May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kebersamaan Lagi III



Disaat yang lain sudah terlelap, Alesha masih enggan menutup matanya. Ia jadi takut kalau ia tidak akan bisa bangun lagi, atau pun sekalinya bangun ia sudah berada ditempat yang berbeda, lagi pula matanya masih belum menunjukan tanda akan ketertarikan untuk terlelap. Semalaman itu Alesha terjaga sendirian. Apakah ini efek karna kemarin ia pingsan seharian? Alesha masih tidak bisa menebak-nebak kondisinya, sekarang pun Alesha merasakan tubuhnya mulai melemah kembali. Sedikit rasa kaku kembali menyambangi telapak kaki Alesha yang dingin karena terkena AC ruangan. Naik lagi menuju tangannya, Alesha merasa sesuatu yang sangat berat menahan setiap pergerakan kecil yang coba Alesha lakukan. Jantungnya berdegub kencang dan rasa panik mulai memasuki diri Alesha. Apa ia akan pingsan kembali? Alesha merasa semakin lelah dan lemas. Dilihatnya kantung cairan impus yang menggantung. Kantung itu sudah hampir kosong, dan Alesha butuh oksigen lebih untuk paru-parunya. Ia kedinginan, AC terasa begitu kencang saat keadaan yang hening seperti ini, dan juga selimut yang ia pakai hanya sebatas perut saja. Alergi dinginnya kembali kambuh, dan pergerakan napas Alesha terasa lebih sulit, bahkan suara hembusan napas terdengar cukup nyaring. Benar-benar menyulitkan kalau Alesha sudah merasakan sesak napasnya lagi, kalau bukan debu, udara dingin dapat memengaruhi pernapasannya.


"Mr. Jacob.." Panggil Alesha lirih. Ia berusaha untuk menggerakkan jari telunjuknya yang dingin dan kaku.


"Mr. Jacob, bangun.." Lanjut Alesha yang semakin lirih. Jemarinya berhasil menyentuh pipi Jacob dan memberikan gerakan kecil yang membuat Jacob terusik.


Jacob terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya terangkat dan mendapati Alesha yang wajahnya sudah pucat.


"Alesha, ada apa?" Tanya Jacob yang mulai panik. Tangannya beralih pada telapak tangan Alesha yang terasa sangat dingin. "Kau kedinginan, asmamu kambuh, ya ampun!" Jacob yang bertambah panik saat mendapati Alesha yang kesulitan untuk bernapas.


"Bantu aku bangun, aku sulit bernapas jika berbaring seperti ini." Pinta Alesha.


"Baiklah." Segara Jacob membantu Alesha untuk duduk dan bersandar. Alesha sendiri terdiam sambil berusaha untuk mengatur jalan napasnya.


Jacob beralih pada sisi lain dan menekan tombol pada dinding untuk memanggil perawat atau pun dokter jaga.


"Maaf, aku ketiduran." Ucap Jacob dengan raut bersalah yang terlihat jelas.


Alesha membalasnya dengan senyuman kecil. Ia paham, Jacob kelelahan dan tentunya butuh istirahat.


"Aku tahu, maaf aku membangunkanmu, aku tidak tahu lagi harus bagaimana." Ucap Alesha dengan pelan. "Mr. Jacob, aku merasakan kaku dikaki dan tanganku, tubuhku kembali lemas, dan jantungku berdetak cukup cepat selama beberapa saat tadi." Alesha memberikan tatapan sedih pada Jacob. "Aku tidak tidur karna aku takut kalau aku akan pingsan lagi." Lanjut Alesha dengan nada yang semakin sendu.


"Tidak, kau akan baik-baik saja, Al, kau harus berpikir positif agar bisa cepat pulih." Balas Jacob yang tidak kalah sedihnya. Ia merasa miris saat melihat tatapan sayu yang berisi kesedihan dari Alesha.


Tidak lama, seorang perawat dan seorang dokter jaga mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan.


"Permisi, ada yang bisa kami bantu?" Tanya dokter jaga itu dengan ramah.


"Cairan impusnya sudah hampir habis." Jawab Jacob yang mengisyaratkan pada perawat untuk menggantikan kantung cairan impus Alesha dengan yang baru.


Dokter wanita itu mendekati Alesha. "Kau memiliki riwayat asma, sayang? Kasihan. Mungkin untuk beberapa menit kau akan diuap dahulu agar bisa membantu memulihkan jalan pernapasanmu." Ucap dokter itu dengan ramah sembari mengusap pelan rambut Alesha yang terurai sepunggung.


Sekitar lima menit kemudian, seorang perawat datang dengan membawa alat uap dan kantung cairan impus yang baru. Segeralah perawat tersebut menggantikan kantung cairan impus, dan sang dokter memasukan sedikit carian obat kedalam tabung kecil yang berada didalam alat uap. Alesha pun segera memakai masker uap yang dokter itu beri. Sebuah tombol kecil ditekan dan naiklah asap asap putih yang dihasilkan oleh obat tadi melalui selang kecil menuju mulut dan hidung Alesha.


"Jika sudah selesai panggil aku kembali. Mungkin sekitar sepuluh sampai lima belas menitan." Ucap dokter itu dengan ramah. Diraihnya selimut yang menutupi kaki Alesha. "Kau harus hangatkan tubuhmu." Dokter itu memakaikan tubuh Alesha dengan selimut.


"Terimakasih." Balas Alesha dengan pelan.


"Sama-sama. Baiklah, aku akan pergi dulu, nanti aku kembali lagi." Ucap dokter itu lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan.


Alesha menarik napasnya dengan pelan sambil menyesuaikan asap dari obat yang memasuki paru-parunya. Jemari Jacob menyelinap masuk kedalam selimut mencari-cari letak telapak tangan Alesha. Setelah dapat, Jacob pun memberikan elusan pelan pada jemari Alesha yang masih terasa dingin.


"Kau akan baik-baik saja." Ucap Jacob dengan tenang.


Alesha tidak menjawab. Ia hanya membalanyas dengan ekspresi wajah yang datar dan lemas. Dipejamkannya mata Alesha dan merasakan setiap ketenangan yang mulai memasuki dirinya. Jacob hanya bisa memperhatikan tanpa berkata-kata lebih banyak lagi. Ia tidak mau mengganggu Alesha dan juga proses uapnya.


Selama hampir sepuluh menit, baik Jacob mau pun Alesha sama-sama tidak ada yang membuka percakapan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Alesha yang perlahan merasakan sensasi kantuk pun mengerjapkan matanya beberapa kali, dan Jacob, pikirannya melayang sambil membawa bayangan wajah Alesha.


Jacob kembali mengingat semua kenangan manis yang sudah ia dan Alesha lewati bersama. Saat di rumah pohon, Alesha tertidur dalam pelukannya, saat Alesha dirawat minggu lalu, Jacob dan Alesha bermain gunting batu kertas, Alesha membuat mahkota rakitan dari bunga dan memakaikan pada Jacob, menikmati matahari terbenam bersama dan memandangi lautan bintang yang menggantung dimalam hari, dan masih banyak lagi momen manis yang tidak ingin Jacob lupakan bersama gadis manisnya.


Alesha mengerutkan keningnya saat beberapa kali ia mendapati Jacob yang tersenyum-senyum sendiri.


"Kau kenapa?" Tanya Alesha pelan.


Jacon pun terksiap dan sadar dari lamunannya. "Apa? Kenapa?" Tanya balik Jacob.


"Kau kenapa senyum-senyum sendiri?" Ulang Alesha.


"Aku?" Jacob menunjuk dirinya sendiri. "Aku kenapa? Memang ada apa denganku?" Tanya balik Jacob dengan ekspresi yang sedikit salah tingkah.


"Malah nanya balik." Balas Alesha dengan malas. "Kau tertawa sendiri tadi, apa yang sedang dipikirkan?" Tanya Alesha lagi.


"Aku memikirkanmu." Jawab Jacob dengan spontan. Kening Alesha pun seketika berkerut dan mulutnya sedikit terbuka bersamaan dengan ekspresi bingung yang kini Alesha layangkan pada pria yang ada dihadapannya itu.


Jacob terkesiap, ia kaget dengan jawaban yang barusan terlontar begitu saja dari dalam mulutnya. Iris mata Jacob begerak kekiri dan kanan karna gugup ketika Alesha memandanginya dengan ekspresi bingung dan tidak percaya. Sorot mata Alesha semakin tajam dan membidik kedua lingkaran kecil berwarna hitam yang berada ditengah mata Jacob.


"Maksudnya, aku sedang memikirkan kondisi kesehatanmu, apakah kau bisa cepat pulih, dan kapan kau bisa pulang." Ucap Jacob disertai senyum kaku yang tidak meyakinkan, berharap kalau Alesha akan mempercayainya.


Alesha menyipitkan matanya dan mencari kejujuran dalam sorot mata Jacob.


"Baiklah." Alesha mengedikan bahunya dan mengangguk kecil. Alesha pikir kalau mungkin Jacob memang berbicara jujur. Ia pun berpikir kalau mana mungkin Jacob memikirkannya karna hal lain selain kondisi Alesha sekarang. Sebagai mentor, wajar saja kalau Jacob memikirkan kondisi Alesha sekarang, secara dia juga yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada anggota timnya.


Jacob sendiri menghembuskan napasnya dengan lega setelah melihat ekspresi percaya Alesha akan ucapannya tadi. Bohong kalau Jacob hanya memikirkan kondisi Alesha saja, semua hal tentang Alesha adalah hal baru yang selalu merasuki pikiran Jacob. Sebisa mungkin Jacob memasang ekspresi tenang dan tidak mencurigakan, padahal jantungnya masih berdegub kencang karna ucapannya yang secara tidak sengaja keluar begitu saja tanpa dipikir terlebih dahulu.


"Apa kau tidak memikirkan yang lain? Bagaimana keadaan anggota tim yang lain?" Tanya Alesha.


"Jelas aku juga memikirkan mereka, aku tidak tenang jika lebih lama lagi meninggalkan anggota timku, mereka adalah tanggung jawabku." Jawab Jacob. "Maka dari itu, kau cepatlah sembuh agar bisa segera kembali ke WOSA dan lanjut belajar seperti yang lain." Lanjut Jacob.


"Aku merindukan teman-temanku." Alesha mulai murung, ia pun menunduk sedih. "Maaf aku selalu merepotkanmu dan yang lain."


Jacob terkesiap, hatinya merasa miris saat melihat wajah Alesha yang dibaluti perasaan sedih.


"Kau tidak bersalah, dan ini bukan yang pertama kalinya untukku. Aku pernah mengalami hal serupa dengan timku dulu. Salah satu tanggung jawab para mentor WOSA adalah menjaga setiap anggota timnya dari kelompok jahat. Jujur saja, aku merasa kalau kalian, semua murid WOSA memiliki resiko tinggi, orang-orang jahat akan memanfaatkan kalian jika mereka berhasil menculik salah satu dari kalian." Ucap Jacob sembari mengelus pelan pipi Alesha dengan telapak tangannya.


Aku sedih jika harus bertemu denganmu sebagai murid WOSA, resiko tinggi akan selalu membayangimu dan yang lain tanpa kalian sadari. Sudah banyak organisasi gelap yang mencoba untuk menculik murid WOSA dari dulu sejak pertama kali WOSA dibuka, mereka ingin semua informasi yang WOSA dan SIO miliki melalui jalur kalian, para murid. Tapi jika bukan karna WOSA, belum tentu aku akan bertemu denganmu, dan belum tentu aku bisa melupakan Yuna dengan cepat.... Ucap Jacob yang berlanjut dalam hati.


Jacob tahu resiko yang dihadapi, ia akan berusaha keras menjaga setiap anggota timnya, Jacob menyayangi mereka seperti kepada saudara dan adik sendiri. Walau kadang mengesalkan, terutama Mike dan Lucas yang begitu jahil dan petakilan, tapi Jacob menemukan kebahagiaan bersama anggota timnya, seolah ada keluarga baru yang selalu menemani hari-hari Jacob, ditambah lagi dengan adanya Alesha, sosok yang baru saja ia kenal beberapa bulan lalu kini begitu akrab dan menarik hatinya.


"Aku merasa tidak enak, aku bukan hanya menyusahkanmu, tapi juga anggota timku." Lanjut Alesha dengan lirih. "Aku kasihan dengan, Bas, seharusnya dia bersama yang lain di WOSA, dan menggantikanmu, tapi dia malah menemaniku juga di sini."


"Alesha, kita adalah tim, sebagai tim kita harus saling menjaga, memahami segala kondisi, dan menerima semua kesedihan dan kebahagiaan bersama. Kau jangan takut, lagi pun teman setimmu tidak memprotes apapun, mereka dituntut untuk memahami segala kondisi dan situasi, termasuk situasi yang seperti ini. Mereka merindukanmu, Al, Nakyung mengirim pesan padaku, dan dia juga berharap kalau kau cepat sembuh kembali." Balas Jacob dengan lembut.


Alesha terdiam tanpa mengeluarkan kata-kata. Ia termenung dan hanyut bersama pikirannya yang tertuju pada rasa bersalah dan tidak enak pada anggota timnya yang lain. Ia jadi malu pada Jacob, karna ia selalu saja merepotkan mentornya itu. Alesha jadi bingung, kenapa Mack menculiknya lagi? Apa yang Mack mau? Perasaan yang sedikit takut memasuki diri Alesha. Ia takut kalau Mack akan kembali dan mencelakainya lagi, lalu harus merepotkan mentor dan anggota timnya lagi.