May I Love For Twice

May I Love For Twice
Never Let You Go



Kesigapan para petugas dan pengawas SIO, dan didukung dengan kecanggihan teknologi yang sangat amat memadai, akhirnya para anak buah Mr. Thomson itu pun dapat dengan cepat melacak lokasi Alesha meski Alesha sendiri tidak menggunakan alat pelacaknya.


"Vincent! Dia yang sudah berulah kembali!" Pekik Mr. Frank penuh amarah. "Dia selalu saja menjadikan murid WOSA sebagai sasarannya!"


"Jacob dan timnya sudah menunggu di tebing itu. Aku sudah mengerahkan beberapa petugas dan agent khusus untuk melakukan pengejaran terhadap Vincent dan anak buahnya." Saut Mr. Thomson.


"Selama lima tahun aku dibayangi rasa bersalah karna tidak berhasil menemukan jasad keempat anggota tim Jacob yang tertimbun dalam salju, dan ternyata itu ulah Vincent juga rupanya! Dasar tidak berguna!" Mr. Frank sungguh marah besar kali ini. Ia sudah mendapatkan informasi yang Lucas dan Aiden kirim mengenai isi pesan yang Alesha tuliskan dalam kertas surat itu. Tentu saja Mr. Frank terkejut bukan main saat mengetahui kalau yang waktu itu menyembunyikan jasad-jasad keempat anggota tim Jacob adalah Vincent. Namun Mr. Frank juga merasa bersyukur karna Alesha masih sempat menuliskan surat untuk mengungkap fakta yang sebenarnya.


"Kita harus menemukan Alesha dalam keadaan bernyawa, aku tidak mau melihat Jacob yang seperti lima tahun yang lalu. Aku tidak mau SIO kehilangan salah satu agent terbaiknya." Ucap Mr. Frank penuh tekad.


***


Di tepian danau, kini Vincent masih tetap mendekap tubuh Alesha yang sejak setengah jam lalu mulai berhenti bergetar karna kedinginan.


Dalam pikirannya, Vincent terus saja bertanya-tanya mengapa ia melakukan hal itu? Mengapa ia malah mengangkat Alesha dari dalam air danau yang super dingin itu? Padahal awalnya ia begitu ingin melihat Alesha yang mati membeku.


Baru kali ini Vincent merasakan sebuah ketidak tegaan terhadap seseorang, apalagi orang itu adalah gadis yang disukai oleh musuh bubuyutannya sendiri. Melihat Alesha yang menangis dengan tubuh yang tidak berdaya sungguh menggerakkan sisi lain dari diri Vincent. Sisi yang tidak pernah Vincent timbulkan kini malah timbul dengan sendirinya dan tanpa bisa Vincent sangkal.


Pikiran Vincent memerintahkan untuk tetap melanjutkan niat awalnya untuk membunuh Alesha secara pelan namun menyakitkan untuk gadis itu, namun malah hatinya menolak. Vincent yang biasanya kejam dan tidak main-main dalam segala hal, apalagi dalam urusan memberantas musuh-musuhnya kini malah takluk hanya karna melihat raut manis yang menangis tersedu-sedu. Jujur saja, Vincent merasa kalau jiwa lelaki sejatinya tergerak ketika Alesha menatapnya dengan tangisan yang mengisyaratkan sebuah permintaan tolong.


"Mr. Jacob..." Lirih Alesha yang mulai tersadar setelah tidur hampir setengah jam lamanya dalam pelukan Vincent. Alesha kelelahan dan tubuhnya terasa pegal-pegal, belum lagi sensasi dingin yang masih sedikit-sedikit menusuk kulitnya. "Mr. Jacob..."


"Aku bukan Jacob!" Sentak Vincent.


Alesha yang baru menyadari kalau ia berada dalam pelukan Vincent pun seketika terkejut dan tubuhnya kembali bergetar karna rasa takut yang langsung melesat menuju titik teratas.


"Pergilah.." Vincent pun melepaskan dekapannya terhadap Alesha dengan sedikit kasar hingga membuat tubuh Alesha tersungkur nyaris bertabrakkan dengan lapisan salju tebal yang cukup keras.


"Aww.."


Refleks, Vincent langsung menatap Alesha dengan sorot mata yang menunjukkan sebuah rasa khawatir namun masih dapat tertutupi oleh ekspresinya yang terkesan so' datar.


"Pergi sekarang!" Titah Vincent.


Alesha mendongkakkan wajahnya dan menatap Vincent penuh kesedihan bercampur ketakutan. Air mata yang sudah membendung pun tak kuasa untuk tetap bertahan pada kelopak cantik itu, hingga saat Alesha mengedipkan matanya beberapa kali, meluncurlah cairan bening itu.


Hati Vincent kembali dirundung rasa bersalah dan ketidak tegaan terhadap gadis yang menjadi incaran untuk dapat melenyapkan musuhnya itu. Beberapa kali Vincent menghela napasnya berusaha menstabilkan diri yang mulai gelisah karna terus bertatapan dengan dua iris coklat yang terlihat manis itu.


Alesha yang merasa takut pun hanya bisa mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali dan membiarkan air mata meluncur terus menerus. Tatapannya tidak teralihkan dari pria yang hendak membunuhnya secara perlahan itu.


"Pergilah, Alesha! Aku membebaskanmu."


Pernyataan Vincent tersebut sontak saja membuat anak buahnya terkejut hingga terlonjak kecil, khususnya Alesha. Matanya membulat sempurna hingga menghentikan tangisannya. Ia menatap penuh ketidak percayaan pada Vincent yang hanya berekspresi datar.


Tidak salah dengarkah Alesha? Atau Vincent yang sedang mempermainkannya? Sungguhankah ucapan si pria jahat itu?


"Pergi sekarang sebelum aku mengubah keputusanku untuk kembali menyiksamu di danau itu."


Ekspresi wajah Alesha masih tetap sama seperti tadi, terkejut dan percaya namun tidak percaya, aneh tapi itulah nyatanya, Vincent benar mengucapkan kalimat itu.


Tapi sebentar. Apakah wajar jika Alesha merasa curiga terhadap perubahan sikap dan perilaku Vincent yang semula ingin membunuhnya namun kini malah membebaskannya? Alesha jadi mengira-ngira, mungkinkah Vincent sedang memiliki rencana lain untuk dapat membunuhnya?


Ah ya! Tentu saja!


Vincent pria jahat yang tidak pandang bulu terhadap lawannya, apalagi jika lawannya itu hanyalah Alesha. Bagaimana juga Alesha akan tetap berakhir karna dibunuh oleh Vincent, entah itu bagaimana cara atau proses pembunuhannya, yang Alesha tangkap dalam pikirannya saat ini adalah ia akan tetap berakhir dan mati karna Vincent yang sudah memiliki rencana lain untuk membunuhnya.


Pasrah, Alesha pun bangkit dengan memaksakan dirinya untuk kuat menopang berat tubuhnya sendiri. Alesha sangat lemas, lelah, dan tidak berenergi saat ini. Tenaganya terlanjur habis.


"Pergilah, Alesha...."


Seperti tidak rela, Vincent pun mengikhlaskan Alesha untuk pergi walau rasanya cukup berat.


Sejenak Vincent dan Alesha saling bertatapan, namun setelah itu Alesha mulai berjalan mundur secara perlahan menjauhi Vincent dan anak buahnya. Pandangan Alesha tetap awas, memastikan setiap gerak-gerik para pria yang ada dihadapannya itu.


Setelah dirasa cukup jauh, Alesha pun langsung memutar tubuhnya dan berlari secepat mungkin. Entah menuju kemana yang terpenting ia bisa lolos terlebih dahulu dari jangkauan Vincent.


"Tuan, apa yang telah tuan lakukan?" Tanya salah seorang anak buah Vincent yang benar-benar menatap penuh ketidak percayaan pada bosnya itu.


"Membuatnya mati kedinginan." Jawab Vincent begitu datar.


"Tapi bagaimana jika..."


"Alesha tidak akan menemukan jalan untuk kembali, dia akan tersesat. Dia tidak tahu daerah dan medan terjal di tempat ini. Dia akan bernasib sama seperti anggota tim Jacob yang sebelumnya." Potong Vincent.


"Tapi kenapa kita tidak langsung saja membunuhnya, tuan?"


"Aku tidak memiliki keberanian untuk itu. Wajahnya terlalu manis, membuatku merasa tidak tega jika harus menyiksanya. Jadi, lebih baik aku biarkan saja dia mati tanpa aku perlu melihat bagaimana proses kematiannya itu."


Jawaban Vincent barusan sungguh diluar dugaan para anak buahnya. Apa maksudnya? Benar-benar membingungkan. Para anak buah Vincent itu bergeming dengan pikiran masing-masing yang sama-sama merujuk pada satu pertanyaan. Apa yang terjadi pada Vincent hingga membuatnya melepaskan sasaran utamanya begitu saja?


***


Berbeda dengan Jacob, kini pria itu sedang meratapi tangisnya sembari terus meletakkan wajahnya pada lekukkan leher Yuna.


Setelah setengah jam berlalu, Bastian, Mike, Lucas, Tyson, dan Aiden berhasil menggali tumpukkan salju yang mengubur tubuh Yuna, namun hanya sampai sebatas perut saja. Mereka berlima sudah terlanjur kelelahan.


"Mr. Jacob, kalian harus ke atas sekarang! Petugas SIO sudah sampai!!" Teriak Maudy dari atas.


Memang benar, Jacob sudah mendengar suara deru mesin dari helikopter yang sudah menunggunya di atas.


Beruntung sekali, tindakan dan langkah cepat para petugas dan agent SIO itu membuat Jacob dan timnya tidak perlu menunggu hingga memakan banyak waktu.


Sekitar beberapa menit setelahnya, ada seorang pria yang merupakan teman Jacob dan sesama agent intelegent yang juga memiliki reputasi baik di SIO, namanya Leo.


"Jack, kami sudah mendapatkan lokasi di mana Vincent dan Alesha berada. Kita ke sana sekarang, biarkan petugas SIO yang lain yang akan mengurus jasad-jasad anggota timmu ini." Ucap agent bernama Leo itu.


Jacob hanya mengangguk pelan. Rasanya seperti tidak rela jika ia harus meninggalkan kembali Yuna sekarang ini, namun kewajiban utamanya sekarang adalah menyusul Alesha dan menghabisi Vincent.


Segera Jacob dan kelima anggota timnya itu merangkak naik menuju atas tebing.


"Kau sudah bawa batu meteornya?" Tanya Bastian pada Lucas.


"Ya, ada di dalam ranselku." Jawab Lucas.


Disisi lain, Bastian merasa sedikit senang karna berhasil menemukan batu meteornya. Tapi meski begitu, Bastian harus tetap mengatakan yang sejujurnya, yaitu dengan menjelaskan bahwa bukan anggota timnya lah yang mendapatkan batu meteor itu, melainkan anggota tim Jacob yang lama, dan juga jika bukan karna Alesha, Bastian dan timnya tidak akan mungkin bisa menemukan bongakahan batu meteor itu.


Setelah sampai di atas tebing, ternyata di sana sudah ada tiga buah helikopter yang sudah menunggu.


"Ayo, Jack, kita akan langsung menuju lokasi Alesha dan Vincent, dan kau juga bisa langsung menghajar Vincent habis-habisan di sana." Ucap Leo.


Jacob tidak menjawab, ia sedang menahan amarah dalam dirinya yang sengaja ia persiapkan untuk dapat menghajar Vincent. Tapi meski begitu, sejujurnya Jacob sangat takut, hatinya begitu hancur, bagaimana jika setelah ia sampai nanti Alesha sudah terlanjur meninggalkannya untuk selama-lamanya? Jacob tidak rela, ia sangat tidak rela jika harus ditinggalkan oleh Alesha. Ia sangat mencintai Alesha, ia sungguh menginginkan Alesha, dan ia ingin melanjutkan hidup bersama Alesha.


"Apa masih jauh?" Tanya Jacob pada Leo.


"Tidak. Hanya sekitar lima belas menit lagi."


Jacob mengangguk. Tangannya sudah terkepal kuat dan sudah sangat tidak sabar untuk segera menghadiahi Vincent pukulan dan tonjokan mematikan.


Helikopter terus melayang menuju lokasi di mana Vincent berada. Sedangkan Alesha, gadis itu kini sedang berjuang mati-matian untuk membawa dirinya melewati jalanan yang sangat berkabut dan bersalju tebal. Suhu di tempat itu terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya, dan Alesha cukup kesulitan untuk mengatur napasnya.


Di mana ia sekarang? Apa ia tersesat? Dihadapannya hanya ada deretan perbukitan salju dengan tebing-tebing dan dinding keras juga kasar.


"Mr. Jacob...." Alesha sangat kelelahan sekarang. Beberapa kali ia terjatuh karna hembusan angin yang sangat kencang. Berusaha bangkit dan melanjutkan perjalanan terasa begitu berat. Tubuhnya sangat lemah, tidak seperti biasanya, dan sepertinya ia juga mulai mengalami hipotermia, wajahnya membiru dengan banyaknya serpihan salju yang menempel dikedua pipi, kening, dan kelopak matanya.


Brukk.....


Alesha pun terjatuh, benar-benar tidak mampu untuk membawa dirinya menuju tempat lain yang jauh lebih hangat. Ia berada dibalik dinding vertikal yang menjulang di atasnya. Ada banyak cahaya matahari, namun masih terkalahkan dengan suhu udara rendah yang ada di tempat itu.


Alesha meringkuk, memeluk tubuhnya dengan erat.


"Hmm.... Huftt..."


Menarik dan menghembuskan napas dengan pelan. Alesha mulai terserang ASMA, penyakit bawaan dari ayahnya itu kini kembali kambuh. Alesha ingin menangis, wajahnya sudah sangat dipenuhi oleh salju, laju napas yang tidak beraturan membuatnya tersiksa, dan mungkin juga seluruh tubuhnya kini sudah membiru. Saking dinginnya, Alesha bahkan sudah tidak bisa merasakan jemarinya yang membeku.


***


Masih di tempat yang sama, kini Vincent sedang duduk termenung di tepian danau. Sejak tadi ia terus saja memikirkan gadis yang membuatnya merasa lebih berbeda dari biasanya.


Ada apa denganku? Kenapa aku tidak tega melihat Alesha yang menangis dan menatap sendu padaku? Kenapa aku malah mengkasihani gadis itu?.....


"Tuan, gawat! Helikopter SIO, mereka berhasil menemukan kita!" Pekik salah satu anak buah Vincent yang sayangnya malah dihiraukan oleh Vincent.


Vincent sedang tidak fokus untuk berpikiran kemana-mana, dalam kelapanya kini hanya ada Alesha, dan kenapa ia merasa berdosa terhadap gadis itu.


"Tuan, SIO! Mereka menemukan kita! Ayo, kita harus lari!" Lanjut anak buah Vincent itu.


"Apa?" Pekik Vincent yang baru menyadari ucapan dari anak buahnya.


"Bodoh! Kenapa aku malah termenung di tempat ini!" Vincent pun hanya bisa merutuki dirinya sendiri sekarang, menyesali kenapa tidak segera pergi dari tempat itu.


"JANGAN KABUR, VINCENT! KAU TERKEPUNG SEKARANG!!" Pekik Jacob dari atas helikopter.


Bunyi mesin helikopter yang begitu kencang bergemuruh di tempat itu, belum lagi baling-baling helikopter menimbulkan hembusan angin yang begitu kencang hingga membuat Vincent dan ketiga anak buahnya nyaris saja kehilangan keseimbangan untuk berdiri.


Tidak menunggu hingga helikopter mendarat dengan sempurna, Jacob sudah terlebih dahulu meloncat keluar dan melesat menuju Vincent.


"Mr. Jacob!!!" Pekik Bastian dan timnya yang berniat untuk menyusul mentor mereka, namun dihalangi oleh Leo.


"Tidak! Biarkan Jacob melakukannya sendiri, biarkan dia melepaskan amarahnya terhadap Vincent!"


"Tapi Mr. Jacob sendirian, bagaimana jika dia terluka?" Tanya Merina yang terlihat jelas begitu ketakutan dan khawatir terhadap keselamatan mentornya


"Tidak akan! Jacob sudah terbiasa menangani beberapa musuhnya walau hanya sendirian." Balas Leo.


Bastian dan anggota timnya pun hanya bisa terdiam di tempat dengan segala rasa cemas, dan memandang penuh kekhawatiran pada mentor mereka yang sedang beraksi untuk menghajar musuhnya, Vincent.


"DIMANA, ALESHA?"


Bugh....


Satu pukulan keras akhirnya sukses menghantam perut Vincent.


Tidak tinggal diam, melihat bosnya yang diserang oleh Jacob, ketiga anak buah Vincent pun langsung menghalau dan menyerang balik Jacob secara bergantian.


Jacob yang emosi dan amarahnya sudah terbakar pun akhirnya menghajar tiga anak buah Vincent secara sendirian. Sigap dan tepat, lincah juga cekatan. Tekad utuh juga rasa sakit hatinya terhadap Vincent membuat Jacob jauh lebih kuat dan sangat sulit untuk dikalahkan. Bahkan, saat ini keadaan malah berbanding terbalik, bukan Jacob yang keteteran karna melawan tiga anak buah Vincent secara sendirian, namun malah tiga anak buah Vincent yang kewalahan karna menghadapi Jacob.


Krekk....


Suara retakan tulang itu begitu terdengar saat Jacob berhasil melumpuhkan salah satu anak buah Vincent dengan mematahkan tulang leher milik pria itu.


Satu berhasil ditaklukkan. Lanjut keanak buah Vincent yang kedua, Jacob menarik tubuh pria itu dan membalikkannya lalu dengan tiga pukulan keras, tulang punggung milik pria itu pun pengok seketika.


Melihat kedua temannya yang sudah terkapar dengan kondisi yang memprihatinkan, akhirnya anak buah Vincent yang ketiga pun memutuskan untuk pergi dan kabur begitu saja.


Dan sekarang, sisa satu lagi pria yang teramat Jacob benci, yaitu Vincent.


"DIMANA ALESHA?" Teriak Jacob yang sudah sangat tenggelam dan kalut pada rasa kebencian dan kemarahan.


Vincent hanya mengeluarkan smirknya jahatnya untuk menyikapi pertanyaan Jacob barusan. Lalu dengan santai, ia pun menjawab. "Alesha.... Hmm, dia sangat manis, Jack, pantas saja kau tertarik padanya."


"CUKUP BASA-BASIMU, VINCENT!!"


"Santailah, Jack. Tidak usah terburu-buru."


"CUKUP!!" Jacob pun berlari cepat untuk bisa menghajar Vincent, namun dengan gerakan cepat pula Vincent pun berhasil menghindar dan menjauhi Jacob.


"Alesha tidak akan selamat, dia akan mati membeku tidak lama lagi!!" Ucap Vincent.


Jedor......


Satu tembakan berhasil dilepaskan dan pelurunya menancap tepat pada dada sebelah kanan Vincent.


"Cukup, Jacob! Tidak ada gunanya kau bertengkar dengan pria bodoh itu! Alesha berlari ke arah perbukitan yang lokasinya di dekat sini. Cepat kejar dan temui dia!!" Pekik Leo dengan sebelah lengannya yang memegang pistol.


Leo sudah mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai lokasi Alesha dari anak buahnya, maka dari itu ia pun langsung memutuskan untuk menembak Vincent agar Jacob dapat segera mencari dan menyusul Alesha.


Jacob yang mendengar ucapan Leo pun langsung berlari dengan kecepatan penuh menuju perbukitan yang Leo maksudnya.


"Apa kita harus mengikuti Mr. Jacob?" Tanya Bastian.


"Tidak! Tetap di sini!" Jawab Leo.


***


Beralih kembali menuju Alesha, kini gadis itu masih tetap dalam kondisi awalnya, meringkuk memeluk tubuh yang dihujani oleh udara dingin yang sangat menusuk-nusuk.


Seluruh wajah Alesha sudah dipenuhi oleh serbuk salju kecil, kulitnya biru pucat, dan seluruh area tubuhnya membeku. Hembusan napas kecil pun menjadi tanda kalau masih adanya kehidupan yang menetap dalam diri Alesha. Entah berapa lama lagi ia dapat bertahan, namun dapat dipastikan kalau kesadarannya akan segera lenyap dalam waktu dekat.


"Alesha..... Alesha...... Alesha......." Teriak Jacob tersebut memecah keheningan lokasi sekitar. Walau kedinginan karna tidak memakai pakaian khusus untuk mendaki, Jacob tetap tidak akan menyerah, tekad dan keyakinannya masih sangat besar untuk dapat menemukan gadis tercintanya.


"Alesha...... Alesha......... Alesha......" Jalanan yang Jacob lewati ternyata cukup sulit. Salju bergitu tebal hingga menutupi kakiya, dan hal itu juga membuat ia harus mengangkat kakinya dengan sedikit lebih kuat agar bisa menapaki langkah selanjutnya.


"Alesha...." Hembusan angin kencang sesekali membuat tubuh Jacob goyah dan nyaris terjatuh.


"Alesha......"


Samar-samar mendengar suara familiar yang memanggil namanya, Alesha pun mengangkat wajahnya lalu mengerjap pelan beberapa kali.


"Alesha......."


"Mr. Jacob..." Lirih Alesha. Sorot matanya sangat lemah, ia tidak dapat memfokuskan pandangannya.


"Alesha......."


"Mr. Jacob... Alesha di sini..." Serak-serak habis suara Alesha. Tentu saja Jacob tidak akan bisa mendengarnya.


Namun berkat insting yang begitu kuat, akhirnya Jacob berhasil membawa dirinya ke lokasi dekat Alesha berada.


"Alesha......."


Jacob pun membalikkan tubuhnya agar dapat melihat pada arah lain, namun disaat yang bersamaan pula Jacob dibuat terkejut hingga terlonjak.


"Alesha!!"


Satu sisi Jacob bahagia, tapi disisi lain ia juga merasai cemas dengan kondisi Alesha yang meringkuk lemas menahan udara dingin yang menggerogoti tubuhnya.


Jacob langsung melesat menghampiri gadisnya. Hatinya sudah dipenuhi oleh berbagai macam rasa yang tak karuan kala melihat diri Alesha dengan keadaan yang cukup memprihatinkan disudut tebing vertikal yang menjulang tinggi.


"Aku mencarimu, Alesha. Aku takut jika kau akan meninggalkanku. Kenapa kau mencatat surat seperti itu, sayang? Aku benar-benar tidak rela jika kau meninggalkanku." Jacob langsung merengkuh erat pinggang Alesha dan memeluknya begitu posesif. Jacob juga mengaitkan kedua lengan Alesha pada lehernya. Rasa haru langsung terbentuk dalam diri Jacob, ia sangat bahagia karna tahu kalau gadis tercintanya itu masih hidup, masih dapat dirasakan kehangatan tubuh juga gerakan pernapasannya walau pelan.


Jacob semakin memperkokoh pelukannya, membiarkan kehangatan tubuhnya teralir pada tubuh Alesha yang sudah sedikit membeku, dan bukan hanya itu saja, Jacob juga meniupi leher Alesha dengan napasnya yang hangat.


Tubuh Alesha pun memberikan respon dengan bergidik kala terpaan napas hangat mentornya itu menyentuh kulit lehernya.


"Kau kedinginan ya. Hmmm? Bertahan lah sebentar lagi. Aku akan membawamu, sayang.."


Tubuh Alesha melayang seketika saat Jacob mengangkatnya. Lalu Alesha menyandarkan kepalanya dengan lemas pada dada Jacob, sedangkan kedua lengannya masih tetap mengalungi leher Jacob.


"Alesha.." Jacob menatap penuh kecemassan pada Alesha, ia mencoba untuk menggerakkan tubuh gadisnya itu, ia takut jika Alesha mengalami hal yang lebih buruk lagi meski ia sudah menemukannya.


Tapi Alesha masih berada di atas kesadarannya pun segera memberikan respon dengan menggerakkan kepalanya dan mengerjapkan mata beberapa kali.


"Bertahan lah sebentar lagi, Alesha..." Ucap Jacob yang disusul dengan beberapa kecupan lembut dipipi dan kening Alesha.