May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kerinduan Jacob



Setelah Jacob pergi tatapan bingung Stella, Nakyung, Maudy, dan Merina pun beralih menuju Alesha.


“Jangan tatap aku seperti itu!” Alesha mendengus kesal. Ia paling tidak suka ditatap seperti itu.


“Apa Mr. Jacob marah?” Tanya Nakyung.


“Tidak! Dia memang seperti itu.” Alesha menggeram kesal. Kakinya nyeri karna tadi Alesha harus berusaha untuk mengimbangi jalan dan langkah mentornya yang begitu cepat dan lebar.


“Mr. Jacob itu menyebalkan, dia menarikku dan sekarang kakiku sakit, harusnya aku yang marah padanya!”


“Oh ya, Al tadi Bastian datang dan mengambil ponselmu.” Saut Merina sambil membuka rompi yang melapisi seragam sekolahnya.


“Apa? Kenapa dia mengambil ponselku?” Tanya Alesha. Kini Alesha merasakan adanya sesuatu yang tidak beres hingga membuat raut wajahnya seolah menuntut jawaban dari Merina.


“Bastian bilang Mr. Jacob akan menyita ponselmu hingga kau sembuh total dan bisa ikut belajar lagi.” Jawab Merina.


“Apa?!” Pekik Alesha yang sukses membuat jantung keempat temannya itu mengalami sentakkan hingga terlonjak. Sedangkan Alesha, gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat dan juga memejamkan matanya untuk menahan emosi yang kini sudah memenuhi kepalanya.


“Alesha!” Bentak Nakyung yang kaget karna teriakan Alesha barusan.


“Mr. Jacob, dia, aarrghhh...” Alesha hanya bisa mengerang frustasi sedangkan amarahnya kini sedang berada dalam titik didih.


“Daripada kau marah-marah tidak jelas seperti itu lebih baik kau ceritakan saja kejadianmu!” Balas Nakyung yang mulai ikut tersulut emosi.


“Kalian pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku ceritakan.” Ucap Alesha dengan nada bicara yang mulai merendah. Namun sedetik kemudian rengekkan Alesha kembali membuat keempat temannya itu merasa jengah. “Tapi ponselku bagaimana?”


Stella pun memutuskan untuk mendekati Alesha. “Alesha sayang, Mr. Jacob hanya mengambilnya bukan berarti dia tidak akan mengembalikkannya padamu.” Sungguh lembut dan manis ucapan Stella barusan, namun dalam hitungan beberapa detik saja nada lembut dan manis itu berubah seketika menjadi bentakkan standar yang cukup membuat lonjakkan kecil pada tubuh Alesha. “Dan jangan merengek lagi! Aku dan yang lain sedang pusing setelah mengerjakan semua soalan rumus yang yang tadi diberikan!”


Alesha pun menunduk. Ia paham, teman-temannya itu pasti sedang kelelahan setelah mengerjakan soalan rumus rumit yang memusingkan. “Maaf...” Lirih Alesha.


“Sudah, jangan ribut, aku ingin beristirahat.” Saut Maudy yang kini bersandar malas pada kepala ranjang.


“Aku malah ingin mendengar cerita Alesha.” Merina pun mendekati Alesha dan melayangkan senyum manis tanda kalau ia sudah siap mendengarkan dongeng dari Alesha.


"Ya, kau benar, aku jadi penasaran ada kejadian seru apa saat Mr. Jacob membawamu, Al." Saut Nakyung sambil mengunyah potongan pop corn yang ditampung pada sterofoam kecil.


"Seru kau bilang? Temanmu sekarat dan kau bilang itu hal seru?" Alesha menggelengkan kepalanya dan menatap tidak percaya pada Nakyung. Bisa sekali Nakyung berkata hal seru, sedangkan waktu itu Alesha sedang bertaruh nyawa.


"Kau sekarat?" Tanya Nakyung dengan begitu santai ditambah ekspresi wajah tak berdosa.


Mendengar pertanyaan itu, Alesha pun mendatarkan wajahnya dan tidak berekspresi apapun. "Tidak, aku hanya disapa oleh ajal, dan setelah itu ajal itu pergi meninggalkanku."


"Lalu bagaimana kau bisa selamat?" Tanya Stella.


"Entah aku tidak tahu, aku hanya merasakan diriku yang tertidur saja, kalau mau tau lengkapnya tanya saja Mr. Jacob." Jawab Alesha.


"Dan setelah itu?" Merina mengangkat alisnya.


"Alesha bangun dan tidak jadi untuk pergi ke dunia lain." Saut Maudy secara tiba-tiba. Gadis itu bosan, dan ketika ia mulai mendengar cerita Alesha, ia pun jadi ingin ikut bergabung dengan yang lain dan mendekat kepada Alesha.


"Ya kurang lebih begitu." Sambung Alesha sambil tersenyum kikuk.


"Kau tahu, kami di sini seperti anak tiri yang tidak terurus jika saja Mr. Aldi tidak mau menggantikan posisi Mr. Jacob sementara sebagai mentor. Belum lagi kami juga panik karna kedatangan kelompok orang-orang jahat yang mengincar kami. Kau tidak tahu bagaimana paniknya kami saat  berhadapan dan diculik oleh mereka." Curhat Merina.


"Dan kau tidak tahu bagaimana rasanya diculik oleh orang asing lalu malihat pertarungan sengit hingga memakan korban jiwa. Mr. Jacob sendirian, dan dia menghabisi delapan orang sekaligus." Balas Alesha.


"Ceritakan semuanya, Al, aku penasaran." Stella pun menarik sebuah bangku agar bisa duduk dihadapan Alesha.


"Aku diculik oleh orang yang menculikku di sini. Dia juga yang memasukan racun kedalam tubuhku. Tapi Mr. Jacob, aku sungguh bangga mempunyai mentor seperti dia. Mr. Jacob benar-benar menjagaku dan tidak pernah melepaskanku dari pengawasannya, walau kadang aku merasa risih karna sikap protectifnya yang menurutku itu berlebihan. Tapi terlepas dari semua itu, walau sangat menyebalkan Mr. Jacob itu sangat perhatian dan begitu baik, kalian akan salut padanya."


Alesha menarik napasnya untuk memulai kembali dongengnya yang diambil dari kisah nyata. Tentu saja nyata, dongen itu adalah pengalaman pribadi Alesha. "Mr. Jacob hampir saja terkena tusukan berlati, tapi entah bagaimana jadinya pisau itu malah berbalik hingga menancap pada pria yang berniat untuk menusuk Mr. Jacob. Kalian tahu seberapa panik dan khawatirnya aku? Tapi aku bersyukur karna Mr. Jacob masih selamat." Alesha menghela napasnya ketika gambaran malam itu saat Jacob sedang bertarung dengan Mack kembali terulang dalam kepalanya.


"Aku takut, tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Entah berapa banyak air mata dan berapa lama aku menangis." Wajah Alesha tiba-tiba saja berubah menjadi datar. Tatapannya lurus kosong. "Mr. Jacob menghabisi Mack dan semua anak buahnya. Aku tidak tahu harus berbicara bagaimana lagi, tapi aku benar-benar takut malam itu."


"Mr. Jacob melawan delapan orang sendirian. Kau beruntung ada Mr. Jacob bersamamu, Alesha." Ucap Merina.


"Tapi siapa pria yang menculikmu itu, kenapa juga dia menculikmu?" Tanya Nakyung yang mulai mencurigai sesuatu dari cerita yang barusan Alesha katakan.


"Aku masih bingung, aku tidak ingat percakapan Mr. Jacob dan Mack sebelum mereka bertarung karna waktu itu aku terlalu takut dan khawatir." Ingatan pada malam kejadian itu semakin jelas dan suara yang dihasilkan dari setiap pukulan menggema pada kuping Alesha.


Tubuh Alesha pun mematung dan membeku ketika rasa panik dan trauma merayap-rayap memasuki hati dan pikirannya. Wajahnya datar namun tersirat sebuah ketakutan. Tangan Alesha terkepal, napasnya mulai tidak teratur.


"Alesha, kau baik-baik saja?" Tanya Maudy yang bingung dengan perubahan ekspresi wajah Alesha dalam waktu yang begitu cepat.


Tidak mendapatkan respon dari Alesha, keempat gadis itu mulai panik karna takut sesuatu yang buruk terjadi pada Alesha.


"Alesha, kau tidak apa-apa? Jawab, Al." Nakyung menepuk pelan pipi Alesha dan membuat Alesha terusik.


Gelengan kecil pada kepala Alesha menandakan kalau gadis itu sudah kembali pada kesadarannya yang sempat hanyut terbawa oleh ketakutan dan trauma yang mendadak menyambangi dirinya.


"Cukup, aku tidak mau melanjutkan ceritanya, kalau kalian masih penasaran silahkan tanyakan langsung pada Mr. Jacob." Ucap Alesha sembari memegangi dahinya. Ingatan mengenai kejadian malam itu membuat rasa pening yang kembali menyeruak dalam kepalanya.


***


Di aula utama, semua pengurus SIO dan WOSA telah berkumpul, termasuk para mentor yang kini sudah berdiam diri ditempat duduk masing-masing.


"Selamat siang semuanya." Ucapan pembuka dari Mr. Thomson telah dikeluarkan, dan selanjutnya adalah balasan salam dari para anggota yang menghadiri rapat itu.


"Saya Thomson selaku kepala sekolah dan penanggung jawab WOSA mengumpulkan kalian semua dalam rapat kali ini dengan tujuan untuk membahas beberapa hal mengenai keputusan baru yang sudah SIO tetapkan. Untuk lebih jelasnya, saya persilahkan Eve agar menjelaskan yang lebih detailnya."


Eve mengangguk kecil pada Mr. Thomson setelah mendengarkan kalimat perizinan tadi, dan ia pun mulai membuka suaranya untuk melanjutkan ucapan dari Mr. Thomson.


"Terima kasih, Mr. Thomson." Kalimat awal itu Eve ucapkan dengan nada datar, dan selanjutnya, Eve kembali melanjutkan kata-kata yang akan memberikan kejelasan dan detail informasi dari tujuan diadakannya rapat itu.


"Jadi, saat aku berada di SIO kemarin Mr. Frank memerintahkanku untuk menyampaikan beberapa hal pada kalian semua, diantaranya adalah perubahan lamanya waktu pendidikan di WOSA. Dua tahun adalah keputusan yang sudah ditetapkan oleh SIO untuk proses pembelajaran para murid WOSA. Dua tahun itu pula para guru dan mentor harus memberikan pelajaran dan praktek ekstra kepada setiap murid. Beberapa perusahaan sudah menandatangani kontrak batas kerja bersama SIO. Mulai dari angkatan tahun ini, para murid WOSA adalah hak mutlak milik SIO dan tidak dapat dijual atau dibeli oleh perusahaan atau organisasi lain, maka dari itulah dasar dibentuknya kontrak batas kerja yang berarti semua perusahaan dan organisasi yang ingin memakai jasa dari para agent dan pegawai lulusan WOSA harus menandatangani kontrak sewa bersama SIO dengan lama waktu sesuai dengan yang sudah ditentukan dalam kontrak batas kerja itu sendiri."


Eve menjeda sebentar penjelasannya untuk memberikan akses jalan bagi oksigen yang ingin masuk kedalam paru-parunya.


"SIO menuntut para mentor untuk memberikan pelatihan keras dan membentuk mental keberanian dari dalam diri para murid WOSA. Musuh SIO sudah mulai menunjukkan diri mereka kepermukaan, maka dari itu SIO dan beberapa organisasi lain sangat amat membutuhkan banyak agent baru yang benar-benar siap. Para ilmuan sudah mendapatkan jadwal mereka dari SIO untuk melakukan penelitian dalam skala besar di kawasan Pasifik Utara dan perairan Mariana, dan satu lagi, kelompok jaringan gelap itu diperkirakan akan kembali melancarkan aksi mereka dalam waktu dekat."


"Lalu bagaimana dengan Vincent? Dia dan anak buahnya juga beberapa rekan kerja samanya, termasuk Mack pasti sudah memiliki rencana lain." Tanya salah seorang pengurus WOSA.


"Mr. Frank masih akan melacak keberadaannya dan memantau semua pergerakan yang mencurigakan dari dalam mau pun luar SIO." Jawab Eve.


"Dan untuk Mack, ia sudah mati dibunuh oleh salah satu agent yang kini sedang duduk tepat dihadapanku." Lanjut Danish yang menatap lurus pada Jacob.


"Berita itu sudah sampai pada SIO dan kuping para pebisnis gelap. Polisi dan beberapa detektif khusus sudah menemukan bukti melalui kamera yang terpasang pada jalan raya yang mobil Mack lewati bersama sebuah mobil yang Jacob gunakan." Lanjut Danish.


Tatapan bingung dan sedikit dibumbui oleh perasaan kaget harus Jacob terima dari para anggota rapat saat itu, kecuali Mr. Thomson, Danish, dan Eve.


Jacob hanya bisa terdiam datar tanpa memberikan kalimat balasan apapun. Ya, cepat atau lambat berita kematian Mack yang disebabkan oleh Jacob pasti akan tersebar.


Danish menghembuskan napasnya dan melipatkan kedua tangannya. "Pihak kepolisian sudah menghubungi SIO agar bisa bertemu dengan Jacob untuk memberikan sebuah apresiasi karna sudah membantu memberikan hukuman mati pada Mack. Tapi SIO menolak, ia ingin Jacob tetap berada di WOSA dan berjaga-jaga jika suatu saat kelompok jaringan gelap atau musuh lain menyerang WOSA."


"Apa klarifikasikasimu, Jack?" Tanya Danish.


Sedangkan Jacob, pria itu merasa jengah dengan pertanyaan temannya barusan. Jacob enggan mengingat kejadian malam itu.


Niat yang tidak ada membuat Jacob malas untuk menjawab pertanyaan Danish. "Mack menculik Alesha dan bersekongkol dengan Vincent untuk membunuh Alesha juga aku."


"Apa?!" Pekik Laras yang membelah aura dingin dan penuh keseriusan dalam ruangan itu.


"Sayang..." Sebuah panggilan lembut dan pelan pun Danish layangkan agar membuat Laras kembali tenang dan tidak mengacaukan jalannya rapat.


"Lanjutkan Jack!" Perintah Mr. Thomson.


"Dia membawa Alesha ke hutan untuk menjebakku. Tapi itu adalah kesalahan terbesar karna mereka berpikir mereka bisa mengalahkanku, dan pada akhirnya mereka lah yang menjadikan korban dari kebusukan rencana mereka sendiri."


Dan masih ada beberapa kalimat lagi yang Jacob ceritakan lebih ditail pada anggota rapat yang berada dalam ruangan itu. Namun tidak ada waktu banyak untuk menjabarkan setiap hal yang dibicarakan dalam rapat itu karna semua hal yang paling inti sudah Eve sampaikan dan jelaskan.


Hingga akhirnya, ketika waktu sudah memberikan sinyal kalau rapat telah usai, Mr. Thomson pun memutuskan untuk menutup rapat itu setelah mencatat semua penjelasan dari Eve juga beberapa kebijakan baru WOSA yang sudah SIO tetapkan.


Para mentor pun tidak mau menyita banyak waktu untuk terus terdiam ditempat saat rapat telah usai. Mereka segera keluar dan pergi ke ruangan masing-masing.


Langkah tegap dan cepat sengaja Jacob lakukan agar ia bisa segera sampai di ruangannya. Rasanya cukup lelah untuk Jacob. Selama dua minggu lebih energi terus menerus dikuras. Jacob harap setelah ini tidak akan ada lagi kejadian aneh. Jacob ingin membiarkan dirinya beristirahat dari segala rasa lelah dan letih, kepalanya juga butuh untuk diliburkan dari pikiran-pikiran tegang yang seperti sebuah perisai yang mengobrak abrik otaknya.


Kini Jacob sudah sampai di ruangannya. Ia segera masuk dan merebahkan dirinya diatas kasur lebar dan besar. Memejamkan mata dan mendengar samar deburan ombak dari laut yang berjarak sekitar seratus meter dari dinding belakang gedung mentor membuat Jacob merasa ada hawa ketenangan yang mulai memeluknya.


Tapi sayang waktu seperti itu tidak berlangsung lama, pikiran Jacob kembali dibuat lelah ketika ingatan tentang Alesha yang tadi membuka kotak Lost Memory miliknya kembali menjadi topik hangat dalam kepalanya.


Namun Jacob juga tidak dapat menyangkal kalau saat ini ia kembali merindukan sosok Yuna. Tiga tahun kebersamaan dengan Yuna membuat Jacob tidak bisa melepas gadis itu. Yang tersisa dalam kepala Jacob kali ini hanya lah kenangan-kenangan hambar, sedang wajah Yuna semakin pudar dalam ingatannya.


Hilangnya sosok Yuna masih menjadi tragedi yang memilukan untuk Jacob. Cintanya begitu besar hingga harapan kala itu bersama sang ratu hati untuk memiliki dua anak malah berbalik mensayati diri Jacob dengan brutal.


Bagi Jacob, saat terindah adalah Yuna yang bersandar pada dadanya sambil menikmati gelombang laut disore hari. Kesmesraan yang Jacob dapatkan bersama Yuna terus saja mencambuki dada Jacob untuk saat ini. Ia sangat merindu, tapi tidak ada takdir yang membawa Yuna untuk kembali padanya, namun Jacob ingin Yuna kembali. Jangan tanya Yuna atau Alesha yang akan Jacob pilih. Tentu Jacob akan memastikan Yuna yang berada dalam peluknya dan Alesha yang tidak akan pernah terlepas dari genggaman Jacob. Egois? Tentu tidak. Karna Yuna mustahil akan kembali, jadi Jacob akan membawa Alesha masuk dalam peluknya. Atau mungkin jika Yuna kembali, Jacob akan kembali membawa Yuna dalam peluknya dan membiarkan Alesha.


Sungguh Jacob tidak mampu jika harus memilih antara Yuna atau Alesha. Jacob mencintai Alesha, namun Yuna adalah ratunya, tapi Jacob tidak ingin melepas Alesha.


"Kalian adalah sama, dan kalian juga yang mengubah waktuku. Masa kalian berbeda, tapi aku takut jika harus kehilangan lagi." Rintih Jacob.


"Aku tidak bisa melepaskanmu, Yuna, aku sangat mencintaimu, kembali lah." Kini Jacob meraih foto yang berada dalam kotak Lost Memory itu.


"Kau tahu seberapa terpuruknya aku? Aku benar-benar merindukanmu, aku gila dan aku benar-benar frustrasi. Aku akan menjagamu, kembali lah."


Mata yang terpejam pun tidak dapat menghalangi cairan kristal kecil yang melesat melewati wajah Jacob. Menangis memang menjadi cara jitu untuk Jacob agar bisa mengungkapkan gelisahnya setelah sang ratu hati pergi untuk selamanya.


Bahu Jacob bergetar kala air matanya turun semakin lebat. "Kenapa kau semakin menghilang? Aku tidak ingin kehilangan sosokmu dalam pikiranku, tapi ini semua bukan kehendaku. Aku sangat mencintaimu. Aku berjanji untuk menikahimu dan kita akan memiliki dua anak. Aku ingin menepati janjiku, Yuna."


Dipandangnya dengan sendu lembaran foto yang kini berada dalam jepitan jemari Jacob.


"Jika suatu saat kita bertemu kembali, maka cincin ini akan aku selipkan dijemari manismu, dan setelah itu aku akan tenang dan mengikhlaskan kepergianmu. Tenang dan berbahagia lah, sayang."


Lengan Jacob beralih menuju kalung yang tersembunyi dibalik bajunya. Cincin itu masih setia menjadi liontin cantik yang menggantung pada kalung yang Jacob kaitkan pada lehernya.


"Cincin ini akan selalu menunggu pemiliknya untuk kembali."


***


Hallo everbodyhh😁😎 hehe author cuman mau bilang kalo nanti authornya telat publish cerita ini tolong dimaafin ya, soalnya author ada banyak banget tugas numpuk di kehidupan nyata 🤭 tapi author bakal tetep usahain buat up tiap hari biar bisa cepet-cepet bikin Alesha sama Jacob saling lengket 🤭🤣 oh ya, maaf juga ya kalo aku belum sempet feedback karya author lain, tapi tenang aja, aku itu paling gak bisa jauh dari novel, ibarat kaya kehidupan kedua gitu jadi aku bakal tetep jadi penikmat novel para author keceh yang lain😄 hehehe semangat ya, semoga kalian suka sama kelanjutan cerita ini, makasih banyak ya yang udah mau kasih like, vote, komen, and rate cerita aku ini. Luv U All❤️💋🥰