungan.
"Iya, ini pakai saja." Langsung Alesha merogoh tasnya dan mengambil sebuah botol kaca bening berukuran kecil berisi parfum favorit dan kesayangannya.
"Jangan banyak-banyak pakainya, parfumku walau dipakai sedikit saja tapi wanginya bertahan lama." Lanjut Alesha.
"Kaukan masih punya banyak stok parfum dalam lemarimu, Alesha." Balas Stella sembari menyemproti tubuhnya dengan parfum milik Alesha.
"Iya, tapi aku harus berhemat, masih ada satu tahun lagi yang harus dilewatkan."
"Kalau begitu nanti aku juga akan membeli parfum ini. Wanginya sangat menenangkan dan begitu harum, seperti parfum untuk bayi." Stella mencium rompi tebalnya untuk menghirup wangi parfum milik Alesha yang sudah melekat ditubuhnya.
"Memang ini parfum untuk bayi." Ucap Alesha sembari meraih botol parfumnya dari genggaman Stella.
"Apa?" Tanya Nakyung dan Stella secara serentak.
"Aku memang memakai parfum untuk bayi sejak dulu, kalian baru tahu? Aku tidak pernah memakai parfum orang dewasa, menurutku parfum untuk bayi lebih harum dan menenangkan, tidak membuat pusing." Balas Alesha dengan santai.
"Pantas saja aku kadang teringat dengan keponakanku jika dekat dengan Alesha." Kekeh Nakyung.
Alesha hanya membalas ucapan Nakyung itu dengan deheman kecil. "Hmmm.."
"Ayo, aku lapar kita pergi ke kantin." Ucap Stella sembari menepuk-nepukkan perutnya.
"Ehm, kalian duluan saja, aku harus pergi ke ruangan Mr. Jacob dahulu untuk mengambil bukuku." Alesha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Itu hanya sebuah refleks, ia merasa gugup dan malu karna harus pergi ke ruangan mentornya.
"Yasudah, nanti kau menyusul saja." Setelah mengucapkan kalimat itu, Nakyung pun mulai melangkahkan kakinya dan menuju kelar kelas.
"Dah, Alesha." Ucap Stella lalu segera menyusul Nakyung yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Alesha tersenyum kaku. Tubuhnya kembali menegang karna kini ia akan segera pergi menuju ruangan mentornya. Rasanya berat, namun ringan. Entah diantara dua itu mana yang benar untuk menggambarkan langkah kaki Alesha yang saat ini sedang dilajukan. Alesha merasa senang, namun juga gugup seperti akan bertemu dengan seseorang pria asing yang meluluhkan hatinya.
Setiap langkah yang ditapakan membuat degub jantung Alesha kian mengencang. Apalagi setelah ia sampai di depan lorong gedung mentor. Dari tempat Alesha berdiri, ia bisa melihat pintu ruangan mentornya.
"Gak sehat lama-lama jantung Alesha kalau ginimah." Gumam Alesha. Kemudian ia pun memantapkan dirinya untuk melanjutkan kembali langkahnya menuju ruangan sang mentor, walau rasanya begitu menegangkan.
"Oke. Tarik napas, hmmm, buang, huffttt.." Alesha mencoba untuk tenang dan bersikap biasa saja. Kini ia sudah berdiri tepat didepan pintu ruangan Jacob. Perlahan tapi pasti namun penuh keraguan juga kegugupan, Alesha menyentuh gagang pintu itu.
"Huffttt, tenang Alesha, kalem, santuy, jangan panik, biasa aja, oke. Gak usah baper apalagi bertingkah gak jelas."
"Huftt.."
Cekrek...
Suara gagang pintu yang terbuka itu menghentikan Jacob dari kegiatan tulis menulis data arsip para murid WOSA diatas mejanya. Ia masih menundukkan kepala dengan seluas smirk menawan yang tiba-tiba saja tercipta. Ia tahu siapa yang membuka pintu dan masuk ke ruangannya. Tentu saja, di WOSA tidak ada yang menggunakan parfum bayi selain Alesha. Jacob sudah sangat peka dengan wangi bayi yang selalu melekat pada tubuh gadisnya itu, dan sekarang indra penciuman Jacob dipenuhi oleh wangi parfum milik Alesha.
Sedangkan Alesha sendiri. Ia mematung di depan pintu. Entah berapa kecepatan degub jantungnya saat ini, mungkin kalau diibaratkan bisa seperti seorang penakut yang menaiki wahana roller coaster.
"Kemarilah, jangan berdiam diri di sana." Panggil Jacob tanpa mengangkat wajahnya sedikit pun.
Alesha mulai berjalan mendekat ke meja tempat mentornya sedang bekerja. Ia gugup, sangat amat gugup, canggung, malu, bahkan tangannya pun sudah berkeringat dingin.
"Hai." Sapa ramah Jacob yang membuat Alesha begitu terkejut hingga terlonjak kecil. Bagaimana tidak? Mentornya itu tiba-tiba saja mengangkat wajahnya dan menatap Alesha dengan senyum menawan yang begitu mempesona.
Shy.. Shy.. Shy..
Wajah Alesha langsung merona hanya karna Jacob memberinya sebuah senyuman dipagi menjelang siang hari ini.
Sekuat tenaga Alesha menahan segala macam perasaan yang sejak tadi mengadu-aduk pikiran dan dirinya. Bersikap sebisa mungkin menjadi level yang begitu sulit untuk Alesha saat ini, ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri jika berhadapan langsung dengan mentornya seperti ini selepas kejadian semalam.
"Ini buku fisikamu." Jacob bangkit dari duduknya dan menghampiri Alesha. Ia menyodorkan buku fisika kepada gadisnya itu.
Jacob hanya tersenyum melihat Alesha yang bertingkah lebih diam dan gugup, tidak seperti biasanya yang asik dan cukup bawel.
"Terima kasih, Mr. Jacob." Alesha menundukkan kepala sembari mengambil bukunya dari lengan sang mentor. Ia benar-benar malu, gugup, dan semuanya. Alesha merasakan semua yang dirasakan oleh seorang gadis yang sedang kasmaran.
"Sama-sama." Balas Jacob dengan begitu manis.
Ya allah, plisss jangan sampe Alesha keliatan kaya orang **** cuman gara-gara berhadapan sama Mr. Jacob...... Suara hati Alesha.
Hening....
Hening...
Dan hening...
Tiba-tiba Alesha merasakan lonjakan yang membuat tubuhnya menegang seketika.
"Alesha, maaf soal yang semalam." Lirih Jacob sembari menangkup wajah Alesha lalu mengangkatnya agar mereka bisa saling bertatapan.
"Kau tidak marahkan?" Raut wajah Jacob sedikit menurun, menandakan sebuah kecemasan dan ketakutan akan kemarahan gadisnya itu.
"Alesha.. Jawab.."
Jacob menggoyahkan kedua bahu Alesha agar Alesha tersadar dari lamunannya. Ya, Alesha memang melamun, tatapannya lurus dan datar menuju dua pupil putih dan hitam milik Jacob.
"Y-ya." Alesha menganggukkan kepalanya dengan pelan, tapi ia menjawabnya antara sadar dan tidak sadar.
Jacob kembali mengukir senyumnya saat mendengar jawaban dari Alesha. Ia sangat bersyukur Alesha tidak marah padanya, bahkan Jacob bahagia setelah ulahnya terhadap Alesha malam tadi.