
Di tempat lain, Jacob sibuk berlari menyusuri daratan salju itu menuju lokasi di mana alat pelacak yang Alesha gunakan berada.
Saat di tengah-tengah perjalanan, sangat kebetulan sekali Jacob bertemu dengan anggota tim yang juga sedang tergesa-gesa menuju lokasi yang ditunjukkan oleh alat pelacak Alesha. Mereka sama-sama menuju satu tempat diwaktu yang bersamaan, dan kini mereka sedang melesat menuju tebing itu, tebing di mana alat pelacak Alesha berada, namun tidak dengan Alesha nya sendiri.
Jauh mata memandang, hanya ada hamparan pegunungan bersalju yang mereka lihat, lereng-lereng bukit yang dalam dan curam berada tidak jauh dari tempat Jacob dan timnya sedang berlarian.
Memacu adrenalin dengan menanjakki sebuah perbukitan kecil membuat Bastian dan yang lain kewalahan, tidak terkecuali Jacob. Pria itu benar-benar kuat dan tangguh untuk mengukuhkan tekadnya agar dapat menemukan Alesha.
Hingga sampailah mereka di tebing itu. Tempat di mana Alesha meninggalkan alat pelacaknya agar Jacob bisa menemukan jasad tim lamanya dan juga Yuna yang sudah tertimbun selama lima tahun dalam gundukan salju.
"Alesha ada disekitar sini! Cari dia sekarang!!" Perintah Bastian saat memastikan titik lokasi akurat yang alat pelacak Alesha tunjukan melalui layar tabletnya.
Jacob sendiri tidak mengucapkan kata-kata apapun. Ia begitu fokus dan teliti mengedarkan pandangannya kesegala penjuru yang masih dapat terjangakau oleh pandangannya. Jangan ditanya bagaimana perasaan Jacob sekarang. Ia sendiri sudah tidak dapat mendeskripsikannya. Terlalu sulit, namun begitu menyakiti dan menyiksa hati.
"Aaaaaa....." Lengkingan suara itu menggema kala Merina melepaskannya dari dalam mulut dan tenggorokannya.
"Merina! Apa yang terjadi?" Panik. Bastian sangat panik mendapati tubuh Merina yang mendadak kaku dan membeku di pinggiran tebing.
Ekspresi sawan Merina membuat semua anggota timnya, termasuk Jacob merasa sangat khawatir. Wajah Merina pusat pasi, sorot matanya menunjukan sebuah ketakutan alami yang berasal dari dalam diri.
Perlahan, satu jemari Merina terangkat dan menunjuk dengan gemetar ke arah bawah tebing.
"I-itu,d-di-di sana.."
"Merina, apa yang kau lihat?" Tanya Jacob sembari memegang kedua bahu Merina dan menatap penuh kekhawatiran.
"Wa-wajah.. Aku me-lihat wajah se-orang gadis, di-sana..."
Mata Jacob membulat sempurna. Sudah tak terkira lagi besarnya rasa takut akan kehilangan yang melanda diri Jacob sekarang. Satu dalam pikirannya. Alesha ada di bawah tebing itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Jacob langsung melesat menuju pinggiran tebing dan membiarkan tubuhnya merosoti lapisan salju menuju dasar tebing yang pendek itu.
"Mr. Jacob!!" Pekik Seluruh anggota tim secara bersamaan.
Tyson dan Lucas yang khawatir jika terjadi sesuatu pada sang mentor, mereka berdua pun turut menyusul Jacob ke dasar tebing, lalu disusul Bastian dan Aiden, sedangkan Nakyung, Maudy, dan Merina, mereka tetap berada di atas dan menunggu di atas dengan perasaan cemas dan was-was.
Pikiran Jacob hanya dipenuhi oleh Alesha, Alesha, Alesha, dan menemukan Alesha. Ia pun segera membawa dirinya menuju sosok wajah gadis yang tubuh dan kepalanya masih terkubur didalam salju. Jacob sangat takut, ia pikir kalau gadis itu adalah Alesha karna ia sudah menemukan alat pelacak milik Alesha yang masih aktif dan tergeletak begitu saja diatas tumpukan salju.
"Alesh...." Baru saja Jacob ingin menyentuhkan telapak tangan pada wajah gadis yang ia anggap sebagai Alesha itu, namun aksinya langsung terhenti karna ia menyadari satu hal.
Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.....
Tatapan Jacob lurus dan fokus, menatap intens pada objek cantik yang selama lima tahun ini begitu dirindunya.
Wajah itu, cantik sekali. Jacob tidak lupa, ia masih mengingatnya. Bahkan setelah lima tahun berlalu kecantikan pada wajah gadis tercintanya itu tidak pudar sedikit pun, walau kulitnya sudah membiru dan kaku.
"Mr. Jacob?" Panggil Bastian sembari menghampiri mentornya yang sedang termenung dengan tatapan dan ekspresi yang sulit untuk Bastian artikan.
Lalu sekian detik kemudian, pandangan Bastian, juga Lucas, Mike, Tyson, dan Aiden langsung berubah mengikuti arah tatapan mata mentor mereka.
"Y-yuna..." Satu kata itu terucap, dan Jacob merasakan hati dan tubuhnya yang bergetar.
Aku tidak mungkin salah melihat, ini kau Yuna, aku masih ingat wajahmu, tidak... Tidak mungkin. Jadi di sini.. Yuna.... Bagaimana mungkin...
"Mr. Jacob..." Panggil Aiden pelan. Ia berniat untuk mendekat mentornya, namun Bastian menahan.
"Bastian, kau tahu siapa gadis itu? Dia bukan Alesha kan? Ada apa dengan Mr. Jacob?" Bisik Mike.
"Yuna.... Kau di sini... Aku merindukanmu.."
Buyar sudah pikiran Jacob, sekarang sudah entah kemana perginya nama gadis yang sejati tadi menjadi alasan untuknya ia pergi menjelajahi sekitaran pegunungan Himalaya.
"Bantu aku! Cepat gali saljunya!!" Perintah Jacob cukup tegas pada anggota timnya.
"Yuna, bagaimana bisa kau berada di tempatnya seperti ini, sayang. Aku sangat merindukanmu..." Air mata Jacob mengalir, wajahnya ia dekatkan hingga ujung hidung miliknya dan milik Yuna bersentuhan.
"Aku sangat merindukanmu, Yuna... Kenapa kau pergi.. Kenapa kau meninggalkanku? Bangun, bangun, Yuna. Kembali lah...."
Sambil terus menggali tumpukan salju, Bastian dan empat rekan setimnya melayangkan ekspresi aneh bercampur bingung tingkat akut pada Jacob. Apa yang terjadi pada Jacob? Kenapa pria itu tiba-tiba menangis dan mendekatkan wajahnya dengan sosok wajah milik seorang gadis asing yang tetimbun dalam salju?
"Bas, apa yang terjadi dengan Mr. Jacob?" Tanya Lucas pelan dan samar.
"Aku tidak tahu." Jawab Bastian.
"Yuna, aku mencarimu, aku sangat merindukanmu, aku depresi dan hampir bunuh diri karna kau menghilang begitu saja. Bangunlah.... Buka matamu, sayang..." Rintihan Jacob tersebut dapat terdengar dengan sangat jelas oleh telinga kelima bocah lelaki yang ada disekitarnya.
Jemari Jacob menyusur lembut pada kulit wajah yang dulu selalu menjadi tempat mendarat untuk bibirnya. Mengusap dan membelai pelan penuh kasih sayang.
"Bangun, sayang, buka matamu. Aku sangat merindukanmu, Yuna. Kembali lah."
Perasaan cinta itu hadir kembali. Setelah lima tahun berlalu, dan dua tahun Jacob berjuang untuk melepas dan mengikhlaskan rasa cintanya yang begitu besar terhadap Yuna, kini telah singgah kembali dan membawa semua pasukan ingatan dan kasih yang sangat luas. Ketidakrelaan untuk ditinggalkan kembali pun hadir. Jacob sudah menemukan cintanya yang telah hilang sejak lama, dan Jacob tidak mau melepaskannya lagi. Jacob ingin Yuna bersamanya, disisinya, membuat momen manis seperti dahulu. Jacob ingin Yuna bangun dan menjadi miliknya seutuhnya. Menikah dan mempunyai dua anak, itu cita-citanya bersama Yuna, Jacob ingin hal merealisasikannya.
"Aku mencintaimu, Yuna. Aku sangat mencintaimu."
"Bastian, aku menemukan gelang milik Alesha!" Pekik Lucas sembari mengangkat gelang emas milik Alesha pemberian dari Levin.
"Alesha..." Gumam Jacob.
Tunggu!
Jacob, sadarlah, kau berada di sini untuk mencari dan menemukan Alesha!!......... Bentakan dari dasar hati itu membuat Jacob tersadar dan mengangkat kembali wajahnya.
Ya!
Bodoh sekali Jacob ini, ia malah merutuki dirinya sendiri sekarang. Bagaimana bisa melupakan Alesha begitu saja setelah melihat wajah si cantik tercintanya yang sudah lama sekali tidak memiliki nyawa.
"Alesha... Di mana dia?" Panik! Jacob panik setengah mati.
Sekitar beberapa centimeter dari tempatnya berada, Jacob mendapati sebuah kertas yang berisi sebuah tulisan tangan yang sangat tidak asing untuknya. Ia memicingkan matanya, lalu memastikan setiap potongan bentuk huruf yang tertulis dalam kertas itu.
Karna penasaran, Jacob pun dengan sigap merebut kertas itu lalu membaca kalimat yang ditulis begitu rapih, seperti Alesha yang menulisnya. Begitulah pikir Jacob.
Mr. Jacob, jika kau menemukan surat ini itu berarti aku sudah tidak akan bisa memiliki kesempatan untuk bisa bersamamu lagi. Kemarin malam Vincent datang menemuiku dan memberikan sebuah tawaran padaku. Dia akan membantuku untuk menemukan bongkahan meteor itu dan juga menemukan jasad Yuna. Aku tahu kau sangat mencintai Yuna dan mengharapkan Yuna kembali, Mr. Jacob, maka dari itu aku menerima tawarannya. Aku berpikir kalau nanti kau bisa menyelamatkan dan membebaskan aku dari kekangan Vincent karna aku tidak tahu kalau dia memiliki rencana untuk membunuhku. Aku pikir dia akan menyandra dan menjadikan aku sebagai tawanannya. Tapi ternyata aku salah. Setelah mengantarkan aku ke tempat ini, dia akan membawaku ke suatu tempat dan akan langsung membunuhku di sana.
Selama ini Vincent lah yang sudah menyembunyikan jasad Yuna dan anggota timmu yang lain hingga SIO tidak dapat melacak atau menemukan jasad mereka. Tapi sekarang aku sudah menunjukkannya. Bawa mereka dan makamkan dengan layak.
Kau sudah menemukan kembali jasad Yuna mu, Mr. Jacob, semoga kau bahagia. Aku sangat senang karna bisa membawa Yuna kembali padamu. Terima kasih banyak karna sudah sangat berjasa dalam hidupku. Kau sangat berarti, Mr. Jacob, aku tidak bisa mengungkapkannya, intinya aku sangat menyayangimu dan aku ingin mewujudkan satu keinginan terbesarmu, yaitu menemukan Yuna. Sekarang aku sudah melakukannya. Sangat bahagia memilikimu disisku, Mr. Jacob.
Oh ya Satu lagi, aku harap kau bisa mencari dan menemukan jasadku, Mr. Jacob, lalu membawaku pulang ke Bandung dan menguburkanku dengan layak di sana......
Selamat tinggal......
Dari Lil'ale Untuk Mentor Yang Menyebalkan, Mr. Jacob.
"ALESHAAAAAA........" Tubuh Jacob terjatuh dan menghantam lapisan salju yang ada dibawahnya. Menangis sekeras dan selepas mungkin, merasakan siksaan mematikan yang menikam hati dan dirinya secara mendadak dan bersamaan. "VINCENT!! AKAN KUBUNUH KAU, SIALAN!!!"
"Mr. Jacob!" Bastian, Lucas, Tyson, Aiden, dan Mike yang berada tidak jauh dari Jacob pun otomatis terkejut dan kebingungan ketika melihat mentor mereka yang tiba-tiba saja menangis kencang sembari menyakiti diri sendiri.
Jacob menjambak rambut, dan memukuli dadanya. Rasa akan kehilangan cinta untuk yang kedua kali sudah membuat Jacob melesat menuju titik yang pernah mendera dirinya lima tahun silam.
"INI SANGAT MENYAKITKAN, ALESHA!!! JANGAN SEPERTI INI AKU MOHON!! TIDAK!! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU PERGI, AKU SANGAT MENCINTAIMU, AKU TIDAK RELA JIKA KAU JUGA PERGI MENINGGALKANKU SEPERTI YUNA!!!" Jacob menangisi, merintih, meresapi siksaan batin yang memilukkan.
"Apa yang terjadi pada Mr. Jacob?" Tanya Aiden.
Bastian berlari menghampiri Jacob, lalu meraih kertas yang digenggam lemah oleh mentornya itu.
Dengan panik, Bastian pun membaca isi dari pesan pada kertas itu.
"Alesha..." Nada lirih pun terucap oleh Bastian setelah ia membaca pesan surat dari Alesha itu.
"Alesha....." Jacob mulai meronta, bergerak tidak beraturan akibat rasa frustasi dan tekanan batinnya setelah membaca pesan surat dari Alesha tadi. Ia juga tidak tahu kemana Vincent membawa gadis kesayangannya itu.
"Tyson, Mike!! Beritahu Mr. Thomson untuk mengerahkan tim penyelamat untuk mencari Alesha sekarang juga!! Aiden, Lucas!! Kalian cari keberadaan Alesha melalui satelit, jelajahi seluruh penjuru Himalaya dan temukan Alesha!!" Perintah Bastian begitu tegas.
Walau penasaran akan apa yang terjadi, terkhusus pada isi dari tulisan dalam kertas yang sedang digenggam oleh Bastian, Tyson, Mike, Aiden, dan Lucas pun segera menuruti perintah ketua mereka dengan secepat mungkin.
"Alesha, kau di mana? Jangan tinggalkan aku..." Gelagat Jacob sudah seperti seorang yang sedang kehilangan akal saat ini. Bagaimana tidak? Ia sangat amat terpukul ketika membaca surat dari Alesha.
***
Vincent membawa Alesha pada sebuah danau yang terletak diketinggian lima ribu meter lebih dari permukaan laut. Ia berencana untuk menyiksa Alesha di tempat itu.
Tanpa membuang banyak waktu, salah satu anak buah Vincent pun langsung menggiring Alesha ke tepian danau.
"Aww..." Ringgis Alesha saat kakinya menyentuh permukaan air danau yang begitu dingin.
"Tuan, kita mulai sekarang?" Tanya anak buah Vincent yang berada disebelah Alesha.
Vincent mengangguk sambil menatap iba pada Alesha.
"Cepat berjalan ke danau itu!" Bentak anak buah Vincent pada Alesha.
"Hiks, dingin...." Tubuh Alesha bergetar kencang hingga membuat giginya saling beradu.
"Aaaa.... Dingin......" Alesha pun berteriak sangat kencang kala tubuhnya menghantam keras air danau ketika anak buah Vincent itu mendorongnya hingga terjatuh.
"Tolong.... Ini sangat dingin....."
"Aaaa..... Hiks... Cukup..... Sakit.... Airnya.... Hiks....."
"Ampun.... Aku tidak kuat lagi...."
"Jangan siksa aku seperti ini...... Bunuh saja aku langsung......"
"Dingin..... Hiks.... Cukup....."
Tangisan Alesha pecah kala tubuhnya merasakan tekanan dingin yang sangat menyakitkan dari air yang di danau itu.
"Sudah, tuan.... Aku mohon.....Hiks..."
"Ini menyakitkan...."
"Angkat aku dari air ini.... Hiks.... Tuan Vincent...."
Vincent mematung di tempatnya. Menyaksikan Alesha yang disiksa dan tersiksa seperti itu menimbulkan rasa prihatin dan kasihan terhadap gadis malang kesayangannya musuhnya.
Tatapan Vincent yang tadinya datar tanpa ekspresi berubah menjadi sayu sedih kala terbesit rasa bersalah dan penyesalan dalam hatinya.
Kini Vincent mulai berpikir, kenapa ia begitu jahat dengan tega menyiksa seorang gadis yang tidak memiliki masalah apapun dengannya hanya karna niat buruknya terhadap sang musuh bubuyutan.
Alesha yang terus berteriak karna merasakan gejolak super dingin yang menyakiti tubuhnya membuat Vincent semakin merasa iba dan berdosa.
"Sakit.... Ini sangat dingin... Hiks..."
"Aku tidak kuat lagi.... Cukup tuan... Bunuh saja aku langsung...."
Anak buah Vincent itu terus menyirami Alesha dengan air danau, sedangkan Alesha sendiri hanya bisa terduduk kaku dibawah permukaan air danau yang setinggi dadanya.
"Dingin.... Mr. Jacob.... Hiks..."
Gemertakkan gigi semakin terdengar jelas, getaran kencang mengguncang tubuh Alesha. Tangisan yang histeris perlahan meredup. Dinginnya air membuat Alesha merasakan sesak pada dadanya.
"Cukup.... Aku kedinginan... Tolong.... Hiks... Mr. Jacob..." Lirih Alesha. Suaranya serak dan hampir habis.
"Berhenti!! Cukup!!" Vincent segera berlari menghampiri Alesha yang sudah lemah dalam kukungan air danau yang sialnya Vincent sendiri merasakan sensasi dingin menusuk saat kulitnya bersentuhan dengan air itu.
"Tuan Vincent, bunuh aku langsung, jangan seperti ini, aku mohon." Lirih Alesha.
"Ya, aku akan membunuhmu, tapi tidak seperti ini caranya." Balas Vincent lalu mengangkat tubuh Alesha dari dalam air dan membawanya ketepian danau.
"Lepas jaket kalian!! Biarkan Alesha yang memakainya!!"
Tiga anak buah Vincent yang ada di sana sontak merasa kebingungan karena Vincent yang tiba-tiba saja berubah sikap. Tidak pernah mereka melihat Vincent yang seperti itu, terlihat begitu khawatir hanya karna seorang gadis. Ini juga pertama kalinya untuk mereka melihat Vincent yang secara mendadak menghentikan hukuman untuk musuhnya sendiri. Sungguh sangat aneh, tapi memang nyata.
"Bodoh!! Apa yang kalian pikirkan!! Cepat buka jaket kalian!! Alesha kedinginan!!" Bentak Vincent.
Tidak lama, ketiga anak buah Vincent itu pun segera menuruti perintah Vincent lalu menutupi tubuh Alesha dengan jaket tebal mereka masing-masing.
Vincent pun mendekap erat pada tubuh Alesha yang tidak berhenti bergetar. Dalam hatinya, Vincent merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia jadi tidak tega melihat Alesha yang tersika seperti tadi? Seharusnya ia membiarkan saja.
"Bunuh aku langsung, tuan. Jangan masukkan aku ke dalam danau itu lagi." Ucap Alesha dibarengi gemertakan gigi dan suara yang parau.
"Diam!!" Balas Vincent yang malah balik membentak Alesha.
Tetapi, dengan memeluk tubuh Alesha seperti ini membuat Vincent merasakan sebuah kehangatan dalam benaknya. Ini pertama kalinya untuk Vincent menaruh rasa perhatian dan rasa iba terhadap orang lain.