
Malam harinya, sekitar pukul setengah delapan kurang, atau tepatnya setelah Alesha, dan Jacob menyelesaikan ibadah sholat isya mereka, tidak lama Taylor datang dan memberi kabar jika Laura, dan Sharon sudah tiba di mansion.
Jacob bersama istrinya, Alesha pun bergegas menuju tempat dimana Laura, dan Sharon sudah menunggu, yaitu ruang keluarga.
"Ibu.." Senyum cerah Alesha menjadi sambutan pertama untuk sang ibu mertua.
"Haii, Alesha. Bagaimana kabarmu, dan calon cucu ibu?" Tanya ramah Laura sembari memberikan pelukannya untuk sang menantu.
"Hai, Sha.." Sapa Jacob pada adiknya.
"Haii, Jack.." Sapa balik Sharon pada kakaknya.
"Aku baik, Bu, kehamilanku juga baik-baik saja sejauh ini," Jawab Alesha sembari melepaskan pelukannya.
"Apa Jacob menjagamu dengan baik? Dia tidak melakukan hal buruk padamu kan, sayang?" Laura terlihat begitu perhatian pada menantu perempuannya.
"Ibu, apa maksudnya pertanyaan itu?" Tanya Jacob yang merasa tersindir oleh pertanyaan yang ibunya ajukan pada Alesha.
"Ibu hanya ingin memastikan kalau kau berperilaku baik, dan menghargai istrimu, Jack. Apalagi sekarang Alesha sedang hamil," Balas Laura.
"Jacob baik kok, Bu. Dia malah sangat amat perhatian padaku, dan selalu memanjakanku," Ucap Alesha sembari melirik pada suaminya. Tidak lupa pula senyuman manis yang masih terpampang jelas pada wajah cantiknya.
"Syukur lah kalau begitu," Laura menyunggingkan senyum hangatnya untuk Alesha.
"Oh ya, apa ibu, dan Sharon lapar? Tadi aku meminta para pelayan untuk memasak rendang pedas," Tawar Alesha.
"Rendang pedas? Sepertinya enak. Aku pernah mendengar nama makanan itu, dan banyak yang bilang kalau rasanya enak," Seru Sharon.
"Kau mau mencobanya, Sharon?" Tanya Alesha.
"Boleh. Aku penasaran bagaimana rasanya."
"Kalau begitu ayo kita ke ruang makan," Alesha meraih lengan adik ipar perempuannya yang usianya hanya terpaut satu tahun lebih muda darinya.
Alesha, dan Sharon jalan beriringan di depan, sedangkan di belakang Jacob berjalan bersebelahan dengan ibunya.
"Bu, bagaimana perkembangan perusahaan? Apa ada masalah? Atau Mona mengalami kesulitan?" Tanya Jacob.
"Sejauh ini perusahaan berjalan baik-baik saja, malah semenjak promosi itu industri mineral, tekstil, dan minyak bumi cukup memiliki kenaikan yang signifikan. Resort di kawasan Asia Tenggara juga sudah habis disewa oleh para turis hanya dalam kurun waktu satu minggu pasca promosi," Jawab Laura dengan santai.
"Lalu bagaimana dengan Sharon? Apa dia sudah diajarkan untuk ikut mengurusi perusahaan?" Tanya Jacob, lagi.
"Sedikit. Mona menyuruh seorang mentor untuk membimbingnya."
Percakapan antara Laura, dan Jacob pun terus berlanjut sepertinya halnya sepasang ibu, dan anak. Lalu ketika mereka sampai di ruang makan, suguhan hidangan makanan khas Indonesia pun sudah membuat giur Alesha, Jacob, Laura, juga Sharon.
Tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Mereka berempat pun menyantap hidangan itu dengan diiringi perbincangan kecil.
Mungkin sekitar setengah jam waktu berlalu, dinner sederhana ala keluarga Jacob itu pun selesai. Laura, dan Sharon langsung pergi menuju kamar mereka masing-masing yang sudah disiapkan oleh para pelayan, begitu pula kedua tuan rumah yang juga memilih untuk kembali ke kamar mereka.
Setibanya di kamar, Alesha, dan Jacob sama-sama merebahkan tubuh mereka diatas kasur sembari saling memeluk.
Cuaca, dan suhu ruangan yang cukup dingin membuat Alesha kian merapatkan tubuhnya pada tubuh suaminya yang terasa sangat hangat.
"Besok kau akan kerja, Alesha?" Tanya Jacob.
"Iya. Waktu cutiku kan terakhir hari ini," Jawab Alesha.
"Kalau begitu bekerjalah dengan baik. Kalau kau kelelahan jangan paksakan dirimu untuk terus bekerja, kau bisa meminta izin pada Laras, dia kepala kantornya bukan sekarang?"
Alesha mengangguk.
"Jaga Baby J dengan baik. Jika kau membutuhkan bantuan ada teman-temanmu di sana," Lanjut Jacob.
"Iya, Big Guy."
Tiba-tiba saja Alesha teringat akan satu hal. "Oh ya, Jack, apa kau sudah tahu kalau Tyson terkena luka tusukan saat membantu Mr. Levin untuk menangkap pelaku yang sudah membunuh dua agent SIO?"
"Tyson terkena luka tusukan? Bagaimana bisa?" Pekik Jacob yang terkejut akan ucapan istrinya barusan.
"Entahlah, aku tidak tahu, aku saja diberi tahu oleh Nakyung," Balas Alesha.
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Jacob yang tampak raut-raut khawatir pada wajahnya. Tentu saja, Tyson adalah anak asuhnya, dan sudah dianggap sebagai adik, dan keluarga sendiri oleh Jacob, jadi wajar jika ia merasa khawatir dengan kondisi Tyson saat ini.
"Nakyung bilang kalau Tyson sudah baik-baik saja, dan untungnya luka tusukannya meleset dari hati."
"Huft.. Aku akan menghubungi Nakyung nanti. Jika Tyson sudah kembali, besok aku akan langsung melihat kondisinya di apartemennya," Ucap Jacob.
"Ya, kau memang harus menjenguknya. Aku kasihan pada Tyson," Balas Alesha sembari membenamkan wajahnya pada dada Jacob. Perlahan mata Alesha mulai terpejam ketika rasa kantuk membuat kelopak matanya terasa begitu berat.
Sedangkan Jacob, ia yang paham jika istrinya sudah mengantuk pun segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Alesha agar tidak kedinginan.
"Baca doa terlebih dahulu, Alesha."
Alesha mengangguk sebagai respon balasan. Lalu ia pun membaca doa sebelum tidur dalam hatinya.
"Selamat tidur, Meleth Nin."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dan disusul dengan kecupan lembut pada kening Alesha, akhirnya Jacob bersama istrinya pun terlelap dalam buaian tidur yang menenangkan.
***
Pagi harinya, seperti biasa Alesha bangun hendak melaksanakan sholat subuh bersama Jacob. Selepas itu, mereka pun bersiap-siap untuk menuju tempat kerja masing-masing.
Alesha, menuju kantor SIO, dan Jacob menuju kantor cabang perusahaan milik ibunya. Begitu pula dengan Laura, ia bersama anaknya, Sharon pergi menuju sebuah taman wisata alam untuk menemui seorang rekan bisnis yang juga sedang berlibur di Indonesia.
*Di kantor SIO.
Alesha sedang berada disebuah ruangan yang diisi oleh beberapa teleskop super canggih, dan satu buah drone yang berukuran panjang kali lebarnya kurang dari satu meter.
Di ruangan itu, kini Alesha tengah sibuk mengamati langit cerah menggunakan teleskop khusus milik SIO.
Beberapa bintang redup dapat terlihat oleh mata kepalanya kali ini. Tidak jauh, Alesha pun merubah posisi teleskopnya menuju titik kordinat yang membuatnya dapat melihat objek samar seperti sebuah nebula berukuran besar. Namun ternyata, nebula tersebut adalah sebuah galaxy raksasa yang bertetanggan langsung dengan Bima Sakti, yaitu galaxy Andromeda.
SIO sendiri sedang mempersiapkan misi antariksanya yang entah keberapa kali dengan mengirim sebuah drone khusus untuk meneliti si Bintang Kejora, atau planet Venus.
Bersama dengan beberapa pengamat astronom, kini Alesha tengah sibuk menggali informasi lebih mengenai EXO Planet atau planet-planet yang berada di luar wilayah tata surya.
Tujuannya tentu saja satu, yaitu mencari planet yang memiliki keserupaan, dan layak huni seperti planet bumi.
Berbekal pengetahuan yang sudah ia dapatkan selama pendidikan di WOSA, setidaknya Alesha bisa ikut berpartisipasi dan mengeluarkan suaranya ketika terjadi perundingan.
Berbeda dengan Nakyung, dan Merina, mereka berdua bergabung bersama pakar kelautan karna rencananya SIO juga akan mengirim seseorang ke palung Mariana untuk mengeksplorasi lokasi yang sampai saat ini masih dipercaya sebagai titik terdalam di bumi.
Sedangkan Maudy, ia dan para petugas laboratorium pun tengah disibukan menguji sampel tubuh cacing besar yang tertimbun dalam tanah, dan berasal dari zaman lampau yang ditemukan oleh para peneliti, dan ilmuan.
"Huh, udah mau jam dua belas lagi aja," Gumam Alesha.
"Alesha, kau mau istirahat sekarang?" Tanya Merina yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Alesha.
"Kayanya ia, tapi aku mau sholat dulu sebentar," Jawab Alesha.
"Nanti istirahat ke kantin bareng ya," Ajak Merina sembari menggandeng lengan Alesha untuk berjalan menuju keluar ruangan.
"Sepertinya aku tidak akan istirahat di kantin, Rin," Balas Alesha.
"Kenapa?" Tanya Merina.
"Aku lagi pengen makan di luar aja."
"Ish, sendirian? Aku, dan yang lain tidak bisa mengantarmu, Alesha. Nakyung, dan aku hanya diberi waktu istirahat setengah jam, sedangkan Maudy, dia baru akan mendapatkan waktu istirahatnya jam dua nanti."
"Tidak apa, aku bisa sendiri, lagi pula aku tidak akan pergi ke tempat yang jauh, cukup yang terdekat dari sini saja."
"Yang terdekat dari sini? Dimana? Kantor SIO berada di perbukitan dalam hutan, butuh setengah jam lebih untuk sampai di perkotaan."
"Tenang saja, Merina, aku tidak apa-apa."
"Bagaimana kalau nanti Mr. Jacob marah pada kami jika terjadi sesuatu padamu?" Merina menatap lekat wajah Alesha.
"Tapi, Al.."
"Cukup, Merina. Tidak akan terjadi hal yang buruk padaku."
"Kau yakin? Kau sedang hamil, Alesha."
"Iya, kau tenang saja," Alesha tersenyum manis.
"Yasudah, tapi hati-hati, aku tidak mau sampai terjadi hal yang buruk padamu karna aku sangat menantikan kelahiran Baby J."
"Dasar..." Alesha terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.
Setelah itu, Alesha segera kembali ke ruangannya, begitu pula dengan Merina.
Mungkin sekitar lima belas menitan waktu yang Alesha habiskan untuk menunaikan ibadah sholat dzuhurnya, dan kini, Alesha tengah mengambil jatah istirahatnya dengan mengunjungi sebuah cafe disalah satu mall dipusat kota. Memang ia hanya sendirian saja, bermodalkan meminjam motor matic milik petugas penjaga gerbang, Alesha tentunya berani melajukan kendaraan beroda dua itu menuju tempat tujuannya.
Tapi, tentunya Alesha tidak benar-benar sendiri, Taylor yang selalu bersiaga pun mengikuti kemana Nyonya mudanya itu pergi. Sempat Taylor dibuat bingung. Pasalnya, kenapa Alesha tidak mengatakan saja padanya untuk minta diantar ke cafe itu? Tapi yasudahlah, toh sudah terlanjur, dan lagi pula tidak terjadi hal yang buruk pada Alesha.
Ketika tiba di cafe tujuannya, langsung saja Alesha memesan makanan, dan minuman yang menurutnya enak. Selang sepuluh menitan, pelayan cafe pun kembali dengan senampan pesanan milik Alesha.
Dengan leluasa, dan tanpa ada gangguan dari siapapun, Alesha enjoy saja menyantap nasi goreng pedas, dengan segelas es teh manis. Istri Jacob itu begitu asik menikmati waktu sendirinya tanpa menyadari jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari jauh, dan yang pasti seseorang itu bukanlah Taylor atau pun anak buahnya.
"Alhamdulillah..." Gumam Alesha setelah menghabiskan nasi goreng, dan es teh manis pesanannya tadi.
"Hmm, Baby J, Bunda udah kasih makan loh ya, jangan rewel minta makan lagi, apalagi pas Bunda lagi kerja, OK, sayang," Alesha mengelusi perutnya sendiri, membayangkan seolah ia sedang mengajak bicara anaknya.
Melihat jam, ternyata saat ini sudah pukul satu kurang. Masih ada waktu sekitar empat puluh menitan lagi sih waktu istirahat yang sudah dijatahkan oleh SIO, tapi Alesha enggan untuk berlama-lama lagi, ia lalu bangkit dari duduk seraya mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar pesanannya.
"Ini kembaliannya, Mbak, terima kasih," Ucap ramah sang pelayan kasir cafe tersebut.
"Sama-sama, terima kasih kembali," Balas Alesha yang tak kalah ramah. Sejurus kemudian, Alesha pun membalikkan tubuhnya untuk berjalan keluar dari area dalam cafe.
Tidak sadar akan hadirnya seorang yang sangat familiar, Alesha terus saja berjalan dengan santai, hingga tiba-tiba tubuhnya tersentak kaget karna merasakan pergelangan tangannya yang tahan oleh seseorang.
Lalu dari kejauhan, Taylor yang mendapati adanya seorang pria yang mengejutkan Nyonya mudanya itu pun segera menelpon pada Jacob untuk melapor.
"Hallo, Tuan."
"Ya, Taylor, ada apa? "
"Nona, Tuan. Adam ada di sini, dan kini ia sedang mencoba untuk berkomunikasi dengan Nona, Tuan."
"Apa? Adam! " Terdengar Jacob yang memekik.
"Apa yang manusia itu lakukan dengan Alesha? " Tanya Jacob yang sudah tersulut emosi.
"Saya sedang mengawasi mereka sembari mencari tahu tujuan Adam, Tuan." Balas Taylor.
"Rekam apa saja yang Adam katakan pada Alesha!! " Perintah Jacob sangat tegas.
"Baik, Tuan."
Sambungan telpon terputus. Lalu Taylor segera melaksanakan apa yang sudah Jacob perintahkan barusan.
"Alesha..." Sapa Adam dengan senyum hangatnya.
"A-Adam?" Kening Alesha berkerut. Kebetulan sekali ia bertemu Adam di tempat itu.
"Alesha, gimana kabar kamu?" Basa-basi Adam.
"Alhamdulillah, aku baik kok," Jawab Alesha, ragu.
"Oh ya, bisa kita pindah tempat, kayanya di sini gak enak banget deh, banyak orang yang lewat soalnya," Ucap Adam.
"Enggak, Dam, gak bisa," Tolak Alesha.
"Kenapa?" Adam menatap sedih pada Alesha.
Sungguh Alesha merasa tidak tega akan tatapan yang Adam berikan padanya. Alesha takut saja, entah kenapa berada dekat dengan Adam seperti saat ini membuatnya merasa tidak enak.
"Kamu udah berubah ya, Sha?" Lirih Adam.
Alesha diam, berpikir sejenak lalu, "Ayo, kita ke pindah aja ke sana," Alesha menunjuk pada bangku kosong yang terletak di ujung lorong sepi, dan bersebelahan dengan beberapa toko butik.
Secuil binar bahagia pun tampak pada wajah Adam. Setidaknya ia akan memiliki sedikit waktu bersama wanita yang selalu menjadi sahabatnya sejak kecil.
"Ada apa, Dam? Aku gak bisa lama-lama soalnya," Tanya Alesha sembari mendudukkan tubuhnya pada bangku semi panjang yang memang sudah disediakan oleh pihak mall sendiri.
"Gak apa-apa, Sha, aku cuman kangen aja sama kamu."
"Apa?" Alesha kaget ketika mendengar jawaban dari lawan jenisnya itu.
"Adam kamu gak usah ngada-ngada deh!" Alesha yang tidak terima akan ucapan Adam pun langsung bangkit kembali seolah akan beranjak pergi.
"Tunggu! Sha, dengerin penjelasan aku dulu," Refleks, Adam meraih lengan Alesha. Tentu ia tidak akan membiarkan Alesha pergi begitu saja, tidak mudah juga untuknya bisa memiliki waktu seperti saat ini bersama Alesha.
"To the point! Aku gak banyak waktu!" Tegas Alesha.
"Kamu berubah, Sha," Ucap Adam yang terdengar begitu sedih. "Kemana kamu yang dulu?"
"Adam, kalau kamu cuman mau bilang hal gak penting kaya gitu, mending sekarang lepasin tangan aku! Aku harus balik kerja!"
"Tapi aku kangen sama kamu, Sha," Lirih Adam.
"Adam! Kamu sadar gak sih! Aku udah nikah! Tolong, aku gak bakal larang kamu buat terus temenan sama aku, tapi kita gak bisa kaya dulu. Aku udah nikah, dan aku gak mau bikin suami aku marah karna kamu!" Lagi, Alesha benar-benar menegaskan ucapnya itu.
"Dan kamu lupain aku gitu aja, Sha?" Tatapan Adam semakin sayu. Entah akan seberapa kuat lagi ia dapat menahan kesedihannya dihadapan Alesha.
"Aku lupain kamu?" Ulang Alesha. "Bukannya kamu ya yang lupain aku?"
Adam menutup matanya. Ucapan Alesha barusan benar-benar membuat hatinya terluka begitu dalam.
"Udah deh, Adam! Aku gak ada waktu lagi, assalamualaikum," Alesha menghempaskan lengan Adam dengan kasar dari pergelangan tangannya.
"Jujur aku gak ikhlas kamu nikah sama cowo lain, Sha."
Adam mengungkapkan yang sesungguhnya yang selama ini tertahan dalam hatinya sejak hari pernikahan Alesha bersama Jacob. Memang berat rasanya untuk Adam, tapi ia tak tahu mesti bagaimana lagi. Ia hanya ingin Alesha tahu kalau harapannya begitu besar untuk bisa sama-sama menjalin hubungan yang lebih serius lagi.
Namun tentu saja hal itu ditolak dengan mentah oleh Alesha.
"Bukan aku yang berubah! Tapi kamu, Adam!" Pelan namun begitu dalam. Alesha benar-benar merasa jika Adam bukanlah Adam yang dulu ia kenal. Sikap Adam menunjukan kalau pria itu berubah menjadi egois.
"Kamu nikah sama cewe lain, kamu pikir aku gak sakit hati?" Alesha menatap lekat wajah Adam. "Setelah itu kamu minta izin ke mantan istri kamu buat nikahin aku cuman karna prediksi dokter yang bilang kalau mantan istri kamu belum tentu bisa hamil, dan sekarang setelah kamu cerai kamu cari aku, berharap kita bisa kaya dulu lagi?" Alesha menggelengkan kepalanya. "Enggak Adam! Kamu bilang kamu gak ikhlas aku nikah sama cowo lain? Egois tau gak!" Alesha menekan ucapannya pada tiga suku kata terakhir.
"Aku sayang sama kamu, Alesha," Adam menggenggam erat lengan Alesha. "Maaf..."
"Telat! Aku udah punya suami yang bener-bener cinta sama aku, dan aku gak mau khianatin dia! Aku cinta sama dia, dan aku juga bahagia sama dia! Jadi gak usah ganggu aku lagi!" Kemudian Alesha berlalu pergi begitu saja meninggalkan Adam.
Sungguh ingin rasanya Alesha pulang, dan memeluk tubuh suaminya sembari menangis selepas mungkin. Ia benar-benar membutuhkan Jacob saat ini.
"Mr. Jacob...." Lirih Alesha yang mulai terisak.
"Alesha...." Ternyata Adam tak tinggal diam. Ia turut menghampiri Alesha kembali untuk menghalau agar istri Jacob itu tidak segera pergi.
"Awas, Adam!" Alesha mulai menangis.
Beberapa pengunjung mall yang berpapasan dengan mereka pun melirik dengan ekspresi yang bermacam-macam.
Tapi tidak lama, Taylor pun muncul dan segera menajuhkan Nyonya mudanya dari Adam.
"Taylor..." Alesha mantap pada pengawal pribadi utusan suaminya itu.
"Nona, kita pulang sekarang!" Ucap Taylor tanpa basa-basi lagi.
"Enggak, tunggu!" Halau Adam.
"Jangan dekati Nona Alesha lagi atau anak buah saya akan menghajar anda saat ini juga!" Ancam Taylor.