May I Love For Twice

May I Love For Twice
Final Of 28 Weeks



Pukul 10.30 WIB


Alesha masih berbaring lemah diatas kasur pasien sembari terus beristigfar untuk membantunya bertahan dari rasa sakit yang sungguh luar biasa.


Sudah beberapa jam berlalu, Alesha masih terus menangis sendu, membuat Mike yang terduduk disisinya semakin dilanda kebingungan juga kasihan.


"Alesha..."


Sesekali Mike memanggil nama temannya itu, namun Alesha tidak menjawab, atau pun membalas.


"Huft!" Mike bangkit dari duduknya lalu berjalan ke luar ruangan.


Sembari melangkah, jemari Mike juga bergerak diatas layar ponselnya untuk mencari nama kontak mentornya, Jacob. Mike berniat untuk menghubungi Jacob yang entah sudah keberapa kalinya.


Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi


"ARGH! MR. JACOB KEMANA SIH?" Pekik Mike yang terusulut oleh emosi karna sejak tadi panggilan telponnya tidak diterima oleh Jacob.


Kemudian Mike mencoba untuk menghubungi satu persatu kawannya yang lain, berharap panggilan teleponnya ada yang diterima.


Maaf, nomor telepon yang anda tuju tidak menjawab


Maaf, nomor telepon yang anda tuju tidak menjawab


Maaf, nomor telepon yang anda tuju tidak menjawab


Maaf, nomor telepon yang anda tuju tidak menjawab


Maaf, nomor telepon yang anda tuju tidak menjawab


Maaf, nomor telepon yang anda tuju tidak menjawab


Enam kali ia tidak mendapati satu pun kawannya yang mengangkat panggilan telepon itu. Lalu sekarang yang ketujuh, dan terakhir, yaitu Aiden. Semoga saja pria itu mengangkat panggilan telpon Mike.


.............


...........................


.............................................


Maaf, nomor telepon yang anda tuju tidak menjawab


"ARGH!! Apa gunanya mereka memiliki ponsel jika disaat genting seperti ini tidak ada yang menjawab satu pun!" Geram Mike.


Tring.... Tring..... Tring....


Mike sedikit terkejut karna mendapati ponselnya yang bergetar, dan mengeluarkan nada dering tanda panggilan masuk.


" Aiden?"


Buru-buru Mike mengangkat panggilan telpon dari Aiden.


"Hallo, Mike, ada apa? "


"Aiden, kau ada dimana sekarang? "


"Di kantor, kenapa? "


"Kau sibuk? "


"Tadi iya, sekarang tidak."


"Bagus! Bisa kau datang ke rumah sakit umum daerah Lembang? Alesha mau melahirkan, dan aku sedang menemaninya sendiri di sini."


"APA? MELAHIRKAN!!! "


"Iya, pokonya cepat kau datang ke sini! "


"Baiklah, aku akan ke sana, nanti aku akan mengajak Maudy sekalian, tapi tidak dengan yang lain karna mereka sibuk! "


"Yasudah, pokonya..."


"Permisi, Tuan, Nyonya Alesha akan melahirkan sekarang juga," Ucap seorang perawat yang memotong pembicaraan Mike bersama Aiden.


"APA? MELAHIRKAN SEKARANG! " Pekik Aiden yang mendengar ucapan sang perawat.


"Cepat, datang ke sini! Oh ya kalau bisa kau belikan popok, dan semua keperluan persalinan! " Perintah Mike sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan telponnya bersama Aiden.


Lalu setelah itu, Mike bergegas masuk ke dalam ruang persalinan untuk menemui, dan melihat kondisi Alesha.


"Astagfirullah...." Ucap Alesha yang terlihat jauh lebih tenang ketimbang sebelumnya.


"Alesha, ya ampun! Kau harus kuat, Al, aku sudah meminta Aiden untuk datang ke sini," Panik Mike yang sedih melihat keadaan kawannya, Alesha saat ini.


"Maaf, Mike, maaf aku merepotkanmu, dan yang lain," Lirih Alesha dengan tatapan yang lemah.


"Tidak, Al, ini sudah kewajibanku sebagai teman untuk membantumu, sekarang kau bersiaplah, dan kuatkan dirimu," Balas Mike sembari menyentuh bahu Alesha.


"Argh, astagfirullah...." Alesha meringgis. "Mike, dimana Sulis, aku sudah tidak kuat lagi....."


Mike terdiam sembari celingak-celinguk mencari keberadaan dokter kandungan itu.


"Itu, dia baru datang!" Seru Mike.


"Alesha..." Panggil Sulis sembari menghampiri Alesha.


"Sulis, aku sudah tidak kuat lagi..." Alesha menggelengkan kepalanya pelan.


"Huft.... Kamu siap, Alesha?" Tanya Sulis menatap serius pada Alesha.


"Iya, insyaallah aku siap."


"Oke," Sulis mengangguk. Lalu ia segera mempersiapkan semua keperluan yang akan ia gunakan untuk membantu proses persalinan.


"Oh ya, maaf sebelumnya tapi anda harus menunggu di luar," Ucap Sulis pada Mike.


Mike pun mengangguk paham. "Aku akan menunggu di luar, Al, kau semangat lah, aku yakin kau pasti bisa!"


Alesha tidak membalas, lalu Mike pergi melangkahkan kakinya menuju ke luar ruangan.


Mr. Jacob, aku harap kau bisa datang dan mendampingiku disaat seperti ini, tapi kenapa kau malah lebih mementingkan pekerjaanmu ketimbang aku? Kau membuatku kecewa, Mr. Jacob, aku selalu bersabar, dan memberikan toleransi padamu, dan sikapmu. Tapi sekarang tidak lagi, aku benar-benar kecewa padamu..... Isak Alesha dalam hatinya.


Perih. Sangat perih hati Alesha. Sudah cukup kesabarannya menghadapi sikap suaminya, tapi kali ini ia sudah tidak akan perduli lagi, mau Jacob mengkhawatirkannya atau tidak, Alesha sudah tidak akan memperdulikan itu. Ia sudah terlanjur sakit hati karna selama masa kehamilannya Jacob sering membentak, memarahi, dan salah satunya seperti sekarang ini, acuh!


"Tarik napas, Alesha," Ucap Sulis sembari membuka lebar paha Alesha yang tertutupi oleh kain.


"Hitungan ketiga," Sambung Sulis.


Alesha sudah membulatkan tekad, dan mengumpulkan semua energi juga kekuatannya untuk bisa mengeluarkan dua bayinya dari dalam rahim.


"Satu.......


Dua..................


Tiga..............................."


"Allahhhhhhuu akbar......." Alesha pun mengenjan dengan sekuat tenaga tanpa mengeluarkan teriakkan kencang, ia melepaskan semua kemampuan, dan kekuatannya yang paling besar.


"Ayo, Alesha, lagi!"


"Allahhhhhhuu akbar......."


Alesha menjatuhkan kepalanya yang terangkat karna saking kuatnya mengenjan.


"Tarik napas...."


"Huftt...."


"Dorong, Alesha..."


"Allahhhhhhuuuu akbaaaarrrrrr......"


Tarikan, dan hembusan napas besar terus menerus Alesha ambil, dan keluarkan. Keringat dingin bercucuran, rasa lelah sudah tidak dipikirkan.


Luar biasa rasanya. Jadi seperti ini? Inikah yang dimaksud dengan kenikmatan, dan pengorbanan yang sesungguhnya sebagai seorang wanita? Alesha merasakannya. Susah, sakit, takut, panik. Sebuah kesempatan, dan kehormatan bisa mengandung, dan melahirkan, meski tidak semulus yang diharapkan.


Berkali-kali Alesha terus memberikan dorongan sebesar, dan sekuat mungkin. Dibantu dengan dua orang perawat, dan Sulis, Alesha pun terus mengeluarkan kekuatan terbaiknya demi sang dua buah hati tercinta.


...*****...


Beralih melangkahi jarak yang cukup jauh, tepatnya berpuluh-puluh kilometer menuju kantor dimana Jacob berada sekarang. Suami Alesha itu baru saja menuntaskan pertemuannya bersama para petinggi perusahaan.


Entah kenapa sejak pagi tadi perasaannya tidak bersahabat, dan selalu menimbulkan kegelisahan, dan keresahan.


Apa yang sebenarnya terjadi? Jacob bertanya-tanya akan hal itu. Bahkan saat meeting tadi pun ia tidak fokus pada topik pembahasan yang dipresentasikan.


"Jam setengah sebelas," Gumam Jacob. Tidak terasa, dua jam setengah meeting berlangsung. Kini Jacob pun termenung sendirian disofa dalam ruang kerjanya.


Alesha.....


Sekelebat pikiran itu membuyarkan lamunan Jacob.


"Ya ampun! Alesha...." Jacob menepuk keningnya sendiri. Berapa lama ia tidak mengecek kondisi kehamilan istri itu?


Seminggu? Atau mungkin lebih?


Ya ampun! Jacob benar-benar lupa! Ia terlalu sibuk mengurusi masalah perusahaan ibunya!


"Kenapa aku bisa lupa!" Jacob merutuki dirinya sendiri. Sepersekian detik kemudian, ia pun mengaktifkan ponselnya juga menonaktiftkan modus pesawat yang tadi sengaja ia aktifkan supaya tidak ada yang mengganggunya meeting bersama para petinggi perusahaan.


Dret... Dret.... Dret......


Ponsel Jacob bergetar ketika menerima notifikasi dari delapan puluh enam panggilan masuk yang tidak terjawab.


"Mike?" Jacob mengerutkan keningnya. "Kenapa dia memanggil sebanyak ini?"


Karna penasaran, akhirnya Jacob pun menelpon balik Mike untuk menanyakan ada apa gerangan hingga melakukan panggilan sebanyak itu?


Tapi entah kenapa hati Jacob semakin berdegub kencang, perasaannya was-was, dan semakin merasa khawatir tidak jelas.


Mungkin kah ada sangkut pautnya dengan Alesha?


Sekitar dua menit lamanya Jacob menunggu, akhirnya panggilan telepon yang ia lakukan pun diterima oleh Mike.


"Mike, ada ap..."


"AKU MAU MELIHAT BAYIKU! KENAPA DIA TIDAK MENANGIS? HIKS, ADA APA DENGAN BAYIKU!!!! "


Deg!


Jacob tertegun. Pandangannya lurus kosong seolah ia sedang melihat sesuatu yang membuatnya sawan, dan tidak mampu untuk berkata-kata.


Spechless!


Apa Jacob tidak salah dengar? Itu suara Alesha kan? Ia tidak tuli, itu benar mirip seperti suara istrinya, atau jangan-jangan itu memanglah suara istrinya?


"SULIS, AKU MOHON, HIKS, AKU INGIN MELIHAT KONDISI BAYIKU! HIKS, AKU MOHON....."


"Alesha, tenanglah, jangan memberontak seperti ini! "


"TAPI BAYIKU, MIKE, DIA TIDAK MENANGIS SEPERTI KAKANYA! KENAPA? HIKS, AKU MOHON, AKU INGIN MENGETAHUI KONDISINYA!!! "


"Hallo, Mr. Jacob, cepatlah kembali! "


"Hallo, Mike! Mike! MIKE!!! "


"ARGHHHH!!!!" Jacob membanting ponselnya dengan keras ke lantai.


"Alesha...." Gumam Jacob seraya menjambak rambutnya sendiri.


"Alesha.... Apa yang terjadi? Apa kau sudah melahirkan, sayang? Kenapa kau histeris seperti itu? Ada apa?" Lirih Jacob. Wajahnya berubah sendu, perasaan menyesal kini mengeroyoki dadanya.


Apa yang sudah ia lakukan? Memarahi, membentak, dan....


"Aku melupakanmu...." Lemas sudah tubuh Jacob ketika menyadari kesalahan terbesarnya. "Aku membiarkanmu....."


"Maaf, Alesha.... Maafkan aku, sayang...." Jacob tertunduk. Ia mulai menangis tersedu-sedu, meratapi kesalahan sembari membayangkan bagaimana jika ia yang berada diposisi Alesha.


"Tuan, dokumen...." Ucap Taylor yang tiba-tiba saja masuk, dan mendapati tuannya yang sedang menangis.


"Tuan, ada apa?" Panik Taylor. Ia lalu menghampiri Jacob.


"Ayo, kita kembali ke Bandung sekarang!" Jacob menyerka air matanya lalu bangkit berdiri, dan berjalan secepat mungkin.


Taylor yang mendapati itu pun langsung menyusul langkah tuan mudanya, tidak lupa ia juga meraih ponsel Jacob yang tergeletak di lantai.


"Alesha, maaf, maaf, sayang, aku minta maaf...." Gumam Jacob yang tiada hentinya menangis sembari terus berjalan.


"Taylor, kosongkan semua jadwalku selama tiga bulan! Suruh Mark untuk menggantikan posisiku!" Perintah Jacob.


"Baik, Tuan," Balas Taylor.


Tidak lama setelah itu, mereka berdua pun tiba di tempat parkiran.


"Bawa mobilnya secepat mungkin!!" Jacob memberikan kunci mobilnya pada asisten kepercayaannya itu.


"Alesha..... Maafkan aku, sayang....." Jacob terus menangis tersedu-sedu sembari menyandarkan kepalanya pada pintu mobil yang sudah terkunci.


"Kenapa kau tidak mengatakan apapun sebelumnya jika kau merasa kalau kau ingin melahirkan? Hiks."


"Nona melahirkan?" Gumam Taylor.


"Baby J, maafkan ayah, ayah sudah jahat pada kalian...."


Jika saja bisa, ingin sekali rasanya Jacob menghajar dirinya sendiri akibat kesalahannya terhadap Alesha.


Jacob sadar, ia keras, kasar, dan sering membentak Alesha, tapi kenapa Alesha selalu bersabar hingga membuat Jacob lupa diri? Ia sudah memiliki istri, dan istrinya itu sedang hamil, namun apa yang ia lakukan? Menyakiti hati istrinya sendiri?


Sekarang Jacob bertanya-tanya, kenapa ia begitu tega meninggalkan istrinya, dan mengabaikan begitu saja?


"Jangan jangan kemarin sore...." Gumam Jacob yang mengingat kejadian sore kemarin kala Alesha beberapa kali memanggilnya hingga membuatnya geram lalu membentak Alesha.


"Astagfirullah....." Jacob menundukkan wajahnya, membayangkan seolah Alesha ada dihadapannya dengan raut sedih, dan tangis yang tertahankan.


***


Kembali menuju rumah sakit tempat Alesha melangsungkan proses kelahirannya. Saat ini, kondisi Alesha benar-benar kacau, tangisan histeris, dan terus menerus meronta meminta untuk dipertemukan dengan salah satu bayinya yang tadi tidak mengeluarkan suara sedikit pun ketika sudah dikeluarkan dari dalam rahim.


"Alesha, tenanglah...." Ucap Maudy yang sejak beberapa menit lalu tiba bersama Aiden.


"Aku ingin bertemu dengan anakku, Maudy...." Balas Alesha dibarengi tangisnya yang tak kunjung reda. Darah masih bersimpah, menempel pada pakaian, dan kain yang Alesha kenakan saat persalinan tadi. Ia baru saja beres menyelesaikan tujuh jahitan diarea yang merupakan jalan bagi kedua bayinya keluar dari dunia rahim.


Lemas, namun Alesha tidak bisa berhenti memohon untuk dipertemukan dengan anaknya. Kedua Putra, dan Putri yang terlahir dengan berat kurang dari satu koma lima, dan panjang tubuh hanya mencapai tiga puluh lima centimeter sungguh membuat Alesha kalut, dan semakin larut dalam jurang kesedihan yang begitu dalam. Sebagai seorang wanita yang baru saja menyandang status sebagai 'Ibu', Alesha benar-benar merasa tidak berguna karna tidak mampu menjaga kehamilannya dengan baik, dan malah kalah dengan tubuhnya yang memaksa untuk mengeluarkan dua malaikat kecil itu.


Si Putri sulung langsung memancarkan lengkingan tangis ketika Sulis berhasil mengeluarkannya dengan lancar, namun berbeda dengan Si Pangeran mungil yang sama sekali tidak memberikan respon apapun ketika Sulis membawanya keluar dari dalam rahim Alesha.


Saat itu pula Alesha langsung histeris karna mendapati putranya yang tidak mengeluarkan suara atau pun bergerak sedikit saja. Hingga akhirnya Sulis segera membawa kedua bayi Alesha itu menuju ruang NICU untuk memberikan pertolongan. Sedangkan Alesha, ia yang terus meronta pun akhirnya dapat dibujuk oleh perawat untuk tetap tenang.


"Ibu Alesha, ganti dulu yu bajunya," Ucap seorang perawat dengan sangat lembut.


Alesha hanya mengangguk dengan sangat pelan. Ia sudah kelelahan, menangis berjam-jam, menahan sakit, mengeluarkan tenaga terbesarnya, Alesha sudah sangat lelah.


"Anda siapanya ibu Alesha?" Tunjuk perawat pada Maudy.


"Saya temannya," Jawab Maudy.


"Bisa bantu saya kan buat ganti bajunya?"


Maudy mengangguk. "Iya."


"Maudy, memangnya kau membawa baju Alesha?" Bisik Mike.


"Tadi aku dan Aiden pergi ke mansion Mr. Jacob untuk mengambil baju salin Alesha," Balas Maudy.


"Bagus!" Ucap Mike.


"Emm, kalian berdua tolong keluar dulu sebentar," Pinta sang perawat pada Mike, dan Aiden.


"I-iya. Yasudah kalau begitu kami keluar dulu ya, Al, Ma," Ucap Aiden seraya membalikkan tubuhnya untuk bejalan ke luar ruangan bersama Mike.


****


Berpindah waktu, dan tempat, tepatnya pukul 09.30 Malam di Florida, Amerika Serikat.


Di dalam sebuah kamar mewah yang begitu luas, kini sang ibunda Jacob, yaitu Laura tengah sibuk berbicara dengan anak buahnya melalui sambungan telepon.


"Iya, aku akan ke Indonesia sekarang juga! Nanti kirim lokasi rumah sakit tempat Alesha melahirkan, aku tidak akan pergi mansion Jacob, tapi akan langsung pergi ke rumah sakit itu."


"....."


"Baiklah, terima kasih informasinya."


Sejurus setelah itu, sambungan telepon pun terputus. Laura yang sudah mengetahui kabar dari anak buahnya jika Alesha sudah melahirkan pun segera bersiap-siap untuk menuju Indonesia.


"Siapkan keberangkatan pesawat menuju Bandung, Indonesia secepat mungkin!" Perintah Laura pada anak buahnya.


"Baik, Nyonya," Patuh si anak buah tersebut.


Laura yang memang pada dasarnya mengetahui kabar kelahiran kedua cucunya itu secara mendadak pun tidak begitu mementingkan penampilannya ketika akan bersiap menuju bandara. Ia hanya berpakaian seadanya karna pikirannya kini hanya tertuju pada sang menantu juga kedua cucu barunya.


Berlainan hal dengan anak lelakinya, Jacob, kini pria itu tengah benar-benar dirundung rasa bersalah yang begitu besar.


Tiga jam perjalanan Bogor-Bandung, kini mobil yang Jacob tumpangi tengah melesat menuju rumah sakit tempat Alesha berada.


Mungkin sekitar setengah jam Jacob mengorbankan kesabarannya demi bisa mencapai lokasi tujuan, akhirnya kini kendaraan beroda empat itu pun berhenti mulus tepat di depan pintu masuk utama rumah sakit.


Tidak menunggu waktu lama, Jacob segera keluar dari dalam mobil, dan berlari melesat menuju ruangan yang sudah Aiden beritahu padanya melalui Taylor tadi.


Beberapa pengunjung rumah sakit yang berada di area pendaftaran pun melirik penuh kebingungan pada Jacob yang berlari begitu saja dengan sangat cepat seolah sedang dikejar-kejar oleh suatu hal. Namun Jacob sama sekali tidak memperdulikan hal itu, yang ada dalam pikirannya hanyalah Alesha, dan kedua anaknya yang sudah lahir.


"Mr. Jacob!" Panggil Maudy yang mendapati Jacob sedang celingak-celinguk menatapi setiap pintu kamar kelas VIP itu.


"Maudy, Mike, Aiden!" Jacob segera menghampiri ketiga remaja dewasa itu.


"Dimana Alesha?" Panik Jacob.


"Di dalam, cepatlah masuk, dia sepertinya sangat stres karna anak kalian yang laki-laki memiliki masalah," Jawab Mike.


Jacob terkesiap. Ia menarik napas panjang kala mendengar ucapan dari Mike barusan. Anak laki-lakinya memiliki masalah? Lalu bagaimana dengan anaknya yang satu lagi?


"Mr. Jacob, cepat masuk!" Pekik Maudy yang mendapati kalau suami Alesha itu malah melamun.


Jacob yang tersadar pun langsung bergegas memasuki kamar dimana istri tercintanya berada.


Benar saja! Di sana, diatas kasur pasien yang besar, kini Jacob mendapati Alesha tengah duduk bersandar dengan tatapan lurus kosong.


"Alesha...." Jacob berlari kecil mendekati istrinya.


Alesha hanya melirik singkat melalui ekor matanya. Ia tahu, dan sadar jika suaminya itu baru saja kembali setelah semuanya berakhir. Jacob baru menunjukkan wajah juga perhatiannya lagi setelah sebelumnya acuh, dan tidak memikirkan bagaimana lemahnya kondisi Alesha yang tidak siap untuk menampung janin dalam rahimnya.


"Sayang...." Panggil Jacob yang terdengar sendu. "Alesha.... "


Alesha tidak membalas, apalagi menjawab. Ia terus membisu tanpa mau memberikan tatapan balik pada suaminya.


"Alesha..... Kenapa kau tidak bilang kalau kau mau melahirkan kemarin? Hiks."


Menangis? Jacob menangis? Alesha tidak salahkan?


Huh, miris. Kenapa Alesha tidak mengatakan pada Jacob jika ia ingin melahirkan kemarin?


Oh Ayolah, Alesha saja tidak tahu jika ia akan melahirkan, sedangkan Jacob sendiri begitu sibuk hingga membuat Alesha sulit untuk menceritakan atau sekedar memberitahu bahwa tubuhnya sangat lemas. Belum lagi sikap kasar Jacob, bentakan yang kadang kala Alesha terima membuat Alesha canggung, dan takut untuk menceritakan apa yang ia rasa.


Mengandung selama enam bulan lebih, hingga ketika dua hari lalu memasuki minggu kedua puluh delapan Alesha terpaksa melahirkan tanpa dampingan suaminya yang sibuk bekerja.


"Alesha, sayang...." Jacob berusaha untuk mengubah arah wajah Alesha agar wajah mereka bisa saling berhadapan, namun dengan cepat Alesha memberikan respon dengan membawa wajahnya kembali pada posisi semula.


Mendapati hal itu, sepertinya Jacob sadar jika Alesha marah padanya.


"Sayang....." Panggil Jacob, lirih.


"Alesha, kau marah padaku?" Air mata Jacob kian bercucuran. Ia sadar, dan ia menerima jika Alesha marah padanya. Itu wajar. Jacob sudah bersikap buruk pada istrinya, dan Jacob siap untuk menanggung kemarahan Alesha.


"Sayang.... Maaf....." Tidak tahan dengan keadaan yang terasa menyesakkan dadanya, Jacob pun beralih dengan memeluk erat tubuh Alesha dari pinggir seraya menciumi wajah si manis yang tengah bersedih itu.


Alesha masih diam, dan sama sekali tidak memberikan respon apapun. Tatapannya, raut wajahnya, sikap dinginnya, semua masih sama. Alesha sudah teramat kecewa, dan lihat saja apa yang akan ia lakukan pada suaminya nanti.