May I Love For Twice

May I Love For Twice
Warna Jinggaku



*Senja sudah diujung cakrawala...


Cahaya jingga masih setia bersinar dalam waktu yang akan berakhir... Ufuk timur sudah menggelap...


Panggilan bintang malam terdengar samar...


Namun, sang surya sudah sudah membawa dirinya kebalik awan...


Setiap detik yang terlewat, seperti ilusi nyata yang begitu menyilaukan...


Jika cinta, katakan, jika tidak pergilah...


Mengingat untuk mengenang nama...


Namun kini sudah lenyap bersama takdir baru...


Menunggu pun tidak akan berhasil...


Seperti matahari yang membagi cahaya dengan dua dunia...


Aku tidak ingin pula hati utuh itu terbagi dua...


Cukuplah bersamanya kau jaga hati itu....


Aku hanya bisa menjadi warna jingga dalam cahaya yang sekarang sudah beralih tempat...


Entah menunggu, atau mencari cahaya baru yang dapat mengubah warna jinggaku...


-Ale*


Sebuah kutipan puisi yang Alesha tulis dalam sebuah lembaran kertas dengan bantuan pena hitam. Termenung dalam kesendirian dan hanyut dalam ingatan Adam yang tidak pernah terlupakan. Bayangan lelaki idaman Alesha itu terus saja mengukir kenangan dalam memori. Adam bagaikan cahaya matahari pagi yang menerangi dunia cinta Alesha, namun ia juga berubah menjadi cahaya jingga memilukan yang akan segera beralih menuju belahan dunia lain. Cinta yang lain yang Adam pilih, Alesha tidak mau membagi cahaya mentari itu, biarkan cahaya jingga dalam hatinya terus meredup hingga gelap malam memasuki lubuk hatinya. Jika saja Alesha bisa mendapatkan cahaya mentari pagi lagi yang tidak akan pernah berubah menjadi cahaya jingga, Alesha akan sangat bersyukur. Namun malam mungkin akan sangat panjang selama hatinya belum mendapatkan cahaya baru.


Alesha bisa melupakan Adam jika ia sedang bersama mentornya juga yang lain, tapi kesendirian akan membuat Alesha kembali pada titik awal. Adam adalah lelaki yang memiliki tahta tertinggi setelah ayahnya, tapi kini tahta hati wanita lain lebih mewah hingga Adam pun meninggalkan Alesha yang sudah berkeyakinan penuh akan sosok pangeran hatinya itu.


"Bolehkah aku memilih. Aku ingin memperbaiki apa yang menjadi kekuranganku. Aku adalah aku, dan aku tidak menemukanmu disaat terindahku. Kau yang menjaga cahayamu, namun aku kehilangan itu sebab kau yang tidak mau mengambil posisimu dalam hatiku. Maaf jika namamu masih tertera. Aku ini sebatas pelayan yang terlalu mengharapkan seorang pangeran." Untaian puisi kembali berlanjut, dan Alesha mengukir itu diatas kertasnya.


"Adam, aku ingin kau tahu, aku tidak main dengan perasaanku, tapi kau layak mendapat yang lebih baik." Ucap Alesha yang sudah berhenti menuliskan puisinya.


Tanpa Alesha sadari, Jacob berdiri diambang pintu yang sedikit terbuka. Kupingnya menangkap jelas setiap untaian puisi yang Alesha ucapkan untuk Adam. Hatinya begitu sakit menerima itu semua, terutama saat menyadari kalau gadis tersayangnya masih terpaku pada lelaki lain. Marah, kecewa, dan semuanya menyergap memenuhi hati Jacob secara bersamaan. Ia mengurungkan niat untuk menemui Alesha, pergi adalah pilihan terbaik untuk Jacob saat itu. Hatinya begitu merintih hingga air mata mengalir begitu saja dipipi Jacob. Kata-kata tidak akan mampu mewakili apa yang Jacob rasakan saat ini. Hatinya terlalu hancur untuk menerjemahkan ungkapan, ia tidak bisa menerima puisi Alesha yang ditujukan pada Adam.


Kenapa kau masih saja mengharapkannya, Al. Aku yang selalu berusaha untuk meraih hatimu, aku yang selalu berusaha untuk membuktikan seberapa besar cintaku untukmu pada diriku sendiri. Tidakkah kau sadar apa yang aku rasa sekarang? Kau menghancurkan hatiku, Al. Cukup sudah, aku tidak akan membiarkan sosok lelaki itu terus melekat pada hati dan pikiranmu. Kau hanya akan menjadi milikku, dan Adam, akan kubuat dia menjadi sosok kelam dalam dirimu, dan akan kukubur dia dalam hatimu.....Ucap Jacob dalam hati.


Jacob membuka pintu kamarnya dengan kasar. Dinding keras yang ada disebelahnya menjadi korban pelampiasan amarah dan kekecewaannya. Kedua tangan Jacob terkepal kuat dalam posisi yang masih menempel pada dinding.


"Kau tidak boleh mencintai dia lagi, Al, cukup aku dan hanya aku yang akan menjadi cinta terakhirmu!" Gumam Jacob. Rahangnya mengeras dan sorot matanya begitu tajam hingga menunjukkan guratan merah di area mata putih Jacob.


***


Kini, Alesha dan yang lain sudah berkumpul di ruang makan. Berbagai hidangan lezat sudah tersiap saji diatas meja panjang nan mewah itu. Dari sudut lain, Alesha melihat kalau mentornya itu baru saja tiba. Kebingungan tiba-tiba saja melanda diri dan pikiran Alesha. Wajah Jacob berekspresi dengan datar, namun sorot matanya yang terus membidik Alesha seolah Alesha adalah mangsanya. Tatapan Jacob sangat tajam, aura dingin dan menakutkan terpancar jelas dan dapat Alesha raskana saat Jacob mengambil tempat untuk duduk dihadapan Alesha. Tatapan mata Alesha dan Jacob tidak bisa dilepaskan, mereka terus saling berpandangan. Karna tidak cukup kuat, akhirnya Alesha melepaskan arah matanya dari sang mentor yang sampai saat ini masih melayangkan ekspresi datar namun menakutkan untuk Alesha.


Tidak ada gerakan dari tubuh Jacob selama beberapa menit. Ia masih mematung sambil terus memfokuskan matanya pada objek manis didepannya kini. Jacob tahu, Alesha tidak akan bisa protes atau jika Alesha protes, ia hanya akan menghancurkan prosesi makan malam yang belum berlangsung.


Beberapa kali Jacob melihat Alesha yang menatap ke arahnya, namun dengan gerakan kilat tatapan gadis itu segera teralihkan kembali.


Mr. Jacob kenapa sih? Matanya minta dicolok! Tahan Alesha, jangan marah, tahan, astagfirullah, ya Allah sabarkanlah hambamu ini dari emosi yang dibuat oleh mentor menyebalkan itu... Ucap Alesha dalam hati. Ia mulaiĀ  kesal dan gelisah karna sedari tadi Jacob terus saja memberikan ekspresi dingin namun dengan tatapan tajam dan menakutkan pada Alesha.


Beberapa tarikan napas Alesha lakukan untuk mengatur tingkatan emosinya. Kenapa tidak ada yang menyadari ekspresi Jacob saat ini selain Alesha? Mereka semua terlalu sibuk bercengkrama hingga menghiraukan Alesha dan Jacob.


Hingga proses makan malam dimulai, semua begitu tenang dan saling menikmati hidangan masing-masing. Setelah setengah jam berlalu, keadaan kembali seperti semula, beberapa pelayan menghampiri untuk mengambil piring-piring kotor sisa makan tadi.


"Nyonya, boleh aku ijin untuk kembali ke kamarku duluan, kepalaku terasa pusing." Ucap Alesha pada Laura. Selama makan tadi sebenarnya Alesha sudah merasa tidak enak pada kepala dan tubuhnya yang terasa sangat lemas, mungkin karna efek obatnya yang berdosis tinggi.


Laura pun tersenyum manis. "Silahkan, istirahat lah yang cukup."


Alesha mengangguk. "Terimakasih untuk makan malamnya, dan selamat malam." Kalimat terakhir Alesha sebelum akhirnya ia bangkit dari bangku yang ia duduki.


"Aku akan mengantarnya." Jacob bangkit dari duduknya dan menghampiri Alesha. Ia menaruh sebelah lengannya pada pinggang Alesha, dan yang satunya lagi pada lengan Alesha.


"Ayo.." Ucap Jacob pelan sambil membawa Alesha berjalan. Laura, Sharon, Levin, dan Bastian hanya bisa memandangi Alesha bersama Jacob yang kini berjalan meninggalkan ruang makan. Irene yang merasakan sensasi panas pada hatinya saat melihat kepedulian Jacob terhadap Alesha. Ia sangat berharap bisa berada diposisi Alesha sekarang.


"Kau kenapa sih?" Tanya Alesha pelan.


Tidak ada jawaban pria tinggi yang kini sedang membantunya berjalan. Pandangan Jacob lurus datar kedepan, bahkan Alesha terus merasakan aura dingin Jacob.


"Kau punya masalah denganku?" Tanya Alesha lagi.


Jacob menundukkan kepalanya dan menatap pada Alesha, kini tatapan mereka berdua saling bersapaan.


"Kau punya masalah denganku?" Ulang Alesha.


Jacob punya masalah dengan Alesha? Tentu saja, Jacob merasa sangat cemburu karna Alesha masih saja memikirkan Adam.


"Lepaskan, aku bisa jalan sendiri." Alesha merajuk. Ia marah pada mentornya kali ini. Selalu saja, dan terus saja Jacob membuat Alesha marah, bisa-bisa Alesha darah tinggi jika terus seperti ini.


Jacob melangkahkan kakinya lebih lebar lagi untuk menyusul Alesha yang berjalan lebih cepat didepannya.


"Tunggu." Jacob menahan lengan Alesha.


"Ck, lepaskan!" Alesha menepis lengan Jacob.


"Alesha..." Panggil Jacob.


"Kau tahukan kalau aku tidak suka ditatap intens, dan tadi kau menatapku terus menerus seolah kau memiliki amarah yang terpendam untukku. Apa salahku? Kau dendam padaku? Sebaiknya kau katakan dan jangan seperti tadi, untung saja yang lain tidak menyadari." Balas Alesha dengan nada senetral mungkin, namun tetap menunjukan kesan kemarahan terhadap Jacob.


"Sudahlah, kepalaku sakit, tubuhku lemas, aku ingin kembali ke kamarku, dan kau tidak perlu repot-repot mengantarkan aku." Lanjut Alesha sambil memegangi kepalanya yang terasa semakin berputar.


Jacob tidak berkutik setelah mendengarkan ucapan Alesha tadi, kini hanya matanya saja yang bisa mengikuti langkah kaki Alesha yang bergerak menjauh.


Maaf, Al, aku terlalu cemburu, aku marah padamu karna kau terus saja teringat dengan Adam... Ucap Jacob dalam hati. Tatapan dingin dan tajam Jacob kini menjadi sebuah tatapan sendu dan penuh rasa bersalah.


Tangan Alesha kini meraih gagang pintu dan menekannya. Ia pun masuk setelah pintu terbuka lebar lalu setelah itu, Alesha kembali menutup pintunya. Ia membawa tubuhnya yang sudah sempoyongan ke arah kasur.


"Punya mentor teh meni nyebelin amat ya, untung Alesha mah sabar. Udah mah tadi matanya minta dicolok. Liatin aja, kalo gitu lagi Alesha bakal lebih-lebih marah dari ini." Oceh Alesha sambil merentangkan tubuhnya dikasur berbahan sutra yang empuk dan lembut.


Dari luar, Jacob dapat mendengar apa yang Alesha katakan, namun ia tidak mengerti maksud ucapan Alesha karna gadis itu berbicara dengan bahasa yang berbeda. Dihadapan pintu, Jacob pun mematung. Ia tidak mengharapkan Alesha yang akan membukakan pintu untuknya, namun Jacob merasa serba salah. Ia marah dan cemburu pada Alesha, namun hatinya juga mengatakan kalau ia harus meminta maaf pada Alesha? Lagi, dan entah untuk yang keberapa kalinya Jacob mengatakan maaf pada Alesha. Jacob yang salah, atau Alesha yang salah? Jacob berpikir keras. Alesha masih belum mau membuka hatinya untuk lelaki lain karna Adam, dan Jacob merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Atau mungkin rasa bingung itu dipacu karna Jacob yang sedang dalam keadaan tidak tenang.


"Selamat malam, Ale." Gumam Jacob pelan sebelum ia pergi dan kembali menuju kamarnya.


***


"Benar ini, kamar mess mereka." Ucap salah satu dari dua orang itu.


"Cepat, kita buat tanda dipintu itu!"


Segera mereka membuat sebuah tanda silang besar dengan tinta merah gelap seperti darah dipintu kamar mess yang Stella, Nakyung, Maudy, dan Merina tempati. Setelah melancarkan misinya, kedua lelaki itu segera pergi dengan mengendap-endap.


Keesokan harinya, tepat saat dipagi hari, para murid wanita mengerumuni pintu bertanda silang besar itu. Nakyung membuka pintu pertama kali pun terkejut saat mendapati banyaknya murid yang berdiri di depan kamar messnya dengan tatapan ngeri dan ketakutan.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Nakyung dengan jutek.


"Ya ampun! Nakyung, lihat!" Saut Merina sambil menunjuk pada pintu kamar messnya.


Mata Nakyung melebar seketika hingga mulutnya pun ikut terbuka.


"Kita harus cari Mr. Aldi dan Mr. Thomson!" Segera Nakyung berlari secepat mungkin untuk menemui dua orang penting itu.


Jika di WOSA, para murid dan mentor sedang dicemaskan oleh teror dari kelompok jaringan gelap, kini waktu kembali menjadi malam dan mundur kembali menuju kamar Alesha.


Dalam heningnya malam, Alesha masih berada dalam pulau mimpinya. Balutan selimut tebal melindunginya dari terapan angin yang masuk melalui celah-celah udara. Ketidaktahuan membuat Alesha tenang dalam tidur, sedangkan di luar, seorang lelaki yang selama ini mengincarnya sedang melakukan aksi bersama tiga orang anak buahnya.


Mack sudah melacak keberadaan Alesha, dan sekarang ia tahu kalau Alesha berada di rumah besar milik partner kerjanya dulu.


"Bawa gadis itu padaku dan jangan sakiti dia!" Perintah Mack pada anak buah melalui sebuah alat komunikasi kecil yang diletakkan pada telinga. Kini Mack harus menyampingkan niatnya untuk menyiksa dan membunuh Alesha. Vincent memerintahkan Mack untuk membawa gadis itu padanya dalam keadaan utuh dan baik-baik saja.


Dengan keahliannya, salah satu anak buah Mack kini sudah sampai dibalkon kamar yang Alesha tempati.


Alesha sempat terusik karna angin malam yang memasuki kamarnya ketika anak buah Mack itu membuka pintu balkon.


Butuh waktu beberapa detik untuk anak buah Mack dapat sampai keatas kasur Alesha. Sapu tangan yang sudah diberi cairan bius siap untuk mendarat pada mulut dan hidung Alesha. Dengan sekali gerakan, anak buah Mack membekap mulut Alesha hingga Alesha terlonjak dan membuka matanya.


Dengan sekuat tenaga orang itu membekap mulut Alesha agar Alesha menghisap obat bius yang sudah dituangkan pada sapu tangan itu. Namun Alesha tidak mau kehilangan akal, ia menendang orang itu tepat dibagian vital yang hanya dimiliki oleh kaum lelaki. Dengan begitu, Alesha dapat lolos karna orang itu melepaskan dekapan tangannya dari mulut Alesha, dan kini ia terus mengerang kesakitan menahan rasa ngilu pada alat masa depannya.


Alesha pun loncat dari atas kasur dan segera berlari keluar kamar. Dari belakang, Alesha dapat merasakan langkah kaki anak buah Mack yang mengejarnya.


Sesekali Alesha memperhatikan sekelilingnya, ia bingung harus pergi kemana? Ekspresi panik dan takut pun sudah tercetak jelas pada wajah Alesha.


"Mr. Jacob." Gumam Alesha pelan. Ia kembali berlari dan berniat untuk mencari kamar mentornya itu.


Setelah tiga menit ia berlari, akhirnya Alesha berdiri didepan dua buah pintu. Ditatapnya satu persatu dua pintu yang berdiri kokoh dihadapannya itu, menebak-nebak pintu mana yang mesti ia ketuk.


Karna Alesha yang terlalu lama berpikir, anak buah Mack pun akhirnya berhasil untuk membekap mulut Alesha kembali. Alesha meronta sekuat tenaga, telapak tangan anak buah Mack menjadi korban dari ketajaman gigi-gigi Alesha.


"Mr. Jacoobb..." Teriak Alesha sekuat mungkin saat mulutnya memiliki kesempatan untuk terlepas dari dekapan tangan anak buah Mack.


"Mr. Jack..." Anak buah Mack mendekap mulut Alesha kembali.


Salah satu kaki Alesha terangkat dan maju kedepan untuk menggedor-gedor pintu kamar milik Jacob. Padahal Alesha asal pilih pintu, namun pilihannya itu jatuh pada pintu yang tepat.


Dari dalam kamar, Jacob terusik saat kupingnya menangkap suara yang sedang memanggili namanya. Ditatap oleh Jacob setiap sudut kamar dengan kelopak mata yang hanya terbuka setengah saja. Namun kupingnya menangkap suara lain dari arah pintu.


"Mr. Jacob...tolong..." Teriakan samar dari Alesha yang sukses membuat mata Jacob melebar semaksimalnya.


"Alesha!" Dengan rasa terkejut juga panik, Jacob meloncat dari atas kasurnya lalu segera berlari ke arah pintu.


"Jack, kau dengar?" Tanya Sharon yang baru saja ingin mengetuk pintu kamar Jacob, namun Jacob terlebih dulu membuka pintu kamarnya.


"Alesha?" Ucap Jacob. Mata Jacob menjelajahi seluruh sudut ruangan tersebut, namun ia tidak menemukan sosok Alesha. Jacob yakin suara tadi berasal dari Alesha, bahkan Sharon pun mendengarnya hingga membuat gadis itu terbangun.


"Cari Alesha, aku akan pergi ke kamarnya!" Perintah Jacob pada adiknya.


Sharon mengangguk. Kaki Jacob pun segera berpacu menuju kamar Alesha, namun baru saja beberapa langkah, adiknya tiba-tiba saja berteriak.


"Jack, Alesha dibawah! Seseorang membawanya!"


Mata Jacob segera teralihkan. Mendengar ucapan adiknya barusan, Jacob berbalik dan berlari lagi menuju tangga. Tidak jauh dari pandangan Jacob, Alesha terlihat sedang diseret oleh seseorang.


"LEPASKAN DIA!" Teriakan Jacob yang penuh emosi menggelegar dalam rumah besar itu.


Alesha sendiri sudah lemas, sepertinya efek obat bius yang ia hirup mulai bereaksi.


Langkah kaki Jacob bergerak cepat hingga ia mampu meraih lengan Alesha. Menahan tubuh Alesha agar tidak terbawa oleh lelaki itu, kemudian dengan sekali gerakan Jacob mampu mengambil alih tubuh anak buah Mack dan menguncinya. Alesha lemas dan terjatuh, namun Sharon masih sempat menahan tubuh Alesha agar tidak berhantaman langsung dengan lantai.


Di luar, Mack sudah menyadari kalau anak buahnya itu gagal dalam melaksanakan tugasnya, apalagi jika Jacob yang langsung berhadapan dengan anak buahnya, hancur sudah harapan Mack. Ia harus menyusun rencana lain bersama Vincent agar bisa mendapatkan Alesha juga beberapa anak murid WOSA yang lain.


"Siapa kau, dan apa maumu?" Tanya Jacob dengan nada penuh penekanan.


"Jacob, astaga apa yang terjadi?" Tanya Laura yang datang menghampiri. Wanita paruh baya itu terbangun dari tidurnya saat ia mendengar teriakan Sharon tadi. Selang beberapa detik, Irene, Levin, dan Bastian juga muncul.


"Aku mendengar ada kebisingan, apa yang terjadi?" Tanya Irene.


"Siapa kau? Jawab atau aku akan mematahkan lehermu!" Jacob menahan tenguk anak buah Mack. Sekali saja anak buah Mack itu bergerak, maka tulang lehernya akan patah.


"Mack... D-dia yang-menyuruhku-Vincent- memintanya-untuk-membawakan gadis itu." Jawab anak buah Mack yang cukup kesulitan untuk berbicara.


Setelah mendengar jawaban itu, Jacob segera memukul tenguk anak buah Mack hingga membuatnya jatuh pingsan.


"Alesha." Jacob berbalik dan menghampiri Alesha. Ia segera mengambil alih dan menyadarkan tubuh Alesha pada dadanya.


"Dia pingsan karna menghirup obat bius yang ada pada sapi tangan itu." Ucap Sharon.


"Siapa lelaki itu, Jack?" Tanya Levin.


"Anak buah Mack." Jawab Jacob. "Aku rasa Mack dan Vincent bersekongkol. Lelaki itu bilang kalau Vincent menyuruh Mack untuk membawa Alesha."


"Makck? Dia masih belum tertangkap oleh pihak kepolisian?" Laura terkejut saat ia mendengar nama mantan partner kerjanya.


"Belum. Mudah untuk Mack dapat menghindari pihak kepolisian, apalagi dengan bekerjasama dengan Vincent." Balas Jacob.


"Mr. Jacob, lebih baik kita bawa Alesha ke kamarnya dahulu." Usul Bastian yang merasa prihatin pada anggota timnya itu.


Jacob mengangguk. Ia pun segera mengangkat tubuh Alesha dan membawanya menuju kamar.