May I Love For Twice

May I Love For Twice
Perhatian Jacob



"Selesai!" Alesha mengetuk pelan ujung penanya pada pinggiran meja. Ia baru saja menyelesaikan kaligrafinya yang kedua.


"Tidak usah, aku akan kembali saja ke messku." Ucap Alesha sembari tersenyum ramah pada Jacob.


Namun hati Jacob tidak bisa menerima itu. Ia ingin menebus kesalahan dengan menemani gadisnya itu di pantai.


"Kau bilang ingin ke pantai, ayo aku sudah tidak sibuk lagi sekarang. Aku akan menemanimu." Bujuk Jacob.


Namun Alesha tetap menolaknya. Ia ingin ke pantai itu tadi, bukan sekarang, dan saat ini yang Alesha inginkan adalah berbaring diatas kasurnya sambil mendengarkan musik atau murotal al-qur'an.


"Tidak, aku tidak mau ke pantai sekarang." Alesha bangkit dari duduknya sembari merapikan buku diary, dan dua paper bag pemberian Levin.


"Oh ya, Mr. Levin, Alesha akan memberikan gambarnya nanti malam jam tujuh di taman utama."


Sebagai balasan, Levin mengangkat jarinya dengan membentuk simbol 'Ok'. "Baiklah. "


"Hehe, Alesha pergi dulu ya, bye..." Alesha menyunggingkan senyum manis sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan dua pria yang sangat menyayanginya itu.


Sedangkan Jacob hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Mood Alesha sedang sangat baik saat ini. Seharusnya Jacob menemani Alesha dan tidak membiarkan gadis itu merasa kesepian. Kenapa Jacob bodoh sekali. Dan sekarang? Saat Jacob dilanda rasa bersalah yang cukup besar dan berharap agar bisa menghabiskan waktu dengan Alesha, gadis itu malah pergi meninggalkannya.


Pergerakan Levin yang ternyata beranjak dari bangku membuat Jacob tersentak dari lamunannya.


"Tunggu!" Jacob menahan lengan Levin. Lalu dengan kasar Levin pun mengenyahkan lengan Jacob yang menahan pergelangan tangannya itu.


"Apa yang kau lakukan bersama Alesha?" Jacob bangkit dari duduknya dan menatap lekat kedua pupil hitam milik Levin.


"Kau pikir?" Tanya balik Levin dengan malas.


"Aku tidak suka kau terus mendekati Alesha!" Tegas Jacob.


"Apa hakmu melarangku? Kau tidak suka melihatku dekat dengannya, tapi kau sendiri mengacuhkannya saat Alesha memintamu untuk menemaninya."


"Kau penyebabnya, Levin!" Mualilah Jacob meninggikan nada suaranya hingga terlihat beberapa garisan urat yang menonjol dilehernya. "Kau seharusnya sadar, aku yang lebih mencintai Alesha ketimbang kau! Aku yang lebih dulu menaruh rasa padanya, dan jangan pernah berharap kalau aku akan membiarkan Alesha bersamamu begitu saja!"


Lalu Levin menghadapkan wajahnya ke arah si rival itu. Ekspresi Levin pun berubah menjadi dingin dengan sorot mata yang cukup tajam.


"Lihat!" Levin mengangkat telapak tangannya kehadapan wajah Jacob untuk menunjukan sebuah cincin yang terpasang dijari manisnya. "Aku sudah bertunangan dengan Tessa dan berjanji untuk tidak akan pernah menduakannya! Aku tahu kalau perasaanku memang belum besar dan dalam terhadapnya, tapi aku bukan pria brengsek yang seenaknya mengambil gadis milik pria lain dan meninggalkan wanita yang sudah berkorban banyak untukku bahkan untuk nyawaku!" Levin memajukan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Jacob. Ia pun semakin menegakkan tubuhnya dan menajamkan tatapannya. "Perlu kau ingat, Jack. Aku memang menyukai dan menyayangi Alesha, namun bukan berarti aku akan merebutnya darimu. Alesha sudah menjadi bagian dari keluargaku sekarang, aku sudah memberinya sebuah gelang sebagai tanda kalau dia sudah menjadi adikku. Setidaknya rasa sayangku terhadap Alesha bisa bertahan dengan sudut pandang yang berbeda. Aku akan menyayanginya sebagai seorang adik dan saudara, dan kau tidak perlu lagi merasa takut kalau aku akan merebutnya darimu!" Tegas Levin dengan pelan namun begitu dalam.


"Sudahlah, kau hanya membuang waktuku." Levin mendorong tubuh Jacob untuk menjauh darinya, lalu setelah itu ia pun pergi begitu saja meninggalkan Jacob.


"Levin sudah bertunangan dengan Tessa? Gadis itu, dia yang mengorbankan separuh paru-parunya pada Levin." Gumam Jacob.


Antara percaya dan tidak percaya. Setahu Jacob, Tessa adalah gadis yang sangat mencintai Levin hingga berani mendonorkan sebelah paru-parunya untuk Levin, sedangkan Levin sendiri tidak menaruh rasa pada gadis itu. Tapi sekarang Levin sudah bertunangan dengan Tessa. Kabar gembira yang membingungkan. Jacob harap Levin bisa benar-benar mencitai Tessa mengingat Tessa sendiri sangat amat mencitai Levin, dan jika itu terjadi maka Jacob tidak perlu khawatir lagi kalau Levin akan merebut Alesha darinya.


"Baguslah jika kau sudah bertunangan dengan Tessa. Kau memang harus menikahi gadis itu agar tidak mengusik hubunganku dengan Alesha. Lagi pun Tessa adalah gadis yang cantik dan baik hati, bodoh jika kau meninggalkannya, Lev."


Kaki Jacob mulai melangkah menuju kembali ke ruangannya. Sebenarnya hati Jacob tidak tenang, ia terus kepikiran tentang Alesha. Jacob jika tidak tahu kalau tadi Alesha memintanya untuk ditemani bermain di pantai, tapi Jacob malah mengacuhkannya.


Sambil terus berjalan, Jacob pun mengaktifkan ponselnya untuk membuka galeri digital lalu mencari foto Alesha yang Levin kirim tadi.


"Maaf, Alesha. Seharusnya aku tidak mengacuhkanmu tadi." Tatapan sendu Jacob menggambarkan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Kebohongannya tadi menyakiti hatinya sendiri. Alesha hanya ingin ditemani oleh Jacob karna teman-temannya yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, tetapi Jacob acuh dan lebih menuruti egonya untuk menghindar dari Alesha.


"Lain kali aku tidak akan seperti tadi lagi, Al. Aku mencintaimu."


***


Ketika Jacob sedang dilanda kekecewaan atas dirinya sendiri, saat ini Alesha malah bersenang-senang dengan mengelilingi WOSA tanpa ditemani oleh siapa pun. Memang niat awalnya adalah kembali ke messnya, namun setelah dipikir lagi, Alesha jarang mendapatkan waktu kesendiriannya semenjak menjadi murid WOSA. Jadi untuk kali ini, Alesha ingin menjelajahi sekolah yang nampak seperti istana modern era abad 21 yang terletak di samudra luas tanpa ada orang lain yang menemaninya.


Alesha berjalan sendirian sambil membawa buku diary dan paper bag -nya. Sesekali ia mendapati beberapa murid wanita yang membicarakan tentangnya secara berisik ketika ia melewati mereka. Tapi Alesha acuh, ia tidak perduli, entah mereka membicarakan baik atau buruk, itu bukan urusan Alesha.


Pandangan Alesha merekam setiap panorama yang tersuguh dihadapannya. Dimulai dari taman utama, menuju halaman belakang, lalu masuk lagi ke hutan buatan, berjalan lagi ke arah kebun, taman lagi hingga sampai pada gedung penelitian, tetapi Alesha hanya melewatinya saja. Kemudian berlanjut menuju gerbang sebelah utara WOSA yang berdekatan dengan gedung para mentor.


Sapaan ramah pun Alesha berikan pada petugas penjaga gerbang Utara. Alesha berniat untuk mengakhiri jalan-jalannya itu dengan berduduk santai di tepi pantai.


Sudah berapa jam Alesha berkiling?


Sekarang sudah pukul dua siang. Cukup lama juga Alesha berkeliling. Tapi tidak apa, ia malah sangat menikmatinya.


Saat melihat gelombang ombak yang bergerak damai, Alesha merasakan ketenangan dan kejernihan dalam hati dan pikirannya. Sambil terus menyusuri bibir pantai, Alesha tidak menyadari kalau ia berjalan cukup jauh dari gerbang belakang. Kakinya itu belum juga mati rasa, namun Alesha sadar jika ia sudah berjalan sangat jauh.


Akhirnya Alesha memutuskan untuk berhenti berjalan dan duduk disepetak pasir pantai yang berjarak beberapa meter dengan air laut.


"Kayanya di sini bagus buat tempat ngegambar." Alesha memandang jauh ke ujung cakrawala yang seolah dibatasi oleh tembok biru raksasa. Ya, langit terlihat seperti tembok atau dinding dipenghujung pandangan.


Lalu Alesha mulai membuka diarynya untuk menggambar sesuatu. Ia sudah berjanji pada Levin tadi, dan Alesha ingin menepatinya. Tapi Alesha bingung, apa yang mesti ia gambar. Manusia dan hewan? Alesha tidak bisa menggambar dua objek itu. Sebenarnya Alesha memang handal dalam hal menggambar atau membuat kaligrafi, hal itu diturunkan oleh ayahnya yang juga lihai dalam seni menggambar. Tetapi Alesha lebih sering membuat gambar atau lukisan berupa kata atau kalimat dengan sedikit hiasan dipinggirnya, atau paling tumbuhan dan alam sekitar. Sebelum masuk WOSA biasanya Alesha akan menghabiskan waktu luangnya dengan menggambar.


Dan sekarang Alesha bingung, apa yang mesti ia gambarkan untuk Levin.


"Kata-kata aja apa ya?" Alesha mengetuk-ngetuk pelan ujung pulpen kekepalanya. Ia sedang berpikir, kata-kata apa yang bagus untuk dibentuk dan diukir dalam kertas putih polos bergaris itu.


"Hmmm... Oh, ya!" Seru semangat Alesha ketika ia berhasil menemukan sebuah ide untuk ia tuangkan kedalam buku diarynya. Buku diary yang Alesha pakai saat ini tentunya berbeda dengan buku diarynya yang satu lagi yang berisi banyak curahan hati. Buku diary yang sedang Alesha pakai saat ini memang dikhususkan untuk menggambar.


Perlahan, pena yang ada dijemarinya bergerak mengikuti pola yang ada dalam pikirannya. Alesha mulai meresapi kembali hobinya itu sambil menikmati waktu luang di pinggir pantai. Setiap garis-garis entah lurus atau melengkung bergabung menjadi satu hingga terlihat sempurna tanpa ada kesalahan.


Saking menikmati keadaan yang begitu menenangkan untuknya, Alesha sampai lupa kalau hari sudah memasuki waktu sore. Pukul tiga ini langit memang cerah, namun berubah menjadi keabu-abuan. Angin berhembus sangar kencang, namun Alesha tidak perduli, ia masih fokus pada kegiatannya. Hingga saat sebuah kilatan panjang diujung laut yang masih bisa dipandang, disusul dengan suara membahana yang memenuhi sekitaran pulau barulah Alesha menyadari kalau ia sudah terkepung oleh cuaca gelap yang semakin memadamkan sinar matahari.


"Astagfirullah, kok jadi mendung gini cuacanya." Gumam Alesha. Tubuhnya mendadak tersentak dan terlonjak kaget saat telinganya terasa didobrak oleh suara petir yang begitu besar.


"Aaaaa..." Pelik Alesha sembari menutup kedua telinganya. Setelah itu, ia pun cepat-cepat membereskan barang-barang miliknya.


Baru saja Alesha bangkit dari duduk, tumpahan air dari langit terlanjur membasahi tubuh Alesha. Bukan lagi rintikan gerimis, namun angin yang membawa awan-awan itu langsung menjatuhkan debit air yang besar dan lebat sekaligus.


Alesha berlari secepat mungkin menyusuri tepi pantai sambil memeluk buku diary dan dua paper bag -nya. Air hujan semakin turun dengan cepat dan banyak sampai-sampai Alesha menjadi kuyup. Yang Alesha sesali adalah kenapa ia harus mengambil tempat yang berjarak jauh dengan gerbang WOSA? Dan sekarang ia harus berusaha lari secepat mungkin agar bisa mencari tempat teduh.


Terlintas dalam benak Alesha untuk pergi ke ruangan mentornya. Jarak dari gerbang Utara dengan gedung mentor tidak jauh, mungkin mentornya itu mau menampungnya yang sudah dalam kondisi basah karna dimandikan oleh hujan.


Tanpa banyak berpikir lagi, Alesha melesat menuju arah gedung mentor saat ia sudah melewati gerbang Utara. Kurang lebih tiga menit berlalu, Alesha pun sampai di koridor yang sisi kiri dan kanannya adalah ruang para mentor.


"Mr. Jacob.." Panggil Alesha yang sudah mulai menggigil karna dinginnya udara dan air hujan yang membasuhnya. Alesha mematung selama beberapa saat didepan pintu ruangan mentornya itu, tidak lama kemudian pintu pun terbuka dan munculah Jacob.


Alesha mendongkakkan kepalanya untuk dapat menatap sang mentor. Wajahnya sudah mulai pucat, dan giginya saling beradu.


"Alesha!" Pekik Jacob saat mendapati gadisnya yang sudah menggigil dengan sekujur tubuh yang sudah basah oleh air hujan.


"Boleh aku berteduh sebentar di sini, hujannya sangat lebat." Lirih Alesha.


"Ya ampun, ayo masuk!" Segera Jacob menarik lengan Alesha untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Tunggu sebentar." Jacob langsung melesat menuju kamarnya untuk mengambil selimut dan handuknya dari dalam lemari pakaian. Dengan gerakan kilat, Jacob meraih handuk bersih dari dalam lemarinya dan menyeret selimut sutra yang tertata rapi diatas kasur.


"Kenapa kau masih berdiri? Duduk di sana!" Ucap Jacob seraya menunjuk pada sofanya.


"Tidak apa, nanti yang ada sofamu basah." Balas Alesha.


"Ck, kau ini malah memikirkan hal itu, pikirkan dirimu, bagaimana kalau kau sakit, Al?" Jacob langsung menarik lengan Alesha agar terduduk disofanya.


"Kenapa kau bisa kehujanan seperti ini? Apa yang kau lakukan?" Sambil mengajukan dua pertanyaan itu, lengan Jacob pun ikut bergerak untuk menyelimuti tubuh gadisnya yang sudah menggigil.


"Aku dari pantai." Jawab Alesha singkat dan sangat santai. Berbeda dengan sang mentor yang begitu mencemaskannya, Alesha malah bersikap biasa saja. Ayolah, hujan-hujanan adalah kegiatan sehari-hari Alesha jika sudah masuk musim penghujan di Indonesia. Tubuhnya sudah terbiasa bersilaturahmi dengan air hujan, entah kecil atau pun deras. Jadi, jika Alesha bersikap biasa saja saat ini, ya karna Alesha berpikir tidak ada yang perlu dibuat panik. Tubuhnya tidak akan sekarat lagi hanya karna kehujanan.


"Pantai? Apa yang kau lakukan di sana?" Jacob beralih menuju ke belakang sofa dan berdiri tepat dibalik tubuh Alesha. Dengan cekatan, Jacob segera mencopot mahkota bunga yang sejak tadi masih terpasang dikepala Alesha, lalu setelah itu ia pun mengelapi rambut Alesha yang basah. Sedangkan Alesha yang mendapatkan perhatian seperti itu dari mentornya hanya bersikap biasa saja.


"Berjalan-jalan. Aku jarang menikmati waktu sendiri saat masuk WOSA."


Diputar, dikucek, diperas. Jacob seperti sedang mengurusi seorang bocah kecil. Tangannya begitu telaten bermain bersama handuk dirambut Alesha.


"Ganti bajumu, kau bisa sakit jika menggunakan baju itu." Jacob menjeda sebentar kegiatannya untuk mengelap rambut Alesha. Ia berniat untuk mengambil bajunya agar dipakai oleh Alesha.


"Mr. Jacob, kau mau kemana?" Tanya Alesha yang menghentikan langkah Jacob.


"Mengambil baju untuk kau pakai."


"Tidak!" Sentak Alesha dengan sorot mata yang menajam. "Aku tidak akan mengganti bajuku, apalagi menggantinya dengan bajumu.


Jacob menghela napasnya, berusaha untuk menahan rasa marahnya karna Alesha menolak untuk mengganti baju.


"Kau bisa sakit jika menggunakan bajumu yang basah itu."


Alesha menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau tidak perlu panik, aku sudah terbiasa seperti ini, Mr. Jacob." Lalu Alesha mengedarkan pandangan kesekelilingnya. "Berikan bonekaku, mungkin memeluknya bisa membuat tubuhku menghangat."


"Tidak, kau harus mengganti bajumu!" Tegas Jacob. Ia pun berlalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil baju yang akan Alesha pakai.


"Ish, batu banget sih!" Dumal Alesha. Ia bangkit dari duduknya untuk mengambil boneka beruang miliknya yang masih setia menjadi teman sang mentor dalam ruangan itu.


Tidak lama, Jacob keluar dari dalam kamarnya sambil membawa sebuah baju.


"Pakai ini!"


"Tidak mau!" Alesha menggelengkan kepalanya lagi sambil mempererat pelukan pada bonekanya.


"Alesha!"


"Kau bisa mencoreng nama baikmu dan juga aku. Nanti yang lain pasti berpikir macam-macam." Balas Alesha.


Jacob jengah. Alesha masih memikirkan statusnya sebagai murid dari seorang mentor yang bukan lain adalah diri Jacob sendiri.


"Nanti orang akan berpikir 'Bagaimana bisa seorang murid memakai pakaian mentornya? Kelewatan sekali'. Mereka pasti berpikir seperti itu, Mr. Jacob."


Ayolah, Alesha. Aku memang mentormu, tapi kali ini aku bersikap padamu bukan sebagai seorang mentor, melainkan sebagai seorang pria yang sangat mengkhawatirkan gadisnya..... Lirih Jacob dalam hati.


"Sudah, kau tidak perlu cemas, aku baik-baik saja. Tubuhku terlalu kebal kalau hanya untuk kehujanan saja." Ucap Alesha saat mendapati mentornya yang sedang mematung.


"Kau bisa sakit, Alesha."


"Tidak, Mr. Jacob."


Jacob tidak membalas lagi. Ia mengerti maksud Alesha adalah tidak ingin membuat persepsi buruk dipikiran para murid dan mentor lain hanya karna menggunakan baju milik mentornya. Tapi Jacob sangat khawatir, apalagi Alesha juga dua hari keluar dari rumah sakit.


"Baiklah." Pasrah Jacob. Ia segera mengambil posisi semulanya dibelakang sofa dibalik punggung Alesha. Jacob berniat untuk melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat terjeda karna mengambil pakaian ke kamarnya.


"Mr. Jacob, selimutmu jadi basah, maaf." Gumam pelan Alesha sembari meresapi gerakan lembut dari lengan sang mentor pada rambut dan kepalanya.


"Tidak apa, Al. Sekarang lebih baik hangatkan tubuhmu, aku tidak ingin kau sakit."


Tidak ada balasan dari Alesha, gadis itu sudah nyaman dengan selimut hangat milik mentornya, juga boneka besarnya yang sangat empuk untuk dipeluk. Alesha tidak tahu apa yang mentornya itu lakukan terhadap bonekanya sampai wangi parfum dan kebersihannya tetap terjaga.


"Bonekaku masih wangi dan bersih, apa kau memandikannya setiap hari?" Tanya Alesha.


"Baby Ale aku rawat dengan baik, setiap dua hari sekali petugas laundry datang dan mencucinya, dan sebagai tambahan aku berikan saja Baby Ale parfum." Jawab Jacob.


"Cukup, cukup, cukup. Kau tidak perlu memainkan rambutku lagi." Ucap Alesha sembari menjauhkan kepalanya dari lengan sang mentor. Alesha tidak enak dengan sikap perhatian Jacob terhadapnya. Bagaimana juga Jacob adalah mentornya, dan Alesha harus tahu batasan seorang murid pada mentornya.


"Kenapa?" Tanya Jacob.


"Sudah, aku merasa tidak enak, Mr. Jacob."


Alesha pun segera menarik lengan mentornya agar terduduk disofa.


"Kau tidak perlu bersikap berlebihan, dan terima kasih." Lanjut Alesha.


Jacob bergeming. Ia melihat wajah Alesha yang bertambah sedikit pucat, tetapi ia juga tidak bisa mengalihkan tatapannya dari si manis pemilik wajah itu. Ingin sekali rasanya Jacob menaruh pelukan untuk menghangatkan tubuh Alesha. Tetapi lagi dan lagi rasa bersalah kembali menyambangi diri Jacob. Alesha memintanya untuk menemani, tapi ia malah mengacuhkan Alesha tadi. Dan sekarang? Alesha berjalan di pantai sendirian lalu kehujanan. Jacob hanya bisa merutuki dirinya sendiri atas sikap egoisnya tadi terhadap Alesha. Bahkan jika setelah ini Alesha sakit, orang pertama yang akan Jacob salahi adalah dirinya sendiri.