May I Love For Twice

May I Love For Twice
Honeymoon III



Tidak beranjak, dan tidak pula memakai kembali pakaiannya. Alesha masih berdiam diri diatas kasur dengan selimut yang menjadi pelapis tubuhnya yang full nak*d.


Sambil menunggu Jacob kembali, Alesha asik memutar kembali memori manisnya bersama keempat kawan wanita seperjuangannya semasa di WOSA dulu.


Dalam lampiran foto digital, Alesha mengingat semua kesan-kesan manis yang begitu ia rindukan. Kebersamaan yang sangat menyentuh, perkenalan yang berujung pada persahabatan, dan persaudaraan. Namun sayang, salah satu dari mereka, yaitu Stella harus keluar dari WOSA setelah satu tahun pertemanan mereka.


Tapi entah kenapa meski merasa kecewa, Alesha tetap menganggap Stella sebagai temannya. Kenangan indah mereka terlalu banyak untuk dibuang, dan dilupakan begitu saja, walau pun hanya dalam waktu satu tahun.


"Stella, kalau aja kamu gak jahat sama aku, kita pasti masih berlima, dan bersama-sama. Kamu temen pertama aku di WOSA, dan kamu juga orang pertama yang ngajak aku kenalan waktu dipesawat. Tapi kenapa kamu berubah? Aku gak nyangka, temen yang paling deket, dan lengket sama aku ternyata bisa jadi yang paling jahad ke aku. Stella, seandainya kamu balik lagi, minta maaf tulus, trus mau perbaikin hubungan kita lagi, aku gak akan segan buat terima kamu balik, Stell. Jujur aku kangen sama kebersamaan kita," Ucap Alesha sembari memandangi fotonya bersama Stella.


Ya, memang Stella, dan Alesha sudah seperti sepasang anak kembar yang selalu bersama-sama. Maka dari itu, wajar jika Alesha merindukan sosok temannya yang satu itu. Saling berbagi keluh kesah, senang, canda, dan tawa. Sharring segala hal, bahkan sampai hal yang tidak penting pun selalu mereka jadikan sebagai obrolan saking dekat, dan akrabnya mereka.


Lalu Alesha beralih dengan meraih ponselnya untuk membuka grup chatting yang beranggotakan ia, dan ketiga kawan perempuannya.


*On WhatsApp group


Me: Hellooo. Masih pada hidupkan?


Merina typing


Merina: Hmmm, ibu hamil kita lagi kesepian kayanya kawan-kawan πŸ™ƒ


Alesha send a picture...


Me: Kalian gak kangen apa?


Nakyung: Kenapa harus ada Stellanya?


Me: Emang gak boleh? Aku kangen kita yang berlima.


Maudy: @Me, gimana kabar Baby J? 😁


Merina: Baby J?


Maudy: @Merina iya, tanya aja Alesha 🀣


Nakyung: Gak perlu nanya juga aku sudah bisa tebak πŸ˜‚ benar bukan, Al @Me?


Me: Hmmm... Hehehe 😁😁


Merina: OOOO YA AMPUN, ALESHA, SELAMAT YA BUAT KEHAMILAN KAMUU. SEMOGA BAYINYA SEHAT SELALU SAMPE NANTI PERSALINAN πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜ Aku udah gak sabar nih pengen gendong bayi kamu ☺️☺️🀭


Nakyung: Kenapa gak bilang ke kita kalau kamu hamil, Al @Me?


Me: Maaf, aku gak sempet waktu itu, makanya aku baru kasih tahu Maudy πŸ™πŸ˜ž


Merina: Yaudah gak apa-apa, yang penting kamu jaga kesehatan, jangan capek, apalagi stres, jangan pikir macem-macem, apalagi kalau berpikiran Mr. Jacob selingkuh!!


Me: Mana berani Mr. Jacob selingkuh🀭🀣 Aku bisa cari ayah baru buat Baby J🀣


Nakyung: Hush, ngomongnya @Me 🀣🀣


Merina send a picture...


Merina: @Me, aku baru nyadar kalau kita berdua yang paling pendek, sebelahan pula sama @Maudy si gantarπŸ˜‚


Me: @Maudy, gimana caranya biar badan tinggi? πŸ˜‚


Nakyung: Sayang kita tinggal bertempat 😌


Me: Aku harap Stella mau balik lagi trus perbaikin hubungan sama kita πŸ™‚


Me: Oh ya, kalian gak kerja? Gimana SIO? Mrs. Laras gak nanyain aku kan?


Nakyung: Enggak @Me. Cuman emang ada sedikit berita buruk, Al.


Me: Berita buruk? Kenapa?


Maudy: Tyson, dia kena luka tusukan diperutnya waktu ikut sama Mr. Levin buat nangkep orang yang udah bunuh dua agent SIO di Dubai.


Me: Loh terus sekarang gimana? 😳 Kok gak ada yang bilang digrub sebelah sih?


Merina: Dia udah baik-baik aja, Al. Untungnya tusukan itu meleset dari hati.


Me: Syukur deh kalau gitu. Tapi serius kan Tyson gak apa-apa sekarang? Trus yang lain gimana? Lucas sama Aiden udah balik lagi dari kantor SIO pusat?


Nakyung: Belum, Al. Mereka lagi bantu pegawai SIO buat benerin sistem keamanan digital SIO yang rusak karna diretas sama beberapa hacker.


Ketika tengah asik berbincang dengan kawan-kawannya via chatting, tiba-tiba saja tubuh Alesha terlonjak kaget ketika telinganya mendengar bunyi pintu yang terbuka.


"Astagfirullah! Jack! Kau membuatku kaget tahu!!" Pekik Alesha ketika mendapati suaminya yang masuk tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Maaf, sayang. Kalau begitu assalamualaikum..." Balas Jacob sembari berjalan menghampiri istrinya.


"Waallaikumussalam...." Balas Alesha.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Jacob meringsek ke atas kasur, lalu memeluk tubuh Alesha dengan posesif.


"Aku merindukan teman-temanku, Jack. Maka dari itu aku menghubungi mereka lewat pesan grub."


"Oh ya bagaimana kabar anak-anak didikku itu?" Tanya Jacob.


"Sepertinya mereka baik-baik saja, aku juga baik-baik saja," Jawab Alesha sembari menunjukan senyum manisnya.


Namun kening Jacob malah berkerut bingung setelah mendengar jawaban dari istrinya.


"Kau menanyakan kabar anak didikmu bukan? Aku jawab, sepertinya mereka baik, dan aku juga baik-baik saja," Sambung Alesha yang paham akan maksud dari ekspresi bingung yang suaminya itu tunjukkan. "Apa kau tidak menganggapku sebagai anak didikmu juga?"


Jacob tersenyum setelah mendengar ucapan Alesha barusan.


"Kau adalah anak didikku yang sangat amat aku cintai," Jacob memeluk begitu erat tubuh istrinya hingga membuat Alesha merasa kesulitan untuk bergerak bebas.


"Jack.... Lepas!" Alesha berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan dirinya dari dekapan kuat yang suaminya berikan.


"Kau tidak memakai bajumu, Alesha?"


"Bee.... Lum!" Balas Alesha yang masih terus mencoba untuk terlepas dari pelukan Jacob.


"Anak pintar," Jacob mengusapi puncak kepala Alesha dengan gemas.


"Ayo, kita lanjutkan yang tadi," Dengan semangat, Jacob bangkit lalu membuka satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya.


"Aku mencintaimu, Alesha."


Kecupan lembut pun Alesha terima pada kedua pipinya sesaat sebelum Jacob melancarkan aksinya.


Finally....


Jadilah malam itu menjadi malam yang begitu hangat untuk Alesha, dan Jacob, meski suhu udara, dan ruangan relatif dingin.


***


Dilain tempat, disalah satu sudut jalan kota Bandung, terlihat seorang gadis muda yang sedang berbincang bersama seorang pria yang usianya sama dengan sosok si gadis itu.


"Stephani, maksudnya apa ini?" Si pria itu mengerutkan keningnya sembari menatap bingung pada sebuah foto yang memperlihatkan alat testpeck bergaris dua.


"Alesha lagi hamil, Adam," Jawab si gadis yang bernama Stephani, atau dengan nama lain Stella.


"Hamil?" Pekik Adam yang syok atas apa yang Stella ucapkan barusan.


"Iya, dia lagi hamil. Kenapa? Kau sedih?" Sindir Stella.


Sedih? Tidak! Adam tidak sedih, namun lebih ke kecewa, dan patah hati. Wanita yang kini ia cintai sedang mengandung anak dari pria lain? Menyesakkan sekali rasanya untuk Adam menerima kenyataan itu.


"Kamu pasti bohong," Elak Adam.


"Ck! Mending kamu liat aja deh sendiri isi pesan grub Alesha sama teman-temannya," Stella menunjukkan layar ponselnya yang sudah memperlihatkan percakapan digrub chatting anak-anak kelompok teater pemuda Bandung. Khususnya adalah percakapan setelah Alesha mengirimkan gambar alat testpack yang serupa seperti yang sudah Stella tunjukkan sebelumnya pada Adam.


"Kamu pasti bercanda! Gimana caranya kamu bisa dapetin percakapan pesan digrub teater pemuda Bandung? Kamu anggota juga ya?"


"Enggak! Alesha, hamil?" Adam bergumam lemas. Kenapa rasanya begitu sakit, dan menyesakkan? Mengetahui Alesha yang sudah hamil membuat hati Adam begitu merintih. Ingin mengelak dari kenyataan, namun itu tidak berguna karna hanya akan membuat hatinya semakin tersakiti.


"Gua males lama-lama ya, jadi gimana? Mau atau enggak? Kalau lu terima tawaran gua yang waktu itu, fine, lu masih bisa punya kesempatan buat dapetin Alesha, tapi kalau enggak, its okay, lu mungkin bakal kehilangan dia selama-lamanya," Stella berucap santai.


Kini Adam dibuat bergeming karna harus fokus menentukan pilihan yang akan ia ambil. Tatapannya lurus tak mengisyaratkan ekspresi apapun. Pikirannya berpacu, diperas untuk memilih jalan yang terbaik, meski kedua pilihan yang Stella tawarkan bukanlah hal baik.


Jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya Adam ingin menerima tawaran Stella, namun ia tidak berani untuk menghancurkan rumah tangga orang lain, itu adalah dosa besar, dan mungkin akan membuat hidupnya terus dihantui oleh rasa bersalah. Tapi disisi lain ancaman yang Stella berikan untuk Alesha membuat Adam mesti berpikir sangat keras. Adam ingin menghindari risiko yang akan Alesha tanggung nanti jika Stella sudah memulai permainannya.


Adam takut kalau Alesha akan terjerumus dalam bahaya besar jika ia tidak menerima tawaran Stella itu.


"Gimana? Mau atau enggak?" Stella mulai jengah karna menunggu Adam yang berpikir cukup lama.


Sementara itu, Adam masih tetap terdiam, dan mensibukkan pikirannya untuk memastikan pilihan yang paling tepat.


"Waktu habis! Maaf, gua masih ada urusan lain!" Stella mulai beranjak pergi meninggalkan Adam.


"Aku terima!"


Sebelah sudut bibir Stella seketika terangkat setelah mendengar ucapan Adam barusan.


"Pilihan yang bagus. Aku akan menghubungimu lagi nanti."


Stella berlalu pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat balasan untuk Adam.


Sedangkan Adam, tubuhnya melemas ketika memutuskan keputusan yang sebenarnya belum benar-benar matang ia pilih. Namun ia tidak mau jika harus mendengar kabar buruk tentang Alesha nanti.


"Maaf, Sha. Aku minta maaf..." Lirih Adam disertai rintik tangis yang mulai berjatuhan.


Apakah yang Adam pilih adalah sebuah pengorbanan? Jika ia tidak menerima tawaran Stella, maka Alesha akan menerima konsekuensi buruk selain kehilangan suaminya, dan Adam hanya ingin membantu Alesha untuk menghindari konsekuensi buruk itu. Adam berharap semoga kelak ada jalan untuknya agar bisa kembali pada Alesha, dan mendapatkan cinta Alesha kembali.


****


Waktu berlanjut, dan beralih menuju dimana Alesha, dan Jacob berada. Tepatnya di dalam kamar hotel, pukul enam pagi ini terasa begitu dingin menusuk. Alesha meringkuk seperti seorang bocah kecil yang sedang meminta kehangatan dari orang tuanya, namun bedanya adalah Alesha meminta kehangatan itu dari sang suami tercinta, yaitu Jacob.


"Hmm...Hoamm.." Alesha terusik sembari mengerjapkan matanya. Terasa sangat nyaman ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Jacob yang begitu hangat. Namun, Alesha ingat kalau hari ini ia akan pergi mengunjungi museum Topkapi, atau museum dimana terdapat benda-benda asli peninggalan Rasulullah SAW. Karna begitu bersemangat, dan tidak sabar, dengan perlahan Alesha melepaskan tubuhnya dari pelukan Jacob. Ia pun pelan-pelan bergeser ketepian kasur.


"Emmm, Alesha...."


Alesha langsung tertegun ketika mendengar suara Jacob yang bergumam dengan menyebutkan namanya.


Diliriknya Jacob oleh Alesha.


"Masih tidur ternyata," Gumam Alesha yang mendapati suaminya masih terpejam.


Kemudian Alesha berjalan dengan terburu-buru menuju kamar mandi, namun tanpa ada suara langkah kaki yang terdengar.


Sedangkan Jacob, pria itu terus tertidur hingga setelah sekitar setengah jam berlalu, barulah ia terbangun dari tidur nyenyaknya.


Awalnya Jacob hanya berusik, namun sesaat kemudian lengannya bergerak meraba-raba permukaan kasur yang ada disebelahnya.


Kosong.


Itulah yang didapati Jacob.


Kemana Alesha? Pikir Jacob.


"Alesha..." Jacob memanggil lirih nama istri kesayangannya itu, namun tidak ada jawaban yang Jacob terima. Lalu ia pun bangkit dan menatap sekelilingnya.


"Ck! Alesha..." Panggil Jacob kembali dengan nada yang sedikit meninggi.


"Sayang... Lil Ale....."


"Iya..." Suara Alesha yang membalas panggilan Jacob.


"Ada apa, Jack?" Tanya Alesha yang muncul dari balik pintu kamar mandi.


"Kau sudah mandi?" Tanya balik Jacob yang mendapati kalau istrinya itu sudah berpakaian rapih seperti hendak pergi ke suatu tempat.


"Iya," Balas Alesha, singkat.


"Kenapa tidak membangunkan aku tadi?"


"Kau terlihat pulas, aku tidak tega membangunkanmu."


"Tapi.."


"Sudah sudah, sekarang mandilah, aku ingin cepat-cepat pergi lagi. Aku ingin kita menghabiskan waktu seperti kemarin lagi, Mr. Ja.... Emm, maaf, maksudnya, Jack."


Jacob mendengus sebal. "Terus saja, Alesha. Terus panggil aku dengan sebutan itu."


Jacob merajuk, lalu turun dari atas kasurnya. Ia pun berjalan malas menuju kamar mandi.


"Maaf, aku masih mencoba membiasakan lidahku, Jack," Balas Alesha, pelan.


"Hmmm..." Hanya itu respon balik Jacob. Kemudian ia memasuki ruang tempat membersihkan diri untuk memulai ritual paginya, yaitu mandi.


Sedangkan Alesha, karna ia adalah tipe wanita yang tidak terlalu mementingkan make up, jadi ia pun memolesi wajahnya dengan bedak tabur biasa, dan juga lipstik berwarna natural. Lalu setelah itu, ia mulai memakai kerudungnya sembari menunggu Jacob.


Singkatnya, selang sekitar satu jam kemudian, mereka berdua pun telah selesai dengan urusan masing-masing, dan siap untuk melewati satu hari ini dengan kebahagiaan yang baru.


Disepanjang perjalanan, Alesha terus mengoceh, dan mengungkapkan kebahagiaannya pada Jacob. Kekehan, dan tawa kecil selalu terbentuk pada wajah Jacob, dan juga Taylor yang bertugas menyetir mobil ketika mendengar cerita Alesha yang cara penyampaiannya terkesan lucu.


Sebelum menuju meseum Topkapi, Alesha meminta pada Jacob agar mereka, termasuk Taylor, dan para anak buahnya terlebih dahulu sarapan disalah satu restoran.


Alesha makan dengan lahap, bahkan saking lahapnya ia sampai dua kali memesan menu makanan yang sama.


"Pelan pelan makannya, Alesha." Itu yang selalu Jacob ucapkan ketika melihat istrinya yang begitu asik menyantap hidangan pembuka.


Namun Alesha acuh, ia buru-buru menghabiskan makanannya agar segera bisa mengunjungi museum Topkapi.


Seusai menyantap semua makanan yang sudah dipesan, Jacob segera membayarnya lalu kembali melanjutkan perjalanannya bersama Alesha menuju tempat dimana benda-benda bersejarah milik pemimpin umat islam terakhir disimpan dengan begitu rapih.


"Alhamdulillah... Akhirnya Alesha bisa juga dateng ke sini," Gumam Alesha yang disertai dengan perasan haru ketika ia, dan yang lain telah tiba di tempat tujuan.


Satu per satu langkah membawa Alesha memasuki ruangan museum itu. Rasanya bahagia sekali untuk Alesha sekarang, bahkan air mata pun seolah meminta untuk segera diterjunkan.


Dalam hati, Alesha sangat mensyukuri karna bisa memiliki kesempatan untuk dapat melihat langsung benda-benda bersejarah milik manusia mulai yang menjadi panutannya. Pakuan, sandal, pedang, dan lain-lain. Alesha melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana bentuk, dan rupa benda yang pernah dimiliki oleh nabinya itu.


Sedangkan Jacob, ia pun tak kalah terharunya seperti Alesha, namun rasa bahagia lebih mendominasi dalam hatinya karna bisa mengabulkan apa yang istrinya inginkan.


Melihatmu yang tersenyum selalu sukses membuatku merasa sangat berarti, Al. Aku ingin menjadi suami yang bisa menjagamu, dan keluarga kecil kita. Aku ingin bisa menjadi suami yang berguna untukmu. Mungkin aku tidak sempurna, tapi aku berharap kau mau untuk terus membantuku untuk menjadi suami yang lebih baik lagi, Alesha. Aku sangat menyayangimu, sayang..... Ucap Jacob dalam hatinya.


"Melleth Nin," Jacob meraih pergelangan tangan Alesha.


Seolah mengerti apa yang Jacob ucapkan. Alesha pun mendongkak untuk menatap suaminya.


"Kau tahu itu?" Kening Alesha berkerut bingung.


"Artinya cintaku. Benar bukan?"


"Bagaimana bisa kau tahu, itukan bahasa peri?"


"Aku hanya mencari tahunya," Jawab Jacob sembari mengedikkan bahunya. "Karna aku tahu kalau kau menyukai mahluk mitologi itu kan," Kini jemari Jacob mencubit gemas kedua bagian pipi istrinya.


"Aww!" Alesha memghempaskan lengan Jacob dari area wajahnya. "Sepertinya kita harus ikut kursus bahasa peri."


"Tidak perlu, karna tanpa harus ikut kursus bahasa peri pun peri mungil yang ada dihadapanku ini sudah dapat mengerti apa yang aku ucapkan, dan rasakan," Jacob menggerakkan giginya karna gemas pada si manis kesayangannya itu.


"Siapa yang kau maksud peri mungil?" Tanya Alesha.


"Siapa lagi kalau bukan kau, Lil Ale."


"Huh, dasar!" Alesha terkekeh.


Ya, mungkin sebutan 'Peri Mungil' cocok untuk Alesha, begitulah menurut Jacob.


Lalu perjalanan disatu hari itu pun kembali berlanjut. Alesha yang tiada lelahnya berjalan sejak tadi terus saja memacu kakinya untuk terus berkeliling di museum itu.