
Setelah semalaman berlalu, kini Alesha kembali terbangun dengan tubuh yang terasa sangat segar dan bugar.
"Eungh... Hoaamm...."
Alesha terduduk sembari memggeliatkan dan merenggangkan tubuhnya.
Kelopak mata Alesha terbuka sempurna setelah kenyang melihat-lihat alam mimpi.
"Selamat pagi, Lil' Ale!!" Lengkingan suara Merina tiba-tiba saja memenuhi kamar Alesha dan membuat si pemilik kamar terlonjak kaget.
"Alesha..... Aku merindukanmu..." Merina langsung menghambur memeluk tubuh Alesha dengan erat.
"Merina! Sejak kapan kau sampai?" Tanya Alesha sembari berusaha melepaskan pelukan sahabatnya itu. "Lepaskan aku, Merina!!" Keluh Alesha.
"Kemarin malam jam dua belas, dan Mr. Jacob yang menyuruh kami untuk tinggal bersebelahan dengan unit apartemenmu ini," Jawab Merina.
"Oke, oke, tapi le-pas-kan-aku!!" Alesha mendorong paksa tubuh Merina dengan mengeluarkan sedikit tenaga.
"Ck, kau tidak merindukanku apa?" Merina merajuk.
"Tidak," Singkat Alesha.
"Ish, kau ini!! Hooo..." Merina yang merasa sebal atas jawaban yang ia dengar pun seketika mendorong tubuh Alesha dan membuat Alesha tersungkur dipinggiran kasur.
"Hey, hey, hey, baru bertemu sudah bertengkar!" Sahut Nakyung yang muncul secara mendadak.
"Dimana yang lain, bukanya kalian berangkat ke sini bersama-sama ya?" Tanya Alesha.
"Di luar, ruang tamu maksudku," Jawab Nakyung. "Oh ya, Al, ada yang mau bertemu denganmu, dan sedang menunggumu. Cepatlah keluar," Lanjut Nakyung yang kembali berjalan keluar kamar.
"Siapa?" Alesha menatap bingung pada Merina.
"Lihat saja sendiri," Merina beranjak dari duduknya dan berjalan menyusul Nakyung keluar kamar.
Alesha berkerut bingung, siapa yang sedang menunggunya? Enggan untuk mengira-ngira karna rasa penasaran yang semakin bertambah, akhirnya Alesha pun segera memakai kerudungnya asal, lalu setelah itu ia berlari kecil ke ruang tamu.
Alesha cukup terkejut karna mendapati kesembilan rekan setimnya bersama sang mentor sedang berdiri mengelilingi Nina yang sedang memegang gagang kursi roda yang diduduki oleh seorang pria tua.
"Nina! Kakek!!"
Menayadari jika pria tua yang terduduk dikursi roda itu adalah kakeknya, Alesha pun langsung berlari dan memeluk tubuh ramping kakeknya yang hanya tersisa kulit dan tulang saja.
"Kakek, eneng kangen, hiks," Rintikan tangis bahagia mengawali pagi Alesha.
"Kakek juga kangen sama eneng, eneng apa kabar?" Kakek Alesha pun memberikan pelukan balik pada cucu kesayangannya.
"Alhamdulillah, eneng sehat, kek, hiks."
Jacob dan yang lain tersenyum kala melihat momen manis dihadapan mereka.
"Kakek, kok kakek bisa ada di sini sekarang sih?" Alesha melepaskan pelukannya lalu menatap kedua manik sayu kakeknya.
"Tadi malem jam sepuluh ada cowo dateng trus bawa kakek ke sini, dia bilangnya kalau kakek bakal tinggal sama eneng di apartemen," Jawab Kakek Alesha.
Mendengar itu, Alesha langsung mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang begitu mencintainya. Alesha menatap sendu yang mengisyaratkan ungkapan terima kasih karna sudah membawa keluar kakeknya dari panti jompo oleh Jacob.
Jacob membalasnya dengan senyuman menawan, dan anggukan kecil. Ia turut bahagia karna bisa mempersatukan kembali gadis tercintanya dengan sang kakek.
"Mr. Jacob, apa itu eneng?" Bisik Lucas yang berdiri disebelah Jacob.
"Setahuku, kata 'Eneng' itu merupakan panggilan yang diberikan untuk gadis-gadis berdarah sunda, seperti Alesha," Jawab Jacob yang berbisik pula.
"Owh..." Lucas menganggukkan kepalanya dengan bibir yang membentuk huruf vokal 'O'
"Kakek laper gak? Mau eneng buatin sayur kangkung kesukaan kakek?" Tanya Alesha yang begitu bersemangat sembari menyerka air mata yang mengenang diujung kelopak matanya. "Apa mau Alesha buatin sayur asem?"
"Udah, kakek udah makan, eneng aja mendingan yang makan," Jawab kakek Alesha.
Jacob berjalan mendekati Alesha lalu menepuk bahu gadis itu. "Al, kakekmu harus istirahat terlebih dahulu, aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kesehatannya," BISIK Jacob.
Alesha langsung terkejut dan panik saat mendengar ucapan Jacob barusan.
"Kakek sakit?" Bisik Alesha balik.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan kesehatannya saja, Al," Jawab Jacob setenang mungkin agar tidak membuat gadisnya semakin merasa panik.
***
Siang ini, ibunda dan adik Jacob sudah sampai di bandara Soekarno Hatta, mereka sedang menunggu mobil jemputan yang akan membawa mereka langsung menuju apartemen yang Alesha dan Jacob tempati.
"Sha, kabari kakakmu kalau kita sudah sampai di bandara dan akan langsung pergi menuju apartemen," Perintah Laura.
"Sudah, tapi ponsel Jacob tidak aktif, Bu," Jawab Sharon.
"Kalau begitu kabari saja Mona, katakan padanya kalau kita sudah sampai di bandara Soekarno Hatta."
Sharon segera menuruti perintah kedua yang ibunya berikan itu. Lalu selang dua menit kemudian, sebuah sedan mewah pun muncul dihadapan ibu dan anak itu.
"Selamat siang, Nyonya, Nona, silahkan masuk," Sapa ramah sang supir mobil sembari membukakan pintu mobil untuk kedua majikannya.
Laura juga Sharon pun segera memasuki mobil sedan itu, dan membiarkan sang supir memasukan semua barang bawaan mereka kedalam bagasi mobil.
Dibelakang mobil sedan yang Sharon dan Laura tumpangi sudah ada tiga mobil sedan lain yang siap mengawal perjalanan dua wanita itu menuju apartemen mewah yang bertempat di Bandung.
"Ibu, Mona bilang kalau dia, Wiliam, dan Haris sudah terlebih dahulu sampai di Bandung dan sebentar lagi tiba di apartemen," Ucap Sharon yang sudah menerima balasan pesan digital dari kakak perempuannya.
"Baguslah kalau begitu, ibu jadi ingin cepat-cepat bertemu cucu ibu, Haris," Balas Laura dengan guratan senyum yang membentuk garisan keriput kecil diujung kelopak matanya.
"Haris habis menangis, Mona mengirimkan fotonya!" Seru Sharon begitu riang.
"Menangis? Kenapa?" Tanya Laura.
"Wiliam membangunkan Haris saat sedang tertidur."
"Aish, cucuku ini sangat menggemaskan," Gemas Laura.
"Pak, kira-kira kita akan sampai di Bandung jam berapa?" Tanya Laura pada sang supir.
"Sekitar pukul tiga, Nyonya," Jawab supir itu.
"Hmm, masih sangat lama," Tampak sedikit raut kecewa pada wajah Laura yang sudah mulai keriput.
"Sabar, Bu, berdoa saja semoga tidak macet, jadi kita bisa sampai lebih cepat," Sahut Sharon.
Saat sang nenek sedang ingin cepat-cepat tiba di apartemen miliknya yang berlokasi di Bandung untuk dapat bertemu dengan cucunya, kini sang cucu malah sudah sampai terlebih dahulu di apartemen itu.
Tepatnya di depan sebuah pintu dari unit apartemen yang akan ditinggal oleh Mona dan keluarga kecilnya, Jacob pun bertemu dengan sang kakak, kakak ipar, juga keponakannya itu.
"Jacob, apa kau tidak merindukan keponakan tampanmu ini?" Tanya Mona sembari menyodorkan anak lelakinya yang masih balita pada sang adik.
"Tidak! Anakku jauh lebih tampan darimu, Jack!" Balas Mona.
"Terserah kau, Mona. Ayo, pria kecil, kita temui calon tantemu,"
Haris tidak meronta ketika pamannya itu menggendongnya, karna memang ia sudah akrab dengan adik lelaki dari ibunya itu.
"Jangan bawa anakku pergi jauh-jauh, Jack!" Pekik Mona.
"Aku hanya akan membawanya ke apartemen Alesha! Kau dan Wiliam langsung saja masuk ke unit apartemen kalian!" Balas Jacob yang sudah berjalan menjauhi kakaknya.
"Jika sudah besar nanti, kau harus bisa seperti paman, menemukan seorang gadis yang bisa membuat duniamu jauh lebih hidup dan berarti," Jacob mengajak bicara keponakannya, meski itu hanya akan sia-sia saja mengingat Haris yang baru berumur satu tahun.
Tok... Tok... Tok...
Jacob mengetukkan gumpalan tangan mungil Haris pada pintu apartemen Alesha.
"Tante Alesha... Panggil dia, ayo.." Bisik Jacob pada Haris.
Selang beberapa menit, pintu pun terbuka dan menunjukkan Alesha yang sedang berdiri sembari memegangi gagang pintu.
"Mr. Jacob, anak siapa yang kau bawa?" Pekik Alesha, ia terkejut karna mendapati Jacob yang membawa seorang bocah laki-laki.
"Haris, keponakanku, anaknya Mona," Jawab Jacob sembari melangkah memasuki ruang dalam apartemen gadisnya.
"Dia sangat imut, boleh aku menggendongnya?" Alesha menggertakkan gigi-giginya karna gemas melihat wajah imut Haris. "Oh ya, dia tidak akan menangiskan jika aku menggendongnya?"
"Tidak, dia cepat akrab dengan siapa pun," Jawab Jacob sembari menyodorkan tubuh mungil keponakannya pada Alesha.
Alesha tersenyum girang saat kedua lengannya mulai mengambil alih tubuh Haris dan membawa balita itu pada gendongannya.
"Haii, namaku Alesha, ayo kita berkenalan," Sapa ramah Alesha pada Haris.
Haris terdiam tanpa memberikan berontakkan sedikit pun, ia hanya memandang seperti orang bingung pada Alesha. Mungkin kalau bisa diartikan maka yang Haris pikirkan adalah begini, 'Siapa orang ini?', 'Kenapa ia berbicara padaku?', begitulah Kira-kira.
Merasakan sebuah momen lain yang terkesan manis dan lumayan romantis, perlahan Jacob melingkari pinggang Alesha dengan lengannya. Sekarang mereka bertiga terlihat seperti sebuah keluarga kecil dimana sang istri sedang menggendong anaknya, dan sang suami memeluk pinggang istrinya dari belakang.
"Aku ingin segera memiliki anak, Alesha."
Ucapan Jacob barusan langsung mengubah mimik wajah Alesha yang semula tersenyum ria menjadi datar penuh kebingungan.
"Apa kau bilang?" Tanya Alesha.
"Aku ingin segera memiliki anak, bersamamu," Ulang Jacob.
Alesha terkekeh geli. "Mudah sekali kau mengatakan itu seolah kau sedang meminta pada istrimu sendiri."
"Aku memang sedang meminta padamu agar aku bisa segera memiliki anak, kaukan calon istriku," Balas Jacob.
"Hey, kita belum menikah! Dan kau pikir menghasilkan anak itu mudah!" Ketus Alesha.
"Maka dari itu kita harus melakukannya setiap malam atau bahkan pagi, siang, dan sore juga agar mempermudah kita untuk segera memiliki anak," Goda Jacob dengan tatapan nakalnya.
"Kau berencana untuk membunuhku secara halus, Mr. Jacob!"
"Apa yang salah dariku?" Jacob mengerutkan keningnya.
"Sudahlah, aku tidak mau membahas masalah ini, pasti nanti urusannya jadi panjang," Alesha memutar kedua matanya dengan jengah.
"Kita harus rajin berolah raga 'Itu' agar bisa cepat-cepat menghasilkan anak," Rayu Jacob yang sengaja ingin memancing emosi Alesha.
"Mr. Jacob!" Pekik Alesha.
"Apa? Aku hanya meminta anak padamu, apa aku salah?"
"YA! Mintalah pada yang maha kuasa, banyak berdoa! Aku tidak akan bisa memberikanmu anak jika tuhan tidak menghendaki!"
"Doa juga harus dibarengi dengan usaha, sayangku. Oleh karna itu kita harus berusaha setiap malam agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal,"
"Ayo Haris, kita pergi ke balkon saja ya, kita biarkan saja pamanmu ini sendirian."
Alesha pun berjalan ke arah balkon dan meninggalkan Jacob yang masih berdiri di tempat sembari cengar-cengir tidak jelas.
"Belum juga nikah udah minta anak, apalagi udah nikah nanti, hadeh.." Oceh Alesha.
"Aku mendengar itu, sayang," Sahut Jacob.
"Ish!" Alesha menghentakkan kakinya dengan perasaan sebal.
Jacob menyusul gadisnya menuju balkon apartemen. Melihat gadisnya menggendong tubuh tubuh mungil Haris membuat Jacob merasa bahagia. Entahlah, Jacob sedang membayangkan jika Alesha sedang menggendong anak mereka.
Jacob mencoba untuk menerawang, mengira-ngira bagaimana kehidupannya setelah menikahi Alesha nanti. Setiap saat selalu bersama, melakukan segala hal tanpa apa pembatas, Jacob amat mendambakan Alesha untuk menjadi sosok istri dan ibu dari anak-anaknya kelak.
Setiap melihat Alesha yang tersenyum atau tertawa, Jacob semakin sadar jika cintanya semakin berkembang lebih besar. Jacob sering bertanya-tanya dan mencari alasan kenapa Alesha bisa sangat memikatnya. Jacob tidak mau mencari yang lebih baik dari Alesha, Alesha sudah menjadi inti dari kehidupannya kini dan nanti, bahkan seterusnya.
Sama halnya dengan Jacob, semakin hari Alesha semakin sadar jika cintanya semakin bertumbuh kembang pada pria itu. Bimbang, tangis, kesepian, semua pahit yang pernah Alesha rasakan seolah lenyap ketika Jacob menghiburnya. Tertawa sendiri disaat-saat tertentu menjadi salah satu bukti untuk Alesha jika bayangan Jacob selalu menetap dalam pikirannya.
Sekarang, Alesha dan Jacob sama-sama saling melirik dan menyunggingkan senyuman terbaik.
"Aku mencintaimu, Alesha," Ucap Jacob seraya mengelus lembut puncak kepala Alesha yang terbaluti oleh kerudung.
"Aku juga, Mr. Jacob," Balas Alesha yang tersipu malu.
"Kapan kau siap untuk dinikahi, Al?" Goda Jacob.
"Aku wanita, aku hanya menunggu seorang pria yang serius untuk melamarku dan bertanggung jawab atas diriku. Kapan pun asal ada pria yang bersungguh-sungguh ingin meminangku, maka aku akan siap."
Lampu hijau yang Alesha berikan sontak membuat Jacob tersenyum kegirangan. Akhirnya, jalan Jacob untuk mempersunting gadisnya itu semakin lancar, patut untuk disyukuri.
"Aku tidak akan menuntutmu untuk segera hamil setelah kita menikah nanti, Al. Usiamu baru menginjak dua puluh tahun, aku tahu resikonya jika wanita hamil diusia muda, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpamu dan calon anak kita nanti."
Alesha hanya tersenyum kecil setelah mendengar ucapan Jacob barusan, ia bingung harus menjawab apa.
"Aku memang sudah merencanakan untuk menikahimu dalam waktu dekat ini, Alesha."
"Apa?" Pekik Alesha dengan tubuhnya yang turut terlonjak kaget.
"Aku akan menikahimu dalam waktu dekat, aku tidak tahan jika harus menunggu lebih lama lagi. Aku tidak ingin ada halangan yang membatasi kedekatan kita. Aku sudah sangat siap untuk bertanggung jawab penuh atas dirimu, Alesha."
"Dalam waktu dekat?" Ulang Alesha bersamaan ekspresi bingungnya.
"Ya. Dua minggu dari sekarang."
"APA?" Suara Alesha kian melengking lalu masuk dan menggema dalam ruangan. "Dua minggu dari sekarang!"
"Iya." Singkat Jacob.
"Mr. Jacob, pernikahan itu tidak hari ini direncanakan dan besok atau minggu depan bisa langsung dilaksanakan!"
Jacob yang mendengar itu pun seketika mengeluarkan tawa kecilnya yang tertahan-tahan. "Aku sudah mempersiapkan acara pernikahan kita sejak dua bulan yang lalu, sayang."