
Laura, Sharon, dan Jacob kini sedang duduk bertiga di ruang keluarga. Sharon masih terus mengelap sisa air matanya dengan tisu setelah ia mendengar semua penjelasan dari ibunya. Sharon sedikit syok karna selama ini dia baru tahu kalau ia memiliki dua orang kakak. Sharon masih belum habis pikir kenapa selama ini ibunya merahasiakan semua hal tentang kedua kakaknya, ditambah lagi terbesit rasa kecewa dalam diri Sharon saat mendengar penjujuran dari ibunya jika kedua kakaknya sudah ditelantarkan sejak kecil. Miris sekali jika Sharon berada diposisi kedua kakaknya. Kenapa ibu dan mendiang ayahnya bisa sejahat itu pada anak mereka? Sharon tahu sekarang, orang tuanya dulu memang bukan dari kalangan atas, bahkan untuk makan saja cukup kesulitan, tapi seharusnya itu tidak menjadi alasan. Jika saja ibunya tidak menelantarkan kedua kakaknya, mungkin sekarang Sharon tidak akan merasa asing dengan Jacob, dan juga Mona nanti.
"Maafkan, ibu." Ucap Laura dengan lirih sambil memegang telapak tangan kedua anaknya. Sharon masih menangis, dan Jacob hanya memalingkan wajahnya dengan malas. "Maaf, ibu sudah berbohong pada kalian. Harapan ibu selanjutnya adalah ingin membuat ketiga anak-anak ibu bisa saling menyayangi dan membantu satu sama lain, seperti permintaan terakhir ayah kalian." Lanjut Laura.
Laura menyatukan telapak tangan Jacob dan Sharon. "Kalian harus bisa menjadi saudara yang sehati. Ibu mohon. Terutama kau dan kakakmu, Jacob, ibu minta maaf."
Tidak ada jawaban dari Jacob. Pria itu masih enggan membuka suaranya.
"Jacob, ibu mohon, kau boleh acuhkan ibu, tapi jangan kepada adikmu, dia tidak bersalah sama sekali, dia tidak tahu apapun, tolong jaga dia." Kini tangis Laura pecah, wanita paruh baya itu bertekuk lutut dikaki Jacob.
Jacob terkejut saat melihat ibunya yang tertunduk lemas dikakinya. Rasa kasihan dan prihatin kemudian menyelinap masuk kedalam hati Jacob. Bagaimana juga Laura adalah ibunya, sekecewa apapun Jacob, tetap saja ia harus menghormati ibunya, apalagi sekarang ibunya sudah menyadari kesalahannya dan juga sudah berkali-kali meminta maaf pada Jacob. Apa Jacob harus memaafkan ibunya, dan mulai membenahi hubungan keluarga yang berawalan pahit? Ditatapnya Sharon oleh Jacob. Adiknya itu sangat cantik dan begitu mirip dengan Mona, Jacob juga jadi tidak tega pada adiknya, Sharon tidak bersalah apa-apa.
Sharon pun menunduk saat mendapatkan tatapan kasihan dari Jacob.
"Baiklah, kau tidak perlu bersikap berlebihan." Ucap Jacob sambil mengangkat tubuh ibunya.
Kedua iris dari ibu dan anak itu saling beradu. Jacob menutup matanya, ia merasakan setiap udara yang masuk memenuhi paru-parunya. Mencoba untuk mengingat hal lain, Jacob tahu kalau ia sangat menyayangi orang tuanya serta tidak akan membenci dan akan selalu memberikan maaf jika kelak ia bertemu, Jacob merindukan orang tuanya, tapi kenapa saat Laura, ibunya datang dan mengaku sebagai orang tua Jacob, entah kenapa rasa rindu dan sayang itu berubah jadi rasa kecewa dan amarah. Hati yang tadinya begitu mengharapkan untuk bertemu dengan sosok orang tua yang wajahnya tidak pernah Jacob tahu, malah berubah menjadi rasa kecewa yang berkelanjutan hingga Jacob enggan untuk menganggap Laura sebagai ibunya.
Apa ini waktu untuk Jacob mengubah rasa amarah dan kecewa itu menjadi seperti semula sebelum Jacob bertemu dengan ibunya? Jacob pun tidak tega melihat kerlingan air mata yang terus mengalir membasahi pipi ibunya.
"Kau minta maaflah pada Mona, jika dia memaafkanmu, maka aku akan memaafkanmu juga, Bu." Ucap Jacob dengan mata yang mulai diisi oleh kaca-kaca cair. "Dan kau, salam kenal, aku Jacob." Lanjut Jacob pada Sharon disertai senyuman tulus. Mungkin ini akan menjadi awal baru lagi untuk Jacob, dan ia bukanlah tipikal pria yang egois, jadi, jika ini adalah jalan untuk memperbaiki hubungan dengan keluarganya, Jacob pun akan bersedia, walau ia butuh waktu untuk memulihkan hatinya.
***
Saat ini, Alesha sedang terduduk sendiri dipinggiran sebuah kasur yang begitu besar dengan balutan bad cover yang begitu wangi dan lembut. Alesha tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Levin dan Bastian sendiri menempati kamar tamu yang lain, lalu Jacob? Tubuh Alesha menengang seketika saat ia mengingat kejadian tadi, sang Nyonya rumah mengatakan kalau rumah ini adalah rumah milik Jacob juga, dan Jacob merupakan anak dari Laura. Alesha tidak tahu kalau mentornya itu adalah anak dari orang tua yang super kaya. Alesha mengerutkan keningnya, ia bingung kenapa mentornya itu tidak mengatakan yang sebenarnya tentang orang tuanya?
Alesha menunduk sedih, ia ingat mungkin dalam anggota timnya hanya Alesha saja yang bukan keturunan dari keluarga kaya. Bukan maksud menyalahkan situasi dan kondisi orang tuanya yang bukan dari kalangan atas, Alesha sangat bersyukur atas hidup penuh dengan kesederhanaan dan kasih sayang orang tua, tapi mungkin untuk saat ini Alesha menjadi lebih minder, ia tidak menyalahkan dirinya yang hanya seorang gadis sederhana dengan hidup yang penuh kesederhanaan pula, tapi yang ia takutkan adalah, apa mungkin teman-temannya mau terus berteman dengan Alesha yang tidak mempunyai segala kemewahan, sedangkan yang lain, bahkan mentornya sendiri pun terlahir dari keluarga kaya raya. Alesha tidak akan menyalahkan jika nanti teman-temannya pergi meninggalkan Alesha yang statusnya hanya gadis biasa, tidak ada garis keturunan konglomerat dalam keluarga Alesha, dan Alesha juga ingin tetap seperti ini, menjadi gadis yang akan terus bersyukur dengan apa yang sudah diberi oleh Allah, harapan Alesha saat ini hanya satu, menjadi seperti ibunya yang begitu alim dan taat dalam menjalankan ibadah sesuai anjuran nabi, juga menjadi seperti ayahnya yang memikiki kecerdasan dan wawasan yang begitu luas. Semoga semua itu dapat Alesha raih dijalan yang sudah Allah tentukan untuknya.
Renungan untuk Alesha, ia kesulitan untuk menjadi hamba yang lebih baik setelah kesalahannya dulu. Sepeninggal orang tua yang membuatnya begitu depresi dan membiarkan semua ajaran baik yang sudah orang tuanya ajarkan, namun Alesha selalu bertekad untuk mengembalikan dirinya menjadi seperti dulu, mungkin secara bertahap, bahkan kerudung berwarna cream dan sebuah baju dress muslim favorit ibunya masih Alesha simpan dengan baik. Sesulit itukah untuk menjadi seorang yang bisa membawa dirinya kejalan yang paling benar. Kesucian hati tidak bisa dilihat dan dinilai oleh manusia di bumi ini, hanya Allah yang tahu seberapa inginnya Alesha kembali menjadi seperti dulu, mungkin waktu masih terus berjalan, dan masih ada kesempatan untuk Alesha merubah dirinya walau itu akan memakan waktu cukup lama.
Alesha mengedarkan pandangannya ke arah jendela lalu menatap langit.
"Alesha tau, Alesha udah dikasih petunjuk dan jalannya olehmu, tolong kuatkan dan teguhkan hati Alesha, Alesha rindu rumah Alesha di surga, Alesha pengen ketemu orang tua Alesha, bantu selalu Alesha dalam setiap ujian yang bakal Alesha dapetin dijalan yang sudah engkau tunjukkan, Ya Allah." Alesha tersenyum kecil. Hatinya menjadi lebih tenang saat ini. "Maaf, Alesha udah bikin engkau kecewa karna perilaku Alesha yang dulu, melepas kerudung, bertingkah kaya anak gak berpendidikan, dan takut untuk mengingat kembali ajaran agama yang udah orang tua Alesha ajarkan. Tapi Alesha sadar, dan sekarang Alesha ngerasain beratnya buat jadi hamba yang baik. Tolong maafin semua hal yang sudah berlalu, Alesha cuman takut kalau kau akan menghiraukan Alesha dan tidak mempertemukan Alesha sama umi sama bapak. Maaf, Ya Allah, Alesha sadar Alesha salah." Alesha tertunduk dengan telapak tangan yang menyentuh dada. Hatinya terasa sesak saat mengingat semua dosanya dulu. Tapi Alesha bersyukur, Allah kembali mengingatkannya dan membuka hatinya untuk kembali kejalan yang benar. Sandaran terbaik untuk Alesha hanyalah kepada Sang Tuhan, Allah yang menurut Alesha begitu baik, namun Alesha merutuki kesalahannya terhadap dirinya sendiri juga kepada Allah, yang selama ini selalu mendampingi Alesha.
Perlahan bibir Alesha mulai bergerak dan melantunkan bacaan ayat suci yang syukurnya masih Alesha hapal. Dulu, walau usia Alesha masih termasuk bocah kecil, tapi ia merupakan seorang penghapal Al-Quran, ibunya selalu membantu Alesha dalam proses penghapalan, dan ada lagi seorang guru mengaji khusus yang mengajarkan Alesha dalam memperindah bacaan Al-Quran yang diajarkan. Indah bukan hidupnya dulu? Tapi semua berubah saat sepeninggal sang umi dan bapaknya.
Lantunan surat Ar-Rahman terdengar begitu merdu saat Alesha mengucapkannya disertai dengan tangis kerinduan pada sang pencipta dan juga orang tua. Jacob yang kini sudah berdiri diambang pintu hanya bisa terdiam. Hatinya sedikit bergetar saat mendengar ayat-ayat suci yang Alesha bacakan. Alesha sendiri tidak menyadari keberadaan mentornya itu. Ia masih terlalu fokus dengan bacaan Al-Quran sambil terus mengingat Sang Tuhan yang selama ini selalu menjadi temannya dalam kesendirian.
Potongan ayat kedua puluh sudah selesai Alesha baca, hatinya menjadi lebih tenang saat ini, namun air mata terus mengalir karna kerinduannya pada sosok orang tua.
"Kau kenapa?" Tanya Jacob yang kini terduduk disamping Alesha. "Katakan saja, aku akan mendengarkan." Lanjut Jacob dengan sangat lembut, tangannya pun terangkat untuk membersihkan air mata yang meluncur dipipi Alesha.
Mata Alesha sedikit membulat, dan tubuhnya menegang saat merasakan sentuhan tangan Jacob dipipinya. Apa yang Jacob lakukan saat ini membuat peralihan dalam pikiran Alesha. Kenapa Jacob begitu lembut saat ini? Apa memang sifatnya yang seperti itu?
"Alesha, kau kenapa?" Jacob menunjukan sebuah tatapan hangat dan lembut yang terarah menuju iris coklat milik Alesha.
Segaris lengkungan kecil terbentuk dibibir Alesha. Mencoba menutupi sesuatu yang kini mengganjal dalam hati, Alesha tidak ingin menceritakan apa-apa pada Jacob, ia masih bisa menangani urusannya sendiri selagi ada pertolongan dari Yang Maha Kuasa.
"Tak apa, Alesha hanya merindukan orang tua Alesha." Jawab Alesha.
Jacob sedikit bingung dengan jawaban Alesha barusan, entah kenapa hatinya merasa seperti ada sesuatu yang sedang Alesha tutupi.
"Kau yakin?" Jacob menatap intens pada Alesha, biasanya kalau orang berbohong akan terbaca melalui sorot matanya, tapi Jacob tidak mendapatkan apapun dari dalam mata Alesha seolah memang tidak ada yang disembunyikan oleh gadis itu. Alesha sendiri memang benci jika ditatap intens oleh siapa pun itu, apalagi Jacob, tapi kalau Alesha memberikan gerakan pada pupil matanya bisa jadi Jacob curiga. Jadi, dengan sekuat mungkin Alesha tetap mempertahankan sorot matanya yang terus menatap pada Jacob.
"Alesha, jangan sungkan untuk membicarakan masalahmu padaku, aku akan mendengarkan itu." Jacob menaruh tangannya pada bahu Alesha. "Kau bilang ingin berteman denganku bukan? Salah satu fungsi seorang teman adalah untuk berbagi segala keluh kesah, kau bisa percayakan hal itu padaku."
Alesha mengangguk dan tersenyum. Segera ia mengangkat tangannya lalu menurunkan tangan Jacob dari bahunya.
"Terimakasih, Mr. Jacob, aku senang bisa kenal denganmu." Senyum manis kini terukir dalam diri Alesha.
Aku harap kita tidak hanya saling kenal, tapi saling memiliki satu sama lain, Al. Aku mulai jatuh cinta padamu, aku ingin memiliki banyak momen manis dan segala keseruan bersamamu. Kapan aku bisa mengutarakan perasaanku ini? Aku ingin secepatnya agar kau tahu yang sebenarnya...... Ucap Jacob dalam hati. Sebuah pelangi pun kini telah terbentuk dalam hati Jacob. Senyumnya kembali terbentuk bersamaan dengan kupu-kupu yang berterbangan dibenaknya.
Alesha juga merasakan hal yang sama ketika melihat senyum manis yang mentornya berikan itu. Hati gadis itu seolah dipenuhi oleh berbagai jenis bunga-bunga cantik dimusim panas yang bermekaran menghiasi taman hati. Tidak dapat disangkal lagi, sekarang wajah Alesha mulai memerah kembali. Ia tidak tahu apa yang membuatnya begitu malu dan gugup saat melihat senyum Jacob yang diberikan padanya. Kepalanya tertunduk malu hingga Alesha harus menggigit kecil bibir bawahnya untuk menahan rasa gugup.