May I Love For Twice

May I Love For Twice
Alesha's Feeling



"Mr. Thomson, aku sudah menemukan lokasi anggota tim Jacob dan Eve, mereka tidak berada jauh dari sini." Ucap Rendi yang masih mengutak-atik papan ipad miliknya. "Mereka tidak melepas tanda pengenal, dan itu memudahkanku untuk melacak mereka."


"Bagus, bergerak sekarang, aku tidak mau mereka berlama-lama lagi dengan kelompok jaringan gelap itu!" Perintah Mr. Thomson.


Segera, Rendi pun berlari memasuki hutan bersama beberapa agent SIO yang lain. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan agar bisa membebaskan dua kelompok murid WOSA itu.


Mr. Thomson merasa cukup tenang setelah mendapatkan bantuan dari anak-anak buah Laura yang datang dengan tepat waktu, dan dengan bantuan itu, sekarang WOSA dapat mengatasi penyerangan dadakan yang kelompok jaringan gelap itu luncurkan, dan kini ketua mereka pun sudah berhasil ditangkap.


"Aku sudah memperingati kalian agar tidak menyerang WOSA dan SIO secara bersamaan dalam waktu yang singkat seperti ini! Lihat, kita kacau, anggota kita kabur dan berpencar di hutan, sistem komputer kita sudah diretas dan diambil alih. Ini semua salah kalian! Kalian terlalu terburu-buru!" Bentak seorang lelaki.


"Kenapa kau menyalahkan kami? Kami hanya mengikuti perintah ketua saja!"


"Ya, tapi lihat sekarang, ketua kita ditangkap, dan apa yang harus kita lakukan sekarang?!"


"Setidaknya kita mendapatkan apa yang kita incar."


"Lalu apa setelah ini? Menunggu para agent SIO datang dan menyergap kita juga? Pantai barat daya tempat kita menaruh kapal sudah dijaga oleh anak buah dari salah satu pemegang saham terbesar di SIO! Kita terperangkap di pulau ini!"


"Ancaman dari kita tidak akan mempan terhadap WOSA, apalagi setelah ketua kita tertangkap!"


Ucap salah satu petinggi kelompok jaringan gelap. Ia begitu frustasi setelah misi yang gagal dijalankan karna kecerobohan sang pemimpin. Seharusnya mereka bisa menahan waktu untuk melakukan penyerangan terhadap WOSA dan menjalankan misi dengan lancar. Tapi semua sudah terlanjur, kelompok jaringan gelap itu sudah dikalahkan untuk yang kedua kalinya.


Keterburuan membuat semua rencana hancur dan melenceng jauh dari yang ditargetkan.


***


Di dalam kamarnya, Jacob termenung sendirian, pikirannya berkecamuk dan saling bertengkar. Jacob memijit pelan pelipisnya untuk mengurangi rasa pening yang memenuhi keningnya.


Tring.....


Sebuah suara nada dering berbunyi tanda ada panggilan masuk pada ponsel milik Jacob. Jacob segera meraih ponselnya lalu mengangkatnya setelah mendapati nama Mr. Thomson tertera pada layar ponselnya.


"*Hallo, Jack."


"Mr. Thomson, ada apa?"


"Aku ingin memberitahu padamu kalau kau tidak perlu khawatir dengan anggota timmu, Rendi dan yang lain sudah menemukan keberadaan anggota timmu dan Eve, kelompok jaringan gelap itu tidak akan bisa pergi kemana-mana, akses kabur mereka sudah terblokir."


"Sungguh? Syukur kalau begitu. Aku sangat khawatir, aku terus memikirkan anggota timku."


"Tenang saja, aku akan mengabarimu lagi nanti, dan aku juga akan segera memberitahu Eve tentang ini, jadi tunggu lah, kami pastikan kalau anggota timmu dan Eve akan selamat dan baik-baik saja."


"Terimakasih, Mr. Thomson, aku benar-benar khawatir, bahkan aku berpikir untuk kembali ke WOSA jika sesuatu yang lebih buruk terjadi."


"Tidak, jaga saja Alesha di sana, urusan WOSA adalah tanggung jawabku, aku malah yang harus berterima kasih padamu karna kau sudah membantu kami untuk menghancurkan markas mereka dan mendapatkan semua alat dan bahan persenjataan mereka. Terima kasih banyak, Jack, kau memang terbaik. "


"Itu adalah tanggung jawabku. Aku harap aku tidak akan pernah mengecewakan WOSA atau pun SIO."


"Semoga saja. Yasudah, kalau begitu aku putuskan dulu sambungan ini, aku harus segera mengabari Eve.


"Baik, Mr. Thomson*."


Jacob menghembuskan napasnya degan lega. Ia bisa sedikit tenang setelah tahu kalau anggota timnya sudah ditemukan dan pasukan WOSA sedang berusaha untuk menyusul mereka. Hari ini begitu berat untuk Jacob, pertama adalah timnya yang berhasil ditangkap oleh kelompok orang-orang tidak berguna itu, kedua adalah masalahnya dengan Alesha.


Satu masalah hampir terselesaikan, dan masih ada satu masalah lain yang mesti Jacob tuntaskan. Alesha mengunci dirinya di dalam kamar dan enggan untuk bertemu dengan Jacob. Hal apa lagi yang mesti Jacob lakukan agar Alesha bisa memaafkannya? Jacob mungkin tadi sedang emosi dan kepalanya begitu terbebani. Jacob kehilangan kendali saat mendengar puisi Alesha untuk Adam. Jacob sadar sikapnya berlebihan, boleh dibilang kalau tadi secara tidak tersadar ia menjadikan Alesha sebagai alat pelampiasan emosi dan kekhawatirannya, dan Jacob sangat amat menyesali hal itu.


"Kenapa aku sangat bodoh!" Jacob merutuki dirinya sendiri, dan sekarang ia harus menanggung resikonya. Tapi Jacob yakin kalau Alesha akan memaafkannya, walau harus ada sedikit bujukan.


Namun, Alesha sendiri kini hanya bisa memeluk bantal sambil membenamkan wajahnya agar ia bisa menangis sekencang mungkin namun juga memastikan kalau tidak ada orang lain yang dapat mendengar suara tangis itu.


Hati Alesha terasa begitu sakit dan sesak saat ia mengingat ekspresi Jacob yang membentaknya dan memaksa untuk melupakan sosok Adam yang masih terikat dengan hatinya. Alesha tidak bisa melupakan Adam, ia bahkan berharap kalau Adam akan mengubah keputusannya dan tidak jadi menikah. Alesha tidak terima dengan perilaku dan ucapan mentornya beberapa waktu yang lalu. Alesha menangis kencang dalam dekapan bantal. Hatinya seolah teriris-iris, ia merasa kalau mentornya itu terlalu berikut campur dengan urusan pribadinya.


"Kenapa sih, terus aja begitu, ini hidup Alesha, mau Alesha jungkir balik nahan sakit hati ke, mau Alesha bunuh diri karna patah hati ke, itu semua bukan urusan Mr. Jacob!" Alesha membanting bantal yang menjadi alat pelepas kekesalannya.


"Mr. Jacob tuh terlalu over, Alesha gak suka! Alesha ngerasa kalau dia itu malah jadi ngatur hidup Alesha kalau gini caranya!" Alesha melempar semua bantal dan guling yang berada disebelahnya kelantai. Emosinya meledak-ledak hingga secara tidak sengaja, Alesha melayangkan sebuah tonjokkan keras kearah tembok yang berada dibelakang kasurnya.


"Aww--" Pekik Alesha ketika merasakan rasa nyeri yang menjalar diujung lengannya.


"Sakit.." Ringgis Alesha.


Air matanya kembali bercucuran, dan isak tangis kembali terdengar.


"Alesha benci Mr. Jacob yang kaya tadi." Ucap Alesha sambil mengelus ujung lengannya yang menjadi korban dari tabrakan tidak sengaja yang mendarat pada tembok berlapis yang keras itu.


"Hiks, Alesha salah apa coba? Jahat amat ya jadi mentor teh. Mentor apaan kaya gitu?"


Tok... Tok... Tok...


"Alesha, buka pintunya, ini aku Levin. Aku membawakan makanan untukmu, kau belum sempat makan tadi." Ucap Levin yang berdiri dibalik pintu di luar kamar.


"Alesha tidak ingin makan, bawa saja makanan itu kembali! Alesha ingin sendiri!" Balas Alesha dengan berteriak.


Levin pun mengerutkan keningnya. Ada apa dengan Alesha? Tidak biasanya Alesha seperti itu. Pasti ada suatu masalah yang terjadi, dan Levin harus tahu itu.


"Alesha, buka pintunya, biarkan aku masuk terlebih dahulu."


"Tidak! Alesha mau sendiri dulu, Mr. Levin, Alesha ingin istirahat!"


"Al, apa kau menangis?"


Alesha tidak memberikan jawaban.


"Al, jika ada masalah kau bisa bercerita padaku, jangan sungkan."


Alesha enggan menjawab, dan tetap diam. Satu-satunya yang bisa Levin lakukan agar mengetahui apa yang terjadi pada Alesha adalah dengan bertanya langsung pada mentor gadis itu. Levin sudah berfirasat kalau pasti apa yang sedang terjadi pada Alesha saat ini ada hubungannya dengan Jacob.


"Baik, Al, kalau begitu aku pergi dulu."


Alesha tidak membalas dan mengabaikan Levin yang kini sudah berjalan meninggalkan kamar tamu yang Alesha tempati.


Makanan yang tersaji diatas piring yang Levin bawa kini sudah beralih pada tangan seorang pelayan. Levin enggan pergi ke kamar Jacob dengan membawa makanan itu.


"Jacob, apa yang terjadi dengan Alesha?" Tanya Levin yang tiba-tiba saja membuka pintu dan masuk begitu saja ke dalam kamar Jacob tanpa meminta izin terlebih dahulu dari sang pemilik kamar.


Jacob sedikit terkejut karna kedatangan Levin yang begitu tiba-tiba, namun ekspresi segera berubah setelah mendengar pernyataan dari Levin barusan.


"Kenapa Alesha?" Tanya balik Jacob.


"Jangan berpura-pura tidak tahu, Jack, aku mendengar suara Alesha yang bergetar saat ia menolakku untuk masuk ke dalam kamarnya untuk memberikan makanan, aku rasa Alesha habis menangis." Jawab Levin. "Apa yang terjadi padanya?"


"Alesha menangis?" Jacob mengerutkan keningnya. Benarkah apa yang Levin katakan? Apa mungkin Alesha menangis karna perilaku kasarnya tadi?


"Aku pikir begitu, aku tidak bodoh untuk membedakan suara tangisan, ada sedikit isakan yang aku dengar dalam ucapannya tadi." Jawab Levin.


Jacob terdiam sesaat. Ia kembali berpikir. Apa sekasar itukah perilakunya tadi hingga membuat gadis yang disayanginya itu menjadi menangis?


"Aku minta kunci kamarmu!" Perintah Jacob.


"Alesha tidak akan membukakan pintu kamarnya, jadi aku harus membuka paksa dengan kunci lain." Jawab Jacob.


Levin mengangguk paham, sebenarnya masih tersirat sebuah kebingungan dalam kepalanya, namun lebih baik ia menuruti ucapan Jacob agar Levin sendiri bisa segera mendapatkan jawabannya.


Dengan langkah kaki yang lebar dan cepat, Jacob dan Levin sama-sama tidak membuang banyak waktu untuk segera sampai pada kamar tujuan. Levin pun membuka pintu lalu masuk ke dalam kamarnya. Sebuah laci yang berada pada bupet mini pun ditarik keluar oleh Levin.


"Ini." Levin menyerahkan kunci pintu kamarnya.


Jacob segera meraihnya dan berjalan mendahului Levin agar segera sampai pada kamar yang Alesha tempati.


"Alesha, buka pintunya!" Ucap Jacob sambil mengetuk pintu kamar.


Alesha yang berada di dalam kamar pun mendengus kesal. Kenapa mentornya itu malah balik lagi? Mau membentak dan memarahinya lagi? Pikir Alesha.


"Alesha, buka pintunya!" Tegas Jacob.


Benar saja apa yang Alesha pikirkan. Mentornya itu memang berniat untuk membentak dan marah-marah lagi, buktinya saja barusan Jacob menaikkan nada bicaranya.


Merasa tidak mendapatkan respon apa-apa dari Alesha, Jacob segera meluncurkan rencana keduanya.


Ceklek..


Suara kunci pintu yang berhasil terbuka.


Alesha memandang ke arah pintu kamarnya. Apa yang mentornya itu lakukan pada pintu yang sudah Alesha kunci?


Ah, sial, mentornya itu menggunakan kunci kamar lain.


Jacob berjalan menuju kasur untuk menghampiri Alesha yang sedang terduduk sendiri sambil memeluk bantal. Ekspresi kesal dan kecewa tidak luput dari wajah Alesha ketika Jacob mulai menyentuh lengannya. Dengan kasar, Alesha segera menarik lengannya dari genggaman Jacob.


"Alesha, aku tahu aku yang salah, tolong ma--"


"Cukup!" Alesha memotong dengan tegas ucapan mentornya. "Aku malas mendengar kata-kata itu."


Jacob menghela napasnya dengan sabar. Ia harus bisa setenang mungkin.


"Aku salah, ya aku akui memang tadi aku sedang terbawa emosi karna masalah yang sedang terjadi di WOSA dan anggota tim kita." Ucap Jacob.


"Dan kau menjadikan aku sebagai pelampiasan kemarahanmu? Bagus, kau selalu bersikap sesukamu." Sindir Alesha.


Levin yang masih berdiri mematung dihadapan sepasang sejoli yang kisah cintanya masih bertepuk sebelah tangan. Levin mencoba menyimak setiap ucapan yang ia dengar agar ia bisa mengetahui apa permasalahannya.


Jacob memjamkan matanya. Ia mencoba untuk menetralisir jalan oksigennya agar ia bisa lebih tenang lagi dalam menghadapi Alesha yang sedang merajuk saat ini.


"Aku minta maaf." Jacob menundukkan kepalanya dengan penuh rasa penyesalan.


Kedua iris Alesha bergerak menuju sudut matanya. Dilihatnya sang mentor yang kini sedang menunduk.


"Aku ingin istirahat." Ucap Alesha yang sudah terlanjur malas meladeni sikap mentornya yang selalu saja menciptakan rasa sebal dalam diri Alesha.


Alesha pun segera menarik selimut dan berbaring membelakangi Jacob. Matanya terpejam dan ia tidak mau lagi berbicara dengan mentornya untuk beberapa waktu.


"Alesha.." Panggil Jacob dengan sendu. Lengannya terangkat dan mendarat pada bahu Alesha, namun dengan cepat, Alesha segera mendorong lengan Jacob agar tidak menyentuh bahunya lebih lama lagi.


"Silahkan kalau kau mau marah padaku, Al, tapi yang aku tahu, kau adalah gadis pemaaf, aku harap kau mau memaafkanku kali ini." Jacob segera bangkit dari kasur lalu mulai berjalan lagi untuk kembali ke kamarnya.


Ish, Mr. Jacob tuh ya. Dasar ngeselin! Tapi bener juga sih, Alesha tuh suka gak enak hati juga kalo ada orang minta maaf trus gak Alesha maafin. Trus Alesha harus gimana? Maafin aja apa ya? Cuman Alesha males aja serius dah, Mr. Jacob gak bakal mikir kalo gak digituin..... Gerutu Alesha dalam hati.


"Al, apa yang terjadi?" Tanya Levin dengan lembut sembari mendekati Alesha.


Alesha pun membalikkan tubuhnya saat mendengar pertanyaan Levin barusan. Sekarang, Alesha mendapati Levin yang sudah terduduk dipinggiran kasur sambil menatap lurus pada Alesha.


"Mr. Jacob nyebelin!" Jawab Alesha seraya bangkit dan kembali terduduk.


"Nyebelin kenapa?" Tanya Levin lagi sembari memberikan senyuman kecil yang membuat hati Alesha merasa sedikit tenang.


"Tadi itu Alesha lagi nulis puisi di balkon, tiba-tiba aja dia datang trus narik kertas puisi Alesha, dan akhirnya Mr. Jacob merobek kertas itu. Bukan hanya itu saja, Mr. Jacob juga tadi membentak dan memarahi Alesha, sedangkan Alesha sendiri gak tahu apa salah Alesha." Adu Alesha. Mungkin cerita pada Levin akan membuat hati Alesha menjadi semakin tenang.


"Kadang Alesha dibuat bingung dengan sikap dan tingkah laku Mr. Jacob. Terkadang dia suka bersikap terlalu berlebihan, malah Alesha merasa kalau Mr. Jacob itu memperlakukan Alesha dengan cara yang berbeda. Dari kepeduliannya, kedekatannya, Alesha ngerasa kalau Mr. Jacob itu.. " Alesha berpikir sejenak. Ia bingung bagaimana harus melanjutkan kata-katanya?


"Mr. Jacob itu--" Lanjut Alesha yang masih kebingungan dalam mencari kosa kata yang tepat untuk melanjutkan ucapannya.


"Penyayang dan penuh perhatian denganmu." Lanjut Levin.


"Nah, iya it--" Awalnya Alesha sangat setuju dengan ucapan Levin barusan, tapi ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal dalam hatinya dan membuat Alesha tidak melanjutkan ucapannya.


"Penyayang? Perhatian? Sama Alesha?" Alesha menunjuk dirinya sendiri.


Levin tersenyum sambil mengangguk.


"Enggak, Mr. Levin, Alesha tahu Mr. Jacob kaya gimana, dia memang penyayang dan penuh perhatian dengan semua anggota timnya, bukan hanya denganku saja." Sangkal Alesha.


Levin pun mengeluarkan tawa kecilnya saat mendengar ucapan Alesha barusan.


"Apa kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh, Al, tentang perilaku Jacob terhadapmu?" Levin terkekeh.


"Ya, aku selalu merasa kalau


Mr. Jacob memperlakukanku dengan cara yang berbeda, tapi aku tidak mau berpikir macam-macam, dia seperti itu karna dia sendiri yang bilang kalau adalah anggota tim yang paling dekat dengannya." Jawab Alesha yang asal.


Levin kembali terkekeh. Alesha memang sudah memiliki pikiran kalau mentornya itu menyukainya, namun gadis itu masih menyangkalnya.


"Alesha, Alesha, kau ini." Levin mengacak-acak pelan rambut Alesha. "Sudahlah, kau sendiri sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mentormu." Ucap Levin yang memberi sinyal pada Alesha kalau apa yang gadis itu pikirkan selama ini tentang perilaku Jacob adalah benar.


"Apa maksudnya?" Alesha mengerutkan keningnya.


"Kenapa bertanya, kau sudah tahu jawabannya, manis." Levin mencubit gemas pipi Alesha.


"Aww, sakit!" Alesha meringgis.


"Sudah, kau harus beristirahat, aku akan kembali ke kamarku, dan oh ya, nanti aku akan meminta pelayan untuk membawakan makanan untukmu." Levin bangkit dari duduknya dan segera berjalan keluar kamar meninggalkan Alesha yang masih dilanda kebingungan mengenai maksud dari ucapan Levin tadi.


Setelah pintu kamar kembali tertutup rapat, Alesha pun kembali berbaring dengan berbagai pertanyaan yang masuk secara bertubi-tubi kedalam kepalanya karna ucapan yang tadi Levin katakan.


"Apa maksud Mr. Levin? Apa Mr. Levin tahu sesuatu? Gak mungkin." Alesha menggelengkan kepalanya.


"Enggak, enggak, enggak, Mr. Jacob itu seorang mentor, dan dia juga emang harus perhatian sama anggota timnya, bukan Alesha doang, ya mungkin kebetulan aja kali kalau saat ini emang Alesha yang lagi kena masalah, jadi Mr. Jacob bener-bener perhatian sama Alesha, coba kalau anggota yang lain juga dapet masalahnya yang sama kaya yang Alesha alamin, pasti Mr. Jacob juga bakal bersikap sebagaimana dia bersikap sama Alesha sekarang." Alesha tetap menyangkal semua pikiran aneh, termasuk tentang Jacob yang menyukainya. Alesha pikir itu tidak akan mungkin. Mentornya itu tidak akan mungkin menyukai Alesha, gadis biasa yang tidak mempunyai apa-apa.


Tapi tetap saja, sebagaimana kuat Alesha untuk melepaskan pertanyaan dan pikiran anehnya itu otaknya tetap tidak mau mengeluarkannya. Alesha dibuat pusing oleh ulah kepalanya sendiri, bahkan Alesha sudah berusaha untuk memejamkan matanya agar bisa tertidur, namun otaknya menolak dan tetap memproduksi segala macam pertanyaan dan pikiran yang tertuju pada satu hal. Jacob, mentornya itu memang menyukai Alesha.


"No, no, no, Alesha, No! Argh!" Alesha memukuli kepalanya sendiri. Ia kesal karna terus saja kepikiran dengan hal itu, hal yang mengatakan kalau mentornya itu memiliki ketertarikan pada Alesha.


"Cukup! Alesha gak perduli, mau nih kepala bilang Mr. Jacob suka ke, benci ke, atau biasa aja ke, Alesha gak-per-du-li!!" Alesha membanting kepalanya pada kasur yang begitu empuk dan lembut. Ia menindih kepalanya dengan bantal dan mulai memejamkan matanya kembali.