
Mr. Thomson langsung terhenyak lalu menarik napas panjang saat melihat raut syok yang tertera jelas pada wajah Jacob.
"Mr. Thomson, apa maksudnya itu?" Tanya Jacob begitu dingin dengan napas yang mulai terengah-engah akibat menahan emosi yang langsung menggunduk dalam hatinya.
Seisi ruang aula pun langsung meliriki Jacob dengan tatapan bingung tanpa mengeluarkan suara atau komentar sedikit pun. Kini mereka merasakan seperti ada aura gelap dan menakutkan yang terpancar dari seorang Jacob.
"Mr. Thomson! Apa yang sudah Mr. Frank putuskan untuk anggota timku!" Nada bicara Jacob yang kian menaik membuat Mr. Thomson sedikit gelagapan karna bingung harus menjawab apa.
"Mr. Thomson, kau masih bisa membuka mulutmu dan menjawab pertanyaanku bukan?" Sindir Jacob dengan tatapan amat tajam yang membidik wajah khususnya mata Mr. Thomson.
"Jack, tenanglah.." Lirih Mr. Thomson yang sama sekali tidak dianggap oleh Jacob.
"Jacob, i-ini kepu-tusan SIO dan p-para pengurus-nya, anggota timmu, akan me-menjalani ujian - akhir...." Mr. Thomson pun menarik napas sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Di Himalaya..."
"APA? HIMALAYA?!" Bentak Jacob yang menggema diseluruh ruang aula.
Mr. Thomson sudah menebak, ia tahu penyebab Jacob naik pitam, tapi Mr. Thomson tidak bisa melakukan apapun, SIO sudah menetapkannya, dan Jacob mau tidak mau harus menerimanya. Mr. Thomson sadar akan keputusan Mr. Frank yang akan mengirim anggota tim Jacob kembali ke Himalaya lagi.
"KALIAN YANG MEMAKSAKU UNTUK KEMBALI MEMENTORI ANAK MURID WOSA DENGAN ALASAN KALAU AKU AKAN MENEMUKAN KEMBALI KEBAHAGIANKU DAN DAPAT MELUPAKAN KEDEPRESIANKU!! TAPI SEKARANG KALIAN MENCOBA UNTUK KEMBALI MENJERUMUSKANKU!! APA SEBENARNYA YANG KALIAN INGINKAN?!!!"
Amarah Jacob begitu menggelegar, sekarang Alesha dan yang lain melihat emosi Jacob yang sungguh meledak-ledak. Gemaan suara yang begitu nyaring dan menakutkan membuat siisi ruang aula bergeming. Mereka merasakan aura gelap penuh amarah yang mengelilingi Jacob.
"TIMKU TIDAK AKAN PERNAH PERGI KE HIMALAYA LAGI!!" Jacob mendorong kencang bangku yang ia duduki. Ia pun menghentakkan kakinya dengan kasar dan melaju secepat mungkin meninggalkan ruang aula yang kini sepi sunyi dan tak terusik akibat luapan kemarahan Jacob yang begitu mengejutkan dan menakutkan.
Mr. Thomson tidak bisa mengatakan apapun. Ia tahu Jacob akan sangat marah, Mr. Thomson juga tidak mau membuat Jacob kembali mengingat masa kelamnya, karna bagaimana pun juga sudah banyak sekali hal dan pengorbanan yang agent hebat itu lakukan untuk SIO dan WOSA.
Mr. Thomson pun ingat akan suatu hal, ia tahu kalau Jacob yang sudah menaruh hati pada salah satu murid WOSA, yaitu Alesha. Tanpa membuang-buang waktu, Mr. Thomson pun segera memerintahkan Alesha untuk menyusul mentornya.
"Alesha, susul Jacob, bawa dia dalam ketenangan, jangan biarkan depresi kembali merasukinya dan yakinkan dia jika anggota timmu, khususnya kau akan aman saat ujian terakhir kalian nanti."
"Aku?" Alesha menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung. "Yang lain?"
"Tidak. Kau satu-satunya yang bisa meyakinkan Jacob dan menetralisir kemarahannya. Dia tidak akan mendengarkan siapa pun, kecuali kau, Alesha."
Alesha bergeming. Ruangan aula utama itu semakin hening saat semua pasang mata menatap lurus padanya.
"Alesha, jangan banyak berpikir. Kejar Jacob dan tenangkan dia. Hanya kau yang bisa membujuknya." Ucap Mr. Thomson dengan datar dan setenang mungkin, walau ada rasa bersalah dalam hatinya terhadap salah satu agent terbaik SIO tersebut.
Alesha menolehkan kepalanya ke arah pintu utama gedung aula yang setengah terbuka, lalu setelah itu ia kembali menatap pada Mr. Thomson.
Anggukan kecil yang Mr. Thomson tunjukkan membuat Alesha bangkit secara ragu untuk mengejar mentornya.
Apa ia bisa? Apa Alesha bisa meyakinkan mentornya itu?
Alesha pun segera berlari meninggalkan ruangan rapat dalam gedung aula itu dan secepat mungkin menyusul mentornya.
"Mr. Eve, apa yang terjadi dengan Mr. Jacob? Kenapa dia tiba-tiba menjadi seperti itu?" Tanya Brandon yang berbisik pada mentornya.
Eve tidak langsung menjawab. Ia termenung lumayan lama dengan tatapan lurus datar, mengingat kala itu Jacob yang begitu depresi karna ditinggalkan oleh Yuna. Mungkin Eve juga akan melakukan hal yang serupa jika ia ada diposisi Jacob sekarang.
"Mr. Thomson, kau bisa membunuh Jacob secara perlahan dengan membawa kembali ingatan kelamnya lima tahun yang lalu." Ucap Eve yang mantap penuh keseriusan pada Mr. Thomson.
"Bukan aku yang menentukannya, Eve. Aku tahu keputusan ini akan beresiko besar membangkitkan kembali trauma Jacob, namun SIO yang sudah menetapkannya." Jawab Mr. Thomson.
"Aku mungkin akan menuntut Mr. Frank jika aku berada diposisi Jacob. Kalian bukan yang mengemis pada Jacob agar dia mau kembali pada SIO dan WOSA setelah Yuna menghilang, padahal kalian tahu kondisi Jacob waktu itu. Apa yang kalian inginkan?" Sindirian keras sengaja Eve lontarkan, pasalnya anggota timnya juga akan dikirim ke Himalaya untuk ujian akhir nanti.
"Kau ingatkan bagaimana kejadian lima tahun lalu yang menimpa anggota timku, Laras, dan Jacob? Apa sebenarnya yang SIO pikirkan? Himalaya terlalu berbahaya! Anggota timku juga celaka dan banyak mengalami cedera parah karna kalian mengirimnya ke sana! Memang waktu itu anggota timku berhasil mendapatkan sebongkah meteor langka yang kalian incar dan inginkan, tapi mereka juga menderita karna badai itu!!"
Boleh dibilang Eve sedang dilanda rasa traumanya saat ini. Ia pun turut marah terhadap keputusan SIO yang akan mengirim anggota timnya ke Himalaya juga.
"Jangan korbankan anak-anak WOSA dalam misi kalian! Suruh para ilmuan untuk menemukan yang kalian inginkan!! Jangan jadikan ujian akhir para murid WOSA sebagai alat untuk kalian menemukan benda-benda atau artefak yang masih belum ditemukan!! Seharusnya kau bisa lebih bijak, Mr. Thomson!! Kau kepala sekolah di sini!! Aku tidak mau anggota timku celaka lagi, tidak perduli mereka berhasil atau tidak!! Pertimbangankan lagi keputusannya!! Jangan buat aku dan Jacob menderita karna rasa trauma kami akibat kejadian lima tahun lalu!!!"
Eve pun bangkit dari duduknya dengan emosi yang sudah tersulut. Sungguh ia kecewa terhadap keputusan SIO yang akan mengirim anggota timnya untuk melaksanakan ujian akhir di Himalaya lagi.
"Mr. Eve!" Panggil Brandon yang sama sekali tidak digubris oleh Eve. Melihat mentornya yang marah, Brandon jelas merasa bingung terlebih pada ucapan mentornya barusan.
"Mr. Thomson, Jacob, Eve, dan aku sudah tahu bahayanya mengirim anak murid WOSA ke wilayah Himalaya. Terlalu beresiko." Ucap Laras pada Mr. Thomson. "Jacob dan Eve tidak akan menerima ini, Mr. Thomson. Tim mereka sama-sama kacau karna menjalani ujian akhir di Himalaya. Berhenti mempermainkan WOSA!! Benar kata Eve, jika SIO menginginkan benda-benda atau artefak yang masih tersembunyi dan belum ditemukan, suruh lah para ilmuan, jangan manfaatkan anak-anak WOSA, mereka masih perlu bimbingan! Aku benar-benar kecewa dengan keputusan ini."
Mr. Thomson menghembuskan napasnya yang terasa berat. Ia menjadi pusing dan bingung sekarang. Satu sisi ia tidak tega pada Jacob dan Eve, tapi disisi lain ia memang sudah diperingatkan oleh Mr. Frank untuk tetap memaksa mengirimkan anggota tim Jacob dan Eve ke Himalaya. Mr. Thomson tahu, ini memang akal-akalan SIO untuk melacak keberadaan beberapa bongkahan meteor yang berada dibeberapa titik di Himalaya. Memanfaatkan anggota tim Jacob dan Eve agar menemukan jejak-jejak lokasi meteor yang terpendam itu. Kenapa harus anggota tim Jacob dan Eve? Karna memang dia kelompok tim itulah yang terbaik jika dilihat dari siapa yang mementorinya.
Mr. Frank, sang kepala dari SIO begitu yakin pada anggota tim Jacob dan Eve karna ia tahu kalau Jacob dan Eve memiliki cara mengajar dan memberikan pelatihan yang berbeda yang pastinya dapat menjamin kualitas hasil didikan yang akan membanggakan. Itulah mengapa Mr. Frank ingin memanfaatkan tim Jacob dan Eve untuk menemukan jejak-jejak keberadaan batu meteor super langka yang berada di Himalaya.
***
Jacob sendiri sudah sampai di ruangannya saat ini. Ia begitu beramarah dan mulai lepas kendali akibat emosi yang membludak.
Lalu Alesha, setelah berlari secepat mungkin, ia akhirnya sampai dan langsung membuka pintu ruangan mentornya dengan gerakan cepat. Dan benar saja, di depan matanya ia sudah melihat kalau beberapa benda pribadi milih mentornya itu sudah berserakan dilantai.
"Mr. Jacob, tenanglah." Alesha berlari menghampiri mentornya dan langsung memeluk tubuh besar itu dengan sangat erat. "Tenang, kau harus tenang sekarang." Alesha memeluk punggung lebar Jacob dan mencoba menahan agar mentornya itu tidak melakukan hal-hal buruk lagi.
"Mr. Jacob, kumohon." Lirih Alesha disertai isakan yang mulai terdengar.
"Aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi Alesha. Aku takut! Bagaimana jika hal yang sama terjadi dua kali? Aku tidak ingin kehilangan kalian..."
Tubuh Alesha sedikit tersentak saat mentornya itu tiba-tiba saja memeluk dengan sangat erat seperti tidak rela jika harus melepaskannya kembali.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, Alesha..."
Tikaman mentah kembali hati Alesha dapatkan setelah Jacob mengucapkan kalimat itu. Membuat sebuah bercak luka tak berdarah yang menyakitkan.
Aku bukan Yuna, Mr. Jacob....
"Tidak, Mr. Jacob, kau tidak akan kehilangan siapa pun. Percayalah."
"Siapa yang dapat menjamin kalau aku tidak akan kehilangan kalian, terutama kau, Alesha?"
"Mr. Jacob, kumohon jangan seperti ini. Biarkan kami menjelajahi Himalaya. Kami perlu menguatkan mental kami agar kami siap bekerja di SIO. Bukannya setelah kami lulus dari WOSA, pekerjaan kami adalah melakukan eksplorasi, atau melakukan penelitian seperti yang akan kami lakukan minggu depan? Tidak apa Mr. Jacob, tidak akan terjadi apapun, kau percaya bukan pada kami. Lalu apa gunanya selama dua tahun kami menempuh pendidikan dan kau mengajarkan kami segala hal dan teknik bela diri jika kau sendiri melarang kami untuk melaksanakan ujian akhir itu."
"Tidak, Al. Kau tidak tahu bahayanya seperti apa." Ucap Jacob dengan terus mengencangkan pelukannya. Perasaan akan kehilangan seseorang yang berharga lagi membuat Jacob ketakutan setengah mati. Ia mengingat semua masa-masa itu, saat ia menggila akibat depresi berat setelah kehilangan Yuna.
"TIDAK!! Jangan! Alesha, jangan buat aku semakin tidak rela membiarkan kalian menjalani ujian akhir itu."
"Maka dari itu, tenanglah. Kita akan baik-baik saja. SIO juga pasti akan memantau dan memastikan agar ujian akhir kami berjalan baik-baik saja." Alesha mendorong tubuh Jacob lalu melepaskan pelukannya.
"Mr. Jacob, jangan jadikan kepergian Yuna sebagai alasan untuk melarang kami menjalani ujian akhir di Himalaya. Mungkin timmu dahulu sedang tidak beruntung, tapi timmu yang sekarang.." Alesha menyunggingkan senyum terbaiknya. "Kami akan beruntung dengan mendapatkan bongkahan batu meteor itu."
"Aku mencintaimu, Alesha."
Tidak perduli dengan apa yang akan Alesha lakukan atau pikirkan, Jacob langsung saja membungkukkan tubuhnya lalu mencium bibir Alesha begitu posesif.
Sedangkan Alesha sempat terlonjak kecil karna terkejut, namun setelah ia hanya bisa terdiam, membiarkan mentornya itu menjamah bibirnya dengan penuh kehangatan dan kelembutan.
Tapi tidak tahu kenapa, ketika Jacob menciumnya, Alesha malah merasa kalau hatinya seperti remas hingga terasa sesak pada dadanya.
Mr. Jacob takut kehilangan Alesha karna Alesha udah bikin Mr. Jacob ngerasa deket sama Yuna bukan? Apa yang bisa Alesha lakuin sekarang?............ Rintih hati Alesha.
"Berjanjilah jika kalian akan baik-baik saja, aku akan langsung membunuh diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada kalian, terutama kau, Alesha."
"Syut.. Mr. Jacob, jangan bilang seperti itu. Kami akan baik-baik saja." Balas Alesha begitu lembut.
Jacob menutup matanya merasakan belaian lembut dari usapan telapak tangan Alesha diwajahnya.
"Kami akan baik-baik saja. Tidak akan ada hal buruk yang akan menimpa kami, Mr. Jacob." Alesha menarik napas panjangnya, ia harus mengucapkan sebuah kalimat agar membuat mentornya semakin yakin, walau aslinya kalimat itu pasti akan sangat melukai hatinya sendiri. "Aku mencintaimu, Mr. Jacob, aku juga tidak mau jika kita harus berpisah dengan cepat. Aku berjanji untuk menjaga diriku sendiri dan tim agar kita bisa terus bersama-sama."
"Berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkan aku, Alesha." Jacob menatap sayu pada gadis yang ada dihadapannya itu. Ia benar-benar tidak rela jika harus kehilangan Alesha, cintanya sudah sangat besar, dua tahun kebersamaan mereka, dipenuhi oleh tawa kebahagiaan, dan harus diakhiri oleh petaka yang mematikan? Mungkin Jacob akan langsung membunuh dirinya sendiri jika petaka lima tahun lalu yang terjadi pada timnya kembali terjadi pada timnya yang sekarang ini.
"Aku akan selalu ada bersamamu, Mr. Jacob."
"Tetaplah bersama timmu nanti, jangan pernah berpencar." Amanat Jacob.
Alesha menganggukkan kepalanya, tersenyum manis lalu mengacungkan sebelah jempolnya. "Siap, Pak."
"Sudah jangan menangis lagi, Mr. Jacob. Kau pria kuat, masa hanya karna hal seperti ini saja kau menangis." Candaan Alesha itu membuat kekehan kecil terhadap diri Jacob.
"Aku menangis karna aku takut kehilangan kalian, terutama kau, My Lil' Ale." Senyum kecil kembali terukir pada bibir Jacob.
"Kenapa kau selalu memanggilku dengan sebutan Lil' Ale? Aku tidak bogel dan pendek, di Indonesia aku tergolong remaja yang memiliki tubuh tinggi semampai!" Alesha mendengus sebal. Mungkin cara itu bisa Alesha lakukan agar membuat mood mentornya membaik kembali.
"Berapa tinggimu?"
"Seratus enam puluh tiga centimeter."
Jacob pun terkekeh kembali, malah sekarang ia mencubit gemas kedua pipi Alesha. "Tetap saja, jika bersamaku tubuhmu itu tidak ada apa-apanya, Alesha."
"Ish, terserah. Ayo kita harus kembali ke aula sekarang." Balas Alesha.
"Alesha...." Jacob menahan lengan Alesha. Tampak kembali tatapan keraguan dan ketakutan itu pada wajah Jacob.
Alesha menghela napasnya. "Mr. Jacob, kami akan baik-baik saja, tidak akan ada sesuatu yang buruk menimpa kami. Kau takut seperti itu karna rasa traumamu, coba jika kau tidak trauma, kau pasti tidak akan seperti ini."
"Aku menuntut kalian untuk kembali lagi, tidak perduli dapat atau tidaknya meteor itu, pokonya kalian harus kembali!"
"Iya! Iya, Mr. Jacob. Lalu jika kami tidak kembali, memangnya kami akan kemana lagi? Pergi mengunjungi rumah Yeti lalu mengucapkan 'Hai, perkenalkan, kami tim Luxury-1 dari WOSA, boleh kami berkenalan dan menginap di rumahmu?' seperti itu, Mr. Jacob?"
Jacob tertawa kecil mendengar humor Alesha barusan. Bahkan disaat seperti itu, Jacob tidak habis pikir bagaimana bisa Alesha menghiburnya dengan humor yang sereceh itu.
"Memangnya Yeti ada?" Balas Jacob.
"Bisa jadi. Jika memiliki kesempatan, kami akan mengambil foto dan menghabiskan waktu bersama mereka..."
"Sudah, sudah. Terima kasih, Al. Kau memang selalu bisa memberikan hiburan padaku walau disaat seperti ini."
"Siapa dulu, Alesha gitu loh." Alesha berlenggok manja, membuat Jacob gemas dan ingin mengukung gadis itu dalam pelukannya lagi.
Setelah itu, mereka pun kembali menuju aula agar bisa mengetahui info lebih lanjut mengenai ujian akhir yang akan terlaksanakan seminggu lagi.
Di lain tempat, tepatnya di markas terbaru Vincent dan para anak buahnya di kota New York, Amerika Serikat. Kini pria itu sudah mendapatkan kabar kalau seluruh murid senior WOSA akan melaksanakan tugas akhir dari Stella, si pengkhianat.
Ya. Bahkan setelah satu tahun lebih, Stella masih saja bekerja sama dengan Vincent demi bisa merebut Jacob. Stella dan Vincent tinggal disatu kota yang sama, tentu saja itu akan memudahkan mereka untuk dapat bertemu dan membahas rencana.
Stella sudah mengetahui rencana Vincent yang akan membunuh Alesha di Himalaya, dan tentunya hal itu membuat Stella merasa bahagia. Sejak keluar dari WOSA, kini Stella menekuni profesi barunya sebagai peretas handal dan bergabung dalam kelompok Vincent tanpa sepengetahuan orang tuanya. Stella sudah berhasil membuka data digital milik WOSA yang menunjukkan dimana lokasi dan tugas apa yang akan dilaksanakan oleh murid senior WOSA diujian akhir nanti.
"Kau akan langsung membunuh Alesha nanti, tuan Vincent?" Tanya Stella.
Vincent tertawa kecil, ia pun menyeruput minuman mahal beralkohol yang ada pada gelas kaca tebal yang sejak tadi ia genggam.
"Tentu saja tidak. Aku ingin sedikit bermain-main dengan gadis manis itu. Tidak asik jika aku langsung membunuhnya. Aku akan menculik, menyiksa, lalu membunuhnya, baru setelah itu aku akan melihat bagaimana reaksi SIO dan WOSA yang mendapati salah satu murid mereka mati mengenaskan di Himalaya."
Stella hanya tersenyum malas. Sebenarnya ia agak kecewa dengan keputusan tuannya itu. Tapi Stella benar-benar tidak berpikir dan tidak tahu kalau Vincent memiliki rencana untuk menghancurkan Jacob dengan cara membunuh Alesha, Stella pikir dengan Alesha mati itu berarti ia bisa dapat lebih mudah meraih mentor incarannya itu.
Vincent juga tidak akan mengatakan pada Stella kalau ia berniat menghancurkan Jacob dengan perantara Alesha, akan berlain urusannya nanti jika ia mengatakan kelicikannya itu pada Stella.
Jadi, selama setahun ini Vincent sudah kehilangan banyak anak buahnya karna terus diburu oleh SIO, semua peretas handalnya sudah tertangkap oleh para agent SIO, kini hanya tersisa Stella saja, maka dari itu Vincent benar-benar ingin memanfaatkan Stella.
"Apa rencanamu untuk Alesha?" Tanya Stella lagi.
"Mudah. Aku akan membuatnya mengingat semua jasa-jasa Jacob hingga ia mau untuk membalas budi mentornya itu."
Stella mengangkat sebelah alisnya. "Dengan cara?"
Vincent menyeringai licik. "Mengungkit masa lalu Jacob."
Stella bingung, keningnya berkerut menandakan kalau ada pergulatan pertanyaan dalam pikirannya. "Apa aku akan ikut ke Himalaya nanti?"
"Tidak usah. Kau memantau saja dari sini. Aku dan anak buahku yang akan pergi ke sana." Jawab Vincent begitu santai.
Satu persatu orang-orang terbaik di SIO akan aku singkirkan. Pertama Jacob, lalu Levin, Eve, Mr. Thomson, dan terakhir Mr. Frank. Kalian sudah aku bidik, dan aku pastikan kalau anak panahku akan melesat tepat sasaran...... Ucap Vincent dalam hati.