May I Love For Twice

May I Love For Twice
Honeymoon?



Pukul 20.00 WIB


Kehadiran kakeknya, dan anggota keluarga suaminya membuat Alesha merasa bahagia. Alesha sangat bersyukur, kehilangan orang tua sejak kecil, dan hidup serba mandiri kini sudah terbayarkan dengan datangnya Jacob kedalam hidupnya. Kasih sayang, cinta, perhatian, hal-hal seperti itu benar-benar Alesha rasakan dari sosok pria yang pernah menjadi mentornya itu.


Bahkan sekarang, setelah makan malam selesai, canda gurau dan keakraban semakin terasa. Di ruang keluarga itu, Alesha mendapatkan kembali hal yang selama dua belas tahun ini menghilang. Ia beruntung, ibu mertuanya sangatlah baik, contohnya saja saat pukul setengah tujuh tadi, Laura membawa Alesha menuju dapur dan mengajarkan Alesha memasak juga menyiapkan hidangan makan malam. Ibu mertua Alesha itu menjelaskan banyak hal mengenai hak dan kewajiban seorang istri.


Jacob yang melihat kedekatan ibu dan istrinya tentu saja merasa sangat bahagia. Awalnya ia takut jika Laura akan cuek dan tidak perduli pada istrinya, namun ternyata ia salah, ibunya terlihat begitu kompak dan bersemangat saat mengajarkan istrinya cara memasang dan menyajikan hidangan makan malam yang benar.


Menjadi sempurna memang tidak mungkin, tapi apa salahnya mencoba untuk menjadi lebih baik. Alesha akan mengingat semua ucapan dan hal-hal yang ibu mertuanya ajarkan tadi.


"Permisi, Nyonya, mobil anda sudah siap di depan," Ucap salah satu pengawal Laura.


Laura mengangguk, kemudian ia pun menatap anak lelaki juga menantu perempuannya. "Jack, ibu dan yang lain akan berangkat jam setengah sebelas belas malam ini, pesawat ibu sudah berada di Bandara sekarang."


"Ibu akan pulang sekarang?" Tanya Jacob.


"Iya. Mona harus menghadiri rapat dua hari lagi, Wiliam juga harus kembali memimpin perusahaan orangtuanya," Jawab Laura.


"Tapi kenapa ibu pulang sekarang? Ibu bisa tinggal di sini lebih lama lagi bukan?" Tanya Alesha yang tampak sedih.


Laura tersenyum kecil mendengar ucapan menantunya itu. "Lalu siapa yang akan merawat dan menjaga Haris saat kedua orang tuanya bekerja?"


Cukup masuk akal juga sih. Tapi Alesha sedih, ia baru merasakan kembali kehangatan keluarga, dan sekarang keluarga barunya itu sudah harus pergi lagi.


"Baiklah," Lirih Alesha.


"Ibu akan sering berkunjung di sini. Ibu juga kan harus memantau perusahaan ibu yang ada di sini," Lanjut Laura sembari mengelus puncak kepala Alesha.


"Iya, Bu," Balas Alesha.


"Hubungi aku jika kau membutuhkan bantuan, Mona," Ucap Jacob pada kakaknya.


Mona hanya mengangguk. Sebenarnya ia tidak mau menganggu adiknya yang baru saja menikah bersama Alesha. Mona ingin membiarkan Jacob menghabiskan waktu romantisnya dahulu bersama Alesha, mengingat adiknya itu baru saja menikah kemarin, walau sebenarnya Mona sendiri merasa cukup keberatan untuk memimpin induk perusahaan besar sendirian, belum lagi beberapa hari belakangan ini, Mona merasa kondisi tubuhnya mulai tidak bersahabat.


Entah bisa atau tidak, Mona akan berusaha dahulu, dan untungnya saja ada suaminya, Wiliam yang juga selalu memberikan bantuan jika Mona sudah kewalahan mengurus induk perusahaan itu.


"Kalau begitu, kita pamit sekarang ya, Jack, para pengawalku sudah menunggu," Ucap Laura, setelah itu ia pun berjalan menghampiri menantu perempuannya. "Jadilah istri yang baik, jaga dan layani Jacob dengan ikhlas. Sebagai istri, kau harus patuh dengan apa yang suamimu perintahkan, tapi jika Jacob melakukan hal yang semena-mena, dan melakukan tindakan kekerasan padamu, jangan takut untuk melaporkannya pada ibu. Ibu yang akan langsung memberi pelajaran keras pada Jacob agar dia bisa memperlakukan istrinya dengan baik," Tatapan serius Laura membuat Alesha bergeming. Meski sudah tua, namun aura ketegasan dan kewibawaan masih melekat sempurna pada wanita paruh baya, ibunda Jacob itu.


"Tenang saja, Bu, aku akan selalu menjaga Alesha, dan tidak akan pernah melakukan hal-hal buruk apalagi tindakan kekerasan padanya," Ucap Jacob.


Laura tersenyum kecil. Bahagia rasanya melihat bocah kecil yang dulu sangat pemanja, kini sudah berubah menjadi seorang pria sejati karna sudah berhasil meminang seorang gadis manis.


"Jaga diri kalian baik-baik di sini, ibu sangat menyayangi kalian berdua," Laura yang larut dalam haru kini memeluk tubuh anak juga menantunya secara bersamaan.


"Nyonya, pesawat anda sudah siap untuk lepas landas, pihak bandara sudah memberitahu jika waktu penerbangan pesawat menuju Florida akan tiba satu jam lagi," Ucap pengawal Laura yang lain.


Laura menghapus jejak air mata pada pipinya.


"Jaga diri ibu baik-baik di sana," Ucap Jacob ketika Laura melepaskan pelukannya.


"Kau juga, jaga menantu ibu dengan baik di sini," Balas Laura.


"Pasti!" Jacob mengangguk yakin.


Laura, beserta anak, cucu, dan menantunya pun kini mulai melangkahkan kaki meninggalkan mansion baru milik Jacob dan Alesha.


Setidaknya, mereka sudah memiliki waktu untuk berkumpul, dan menikmati indahnya kebersamaan yang mungkin akan jarang terjadi.


Jacob dan Alesha mengantar sampai halaman depan rumah. Selepas mobil yang ditumpangi oleh ibunda, dan saudara-saudaranya pergi meninggalkan mansion itu, Jacob segera merangkul pinggang Alesha dan membawa istrinya itu menuju kamar mereka.


Di kamar, Alesha langsung mengganti pakaiannya dengan baju tidur biasa, tidak lupa ia mencuci tangan dan kakinya. Jacob juga melakukan hal yang serupa seperti yang istrinya lakukan, ia harus memastikan kalau tubuhnya itu sudah bersih dari kotoran atau kuman sebelum tertidur.


Malam ini juga, Jacob tidak akan meminta haknya pada Alesha. Jacob kasihan, jika malam ini ia meminta lagi pada Alesha, kemungkinan rasa sakit yang Alesha rasakan setelah melakukan hubungan itu akan bertambah. Jadi, sebagai gantinya Jacob hanya meminta pada Alesha agar istrinya itu tertidur dalam pelukannya.


Tidak lama setelah dirinya berada dalam kukungan hangat suaminya, Alesha langsung terpejam dan beralih menuju dunia lain dibalik tidurnya.


Jacob sendiri menjadikan lengannya sebagai bantal tidur untuk istrinya, lalu lengannya yang lain merengkuh erat tubuh minimalis si manis kesayangannya itu.


Betapa besar rasa cinta dan kasih Jacob terhadap Alesha. Gadis yang sudah menjadi miliknya itu sudah mengubah dunianya hingga ia dapat bangkit dari keterpurukan yang disebabkan oleh gadis masa lalu yang sudah tiada lagi. Jacob ingat, saat pertama kali ia melihat Alesha, memang seperti ada kilasan yang membuatnya teringat akan Yuna. Itu dihari pertama saat Alesha masuk WOSA, lalu pada hari kedua, ketiga, dan beberapa hari kemudian, Jacob semakin bingung akan pesona manis Alesha yang serupa dengan Yuna, hingga saat itulah Jacob selalu merasa nyaman jika berada disebelah Alesha, seolah ia sedang berada didekat Yuna. Namun seiring berjalan waktu, Yuna semakin pudar dengan timbulnya rasa baru terhadap Alesha.


Pesona sama, namun perbedaan yang cukup mencolok dapat menyadarkan Jacob jika Alesha dan Yuna tidak serupa. Ketika hari demi hari berlanjut, Jacob sadar jika ia tertarik dan mulai menaruh rasa pada Alesha. Hingga sekarang setelah Jacob menjadi suami Alesha, rasa cinta yang semakin membesar membuat Jacob tidak mau melepaskan istrinya itu.


Jacob yang awalnya berpikiran jika ia tidak akan bisa melupakan Yuna karna kehadiran Alesha, kini persepsi itu sudah berhasil ia patahkan, dan hancurkan hingga tidak akan pernah bisa berbentuk lagi. Hadirnya Alesha adalah obat paling mujarab hingga Jacob sukses melupakan, dan mengikhlaskan kepergian Yuna.


"Terima kasih banyak sudah hadir dalam hidupku, Alesha. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika aku tidak bertemu denganmu," Bisik Jacob. Kecupan-kecupan kecil Jacob daratkan pada kedua pipi istrinya, ia juga menyentuhkan ujung hidungnya dengan ujung hidung Alesha.


"Aku mencintaimu, Alesha."


Jacob membelai lembut wajah damai istrinya yang terlelap dalam pelukannya.


"Mimpi yang indah, sayang."


Pelukan erat yang Jacob berikan semakin membuat Alesha nyaman dalam tidurnya, begitu pun Jacob yang sangat menikmati tidurnya kala sang pujaan hati berada dalam dekapannya.


***


Sentuhan cahaya mentari pagi yang masuk menembus kaca dan gorden membuat dua insan yang sedang bergelut dalam mimpi terpaksa untuk kembali pada kesadaran masing-masing.


Pukul 07.30 WIB


Alesha menggeliatkan tubuh, dan membuat pria yang sedang memeluk ikut terusik hingga terbangun.


Jacob mengerjapkan mata beberapa kali, memperhatikan pergerakan istrinya yang masih terpejam dan mencari kenyamanan lain dalam pelukannya.


"Jack..." Panggil Alesha begitu pelan. Ia sudah bangun dari tidurnya, dan sedang mengumpulkan sesuatu dalam dirinya agar kesadarannya dapat pulih sepenuhnya.


"Hmm.." Deheman lembut Jacob membuat sang istri mendongkakkan kepala agar mereka bisa saling bertatapan.


Alesha memicingkan matanya untuk memfokuskan pandangannya pada wajah yang sedang tersenyum lembut ke arahnya.


"Selamat pagi, Lil Ale," Jacob mengelusi permukaan wajah istrinya.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Alesha.


"Entah, aku belum melihat jam," Jawab Jacob.


"Eungh...." Alesha melepaskan pelukan suaminya untuk dapat merenggangkan tubuhnya.


"Kau mau berbulan madu kemana, sayang?" Tanya Jacob begitu lembut.


"Bulan madu?" Ulang Alesha. "Menurutmu kemana yang tepat?"


"Jangan tanya balik padaku, aku ingin kau yang menentukannya," Ucap Jacob.


"Ehm, kalau begitu, , sebenarnya aku sudah menentukan satu tempat, yaitu di Turki," Ucap Alesha.


"Turki?" Ulang Jacob.


"Ya, ke Museum Rasulullah," Lanjut Alesha.


"Owh.... Kau yakin mau ke sana? Tidak ke tempat yang lebih romantis lagi?"


"Memangnya di Turki tidak ada tempat yang romantis ya?"


Jacob terdiam setelah mendengar pertanyaan balik dari istrinya itu. Sebenarnya ada aja sih, malah banyak jika mereka berdua mau mengeksplore negara itu.


"Tapi kalau tidak setuju juga tidak apa, kita bisa cari tempat yang lain," Ucap Alesha.


"Tidak usah. Kau ingin kita berbulan madu ke sana, maka kita akan berbulan madu ke sana," Timpal Jacob. Ia ingin membuat bahagia Alesha, maka dari itu ia akan mengabulkan keinginan istrinya itu.


"Terima kasih, Jack," Alesha semakin merapatkan tubuhnya dalam pelukan sang suami.


Tentunya hal itu membuat Jacob semakin bahagia, tubuh minimalis Alesha sangat pas dalam pelukannya. "Ayo mandi."


Ayo mandi? Sebuah ajakan untuk mandi bersama maksudnya?


"Tidak ada penolakan, sayang," Kecupan singkat mendarat pada bibir ranum Alesha, lalu setelah itu Jacob bangkit dari tidurnya dan langsung mengangkat tubuh istri kecilnya itu untuk dibawa menuju kamar mandi.


"TIDAK MAU! LEPASKAN ALESHA!!" Alesha memberontakkan tubuhnya, namun ia terlambat, Jacob sudah menurunkannya kembali ketika mereka sudah sampai di dalam kamar mandi.


"Jika kau menolak, maka kau akan aku habisi!" Ancam Jacob dengan seringai nakalnya.


"Memberontak atau tidak aku akan tetap dimakan olehmu!" Alesha mendengus menatap marah pada suaminya, ia pun melipatkan kedua tangannya, dan bibirnya dimanyunkan sebagai respon dari rasa sebalnya.


Akhirnya, mau tidak mau, Alesha pun menemani, dan ikut mandi berdua bersama suaminya, Jacob.


***


Di dalam pesawat yang hingga kini masih melayang dibawah lapisan atmosfer bumi, cucu laki-laki dari Laura terus menangis sejak sejam lalu. Mungkin pria kecil itu kelaparan, dan membutuhkan asupan ASI, sedangkan Mona sendiri sudah merasa tidak karuan dengan kondisi tubuhnya saat ini.


"Cup cup, Haris, ayo ini makan buburnya, sayang," Ucap Laura yang mencoba untuk memberikan makan berupa bubur bayi khusus pada cucunya. Namun Haris tetap menolak, dan berkali-kali menyenggol bubur itu hingga terjatuh mengenai baju Laura.


"Ibu, biarkan Mona memberikan ASI untuk Haris, Mona tidak tega melihatnya menangis seperti itu," Lirih Mona.


"Tidak, kondisimu lemah, Mona, kalau kau menyusui Haris, kau akan semakin kehilangan energi," Tolak Laura.


"Sayang, jangan paksakan dirimu," Ucap Wiliam yang sangat khawatir pada keadaan istrinya saat ini.


"Aku tidak tega mendengar tangis Haris, Wil, dia kelaparan," Balas Mona, lirih.


"Ibu sedang mencoba untuk memberinya makan, Mona, tenang saja," Sahut Laura.


Mona menghembuskan napasnya dengan cukup berat. Hatinya terasa dicabik-cabik melihat sang buah hati yang menangis kelaparan. Hingga Mona pun memutuskan untuk menguatkan dirinya dan bangkit lalu berjalan mendekati Laura.


"Kemari, sayang, maaf ibu membuatmu kelaparan," Mona langsung mengambil paksa tubuh pria mungilnya dari gendongan Laura.


"Mona, istirahatkan tubuhmu!" Titah Laura.


"Ibu pikir dengan mendengar Haris yang terus menangis kelaparan bisa membuatku tenang? Tidak!" Balas Mona.


Dalam gendongan dan pelukan ibunya, Haris langsung terdiam dan berhenti menangis. Mona yang sudah tidak tega melihat anaknya kelaparan pun langsung memberikan ASInya agar Haris tidak merasa kelaparan kembali.


***


Berbeda dengan Jacob dan Alesha, pasangan pengantin baru itu menghabiskan waktu seharian mereka dengan berduduk santai di taman belakang yang ada di mansion itu.


Mereka juga menentukan destinasi wisata yang akan menjadi tempat berbulan madu mereka di Turki selain museum Rasulullah.


Candaan, gurauan, gelak tawa, dan saling bertukar cerita menjadi pengisi momen kebersamaan Jacob dan Alesha sejak pagi hingga menjelang sore hari. Sangat membahagiakan, bahkan para pelayan pun tersenyum-senyum saat melihat dua majikan mereka yang terlihat begitu mesra.


Lalu disore harinya, Jacob dan Alesha pergi ke salah satu mall terbesar yang ada di Bandung. Mereka membeli semua perlengkapan dan kebutuhan yang akan mereka bawa saat pergi berbulan madu nanti. Sebenarnya Alesha kurang setuju, pasalnya barang dibeli memiliki harga yang tidak rendah, namun Jacob tetap memaksa untuk membeli perlengkapan kebutuhan itu.


Saat waktu maghrib tiba dan terdengar suara adzan yang berkumandang, Alesha dan Jacob menyempatkan untuk menunaikan kewajibannya disebuah mushollah kecil yang ada di dalam mall itu. Selang sepuluh hingga lima belas menit berlalu, ibadah sholat magrib pun selesai, Jacob yang merasa kelaparan akhirnya mengajak Alesha untuk makan disebuah restoran, namun Alesha menolak.


"Kita pesan lalu bawa pulang saja ya makanannya, kepala Alesha pusing," Lirih Alesha.


"Kau kelelahan ya?" Tanya Jacob penuh kekhawatiran.


Alesha mengangguk kecil. "Sepertinya."


"Yasudah ayo, kita pulang sekarang," Tanpa banyak berpikir lagi, Jacob langsung membawa Alesha menuju tempat parkir mobil.


***


Sesampainya di rumah, Alesha langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu agar nanti ia bisa langsung beristirahat.


Alesha pun mandi dalam kurun waktu yang singkat, tubuhnya terasa malayang dan pusing dikepalanya semakin menjadi-jadi.


Lima menit.


Alesha keluar dari dalam kamar mandi dan langsung menuju walk in closet, memilih baju tidur yang dirasa nyaman. Buru-buru Alesha memakai pakaiannya, dan ketika keluar dari ruang ganti baju itu, ia tidak mendapati Jacob di dalam kamarnya.


Tapi suara kucuran air dari dalam kamar mandi membuat Alesha berpikir jika suaminya itu sedang mandi.


Tring.... Tring.... Tring.....


Alesha cukup terkejut karna mendapati layar ponsel Jacob yang tiba-tiba saja menyala.


Panggilan masuk dari Sharon?


Alesha mengerutkan keningnya. Kenapa adik iparnya itu menelpon Jacob?


Penasaran, akhirnya Alesha pun mengangkat dan menerima panggilan telepon itu.


"Hallo, Jack, Mona sakit, kondisinya turun sangat drastis, apa kau bisa menggantikan posisinya untuk sementara waktu? "


Sharon terdengar cukup khawatir dan bicara sedikit terburu-buru. Mungkin ia terlalu panik karna kakaknya, Mona yang tiba-tiba saja jatuh sakit.


" Hallo, Jack, bisa kau dengar aku? "


Alesha bergeming, ekspresinya datar tak terbaca.


" Jack? "


Alesha terkesiap saat Sharon memanggil kembali nama Jacob melalui sambungan telpon itu.


"Ah iya, aku akan mengatakannya pada Jacob," Balas Alesha.


"Alesha? " Pekik Sharon. Ia tidak tahu jika ternyata yang mengangkat panggilannya itu adalah kakak iparnya sendiri.


"Aku akan mengatakan pada Jacob agar dia mau menggantikan posisi Mona untuk sementara waktu," Ucap Alesha.


"Baiklah, tolong katakan pada Jacob jika kondisi kesehatan Mona turun sangat drastis. Ibu bilang selama tiga bulan ini Mona memang tidak memiliki waktu istirahat yang cukup."


"Iya, aku akan mengatakannya."


"Kalau begitu, terima kasih, Alesha."


"Sama-sama."


Setelah itu, sambungan telepon pun langsung terputus kembali.


Alesha terdiam tanpa menunjukan ekspresi apapun. Ia sedih? Bisa dibilang begitu. Mendengar kabar kakak iparnya yang tiba-tiba jatuh sakit membuat Alesha merasa prihatin, namun ada satu hal lain yang membuat Alesha merasa semakin bersedih, yaitu berarti bulan madunya bersama Jacob terpaksa diundur terlebih dahulu.


"Alesha, ada apa? Kenapa kau melamun seperti itu?" Tanya Jacob yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Sharon meneleponmu tadi," Jawab Alesha.


"Sharon menelponku? Ada apa?" Tanya Jacob dengan mimik penasarannya.


"Dia memberitahu jika Mona jatuh sakit, dan kondisinya turun sangat drastis," Alesha menatap wajah suaminya. "Kau diminta untuk menggantikan posisinya terlebih dahulu."


Jacob tertegun!


Mona sakit? Dan Jacob harus menggantikan posisi kakaknya itu untuk sementara waktu?


Bagaimana Jacob bisa membagi waktunya? Ia akan melangsungkan honeymoon bersama Alesha lusa nanti.


Jacob menghembuskan napasnya yang terasa berat. Alesha akan sedih jika honeymoon mereka dibatalkan. Lalu Jacob harus bagaimana?


"Gantikan posisi Mona untuk sementara. Kasihan dia jika harus memimpin induk perusahaan itu sendirian, belum lagi dia punya anak yang masih bayi. Sharon bilang kalau selama tiga bulan ini Mona tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Dia tidak memimpin satu perusahaan kecil, induk dari beberapa perusahaan besarlah yang harus dia urus, wajar jika kesehatannya tiba-tiba turun dengan drastis," Ucap Alesha yang mencoba untuk meyakinkan suaminya agar mau mengambil alih kepemimpinan perusahaan milik Laura selama beberapa waktu.


"Tapi, Al, kita akan..."


"Lupakan honeymoon itu. Kesehatan kakakmu yang paling utama sekarang!" Potong Alesha.


Jacob terdiam kembali sembari terus menatap wajah istri tercintanya. Ia berpirki dan menimbang-nimbang keputusan apa yang harus diambil?