
Jacob sangat takut saat Alesha mengucapkan kata itu. Ia tidak mau kalau itu menjadi sebuah isyarat buruk, apalagi saat Jacob mengingat mimpinya.
Jangan lagi untuk yang kedua kali. Jacob sedang berusaha untuk berjalan menuju Alesha dan meyakinkan hatinya, dan Jacob tidak mau jika dia harus kehilangan Alesha juga. Cukup Yuna saja. Alesha tidak akan dibiarkan oleh Jacob untuk pergi begitu saja. Jacob masih harus berusaha agar mendapatkan kepercayaan dan kepastian dari hatinya, dan ia tidak mau kalau saat di tengah perjalanannya ia harus terhenti secara terpaksa karna Alesha meninggalkannya.
"Bagus tidak?" Tanya Alesha sambil memakai gelangnya yang satu lagi. Sekarang Alesha dan Jacob sama-sama memakai gelang yang sama.
"Bagus." Jawab Jacob singkat.
"Aku suka ukirannya, dan bahannya juga tebal serta awet." Ucap Alesha sambil memperhatikan gelangnya.
"Coba sini mana tanganmu." Alesha meraih tangan Jacob dan mensejajarkan dengan lengannya.
"Dilenganmu gelang ini kekecilan, dilenganku gelang ini kebesaran." Ucap Alesha.
"Tentu saja, Alesha, kau dan aku berbeda." Balas Jacob lalu menarik lenganya.
"Haii, Alesha." Sapa Aldi yang tiba-tiba masuk bersama Rendi.
"Ka Aldi, Ka Rendi, Haii." Sapa balik Alesha dengan ramah.
"Kalian kemana aja? Ko gak pernah keliatan sih?" Tanya Alesha pada Aldi dan Rendi.
"SIO manggil kita, jadi sekitar dua bulan lah kita di sana." Jawab Aldi.
"Kita juga baru nyampe lusa kemaren. Trus kita denger tentang kamu dari Laras. Gimana kondisi kamu sekarang?" Tanya Rendi.
"Alhamdulillah, baik kok, kan ada Mr. Jacob juga yang temenin Alesha." Jawab Alesha sambil tersenyum pada Jacob.
"Alhamdulillah kalo gitu mah. Sebenernya apa yang Mack lakuin sampe bikin kamu ketembak gitu?" Tanya Aldi dengan raut wajah khawatir.
"Panjang ceritanya, intinya itu aku dibawa sama Mack ke tebing laut, trus aku gak sengaja ketembak trus jatoh deh." Jawab Alesha.
"Tapi sekarang mah udah gak apa-apa kan?" Tanya Aldi lagi dengan khawatir.
"Alhamdulillah. Kata Mr. Jacob juga tadinya Alesha sempet sekarat karna kurang darah, tapi udah sekitar sehari ada kiriman darah dari SIO." Jawab Alesha.
"Owh.. Jadi yang Mr. Frank umumin waktu itu tuh buat kirim darah kekamu." Ucap Rendi dengan ekspresi wajah setengah kaget.
"Umumin? Maksudnya?" Alesha menatap Rendi dengan bingung.
"Jadi Mr. Frank itu bikin pengumuman buat pegawai SIO yang punya golongan darah AB kalo gak salah tuh buat dateng ke ruangannya." Jelas Aldi.
"Mr. Jacob gak bilang kalo darah itu kiriman dari SIO." Alesha menatap tajam pada Jacob.
"Aku memang tidak memberitahu pada Alesha." Ucap Jacob pada Aldi dan Rendi.
"Kenapa?" Tanya Alesha yang menuntut jawaban dari Jacob.
"Aku tidak sempat karna aku lebih memikirkan bagaimana caranya agar kau pulih." Jawab Jacob dengan santai.
Aldi dan Rendi hanya tersenyum mendengar jawaban Jacob.
"Yaudahlah, yang penting sekarang kamu udah sembuh, ya tinggal pemulihan dikit lagi lah." Ucap Aldi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jack, kalau ada kerjaan kamu bisa tinggalin Alesha sama kita kok." Ucap Aldi.
Jacob menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau meninggalkan Alesha saat ini karna dia memang sedang ingin bersama Alesha.
"Tidak, aku sedang tidak ada kerjaan, jadi biar aku saja yang menemani Alesha." Jawab Jacob yang tersenyum datar.
Aldi mengangguk. "Baiklah, kalau gitu kita pergi dulu, ya, Al. Nanti kalau butuh apa-apa bilang aja kekita." Ucap Aldi sambil mengusap pelan puncak kepala Alesha.
Aldi dan Rendi segera beranjak dan pergi meninggalkan Alesha dan Jacob.
"Kenapa kau tidak bilang padaku?" Tanya Alesha sambil menatap Jacob yang sedang asik memainkan ponselnya.
"Apa itu penting?" Tanya balik Jacob dengan santai.
Alesha memutar bola matanya dengan malas. "Setidaknya aku tau siapa yang sudah membantuku, dan aku bisa berterima kasih padanya."
"Bagaimana caranya kau berterima kasih jika kau sudah tau?" Tanya Jacob.
"Please, jangan nora deh, sekarang itu udah jaman canggih. Ada telepon, ada email, ada banyak cara yang bisa dipake." Balas Alesha dengan jengah. Jacob hanya menghiraukan ucapan Alesha, dan itu membuat Alesha menjadi kesal. Mentornya itu selalu menyebalkan jika diajak bicara serius.
"Minggir, aku mau wudhu dulu, dari pada ngeladenin mentor nyebelin mending aku sholat dhuha aja!" Alesha mendorong pelan Jacob lalu beranjak. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.
Jacob hanya hanya mendengus sambil memperhatikan Alesha yang berjalan menuju kamar mandi. Setelah itu Jacob beranjak juga dan berjalan menuju keluar. Ia berniat untuk menunggu di luar dulu selama Alesha menjalankan ibadah sholat dhuhanya.
Jacob berdiri dan bersandar pada dinding sambil memainkan ponselnya.
"Mr. Jacob." Sapa salah satu murid wanita yang lewat. Jacob hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman kecil.
Beberapa murid WOSA, khususnya wanita mereka kadang suka cari perhatian pada Jacob karna Jacob memang tampan dan memiliki tubuh tinggi yang atletis. Jacob juga suka merasa malas jika sudah berpapasan dengan murid wanita yang dengan berani merayunya dengan bersikap seolah-olah bercanda, padahal Jacob tau niat mereka adalah untuk mendapatkan perhatian Jacob. Tapi, sekarang ini, Jacob tidak mau memperdulikan itu semua bahkan ia akan bersikap jutek pada siapa saja yang mencoba untuk mencari perhatiannya. Tujuannya kini adalah pada Alesha. Ia ingin memantapkan dan meyakinkan hatinya. Dia tidak mau ada wanita lain yang terlibat dalam perasaannya. Cukup Alesha saja untuk saat ini.
Setelah sekitar lima menit. Dari luar, Jacob mendengar sebuah suara yang berasal dari dalam kamar. Ia segera mengintip dan mendapati kalau Alesha sudah selesai sholat dhuhanya, dan sekarang ini ia sedang membaca sabuah surah Al-Quran. Jacob bersandar pada dinding sambil masih terus menatap ke arah Alesha. Ia tersenyum kecil. Entah kenapa hatinya terasa sejuk dan tenang saat mendengar lantunan ayat Al-Quran yang Alesha baca, ditambah lagi Alesha yang membaca dan mengucapkan ayat-ayat itu dengan merdu dan indah. Jacob tidak tahu kalau Alesha bisa membaca Al-Quran dengan seindah itu. Atau mungkin karna Jacob lupa kalau uminya Alesha adalah guru mengaji, jadi wajar saja kalau Alesha pandai membaca Al-Quran. Jacob begitu terkesima selama beberapa saat karna mendengar Alesha yang terus saja murotal Al-Quran. Kayakinan sedikit bertambah pada hatinya.
"Kau begitu sempurna saat seperti itu, Al. Kau bertambah manis saat memakai mukenamu. Teruslah seperti itu, teruslah menjadi dirimu agar aku semakin yakin, agar aku tidak setengah-setengah untuk memilih jalanku selanjutnya." Gumam Jacob sangat pelan.
Alesha memejamkan matanya setelah ia selesai membaca ayat suci Al-Quran itu. Ia berdoa dalam hatinya agar keberkahan dan rahmat Allah selalu menyertainya, dan juga meminta agar dimudahkan jalannya untuk menjadi wanita sholihah agar bisa bertemu dengan orang tuanya di surga kelak.
Alesha menghembuskan nafasnya dengan pelan. Ketenangan dan kedamaian menghampiri dirinya saat ini.
"Suaramu, indah." Puji Jacob yang masih bersandar pada tembok didekat pintu.
"Terima kasih." Balas Alesha. "Aku pikir kau kembali ke ruanganmu."
"Tidak. Aku sudah bilangkan kalau aku akan menemanimu." Balas Jacob sambil berjalan ke arah Alesha.
"Kenapa kau ingin menemaniku? Aku sudah besar, lagi pula aku tidak apa-apa." Ucap Alesha sambil melipat dan merapikan mukenanya.
"Memang aku tidak boleh menemanimu? Aku hanya bosan di ruanganku, jadi daripada aku merasa bosan, lebih baik aku menemanimu saja." Balas Jacob.
Alesha hanya memutar bola matanya dengan malas. Ia malas berdebat dengan mentornya itu.
"Lalu apa yang akan kau lakukan di sini?" Tanya Alesha.
Alesha segera menepis tangan Jacob dari wajahnya. "Sakit!" Alesha melotot pada Jacob.
"Sudahlah, aku lapar, aku ingin makan, kantin buka tidak kalau pagi seperti ini?" Tanya Alesha.
"Buka, kau mau ke sana? Biar aku saja yang pergi, kau tunggu di sini!" Ucap Jacob yang mulai berjalan.
"Eeehhh.. Tunggu..." Alesha menahan tangan Jacob agar tidak melanjutkan jalannya.
"Kau tidak tahu apa yang aku inginkan sekarang, jadi biarkan aku ikut." Ucap Alesha sambil berdiri dan menatap pada Jacob.
Jacob menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Alesha. "Katakan apa yang kau mau, tuan putri?" Tanya Jacob dengan lembut.
Alesha mengerutkan keningnya. Apa yang Jacob lakukan itu membuat Alesha ingin tertawa. "Jauhkan wajahmu." Alesha mundur sekangkah untuk menjauhkan wajahnya dari wajah Jacob.
"Aku ingin.." Alesha mengetuk pelan keningnya dengan jari telunjuknya. "Tidak tahu. Aku ingin lihat langsung saja di kantin ada makanan apa saja." Lanjut Alesha sambil melangkahkan kakinya untuk mulai berjalan. Namun, Jacob menahan tangannya.
"Berjalan disebelahku!" Perintah Jacob.
"Apa, kenapa?" Alesha mengerutkan keningnya karna bingung dengan ucapan Jacob barusan.
"Berjalan disebelahku agar para murid wanita itu tidak menggodaku." Jawab Jacob lalu meraih tangan Alesha dan mulai berjalan.
Alesha menatap Jacob dengan ekspresi bingung dan ingin tertawa. Mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak tahu apa yang ada dipikiran Jacob, namun ucapan Jacob tadi membuatnya ingin bertanya.
"Memangnya kau selalu digoda oleh mereka?" Tanya Alesha yang berjalan disebelah Jacob.
"Ya, makanya kau berjalan disebelahku." Jawab Jacob.
"Agar apa? Agar mereka menganggap kalau kau dan aku diam-diam memiliki hubungan spesial? Hahahaha, Mr. Jacob kau ini lucu ya, padahal kau bisakan menghindari mereka. Hahahaha." Alesha tertawa lepas dan tidak memperdulikan ekspresi wajah Jacob yang sangat secara tiba-tiba berubah drastis.
Ia dan Alesha lanjut berjalan beriringan. Namun, Jacob tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Tatapannya kosong. Lagi dan lagi Jacob bergelut dengan pikirannya.
Kau dan aku? Memiliki hubungan spesial?.... Gumam Jacob dalam hati.
Jacob berharap ucapan Alesha akan menjadi kenyataan. Ia begitu mengharapkannya namun ia masih bimbang. Ucapan Alesha sukses membuat sebuah pertempuran lagi antar hati dan pikirannya. Kenapa Alesha berkata seperti itu? Kenapa tiba-tiba Jacob jadi merasa senang saat Alesha mengatakan itu? Kenapa, kenapa, kenapa, dan kenapa? Itulah yang terlontar dari pikiran Jacob. Karna Alesha yang mengatakan itu, dan membuat hati Jacob jadi senang, karna Jacob merasa seolah ia sudah menemukan kebahagiaannya lagi. Karna, karna, karna, dan karna. Itu pula yang dilontarkan oleh hatinya. Namun baik hati mau pun pikiran Jacob tidak ada yang memberikan jawaban tepat.
"Mr. Jacob, kau tidak apa-apakan?" Tanya Alesha.
"Mr. Jacob.." Alesha menepuk pipi Jacob dan membuat Jacob tersadar dari lamunannya itu.
"Kau kenapa?" Tanya Alesha lagi.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Jacob sambil memberikan senyuman hangat pada Alesha.
"Baiklah, kalau begitu lepaskan tanganku, tidak akan ada murid wanita yang lewat karna mereka pasti sedang di kelas masing-masing." Pinta Alesha sambil mencoba untuk melepaskan genggaman erat Jacob pada tangannya.
"Kau memegang tanganku terlalu kuat, lihat jadi merahkan!" Ucap Alesha sambil merajuk pada Jacob.
Jacob terkekeh melihat Alesha yang seperti itu. Bukannya minta maaf, Jacob malah beralih kesisi lain dan meraih tangan Alesha yang satu lagi. Ia berjalan dengan santai sambil memegangi tangan Alesha. Ia mengabaikan Alesha yang mengoceh dan protes karna ulahnya.
"Kau ini! Bagaimana kalau ada mentor lain yang lihat?" Ucap Alesha dengan panik sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Jacob.
"Tenanglah, kau tidak usah panik." Balas Jacob dengan santai.
"Haii, Mr. Jaaa.." Sapaan manis dari seorang murid wanita yang berpapasan dengan Jacob dan Alesha. Murid itu diam seketika saat melihat Alesha yang tangannya digenggam erat oleh Jacob.
"Alesha? Tanyanya digenggam dengan erat oleh Mr. Jacob?" Ucap murid wanita itu dengan tidak percaya. Ia mendengus lalu menghentakkan kakinya kelantai. Ia kesal karna melihat Alesha begitu dekat dengan Jacob.
"Mr. Jacob, kau lihat wajahnya tadi?" Tanya Alesha dengan nada yang sedikit meninggi.
"Ya." Jawab Jacob santai.
"Mr. Jacob, kalau dia bercerita pada temannya itu akan menimbulkan spekulasi lain! Mereka akan berpikiran lain!" Bentak Alesha. "Lepaskan tanganku!"
Jacob mengabaikan Alesha yang masih berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Mr. Jacob, kumohon." Pinta Alesha yang sudah pasrah karna ia tidak bisa melepaskan tangannya dari genggaman Jacob yang cukup kuat. "Tanganku sakit." Lanjut Alesha dengan ucapan yang lebih didramatisir.
"Baiklah." Jacob segera melepaskan tangan milik Alesha.
"Nah gitu dong." Alesha tersenyum saat tangannya dilepaskan begitu saja oleh Jacob. Ia mengelus tangannya yang memerah karna genggaman Jacob yang cukup kencang.
"Kyaaa...Mr. Jacob!!" Teriakan kecil keluar dari dalam mulut Alesha saat ia merasakan tangan Jacob yang merangkul pinggangnya.
"Diamlah, kau hanya perlu santai." Ucap Jacob.
"Santai! Kau bilang santai!" Alesha melotot pada Jacob. "Kalau ada yang melihat ini, mereka akan berpikiran macam-macam!" Alesha menaikkan nada bicaranya.
"Jangan samakan aku dengan Yuna, Mr. Jacob! Mungkin kau bisa melakukan ini dengan Yuna dulu karna Yuna adalah pacarmu! Dan orang di WOSA juga mungkin sudah tahu itu. Tapi denganku? Ayolah, aku tidak mau jadi bahan pembicaraan di WOSA!" Lanjut Alesha sambil melepaskan rangkulan Jacob dari pinggangnya. "Kau jalan di belakang, aku duluan!" Alesha segera berjalan mendahului Jacob. Ia marah pada mentornya itu karna sikapnya yang menurut Alesha terlalu berlebihan.
Jacob sendiri masih terdiam ditempat. Ia tidak mengatakan apa pun setelah mendengar ucapan Alesha tadi. Tatapannya menjadi satu dan kesedihan melingkupinya saat Alesha mengatakan kalau ia tidak mau disamakan dengan Yuna. Itu adalah tamparan keras untuk hati dan pikiran Jacob. Gadis itu berjalan dengan marah dan meninggalkan Jacob di belakang, dan gadis itu juga tidak mau disamakan dengan gadis yang tiga tahun lalu pernah mengisi hatinya.
"Maaf, Alesha." Gumam Jacob pelan dengan nada yang sedih. "Maaf, seharusnya aku memang tidak menyamakanmu dengan Yuna." Lanjutnya lalu kemudian berlari untuk menyusul Alesha yang sudah berjalan jauh.
"Alesha!" Panggil Jacob.
Alesha tidak menoleh. Ia terus saja berjalan.
"Alesha, tunggu!" Jacob menahan tangan Alesha dan membalikkan tubuh Alesha hingga menghadapnya. Alesha mendongkak untuk menatap Jacob.
Jacob menatap mata Alesha dengan penuh rasa bersalah. Ia tidak mau membuat Alesha marah padanya.
"Maafkan aku." Secara mendadak, Jacob membawa Alesha masuk kepelukannya. Ia memeluk Alesha sangat erat seperti seseorang yang takut akan kehilangan.
Mata Alesha membulat seketika. Ia keget saat Jacob memeluknya lagi entah untuk ke yang berapa kalinya. Beberapa murid yang tidak sengaja lewat menatap ke arah Jacob yang sedang memeluk Alesha. Tatapan dan ekspresi wajah mereka menunjukan perasaan kesal, cemburu, marah, dan jijik, terutama pada Alesha.
"Cukup!!" Alesha melepaskan pelukan Jacob dengan kasar. "Ini sudah berlebihan, Mr. Jacob!" Ucap Alesha dengan penuh emosi. "Kalau kau mau menghindari para murid wanita itu, kau bisa meminta bantuan pada yang lain, tapi tidak denganku!" Lanjut Alesha dengan nada penuh penekanan disetiap katanya.
"Tidak usah ikuti aku! Aku sudah sehat. Terima kasih karna kemarin kau sudah banyak membantuku." Ucap Alesha lalu pergi begitu saja meninggalkan Jacob. Alesha benar-benar marah pada Jacob saat ini. Pikir Alesha, sesekali ia boleh marah seperti tadi pada Jacob agar Jacob tidak melakukan hal memalukan seperti tadi.
Jacob tertegun. Ia tidak bisa bergerak karna tubuhnya mendadak kaku setelah kupingnya menangkap ucapan Alesha barusan. Hatinya sangat tercabik-cabik. Ia menatap ke arah Alesha yang berjalan semakin menjauh. Tidak terasa air mata terbendung begitu saja dimata Jacob.
"Maafkan aku jika sikapku berlebihan, Al. Jangan marah, kumohon." Gumam Jacob dengan penuh penyesalan.