May I Love For Twice

May I Love For Twice
Wedding Plan



Seorang dokter wanita baru saja selesai mengecek kondisi Alesha.


Dokter itu tersenyum manis ke arah Alesha. "Kondisinya sudah membaik, kau bisa pulang besok, hanya saja jangan terlalu banyak bergerak." Ucap dokter itu.


Alesha mengangguk. "Berarti besok aku bisa pulang?"


"Tentu, tapi ingat, kau harus jaga pola makan dan jangan sampai kelelahan, ya minimal seminggu." Jawab dokter itu.


***


"Mr. Frank, anda memanggilku?" Tanya Mr. Eve yang baru saja tiba di SIO.


"Ya, aku ingin kau pergi ke gua bersama anak buahmu dan beberapa angen SIO yang lain." Jawab Mr. Frank.


"Kenapa?" Tanya Mr. Eve.


"Vincent berhasil mengambil beberapa batu berlian dari gua itu. Kau tau kan, kalau SIO sudah menemukan gua yang berisi bongkahan berlian purba. Jacob sudah pergi ke sana untuk menemukan berlian itu, dan Vincent berhasil melacak lokasi gua itu. Aku ingin kau berjaga di sana sampai aku berhasil menangkap Vincent dan anak buahnya." Ucap Mr. Frank.


"Lalu bagaimana dengan timku di WOSA?"


"Aku akan menyuruh orang lain untuk menjadi mentor sementara untuk mementori timmu." Mr. Frank menarik tangan Mr. Eve untuk menuju ruangannya.


***


"Kita pulang besok, Mr. Thomson sudah tau?" Tanya Alesha.


"Belum, aku belum memberitahu padanya." Jawab Jacob sambil fokus menatap layar ponselnya.


Alesha memandang malas pada Jacob.


"Mr. Jacob." Panggil Alesha. Jacob berdehem.


"Berarti aku tidak bisa ikut belajar dulu, ya?" Tanya Alesha.


"Iya." Jawab Jacob datar.


Alesha menghembuskan nafasnya. Alesha merasa diabaikan oleh Jacob yang terus saja sibuk dengan ponselnya.


"Alesha." Panggil Levin yang duduk disofa. Levin mengarahkan kamera ponselnya ke Alesha. Saat Alesha berbalik menatap Levin, dengan sigap Levin segera mengambil foto Alesha.


"Dapat." Seru Levin sambil menatap ke arah foto yang menunjukan wajah Alesha.


"Mr. Levin." Dengus Alesha.


"Tersenyum." Ucap Levin dan mengarahkan kamera ponselnya ke Alesha lagi. "Jack, bisa kau menyingkir dari sisi Alesha?" Pinta Levin.


Jacob mendengus. Ia segera bangkit dan beralih tempat.


"Tersenyum dan tunjukkan gigimu." Ucap Levin. Alesha segera menuruti ucapan Levin. Ia membuka mulutnya lalu tersenyum ke arah kamera sambil menunjukan deretan giginya yang putih dan rapih.


"Dapat lagi." Seru Levin.


"Aku ingin lihat." Saut Alesha yang mencoba untuk turun dari kasurnya.


"Tidak! Tetap di sana!" Tegas Jacob sambil melotot pada Alesha. Alesha menunduk sambil memanyunkan bibirnya.


"Dapat lagi!" Seru Levin yang diam-diam memfoto Alesha yang sedang manyun.


"Pasti komuk." Gumam Alesha.


"Apa?" Tanya Levin sambil tersenyum.


"Tidak." Balas Alesha.


Levin segera mendekati Jacob lalu memberikan ponselnya pada Jacob.


"Fotokan aku dengan Alesha." Ucap Levin.


Mendadak rahang Jacob sedikit mengeras. Jacob tidak suka melihat Levin yang berdekatan dengan Alesha.


"Mr. Jacob, cepat fotokan aku dengan Mr. Levin, kapan lagi bisa berfoto bersama." Ucap Alesha yang membuat hati Jacob semakin panas.


Kamera ponsel Levin sudah terarah pada Alesha dan Levin dan sudah siap untuk menjepret foto kali ini.


Alesha tersenyum manis ke arah kamera, begitu pula Levin.


"Satu, dua, tiga.." Ucap Jacob. Satu foto berhasil didapatkan, dan begitu juga foto kedua dan ketiga dengan gaya berfoto yang berbeda.


"Bagaimana, bagus?" Levin mengambil ponselnya dari tangan Jacob. Jacob menggeram pelan. Ia menahan emosinya saat melihat Alesha berada sangat dekat dengan Levin yang sedang menunjukan foto yang tadi diambil oleh Jacob.


"Bagus!" Seru Alesha dengan bersemangat.


"Ya, Jacob pandai juga memotret." Puji Levin dengan malas.


"Mr. Jacob, sini." Alesha menaik turunkan telapak tangannya memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat.


Jacob segera berjalan menghampiri Alesha. "Apa?" Tanya Jacob datar.


"Mr. Levin fotokan aku dengan Mr. Jacob." Pinta Alesha sambil menggandeng tangan Jacob begitu saja. Jacob tertegun saat dengan tiba-tiba tangan Alesha menggandeng tangannya begitu saja. Sudut bibir Jacob terangkat sedikit. Ia merasa sedikit bahagia karna perilaku Alesha itu.


Levin segera mencari tempat yang tepat untuk memotret gambar melalui ponsel Alesha.


"Sudah?" Tanya Alesha. Levin mengangkat sebelah jempolnya.


Alesha segera menghadap ke arah Jacob sambil tersenyum dengan menyipitkan ke dua matanya. Jacob yang menyadari itu langsung menatap balik ke arah Alesha. Jantung Jacob mulai berdegub lebih cepat dari tempo yang biasanya. Jacob menatap wajah Alesha. Lagi-lagi hati dan pikirannya saling beradu. Alesha sangat manis, dan itu membuat ukiran kecil di bibir Jacob. Suasana hati Jacob menjadi lebih tenang saat memperhatikan wajah Alesha saat ini.


"Sudah." Saut Levin. Alesha segera membuka matanya dan membuat Jacob sedikit terkejut.


"Tunggu! Fotokan lagi." Pinta Alesha.


Levin mendengus. "Baiklah."


"Mr. Jacob, duduk di sini." Alesha menarik Jacob untuk duduk disebelahnya. "Nanti kau tersenyum ke arah kamera, jangan menatapku seperti tadi lagi." Alesha menggandeng tangan Jacob lagi lalu bersandar pada bahu Jacob. "Kapan lagi aku bisa berfoto dengan mentor menyebalkan sepertimu." Gumam Alesha. Jacob terkekeh.


"Oke, siap, satu, dua, tiga." Levin mengambil beberapa jepretan foto.


"Coba Alesha mau lihat!" Seru Alesha dengan bersemangat. Levin segera menghampiri Alesha. Levin menunjukan foto-foto yang tadi sudah ia ambil.


"Haha, Mr. Jacob, kalau mau tersenyum jangan setengah-setengah." Ledek Alesha.


"Ayo, kita selfie sekarang." Alesha segera mengaktifkan mode kamera depan.


"Say, ciisss..." Sebuah jepretan foto berhasil didapatkan oleh kamera dari ponsel Alesha.


"Sudah, cukup, kau harus istirahat." Ucap Jacob sambil mengambil ponsel dari tangan Alesha.


"Tapi, aku belum melihat fotonya." Protes Alesha.


"Kau bisa melihatnya nanti. Sekarang tidur!" Perintah Jacob.


"Alesha tidak mau tidur sekarang!" Balas Alesha. Matanya menatap tajam pada Jacob.


"Terserah." Balas Jacob dengan malas.


***


Di WOSA, Bastian dan anggota timnya sedang sibuk dengan tugas kelompok hari ini. Mr. Thomson memberikan tugas kesetiap tim untuk melakukan analisis sampel bebatuan yang sudah terkubur ribuan tahun. Sampel-sampel yang digunakan itu adalah sampel lama yang disimpan di SIO, lalu SIO mengirim sampel itu untuk praktek para murid WOSA.


"Huh, bebatuan ini membuatku pusing." Ucap Lucas sembari menyandarkan tubuhnya di batang pohon.


"Ayo, kalian harus semangat!" Saut Laras dengan penuh semangat.


"Ini sulit, Mrs. Laras." Balas Lucas dengan malas.


"Aku tau. Aku juga pernah di posisi kalian dulu." Ucap Laras sambil menepuk bahu Lucas.


"Apa kita tidak diberi waktu untuk istirahat?" Tanya Nakyung dengan raut wajah yang kesal. "Aku lelah!"


"Kalian belum selesai?" Tanya Brandon yang tiba-tiba saja muncul bersama dua anggota timnya. Senyum licik dan merendahkan terpampang jelas diwajah Brandon.


"Kasian. Pasti kalian lapar dan kelelahan." Lanjutnya. "Untung saja timku sudah selesai, jadi kami boleh untuk beristirahat dan bersantai-santai sekarang."


"Lebih baik kau pergi sana, tidak ada gunanya juga kau datang ke sini!" Balas Nakyung dengan penuh emosi.


"Kau mengusirku?" Brandon mendekati Nakyung. "Jangan songong dengan ketua tim." Ucapnya dengan sombong.


Emosi Nakyung memuncak. Nakyung menegakan badannya dan mengangkat kepalanya. Ia menantang Brandon. "Kau bukan ketuaku, lagi pula kau yang selalu memancing keributan, jadi lebih baik kau pergi." Ucap Nakyung dengan penuh penekanan dan mendorong kedua bahu Brandon dengan jarinya.


Brandon menggeram.


Brandon menggeram. Ia menatap kesal pada Nakyung, dan Nakyung hanya menyeringai.


"Maaf!" Ucap Brandon secara terpaksa lalu pergi begitu saja.


"Aku sangat tidak suka dengannya." Ucap Maudy.


"Aku juga." Sambung Nakyung.


"Bertengkar dengannya hanya membuang waktu. Jadi lebih baik kalian acuhkan saja bila bertemu dengannya." Ucap Bastian.


"Kau benar, Bas, tapi entah kenapa aku ingin sekali menjahilinya agar dia kapok." Ucap Lucas.


"Tidak! Jangan lakukan itu!" Tegas Bastian. "Aku bilang, jika bertemu dengannya lebih baik kalian acuhkan saja dia!"


"Baiklah." Balas Lucas sambil mengangkat ke dua bahunya.


***


Di atas kasurnya, Alesha terus saja bergulang-guling. Ia sangat bosan. Jacob dan Levin sibuk dengan ponsel masing-masing. Ponsel Alesha masih ditahan oleh Jacob. Alesha mendengus kesal.


"Aku bosan." Gumam Alesha sambil berusaha bangun untuk duduk.


"Ada apa, Al?" Tanya Jacob yang masih fokus menatap layar ponselnya.


Alesha memutar bola matanya dengan jengah. "Aku bosan!"


Jacob menghiraukannya. Alesha bersandar pada dinding tembok sambil melipatkan kedua tangannya. Ia menatap dua lelaki yang ada di depannya itu dengan sebal.


"Egois." Gumam Alesha pelan.


Ternyata Jacob mendengar itu. Ia segara mengangkat kepalanya lalu menatap pada Alesha. Alesha sendiri membuang wajahnya dengan malas saat Jacob melihat ke arahnya.


"Baiklah, kau mau apa?" Tanya Jacob yang menghampiri Alesha. Alesha tidak menjawab, ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Hey.." Panggil Jacob yang duduk dihadapan Alesha.


"Ponselku." Jawab Alesha datar.


Jacob menghela nafasnya. "Baiklah." Kemudian Jacob memberikan ponsel milik Alesha.


Alesha menerima ponselnya sambil tersenyum. "Dari tadi ke."


Jacob hanya mengerutkan keningnya. Kenapa ia bisa kenal dengan gadis seperti Alesha? Setiap kali melihat Alesha, Jacob merasa seperti ada daya tarik. Ia akan terus memperhatikan Alesha tanpa disadari.


Tapi belakangan ini, ia memang merasa ada yang aneh. Seperti ruang hampa yang tiba-tiba kosong begitu saja. Perasaannya tidak terarahkan. Ibarat sebuah kompas yang tiba-tiba kehilangan jejak dari angin. Pikirannya berkelana mencari suatu hal yang tidak diketahui. Namun satu titik kadang membuatnya tiba-tiba tersadar. Sosok yang dulu sangat dicintai hadir dalam bayangan buram dan dalam sekejap menghilang begitu saja, kemudian tergantikan dengan sebuah cahaya baru yang masih sedikit redup.


Takdir apa lagi yang sedang menunggu Jacob? Atau takdir apa lagi yang sedang Jacob tunggu? Dua puluh lima tahun usianya, dan sampai kapan ia akan tenggelam dalam bayangan buram yang sudah berlalu pergi?


"Mr. Jacob, ayo bermain bersamaku, bermain ular tangga." Ucap Alesha yang membangunkan Jacob dari dunia dalam pikirannya.


"Ayo, aku sudah menginstal permainan ini, aku butuh teman untuk memainkan ini." Lanjut Alesha.


Jacob hanya mengangguk. Tatapannya masih datar sambil melihat ke arah Alesha.


"Aku mulai duluan." Alesha memulai game ular tangga yang ia instal diponselnya itu. Jacob hanya menyimak, dan tidak memberi jawaban.


Jacob tidak begitu memperhatikan permainannya, ia masih terlalu fokus dengan pikirannya yang terus saja membawanya kesebuah titik dimana Jacob merasa sangat bingung. Pikir Jacob, apa Alesha merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan? Tapi kenapa Jacob begitu penasaran?


"Al, aku ingin bertanya padamu." Ucap Jacob di sela-sela permainannya.


"Apa?" Tanya Jacob.


"Apa kau pernah mencintai lelaki lain selain Adam?" Tanya Jacob to the point.


Dengan santainya, Alesha hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah mencintai lelaki lain selain, bapaku, Adam, dan kakekku. Aku juga tidak mau membuka hati untuk lelaki siapapun untuk saat ini. Aku ingin menyembuhkan luka patah hatiku dulu." Ucap Alesha yang masih terus fokus dengan permainan ular tangganya itu.


Jacob terkesiap saat mendengar jawaban Alesha. Rasa sakit tiba-tiba menjalar masuk ke dalam hatinya. Jacob sedikit kecewa dengan jawaban Alesha. Kenapa Alesha harus menjawab seperti itu?


"Kenapa?" Tanya balik Alesha.


Dengan senyum kecut Jacob menjawab. "Tidak apa, aku hanya bertanya saja."


"Bagaimana denganmu? Apa kau pernah mencintai wanita lain?" Tanya Alesha dengan santai.


"Tidak. Aku masih bingung bagaimana aku bisa mencintai wanita lain, walau aku harap akan ada wanita lain yang bisa aku cintai." Jawab Jacob.


"Kau tidak berniat untuk mencari wanita lain? Aku pikir kau sudah pas untuk menikah." Jacob tersentak mendengar ucapan Alesha barusan. Sudah pantas untuk menikah? Tapi sayangnya, Jacob belum menemukan wanita yang pas.


"Jangan menjomblo terus. Aku juga ingin datang keacara pernikahanmu nanti." Lanjut Alesha. Jacob mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Apa aku tidak akan diundang jika kau menikah nanti?" Alesha menatap mata Jacob. Apa yang harus Jacob jawab? Gadis dihadapannya ini benar-benar membuat Jacob semakin penasaran dengan isi kepalanya. "Cepat, sekarang giliranmu." Lanjut Alesha.


"Kau harus mengundang aku dan yang lain diacara pernikahanmu nanti."


"Cukup, Al, aku belum berpikiran kesana untuk sekarang." Balas Jacob. Ia baru menyelesaikan gilirannya. Sekarang Jacob balik menatap Alesha. "Bagaimana denganmu? Kapan kau akan menikah?" Tanya balik Jacob.


"Aku masih delapan belas tahun. Belum saatnya untukku berpikiran untuk menikah." Jawab Alesha.


"Baiklah. Rencanamu ingin menikah di usia berapa?" Jacob menatap intens pada Alesha.


"Kenapa kau sangat penasaran? Itu bukan urusanmu, Mr. Jacob." Jawab Alesha sambil memainkan gilirannya.


"Aku hanya bertanya, apa salahnya?" Balas Jacob dengan ragu-ragu.


"Baiklah kalau kau penasaran, aku akan jawab. Aku ingin menikah diumur minimal dua puluh dua tahun dan maksimal dua puluh lima tahun. Puas."


Jacob hanya mengangguk kecil.


"Kenapa, kau ingin mencarikan jodoh untukku?" Tanya Alesha.


"Dari pada repot-repot mencari jodoh, lebih baik kau menikah saja denganku, Al." Saut Levin secara tiba-tiba. Alesha dan Jacob sangat terkejut dengan ucapan Levin.


"Kenapa? Aku tampan, dan aku lelaki yang baik, aku akan menjaga dan mencintaimu." Ucap Levin bercanda.


Mulut Alesha sedikit terbuka. Benarkah Levin mengatakan hal itu?


"Dan aku juga humoris." Levin mulai tertawa. "Biasa saja menatapku, aku hanya bercanda, Al."


Alesha mendengus pelan, begitu pula dengan Jacob. Jacob sangat sebal dengan Levin yang selalu saja membercandai perasaan Alesha.


"Kenapa? Memangnya kau mau menikah denganku?" Tanya Levin disela-sela tawanya.


Alesha menggelengkan kepalanya. Jacob terkekeh saat melihat balasan dari Alesha.


"Kau terlalu tua untukku." Ucap Alesha dengan santai.


"Enak saja, aku baru berusia dua puluh tujuh tahun, aku masih muda, Al." Balas Levin sambil mengaca di layar ponselnya.


"Ya, tapi kau lebih pantas mencari wanita yang lebih dewasa dariku." Ucap Alesha.


"Kalau begitu cepatlah dewasa agar aku bisa menikahimu." Levin mengangkat sebelah alisnya sambil menatap pada Alesha.


"Cukup Levin!" Sentak Jacob. "Berhenti membercandai perasaan Alesha. Kau tidak boleh bermain-main dengan pernikahan."


"Ayo lah, aku hanya bercanda, lagi pula Alesha juga tidak merasa tersinggung, iya kan, Al?" Levin mengedipkan sebelah matanya pada Alesha.


Alesha mengangguk.


"Kenapa jadi kau yang tersinggung?" Sindir Levin.


Jacob menghembuskannya nafasnya dengan kasar. Ia menahan emosinya.


Alesha segera menyentuh tangan Jacob untuk menenangkan Jacob yang sedang emosi. "Giliranmu sekarang, cepatlah." Ucap Alesha sambil tersenyum ramah.


Jacob mengangguk. Ia segera memainkan gilirannya, namun pikirannya masih tidak bisa lepas dari ucapan Levin. Kenapa jadi Jacob yang tersinggung? Tentu saja Jacob tersinggung karna itu melibatkan perasaannya juga.


Jacob memejamkan matanya. Pikirannya menunjukan seorang gadis yang perlahan mulai memudar. Selama beberapa detik Jacob kembali hanyut dalam pikirannya, hingga ia dibuat terkejut karna Alesha menepuk bahunya.


"Mr. Jacob, kau baik-baik saja?" Tanya Alesha sambil menatap mata Jacob.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Jacob.


Alesha mengangguk.


"Oh, ya, Mr. Jacob, bagaimana kalau kita bermain yang lain saja." Usul Alesha.


"Bermain apa?" Tanya Jacob.