May I Love For Twice

May I Love For Twice
Love Made By Two Person



Warning Keras!!!! Area 17+. Yang masih unyu unyu harap skip aja ya cerita na 😊🙏🤭 (untung author mah tinggal bikin ktp aja, heheh eh🤭😂) Part ini khusus buat penganten baru yaps and bakal lumayan panjang😁☺️


Happy reading ❤️❤️❤️


*


*


**********************************************


**********************************************


Waktu pada jam sudah menunjukan pukul dua belas malam.


Entah bagaimana cara penjabaran yang dapat menjelaskan kalau kedua insan yang sama-sama baru saja menyandang status baru itu menghabiskan waktu malam mereka.


Pertama kali.


Ini adalah pertama kali untuk Alesha dan Jacob tidur dalam satu kamar, dan satu ranjang yang sama dengan status yang sudah berubah tentunya. Wajar saja, mereka sepasang suami dan istri yang baru tadi pagi saling mengikat dalam suatu hubungan suci yang sah, baik secara agama atau pun negara.


Diatas kasur yang berukuran besar itu, Alesha terduduk sendirian sembari memeluk kedua lututnya. Ia termenung, namun detak jantungnya berdetak sangat cepat. Ia sudah selesai membersihkan tubuhnya, dan sekarang baju tidur berbahan lembut dan dingin sudah membaluti seluruh area tubuhnya, kecuali bagian leher dan kepala.


Malam pertama.......


Hal itu terus terngiang dalam pikiran Alesha. Suaminya, Jacob pasti sudah mendambakan malam ini sejak lama, dan sekarang apa yang harus Alesha lakukan? Bahkan Alesha yang tadinya merasa ngantuk dan lelah, kini ia tidak tahu sudah pergi kemana dua hal itu.


Alesha masih bisa sedikit tenang ketika suaminya itu masih sibuk membersihkan diri di dalam kamar mandi, namun setelah setengah jam berlalu, tubuh Alesha langsung menegang dengan segala macam perasaan yang biasa dirasakan oleh para pengantin baru saat akan melewati malam pertama mereka.


Alesha menarik dan menghembuskan napasnya dengan harapan ia bisa merasakan sedikit ketenangan dalam dirinya, namun hal itu tidaklah berhasil.


Jacob sudah selesai mandi, dan kini pria itu sudah keluar dengan keadaan hanya memakai handuk yang menutupi area pinggul hingga pahanya saja.


Refleks, Alesha langsung menutup kedua kelopak matanya saat melihat tubuh suaminya yang half ***** itu.


Jacob terkekeh. Ia gemas pada istrinya yang sedang terduduk anggun diatas kasur. Rasanya ingin sekali Jacob segera menyambangi tubuh istri tercintanya itu.


Dengan langkah samar, Jacob berjalan perlahan mendekati Alesha yang masih menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Hei..." Bisik Jacob tepat ditelinga Alesha.


Alesha terlonjak kaget, dan seperti pada adegan dalam film-film romantis, Alesha dan Jacob saling bertatapan dalam kurun waktu yang cukup lama.


"Alesha..." Panggil Jacob yang terdengar sensual ditelinga Alesha.


Alesha pikir ia sudah bisa menebak maksud dari panggilan suaminya itu. Tubuh Alesha pun semakin menegang, detak jantungnya terus berpacu cepat, panas disekujur tubuhnya hingga membuat wajahnya memerah.


"Kau sangat cantik, sayang," Jacob mengelus pelan puncak kepala hingga punggung Alesha. "Aku benar-benar terkesima denganmu."


Alesha diam seribu bahasa. Mulutnya kaku, tubuhnya membeku, perasaannya sudah lika-liku.


"Dan sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk melakukan hal apapun terhadapmu," Jacob tersenyum nakal, mengisyaratkan suatu hal agar istrinya dapat mengerti. "Jadilah milikku seutuhnya malam ini."


Apa Jacob memintanya? Apa Alesha siap? Apa ini tidak terlalu cepat?


"Aku sudah menahan hal ini sejak dulu, namun sekarang, karna kita sudah menikah, aku ingin merealisasikannya,"


Jacob meraih tengkuk Alesha agar wajah mereka bisa saling berdekatan. "Kau siapkan, sayang?"


Alesha yang tidak begitu fokus pun malah menganggukkan kepalanya dan memberikan persetujuan.


Ya ampun, kenapa Alesha malah ngangguk? Gimana dong?....... Panik Alesha dalam hatinya.


"Terima kasih, sayang," Setelah mengucapkan kalimat itu, tanpa memberikan jeda waktu sedikit pun, Jacob langsung melahap bibir ranum istrinya dengan sangat lembut.


Napas Alesha semakin tidak beraturan, meski ia tidak membalas ciuman yang suaminya berikan, tapi perasaannya beneran tidak dapat ia kendalikan.


"Milikku.." Lirih Jacob disela-sela aktivitasnya. Ia sendiri sudah tidak perduli lagi dengan hal lain. Yang ia inginkan adalah malam ini ia dan Alesha melaksanakan 'Hal itu' untuk melengkapi pernikahan mereka.


"Eungh..." Alesha mulai menikmati alur permainan yang Jacob buat. Gerakan refleksnya membawa kedua telapak tangannya meremas pelan rambut basah Jacob yang beraroma maskulin setelah pria itu berkeramas menggunakan shampo favoritnya. Mata Alesha terpejam, merasakan tekanan dan gigitan lembut dibibirnya.


Jacob sedikit tersenyum, ia bahagia karna Alesha sudah mulai terbawa suasana dengan keintiman mereka. Lalu kini saatnya untuk Jacob melakukan aksinya yang lain. Jemarinya terangkat untuk membuka satu persatu kancing baju tidur yang Alesha pakai.


"STOP!" Tiba-tiba saja Alesha menarik wajah hingga peraduan bibirnya bersama Jacob terlepas dengan paksa. "Apa yang akan kau lakukan?" Alesha menatap penuh ketakutan pada Jacob.


"Melucutimu," Jawab Jacob sangat santai.


"Melucutiku?" Ulang Alesha.


"Kita sudah menikah, Al, jangan takut, aku juga tidak akan bermain kasar denganmu," Ucap Jacob yang terdengar sedikit memaksa. Ya! Ia sudah terangsang, begitu pula dengan adik juniornya.


"Alesha, tenanglah. Aku tahu kau gugup, aku juga sama. Kita belum pernah melakukan hubungan badan sebelumnya, wajar jika kita ragu, malu, atau merasakan kegelisahan besar terhadap 'Hal itu', tapi kita harus memulainya, sayang," Jacob membelai lembut pipi Alesha.


"Aku juga merasakan hal yang kau rasakan saat ini, namun kita harus melawannya, Lil' Ale," Sambung Jacob.


Tatapan Alesha menunjukan sebuah keraguan dan ketakutan yang cukup besar, dan Jacob menyadari hal itu.


"Sayang, kau tidak perlu melakukan apapun jika kau belum bisa melakukan permainannya, biar aku yang melakukannya," Ucap Jacob, meski ia sendiri masih kebingungan bagaimana cara untuk melakukannya. Tapi ia akan mencobanya, hal itu bisa jadi tantangan seru untuk Jacob.


"Kau nikmati saja permainannya," Jacob tersenyum lembut, dan sejurus kemudian bibirnya pun kembali beradu dengan bibir manis istrinya.


Alesha sudah pasrah. Ia tidak boleh menolak keinginan suaminya, karna jika ia menolak maka dosa yang sangat besarlah yang akan ia dapatkan.


Alesha pun memejamkan matanya kembali, ia harus menikmati permainan suaminya untuk melenyapkan perasan ragunya.


Kau akan menjadi milikku seutuhnya mulai malam ini. Hanya aku saja yang boleh menyetubuhimu, Alesha, tidak akan aku biarkan pria lain merebutmu dariku........ Tekad Jacob. Lalu ia kembali melanjutkan aksinya untuk melucuti pakaian yang Alesha kenakan.


Perlahan tapi pasti, barisan benang-benang yang melapisi tubuh mungil Alesha mulai melorot ketika dua telapak tangan besar itu menggiring untuk merosoti bahu dan lengan minimalis Alesha.


Tidak ada perlawanan atau penolakan lagi dari Alesha, ia tetap membiarkan suaminya itu bermain sesuka hati dan sepuas mungkin. Mulai saat ini Alesha harus bisa berpikir lebih dewasa, ia adalah seorang istri, dan salah satu tugas seorang istri adalah memberikan kebahagiaan untuk suami diatas ranjang.


Sekarang, baju atasan yang Alesha kenakan sudah terlempar kesembarang, dan dihadapan Jacob juga sudah tersuguhkan sebuah pemandangan indah dimana dua gumpalan aset berharga istrinya terbungkus oleh busa cekung dengan tali pengait berwarna hitam, sangat kontras dengan kulit Alesha, dan begitu menggiurkan untuk dapat Jacob nikmati.


Darah Jacob semakin panas dan mendidih karna matanya terus terpaku pada tubuh bagian atas Alesha yang begitu mulus seperti seputih susu full cream. Jacob sendiri sedang menyiapkan diri untuk melanjutkan aksinya itu ke level selanjutnya.


Kamu harus bisa bahagiain suami kamu, Alesha, jangan sampe kamu bikin Mr. Jacob kecewa karna terlalu gugup dan malu-malu untuk diajak berhubungan....... Alesha berusaha untuk menenangkan dan meyakinkan dirinya jika ia harus membuat suaminya, Jacob merasa puas malam ini.


"Eemm..." Alesha menjambak pelan rambut Jacob karna ia mulai kehabisan napas.


Mengerti akan hal itu, Jacob pun langsung melepaskan ciuman sensasionalnya.


"Waw, Alesha..." Kalimat itu menjadi gambaran mengenai apa yang sedang Jacob rasakan dan pikirkan saat ini.


Cepat-cepat Alesha memeluk kedua bahunya sendiri untuk menutupi area dadanya yang terekspos begitu jelas.


Jacob terkekeh mendapati respon istrinya ketika ia terus memfokuskan pandangannya pada tubuh indah istrinya itu.


Jiwa lelaki Jacob sudah meronta-ronta saat ini. Pria normal mana yang tidak terangsang ketika melihat bentuk indah dari seorang wanita bertubuh imut.


"Jack...." Lirih Alesha.


"Kita lakukan ini pelan-pelan, aku tidak ingin menyakitimu," Ucap Jacob. Ia kembali mendekatkan dirinya dengan sang istri.


"Aku mencintaimu, sayang," Jacob langsung mendekap tubuh Alesha dan membawa tubuh imut istrinya itu untuk berbaring diatas ranjang sutra.


Belaian, kecupan, usapan, Jacob mengabsen setiap jengkal wajah istrinya, lalu turun menuju area leher.


"Mr. Jacob..." Tanpa terasa, desahan Alesha lolos begitu saja saat Jacob menikmati kulit lembut lehernya.


Jacob semakin bersemangat dan gairahnya kian memuncak saat mendengar namanya disebut dengan indah oleh Alesha.


"Argh, geli," Tubuh Alesha menggelinjang ketika merasakan gerakan kilat dari lidah suaminya yang bermain diarea atas dadanya.


Puas dengan ulahnya itu, Jacob mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah manis istrinya.


"Siap, Alesha?"


Alesha mengangguk pasti. Siap atau tidak siap, Alesha harus siap. Ia bertekad untuk tidak akan membuat suaminya, Jacob merasa kecewa dimalam pertama mereka.


"Aku tidak akan bermain kasar, kita lakukan dengan pelan-pelan," Jacob mencium puncak kening istrinya dengan penuh cinta. Kini adalah saat untuknya juga sang adik kecil beraksi.


"Ayo bangun," Ucap Jacob begitu lembut. Ia menarik lengan Alesha untuk terbangun dan berdiri ditepi ranjang.


Alesha kembali memeluk bahunya untuk menutupi area dadanya. Ia sadar dengan tatapan lapar Jacob saat ini.


Sejenak, Alesha mematung tanpa berani menatap wajah suaminya. Ia hanya menatap lurus pada area dada Jacob yang terpampang dengan sangat jelas dihadapannya.


"Mau aku yang membukanya atau kau yang membuka celanamu sendiri?" Goda Jacob.


"Tidak! Kau saja terlebih dahulu!"


Ups! Begitulah akibatnya jika Alesha terlalu grogi, asal ceplos saja jadinya.


Satu alis Jacob terangkat dengan seringai yang langsung terukir. Jadi, Istri kecilnya itu menantangnya ternyata. Begitulah pikir Jacob. "Baiklah, sayang," Tanpa merasa malu atau ragu sedikit pun, Jacob langsung saja membuka handuk putih yang menutupi area pinggul hingga pahanya.


Alesha sedikit terlonjak dan langsung memejamkan matanya, tidak berani melihat tubuh kekar suaminya yang sudah full *****.


"Giliranmu, sayang," Ucap Jacob yang terdengar serak-serak basah.


Bagaimana ini? Alesha harus tampil bugil dihadapan suaminya saat ini? Ayolah, Alesha benar-benar malu. Apa dan bagaimana sekarang?


"Khusus untuk yang atas, biarkan aku yang membukanya sendiri," Lanjut Jacob.


"Tutup matamu!" Perintah Alesha yang masih memejamkan matanya.


Alesha memiliki ide lain. Ia pun akhirnya memutar tubuh Jacob untuk membelakanginya.


"Jangan berbalik sebelum Alesha menyuruhnya!" Tegas Alesha yang terdengar lucu untuk Jacob.


"Baiklah..." Balas Jacob, santai.


Alesha menghembuskan napasnya dengan tenang. Oke, saat ini adalah gilirannya untuk melucuti pakaiannya sendiri, kecuali bagian atas yang memang sudah hanya tersisa bra saja.


"Sudah?" Tanya Jacob.


"Sudah.." Lirih Alesha.


Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Jacob pun langsung membalikkan tubuhnya dan membuat Alesha terkejut bukan main.


"Siapa yang menyuruhmu untuk berbalik sekarang!" Pekik Alesha.


Jacob tidak perduli dengan ucapan istri kecilnya itu. Kini ia benar-benar terpaku akan keindahan tubuh bagian bawah miliki istrinya.


Alesha bergerak tidak karuan, ia begitu salah tingkah karna mendapati Jacob yang sangat fokus melihat ke arah tubuhnya yang juga sudah *****.


"Kau tidak pernah mengecewakanku, Alesha," Suara serak basah itu membuktikan betapa tingginya keinginan Jacob untuk menikmati setiap jenjang tubuh istrinya.


Lalu tanpa ada perizinan dari sang pemilik tubuh, Jacob langsung meraih pinggang ramping Alesha dan mengangkatnya dengan sangat mudah. Jacob langsung menikami wajah Alesha dengan banyaknya ciuman hingga membuat Alesha sendiri merasa kewalahan untuk menghindari ciuman-ciuman kilat yang Jacob berikan.


Alesha sedikit meronta, namun tenaganya kalah jauh dari tenaga milik suaminya. Sekarang Alesha berpikir, mungkin malam ini ia akan menjadi santapan nikmat dari kerakusan gejolak cinta suaminya sendiri.


Jacob pun sudah membawa Alesha untuk kembali berbaring diatas kasur. Cumbuan Jacob semakin liar, ganas, dan cepat, belum lagi sebelah telapak tangannya yang mulai asik meremasi bukit berukuran sedang milik istrinya. Meski memiliki badan yang relatif mungil, namun Alesha memiliki cukup banyak lemak diarea dadanya.


Sebelah tangan Jacob yang lain merayap kebelakang punggung jenjang istrinya untuk melepas kaitan bra yang masih terpaut.


"Jack, pelan-pelan..." Lirih Alesha saat ia mendapatkan celah untuk berbicara.


Ya ampun! Jacob lupa! Ia baru ingat jika ia akan melakukannya dengan hati-hati supaya tidak menyakiti istrinya.


"Maaf, Alesha. Aku lupa!" Ucap Jacob dengan parau. Ia malah merasa bersalah pada Alesha sekarang.


"Iya, tidak apa-apa, tapi jangan seperti barusan lagi," Balas Alesha, pelan.


"Tidak akan, sayang," Jacob mengusap lembut wajah manis istrinya.


"Bisa kita langsung keintinya sekarang, Jack?"


Apa?!.....


Sebentar.....


Jacob tidak salah dengar kan? Alesha memintanya untuk langsung keinti? Inti dari perkawinan yang sedang berlangsung saat ini?


"Alesha, kau?" Jacob berkerut bingung.


"Jangan menundanya jika kau menginginkan sekarang. Alesha sudah siap,"


Sepertinya Alesha serius dengan ucapannya itu.


Ya, memang benar. Alesha mengatakan itu karna ia sudah mulai merasa lelah kembali. Tubuhnya tidak memiliki banyak tenaga lagi, sedangkan ia masih harus melayani suaminya. Jadi, Alesha memutuskan untuk melanjutkan perkawinannya bersama sang suami dengan langsung menuju keinti.


"Cepatlah, Jack," Racau Alesha. Entah apa yang akan terjadi dengannya esok pagi. Saat ini saja tulang-tulangnya seperti melunak, belum lagi rasa ngilu dan nyeri yang mulai merayapi tubuhnya.


"Baiklah, baiklah, kita akan lakukan ini dengan perlahan," Antara senang bercampur bingung, Jacob pun mulai memposisikan tubuhnya untuk memulai perkawinan yang sesungguhnya bersama sang istri tercinta.


"Tahan sebentar, Alesha. Ini akan sedikit sakit, namun setelah itu kau akan menikmatinya, sayang," Sesaat sebelum masuknya penyatuan itu, Jacob pun menciumi wajah Alesha dengan penuh kelembutan.


Jantung Alesha berdebar sangat kencang ketika ia merasakan sesuatu yang mengganjal diantara kedua pahanya. Kepanikan pun meresap dalam diri Alesha saat Jacob semakin menyiapkan ancang-ancang untuk memperawani dirinya.


Tubuh Alesha mulai bergetar. "Jack..." Parau Alesha.


"Tidak apa-apa, sayang," Balas Jacob sembari mengangkat kedua lengan istrinya untuk melingkari lehernya. "Jambak, cakar, atau lakukan hal apapun yang bisa membantumu untuk menahan rasa sakitnya."


Alesha hanya menganggukkan kepala sebagai balasan.


"Kita mulai, Alesha," Jacob kembali mencium bibir istrinya. Ia berniat untuk melakukan penyatuan itu sembari tetap menautkan perpaduan bibir dan mulutnya dengan sang istri. Jacob pikir hal itu bisa memberikan sedikit bantuan pada Alesha untuk menahan rasa sakit ketika penyatuan itu berlangsung.


"Bismillahirrahmanirrahim...." Ucap Jacob dan Alesha secara bersamaan sekalian dengan terhembusnya satu tarikan napas.


Lalu sepersekian sedetik setelah itu...........


*


*


"Aaaaaa......."


Jacob langsung menyambar mulut istrinya dengan mulutnya sendiri untuk menghalau teriakan yang keluar dari pita suara Alesha.


Tubuh Alesha bergetar hebat dibawah naungan tubuh besar suaminya. Jemari Alesha meremas kuat kedua bahu Jacob saat ia merasakan sakit yang benar-benar menyakitkan akibat selaput daranya yang sudah robek.


"Hiks, hiks.." Air mata Alesha menetes saking tidak kuasanya menahan rasa nyeri, ngilu, dan sakit yang amat sangat itu.


Jacob sendiri langsung memeluk erat tubuh gadis yang kini sudah ia perawani dalam hubungan yang sah sebagai suami dan istri.


"Terima kasih, Alesha, terima kasih sudah membuatku menjadi lelaki sejati sekarang," Ucap Jacob lalu kembali menciumi wajah juga mata Alesha.


Selama beberapa menit, Alesha dan Jacob sama-sama terdiam dan saling berpelukan untuk memberikan waktu adaptasi pada penyatuan mereka.


Tidak terkira sakit yang Alesha rasakan pada area bawah tubuhnya. Lemas sudah Alesha sekarang ini, energinya semakin menyurut karna rasa lelah yang semakin bertambah.


"Masih sakit, Alesha, hmmm?" Tanya Jacob begitu lembut.


"Tidak."


"Mau dilanjutkan sekarang?"


"Pelan-pelan tapi," Ucap Alesha dengan sangat lemah.


"Tentu, tuan putri Ale," Lagi, Jacob menciumi wajah istrinya lagi sebelum melanjutkan permainan mereka. Lalu setelah merasa puas, barulah Jacob melanjutkan kembali misinya untuk menelusuri tubuh Alesha, baik luar, atau pun dalam.


Malam itu pun terus berjalan dengan situasi dan kondisi yang jauh berbeda dari yang biasanya mereka berdua lalui. Jacob pun dibuat semakin bersemangat saat mendengar erangan-erangan kecil, desahan halus, dan racauan yang istrinya keluarkan kala ia menyetubuhinya dengan gerakan yang lembut dan pelan.


Tubuh Alesha bergeliat dibawah tubuh besar suaminya, merasakan setiap sensasi luar biasa yang benar-benar kentara. Alesha pasrah, ia hanya mengikuti alur permainan yang dipimpin oleh Jacob.


Senyum puas mengukir sebuah kebahagiaan pada wajah Jacob. Akhirnya, hal yang selama dua tahun ini ia tahan, kini bisa terwujudkan dengan sangat amat sempurna. Jacob begitu menyukai hal ini, ia sangat suka tubuh Alesha yang kecil namun cukup berisi.


Keindahan malam itu semakin membawa Jacob untuk terus memberikan kepuasan batiniah pada istri tercintanya. Timbal balik pun tentunya Jacob terima, meski Alesha tidak terlalu berperan dalam perkawinan itu, namun Jacob benar-benar merasa puas akan apa yang istrinya miliki.


"Jack...." Lirih Alesha yang sudah sangat lelah dengan permainan halus suaminya. Mata Alesha terpejam, lalu terbuka kembali. Ia mengantuk, ia lelah, seharian tubuhnya tidak beristirahat, dan malam ini ia kembali melakukan aktivitas panas bersama suaminya.


Entah sampai kapan Alesha bisa bertahan lagi, ia masih melihat dan menyadari semangat Jacob, namun ia benar-benar kelelahan sekarang ini. Dua jam lebih keintiman itu berlangsung, bahkan sesekali Alesha harus berteriak kecil karna ulah Jacob yang begitu gemas dengan tubuh mungil milik istri mudanya.


"Jack..."


"Hmmm..." Jacob hanya berdehem saja, ia terlalu asik menyesapi leher juga dada istri kecilnya itu.


Jujur saja, Jacob sangat suka dengan tubuh Alesha yang ternyata lebih mungil ketika tidak dilapisi sedikit kain pun, mungkin selama ini pakaian yang Alesha kenakan berukuran satu size lebih besar dari ukuran tubuh aslinya, ditambah dengan kulit putih susu Alesha, semakinlah Jacob dibuat enggan untuk mengakhiri permainannya itu.


"Jack..." Alesha meremas lembut rambut Jacob yang berada tepat dibawah dagunya.


"Sakit..." Rintihan itu lolos begitu saja saat Alesha merasakan sensasi perih pada leher dan dadanya.


Jacob menaruh banyak tanda kepemilikan di sana, namun ketika ia mendengar keluhan Alesha barusan, ia pun mengangkat wajahnya kembali untuk dapat saling bertatapan dengan istri tercintanya.


"Kau lelah ya?" Tanya Jacob begitu lembut. Akhirnya, pria itu menyadari apa yang sejak tadi Alesha tahan.


Alesha pun mengangguk pelan.


Sejurus kemudian, Jacob menjatuhkan tubuhnya kekasur sembari tetap memeluk tubuh Alesha. Kini mereka saling memeluk satu sama lain dengan posisi tubuh yang memiring.


"Tidurlah, cukup untuk malam ini, Alesha," Ucap Jacob seraya mengelus lembut punggung istrinya.


Alesha pun langsung memejamkan matanya dalam pelukan hangat sang suami. Ia menelusupkan wajahnya pada dada bidang Jacob yang beraroma maskulin.


"Terima kasih, sayang, aku mencintaimu, Alesha, sangat mencintaimu," Jacob mengangkat wajah istrinya dan mendaratkan banyak ciuman di sana.


Mata Alesha tetap terpejam, tidak perduli dengan Jacob yang terus mencumbu wajahnya.


"Bacalah doa terlebih dahulu, Alesha."


Alesha yang mendengar ucapan itu pun langsung merapalkan doa dalam hatinya. Ia terlalu lelah, tidak mampu lagi untuk membalas ucapan suaminya, Jacob.


Tidak butuh waktu lama, kurang dari dua menit, Jacob mendapati Alesha yang sudah tertidur lelap.


"Kau pasti sangat kelelahan, maaf, Alesha karna aku memintanya malam ini juga," Gumam Jacob sembari memainkan bulu mata Alesha yang nampak melengkung indah saat sang empunya sedang terpejam.


Entah kenapa, malam ini Jacob enggan untuk tertidur, ia malah tetap terjaga sembari terus memandangi wajah damai Alesha yang tertidur lelap dalam pelukannya.


...................


.......................................


...................................................................


Fiks, part ini author na salah tingkah, gelagapan, gemeteran sendiri 😭😭 help me😭 aduh maap keun ya kalo terlalu vulgar, maklum masih terlalu amatir dan gak pandai milih kata-kata yang enak 🙏🙏😭😭