May I Love For Twice

May I Love For Twice
Siasat Vincent



Tokk... Tokk... Tokk...


"Jack, ini aku Laras."


"Masuk.."


Setelah mendengar balasan kata dari Jacob, Laras pun membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan Jacob.


Kini Laras sedang mendapati Jacob yang sedang duduk dibangku kerjanya sambil mengetuk-ngetukkan pulpen kekeningnya.


Laras pun mendekat lalu duduk  dibangku yang berhadapan dengan Jacob, meja kerja Jacob lah yang menjadi jarak diantara mereka.


"Ada apa?" Tanya Jacob.


"Kau tahu hal yang akan Mr. Thomson bicarakan dalam rapat nanti?" Tanya balik Laras.


"Ya."


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Laras pun semakin memasang mimik penasarannya, namun Jacob, pikirannya tidak begitu fokus, sedikit pening lah yang sedang Jacob rasakan saat ini.


"Eve, dia yang tahu semuanya, aku tidak bisa menjelaskannya padamu." Jawab Jacob.


"Aku belum bertemu dengan dia, makanya aku menemuimu. Oh, ya Mr. Thomson bilang kalau jam pelajaran hari ini hanya akan sampai pada waktu istirahat kedua, setelah itu Mr. Thomson akan mengadakan rapat dengan pengurus SIO dan WOSA juga semua mentor."


"Hmm.." Balas Jacob yang malas mengeluarkan kata-kata dari dalam mulutnya.


Untung saja Laras mengerti dengan kondisi Jacob saat ini sedang dilanda pening. Ia dan Jacob sudah berteman sejak mereka masuk WOSA, jadi Laras sudah paham betul bagaimana sikap Jacob kalau sedang pusing, marah, atau hal-hal lain.


"Oh, ya, aku juga ingin memberikan ini padamu." Laras menaruh sebuah kartu undangan tebal diatas meja kerja milik Jacob. "Kau orang pertama yang aku undangan dalam acara pernikahanku degan Danish."


Jacob yang tadinya sedang bersandar malas pada bangku kerjanya, seketika mengangkat sebelah alisnya dan menatap datar pada kartu undangan itu.


"Aku akan melangsungkan resepsi dua minggu lagi di Indonesia, tepatnya di Bandung kota kelahiranku."


"Aku orang pertama yang kau undang?" Tanya Jacob dengan malas.


"Ya, kau sahabat pertamaku di WOSA, dan kau juga satu-satunya yang terlibat dalam skandal Danish untuk melamarku, jadi aku berinisiatif untuk mengundangmu sebagai yang pertama." Jawab Laras yang dibarengi senyum lebar menawan favorit salah satu mentor di WOSA, yaitu Danish.


"Kau kapan akan menikah?" Ledek Laras sambil membungkam mulutnya agar tidak ada tawa yang keluar. Ia tahu pertanyaannya barusan adalah hal yang sensitif, namun dengan tambahan bumbu candaan mungkin Jacob tidak akan tersinggung.


"Ck, kau ini!" Jacob mendengus.


"Aku hanya bertanya, Jack, tidak perlu dibawa kehati, dijawab syukur tidak juga tidak masalah." Ucap Laras sambil tersenyum meledek pada kawan seperjuangannya itu.


Smirk menawan pun muncul disela-sela ekspresi wajah Jacob yang sedang menahan pening dikepalanya. "Tunggu saja beberapa tahun lagi, dan kau akan terkejut ketika aku mencantumkan nama seseorang dalam kartu undangan pernikahanku."


"Sungguh? Kau sudah menemukan gadis baru?" Tanya Laras dengan begitu antusias. Binar bahagia terpancar jelas dari kedua iris coklat milik Laras. Jika benar, Laras sudah tidak sabar untuk menunggu sahabatnya itu memberikan kartu undangan pernikahan, dan Laras juga penasaran kira-kira siapa gadis pengganti Yuna dalam hati Jacob, karna yang Laras tahu selama ini adalah Jacob yang masih belum bisa melupakan dan terus terikat dengan Yuna.


Kemudian Laras pun melontarkan beberapa pertanyaan lagi dengan ekspresi antusias yang masih belum menunjukkan adanya tanda penurunan. Bahkan meja kerja Jacob pun sedikit digebrak oleh Laras akibat rasa kepenasaranan wanita itu terhadap pasangan baru untuk temannya.


"Siapa gadisnya? Kau pasti akan mengenalkannya padaku bukan?"


Kekehan kecil membuat Jacob membentuk lengkungan senyum menawan pada wajahnya. Laras benar-benar membuat Jacob ingin tertawa kali ini.


"Apa aku sudah bilang padamu kalau aku telah menemukan gadis baru?" Sebelah alis Jacob terangkat bersamaan dengan terucapnya pertanyaan itu.


Seketika Laras pun terdiam saat mendengar pertanyaan Jacob barusan. Apa temannya itu sedang mempermainkannya? Pikir Laras.


Ekspresi Laras kembali berubah datar dan sedikit serius. Ia menatap Lurus menuju kedua bola mata Jacob, mencari sesuatu yang kini mengganjal dalam pikirannya.


"Aku hanya bilang kalau beberapa tahun lagi aku akan mengundangmu kepernikahanku, dan kau sudah menyimpulkan kalau sekarang aku sudah menemukan gadis baru?" Jacob kembali terkekeh. Ia pun menggelengkan kepalanya. "Laras-Laras."


"Aku harap kau bisa menemukan gadis baru, aku ingin melihat anakku bersama Danish nanti bermain dengan anakmu, Jack, hahahah." Tawa pun terlepas begitu saja dari dalam mulut Laras hingga terlihat sederet barisan gigi putih dan rapih.


Setelah beberapa hari yang lalu hanya ada ketegangan dan kecemasan dalam diri Jacob, kini semua mulai kembali berjalan dengan normal, apalagi setelah Jacob melihat tawa dari sahabat wanitanya itu.


"Tenang saja, aku pastikan ucapanmu barusan akan terwujud." Balas Jacob yang juga ikut menyunggingkan senyuman.


"Oh, ya Jack, dimana Alesha?" Tanya Laras yang mulai berhenti tertawa, ia pun sekalian menyerka setetes air mata dikedua ujung kelopak matanya.


"Di kamarku."


"Di kamarmu?!" Reflek Laras menggebrak meja kerja Jacob untuk yang kedua kalinya ketika mendengar jawaban dari Jacob kalau Alesha berada di dalam kamar Jacob.


Jacob menyikapi ekspresi kaget sahabatnya itu dengan santai, tentu saja karna ia tidak melakukan apapun dengan Alesha.


"Ya, aku memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, dan aku akan sangat cemas jika meninggalkan Alesha sendirian di kamar messnya, jadi aku menyuruhnya untuk beristirahat di kamarku saja."


Laras menyipitkan matanya sebagai tanda munculnya sebuah kecurigaan dalam pikirannya.


Jacob sudah bisa menebak ekspresi curiga yang Laras tunjukkan itu. "Aku tidak melakukan apapun, jangan berpikiran macam-macam."


Laras pun hanya membalas dengan mengedikkan bahunya.


"Baiklah, Alesha, hello, buka pintunya." Laras pun mengetuk pintu kamar Jacob.


"Ales.." Baru saja Laras ingin mengetuk pintu itu lagi, dan tiba-tiba saja Alesha muncul sembari menarik pintu kamar mentornya agar terbuka.


"Mrs. Laras?"


"Alesha, ya ampun." Pekik Laras lalu dengan satu kedipan mata ia pun membawa Alesha masuk dalam pelukannya. Rindu pada adik kesayangan di WOSA, dan rasa cemas akan kondisi Alesha saat ini.


"Al, gimana kabar kamu? Ya ampun kondisi kamu baik-baik aja kan sekarang?" Tanya Laras yang dilanda kekhawatiran.


"Kau hanya akan mengganggu waktu istirahatnya kalau begini caranya." Tiba-tiba saja Jacob menghampiri Laras dan Alesha lalu melepaskan pelukan yang terjadi diantara dua gadis itu.


"Ck, kau ini!" Laras menatap sebal pada temannya itu.


"Alhamdulillah Alesha gak apa-apa kok, Mrs. Laras gimana kabarnya?" Jawab Alesha yang dibarengi dengan pertanyaan balik untuk Laras.


"Alhamdulillah aku juga baik." Jawab Laras sembari mengelus pelan bahu Alesha.


Kemudian selama beberapa saat hening pun mengambil alih ruangan itu. Alesha tidak tahu harus berbicara apa, dan selang beberapa detik berlalu, Jacob pun akhirnya memcah keheningan dengan membawa Alesha untuk kembali masuk ke dalam kamarnya.


“Kau harus beristirahat.”


“Aduh, Mr. Jacob!” Pekik Alesha ketika lengannya ditarik begitu saja oleh Jacob.


“Jangan ganggu dia.” Ucap Jacob pada Laras yang juga ikut masuk ke dalam kamar.


“Tidak! Mrs. Laras bakal temani Alesha di sini.” Kini Alesah berjalan begitu saja melwati mentornya, lalu setelah itu, ia pun merangkul lengan Laras. “Mrs. Laras maukan temenin Alesha di sini, Alesha bosen soalnya.”


Ekspresi memohon dari wajah Alesha membuat Laras luluh hingga terjadilah anggukkan kecil sebagai jawaban dari Laras atas permohonan Alesha.


“Tapi, Al, kau harus beristirahat dan mungkin tidak lama lagi efek obat tidurnya akan berpengaruh.” Ucap Jacob.


“Tidak apa-apa, yang penting Mrs. Laras menemaniku di sini.” Balas Alesha yang semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan Laras. “Atau kalau boleh, aku beristirahat saja di ruangan Mrs. Laras.


“Tidak!” Tolak Jacob yang kini menarik lengan Alesha kembali agar melepaskan rangkulannya pada Laras.


“Kenapa?” Alesha pun memajukan bibirnya tanda kalau ia mulai kembali sebal dengan sikap mentornya itu.


“Istirahat di sini, Laras punya pekerjaan lain.” Jawab Jacob dengan datar.


“Tidak.” Laras menggeleng polos. “Aku sedang tidak ada kerjaan, malah aku juga merasa bosan jika sendirian di ruanganku, Danish sibuk dengan tugasnya, makanya aku ke ruanganmu, dan kebetulan ada Alesha juga di sini.”


Mendengar ucapan dari Laras barusan, Jacob hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar namun tetap saja dengan ekspresi dingin dan datar yang wajahnya itu tunjukan.


“Tuh kan.” Alesha pun tersenyum dan kembali mendekati Laras. "Udah mendingan Alesha sama Mrs. Laras aja, kan Mr. Jacob banyak kerjaan, takutnya nanti Alesha malah ganggu."


Laras mengangguk setuju.


"Tapi.."


"Sudah, Jack, lagi pula apasalahnya Alesha istirahat di ruanganku. Kau bisa fokus pada pekerjaanmu tanpa khawatir Alesha akan sendirian." Potong Laras.


Ya ampun Laras, kau tidak mengerti. Aku memaksa Alesha untuk tetap di ruanganku karna aku sedang ingin dekat dengannya, dan sekarang kau mengacaukannya..... Oceh Jacob dalam hatinya.


"Aduh, Mr. Jacob, kepala Alesha masih pusing, jadi mending sekarang Alesha ke ruangannya Mrs. Laras aja ya." Ucap Alesha yang pura-pura menahan pening dikepalanya, walau memang sebenarnya kepala Alesha masih terasa pening, namun kali ini rasa kantuk lebih mendominasi.


"Ayo, Mrs. Laras." Setelah mengucapkan kalimat itu, Alesha pun mendorong pelan tubuh Laras agar mulai berjalan meninggalkan ruang kamar mentornya itu.


Alesha, aku hanya ingin kau tetap di sini bersamaku... Ucap Jacob yang pasrah dalam hati.


Mimik wajah Jacob terlihat memprihatinkan akibat rasa kecewanya karna Alesha tidak mau tidur di kamar pribadinya. Padahal Jacob tidak memiliki niat buruk apa pun, ia hanya ingin memastikan Alesha yang dekat dan berada disekitarnya.


"Dah, Mr. Jacob." Alesha pun semakin menjauh bersama Laras, hingga akhirnya mereka berdua sama-sama menghilang dari balik pintu.


***


Disalah satu apartemen mewah yang terletak di Abu Dhabi, Vincent kini sedang terduduk menyilangkan kakinya sambil memegang sebuah gelas berisi cairan wine.


Waktu kian berlalu, dan Vincent cukup sabar untuk menunggu rekan kerja samanya dalam bidang bisnis juga rencana busuknya untuk mengambil alih SIO.


Jam yang melingkari pergelangan tangan Vincent sudah menunjukan angka yang dimana perjanjian pertemuan akan diadakan.


Saat beberapa detik berlalu, berakhir lah waktu untuk Vincent menunggu karna sekarang ini orang yang ia tunggu sudah datang dan memasuki ruangan. Setelan jas tuxedo juga celana bahan dan sepatu pantofel dengan tambahan gaya potongan rambut yang terlihat sempurna menambahkan kesan manly untuk pria yang kini sudah terduduk pada sofa dihadapan Vincent.


Beberapa pengawal setia berdiri dibelakang rekan kerja bisnis Vincent itu, dan ada seorang wanita sewaan yang juga ikut bersama pria itu untuk bertemu dengan Vincent.


"Kau sudah tahu kabarnya?"


"Pembunuhan Mack? Berita itu tersebar dengan cepat ketelinga para pebisnis dunia."


"Jacob yang membunuhnya." Vincent menggeram ketika ia mengucapkan kalimat barusan.


"Aku tahu. Para polisi dan detektif mencari tahu orang yang membunuh Mack melalui kamera yang terpasang pada jalan raya yang mobil Mack lewati bersama sebuah mobil yang Jacob gunakan." Balas Pria itu. "Wajah Jacob dan Mack dapat terdeteksi dengan jelas melalui kamera di jalan raya itu." Lanjutnya seraya meneguk sebuah gelas yang sudah diisi oleh wine.


"Para polisi tidak akan menghukum Jacob, mereka malah akan memberikan penghargaan pada agent sialan itu karna berhasil membunuh buronan aparat dunia, ditambah lagi dengan terbuktinya kasus penculikkan Mack malam itu juga pada salah seorang murid dari WOSA." Ucap Vincent seraya mencengkram keras gelas kaca yang berada dalam genggamannya.


"Jika kita gegabah, Jacob dan Eve bisa menghancurkan bisnis dan rencana kita." Pria itu meletakkan gelasnya diatas meja, dan tanpa menunggu perintah, si wanita sewaan itu sudah mengerti untuk kembali menuangkan cairan wine kedalam gelas tuannya itu.


"Levin akan ditarik kembali oleh SIO, kini SIO sudah berada dalam kekuatan penuh, belum lagi bantuan dari organisasi lain." Sambung Vincent.


Pria itu pun kembali mengambil gelasnya yang sudah terisi oleh wine dan meminumnya dengan sekali tegukan. "Oleh karna itu kita tidak boleh gegabah. Aku sudah memiliki sebuah rencana."


Mata Vincent menyipit, penasaran dengan rencana yang rekannya itu miliki.


"Kita akan serang SIO saat waktunya tiba."


"Maksudmu?" Dah Vincent semakin berkerut bingung.


"Tunggu sampai WOSA sudah sampai diakhir semester, kita akan lakukan hal yang sama persis seperti yang kita lakukan tiga tahun lalu." Pria itu memasang seringai liciknya, dan Vincent pun mengukir smirknya. Kini kasus tiga tahun lalu yang menimpa WOSA dan SIO akan kembali dijadikan sebagai langkah selanjutnya oleh Vincent beserta rekan bisnisnya.


***


Pukul 12.00 siang, bel istirahat pun berbunyi dan disusul oleh sebuah pengumuman mengenai diberhentikannya proses berlajar mengajar pada hari itu karna pengurus SIO dan WOSA serta para mentor akan melakukan rapat di aula utama.


"Alesha, bangun." Ucap Laras sambil menepuk-nepuk pipi Alesha. Alesha sendiri sudah tertidur sejak tadi.


"Alesha.." Sekali lagi Laras menepuk pipi Alesha.


"Eunghh.." Alesha pun terusik dan perlahan mengedipkan kedua kelopak matanya. "Apa?"


"Ayo, kamu harus balik ke mess kamu, aku harus ikut rapat sama yang lain, atau kamu mau aku tinggal di sini?"


Alesha menggelengkan kepalanya dalam kesadaran yang masih dilevel tiga per empat.


"Tidak, Alesha balik aja ke mess Alesha." Ucap Alesha sambil membawa dirinya untuk bangun dan turun dari kasur.


"Maaf, kamu jadi bangun deh." Ucap Laras dengan mimik yang menunjukan sedikit rasa bersalah.


"Gak apa-apa, oh ya makasih ya Mrs. Laras udah izinin Alesha istirahat di sini."


"Santai aja, kalo kamu mau tiap hari tidur di sini juga gak masalah kok, malah aku seneng." Balas Laras dengan senyum menawan yang kini menghiasi wajahnya. "Oh ya gak usah pake embel-embel Mrs panggil aja kakak atau kak Laras."


Alesha pun membentuk senyumnya sebagai balasan untuk Laras. "Oke, kak Laras."


"Nah, gitu dong. Yaudah ayo, Al.."


"Alesha..." Panggil Jacob yang tiba-tiba saja muncul dan memasuki ruangan Laras tanpa meminta izin terlebih dahulu pada si pemilik ruangan.


"Ah, bagus sudah bangun, ayo kau harus kembali ke messmu." Dengan mudahnya Jacob meraih lengan Alesha lalu membawa gadis itu berjalan begitu saja dan mengabaikan Laras yang kini menatap dengan bingung pada teman prianya itu.


"Ish, Mr. Jacob apaan sih! Lepasin!" Alesha memberontak dan melepas paksa lengannya dari genggaman Jacob. "Kak Laras yang bakal anterin Alesha ke mess Alesha!"


Jacob mengangkat sebelah alisnya ketika menatap wajah kesal Alesha. "K-kak Laras?"


"Iya, aku yang menyuruhnya, Jack." Saut Laras yang menghampiri Jacob dan Alesha.


"Oh." Balas Jacob dengan datar dan singkat.


"Ayo, Al, kau harus segera kembali ke messmu, dan kau Laras, kau pergi saja duluan, aku akan menyusul, dan ya, tadi Danish mencarimu." Setelah mengucapkan kalimat itu, Jacob kembali meraih lengan Alesha lalu membawa gadis itu untuk kembali berjalan.


Alesha melangkahkan kakinya dengan cukup kesulitan, ia tidak bisa mengimbangi langkah kaki mentornya yang jelas lebih lebar dan cepat darinya.


"Mr. Jacob pelan-pelan." Pinta Alesha yang sama sekali dihiraukan oleh Jacob.


Akhirnya dalam waktu yang lebih singkat, Alesha pun sampai di messnya. Kakinya terasa cukup pegal dan kelelahan akibat dipacu secara paksa agar ia tidak terseret oleh Jacob yang berjalan seperti orang yang sedang dikejar oleh rentenir.


"Aku harus rapat bersama yang lain, jangan pergi kemana pun atau kalian akan menerima hukuman dariku." Ucap Jacob dihadapan kelima gadis yang kini sedang mematung di tempat masing-masing dengan ekspresi wajah bingung ketika mendapati Jacob yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar mess bersama Alesha. Tanpa terkecuali diri Alesha sendiri, gadis itu memandang mentornya dengan ekspresi sebal dan menahan rasa kesalnya.