May I Love For Twice

May I Love For Twice
Berteduh di Rumah Pohon



Karna keadaan cuaca yang tidak bisa diprediksi secara tepat, malam itu rintik hujan mulai turun. Setiap detiknya menghasilkan gelintiran air yang semakin cepat dan lebat. Karna hal itu, akhirnya Jacob dan Alesha memutuskan untuk naik ke atas rumah pohon dan berteduh di sana.


Lalu Bastian? Pengorbanan si ketua itu memang cukup besar dan membutuhkan kesabaran ekstra. Ia terpaksa harus berteduh di bawah rumah pohon tanpa bisa mengeluarkan suara sedikit pun.


Hmmm, sabar, Bas. Tiket gratis liburan ke Hawaii sudah menunggumu, Mr. Jacob sudah menjanjikan itu..... Gumam Bastian dalam hati.


"Mr. Jacob, hujannya lebat." Ucap Alesha yang terlihat khawatir ketika pandangannya berpapasan dengan kilatan petir.


"Tidak apa, Al." Balas Jacob sembari melepaskan jas yang ia gunakan untuk dipakaikan pada Alesha.


Baju dress yang Alesha pakai hanya menggunakan tali hitam tebal untuk bagian pundaknya, jadi jelas saja Alesha akan merasa kedinginan karna udara yang bersuhu rendah.


"Pakai ini untuk menutupi pundakmu." Ucap Jacob sambil membaluti pundak Alesha dengan jasnya.


"Terima kasih, Mr. Jacob."


Ah, senyumannya. Aku berharap kau akan tertidur, Al..... Gumam gemas Jacob dalam hati.


"Oh ya, pijamaku dimana?" Tanya Alesha yang mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah pohon itu.


"Ini ada." Jawab Jacob sembari mengangkat baju tidur Alesha yang tadi tergeletak disebelahnya.


"Ya ampun, aku pikir tertinggal di bawah." Alesha menghela napasnya dengan tenang saat mendapati kalau baju tidurnya itu berada disebelah mentornya.


"Tidak, aku yang membawanya ke atas tadi bersama Baby Ale."


"Terima kasih kembali, Mr. Jacob." Alesha tersenyum kikuk. Ia jadi malu hingga wajahnya memanas.


"Kenapa kau membawa baju tidurmu?" Tanya Jacob.


"Kalau aku meninggalkannya di kamarmu bisa-bisa nanti petugas laundry melaporkannya pada Mr. Thomson karna mendapati ada baju tidur wanita."


Jawaban dari Alesha barusan membuat Jacob tidak dapat menahan senyumannya. "Pintar." Jacob mengusap pelan puncak kepala Alesha.


"Kau tidak merasa kedinginan?" Mulailah Jacob memancing Alesha agar gadis itu mau masuk kedalam peluknya dengan memanfaatkan udara dingin yang lumayan mencekam. Maklum, disaat-saat aura romantis seperti sekarang ini, Jacob juga tentunya mengharapkan sesuatu yang romantis pula, ya contohnya adalah dengan memeluk Alesha.


Jacob sadar akan kelakuannya, ia sadar ia sudah banyak menaruh dosa pada Alesha sedangkan Alesha sendiri sedang mencoba untuk membawa dirinya kejalur yang sesungguhnya. Namun apalah daya Jacob, seorang lelaki yang kini mendambakan cinta dari gadis kesayangannya.


Maaf, Al, aku tidak bisa menahan hasratku. Tapi aku bisa menjamin kalau aku tidak akan pernah melakukan hal yang melampaui batas padamu, kecuali setelah kau sudah menjadi istriku. Aku tidak akan pernah menaruh noda besar padamu jika kita belum menikah, aku janji itu..... Janji Jacob dalam hatinya.


"Tidak, ehmm tapi sedikit sih." Jawab Alesha sambil menyandarkan tubuhnya pada pinggiran tembok kayu.


Kesempatan cukup terbuka untuk Jacob, dengan pelan ia mendekatkan tubuhnya untuk duduk tepat bersebelahan dengan Alesha.


Pandangan Alesha kini tertuju pada kue ulang tahunnya yang terletak tidak jauh dari tempat ia duduk. "Kue ulang tahunnya tidak terkena air hujankan?"


"Tidak, Al. Kue itu terletak jauh dari cipratan air hujan." Jawab Jacob yang diam-diam menaruh lengannya kebelakang pinggang Alesha.


"Aku rasa hujannya akan berlangsung lama." Ucap Alesha yang terlihat pasrah. Ia pun menghembuskan napasnya dengan pelan, merasakan setiap sensasi dingin yang menyelinap kedalam jas milik mentornya dan menyentuh kulitnya.


"Kalau kau mengantuk tidur saja. Benar, hujan ini pasti akan berlangsung lama." Ucap Jacob yang kembali memberikan kode pada gadisnya agar mau tertidur sehingga ia dapat membawa Alesha pada pelukannya.


Tetapi Alesha enggan menjawab. Ia sedang asik merasakan ketenangan jiwanya dari suara percikan air hujan yang menimpahi atap rumah pohon. Suara alam memanglah indah, dan Alesha juga sangat menyukai hujan karna menurutnya hujan adalah suatu keberkahan dimana setiap alirannya akan membawa hanyut segala kegundahan diri dan pikiran.


Alesha menatapi setiap tetesan yang turun dari kabut mendung diatas langit. Matanya mengerjap beberapa kali hingga membuat kejutan pada bulu mata yang terbentuk melengkung keatas secara sempurna.


Terkadang jika Alesha sedang tertidur dalam pelukannya, Jacob suka untuk memainkan bulu mata lentik milik gadisnya. Gemas dan cukup mengasikan untuk Jacob dikala waktu menunggunya hingga Alesha terbangun.


Sudah jam berapa sekarang? Alesha tidak tahu, tapi rasanya malam belum larut dan masih dalam fase awal hadirnya cahaya bulan. Tapi kenapa Alesha mulai merasakan sensasi berat pada matanya? Apakah efek dari hujan yang membuatnya begitu tenang sampai lupa akan sekitarnya.


Terpaan angin sangat menyejukkan, udara dingin begitu menusuk, dan suara hujan yang mengubah pikiran. Alesha mulai larut dalam bayang-bayang kesadaran yang menyusut. Alesha mengantuk, matanya mengerjap pelan dan butuh sedikit tenaga tambahan untuk dapat terbuka.


"Kalau mengantuk tidur saja, Al." Ucap Jacob sembari mengaitkan lengannya pada pinggang Alesha, dan secara perlahan membawa gadis itu masuk dalam pelukannya.


Tapi sayang, Alesha masih berada diatas batas kesadarannya. "Emm, Mr. Jacob, lepas." Lengan Alesha beralih untuk melepaskan pinggangnya dari rengkuhan sebelah lengan milik sang mentor.


"Aku belum mengantuk." Lanjut Alesha yang memaksakan matanya untuk tetap terbuka lebar.


"Peluk Baby Ale jika kau ingin tidur." Jacob menaruh boneka beruang besar milik Alesha tepat diatas pangkuan gadis itu.


Seketika Alesha pun memberikan respon cepat dengan memeluk boneka kesayangannya.


"Bontot akan aku bawa pulang nanti. Aku punya satu lagi boneka beruang yang besar, namun warnanya coklat." Ucap Alesha sambil memanjakan jemarinya dibulu-bulu lembut yang menempel pada boneka beruangnya.


"Oh ya, Mr. Jacob bagaimana kau bisa merawat bonekaku? Bulunya tidak berdebu dan tidak kusam."


Jacob terkekeh saat mendengar pertanyaan Alesha barusan. Bagaimana cara ia merawat Baby Alenya? Jacob sangat menyayangi boneka gadisnya itu, tentu saja Jacob akan merawatnya dengan baik.


"Karna aku selalu membersihkannya setiap hari dan tidak pernah aku jauhkan dari jangkauanku."


"Baguslah kalau begitu, tidak salah aku menitipkan boneka ini padamu."


Pastinya, Al. Baby Ale adalah alat untukku bisa merasakan kedekatan denganmu saat malam hari. Boneka itu benar-benar membuat tidurku semakin nyenyak..... Ucap Jacob dalam hati.


Alesha membenamkan wajahnya pada pundak boneka besar itu. Sebenarnya Alesha cukup kesusahan untuk memeluk bonekanya, tubuhnya terhimpit karna ukuran boneka itu yang terlalu besar jika dibandingkan dengan tubuhnya.


"Jam berapa sekarang?" Alesha melirik pada mentornya.


"Jam setengah delapan malam." Jawab Jacob.


"Kapan hujannya akan berhenti?" Wajah Alesha terlihat muram. Ia ingin segera kembali ke kamar messnya karna udara yang semakin bertambah dingin.


"Tidak bisa diprediksi, Al. Jika kau mengantuk tidur lah. Benamkan wajahmu pada Baby Ale, setelah itu kau akan terlelap." Ucap Jacob. Ia khawatir pada Bastian yang saat ini sedang berada tepat di bawah rumah pohon sendirian dan sudah pasti kehujanan. Tapi Jacob tidak mau jika Alesha tahu kalau di tempat itu juga ada Bastian.


Untungnya saja Alesha mau mendengarkan ucapan Jacob. Ia membenamkan wajahnya pada punggung boneka itu dan mencari kenyamanan di sana.


Bastian, tunggu lah sebentar lagi, akan ku buat Alesha tertidur dahulu... Cemas Jacob dalam hatinya.


"Aku akan membangunkanmu saat hujan reda nanti, tidur saja, Al."


Usapan lembut dari mentornya dibiarkan begitu saja oleh Alesha. Ia ingin membayangkan kalau yang sedang mengusap kepalanya itu adalah kedua orang tuanya. Alesha rindu, sebelas kali ia melewati momen pertambahan usia tanpa adanya orang tua.


Cepat tidur, Alesha, aku kasihan pada Bastian di bawah.... Ucap Jacob dalam hatinya.


"Aku mengantuk, Mr. Jacob." Lirih Alesha.


"Tidur saja, peluk Baby Ale dan nanti kau akan tertidur dengan sendirinya." Balas Jacob.


Mungkin usulan dari mentornya itu ada benarnya. Pikir Alesha.


Tanpa banyak berpikir panjang lagi, langsung saja Alesha memeluk dengan erat tubuh boneka beruang besar kesayangannya. Menutup mata dan menunggu alam bawah sadarnya menjemput.


Jacob sudah resah, ia menunggu Alesha untuk benar-benar larut dalam tidurnya, ia mengkhawatirkan Bastian yang pasti sudah menunggu dari tadi di bawah.


"Tidurlah, Al, aku akan menjagamu." Ucap Jacob sembari mengeluskan puncak kepala Alesha dengan telapak tangannya dan berharap hal itu dapat membantu Alesha untuk semakin cepat larut dalam tidurnya.


Keresahan semakin menyeruak dalam hati Jacob saat menit demi menit berlalu. Jacob menerka-nerka melalui insting kuatnya kalau saat ini Alesha sudah sepenuhnya diambil oleh ketidak sadaran. Beberapa kibasan tangan Jacob lakukan tepat diwajah Alesha, dan hal itu tidak membuat gubrisan pada Alesha.


"Bagus."


Jacob segera merangkak menuju ujung rumah pohon yang tidak bertembok juga tidak berpintu.


"Hei, Bastian!"


Dari bawah, Bastian yang merasa namanya terpanggil langsung menatap ke arah atas dimana asal suara itu berasal.


"Cepat naik kesini!"


Akhirnya..... Ucap Bastian dalam hati sembari mengelus dadanya. Tidak ingin membuang waktu, Bastian pun segera membalikkan tubuhnya dan memanjati tangga kayu yang menempel pada tubuh pohon besar dan kokoh itu.


"Aku sangat kedinginan di bawah, Mr. Jacob." Ucap Bastian yang baru saja menongolkan tubuhnya di teras kayu rumah pohon itu. Namun setelah beberapa detik berlalu, mata Bastian menyipit dan keningnya berkerut bingung. Sebuah pemandangan asing kini terpampang jelas didepan wajahnya.


"Syutt, jangan berisik atau jika Alesha terbangun kau akan kembali ke bawah lagi!" Sebuah peringatan pelan dari Jacob membuat Bastian semakin memlambat pergerakannya.


Namun bukan hal itu yang membuat Bastian merasa aneh dan kebingungan, melainkan posisi Jacob yang begitu dekat dengan Alesha dan memberikan usapan lembut dipuncak kepala gadis itu.


Baiklah, mungkin lebih baik Bastian terdiam ketimbang harus banyak mengajukkan pertanyaan dan membuatnya harus turun kembali ke bawah.


Gesekan antara waktu dan suasana di tempat itu membuat peralihan dalam pikiran hingga hanya ada hening yang menjadi sosok ketiga. Jacob dan Bastian sama-sama terdiam dan menikmati gemercik deras dari awan.


Udara semakin dingin, dan waktu malam semakin menjerumus. Alesha masih dalam mimpinya sedangkan Bastian hanya bisa memeluk lutut merasakan sensasi dingin saat guyuran air dari langit mulai berhenti.


Jacob tetap dalam posisi awal, duduk disebelah Alesha dan membiarkan gadis itu bersandar pada bahunya. Sesekali, Bastian mendapati mentornya yang sedang mengelus lembut pipi Alesha.


"Kau sangat mencintainya ya?" Tanya Bastian.


Suara kecil dari tawaan yang Jacob keluarkan membuat Bastian mengerutkan keningnya.


"Kenapa memangnya?" Tanya balik Jacob. Jemarinya kini asik menggelitik pelan pada bulu mata lentik milik Alesha.


"Kau sangat lengket padanya, aku curiga kalau sebenarnya Alesha sudah mengetahui perasaanmu."


"Baguslah. Aku memang berharap seperti itu."


"Kenapa kau tidak mengatakan langsung saja pada Alesha kalau kau menyukainya?" Sebelah alis Bastian terangkat saat mengucapkan pertanyaan itu.


"Aku tidak mau mendengar penolakan darinya. Alesha masih terpaku pada lelaki lain dan masih belum melepas lelaki itu." Raut wajah Jacob mendadak turun. Senyum asiknya berubah menjadi datar saat pikirannya menyebutkan nama Adam.


"Aku rasa Alesha akan cepat melupakannya jika kau terus menerus menarik hatinya secara diam-diam."


"Sedang aku lakukan. Secara bertahap dan aku akan membuat Alesha jatuh cinta padaku." Rasa gemas Jacob kembali menyerang hingga membuat kedua lengannya memerangkap tubuh Alesha.


"Jangan cemburu, Bas." Senyum jahil Jacob terbentuk sebelum akhirnya ia menaruh satu kecupan pada kening Alesha dan satu lagi pada pipi Alesha.


"Ya ampun." Bastian memutar kedua bola matanya dengan jengah saat mentornya itu menyuguhkan pemandangan panas yang menggoyahkan jiwa jomblonya.


"Apa kalian selalu seperti ini jika sedang menghabiskan waktu berdua?" Tanya Bastian yang lebih memilih memandang ke arah hamparan langit.


"Ya, tapi hanya aku saja. Alesha akan sangat marah padaku jika tahu aku melakukan ini padanya."


"Lalu kenapa kau melakukannya?"


"Aku sangat gemas padanya. Alesha seperti orang yang sudah mati jika ia tertidur, tidak tersentuh dan tidak peka dengan suara atau apapun yang terjadi disekitarnya. Tidak seperti kebanyakan orang yang biasanya akan langsung terbangun jika mendengar gesekan atau suara kecil saja. Itu kenapa aku sangat suka jika Alesha sudah tertidur disebelahku, rasanya seperti aku bisa melakukan apapun tanpa takut dia akan menyadarinya." Jacob kembali menaruh belaian lembut pada wajah Alesha.


Sangat tenang untuk Jacob dapat memandangi Alesha yang begitu damai saat matanya tertutup. Jemari pria itu tidak mau membawa diri untuk pergi dari landasan mulus yang kini berwarna sedikit pucat akibat terpaan angin dingin.


"Apa rencanamu, Mr. Jacob? Kapan kau akan menyatakannya pada Alesha?"


"Entah, tapi aku ingin memastikan kalau lelaki itu sudah menghilang dari hati Alesha."


Kedua lengan Jacob semakin merengkuh Alesha tanpa melepaskan boneka yang sedang Alesha peluk.


"Aku mencintaimu, Ale." Ucap Jacob yang disusul satu kecupan lembut pada bibir Jacob yang tidak tahu kali keberapa bersentuhan dengan bibir Alesha.


"Aku harap kalian akan menjadi pasangan yang serasi dan bahagia." Bastian menelan salivanya sendiri dengan sedikit kesusahan ketika melihat mentornya yang menaruh ciuman pada salah satu anggotanya.


"Terima kasih, Bas. Aku harap juga begitu karna aku sangat mencintainya." Lengan Jacob naik dan mengelus punggung Alesha.


Dalam waktu yang amat singkat, iris mata Jacob tiga-tiba saja menghitam dan begitu intens menyoroti wajah Alesha. Layaknya seorang hewan liar yang sedang mengintai mangsanya, Jacob merasakan sesuatu yang berasal dari luar jangkauannya perlahan masuk mengambil alih pikirannya.


Hati Jacob meronta dan memberikan sinyal untuk segera menjauh dari Alesha. Hasrat berbahaya Jacob sedang menggelegar didalam dirinya. Ia tidak mau menodai Alesha lebih jauh lagi, cukup pelukan dan ciuman, Jacob tidak mau kebablasan dan menanggung resiko kalau nanti Alesha akan membencinya.


"Sial!!" Umpat Jacob yang kesal karna dengan terpaksa ia harus melepaskan pelukannya.


Bastian yang secara mendadak melihat tingkah aneh mentornya itu langsung memasang ekspresi bingung dengan sedikit memiringkan kepalanya.


"Selalu seperti ini!!" Racau Jacob saat sebisa mungkin menahan amarahnya.


"Kau kenapa, Mr. Jacob?"


Jacob tidak menjawab, ia berusaha untuk menetralisir pikirannya dan membawa kembali kesadaran utuh dengan menutup mata. Seperti melakukan yoga atau semacamnya.


"Apa Alesha terbangun?" Tanya Bastian lagi.


"Tidak."


"Lalu kau kenapa?"


"Seperti biasanya."


Jawaban Jacob barusan menimbulkan kebingungan dalam diri Bastian. Maksudnya apa? Pikir Bastian.


"Kau mungkin akan tahu jika kau memiliki seorang kekasih, Bas." Lanjut Jacob.


"Aku pernah memiliki kekasih, tapi aku tidak mengerti maksudmu."


"Lupakan saja."


Bisa bahaya jika aku selalu seperti ini saat dekat dengan Alesha. Aku takut jika aku tidak bisa mengendalikkan hasratku..... Ucap Jacob dalam hati.