
Pukul enam kurang sepuluh sore.
Alesha dan Jacob baru saja tiba di apartemen mereka.
"Mandi lalu setelah itu aku akan menyuruh Taylor untuk membelikkanmu martabak." Ucap Jacob.
Alesha hanya mengangguk. Sayup-sayup kantuk memberatkan kelopak matanya.
"Sekarang masuk lah." Lanjut Jacob.
Alesha menurut. Gadis itu masuk ke dalam apartemennya sekalian menutup pintu.
Jacob yang masih berdiri didepan pintu unit apartemen gadisnya pun seketika menyunggingkan senyum menawannya. Ia tahu jika gadisnya itu kelelahan dan mengantuk, juga menginginkan seporsi martabak manis.
Sejak dijalan tadi, Alesha terus mengoceh, ralat! Lebih tepatnya meracau ingin membeli martabak. Alesha mengantuk tadi, jadi bicaranya sedikit melantur.
"Hallo, Taylor. Tolong belikan martabak manis rasa coklat untuk Alesha secepat mungkin."
"....."
"Oke, terima kasih, Taylor."
Setelah memberikan perintah pada asistennya, Jacob pun berjalan menuju unit apartemen yang ia tempati. Membersihkan diri, lalu setelah itu kembali menemui gadisnya lagi hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama saja.
***
"Hoaammm...." Alesha menguap, rasanya mengantuk sekali.
Dilihatnya jam pada dinding, ternyata sudah pukul enam lewat lima belas sore. Biasanya Alesha akan langsung mengambil wudhu lalu menunaikan sholat maghrib, tapi karna kali ini teman bulanannya sedang bertamu, ia pun lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Astagfirullah! Nina!" Alesha menepuk keningnya saat ia teringat akan sosok sahabat baiknya itu.
(Nina: Alesha, kamu di mana sih? Kok belum pulang?)
Read...
(Me: Nin, bisa ke apartemen Grand Sparkle Apartemen gak?)
Alesha sempat gugup, ia harus jujur pada Nina jika ia kini sudah tinggal disebuah apartemen mewah.
Lima menit menunggu, akhirnya Nina pun membalas pesan Alesha.
(Nina: Loh ngapain? Itukan apartemen elite, Sha? Kamu di sana ya? Ngapain sih?)
Read....
(Me: Aku tuh sebenernya disuruh tinggal di apartemen itu sama Mr. Jacob soalnya apartemennyakan punya ibunya Mr. Jacob, Nin.)
Read.....
(Nina: WHAT? YOU JUST KIDDING ME, ALESHA! 🤤)
Read....
(Me: No! I'm sure. Aku serius, Nina. Makanya ke sini dulu aja.)
Read.....
(Nina: Oke, aku bakal ke sana, tapi mungkin nanti jam sepuluhan ya, Sha, aku masih bimbingan sama dosen soalnya.)
Read....
(Me: Okay👌)
Read.....
Alesha menghembuskan napasnya dengan lega setelah mengatakan yang sebenarnya pada Nina. Namun setelah itu, entah kenapa rasa kantuknya malah semakin bertambah.
Alesha menaruh ponselnya diatas bupet, kemudian ia mengguling-gulingkan tubuhnya diatas kasur besar itu, dan setelah dirasa kenyamanan sudah ia dapatkan secara perlahan Alesha pun memejamkan matanya.
Tubuh yang dirasa begitu lelah meminta untuk diistirahatkan. Hanya dalam waktu lima menit, kini Alesha sudah tertidur lelap.
Berbeda dengan Jacob, pria itu sudah beres membersihkan tubuhnya. Dengan setelan baju dan celana joger santai, Jacob pun berniat untuk mengunjungi gadisnya.
Dengan dua bungkus martabak spesial yang dibeli di toko kue oleh Taylor, Jacob semakin bersemangat untuk menemui Alesha.
"Taylor, aku ke Alesha dahulu ya." Ucap Jacob.
"Ya, tuan." Balas Taylor.
Jacob menjinjing bungkusan martabak manis rasa coklat itu sembari berjalan menuju unit apartemen yang gadisnya tempati. Saat sampai didepan pintu, Jacob menyentuh enam digit angka yang ada pada layar digital kecil yang menempel disebelah gagang pintu untuk memasukkan kode akses masuk.
Setelah selesai, pintu pun terbuka, Jacob masuk dan keheninganlah yang didapatinya. Jacob berpikir kalau Alesha ada di dalam kamar, maka dari itu Jacob pun memutuskan untuk berjalan menuju kamar gadisnya yang berada di lantai dua unit apartemen itu.
"Alesha...." Tidak ingin mengejutkan gadisnya, Jacob memanggil nama itu dengan lembut.
Tidak mendapati balasan, Jacob lalu berjalan mendekat ke arah kasur dimana tubuh Alesha sedang meringkuk penuh kenyamanan di sana.
"Ya ampun!" Jacob menepuk keningnya. Ia terkekeh saat melihat kedua kelopak mata Alesha yang terpejam begitu tenang.
Menurut Jacob, Alesha seperti menikmati waktu tidurnya itu.
"Tadi kau sangat bersemangat untuk jalan-jalan bersamaku di tempat wisata itu, dan sekarang kau sudah meringkuk nyaman karna kelelahan. Ck, ck, ck, Alesha...." Jacob tertawa kecil. Ia menempatkan dirinya dengan duduk dipinggiran kasur untuk bisa memberikan belaian lembut dikepala Alesha.
"Aku sudah membelikkanmu martabak, Ale, dan sekarang kau malah tertidur."
Melihat Alesha yang tertidur pulas membuat Jacob merasa sangat tenang. Wajah polos gadisnya tampak semakin manis saat tertidur.
"Kita akan secepatnya menikah, Alesha. Aku tidak mau lagi ada batasan yang menghalangi kedekatan kita." Jemari Jacob beralih pada pipi Alesha, dan memberikan usapan lembut di sana. "Kau pasti akan terkejut saat tahu kapan kita akan melangsungkan akad kita, sayang. Aku sudah menyiapkan semuanya, aku sudah tidak sabar untuk segera sampai ditanggal yang sudah tidak jauh lagi dari hari ini." Senyuman Jacob semakin melebar saat ia mengingat rencananya yang sudah disusun sejak dua bulan lalu.
***
Berbeda di tempat lain, tepatnya di Bandara Soekarno Hatta, sekelompok pemuda yang baru saja keluar dari dalam pesawat kini sedang berjalan di area terminal bandara.
"Mike, tolong bawakan tasku!" Pinta Merina yang sibuk dengan koper-koper, tas-tas, dan segala macam perlengkapan yang ia bawa.
"Merina, apa isi semua itu? Kau banyak sekali membawa perlengkapan!" Saut Nakyung dengan malas.
"Banyak, semua perlengkapan milikku aku bawa semuanya," Balas Merina.
"Tyson, dimana mobil SIO yang akan menjemput kita?" Tanya Bastian.
"Di depan, Bas," Jawab Tyson.
"Siapa suruh membawa begitu banyak barang," Sindir Maudy.
"Cukup! Ayo, kita harus cepat. Kemungkinan kita untuk sampai ke Bandung adalah pukul sepuluh atau sebelas malam, itu pun jika lancar," Ucap Bastian.
"Apa Mr. Jacob sudah diberitahu kalau kita sudah mendarat?" Tanya Aiden.
"Sudah, dia bilang pihak SIO sudah mengkonfirmasi kalau untuk beberapa bulan kita akan tinggal di apartemennya selagi asrama yang SIO bangun untuk para pegawai belum rampung sepenuhnya," Jawab Mike.
Setelah berjalan selama beberapa menit, kedelapan pemuda-pemudi itu pun akhirnya menemukan mobil mini bus yang akan langsung mengantarkan mereka menuju apartemen milik ibunda Jacob di Bandung.
Tidak mau membuang-buang waktu, mereka segera memasukkan semua barang dan perlengkapan kedalam bagasi mobil, lalu setelah itu mereka mengambil tempat masing-masing untuk mereka duduki.
"Aku lelah duduk terus sejak tadi, dan sekarang aku harus duduk lagi selama beberapa jam. Argh, aku ingin tidur!" Oceh Nakyung.
"Kau bisa tidur diperjalanan, Yuna Kyung alias Nakyung, atau teman-teman di Korea mu biasa memanggilmu apa? Ah ya! Una!" Ucap Merina sembari menjentrikan jarinya.
"Hey, kau memiliki banyak sekali nama panggilan ya?" Merina memiringkan wajahnya dan menatap bingung pada temannya yang berdarah Korea itu.
"Tentu saja, Nakyung terkenal di tempatnya tinggal, dan dia memiliki banyak panggilan dari musuh-musuhnya di sekolah, benar bukan, Nuna Nakyung?" Ledek Lucas.
"Ck, jangan mentang-mentang kau lebih muda dariku dan kau seenaknya memanggilku dengan sebutan 'Nuna', Lucas!" Nakyung melotot pada Lucas. "Aku jijik mendengarmu memanggilku dengan sebutan itu."
"Hahaha, Nuna?" Ledek Mike.
"Argh, terserah kalian!" Nakyung yang jengah akan tingkah kawan-kawannya itu pun memilih untuk memakai headset -nya dan mendengarkan musik sembari menikmati perjalanan.
***
Kembali menuju kamar Alesha, di sana Jacob masih menahan dirinya untuk tetap berada disamping Alesha sembari memberikan usapan lembut pada puncak kepala gadis itu.
Jacob begitu asik dengan lengannya yang satu lagi memainkan ponsel. Ia sudah sangat paham bagaimana sifat gadisnya jika sudah tertidur lelap, yaitu tidak akan mudah terusik kalau hanya diberikan usapan-usapan lembut, dan itulah sebabnya mengapa Jacob berani untuk tetap berada disisi gadisnya dan terus memberikan belaian pelan itu.
"Jam, sembilan malam. Bastian dan yang lain sudah sampai di mana sekarang?" Gumam Jacob yang sedikit mengkhawatirkan anak-anak asuhnya saat masih di WOSA waktu itu.
"Hallo, Bas. Kau dan yang lain sudah sampai di mana? " Ucap Jacob yang menghubungi Bastian melalui sambungan telepon.
"Entahlah, Mr. Jacob, aku bingung cara mengucapkannya. Sebentar aku akan coba. Ci-ci-cika-rang, Cika-rang, ya, Cikarang, Mr. Jacob."
"Masih lumayan jauh, kabari aku lagi nanti."
"Kau pasti sedang bersama Alesha, hahahaha."
"Kenapa memangnya? Dia calon istriku."
"Cepatlah menikah, buatkan aku dan yang lain keponakan yang cantik dan tampan."
"Tenang saja, itu akan segera terwujud, Bas, berdoa saja semoga sebulan atau dua bulan lagi Alesha akan mengandung anakku."
"Aku doakan semoga secepatnya kalian menikah dan memiliki anak yang dapat membuat kalian bangga."
Ucapan Bastian barusan membuat sunggingan senyum yang begitu lebar pada wajah Jacob.
"Terima kasih, Bastian. Sudahlah, Alesha sedang tidur sekarang, aku tidak mau membuat keberisikan."
"Apa? Tidur? Apa yang habis kau lakukan bersama Alesha, Mr. Jacob? Ya ampun! Aku memang memintamu untuk membuatkan keponakan, tapi nanti jika kau dan Alesha sudah menikah, bukan sekarang!"
"Hei, aku tidak melakukan apapun padanya, aku hanya menemani Alesha saja."
"Jaga dia baik-baik, dan kuatkan dirimu, Mr. Jacob, hahahaha."
"Kau ini! "
Ketika sambungan telepon terputus, Jacob beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah meja dimana ada sebuah kalender duduk di sana. Ditatapnya lekat-lekat satu tanggal yang sudah sangat ia nantikan. Tidak jauh dari hari ini, dan beberapa hari setelah prosesi lamaran dilakukan, Jacob akan menjadikan Alesha miliknya seutuhnya.
"Minggu depan undangan akan disebar, dan persiapan untuk pernikahan dimulai," Gumam Jacob. "Mas kawin, hantaran, semuanya sudah beres, hanya tinggal kakek Alesha saja yang perlu dibawa ke sini."
Jacob membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan mendekati Alesha yang masih terlelap dalam tidur.
"Aku akan memberitahu padamu tentang hari dan tanggal lamaran dan pernikahan kita yang sudah tidak jauh lagi dari hari ini, Alesha. Aku sudah sangat siap untuk kehidupan kita selanjutnya, aku akan berusaha untuk menjadi seperti seorang suami yang kau idamkan."
Memandang raut manis yang sedang terjaga dalam tidur itu membuat Jacob tidak bisa mengalihkan pandangannya pada objek lain. Kedua matanya sudah candu untuk menetap pada dua kelopak Alesha yang menutupi area iris coklat gadis itu.
"Selamat malam, dan selamat tidur, My Lil' Ale."
Tidak ada niat sama sekali untuk Jacob meninggalkan ruang kamar gadisnya itu. Ia ingin tetap di sana, menjaga, dan mengamati kedamaian wajah gadisnya.
***
Di Florida, tepatnya di istana modern milik Laura, kini Sharon sedang sibuk berkutik dengan koper-koper dan barang miliknya.
"Sharon, beritahu Jacob kalau kita akan berangkat ke Indonesia siang ini pukul tiga!" Perintah Laura.
"Baik, bu."
Sharon segera meraih ponselnya untuk mengirim pesan teks pada kakak laki-lakinya, Jacob. Setelah melaksanakan perintah dari ibunya, baru lah Sharon kembali membereskan perlengkapannya yang akan ia bawa ke Bandung, Indonesia.
"Meoww....." Maya, kucing kesayangan milik Sharon pun datang menghampiri majikannya.
"Diamlah, Maya," Sharon menjauhkan tubuh kucingnya dari perlengkapannya yang masih berserakan.
"Meoww...."
"Diam, atau kau tidak akan ajak ke Indonesia!"
Ancaman Sharon itu membuat kucingnya, Maya langsung terduduk di tempat tanpa mengeluarkan suara atau berjalan-jalan.
Sharon kembali menyusun barang-barangnya kedalam koper besarnya. Adik bungsu Jacob itu menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk merapikan perlengkapannya, baru setelah itu ia pun pergi menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya secepat mungkin.
Lima belas menit berlalu, Sharon keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju walk in closet. Memilih pakaian yang tepat untuk ia kenakan, baru setelah itu, cepat-cepat Sharon menuju meja riasnya untuk memberikan polesan pada wajah cantiknya.
"Permisi, nona Sharon, nyonya Laura meminta anda untuk pergi kemobil sekarang juga," Ucap seorang pelayan.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang juga!" Seru Sharon.
Untuk terakhir kalinya, Sharon pun menelisik wajahnya dan memastikan kalau make up yang menempel diwajahnya itu sudah sempurna.
"Beres!" Gumam Sharon dengan senyum manisnya.