
Saat ini, Alesha sedang berada di dalam toilet. Ia sendirian, dan memandangi wajahnya melalui pantulan cermin lebar dan panjang yang menempel pada dinding.
"Kenapa Mr. Jacob selalu samain Alesha sama Yuna? Berarti Mr. Jacob baik sama Alesha itu ya karna Alesha mirip sama Yuna. Berarti Mr. Jacob gak tulus."
Alesha tersenyum miris.
"Kalo seandainya Alesha gak mirip sama Yuna, berarti Mr. Jacob gak akan pernah baik dan perhatian sama Alesha."
Mata Alesha terpejam saat sebuah bulir cair mengalir membuat jalur kecil pada wajahnya. Sakit yang Alesha rasakan saat ini. Tidak ada yang benar-benar menyayangi atau memperdulikannya. Bahkan sang mentor yang begitu Alesha percaya sekali pun lagi-lagi membuat kekecewaan yang mendalam untuk hati Alesha.
"Jadi selama ini Mr. Jacob itu selalu anggap Alesha sebagai Yuna. Gak ada, gak ada Alesha buat Mr. Jacob, yang ada ya cuman Yuna aja. Mr. Jacob baik sama Alesha karna Alesha mirip sama Yuna. Kenapa Mr. Jacob kaya begitu sama Alesha? Alesha pikir Mr. Jacob emang bener-bener sayang dan perduli sama Alesha. Ya, itu emang bener, tapi itu semua atas dasar Alesha yang mirip sama Yuna, bukan karna Mr. Jacob tulus naro kepedulian sama Alesha."
Alesha yang mulai terisak kecil pun menyentuh dadanya dengan kepalan tangan. Sakit dan berat hati Alesha saat ini. Ia memejamkan matanya, meratapi nasib yang mengecewakan sejak kepergian orang tuanya.
"Ya Allah, kenapa rasanya sakit banget? Alesha selalu dianggap Yuna sama Mr. Jacob, harusnya Alesha gak boleh marah atau kecewa. Itu hak Mr. Jacob mau anggap Alesha kaya gimana pun. Tapi kenapa rasanya sakit banget? Apa Alesha gak pernah ada dimata Mr. Jacob? Atau Mr. Jacob buta kalau ini itu Alesha bukan Yuna?"
Alesha sadar. Ia tidak seharusnya seperti ini. Hak Jacob menganggapnya sebagai siapa pun, tapi kenapa ia malah merasakan sakit yang mendalam karna terus saja dimiripkan dengan Yuna?
"Adam... Kamu di mana? Alesha kangen, hiks."
Ingin rasanya Alesha menghubungi Adam. Mengirim pesan dan menanyakan kabar. Namun ia tidak mau terlibat dalam hubungan pernikahan pria yang dicintainya itu. Tapi Alesha benar-benar membutuhkan Adam saat ini. Hanya Adam saja yang Alesha rasa dapat membantunya keluar dari rasa sakit yang sekarang sedang menghantami hatinya.
***
Kini Jacob terduduk sendirian disalah satu kursi yang memang sudah disiapkan untuk para tamu undangan. Setelah tadi ada beberapa rekan bisnis ibunya yang ingin bertemu dan mengajak berkenalan dengannya, Jacob hanya bisa terdiam, termenung, tersudut, dan tidak memperdulikan pesta yang masih berlangsung.
Jacob merutuki kesalahannya tadi terhadap Alesha. Ia tidak seharusnya terus menerus menyamakan Alesha dengan Yuna.
"Maafkan aku, Alesha. Aku tahu seharusnya aku tidak menyamakanmu dengan Yuna. Aku sungguh mencintaimu, dan bukan karna kau mengingatkanku pada Yuna. Malah kau yang semakin membuatku lupa pada Yuna. Tapi lagi dan lagi aku tidak bisa mengendalikan pikiranku dan membiarkan ingatan kelam itu kembali mengusai diriku."
"Tuan, kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Irene yang datang menghampiri Jacob.
"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Jacob dengan ramah. Ia tidak mau membuat sekretarisnya itu merasa curiga atau berpikiran aneh.
"Irene, kira-kira pesta ini akan berakhir jam berapa?" Tanya Jacob.
"Pukul sebelas, tuan. Apa tuan lelah dan ingin istirahat?" Tanya balik Irene yang mulai terlihat panik.
"Tidak, aku hanya bertanya saja." Jacob menyunggingkan senyumnya agar membuat Irene percaya.
"Kalau tuan lelah, tuan bisa langsung kembali ke hotel sekarang juga." Ucap Irene penuh perhatian.
Lalu kemudian, Alesha pun datang menghampiri mentornya juga Irene. Alesha mencoba untuk bersikap biasa saja, tidak mau terlihat sedih atau pun bahagia.
"Mr. Jacob, Alesha ingin pulang, Alesha lelah." Ucap Alesha dengan tatapan sayu pada mentornya.
Jacob sedikit terkejut mendengar permintaan Alesha barusan. Pesta baru akan berakhir setelah dua jam lagi, dan Alesha sudah meminta pulang dengan alasan lelah? Alesha baru satu jam bergabung dalam pesta itu, dan Jacob juga akan merasa hampa jika Alesha tidak mendampinginya dalam pesta itu.
"Mr. Jacob, Alesha lelah. Tidak apa kan kalau Alesha pulang sekarang?" Ucap Alesha dengan nada yang lebih lirih.
"I-iya, Al. Tidak apa." Jawab Jacob yang tidak yakin. Tetapi sepersekian detik kemudian, ia pun mendapatkan sebuah perintah dari otak. "Kau akan menginap di hotel ini, Al."
Lalu pandangan Jacob beralih pada sekretaris cantiknya. "Irene, tolong pesankan dua kamar di hotel ini."
"Eh tapi, tuan, kita sudah memesan dua kamar di hotel lain, lalu bagaimana?" Tanya balik Irene.
"Cancel saja. Jika kau mau, berarti kita pesan tiga kamar di hotel ini." Jawab Jacob.
"B-baiklah." Balas Irene. Ia pun membalikkan tubuhnya untuk segera menjalankan perintah dari bos tampan incarannya itu.
"Duduklah, Alesha." Jacob menarik lembut pergelangan tangan Alesha agar gadis itu duduk disebelahnya.
Alesha menurut. Ia duduk dengan tenang, walau dengan perasaan yang sangat bertolak belakang.
Tidak ada percakapan yang terjadi antara Jacob dan Alesha. Mereka sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Jacob yang merasa bersalah karna kembali menyamakan Alesha dengan Yuna, dan Alesha yang merasa sedih karna selalu dimiripkan oleh kekasih mentornya itu.
Beberapa waktu berselang, akhirnya Irene pun kembali dan menghampiri tuan mudanya juga saingannya.
"Ini kartu akses masuk kamarnya, tuan." Ucap Irene.
"Kau mau ke kamarmu sekarang, Alesha?" Tanya Jacob yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Alesha.
"Baiklah, ayo aku akan mengantarmu." Jacob pun bangkit dari duduknya sembari meraih lengan Alesha.
"Nomor kamar anda adalah 304, dan untuk Alesha 306, tuan."
Jacob mengangguk setelah mendengar ucapannya dari Irene.
"Aku tidak tahu akan kembali lagi ke sini atau tidak. Jika ada yang menanyakanku katakan saja kalau sakit." Balas Jacob sebelum akhirnya melangkahkan kaki sembari menarik lengan Alesha. Mereka berdua pun berjalan beriringan melewati para tamu undangan yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Sepanjang perjalanan, Alesha dan Jacob saling berdiam, tidak ada yang berani membuka suara untuk memulai sebuah percakapan kecil. Di lift, mau pun di koridor yang telah dilewati, hanya ada kekosongan yang dapat dirasakan antara mereka. Tetapi Jacob tetap menggenggam pergelangan tangan Alesha, dan terus menggiring gadis itu menuju kamar hotel sewaannya.
Alesha tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Jacob ketika pria itu turut masuk ke dalam kamar hotel yang sudah dipesankan untuknya. Jacob hanya akan mengantarkan Alesha saja kan? Tapi kini pria itu malah membawa Alesha menuju jendela hotel yang begitu besar, lebar, dan menyuguhkan pemandangan malam di kota Surabaya.
Jacob tidak perduli dengan apa yang ada dalam pikiran Alesha sekarang. Ia hanya ingin berdua bersama Alesha saat ini. Ia begitu merindukan Alesha, dan sangat menyayangi gadisnya itu. Bahkan kini, Jacob sudah memposisikan tubuh Alesha untuk berdiri didepan dan membelakanginya. Mereka berdua sama-sama menatap ke arah hamparan dunia malam disekitaran perkotaan melalui jendela besar dan tebal itu.
Alesha hanya mematung, ia bingung kenapa ia tidak mampu untuk mengucapkan apapun. Ia merasakan kehangatan dibelakang tubuhnya, tapi ia juga merasa sangat resah karna keberadaan mentornya.
Lalu tanpa ada perizinan dari sang pemilik tubuh, Jacob pun langsung mendekap gadis yang ada didepannya dengan sangat erat dan posesif.
"Mr. Jacob, apa yang kau lakukan?" Alesha menggeliatkan tubuhnya agar dapat terlepas dari pelukan sang mentor yang sedang mendekapnya dari belakang.
"Mr. Jacob, lepaskan aku."
Jacob tidak mendengarkan ucapan Alesha. Ia tetap mempertahankan posisinya dengan memeluk tubuh Alesha. Jacob sudah gatal untuk memberitahukan perasaannya terhadap Alesha, dan Jacob tidak mau menunda lagi. Alesha harus tahu, dan Jacob akan meyakinkan dirinya kalau Alesha akan menerima cintanya itu.
"Mr. Jacob, aku......"
"Tetaplah seperti ini, Alesha." Lirih Jacob beserta deruan napas yang menghantam dinding kulit leher Alesha.
"Tidak, Mr. Jacob, lepaskan aku!" Alesha semakin meronta, namun Jacob semakin memperkokoh pelukannya.
Jacob sedang mencari celah dan waktu yang tepat untuk mengungkap perasaan yang setahun ini hanya dapat terpendam. Ia memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh Alesha.
"Alesha, jangan meronta lagi, kumohon."
"Mr. Jacob, kau sadar kan apa yang sedang kau lakukan padaku?" Tensi nada bicara Alesha mulai meninggi.
"Iya."
"Lepaskan aku!" Bentak Alesha.
"Tidak."
"Mr. Jacob, cukup! Kau tidak boleh melebihi batasanmu!"
Tidak ada jawaban dari Jacob yang masih menenggelamkan wajahnya pada lekukkan leher Alesha yang begitu harum akan aroma bayi.
"Mr. Jacob! Lepaskan aku!" Alesha terus bergerak-gerak mencari jalan agar tubuhnya bisa terlepas dari dekapan posesif mentornya itu.
Jacob menghela napasnya. Ia harus siap, ia harus yakin, dan ia harus berani. Sudah cukup Jacob menebar sinyal cinta pada Alesha, kini ia harus mengatakan yang sejujurnya.
"Mr. Jacob, kau melebihi batasmu sebagai seorang mentor!"
"Apa kau bisa melihatku dari sudut pandang lain, Alesha?" Lirih Jacob.
Alesha pun langsung berhenti meronta setelah mendengar pertanyaan dari mentornya itu. Ia termenung mencermati potongan kata yang barusan diucapkan oleh mentornya. Melihat dari sudut pandang lain?
"Apa kau selalu melihatku hanya sebagai mentormu saja?"
Spechless...
Alesha bingung bagaimana menjawabnya.
Alesha semakin resah dan merasa tidak enak. "Mr. Jacob, lepaskan aku. Aku lelah aku ingin tertidur."
"Jangan menghindar." Balas Jacob.
"Tapi, Mr. Jacob.."
"Apa?"
Alesha pun terdiam lagi. Ia bingung bagaimana melanjutkan potongan kalimat selanjutnya?
"Aku tahu kau merasakannya, Al."
Alesha semakin bergeming dan mematung. Ia seperti paham kemana maksud dari ucapan mentornya itu.
"Aku mencintaimu, Alesha."
Deg!
*
Hening......
*
*
*
"Aku mencintaimu, Alesha Sanum Malaika." Ulang Jacob.
Tubuh Alesha mulai melemas. Ia memejamkan matanya untuk kembali mengulang ucapan Jacob dalam kepalanya.
Enggak, Mr. Jacob gak mungkin suka apalagi cinta sama Alesha....... Lirih Alesha dalam hati.
"Aku sudah mengatakannya padamu, Alesha. Aku memendam perasaan ini sejak lama. Aku sangat menyayangimu, aku bersungguh-sungguh dengan perasaanku ini."
Jacob menarik lalu menghembuskan napasnya. Ia sudah berjujur pada Alesha, Ia sudah mengutarakan perasaannya pada Alesha, dan ia sudah melepaskan beban perasaan dalam hatinya.
"Aku mencintaimu, Lil Ale."
Mendengar itu, Alesha langsung mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangan pada dinding kaca besar yang ada dihadapannya untuk menatap langit malam. Jantungnya berdegub kencang, tubuhnya sedikit bergetar, dan perasaannya tidak karuan.
Jacob, pria itu, mentornya itu menyatakan perasaanya pada Alesha, sedang Alesha sendiri tidak percaya. Persepsi Alesha benar adanya kalau sang mentor memang menaruh rasa padanya, tapi kenapa sekarang Alesha malah merasa kecewa dan enggan untuk mempercayai ungkapan isi hati mentornya itu.
Engga, Mr. Jacob tetep mentor Alesha. Mungkin dia bisa jadi kakak atau orang tua Alesha, tapi Alesha gak percaya kalau Mr. Jacob beneran suka sama Alesha.....
"Sekarang kau mengerti kenapa aku begitu over protective dan sangat perduli padamu. Karna aku sangat mencintaimu, Alesha."
Tatapan Alesha lurus kosong. Sangat jelas ia mendengar ucapan mentornya barusan, tapi Alesha ingin menyangkal. Alesha tidak bisa menerimanya, ia bukanlah Yuna.
Aku bukan Yuna, Mr. Jacob. Kau belum sadar juga? Kau mencintaiku karna aku terlihat seperti Yuna. Kau tidak benar-benar mencintaiku............
"Lepaskan aku." Alesha segera melepaskan kedua lengan Jacob yang melingkari pinggang dan perutnya.
"Alesha...." Lirih Jacob sembari membalikkan tubuhnya untuk mengikuti pergerakan Alesha yang berjalan menuju ranjang besar.
"Alesha tunggu.." Jacob menahan lengan Alesha dan membalikkan tubuh gadis itu untuk menghadap ke arahnya.
"Aku bukan Yuna, Mr. Jacob. Kau harus membuka matamu." Ucap Alesha setenang mungkin dengan segaris senyum tipis yang diukir oleh bibirnya. "Kau mencintai Yuna, bukan aku, jangan siksa dirimu seperti ini, Mr. Jacob."
Alesha pun melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman sang mentor, lalu setelah itu ia membawa dirinya untuk berbaring diatas kasur dengan selimut yang menutupi seluruh anggota tubuh.
Sedangkan Jacob, ia mematung tanpa bisa memberikan balasan apapun atas ucapan gadis kesayangannya barusan. Jacob bungkam, tidak tahu harus bagaimana. Sorot matanya menatap lurus penuh ketidak percayaan pada Alesha. Sungguhkah Alesha mengucapkan kalimat tadi? Jacob benar-benar tertampar keras saat mencerna maksud dari ucapan gadisnya itu.
Kau bukan Yuna, Alesha. Aku mencintaimu bukan karna kau mirip dengan Yuna, tapi karna kau yang mampu membawaku untuk bangkit dari keterpurukan akan masa laluku bersama Yuna........
Hati Jacob bagai tersayat oleh seribu benda tajam. Ia takut. Apa Alesha akan menolaknya? Tapi Jacob tidak akan menyerah. Ia begitu mencintai Alesha bukan karna Alesha yang menyerupai kekasih lamanya.
"Alesha, kau salah paham.." Lirih Jacob yang dapat terdengar oleh telinga Alesha.
Tetapi, Alesha tetap hirau. Ia memilih untuk memejamkan matanya dan berpura-pura tidak mendengar ucapan mentornya itu.
"Alesha, aku..."
"Mr. Jacob, bisa kau tidak menggangguku malam ini? Aku sangat lelah."
Jacob terpaku kaku. Tubuhnya tidak memberikan respon apapun selain perasaan sesak saat Alesha mengusirnya dengan cara halus.
"Alesha, dengarkan aku. Aku sungguh memendam perasaan ini sejak lama. Aku masih sadar dan sangat waras, Al. Kau bukan Yuna. Aku mencintaimu karna kau berhasil membuatku lupa dengan Yuna." Jacob memberikan penjelasan itu dengan pelan dan cukup dalam.
Faktanya enggak bisa dirubah, Mr. Jacob. Alesha itu tetep Yuna dalam pandangan Mr. Jacob. Udahlah, Alesha gak mau berharap lebih........ Lirih Alesha dalam hatinya.
"Alesha..." Panggil Jacob yang begitu mengharapkan pembalasan dari Alesha.
Alesha enggan meresponi panggilan mentornya itu. Ia lebih memilih untuk memejamkan mata dan pura-pura tidak ada suara apapun dalam kamar itu.
"Baiklah, mungkin kau butuh waktu untuk berpikir. Tapi satu yang harus kau tahu Alesha. Memang terkadang aku tiba-tiba saja teringat dengan Yuna, tapi kau harus percaya, aku mencintaimu karna hanya kau yang bisa membuatku melupakan Yuna, dan hanya kau yang bisa membuatku sadar kalau masih ada cinta lain yang dapat membangkitkanku dari keterpurukan." Jacob menjeda ucapannya sesaat. "Aku sangat mencintaimu seperti aku mencintai Yuna dulu. Tapi kini Yuna sudah berlalu, dan aku ingin kau yang menjadi tujuanku selanjutnya, Alesha. Aku akan menunggumu hingga kau siap. Aku akan bersabar, Alesha."
Jacob menghela dan menghembuskan napasnya setelah ia mengungkapkan pernyataan itu.
"Selamat malam, mimpilah yang indah, sayang." Jacob pun mendaratkan satu kecupan kecil pada pipi Alesha yang dibaluti oleh selimut tebal.
Sedangkan Alesha yang berada dibalik selimut hanya bisa terdiam kala kecupan singkat dari mentornya itu membuat tegang dan panas tubuhnya, dari ujung kaki hingga kepala.
Setelah tujuan dan niatnya sudah terpenuhi, Jacob pun pergi meninggalkan kamar itu dengan perasan bercampur aduk. Bahagia karna sudah mengungkapkan perasaannya pada Alesha, namun sedih karna mendapatkan respon yang kurang mengenakkan dari Alesha.
Namun itu tidak masalah bagi Jacob. Ia akan memberikan Alesha waktu untuk menerima semua perasaannya, entah berhari-hari, bulan, atau bahkan tahun, dan Jacob pun akan semakin bersemangat untuk menunjukan juga membuktikan ketulusan cintanya pada Alesha agar Alesha yakin.
"Aku akan menunggu, Alesha. Tidak masalah bagiku, yang penting kau tidak memusuhiku setelah aku mengatakan perasaanku." Gumam Jacob.
Berbeda dengan Alesha. Setelah memastikan kalau mentornya itu sudah pergi meninggalkan kamar hotel yang ditempati olehnya, Alesha pun bangkit dan terduduk dengan air mata yang sudah mulai bercucuran.
"Alesha gak tahu harus gimana, hiks. Mr. Jacob selalu samain Alesha sama Yuna, tapi Mr. Jacob bilang kalau Alesha yang bisa bikin dia lupa sama Yuna. Sebenernya apa sih yang Mr. Jacob pikirin?"
Alesha menangis, tapi bukan menangis tersedu-sedu. Ia hanya bisa meremas bantal guling untuk menahan keresahan dan kegundahan dalam hatinya.
Entah menerima atau menolak, Alesha bingung. Ia ingin hubungannya dengan sang mentor tetap baik-baik saja, tapi ia juga tidak mau menggantung perasaan mentornya.
"Alesha butuh waktu buat yakin, tapi nanti yang ada Alesha malah gantungin perasaan Mr. Jacob. Alesha pengen hubungan kita baik-baik aja, Mr. Jacob." Lirih Alesha.
Malam yang terus larut dalam kegelapan membawa Alesha dan Jacob hanyut dalam perasaan masing-masing. Membuat ganjalan dalam hati. Jacob yang mesti sabar menunggu waktu, dan Alesha yang masih tidak tahu kapan waktunya untuk ia membalas perasaan mentornya itu.
Alesha tidak menyangka kalau apa yang selama ini ia curigai benar adanya. Bagaimana pendapat anggota tim yang lain saat tahu perihal ini? Alesha takut kalau rekan-rekan setimnya akan berubah sikap saat tau kalau mentor mereka menyukai Alesha. Dan untuk perasaannya terhadap Adam? Cukuplah Alesha dibuat kecewa dan patah hati karna Adam, lelaki yang sangat dicintainya itu menikah dengan wanita lain. Alesha tidak mau menikah dengan lelaki yang menganggap dirinya sebagai kembaran apalagi pelarian dari wanita lain.
Alesha ingin cinta yang tulus dan murni, yang bisa membuat hidupnya lebih berarti lagi. Tetapi ia pun tidak tahu kalau mentornya itu memang mempunyai cinta tulus dan murni. Yang Alesha tahu saat ini hanyalah dua hal, ia adalah kembaran dari kekasih lama mentornya, dan mentornya yang menaruh rasa cinta hanya karna ia mirip dengan kekasih lama mentornya itu.
Alesha belum bisa membuka pikirannya dan membaca dari sudut pandang lain. Ia merasakan ketulusan cinta sang mentor, tapi dua hal tadi membuatnya benar-benar ragu akan perasaan mentornya tersebut.
***
Dua minggu berlalu pasca malam pengungkapan isi hati sang mentor, Alesha masih belum memberikan kepastian apapun. Hubungan dengan Jacob berjalan sangat baik, sebagaimana biasanya. Mereka sering melakukan panggilan telepon, dan saling mengingatkan akan kesehatan diri masing-masing. Jacob semakin perhatian dan lebih over posesif terhadap Alesha. walau dalam jarak yang cukup jauh, Jacob selalu berusaha untuk membuat luluh hati Alesha dengan segala rayu dan gombalnya. Tapi Alesha hanya menyikapi dengan biasa saja, menganggap kalau itu hanyalah sebuah candaan, walau ia sendiri tahu kalau itu bukanlah sebuah candaan.
Jacob pun tidak mau menyerah. Ia akan terus menarik hati Alesha agar jatuh padanya. Jujur saja, Jacob sangat bahagia setelah mengungkapkan isi hatinya pada Alesha, dan karna hal itu pula Jacob jadi tidak perlu susah payah atau merasa canggung apalagi tidak enak untuk memberikan rayuan manis pada Alesha.
Jacob jadi lebih leluasa mengungkapkan apa yang ada dalam kepalanya pada Alesha setelah ia berjujur pada Alesha dua minggu lalu. Alesha sudah tahu kalau Jacob menyukainya, maka dari itu Jacob jadi lebih semakin terbuka pada Alesha. Walau tahu perasaannya masih tergantungkan, Jacob tetap memiliki keyakinan yang begitu besar kalau suatu saat Alesha akan menerima cintanya.
"Aku bahagia karna kita akan segera bertemu, Alesha. Aku tidak perduli jika kau masih belum memberikan balasan apapun. Aku paham, ada banyak hal dalam benakmu yang membuatmu ragu. Tapi aku tidak akan pernah menyerah selagi hubungan kita tetap baik-baik saja. Malah aku akan semakin membuktikan padamu kalau kau layak untuk menerima perasaanku. Sampai jumpa beberapa jam lagi, sayang. Aku mencintaimu." Gumam Jacob dengan wajah yang begitu ceria. Tentu saja, setelah sebulan berlalu, para murid WOSA akan kembali melanjutkan pendidikan mereka. Bahkan mereka sudah berada di WOSA sejak dua hari lalu, menunggu kedatangan para mentor yang masih dalam perjalanan untuk kembali menuju WOSA.
Sedangkan di sekolah yang bergaya dunia fantasi itu, salah satu murid wanitanya yang bukan lain adalah Alesha sedang termenung dan tersenyum-senyum sendirian di taman belakang gedung mentor. Alesha tahu kalau hari ini ia akan kembali bertemu dengan pria yang dua minggu lalu menyatakan perasaan cinta padanya. Antara bahagia, malu, dan takut. Alesha tidak tahu bagaimana ia akan berhadapan dengan sang mentor untuk kedepannya setelah ia mengetahui perasaan mendalam sang mentor terhadapnya.