
Pelepasan kerinduan yang tersalurkan melalui kontak fisik antara dua pengantin baru itu membuat kelegaan dalam benak mereka.
Setiap sentuhan kelembutan yang dirasa mampu meluruhkan rindu-rindu yang semula menyiksa.
Meski disiang hari. Tak ada penghalang untuk Jacob, dan Alesha dapat mencurahkan segala rasa. Hingga kini, yang ada hanyalah gumaman lembut sang wanita yang begitu bahagia karna bisa merasakan kembali kasih, dan cinta murni dari prianya.
Sudah terhubung dalam ikatan yang sah, maka kapan pun waktunya Alesha harus mau memberikan segala pengabdian pada suaminya.
Pertemuan pertama mereka setelah satu minggu terpisah, kini diakhiri dengan penyatuan biologis yang mendebarkan.
Hangat tubuh kekar Jacob, menyelimuti istrinya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.
"Stop, stop, Jack," Alesha berusaha menyingkap wajah Jacob dari area lehernya.
"Hmm, kenapa, sayang?" Tanya Jacob begitu lembut.
"Tidak, berhenti dulu."
Jacob mengangkat wajahnya untuk menuruti permintaan istrinya.
"Ada apa, Alesha?" Ulang Jacob.
Tanpa menjawab, Alesha mendorong dada Jacob hingga tubuh suaminya itu berguling ke pinggir. Barulah setelah itu, Alesha memposisikan tubuhnya berada dibawah kepala suaminya.
"Aku lelah," Ucap Alesha.
Hembusan pelan dari napas Jacob terdengar oleh Alesha. Mungkin suaminya itu sedikit kecewa dengan keputusan sepihaknya untuk mengakhiri kegiatan mereka.
"Tidurlah kalau kau lelah," Balas Jacob sembari mengelus pelan puncak kepala istrinya.
"Tidak, Alesha tidak mengantuk," Alesha menggelengkan kepalanya. "Alesha kangen orang tua Alesha."
Jacob menghela napasnya. Ia langsung paham jika istrinya itu sedang merindukan sosok orang tua yang sudah lama tiada.
Tidak banyak bicara, Jacob langsung mendekap tubuh istrinya, dan tidak lupa memberikan beberapa kecupan singkat dipuncak kening wanita kesayangannya itu.
"Katakan semua yang ingin kau ceritakan, Alesha. Aku mendengarkanmu."
Alesha tersenyum kecil. Ia senang karna memiliki suami yang bisa mengertikannya.
Namun, belum sempat Alesha mengeluarkan suaranya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi, Tuan, ini saya Taylor."
Jacob, dan Alesha sama-sama menghembuskan napas mereka setenang mungkin kala mendengar ucapan dari sang asisten pribadi itu.
"Temui dia dahulu, Jack. Pasti ada sesuatu yang penting yang ingin dikatakannya," Ucap Alesha, meski dalam hatinya ia merasa sedih karna waktu untuknya bercerita mesti tersita kembali.
"Baiklah, tunggu sebentar di sini," Balas Jacob sembari bangkit, dan menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
Alesha terdiam dengan tubuhnya yang tenggelam dalam dekapan kain sutra yang tebal, dan lebar itu. Bisa bahaya juga jika Taylor melihatnya sedang telanjang.
Lalu Jacob, buru-buru ia menyingkirkan pakaian yang berserakan di lantai agar tidak terlihat oleh asisten pribadinya, dan setelah itu ia mengambil sebuah celana joger pendek dilemari.
"Tunggu sebentar, Taylor," Sahut Jacob.
"Baik, Tuan," Balas Taylor dari balik pintu.
Dengan keadaan bertelanjang dada, Jacob pun segera membuka pintu kamarnya.
"Ada apa, Taylor?" Tanya Jacob sembari menahan pintu agar tidak terbuka sepenuhnya.
Taylor sedikit terkejut akan kemunculan Jacob yang secara tiba tiba setelah pintu dibuka.
"Nona Irene, dan Tuan Travish menunggu anda di ruang tamu, Tuan."
"Ya ampun!" Jacob menepuk keningnya. Ia lupa jika pukul tiga sore ini sekretaris juga manager lapangannya akan bertamu ke mansionnya.
Tapi sebentar. Apa ini sudah pukul tiga sore?
Jacob langsung melihat jam tangannya untuk membuktikan jika saat ini memang sudah pukul...
"Tiga? Sekarang pukul tiga sore?" Pekik Jacob.
"Ya, Tuan, sekarang pukul tiga sore," Ucap Taylor.
"Baiklah. Suruh mereka untuk menungguku lima menit!"
"Baik, Tu.." Belum sempat Taylor menyelesaikan ucapannya, Jacob sudah terlebih dulu menutup pintu kamar. "An," Lanjut Taylor.
Di dalam kamarnya, Jacob langsung memakai kembali pakaian yang tadi ia lepaskan agar bisa menikmati hubungan fisik bersama istrinya.
"Jack, ada apa?" Tanya Alesha yang sudah terduduk diatas kasur, namun dengan tubuh yang masih dalam kukungan selimut.
"Alesha, maaf aku lupa kalau sore ini sekretaris, dan manager lapanganku akan berkunjung ke sini," Jawab Jacob.
Lagi, lagi urusan perusahaan. Tapi yaudahlah.... Gumam Alesha dalam hati.
"Aku akan ke bawah sekarang untuk menemui mereka, Al," Ucap Jacob dengan satu kecupan kecil untuk kening istrinya.
Alesha hanya mengangguk tanpa menunjukkan ekspresi atau komentar apapun.
Sebenarnya Alesha sedih. Ia baru bertemu kembali dengan Jacob, dan sekarang suaminya itu harus berurusan kembali dengan orang-orang perusahaan.
Namun, Alesha mencoba untuk menerima keadaan yang ada. Ia tidak mau menyusahkan suaminya dengan banyak menuntut untuk bisa memiliki waktu bersama. Kasihan juga Jacob jika Alesha bersikap egois.
"Huftt....." Mencoba menenangkan diri dengan menghembuskan napas beberapa kali. Alesha pun bangkit dari atas kasurnya, dan berniat untuk memakai kembali pakaiannya.
***
Di ruang tamu, kini Jacob, bersama dua orang atasan diperusahaannya sedang berbincang-bincang mengenai laporan keuangan, dan dana yang sudah disiapkan untuk promosi perusahaan.
Irene juga sudah membuatkan agenda tugas pimpinan yang harus Jacob lakukan dalam kurun waktu satu bulan ini.
Pastinya sangat sibuk sekali.
Tapi mau bagaimana lagi? Ibunya, Laura melarang Mona untuk kembali bekerja selama beberapa minggu, otomatis Jacob lah yang mesti mengambil alih semua pekerjaan kakaknya itu.
Sebenarnya yang membuat kesibukan Jacob semakin bertambah adalah kegiatan perencanaan promosi perusahaan yang mesti disiapkan dengan sangat matang, dan sempurna.
"Semuanya sudah siap, Tuan. Kita hanya tinggal menunggu surat persetujuan dari pemerintah setempat," Ucap Irene.
"Lalu bagaimana dengan undangnya? Apa sudah disebarkan?" Tanya Jacob.
"Belum, kami berencana untuk menyebarkan undangan itu minggu depan, Tuan," Jawab Travish.
"Dan iklan disalah satu stasiun TV? Apa sudah?" Tanya Jacob, lagi.
Untuk kali ini, Travish lah yang menjawab. "Sudah, Tuan, pihak stasiun TV itu akan menyiarkan iklannya lusa."
"Huftt, syukurlah," Jacob menghembuskan napasnya seolah ia sedang mengeluarkan beban-beban dari dalam dirinya.
Promosi melalui iklan di TV akan segera tayang, dan untuk menyewa segala properti, juga stadion sudah disiapkan. Kini, hanya tinggal menunggu jatuh tanggal saja, dan semoga acara promosi berskala besar itu akan berjalan dengan lancar.
****
Menyusuri setiap, detik, menit, dan jam hingga semakin tenggelam dalam arus waktu. Alesha menikmati hari-harinya seperti biasa. Bekerja, bertemu kawan-kawan, bercanda ria, lalu kembali pulang. Berlangsung secara terus menerus.
Lalu bagaimana dengan waktunya bersama sang suami? Jangan tanya. Tentu saja tidak ada.
Ya!
Mungkin ia memiliki waktu bersama suaminya, Jacob saat tengah malam saja, itu pun kalau mereka sama-sama tidak merasa kelelahan.
Setiap Alesha bangun dipagi hari, ia sudah tidak mendapati keberadaan Jacob disebelahnya, dan begitu pula dengan malam hari, setiap Jacob pulang, pasti Alesha sudah tertidur pulas.
Namun, sebagai suami pastinya Jacob merasa sangat sedih, dan bersalah terhadap istrinya. Ingin sekali Jacob memberikan sedikit saja waktu kebersamaan untuk Alesha, tapi itu benar-benar sulit karna semakin hari persiapan promosi perusahaan semakin gencar dilakukan agar dapat mencapai target yang telah disesuaikan.
"Selamat tidur, My Lil Ale, maaf aku tidak pernah memiliki waktu untukmu. Aku mencintaimu."
Itulah yang setiap malam selalu Jacob ucapkan selepas ia membersihkan diri setelah pulang dari tempat kerja. Tubuh minimalis istrinya pun tidak pernah terlepas dari pelukannya ketika ia akan tertidur. Jujur saja, Jacob sangat rindu saat ia, dan Alesha menikmati waktu berdua ketika mereka masih di WOSA.
Setelah waktu belajar berakhir, maka Jacob, dan Alesha akan langsung berjalan-jalan di pinggiran pantai untuk sekedar mengistirahatkan, dan merelaksasikan tubuh.
Tapi sekarang, rasanya sangat berbeda. Bahkan, sekedar hanya ingin berbincang kecil saja rasanya cukup sulit.
"Aku berjanji setelah semua urusan pekerjaanku selesai, kita akan memiliki banyak waktu bersama, Alesha," Gumam Jacob sembari membelai lembut wajah damai istrinya yang sedang tidur.
"Aku mencintaimu."
Terakhir adalah kecupan pada bibir, dan kedua pipi Alesha, lalu Jacob tersenyum, dan setelah itu ia pun ikut menghanyutkan dirinya pada dunia mimpi.
***
Hari-hari terus berlanjut hingga tak terasa sudah menyentuh minggu lima usia pernikahan. Tidak ada momen-momen khusus yang terjadi antara Alesha, dan Jacob, semua berjalan biasa saja.
Pagi berangkat kerja, pulang petang tak kunjung jumpa. Beberapa kali Jacob pergi ke luar kota, dan menginap di hotel. Alesha pun mulai terbiasa dengan keadaannya saat ini, ditinggal pergi-pergian, jarang bertatap muka, dan bercengkrama.
Bahkan disaat libur weekend pun paling Alesha akan berjalan-jalan dengan Nakyung, Maudy, dan Merina, kadang kala Nina ikut jika gadis itu tidak sibuk dengan tugas kuliahnya.
Pernah terlintas dalam kepala Alesha untuk melanjutkan sekolahnya kejenjang S1, atau S2 sama seperti Nina. Namun Alesha ragu karna ia juga cukup sibuk dengan pekerjaannya.
Dua hari yang lalu, Maudy memberitahu pada Alesha jika Lucas, dan Aiden dipanggil ke kantor pusat SIO di Selandia Baru, sedangkan Bastian, Mike, dan Tyson pergi bersama Levin menuju Dubai untuk menyelidiki kasus pembunuhan dua orang agent SIO.
"Alesha, Mr. Jacob menghubungiku, katanya kenapa ponselmu tidak aktif?" Ucap Maudy.
"Katakan padanya, aku lupa membawa ponsel, dan mungkin daya baterainya sudah habis," Balas Alesha.
"Katakan saja sendiri," Maudy menyodorkan ponselnya yang menerima panggilan masuk dari Jacob pada Alesha.
"Assalamualaikum, hallo ya, ada apa? " Tanya Alesha.
"Waallaikumussalam. Alesha, kenapa ponselmu tidak aktif? "
"Aku tidak membawa ponselku."
"Taylor bilang kau pergi diam-diam. Apa itu benar, Alesha? "
"Iya."
"Kenapa? Kau ada masalah, sayang? "
"Aku bosan di rumah. Sekarang aku sedang bersama Maudy, Merina, dan Nakyung di cafe biasa."
"Jangan lakukan itu lagi! Jika kau ingin pergi beritahu Taylor! "
"Ck, iya! "
Tidak perduli apa yang akan Jacob katakan selanjutnya, Alesha langsung mematikan sambungan teleponnya lalu memberikan ponsel itu pada pemiliknya, Maudy.
"Ada apa, Al? Kau terlihat kesal," Tanya Nakyung.
"Alesha, Mr. Jacob menelepon kembali," Sahut Maudy sembari menyodorkan kembali ponselnya pada Alesha.
"Matikan saja!" Ketus Alesha. "Kirimkan saja pesan padanya kalau aku sedang makan, dan tidak ingin diganggu!"
Ada apa dengan Alesha? Pikir Nakyung, Maudy, dan Merina.
"Kau sedang ada masalah ya dengan Mr. Jacob?" Tanya Merina.
"Tidak ada!" Jawab Alesha.
"Kau yakin?" Nakyung mengangkat sebelah alisnya. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Alesha. Mungkinkah kawannya itu sedang bermasalah dengan suaminya?
"Iya! Ish, bisa tidak sih kalian tidak usah banyak bertanya. Pinggul, dan perutku sakit!" Pekik Alesha.
"Kau sembelit?" Tanya Merina yang lagi-lagi menyulut emosi Alesha.
"Merina!!"
Merina sedikit tersentak ketika Alesha membentaknya. "Wooo, baiklah, baiklah, santai saja, tidak usah marah-marah."
"Huh, aku mau pulang saja! Kepalaku sakit," Alesha bangkit dari duduknya. Ia benar-benar merasa tidak enak badan saat ini. Sepertinya ia kelelahan, dan kekurangan vitamin.
"Mau aku antar?" Tawar Maudy.
"Tidak, terima kasih," Tolak Alesha. "Taylor..." Alesha memanggil asisten pribadi suaminya yang sedang terduduk sendirian dipojokan cafe.
"Ya, Nona, ada apa?" Tanya Taylor seraya berlari kecil menghampiri Nyonya mudanya.
"Aku mau pulang sekarang," Ucap Alesha.
"Baik, Nona," Taylor mengangguk patuh, lalu berjalan tepat di belakang Alesha.
"Hati-hati, Alesha.." Ucap Nakyung sedikit berteriak.
Alesha hanya mengacungkan jempolnya saja sebagai isyarat dari 'Iya', dan 'Terima kasih'.
Seakan tidak ada semangat lagi untuk melakukan aktivitas apapun, Alesha lebih memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil, lalu meluruskan kakinya yang teras pegal-pegal diatas jok.
"Nona, apa Nona baik-baik saja?" Tanya Taylor sembari menghadapkan tubuhnya ke arah belakang agar dapat melihat Nyonya mudanya.
"Aku baik-baik saja. Tolong cepat bawa mobilnya, aku ingin beristirahat," Jawab sekaligus pinta Alesha.
"Baiklah, Nona," Taylor merasakan sedikit keanehan setelah melihat adanya perubahan dari sikap Alesha.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Taylor pun melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Sedangkan dijok belakang, Alesha sedang berusaha untuk menahan rasa sakit disekitar area pinggulnya. Mungkin saja minggu depan adalah jadwal dimana ia akan menstruasi, karna memang biasanya seminggu sebelum tamu bulanannya itu datang Alesha akan merasakan area pinggul hingga perutnya yang sakit.
Dalam perjalanan yang menempuh waktu sekitar tiga puluh menit, Alesha tidak henti-hentinya menggumamkan kalimat istigfar. Kenapa? Karna itu lebih baik daripada ia harus mengumpat akibat menahan nyeri dipinggul, perut, dan kepalanya.
Lalu sesampainya di mansion, Alesha langsung beranjak keluar dari dalam mobil, dan berjalan sedikit sempoyongan menuju kamarnya.
"Nona, mau saya panggilkan dokter? Nona terlihat pucat," Ucap Taylor yang mulai khawatir akan kondisi kesehatan Nyonya mudanya.
"Tidak, tidak usah. Aku hanya butuh istirahat, dan oh ya! Jangan beritahu Jacob tentang hal ini, aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku sedangkan dia sendiri sibuk dengan pekerjaannya!" Balas sekaligus perintah Alesha.
"B-baik, Nona."
Sebenarnya Taylor ragu untuk tidak melaporkan kondisi kesehatan Nyonya mudanya pada Jacob, namun mungkin Taylor akan melihat terlebih dahulu perkembangan kondisi tubuh Alesha, jika memburuk maka mau tidak mau Taylor harus melapor pada Jacob.
***
Di tempat lain, tepatnya di daerah Puncak, kota Bogor, Jacob bersama para pengurus perusahaan sedang melakukan meeting disalah satu hotel untuk membahas mengenai rencana perkembangan hotel, dan resort mewah yang baru saja resmi berjalan dua minggu lalu.
Bisnis Laura mulai berkembang pesat di Indonesia, dan sebagai anaknya, Jacob lah yang akan mengambil alih kepemimpinan semua anak cabang usaha di wilayah Indonesia, sedangkan Mona masih tetap menjadi pemimpin utama induk perusahaan yang sudah Laura, dan suaminya bangun.
"Tuan Jacob, Nyonya Laura menghubungiku kalau ia akan datang ke Indonesia, kemungkinan malam ini baru akan mendarat di bandara Internasional Husein Sastranegara, dan akan langsung menuju mension anda, Tuan," Ucap Irene.
"Ibu akan datang ke sini?" Jacob mengerutkan keningnya.
"Nyonya Laura ingin melihat langsung perkembangan usahanya di Indonesia, Tuan," Sambung Irene.
"Apa Alesha sudah diberitahu kalau ibu akan datang ke mansion malam ini?" Tanya Jacob.
"Saya sudah memberitahu pada Taylor, Tuan," Jawab Irene.
Jacob hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa membalas satu kata pun.
Tidak tahu kenapa Irene selalu merasa sedih jika ia berada disebelah bosnya itu. Rasa ketertarikannya tidak dapat berubah dari sejak awal bertemu, namun kini bosnya sudah menikah, dan tentu saja rasa sakit dalam hati Irene akan terus terasa entah sampai kapan.