
Musim silih berganti. Air, angin, dan udara saling membagi waktu tanpa perlu berseteru. Jacob bersyukur, semua yang sudah terlewat biarlah menjadi pengalaman dan pelajaran. Menatap masa depan yang kini sedang tersenyum manis dalam tangkapan visual yang disimpan dalam galeri digital.
Diam-diam Jacob mencuri banyak foto Alesha dari ponsel gadis itu. Kebanyakan fotonya itu adalah Alesha yang sedang mengikuti seminar dan beberapa kegiatan yang diadakan oleh Universitas tempat Alesha menempuh pendidikan dimasa remajanya.
"
Jacob sengaja mengambil fotonya secara diam-diam, ia hanya ingin memandangi wajah Alesha yang begitu menggemaskan untuknya dikala ia sedang lelah dan gundah.
"Maaf jika aku lancang padamu tadi."
Senyum yang begitu lebar sedang menggambarkan bagaimana suasana hati Jacob saat ini. Berjam-jam ia bergelut dengan banyaknya pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya, akhirnya sekarang ia bisa kembali memulihkan rasa lelahnya setelah semua pekerjaannya sudah terbereskan. Jacob sengaja mengebut dan mengejar target kalau hari ini semua pekerjaannya harus terselesaikan. Ia tidak ingin membuang waktu yang seharusnya digunakan untuk bersenang-senang bersama Alesha.
"Malam ini juga harus selesai!" Ucap Jacob dengan penuh tekad. Ia segera membereskan beberapa arsip yang sudah dikerjakan dan yang belum dikerjakan. Ada sekitar lima belas persen lagi sisa pekerjaan Jacob yang mesti dikelarkan.
Saat waktu pada jam sudah menunjukkan pukul satu siang, Jacob segera membawa beberapa alat tulis dan buku catatannya yang biasa ia gunakan untuk mengajar.
Segeralah Jacob bergegas menuju tempat dimana anggota timnya sudah menunggu.
Sedangkan Bastian dan seluruh anggota timnya kini sedang asik bercengkrama di taman tempat mereka biasa melanjutkan pelajaran sesi kedua. Di taman itu juga ada Levin yang sedang mengawasi Alesha.
Ya. Alesha meminta untuk ikut belajar bersama teman-temannya. Awalnya Bastian menolak dan memerintahkan Alesha untuk kembali, namun gadis itu tetap menolak dengan alasan merasa bosan dan juga hanya akan menyimak semua materi yang nanti akan diajarkan oleh mentor mereka.
"Aku tidak akan bertanggung jawab jika nanti Mr. Jacob memarahimu." Ucap Bastian yang sudah lelah memperingati Alesha.
"Pria itu tidak akan memarahiku." Balas Alesha dengan santai.
"Pria mana yang kau maksud?" Tanya Jacob yang tiba-tiba saja muncul dan menghampiri Alesha dan Bastian.
Alesha yang mendengar suara mentornya itu seketika terkejut lalu mengangkat wajahnya untuk menatap wajah sang mentor.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau seharusnya beristirahat kan?"
Jacob memberikan sebuah tatapan tajam dan peringatan pada Alesha, namun Alesha menyikapinya dengan santai dan malah menjawab dengan seenaknya.
"Aku hanya ingin ikut menyimak saja, tidak lebih. Aku bosan di kamar dan lelah jika tertidur terus."
Kelopak mata Alesha pun menutup dan membentuk sebuah cekungan eye smile mengemaskan. Lengkungan senyum lebar yang membuat bibir Alesha memanjang kesisi kiri dan kanan membuat lemas hati Jacob yang memandanginya. "Hehehehe."
Astaga.... Gumam Jacob dalam hati. Luluh lah seketika diri Jacob saat Alesha memberikan ekspresi yang seperti itu. Sorot matanya yang tajam langsung melemah dan berubah seperti orang yang sedang meresapi suatu hal.
"Huft." Jacob menghempaskan napasnya dengan kasar dan menahan gejolak dalam hatinya. Baru tadi pagi bibirnya mendapatkan asupan, dan sekarang malah menuntut lagi.
Bastian terkekeh ketika melihat ekspresi mentornya yang kini sedang tersenyum kikuk dihadapan Alesha.
"Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku bosan jadi aku ikut saja, itung-itung mengejar materi yang sudah aku lewatkan." Ucap Alesha yang mengembalikan ekspresi wajahnya seperti biasa lagi.
"Tidak, kau tidak boleh ikut!"
"Tapi, Mr. Jacob, aku tidak akan melakukan hal-hal yang berat, aku hanya duduk diam mendengarkanmu menjelaskan materi."
"Aku akan menjelaskan secara privat nanti, sekarang kembali ke kamarmu!"
"Baiklah, kalau kau menolak tidak masalah!" Alesha menghentakkan kakinya pelan pada rerumputan halus yang menjadi tikar diatas lapisan tanah.
"Ayo, Mr. Levin, kita berjalan-jalan saja!"
Alesha merajuk. Ia menggandeng lengan Levin dan mulai berjalan untuk meninggalkan Jacob dan yang lain.
Levin melayangkan senyum ledekkan pada Jacob. Kasihan, Alesha selalu saja menyosor pada Levin, dan bukan Jacob. Begitu lah pikir Levin.
Dalam hatinya, Levin tertawa lepas. Lucu saja gitu, tanpa pernah Levin minta Alesha selalu saja lebih memihak pada ia, dan bukan Jacob yang jelas-jelas mencintai gadis itu.
Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar saat melihat Alesha yang dengan enaknya menggandeng lengan Levin dihadapan wajahnya. Cemburu? Jangan ditanya. Terlihat sangat amat jelas bagaimana Jacob menekuk wajahnya karna menahan rasa kesal dan api cemburu yang berkobar dihatinya.
"Tunggu!" Jacob segera menghampiri Alesha dan Levin yang sudah mengambil beberapa langkah dari posisi awal mereka. "Baik, kau boleh ikut!"
Dengan cepat Jacob melepaskan lengan Alesha yang melingkari lengan si rival menyebalkan itu. Jacob pun segera membawa Alesha untuk kembali berkumpul dengan anggota timnya. Namun Jacob menempatkan Alesha untuk duduk disampingnya.
"Kau pergi saja, kau sudah tidak dibutuhkan!" Ketus Jacob pada Levin.
"Galak sekali sih." Komen Alesha.
"Mr. Levin, makasih sudah mau menemani Alesha tadi." Ucap Alesha dengan ramah, tidak lupa juga senyum manis yang menjadi pengantar kalimatnya tadi.
"Sama-sama, sayang." Balas Levin yang juga melemparkan balik senyuman manis nan ramah yang begitu menawan untuk Alesha. Hati Alesha sempat luluh dan wajahnya sedikit tersipu karna melihat wajah Levin yang begitu tampan saat tersenyum.
"Cepat pergi!" Bentak Jacob yang penuh amarah pada Levin, sedangkan Levin sendiri, ia menghiraukan Jacob yang menatap sangar padanya. Levin tau kalau Jacob sedang dicambuki oleh kecemburuan, dan Levin tidak perduli akan hal itu.
Jacob berusaha untuk membuat Levin cemburu, tapi tanpa perlu susah payah Levin membalas perlakuan rivalnya itu, Alesha sendiri lah yang malah membuat pria yang mencintainya itu dibakar kecemburuan karna berdekatan dengan Levin. Hal seperti itu sangat lucu untuk Levin hingga ia pun menyunggingkan tawa kecilnya.
"Mr. Jacob dan Mr. Levin tidak akur?" Tanya Lucas yang berbisik pasa Bastian.
"Ya, tapi mereka sangat kompak." Jawab Bastian yang balik berbisik pada Lucas.
Mata Jacob memicing memastikan kalau Levin sudah pergi dan menghilang dari pandangannya. Kemudian, pria itu membalikkan tubuhnya dan menatap tajam pada Alesha.
"Kau!"
Alesha yang mendapatkan tatapan intimidasi dari mentornya itu malah mengangkat alisnya seolah ia tidak takut dengan ekspresi mentornya sekarang. "Apa?" Tanya Alesha dengan santai.
"Jangan ganggu aku dan yang lain!"
Sebagai balasan, Alesha hanya mengedikkan bahunya sambil berekspresi malas. Ia tahu kalau tidak akan ada benarnya jika membalas ucapan mentornya yang kini sedang marah, jadi Alesha lebih memilih untuk diam dan bersikap sesantai mungkin.
Jacob pun mendengus saat melihat Alesha yang menyikapinya dengan biasa saja tanpa ada rasa takut atau marah sedikit pun yang biasanya akan terjadi jika ia memberikan tatapan tajam atau pun mengintimidasi pada gadis itu.
Lucas, Tyson, Aiden, dan yang lain kecuali Bastian, mereka sama-sama mengerutkan kening dan berekspresi seolah mereka melihat sebuah pemandangan asing yang membingungkan.
"Hilangkan ekspresi kalian yang seperti itu!" Sindiran keras pun Jacob berikan pada kesembilan remaja yang kini berada dihadapannya.
Sedangkan dibelakang, Alesha memainkan bibirnya untuk menggumamkan kembali kalimat yang barusan mentornya ucapakan bersamaan dengan ekspresi malas bercampur kesal.
Nakyung yang melihat tingkah Alesha yang seperti itu secara refleks melayangkan tatapan bingung dan bertanya pada Alesha tanpa sepengetahuan mentornya. Alesha menggerakkan pupil matanya dan menggertakkan giginya ke arah Jacob sebagai jawaban untuk Nakyung.
Matahari semakin panas diatas sana, dan Jacob tidak mau membuang banyak waktu lagi. Segera ia memulainya dengan materi baru dan beberapa peraturan baru.
"Waktu kita tidak banyak, beberapa materi harus kita kejar dan mau tidak mau untuk sekarang dan seterusnya, aku akan memberikan banyak pelatihan keras pada kalian." Ucap Jacob. "Hari ini kalian akan mendengarkan materi yang aku sampaikan, dan besok kalian akan melaksanakan pratek dari materi yang sudah aku ajarkan. Tidak ada kata tidak bisa! Kalian dituntut untuk dapat bergerak dan berpikir cepat!"
Jacob mengambil posisinya dengan bersandar pada batang pohon rindang. "Dua tahun. Waktu kalian di sini, setelah itu mau tidak mau kalian akan langsung dikirim ke SIO untuk mengambil bagian dan tempat kalian sebagai pegawai baru. Tidak ada penolakan, apapun itu pekerjaan kalian, sulit atau tidak kalian harus siap. Maka dari itu aku akan melatih mental dan fisik kalian dengan cukup keras."
Setelah menyelesaikan ceramah singkatnya, Jacob melanjutkan kembali dengan menerangkan materi baru yang akan menjadi bahan dan inti pembelajaran hari ini dan beberapa hari kedepan.
****
Begitu lah sebuah papan reklame yang cukup besar terpajang tepat di depan gedung tempat pusat penelitian ilmiah terbesar di dunia. Di dalamnya, terdapat banyak orang-orang terpilih yang memiliki beragam kecerdasan, kepintaran, dan keahlian yang tak teragukan. SIO tidak seperti beberapa organisasi ilmiah lainnya, memiliki website khusus yang hanya bisa dibuka oleh orang-orang dari organisasi tertentu, termasuk para musuh kelas kakap seperti Vincent yang selalu banyak memiliki akal dalam merebut beberapa sampel dan bahkan berniat untuk menguasai SIO.
Tapi saat ini, salah satu pegawai dari induk organisasi penelitian dunia itu sedang dirundung kesedihan yang mendalam.
Mona, kakak wanita yang sangat disayangi oleh adiknya yang bukan lain adalah Jacob kini benar-benar merasakan dirinya yang hancur. Sang suami pun hanya bisa tertunduk pasrah didepan pintu saat mengetahui kondisi istrinya yang tidak dapat tersentuh.
Mona mengurung dirinya sendirian di dalam kamar di gedung mess yang disediakan oleh SIO untuk para pegawainya.
Wanita yang sudah menyandang status istri selama hampir tiga tahun itu hanya bisa terdiam saat lelahnya menghampiri usai tangis yang berlangsung dalam waktu berjam-jam. Bagaimana tidak? Tiga tahun penungguannya bersama sang suami untuk dapat memiliki malaikat penyempurna cinta dan pernikahan, kini mereka harus menerima takdir lain yang memutuskan untuk merenggut janin berusia satu bukan dalam rahim Mona.
Dokter khusus yang bertugas pada rumah sakit mini milik SIO yang hanya berjarak beberapa meter dari gedung kantor utama sudah memperingati Mona agar tidak menekan pikiran dan batinnya. Mona tidak abai akan hal itu, hanya saja siksaan mental setelah ibunya datang membuat Mona tidak bisa mengontrol mental tubuhnya, hingga akhirnya calon anak ia dan William lah yang menjadi korbannya.
"Bagaimana Mona?" Laura menepuk bahu menantunya yang kini sedang terduduk bersandar pasrah pada dinding.
Sungguh, Laura pun sama tersiksanya saat mengetahui kalau anaknya, Mona mengalami keguguran akibat depresi dan tekanan pikiran. Ibu mana yang tidak merintih saat tahu kalau anak wanitanya mengalami keguguran? Laura berusaha untuk tegar, namun air mata terisak saja membentuk sebuah danau disudut matanya hingga terbentuk lah aliran sungai kecil yang memanjang pada wajah wanita paruh baya itu.
"Wil, apa kau tidak bisa mendobrak pintu ini secara paksa? Bagaimana kalau Mona melakukan hal yang nekat?"
Wiliam tidak menjawab. Ia masih menundukkan kepalanya dan enggan untuk mengeluarkan kalimat apapun. Wiliam sendiri tahu kalau istrinya itu tidak akan melakukan buruk jika sedang depresi, ia sangat mengenal sikap Mona.
Sebenarnya bisa saja Wiliam membuka pintu itu dengan menggunakan kunci lain, namun Wiliam pikir istrinya membutuhkan waktu untuk sendirian, jadi ia lebih memilih diam tapi tetap mendampingi Mona dibalik pintu di luar ruangan.
"William!" Tegas Laura saat tidak mendapatkan jawaban dari menantunya.
"Sayang, buka pintunya." Lirih William sambil mengerikan pelan pintu yang ada disebelahnya.
"Mona, biarkan aku masuk, jangan memendam seperti itu sendirian, kita sama-sama kehilangan, aku pun merasakan hal yang sama seperti mu."
Diam....
Mona tidak membalas apapun kecuali hanya diam dan kosong. Dirinya kosong, dan hampa.
"Mona, jika kau tidak membuka aku akan membuka pintu ini dengan cara lain."
Ceklek...
Suara gagang pintu yang terbuka. Seketika Wiliam pun terlonjak dan dengan cepat membawa dirinya agar berdiri menghadap pada sang istri tercinta.
"Mona..." Sekali lagi panggilan lirih terlontar dari dalam mulut Wiliam. Ia sangat sedih dan takut, kondisi istrinya saat ini terlihat kacau dan dingin.
Iris mata Mona bergerak menuju satu tempat dimana berdirinya sang ibunda.
"PERGIIIIII!!! KAU YANG MENYEBABKAN ANAKKU MATI!!!" Saluran emosi dan kebencian terhadap sang ibunda pun akhirnya lepas dari kurungannya. Batin Mona terasa bebas dari kekangan amarah dan frustrasi yang selama ini ia pendam.
"Pergi!!!!" Isak tangis pun kembali terkuras dengan munculnya sungai-sungai air mata pada daratan wajah mulus yang terlihat pucat.
William pun segera mendorong tubuh Mona untuk masuk ke dalam kamar mereka. Ia tahu kalau guncangan batin lagi dan lagi menggempa dalam lubuk hati Mona. Sekuat tenaga William memeluk tubuh istrinya yang meronta ingin melepaskan diri. Wiliam tidak akan lagi membiarkan itu, hingga ia harus mengangkat tubuh Mona dan membaringkannya diatas kasur.
Laura yang berada diambang pintu hanya bisa menangis hingga kedua bahu bergetar. Melihat anak wanitanya yang kini sedang meronta dalam pelukan menantunya, Laura semakin tak kuasa menahan kesedihan mendalam. Ingin sekali ia yang menggantikan posisi menantunya diatas kasur itu dan memeluk erat tubuh anaknya.
"Maafkan ibu, Mona." Kalimat itu menjadi kata-kata terakhir sebelum akhirnya Laura memutuskan untuk menutup pintu dan pergi dengan rasa bersalah yang semakin membabi-buta hatinya. Sedu tangisan sepanjang jalan menghiraukan orang yang ia lewati, Laura ingin menenangkan pikirannya. Sebagai seorang ibu, ia benar-benar merasa gagal.
***
Sore ini, seperti biasa Jacob ingin mengambil waktunya untuk diisi oleh kebersamaan dengan si manis kesayangannya. Saat kegiatan belajar hari ini sudah sampai pada jam akhir, Jacob memerintahkan seluruh anggota timnya untuk kembali ke mess mereka masing-masing, kecuali Alesha.
"Ayo ikut aku."
Tanpa aba-aba, Jacob segera meraih lengan Alesha dan membuat gadis itu harus berjalan berdampingan dengan mentornya, entah pergi kemana Alesha pun tidak tahu.
"Kita mau kemana?" Tanya Alesha.
"Ke pantai. Aku ingin merehatkan pikiranku."
"Kau tidak mengajak yang lain?"
Lagi dan lagi rasa curiga dalam benak Alesha pun kembali muncul kepermukaan.
"Tidak. Aku hanya ingin berdua saja denganmu, jika terlalu banyak membawa orang lain itu sama saja aku tidak bisa menikmati waktu tenangku."
"Apa salahnya membawa mereka? Mereka juga akan diam menikmati waktu tenang mereka."
"Sudah, Al. Kepalaku pening, aku butuh rileksasi, dan kau tidak usah banyak bertanya."
Tidak kah kau menyadarinya, Al, aku selalu menunjukan hal-hal yang bisa membuatmu tahu kalau aku mencintaimu....... Racau Jacob dalam hati.
Gemas sekali rasanya mulut Jacob untuk mengatakkan pada Alesha kalau ia itu mencintai Alesha. Namun Jacob masih butuh beberapa waktu yang dapat dipastikan tidak akan lama lagi untuk mengutarakan cintanya.
Kau akan segera mengetahui apa yang aku rasakan, Al. Semoga kau mau menerimaku. Aku mencintaimu......
Senyum kecil namun dipadati oleh kebahagiaan pun tidak dapat luput dari wajah Jacob setelah hatinya mengungkapkan kalimat tadi.
"Hmm, pantai ini sangat indah." Puji Alesha bersama terukirnya ekspresi penuh ketenangan dan kekaguman akan bentangan alam yang terpajang dihadapannya.
Jacob dan Alesha menghabiskan waktu sore mereka dengan memandangi perpaduan langit dan laut sejauh mata memandang. Tidak ada kapal atau apapun yang lewat, hanya ada segerombolan burung yang terbang diatas permukaan air.
Pasir pantai menjadi mainan untuk Alesha. Ia membuat berbagai macam bentuk abstrak yang tergambar dalam pikirannya. Sedangkan Jacob, ia tidak hentinya memikirkan masa depan bersama gadis yang terduduk manis disebelahnya kini.
Melambungkan harapan dan doa agar ia mempunyai jalan untuk bisa membuat Alesha menjadi miliknya. Cita-citanya memang tidak bisa terwujud dengan Yuna, namun Alesha yang akan membawa dan merealisasikan cita-cita Jacob untuk memiliki dua atau tiga anak dan hidup bahagia bersama keluarga kecil yang diidamkan.
Jika dibayangkan memang lah sangat manis. Seorang anak kecil yang berlarian dengan riang gembira di halaman rumah. Bercanda dan memeluk ayahnya yang bukan lain adalah Jacob, sedangkan Alesha duduk dibangku taman dan kebagian untuk menina-bobokkan anak mereka yang masih balita.
Akankah hal seperti itu terwujud? Tentu saja. Jacob tidak akan membiarkan dirinya merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Alesha akan Jacob tahan sebisa mungkin. Ia sudah menetapkan hatinya, dan tidak mau wanita lain, entah lebih cantik atau lebih segalanya dari Alesha. Urusan hati tidak dapat diganggu gugat.
"Aku merasa kalau aku sedang berada di Bandung. Nuansa alam ini membuatku merindukan kota dan negaraku. Perkebunan teh di Lembang, Taman Wisata Gunung Tangkuban Perahu, Kawah Putih, dan masih banyak lagi. Aku membayangkan kalau aku sedang ada di sana." Ucap Alesha sambil membawa dirinya pada khayalan yang barusan ia katakan.
Sedangkan Jacob, ia mengatakan hal lain yang tidak Alesha duga.
"Aku membayangkan kalau aku sedang bersenang-senang bersama anakku ditaman, dan istriku sedang menggendong anak kami yang satu lagi yang masih bayi, memberinya ASI atau sekedar menidurkan."
Kening Alesha berkerut, matanya memicing dan menatap aneh pada mentornya.
"Kenapa? Kau mau mendaftar untuk menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku?" Jacob melayangkan tatapan balik pada Alesha berharap Alesha akan mengerti sinyal yang Jacob berikan.
Sayangnya kode keras dari Jacob itu sangat amat menyentak hati Alesha. Bagaimana bisa mentornya mengajukan pertanyaan seperti itu? Alesha semakin menunjukkan ekspresi yang tidak dapat ditebak, karna ia sendiri bingung ekspresi apa yang mesti ditunjukan setelah mendengar pertanyaan konyol dari mentornya.
"Kau ini ada-ada saja." Balas Alesha sambil menggelengkan kepalanya. Alesha tidak mau ambil hati akan pertanyaan Jacob barusan, ia hanya menganggap hal itu sebagai gurauan saja, karna pada dasarnya juga tidak mungkin mentornya itu menjadi suaminya.
"Aku tidak mengada-ada, Alesha, jika kau mau maka aku akan langsung menikahimu setelah kau lulus dari WOSA nanti." Lanjut Jacob yang tetap dianggap sebuah candaan semata untuk Alesha.