May I Love For Twice

May I Love For Twice
I didn't



Setelah mengantarkan Alesha menuju kamar messnya, Jacob segera berjalan untuk kembali menuju ruangannya. Saat ditengah perjalanan, ia berpapasan dengan Laras yang membawa beberapa arsip ditangannya.


"Hai, Jack, kau dari mana?" Tanya Laras.


"Aku baru mengantarkan Alesha ke kamar messnya." Jawab Jacob.


"Kau mau ke ruanganmu sekarang?" Tanya Laras lagi.


"Ya." Jawab Jacob dengan anggukan kecil.


"Kalau begitu ayo, aku juga mau kembali ke ruanganku." Ucap Laras seraya melanjutkan jalannya  bersama Jacob.


"Sejak kapan kau punya boneka beruang?" Tanya Laras dengan tatapan bingung yang tertuju pada boneka beruang milik Alesha.


"Ini, Baby Ale, boneka milik Alesha." Jawab Jacob dengan senyuman kecil yang menunjukan sebuah kebahagiaan mendalam.


"Boneka Alesha? Bagaimana bisa Alesha mendapatkan boneka itu?" Laras menatap bingung pada Jacob yang masih mempertahankan senyumannya.


"Dia mendapatkannya sebagai hadiah dari toko kue yang sedang merayakan ulang tahun." Jawab Jacob sambil mengelus pelan bulu halus boneka Alesha.


"Beruntung sekali Alesha, boneka ini besar dan bagus." Puji Laras dengan antusias.


"Alesha menitipkan padaku karna ia tidak mau boneka ini dibuang. WOSA tidak membolehkan muridnya membawa boneka atau mainan besar seperti ini." Ucap Jacob.


"Dia benar, sayang sekali kalau boneka sebagus ini dibuang." Balas Laras.


Dan mereka berjalan tanpa ada yang membuka percakapan lagi hingga akhirnya Laras sampai terlebih dulu di ruangannya.


"Jack, aku duluan ya, selamat malam." Ucap Laras sambil membuka pintu dan masuk ke dalam ruangannya.


Jacob mengangguk. "Selamat malam, Laras." Balas Jacob. Jacob segera melangkahkan kakinya beberapa langkah lagi untuk mencapai ruangannya. Ruangan Jacob dan Laras tidak berjarak jauh, mungkin hanya terpisah oleh beberapa ruangan saja. Setelah sampai di ruangannya, Jacob segera menaruh Baby Ale, boneka milik Alesha itu di atas kasurnya. Jacob segera membuka jas hitamnya lalu menjatuhkan diri dibangku kerjanya. Ia tersenyum sambil menatap pada layar ponsel yang menunjukan gambar Alesha yang sedang tersenyum lebar. Levin yang mengirimkan gambar itu pada Jacob sore tadi. Menurut Jacob, Alesha benar-benar manis saat sedang tersenyum. Wajah khas melayu milik Alesha itu memberi ciri khusus untuk Jacob.


"Kau sangat manis, dan aku menyukai senyuman itu. Berbeda dari yang lain. Itulah dirimu." Ucap Jacob yang terus saja memfokuskan dua bola matanya pada foto yang menunjukkan seorang gadis yang mungkin akan menjadi dunia baru untuk Jacob.


"Alesha, sejak awal aku melihatmu, aku pikir aku tidak bisa melupakan Yuna karna kalian terasa sama, namun semakin aku mengenalmu, kalian berdua benar-benar berbeda, dan sekarang aku begitu tertarik padamu." Jacob mengalihkan pandangannya ke arah jendela sambil tersenyum lebar.


"Maaf Yuna, mungkin mulai sekarang adalah saatnya aku melepaskanmu, aku mencintaimu, namun kau pergi meninggalkanku, aku begitu terpuruk saat itu, tapi gadis yang sekarang ini bisa membantuku untuk melepasmu. Aku harap kau bahagia, tapi tenang saja, cincin yang akan aku berikan padamu tidak akan pernah aku berikan pada wanita lain, termasuk Alesha karna cincin itu milikmu. Aku tidak akan menjualnya, dan aku akan terus menyimpannya sampai kapan pun, cincin itu adalah satu-satunya yang bisa mengingatkanku akan tulusnya perasaanku padamu waktu itu. " Jacob menggenggam cincin yang menggantung dikalungnya. Ia mencium cincin itu. Ada sekelibat rasa sakit yang masuk kehati Jacob. Perasaan bersalah, frustrasi, kecewa, marah, dan sedih. Semua itu berkumpul kembali saat Jacob mencium cincin yang akan ia berikan pada Yuna, mantan kekasihnya waktu itu.


Pandangannya kembali pada sosok gadis manis dilayar ponselnya itu. "Alesha, aku tidak akan main-main jika aku sudah benar-benar yakin padamu. Aku berjanji itu." Jacob memejamkan matanya. Ia sedang meresapi semua perasaan yang sedang beradu dalam hatinya. Pikirannya menjadi sedikit kalut, namun saat bayangan wajah Alesha menyelinap masuk, ada sedikit ukiran diujung sudut bibirnya.


Selama beberapa saat, Jacob menikmati waktu sendirinya bersama bayangan dan hayalan yang Jacob harapkan untuk masa depannya. Ia tidak bisa menahan senyumnya saat membayangkan kalau beberapa tahun kedepan ia akan memiliki anak bersama wanita yang ia cintai. Rumahnya akan ramai dengan tawa canda seorang bocah kecil yang sedang bermain dengan wanita pilihan hatinya, dan wanita yang Jacob bayangkan itu adalah gadis yang sekarang sedang Jacob incar. Ya, Alesha lah gadis itu. Dalam hatinya, Jacob ingin sesegera mungkin untuk bisa menikah karna usianya sudah pas untuk meminang seorang gadis, namun mungkin Jacob harus menahan keinginan itu untuk beberapa tahun, apalagi jika Alesha yang kelak akan menjadi calonnya. Jacob tidak mungkin bisa menikahi Alesha sebelum usia Alesha sampai pada titik pas usia seorang wanita untuk dinikahi. Umur Alesha saja baru delapan belas tahun sekarang, ya minimal Jacob harus sabar menunggu hingga lima tahun lagi, dan selama lima tahun itu akan Jacob jadikan sebagai waktu untuk membuktikan keseriusan hati dan pikirannya pada Alesha.


"Aku harus bersabar, dan kau jangan buat aku ragu, Al, aku tidak mudah untuk mencari wanita lain." Gumam Jacob.


Tiba-tiba saja lampu yang ada di ruangan Jacob mati, dan Jacob kuping Jacob menangkap suara pintu ruangannya yang terbuka lalu tertutup lagi.


Jacob membuka matanya dan mendapati kalau ruangannya itu sudah gelap. Segera Jacob memasang sikap waspada. Matanya menatap tajam pada sekelilingnya untuk mengawasi sesuatu yang Jacob rasa sedang mendekat ke arahnya. Namun, sesuatu tiba-tiba menyelinap masuk keindra penciuman Jacob. Wangi parfum milik Alesha memenuhi ruangannya, dan itu mengalihkan perhatiannya.


Jacob menghirup dalam wangi parfum milik Alesha. Pikirannya menjadi kacau. "Alesha." Panggil Jacob pelan sambil memejamkan matanya dan terus menghirup wangi parfum Alesha yang memadati indra penciumannya. Jacob bangkit dari duduknya. Seseorang baru saja menyentuh pundak Jacob.


"Tutup matamu, ini aku, Alesha." Bisik orang itu dengan lembut.


***


"Mr. Frank, Levin berhasil mendapatkan bongkahan yang Vincent curi dan menghabisi seluruh anak buah Vincent, namun Levin tidak menemukan Vincent di markasnya." Ucap William, kakak ipar Jacob.


"Lacak Vincent, suruh Levin untuk terus memburunya, aku akan meminta bantuan agent dari organisasi lain. Vincent tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dia akan melancarkan aksinya, dan kalau perlu buru semua orang yang bekerja sama dengan Vincent!" Perintah Mr Frank. Raut frustrasi tergambar jelas diwajah Mr. Frank. Levin berhasil menyerbu markas Vincent, namun Vincent sudah terlanjur mengetahui rencana SIO.


"Mr. Frank, kalau boleh aku memberi usulan, lebih baik kita suruh Levin dan yang lain kembali, akan sia-sia saja jika kita menyuruhnya untuk terus memburu Vincent sekarang, jika saja Levin menemukan Vincent, aku tidak yakin Levin akan bisa kembali ke SIO. Anak buahnya yang banyak belum lagi bantuan dari orang yang bekerja sama dengannya akan menghabisi Levin dan yang lain." Usul William.


Mr. Frank terlihat berpikir dan mempertimbangkan usulan Wiliam barusan. "Baiklah, kau benar, panggil Levin dan anak buahnya untuk segera kembali ke SIO!"


Wiliam sedikit tersenyum saat mendengar keputusan Mr. Frank barusan. "Baik, Mr. Frank." Wiliam segera bergegas pergi meninggalkan Mr. Frank. Ia akan segera memerintahkan pegawai bagian komunikasi untuk menghubungi Levin agar kembali ke SIO. Setelah tugasnya itu selesai, Wiliam segera berjalan kembali menuju ruangannya.


"Honey, kau kenapa?" Tanya Wiliam yang mendapati Mona sedang menangis. Ia sangat panik dan segera mendekati Mona lalu memeluk istrinya itu.


"Ibu, dia menghubungiku barusan lewat panggilan video." Jawab Mona disela-sela tangisnya.


"Ibu?" Wiliam mengerutkan keningnya. Ia menangkup wajah Mona lalu mengangkatnya. Tatapan mereka bertemu. Wiliam melihat mata Mona sudah sembab, ujung hidung dan pipinya sudah memerah.


"Ibuku menghubungiku barusan, mereka ingin aku dan Jacob untuk menemuinya." Ucap Mona dan seketika tangisnya semakin pecah. Mona menenggelamkan wajahnya pada pelukan Wiliam. "Ia memintaku dan Jacob untuk menemuinya setelah berbelas-belas tahun ia meninggalkan dan menelantarkan aku dan Jacob begitu saja." Mona menangis sesegukan dalam pelukan suaminya itu.


Wiliam sendiri tidak bisa berkomentar apa-apa. Ia hanya bisa mengelus pelan punggung istrinya untuk sekedar menenangkan Mona yang terus saja menangis.


"Aku tidak yakin Jacob akan mau menemui ibunya." Lanjut Mona. "Bahkan aku sendiri ragu, Wil, aku dan Jacob sudah terlanjur kecewa."


Wiliam menghembuskan nafasnya pelan. Ia jadi ikut merasakan kesedihan Mona. Ia kasihan pada istrinya dan adik iparnya, Jacob. Mereka tidak mendapatkan kasih sayang orang tua yang murni.


"Apa yang harus aku lakukan, Wil?" Mona memukul pelan dada Wiliam. Ia begitu frustrasi saat tiba-tiba saja ibunya menghubunginya. Mona tidak tahu bagaimana ibunya itu bisa mendapatkan nomor ponsel pribadinya, namun Mona begitu sedih ketika mengingat semua kejadian saat orang tuanya pergi meninggalkan ia dan Jacob yang masih sangat kecil waktu itu. Mona yang mengurus dan mendidik Jacob sendirian tanpa bimbingan siapa pun. Itulah kenapa Mona sangat mencintai dan menyayangi Jacob. Adiknya itu adalah harta berharga untuk Mona karna waktu itu dia tidak memiliki siapa-siapa selain Jacob, Jacob juga yang membuat Mona menggagalkan misi bunuh dirinya. Mona tidak tahu apa alasan orang tuanya membuang ia dan Jacob begitu saja.


"Mona, kau tidak boleh stress, ingat siapa yang ada pada rahimmu." Wiliam mengelus pelan perut Mona yang sudah sedikit membesar.


"Kenapa mereka kembali setelah aku dan Jacob sudah berhasil? Mereka tidak pernah ada disaat-saat tersusah anak-anaknya. Aku dan Jacob berjuang mati-matian agar bisa mendapatkan makanan. Kami mengemis, kami dihina dan diusir, kami direndahkan, dan sekarang setelah kami sudah mendapatkan apa yang kami inginkan, mereka kembali begitu saja dan meminta kami untuk menemui mereka. Sekejam itukah orang tuaku dan Jacob?" Mona meremas jas yang Wiliam pakai. Emosinya kini keluar melalui butiran air mata yang terus mengucur.


"Aku tidak tau apa jawaban Jacob nanti, tapi aku sangatlah kecewa pada orang tuaku." Lanjut Mona.


Wiliam tidak bisa berkata apa-apa. Ia membiarkan Mona menyalurkan semua emosi dan isi hatinya yang selama ini selalu dipendam. Semua emosi dan rasa kecewa Mona yang sudah tidak dibendung setelah orang tuanya tiba-tiba saja datang dan meminta Mona dan Jacob untuk menemui mereka.


***


Pagi ini, Stella dan yang lain seperti biasa sedang berjalan menuju kelas mereka. Saat ditengah perjalanan menuju ruang kelas, keempat gadis itu berpapasan dengan mentor mereka.


"Hai, Mr. Jacob." Sebuah sapaan manis dipagi hari dari Merina.


"Hai." Sapa balik Jacob dengan senyum manisnya.


"Kau pasti mau menemui Alesha." Ucap Maudy yang menebak-nebak.


"Ya, aku yang bertanggung jawab mengurusnya selama ia sakit." Jawab Jacob dengan santai.


"Kalau aku yang ada diposisi Alesha, apa kau akan melakukan hal yang sama?" Tanya Stella.


"Tentu saja." Jawab Jacob sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Sungguh? Baiklah. Mr. Jacob, aku sakit, tolong aku!" Ucap Merina yang berpura-pura memegangi kepalanya dan bertingkah seolah ia akan jatuh pingsan. Nakyung mengerutkan keningnya saat melihat tingkah Merina. Ia menatap Merina dengan tatapan jijik dan geli.


"Kalau begitu ayo, aku akan membawamu kembali ke kamar messmu." Ucap Jacob sembari mengangkat tubuh Merina.


"Kyaaa, Mr. Jacob, turunkan aku!" Teriak Merina saat ia merasakan tubuhnya yang mengambang. Nakyung yang berada disebelah Merina segera menutup kupingnya. Ia merasakan gendang telinganya yang bergetar saat mendengar suara teriakan melengking dari Merina.


"Kau bilang kepalamu pusing, ayo, aku akan membawamu kembali ke kamar messmu." Ucap Jacob dan mulai melangkahkan kakinya.


"Tidak! Cukup! Tidak asik bercanda denganmu selalu saja dianggap serius. Mr. Jacob!!!" Teriak Merina sekali lagi.


"Mr. Jacob, turunkan dia! Sakit kupingku mendengar teriakannya!" Ucap Nakyung dengan penuh emosi pada Jacob.


Jacob hanya mengedikan bahunya. "Baiklah." Ia menurunkan kembali tubuh Merina.


Saat kakinya sudah menapaki lantai, Merina segera mencubit pelan perut Jacob lalu berlari begitu saja meninggalkan Jacob dan ketiga temannya.


"Maaf, Mr. Jacob, tapi kau membuatku malu!" Teriak Merina sambil terus berlari.


Jacob memegangi perutnya yang tadi dicubit oleh Merina. Ia menatap bingung ke arah Merina yang berlari semakin menjauh.


"Kau tidak akan mengurangi nilai tim kami kan hanya karna ulah Merina barusan?" Tanya Nakyung dengan malas.


"Mungkin." Jawab Jacob singkat yang membuat pernyataan ambigu pada pikiran Nakyung, Maudy, dan Stella. Mungkin dikurangi, atau mungkin tidak akan dikurangi?


"Sudah, kalian segera pergi ke kelas masing-masing, susul Merina cepat." Ucap Jacob.


Ketiga gadis yang ada dihadapan Jacob itu mengangguk. Mereka segera melangkahkan kaki untuk pergi menuju kelas masing-masing. Begitu pula Jacob, ia juga melanjutkan langkah kakinya untuk menuju kamar mess Alesha.


Senyumnya mengembang begitu saja saat mengingat kejadian semalam. Apa benar Alesha menciumnya? Jacob hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menyentuh bibirnya yang ada bekas luka karna sebuah gigitan kecil karna kejadian semalam. Bekas gigitan itu kecil, namun bisa terlihat cukup jelas.


"Hai, Mr. Jacob." Sapaan ramah dari Alesha saat Jacob sudah sampai di kamar mess gadis itu.


Jacob tersenyum ramah. Ada sedikit rasa malu diwajah Jacob saat melihat Alesha. Ia selalu mengingat kejadian semalam, walau ia tidak bisa dengan jelas melihat wajah Alesha saat gadis itu menciumnya dengan penuh kelembutan.


Jacob mendekati Alesha yang sedang asik memakan popcorn dan menonton kartun.


"Aku tidak tahu kau bisa semahir itu." Ucap pelan Jacob tepat ditelinga Alesha.


"Mahir? Mahir apa?" Alesha mengerutkan keningnya dan menatap bingung pada Jacob.


Jacob mengeluarkan smirknya saat mendengar pertanyaan Alesha barusan.


"Kau meninggalkanku begitu saja semalam setelah kau melakukannya." Ucap Jacob.


"Meninggalkanmu? Melakukan apa?" Alesha semakin melayangkan tatapan bingung pada Jacob. Gadis itu benar-benar tidak paham apa yang Jacob katakan.


"Jangan pura-pura lupa, Al." Jacob mendekatkan wajahnya pada wajah Alesha.


"Tunggu, aku coba luruskan. Kau bilang aku meninggalkanmu, dan aku melakukan sesuatu?" Alesha mencoba untuk mengingat kejadian semalam saat ia sedang berada di rumah pohon bersama Jacob. Yang Alesha ingat adalah ia tidur dipelukan Jacob, dan Jacob mengantarkannya ke kamar messnya.


Jacob mengangguk sambil mengeluarkan tatapan menggoda pada Alesha setelah ia mendengarkan ucapan Alesha barusan.


"Aku melakukan apa? Aku tidak meninggalkanmu." Alesha menatap balik mata Jacob untuk meyakinkan kalau ia tidak melakukan apapun setelah Jacob mengantarkannya ke kamar messnya. Namun, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu. Matanya Alesha beralih pada sebuah luka dibibir Jacob.


"Bibirmu kenapa?" Alesha malah menatap bingung pada Jacob dan balik bertanya.


Jacob mengerutkan keningnya. Ia menjadi bingung kenapa Alesha bisa melupakan ulahnya semalam pada Jacob. Jacob yakin kalau yang semalam menciumnya adalah Alesha. Wangi dari parfum dan cara bicara Alesha yang sudah sangat Jacob kenali membuat Jacob sangat yakin dan terus melanjutkan aksi ciumannya.


"Al, semalam kau datang ke ruanganku kan?" Tanya balik Jacob dengan tatapan menuntut jawaban dari mulut Alesha.


Alesha menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pergi kemana pun semalam, kau sendiri yang bilang agar aku melanjutkan tidurku." Jawab Alesha dengan polos. "Aku tidak keluar mess setelah kau mengantarku, lagi pula perutku sakit, berjalan saja terasa perih, apa lagi pergi ke ruanganmu." Lanjut Alesha.


"Alesha kau jangan berbohong!" Jacob menatap tajam pada Alesha.


"Aku tidak berbohong! Ada apa denganmu? Jangan tatap aku seolah aku sudah melakukan kesalahan besar padamu!" Balas Alesha sambil memundurkan kepalanya yang hanya berjarak satu jengkal dengan wajah Jacob. Mendadak rasa takut dan panik merasuki tubuh Alesha.


Jacob terdiam. Tatapannya datar dan terarah pada Alesha. Jacob kembali sibuk dengan pikirannya. Ia yakin wanita yang semalam menciumnya hingga membuat luka kecil dibibirnya adalah Alesha. Jacob sangat yakin itu. Tidak mungkin wanita lain melakukan hal itu.


"Mr. Jacob, jangan tatap Alesha seperti itu, Alesha jadi takut." Ucap Alesha dengan pelan. Ia terlalu takut dengan ekspresi wajah Jacob yang menatapnya.


Jacob masih terdiam. Pikirannya kembali dimasuki pertanyaan yang tidak bisa Jacob temukan jawabannya saat ini. Siapa yang menciumnya semalam? Alesha tidak berbohong, Jacob tau itu, tatapan Alesha membuktikan kalau gadis itu memang mengatakan yang sebenarnya. Jacob lupa, Alesha tidak mungkin melakukan hal itu semalam. Lalu siapa yang menciumnya? Kenapa wangi parfum dan cara bicaranya sama seperti Alesha? Hati Jacob terasa seperti ditusuk oleh anak panah lancip saat menyadari kalau yang menciumnya semalam bukanlah Alesha.


"Mr. Jacob." Alesha mengguncang pelan bahu Jacob.


"Alesha, kau apa kau ingat ada seseorang yang memakai parfummu?" Tanya Jacob.


"Aku rasa tidak, kenapa?" Tanya balik Alesha.


Jacob terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Alesha. Ia hanya menundukkan kepalanya dan menyentuh keningnya.


"Mr. Jacob, apa yang terjadi?" Tanya Alesha lagi.


"Mr. Jacob, aku tidak mau berpikir kalau ada orang yang semalam menyamar menjadi diriku dan menemuimu." Ucap Alesha yang mulai curiga.


Jacob tidak menjawab. Ia masih sibuk dengan banyaknya pertanyaan yang merasuki pikirannya.


"Mr. Jacob, jawab aku!" Alesha mengangkat wajah Jacob untuk menatapnya. "Mr. Jacob, apa yang terjadi semalam?"


"Kau menciumku." Jawab Jacob datar.


"Apa?" Tanya Alesha yang terkejut tepat dihadapan wajah Jacob dengan nada bicara yang yang meninggi. Mata Alesha membulat dengan sendirinya ketika mendengar ucapan Jacob barusan. Tangannya terlepas dari wajah Jacob. Perasaan syok, kaget, dan tidak percaya mengepung Alesha. Ia tidak percaya kata-kata Jacob barusan. Alesha menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Perlahan, Alesha meringsek kesisi lain kasur untuk menjauh dari Jacob. Alesha masih kaget dan syok karna ucapan Jacob yang membuat pikirannya terus mengeluarkan pertanyaan.


"Aku, aku tidak melakukan itu, aku bersumpah, aku tidak mungkin melakukan itu padamu." Ucap Alesha dengan wajah syoknya.


"Aku tau, seharusnya aku menyadari itu semalam. Seseorang memakai parfummu, aku pikir itu kau Alesha." Balas Jacob dengan nada pasrah. Tersirat kesedihan diraut wajah Jacob. Jacob jadi kecewa, kenapa bukan Alesha yang menciumnya semalam?


"Kalau seandainya semalam itu aku yang beneran menciummu, berarti kau juga akan terus melanjutkan ciuman itu? Dan kau tidak akan menghentikan ciumannya? Mr. Jacob kau membuatku takut." Ucap Alesha yang salah paham. Lagi? Alesha bangun dan beranjak dari kasurnya dan menjauhi Jacob.


"Tidak, Alesha, kau salah paham." Jacob berusaha untuk mendekati Alesha.


"Berhenti! Aku tidak salah paham! Buktinya kau tidak menghentikan ciumannya hingga membuat bibirmu terluka karna kau menganggap orang yang semalam adalah aku! Apa maksudmu seperti itu?" Bentak Alesha.


Jacob segera membekap mulut Alesha dan menyandarkan Alesha ditembok lalu mengunci tubuh gadis itu.


"Dengarkan aku! Kau harus mendengarkan ucapanku dulu." Ucap Jacob dengan pelan.


Alesha menggelengkan kepalanya. Ia meronta agar Jacob bisa membebaskannya.


"Aku tidak tau kalau yang semalam itu bukan kau, Alesha, seseorang memakai parfummu, aku pikir itu kau." Lanjut Jacob.


Alesha mulai menangis. Air mata pun turun dan melewati pipi Alesha. Ia merasakan tangan Jacob yang menahan perutnya dengan kencang, tepatnya dibagian jahitannya. Perasaan perih dari jahitan yang ada diperut Alesha menjalar keseluruh tubuh Alesha. Perih itu tidak tertahankan. Jika saja bisa, Alesha ingin berteriak karna rasanya seperti jarum-jarum suntikkan sedang menusuk-nusuk perutnya. Tubuh Alesha mulai melemas, ia tidak bisa menahan lagi rasa sakit dan perih diperutnya itu.