
"Jack, kau mengganggu waktu makanku." Ucap Levin dengan malas sambil membuka pintu.
"Jack? Alesha?" Levin mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan.
"Alesha.." Panggil Levin. Ia tidak mendapati ada Jacob atau Alesha di ruangan itu.
***
"Mr. Jacob, dia pergi kemana?" Gumam Alesha. Sedari tadi Alesha berjalan di lorong rumah sakit sambil membawa tiang impusannya. Ia mencari Jacob yang pergi entah kemana. Alesha merasa tidak enak pada Jacob. Mungkin bercandanya terlalu berlebihan hingga Jacob marah padanya.
Beberapa orang yang melihat ke arahnya melayangkan tatapan bingung, tapi Alesha mengabaikannya. Ia masih fokus mengedarkan pandangannya kesetiap sudut rumah sakit, berharap ia akan menemukan Jacob.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah seorang perawat yang menghampiri Alesha.
"Tidak terima kasih, aku hanya ingin berkeliling saja sebentar." Jawab Alesha.
"Tapi anda tidak bisa berkeliling di rumah sakit sendirian." Ucap perawat itu dengan ramah.
"Aku tidak sendirian, ada seorang yang ikut bersamaku di belakang." Balas Alesha berbohong.
"Baiklah kalau begitu." Ucap perawat itu lalu pergi meninggalkan Alesha.
Alesha menghela nafasnya dengan sabar. Alesha berjalan lagi mengelilingi rumah sakit yang besar itu sendirian. Hingga ia menemukan sebuah taman dan ia duduk disebuah bangku taman sambil memegang kepalanya yang mulai terasa pusing. Mungkin karna Alesha terlalu banyak berjalan untuk mencari Jacob.
Alesha menatap kesekelilingnya. Banyak sekali orang yang lewat di depannya, dan itu membuat Alesha semakin pusing. Alesha segera bangkit dan lanjut berjalan ditengah-tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang.
Brugg...
Seseorang tidak sengaja menabrak tubuh Alesha. Alesha sempat oleng sesaat, dan orang yang menabraknya segera menahan tubuh Alesha agar tidak terjatuh.
"Maaf..." Ucap orang itu. Alesha terdiam untuk mengembalikan pandangannya yang sempat buram tadi.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya orang itu. Alesha hanya mengangguk. "Mau aku antar kekeluargamu?" Tanya orang itu lagi.
"Tidak, terima kasih." Balas Alesha sambil tersenyum kecil. Orang itu mengangguk lalu pergi meninggalkan Alesha.
***
"Jacob!" Panggil Levin yang mendapati Jacob sedang termenung sendiri di balkon rumah sakit di gedung tempat ruang rawat inap Alesha berada.
Jacob berbalik lalu menghadap ke arah Levin.
"Apa yang kau lakukan di sini? Dimana Alesha?" Tanya Levin dengan memasang wajah curiga.
Jacob yang tadinya menatap Levin dengan tatapan datar malah balik menatap tajam pada Levin.
"Alesha tidak ada di kamarnya?" Tanya Jacob.
"Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri jika dia ada di kamarnya." Jawab Levin.
Jacob yang mendengar jawaban Levin langsung pergi begitu saja dan mengabaikan Levin yang sedang menahan emosinya.
"Bisa tidak sih kau tidak menghilang terus Alesha!" Gumam Jacob sambil setengah berlari. Ia mengedarkan pandangannya kesetiap penjuru rumah sakit yang ia lewati.
***
Alesha beristirahat sejenak disebuah bangku yang ada di sebelah pohon yang sangat rindang. Ia terus memegangi kepalanya yang terasa semakin berputar. Ia memilih tempat yang sepi agar ia tidak pusing karna melihat orang-orang yang berlewatan begitu saja.
"Mr. Jacob, kemana sih?" Oceh Alesha. Alesha jadi sebal dengan Jacob karna tiba-tiba menghilang begitu saja, tapi Alesha juga merasa bersalah.
Alesha menyandarkan kepalanya dibatang pohon sambil menutup matanya untuk merasakan sensasi sejuk dari angin yang menerpa wajahnya. Ia sedang membayangkan tempat yang waktu itu ada di dalam mimpinya.
"Sayang cuman mimpi." Gumam Alesha. Ia kemudian membuka matanya lalu mengelus tangan yang dipasangi selang infus.
"Aku lelah, kepalaku pusing." Ucap Alesha pelan. Ia menatap ke sekelilingnya. "Bagus, aku tidak tau jalan untuk kembali." Alesha mendengus.
"Mr. Jacob, kau dimana?" Ucap Alesha dengan malas sambil mengelus kepalanya.
"Alesha, kau pergi kemana?" Ucap Jacob dengan frustasi. Ia sudah berkeliling rumah sakit tapi tidak menemukan Alesha. Lagi-lagi Jacob dibuat khawatir oleh gadis itu. Gadis yang kini selalu jadi pusat perhatian Jacob tanpa Jacob sadari.
Jacob berlari lagi ke tempat lain berharap ia bisa menemukan Alesha di sana.
Jacob sangat tidak tenang. Hatinya terus merasa was-was jika ia belum menemukan Alesha. Kecemasan itu bisa terlihat langsung dari wajah Jacob yang menunjukan ekspresi panik, dan bingung. Sedangkan Alesha, gadis itu tidak merasa cemas sama sekali, ia hanya bingung mencari jalan untuk kembali ke kamarnya. Saat ini saja Alesha sedang berjalan di tangga yang ada di lorong rumah sakit yang sepi. Tangan Alesha dibuat pegal karna ia harus mengangkat tiang impusnya sendirian.
Alesha menghela nafasnya dengan kasar. Ia memegang kepalanya lagi. Sekarang Alesha sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Kepalanya terasa berputar dan tubuhnya semakin lemas karna terlalu banyak berjalan.
Alesha duduk di tengah-tengah anak tangga itu. Ia menyandarkan kepalanya pada tembok rumah sakit. Tatapan mata Alesha mulai meredup. Ia sudah sangat lemas, matanya juga mulai terpejam.
Tidak jauh dari tempat Alesha sedang beristirahat, Jacob muncul dengan raut wajah yang masih sama. Jantung Jacob berpacu kencang saat matanya menangkap seorang gadis di tengah-tengah anak tangga sedang memejamkan matanya sambil sedikit mununduk. Ia menghampiri gadis yang sedang ia cari sedari tadi.
"Alesha." Panggil Jacob. Alesha membuka matanya, ia kenal pemilik suara yang memanggilnya barusan. Alesha tidak melihat ke arah wajah Jacob, kepalanya terlalu pusing untuk mendongkak dan menatap Jacob.
Jacob merasa kalau Alesha sedang merasa lemas saat ini. Ia berlutut dihadapan Alesha lalu menatap mata Alesha yang sudah sayu.
Jacob menghela nafasnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Alesha menatap datar ke arah Jacob. "Aku mencarimu tau, kau kemana?" Tanya balik Alesha.
Jacob mengerutkan keningnya. "Kenapa kau mencariku?"
"Aku mengejarmu tadi untuk meminta maaf karna bercandaku yang mungkin membuatmu tersinggung. Maaf." Jawab Alesha sambil menunduk. "Tapi kau berjalan sangat cepat. Aku jadi tersasar."
Jadi, kau mengejarku hanya untuk meminta maaf padaku? Alesha, aku minta maaf sudah merepotkanmu..... Gumam Jacob dalam hati.
"Sudah, tidak usah pikirkan itu, kau harus segera kembali ke kamarmu." Ucap Jacob sambil membantu Alesha untuk berdiri.
"Aarghhh.." Erang Alesha saat ia merasakan sensasi sakit dan pusing berputar dikepalanya. Dengan sigap, Jacob segera menahan tubuh Alesha agar tidak terjatuh.
"Kau kelelahan, Al." Ucap Jacob.
Alesha hanya mengangguk. Ia masih menahan nyeri dan pusing berputar dikepalanya.
"Mr. Jacob, aku ingin duduk sebentar." Pinta Alesha dengan lirih. Tangan Alesha mencengkram kuat tangan milik Jacob.
"Tunggu sebentar sampai kepalaku tidak sakit lagi." Ucap Alesha sambil menyandarkan kepalanya didinding.
Jacob kasihan pada Alesha. Ia tidak tega melihat Alesha yang menahan sakit seperti itu. Hatinya seperti di iris-iris.
"Mr. Jacob, kepalaku sakit, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alesha sambil memukul kecil kepalanya. Jacob segera menahan tangan Alesha.
"Jangan lakukan hal itu lagi, itu tidak akan membantu. Kau kelelahan, Al, kau harus kembali ke kamarmu untuk istirahat." Ucap Jacob.
Alesha segera bangkit berdiri. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. "Bantu aku berjalan." Ucap Alesha sambil memegang erat tangan Jacob. Jacob meraih pinggang Alesha untuk membantu Alesha berjalan.
Mereka berjalan beriringan. Beberapa pasang mata menatap ke arah Jacob dan Alesha. Alesha cuek, ia tidak perduli dengan tatapan sinis dari orang-orang yang ia dan Jacob lewati. Alesha hanya fokus untuk terus berjalan agar ia bisa segera sampai di kamarnya. Jacob yang sedari tadi membantu Alesha berjalan terus saja memandangi Alesha dari pinggir. Walau rambut Alesha sudah acak-acakkan tapi tetap saja kesan manis yang wajah Alesha pancarkan tidak pernah luntur. Jacob tersenyum samar. Hatinya menjadi tenang setelah ia menemukan Alesha.
Dasar aneh.. Ucap Jacob dalam hati.
Matanya tidak bisa lepas dari Alesha. Alesha sendiri tidak menyadari tatapan Jacob yang sedari tadi terus terarah kepada wajahnya. Mungkin kalau Alesha tau, Alesha akan menampar Jacob lagi. Jacob terkekeh saat mengingat momen lucu bersama Alesha.
"Mr. Jacob." Panggil Alesha.
"Apa?" Jawab Jacob dengan lembut.
"Aku minta maaf, kau pasti tersinggung tadi." Ucap Alesha.
Jacob mengerutkan keningnya sambil tersenyum tipis. "Lupakan saja."
"Tapi kau haru memaafkan aku." Balas Alesha.
"Kau memaksa?" Ledek Jacob.
"Ya dan tidak." Jawab Alesha.
"Kalau aku tidak memaafkanmu, lalu bagaimana?" Tanya Jacob sambil tersenyum.
Alesha berhenti. Ia mendongkak untuk menatap ke dua mata Jacob.
"Aku akan marah padamu." Ucap Alesha sambil mengerutkan alisnya.
"Kau mengancamku?" Tanya Jacob sambil menahan rasa gemasnya pada Alesha.
"Ya dan tidak." Jawab Alesha dan kembali berjalan.
Jacob terkekeh. "Sudahlah, Al, aku tidak mementingkan itu, yang terpenting sekarang adalah kau harus cepat kembali ke kamarmu dan beristirahat." Ucap Jacob sambil menyingkirkan beberapa helai rambut Alesha yang menutupi wajah Alesha.
"Ya kau benar." Balas Alesha.
Tiba-tiba seorang perawat rumah sakit menghampiri Jacob dan Alesha. Dia adalah perawat yang waktu itu ikut menangani Alesha saat Alesha sedang kritis dan membantu dokter mengeluarkan peluru dari perut Alesha.
"Permisi, tuan, istri anda sudah ditunggu oleh dokter di kamar rawat inapnya." Ucap perawat itu. Mata Jacob membulat seketika saat mendengar kata istri. Istri?
"Istri?" Tanya Jacob.
Perawat itu mengangguk. "Ya, nyonya ini istri tuan kan?" Perawat itu menunjuk pada Alesha.
Alesha tersentak kaget. Mulutnya membentuk huruf vokal O. Jacob menatap bingung ke arah Alesha.
"Aku bukan istrinya." Pekik Alesha lalu tertawa. "Dia adalah.." Alesha menatap pada Jacob. "Sahabatku."
Jacob menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya dengan ucapan perawat itu barusan. Alesha istri dari Jacob?
Perawat itu terdiam. Ia menunduk malu. "Maaf, saya tidak tahu, kemarin tuan bilang kalau pasien adalah anggota keluarga tuan, jadi saya pikir pasien adalah istri tuan." Ucap perawat itu.
"Apa kami terlihat seperti sepasang suami dan istri?" Tanya Jacob.
Alesha sendiri masih lanjut tertawa. Ia tertawa geli karna ucapan perawat itu yang mengira kalau Alesha adalah istri Jacob.
Perawat itu mengangguk ragu.
"Dia bukan istriku, dia sahabatku, dan juga anak didikku, dia sudah aku anggap seperti anggota keluargaku." Ucap Jacob. Perawat itu mengangguk paham. Namun perawat itu masih menunduk karna malu.
Jacob tersenyum. "Sudah, ayo, kau harus segera kembali ke kamarmu." Ucap Jacob. Alesha mengangguk sambil masih tertawa kecil. Ia lanjut berjalan sambil dibantu oleh Jacob, dan perawat itu berjalan di belakang Alesha dan Jacob.
Bisa-bisanya ada yang menganggap Alesha dan Jacob adalah pasang suami dan istri.
****
Next bonus, malem ini authornya gabut, jadi dari pada gak ada kerjaan mending lanjutin cerita ini 😁 selamat membaca 😊💕