
Malam ini, seluruh anggota tim Jacob sedang berkumpul di tengah-tengah taman utama, dan bukan hanya mereka saja, di taman itu juga terdapat beberapa kelompok tim lain yang sama-sama sedang menikmati malam sebelum esok hari mereka harus memulai ujian akhir semester dua.
"Mr. Jacob, apa SIO juga meneliti kepelosok dunia untuk menemukan mahluk-makhluk seperti peri, duyung, atau yang semacamnya?" Tanya Maudy dengan polosnya.
"Kau percaya dengan mahluk seperti itu?" Jacob terkekeh. "Yang aku tahu para ilmuan memang sedang meneliti beberapa tempat yang dipercaya sebagai tempat tinggal makhluk seperti itu, tapi aku tidak tahu mereka sudah menemukannya atau belum?"
"Lalu bagaimana dengan alien?" Saut Lucas.
"SIO sedang membangun stasiun luar angkasa, dan bekerjasama dengan beberapa organisasi yang aktif dalam ekspedisi ke luar angkasa. Jika kau mau tahu kau bisa mendaftar untuk bekerja di sana." Jawab Jacob dengan santai.
"Sungguh? Aku ingin bekerja di sana!" Seru Alesha dengan girang. "Aku lulusan mahasiswa fakultas astronomi dan manajemen, kau bisa menempatkanku dibagian kantornya atau langsung mengirimku ke luar angkasa."
"Tidak!" Tolak Jacob dengan tegas. Jacob tidak akan mengizinkan Alesha karna Jacob tahu resikonya bekerja di tempat yang seperti Alesha inginkan saat ini. Mungkin Jacob akan meminta Mr. Frank untuk menempatkan Alesha dibagian kantor saja, ia tidak mau menanggung resiko harus berjauhan dengan Alesha dan membiarkan Alesha dalam bahaya walau pengamanannya juga pasti akan sangat amat lengkap.
Alesha mengerutkan keningnya, tampak sekali wajah kecewa pada gadis itu. "Kenapa?"
"Resikonya sangat besar jika kau bekerja di stasiun luar angkasa." Jawab Jacob datar.
"Aku bisa bekerja dibagian kantornya, aku mahasiswa lulusan manajemen juga, jadi tidak perlu ke luar angkasanya." Balas Alesha.
"Itu bisa dipikiran lagi." Jacob menghela napasnya dengan malas.
"Tapi tidak apa-apa jika aku di stasiun luar angkasanya juga. Jadi aku bisa melihat galaxy-galaxy, bintang, dan banyak hal lagi. Sedikitnya aku dapat tahu apa saja yang selama ini dirahasiakan oleh organisasi yang meneliti luar angkasa." Alesha pun mulai berandai-andai sambil menatap langit malam. "Alien, lubang hitam, materi gelap, planet.."
"Andromeda! Aku benar-benar penasaran dengan galaxy itu." Seru Stella.
"Oh, ya Mr. Jacob, apa kau pernah ikut dalam penelitian yang seperti itu?" Tanya Nakyung.
"Sering." Jawab Jacob.
"Bagaimana rasanya?" Lanjut Nakyung.
"Biasa saja, tapi aku mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan lebih. Kalian juga akan merasakannya nanti."
"Tunggu, aku masih bingung, sebenarnya apa jabatanmu di SIO?" Pertanyaan Aiden yang terdengar polos itu seketika membuat Jacob ingin tertawa jadinya.
"Hahaha," Tawa kecil Jacob. "Kenapa kau menanyakan hal itu?"
Kening Aiden berkerut, sedangkan yang lain sama-sama menghujani Jacob dengan tatapan bingung bercampur penasaran, kecuali Bastian karna ia sudah tahu jabatan mentornya itu di SIO.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Jacob terkekeh dengan ekspresi geli yang tergambar pada wajahnya.
Tetapi bukannya Jacob yang menjawab, melainkan Bastian lah yang membuka mulutnya. "Mr. Jacob adalah agent utama SIO, dia memikiki banyak anak buah di sana. Dia adalah agent terbaik di SIO."
"Yaps, Bastian benar. Mr. Jacob menghabisi sembilan orang sekaligus secara sendirian, aku melihatnya langsung dengan mataku sendiri." Tambah Alesha. Ia mengingat kejadian tujuh bulan lalu sewaktu ia diculik oleh Mack dan berhasil diselamatkan oleh Jacob. Sungguh Alesha tidak akan pernah lupa dengan kejadian dan pengorbanan mentornya itu.
"Apa?!" Pekik Tyson.
"Kau bercanda, Al?" Aiden menatap tidak percaya secara bergantian pada Alesha dan Jacob.
"Sembilan orang sekaligus? Mr. Jacob sendirian?" Mike mengangkat sebelah alisnya.
Alesha mengangguk. "Iya, dia sangat cocok jika ada ajang perkelahian. Kalian belum pernah melihat langsung bagaimana Mr. Jacob bertarung, mungkin kalau kalian melihat secara tiba-tiba kalian akan merasakan ngilu diseluruh tubuh."
Jacob yang mendengar dirinya sedang dibanggakan oleh Alesha seketika berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin.
"Kau benar, itu semua terbukti dengan caranya mendidik kita untuk bisa berkelahi. Teknik yang diajarkan memang rumit, tapi Mr. Jacob mampu mengajari kita dengan sangat baik." Ucap Lucas sambil menjentrikkan jarinya.
"Sudah, jangan buat Mr. Jacob melayang." Ledek Nakyung.
"Melayang tidak, bangga iya." Koreksi Alesha.
"Sudah, jangan bicarakan hal itu lagi." Jacob berusaha untuk mengalihkan alur pembicaraan, namun anggota timnya itu sudah terlanjur dilanda rasa kepenasaranan.
"Tidak. Aku masih penasaran bagaimana kau bisa jadi agent hebat di SIO?" Tanya Tyson.
Lalu Mike pun ikut menyahut. "Iya, ceritakan semuanya, Mr. Jacob, siapa tahu ada pelajaran yang bisa kita ambil."
Jacob mendengus pasrah. Ia sebenarnya malas bercerita karna menurutnya tidak akan ada gunanya juga, namun setelah mendengar ucapan Mike yang mengatakan 'Siapa tahu ada pelajaran yang bisa kita ambil', Jacob pun menimbang lagi. Mungkin ucapan lelaki bocah itu benar.
"Singkatnya, aku adalah seorang murid WOSA juga dulu, sama seperti kalian. Setelah lulus aku langsung dipekerjakan sebagai salah satu hacker juga anak buah dari salah satu agent terbaik SIO, dan kurang lebih setahun berlalu, beberapa agent SIO memutuskan untuk pengsiun, dan SIO memilih beberapa orang untuk menggantikan posisi agent SIO itu, lalu terpilihlah tiga orang, Aku, Eve, dan Levin. Kami disebut trio SIO karna memang kinerja dan kemampuan kami dalam menangani masalah dan musuh sangat baik. Begitulah." Jacob pun menyudahi dongeng pendeknya.
"Sungguh singkat, padat, dan jelas. Tapi bukan itu yang kami maksud. Ceritakan pengalamanmu dalam mengatasi masalahnya dan menghadapi musuh, Mr. Jacob." Nakyung pun memutar bola matanya dengan malas setelah mengucapkan kalimat tadi.
"Kalian yakin ingin mendengarnya?" Jacob menatap ragu pada seluruh anggota timnya.
"Memangnya kenapa?" Tanya balik Aiden.
"Kalau kalian mendengar sekarang, maka kalian tidak akan penasaran bagaimana rasanya dihadangkan dengan masalah dan kalian harus mengatasinya secepat mungkin." Bohong Jacob. Sungguh saat ini ia sangat malas bercerita, lagi pun ia tidak pandai dalam hal bercerita.
"Halah, bilang saja kalau memang kau malas bercerita, Mr. Jacob." Alesha berdecak sebal pada mentornya.
Mendengar itu, Jacob pun menjentrikkan jarinya. "Itu lebih tepatnya."
"Ck, tidak asik."
"Mr. Jacob, ini!"
"Ya ampun."
"Jangan pelit membagi pengalaman, Mr. Jacob."
Kira-kira begitulah komentar malas yang diucapkan secara bersamaan oleh para anggota yang kecewa karna mentor mereka enggan untuk lanjut bercerita.
"Bicarakan saja hal lain yang lebih menarik ketimbang mendengar dongengku." Setidaknya Jacob sudah mencoba untuk mengusulkan hal lain.
Tapi ternyata setelah Jacob mengucapkan kalimat itu, tidak ada seorang pun yang membuka suara atau mengalihkan pembicaraan. Mereka semua malah termenung, ada yang menatap langit, ada yang menatap sekitaran taman, dan ada juga yang sedang bengong.
Malam itu begitu sunyi, namun sangat menenangkan, mengingat besok akan menjadi hari yang menegangkan untuk para murid WOSA.
Berangkat menuju negara lain dan menjalani sebuah misi demi menyelesaikan ujian akhir, dan mendapatkan nilai serta menguji kemampuan yang selama ini sudah diberikan oleh para mentor. Seluruh murid WOSA sudah siap akan esok, namun tetap saja keresahan tidak luput dari dalam lubuk beberapa murid, termasuk Alesha.
Dan kini, hari yang ditunggu pun telah tiba saat era malam telah usai. Beberapa pesawat milik SIO yang berukuran sudah terpakir sejak malam tadi dan siap mengangkut para murid untuk menuju kota tujuan.
Alesha dan yang lain sudah siap, dan untungnya Mr. Thomson juga membebaskan para murid untuk memakai gaya pakaian yang bebas, karna murid juga tidak akan langsung terjun kelapangan setelah sampai di kota tujuan mereka.
"Alesha, apa lipstikku sudah rapih?" Tanya Stella.
Aish, gadis ini masih saja sempat-sempatnya memikirkan make up.
"Hapus sedikit dibagian ujungnya." Jawab Alesha sembari menunjuk pada salah satu sudut bibir Stella.
"Alesha, Stella, apa yang kalian bawa?" Tanya Bastian yang tiba-tiba saja datang menghampiri.
"Makanan, untuk perbekalan di jalan." Jawab Alesha.
"Owh..." Mulut Bastian membentuk huruf vokal O ketika mendengar jawaban dari Alesha. "Sudah selesaikan? Ayo, Mr. Jacob dan yang lain sudah menunggu."
Alesha dan Stella pun segera mengikuti langkah Bastian. Mereka pergi ke taman belakang aula utama dimana seluruh murid WOSA sudah berkumpul dengan kelompok dan mentor masing-masing.
"Cepat berbaris, Mr. Thomson akan segera datang untuk memberikan sedikit pengumuman!" Titah Jacob sambil berjalan melewati setiap anggota timnya.
"Semua sudah berkumpul, Mr. Jacob." Ucap Bastian ketika melihat Jacob yang menghampiri.
Jacob mengangguk sebagai jawaban. Lalu setelah itu, seluruh pandangan pun kini tertuju pada satu objek yang sudah berdiri dihadapan seluruh murid WOSA.
"Selamat pagi semuanya." Sapaan ramah terucap dari mulut Mr. Thomson saat ia sudah mendapatkan tempat yang tepat untuk berdiri dan berhadapan dengan para murid dan mentor yang kini sudah mengalihkan perhatian mereka padanya.
"Baiklah mungkin langsung saja saya buka pertemuan dadakan ini di sini karna sebentar lagi pesawat yang akan membawa kalian akan segera mengambil jadwal keberangkatan."
Sebelum ucapannya berlanjut, Mr. Thomson mengambil satu tarikan napas dan menghembuskan dengan tenang. "Pertama adalah mengenai peraturan. Kalian semua sudah tahu peraturannya, dan usahakan untuk tidak melanggarnya. Kedua, fokus pada tujuan dan misi kalian. Apa yang kalian hadapi, itulah yang mesti kalian atasi. SIO sudah menyiapkan pengawasan ketat untuk kalian. Lalu mengenai kartu memori itu, ingat! Setelah mendapatkannya, kalian harus langsung mengaktifkan kartunya karna disana terdapat identitas tim kalian masing-masing dan juga sebuah provider tempat kalian bisa mengaktifkan kartu memori itu. Jika kalian sudah mengaktifkannya, otomatis data tim kalian akan langsung masuk dalam server milik WOSA dan itu juga menjadi tanda kalau kalian sudah berhasil melaksanakan tugas akhir. Gunakan waktu sebaik mungkin, dua puluh empat jam harusnya bisa untuk kalian semua menyelesaikan tugas itu."
Mr. Thomson kembali menghela napas untuk melanjutkan ucapannya. "Kalian diizinkan untuk bertarung dengan anggota tim lain yang satu kota dengan kalian, namun perlu diingat! Ini hanya tes untuk ujian akhir, keluarkan yang terbaik tapi jangan lakukan kebodohan dengan melukai anggota tim lain hingga terjadi sebuah kefatalan besar!"
Mr. Thomson menjeda ucapannya.
"Mengerti semua?"
"Mengerti, Mr. Thomson." Jawab para murid dengan serentak.
"Para mentor akan mengawasi kalian, dan kalian akan dipasangkan alat pelacak khusus agar kami dapat dengan mudah mengetahui keberadaan kalian." Lanjut Mr. Thomson.
Kali ini, Mr. Thomson akan langsung mengucapkan kalimat penutupannya, karna jadwal keberangkatan pesawat tidak kurang dari lima belas menit lagi.
"Baiklah, mungkin cukup sekian beberapa pesan yang saya sampaikan, selebihnya jika ada pertanyaan bisa kalian tanyakan langsung pada mentor kalian. Terakhir, semangat untuk semuanya, semoga kalian dapat menjalankan tugas dengan baik."
Tepuk tangan pun sempat bergemuruh selama beberapa saat sebelum Mr. Thomson meninggalkan tempat berdirinya.
"Baiklah, saya tutup pertemuan singkat pada pagi hari ini dan terima kasih semua atas perhatiannya." Mr. Thomson tersenyum dan setelah itu ia pergi meninggalkan tempatnya berdiri.
"Ingat, aku tidak menuntut kalian untuk menjadi yang pertama menyelesaikan tugas ini dan juga menjadi yang terbaik, aku hanya ingin kalian menjalankannya dengan benar sesuai dengan petunjuk dan arahan yang sudah aku berikan." Ucap Jacob pada anggota timnya yang kini sudah membentuk sebuah lingkaran kecil.
"Lawan yang kalian hadapi adalah tim Brandon. Kalian harus berhati-hati, Eve cukup licik, dan dia juga mengajarkan hal itu pada anggota timnya. Jadi kalian harus sangat berwaspada." Lanjut Jacob.
Nakyung menyeringai. "Jangan lupa juga, siapa mentor yang sudah mengajari kami. Dia pikir akan mudah menghadapi kami."
"Otakmu sudah menyebar pada anggota timmu, Mr. Jacob, tenang saja, kami akan membuatmu bangga." Lanjut Lucas dengan penuh kepercayaan diri.
Jacob tertawa kecil. Ia tahu dan sangat percaya kalau anggota timnya itu tidak akan mensia-siakan semua pelajaran yang sudah diberikan.
"Ayo, kita harus menuju pesawat sekarang." Jacob mendorong pelan tubuh beberapa anggota timnya agar mulai berjalan. Tetapi, Alesha, ia menarik lengan gadis itu hingga membuat mereka berjalan berdampingan, dan dengan sengaja Jacob mengambil posisi untuk berjalan dibelakang anggota timnya agar ia bisa leluasa berbincang dengan Alesha.
"Kau cantik." Jacob mengucapkan itu bukan hanya sekedar sebuah pujian, melainkan untuk menggoda juga.
"Terima kasih." Balas Alesha dengan datar.
"Masih merasa tidak enak?" Jacob pun menundukkan kepalanya, namun langkah kakinya masih tetap berlanjut.
"Tidak terlalu, aku memilih berpikir positif saja." Alesha menaikkan iris matanya sambil tersenyum pada sang mentor. "Lagi pula ada kau yang akan selalu mengawasi dan menjagaku juga yang lain."
"Pintar." Jacob mengusap gemas puncak kelapa Alesha.
Sedangkan Alesha, ia yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari mentornya hanya bisa menunduk sambil menahan sensasi panas diwajahnya. Bibirnya memingkam, namun lengkungan senyum masih dapat terukir disana.
Aish, Mr. Jacob ini. Alesha jadi malukan... Gumam Alesha dalam hati.
Sampai lah akhirnya mereka dihalaman belakang yang begitu luas, tempat pesawat sudah memanaskan mesinnya dan akan segera lepas landas dalam beberapa menit lagi.
Anggota tim Bastian satu pesawat dengan anggota tim Brandon. Tentunya, merekakan disatu kota yang sama.
Setelah pesawat lepas landas, maka tidak ada yang membuka percakapan. Semua terdiam dalam hening dan asik dengan pikiran masing-masing.
Butuh waktu berjam-jam untuk mereka bisa tiba di tempat tujuan. Ruang dalam pesawat terasa dingin tanpa adanya bunyi-bunyi yang berasal dari dalam tenggorokan manusia.
Entah apa yang mereka lewati saat ini, yang pasti mata Mereka hanya bisa menemukan hamparan kapas-kapas putih yang terbuat dari gas dan mengambang dengan ringan diudara. Pesawat meluncur diatas awan dengan kecepatan yang super cepat dan melawan angin yang menggebu-gebu. Namun syukurnya cuaca sangat cerah, jadi setidaknya kebosanan dapat diatasi dengan melihat pemandangan alam atas awan.
Namun setelah beberapa jam berlalu, terdengar sebuah percakapan kecil yang ternyata berasal dari Jacob dan Eve. Dua mentor yang kadang berselisih dan saling cuek-menyuek kini sedang dalam satu pembicaraan.
"Tumben mereka akur." Bisik Mike yang duduk disebelah Alesha.
"Karna mereka sedang membicarakan SIO." Balas Alesha.
"Alesha bukannya tadi kau bawa makanan ya?" Tiba-tiba saja Bastian muncul dan dan cukup membuat Alesha dan Mike kaget.
"Ck, kau ini!" Alesha mendengus kesal. "Iya ada, kau mau?"
"Tentu saja. Aku dan yang lain juga mau." Balas Bastian.
Alesha mengambil dua buah paper bag yang berisi banyak makanan yang ia letakkan tepat disebelahnya. Alesha pun mengambil salah satu bungkus makanan ringan kesukaaannya, dan kemudian memberikan dua paper bag itu pada Bastian.
"Terima kasih, Al." Bastian meraih dua paper bag yang Alesha berikan dan membawanya kebelakang untuk dibagikan keanggotaan tim yang lain.
Semua kembali menjadi hening, dan yang ada hanyalah suara kunyahan renyah yang berasal dari anggota tim Bastian. Untuk anggota tim Brandon, mereka terus saja tertidur disepanjang perjalanan. Tetapi Bastian bersyukur akan hal itu, jadi ia dan anggota timnya tidak perlu repot-repot mendengar omongan-omongan tidak berguna yang bersifat menjatuhkan dari mulut si Brandon.
Sang pilot meminta untuk diberikan izin menambahkan ketinggian dan kecepatan pesawat, hal itu tentu saja membuat perjalanan terasa semakin cepat. Tidak tahu sudah berapa jam mengambang di atas langit, akhirnya sang pilot pun memberikan pengumuman kepada para penumpang kalau pesawat akan segera mendarat.
"Jadi sudah sampai ya?" Tanya Alesha.
"Kalian belum juga pilot itu tidak akan memberikan pengumuman, Alesha." Balas Mike dengan malas.
"Syukur lah, aku sudah lelah duduk terus dalam pesawat ini." Alesha sedikit merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal akibat terlalu lama duduk.
Lima belas menit setelah mendengar pengumuman dari sang pilot, Alesha dan yang lain pun akhirnya dapat merasakan kalau ban pesawat sudah meluncur diatas aspal. Sedikit lonjakkan kecil terjadi ketika ban itu menyentuh lajur penerbangan dengan sangat mulus.
Seberhentinya pesawat, seluruh penumpang yang bukan lain adalah anggota tim Bastian, dan juga Brandon langsung mengambil semua barang-barang pribadi milik mereka, dan tim Brandon lah yang lebih dahulu keluar dari dalam pesawat.
Dua buah mini bus sewaan sudah menunggu di bawah.
"Ayo, kita harus langsung menuju hotel untuk beristirahat." Jacob menuntun anggota timnya untuk turun terlebih dahulu.
Satu persatu anak tangga mereka pijaki sampai kaki mereka menapak diatas aspal. Satu mini bus yang terletak dibelakang mini bus yang dipakai oleh anggota tim Brandon sudah siap, bahkan sang supir sudah berada dijok kemudi.
Dengan bergegas anggota tim Bastian pun masuk kedalam mini bus yang akan mereka tumpangi dan menyusul mini bus satu lagi yang sudah terlebih dulu melaju.