May I Love For Twice

May I Love For Twice
Siuman



Sekembalinya Bastian dan yang lain dari kantin, mereka tidak lupa untuk membelikkan makanan untuk Jacob. Dua potong roti yang berukuran cukup besar itu cukup untuk mengisi perut Jacob yang kosong karna sejak kemarin pagi ia belum makan.


Dalam ruangan itu juga tidak ada suara yang terdengar. Semua sibuk dengan ponsel masing-masing, kecuali Jacob yang masih menetap disisi Alesha. Satu bungkus roti lagi sengaja tidak Jacob makan, ia ingin menyuapi roti itu pada mulut Alesha nanti setelah gadis itu siuman. Tetapi sekian lama Jacob menunggu, Alesha masih belum juga menunjukkan tanda kesadarannya. Anak panah pada jam sudah sampai angka tiga. Ini sudah sore lagi, tapi Jacob masih belum lelah untuk menunggui gadisnya. Ia ingin menjadi yang pertama Alesha lihat saat kelopak mata gadis itu terbuka.


Sesekali Jacob mengelus punggung lengan Alesha sembari meletakkan kepalanya disebelah bahu Alesha.


"Kapan kau akan bangun, Alesha?" Lirih Jacob. "Buka matamu, tunjukkan kalau kau baik-baik saja. Aku hanya ingin menatap matamu."


Jacob menghembuskan napasnya dengan sabar. Menunggu itu memang tidak enak, tetapi Jacob tidak akan menyerah, ia yakin kalau Alesha akan segera membuka matanya.


Dan benar saja, meski harus melewati waktu selama beberapa jam lagi, tepatnya pukul sebelas malam. Alesha mulai mengerjapkan matanya secara perlahan.


Semua yang ada di ruangan itu sedang tertidur, termasuk Jacob. Alesha pun dapat merasakan sebelah lengan besar mentornya sedang menetap diatas perutnya. Pandangan lemah Alesha menjelajah melihat sekelilingnya.


^^^Rumah sakit.... Ucap Alesha dalam hatinya.^^^


Alesha masih bergeming, ia tidak mau mengusik rekan setimnya juga Jacob yang sedang tertidur.


Ah, kenapa kepala Alesha jadi pusing begini?... Alesha meringgis lirih.


Ya Allah, Alesha masih hidup? Apa Alesha beneran masih di dunia? Ini kaya bukan mimpi. Alesha beneran masih hidup. Alhamdulillah.... Seukir senyum mungil membentuk sebuah lengkungan manis pada bibir Alesha.


Tetapi tiba-tiba saja tubuh Alesha bergidik ketika hembusan udara dingin yang dihasilkan oleh AC meresap pada kulitnya, dan karna itu juga Alesha jadi mengusik sang mentor yang sedang terlelap dengan menundukkan kepala yang bertumpu pada pinggiran kasur.


"Euh, Alesha.." Gumam Jacob. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pandangannya dan mengambil alih kesadarannya.


Alesha terdiam mematung sambil menatap lurus pada mentornya. Tatapan mereka pun akhirnya bertemu.


"Alesha...." Mata Jacob membulat seketika saat mendapati si manis sedang menatap ke arahnya. Apa Alesha sudah sadar? Tanya Jacob dalam pikirannya sendiri. Tentu saja, Jacob tidak rabun apalagi buta. Alesha benar-benar sedang memandang ke arahnya.


"Kau sudah sadar?" Jacob bangkit dari duduknya lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Alesha. "Maaf, seharusnya aku tertidur." Lirih Jacob sembari mengelus pelan pipi Alesha. Mata mereka saling memandang, dalam jarak yang begitu dekat seperti itu, Alesha merasakan kehangatan yang menyeruak dalam hatinya. Jacob pun sama, lega rasanya bisa melihat dua iris cantik itu lagi.


"Sejak kapan kau siuman, Alesha? Seharusnya kau membangunkanku."


Lirihan Jacob itu ternyata berhasil membuat anggota timnya yang lain bangun.


"Eung, Mr. Jacob, kau bicara dengan siapa?" Gumam Lucas sembari menggesekkan satu jari telunjuk pada matanya.


"Alesha? Apa Alesha sudah sadar?" Saut Nakyung ketika melihat mata Alesha yang terbuka dari kejauhan.


"Alesha, kau sudah sadar!" Seru Merina lalu bangkit dan berlari kecil menuju Alesha.


Merina mengambil tempatnya untuk berdiri disisi lain kasur pasien yang bersebrangan dengan Jacob. "Sejak kapan Alesha bangun, Mr. Jacob?" Tanya gadis itu.


Bukannya menjawab, Jacob malah balik menatap Alesha dengan ekspresi bertanya.


"Belum lama." Ucap Alesha sangat pelan.


"Syukurlah, kami sangat khawatir kau tahu. Aku yang pertama melihatmu tenggelam dengan darah yang mengucur dari dalam hidung dan telingamu."


"Merina, Alesha baru siuman, jika kau mau bercerita sekarang bukan waktu yang tepat." Tegur Nakyung. Rasanya ia ingin sekali menyumpali mulut Merina itu.


"Heheh maaf, Alesha." Merina tersenyum kikuk. Ia tahu kalau seharusnya ia tidak langsung menyembur Alesha dengan ucapannya seperti tadi mengingat Alesha baru saja tersadar dari semi koma.


Baru setelah itu, Bastian pun memerintahkan kepada salah satu anggota timnya, yaitu Mike untuk memanggil dokter jaga agar mengecek kondisi tubuh Alesha saat ini.


Selang lima menit berlalu, seorang dokter pun datang bersama seorang perawat dan juga Mike yang menyusul di belakangnya.


"Malam, nona muda." Sapa ramah dokter cantik itu pada Alesha.


"Mari kita lihat bagaimana perkembangan kondisi tubuhmu, sayang." Dokter itu segera melaksanakan tugasnya untuk memeriksa tubuh Alesha.


"Semua baik, tidak ada masalah apapun. Kecuali rasa pusing dikepalamu." Dokter itu menatap pada Alesha, dan Alesha menganggukkan kepalanya sebagai isyarat dari jawaban 'Iya'.


"Tidak apa, itu efek dari benturannya, nanti juga akan hilang dengan sendirinya." Dokter itu begitu ramah, bahkan sekarang ini lengannya asik sedang bergerak lembut dipuncak kepala Alesha.


"Besok dokter spesialis akan mengecek kondisimu lagi. Semoga kau semakin membaik ya, sayang." Dokter cantik itu tersenyum manis pada Alesha, lalu ia pun mengakhiri tugasnya dengan bergegas kembali menuju ruangannya.


Seperginya sang dokter, kini bergantian dengan para anggota tim yang mengelilingi Alesha.


"Jangan berkerumun di sini, Alesha akan semakin pusing jika melihat kalian bergerombol mengelilinginya. Kembalilah tidur, istirahatkan tubuh kalian. Biar aku dan Mr. Jacob yang akan tetap terjaga!" Tegur Bastian untuk anggotanya.


"Kami hanya ingin melihat Alesha sebentar saja, Bas." Balas Mike.


"Apa yang mau dilihat? Kalian sudah tahu kalau sekarang Alesha sudah semakin membaikkan, setidaknya kalian juga harus mengistirahatkan tubuh kalian agar tidak sakit. Aku tidak mau ada anggota timku yang lain terjatuh sakit karna kelelahan!"


"Tapi, Bas.." Potong Nakyung yang tidak sempat terlanjut karna Bastian sudah kembali memotong ucapannya lagi.


"Tidak ada yang membantah! Kembali ke tempat kalian tadi dan istirahatkan tubuh kalian!" Tegas Bastian yang sedikit kenaikan nada bicaranya.


Si ketua sudah menetapkan perintah, mau tidak mau anggotanya pun harus menuruti apa yang diucapkannya.


"Alesha, kau merasa cukup baik saat ini?" Tanya Bastian.


"Ya."


"Jika kau mengantuk kembali lah tidur, itu bisa sedikit meredakan rasa pusing dikepalamu, Al." Ucap Jacob dengan lembut. Tangannya menggerayang dirambut Alesha yang terurai, menaruh belaian halus penuh kasih sayang.


"Aku baru siuman, kalian malah menyuruhku untuk menutup mata kembali. Bagaimana jika aku tidak bisa membuka mata lagi?"


"Hush, mulutmu itu, kau seharusnya bersyukur, bukan malah berkata aneh-aneh seperti itu." Timpal Bastian.


"Entahlah, Bas, kadang aku berpikir kalau aku tidak akan bisa bangun lagi. Orang itu, dia menghantam kepalaku pada dinding dan lantai." Alesha menurunkan ekspresi wajahnya ketika ia mengingat kembali kejadian kemarin malam saat ada orang asing yang tiba-tiba saja menyerangnya. "Dia ingin membunuhku." Alesha berucap lirih.


"Kau ingat siapa yang melakukannya padamu, Al?" Tanya Bastian.


"Tidak. Dia menutupi seluruh wajahnya dengan masker, tubuhnya memakai baju serba hitam, termasuk sarung tangannya. Tapi dia wanita, suaranya sangat familiar, tapi aku tidak tahu siapa."


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Bastian lagi.


Alesha termenung. Ia mencoba untuk mengingat ucapan yang orang itu katakan padanya. Namun tiba-tiba saja sesuatu mengusik pikirannya. Ia mengingat sepenggal Kalimat yang orang itu katakan.


Kau harus mati agar dia bisa menjadi milikku!!


Tubuh Alesha menegang. Apa yang dimaksudkan oleh orang itu? Ia harus mati agar seseorang bisa menjadi milik orang itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah orang itu memendam rasa dendam pada Alesha? Tentu saja, orang itu berniat mengakhiri hidup Alesha. Tapi atas dasar apa?


"Alesha, kau baik-baik saja?" Jacob pun mendekatkan wajahnya pada Alesha. Sedikit panik membuat Jacob takut jika sesuatu kembali terjadi pada gadisnya itu.


Wajahnya masih datar, namun Alesha perlu mengatakan pada Jacob dan Bastian tentang apa yang orang itu katakan padanya.


"Kau harus mati agar dia bisa menjadi milikku. Itulah yang diucapkannya padaku."


Jacob dan Bastian sama-sama mengerutkan kening mereka saat mendengar ucapan Alesha barusan.


"Dia bilang kalau aku harus mati agar dia bisa mendapatkan seseorang." Lanjut Alesha.


"Tunggu, tunggu, siapa 'Dia' yang kau maksud itu?" Bastian melayangkan tatapan intens pada Alesha.


"Entah, aku tidak tahu siap orang itu dan 'Dia' yang dimaksudnya." Jawab Alesha.


"Tapi orang itu bilang kalau ia akan membunuhmu agar ia bisa mendapatkan si 'Dia' itu." Ucap Jacob.


"Tunggu Alesha, apa kau pernah berurusan dengan seseorang tentang masalah percintaan? Aku curiga ini tentang perasaan hati, atau ya bisa dibilang cinta segi tiga. Coba kau ulang lagi apa yang orang itu katakan." Pinta Bastian.


"Kau harus mati agar aku bisa mendapatkannya."


"Kau mengenali suara itu? Bisa jadi dia seseorang yang memendam perasaan dendam padamu." Ucap Bastian.


"Suaranya seperti seorang wanita, dan aku seperti mengenali suara itu. Tapi aku masih bingung motif apa yang membuatnya ingin membunuhku."


"Kecemburuan mungkin. Apa kau pernah bermasalah dengan seorang wanita hanya karna perihal lelaki?" Tanya Bastian.


Mendengar pertanyaan Bastian itu membuat pikiran Alesha teralihkan pada Adam. Tidak ada lelaki lain selain Adam yang ia suka dan begitu dekat dengannya, kecuali sang mentor, tapi Alesha tidak berpikir kalau mentornya itu adalah lelaki yang dimaksud, tidak mungkin, dan sangat mustahil.


"Ada seorang lelaki yang sangat aku cintai dan begitu dekat denganku." Alesha menatap mentornya selama beberapa saat, lalu pandangannya segera beralih pada Bastian. "Namanya Adam. Dia sahabatku sejak kecil, dan aku sangat menyukainya. Adam memang memiliki banyak pengagum karna dia adalah lelaki yang baik, taat agama, dan tampan. Dulu memang ada beberapa wanita yang membenciku karna tahu kalau aku dan Adam begitu dekat."


"Tapi Adam sudah menikah, Alesha, jika memang Adam adalah lelaki yang orang itu maksud, seharusnya bukan kau yang menjadi sasaran, melainkan istri Adam." Ucap Jacob dengan begitu datar. Ia kesal karna Alesha kembali mengungkit tentang Adam dihadapannya. Tidak tahu apa kalau Jacob benar-benar cemburu saat ini.


Sedangkan Alesha, ia kembali termenung setelah mendengar ucapan Jacob. Adam sudah menikah dan memiliki seorang istri sekarang, benar apa yang mentor Alesha itu ucapkan, seharus istri Adam lah yang menjadi sasaran orang itu, dan bukan Alesha. Tetapi ada hal lain yang mengganjali pikiran Alesha, sejak kapan Adam memiliki kedekatan dengan wanita yang berasal bukan dari Indonesia?


"Sudah, jangan pikirkan itu sekarang. Kau baru saja siuman, aku tidak mau kau memikirkan yang hal yang berat-berat." Tegas Jacob yang moodnya sudah terlanjur turun karna Alesha menyebut-nyebut nama Adam barusan. Jacob meletakkan telapak tangannya tepat pada kedua mata Alesha, agar Alesha kembali terpejam.


"Mr. Jacob, jangan seperti ini." Alesha mendengus dan segera menyingkirkan lengan mentornya yang menutupi kedua matanya.


Namun Jacob malah beralih dengan mengelus lembut punggung tangan Alesha. "Tidur, Al, kau akan baik-baik saja. Aku di sini akan tetap terjaga untuk memantau kondisimu."


Alesha tidak membalas ucapan mentornya itu. Memang saat ini rasa kantuk belum memudar dari dirinya, ditambah dengan elusan lembut pada punggung tangannya membuat Alesha semakin nyaman untuk kembali memasuki alam tidurnya.


Beberapa menit berlalu, Alesha mengerjapkan matanya berkali-kali, barulah setelah itu ia pun kembali jatuh pada lelapnya. Sang mentor yang membuat kenyamanan dalam diri Alesha hanya tersenyum kecil saat mendapati gadisnya sudah tertidur kembali.


"Bas, apa yang lain sudah tertidur juga?" Tanya Jacob pelan.


Bastian membalikkan tubuh untuk menghadap ke arah delapan anggota timnya yang saat ini sudah tertidur pulas, bahkan terdengar suara dengkuran kecil dari Tyson dan Lucas.


Cepat sekali mereka terlelapnya, mungkin karna faktor kelelahan. Pikir Bastian.


"Ya, aku pikir mereka sudah tertidur." Bastian mengedikkan bahunya dan kembali menghadap ke arah Jacob.


Seringai pada sudut bibir Jacob yang sedang terbentuk saat ini membuat Bastian mengerutkan keningnya.


"Bagus." Jacob bangkit dari duduknya. "Bergeser ke kiri sedikit, Bas." Pinta Jacob.


Bastian yang kebingungan pun segera menuruti apa yang mentornya itu pinta tanpa tau maksud dan tujuannya.


"Tepat. Diam disitu!" Ucap Jacob.


Sebelah alis Bastian terangkat ketika Jacob menyuruhnya untuk diam mematung.


"Ada apa, Mr. Jacob?" Tanya Bastian.


"Kau boleh melihatnya, tapi yang lain jangan sampai melihat ini."


Jacob membungkukkan tubuhnya, kedua lengannya bertopang pada pinggiran kasur.


"A-apa yang akan kau lakukan, Mr. Jacob?" Tanya Bastian yang sedikit gelagapan.


Tetapi Jacob menghiraukan itu. Ia terus fokus pada objek manis yang berada tepat dibawah wajahnya.


"Tidurlah, aku mencintaimu, Alesha." Bisik Jacob sesaat sebelum menaruh sebuah kecupan lembut pada kening Alesha.


"Ya ampun, Mr. Jacob." Bastian terkekeh. Lagi-lagi ia melihat mentornya yang menaruh sebuah ciuman manis pada salah satu anggota timnya.


"Jangan pernah beritahukan hal ini pada siapa pun, cukup saja kau yang tahu."


"Sejauh ini tidak ada yang mengetahui perasaanmu pada Alesha selain aku dan Mr. Levin, Mr. Jacob."


"Bagus."


"Tapi aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan saat melihatmu kemarin yang begitu terpuruk ketika melihat kondisi Alesha. Sepertinya mereka curiga."


"Aku tidak perduli, yang penting mereka masih belum mengetahui perasaanku pada Alesha." Jacob menatap lekat wajah Alesha dalam jarak yang begitu dekat. Tangannya juga tidak tinggal diam. Jemarinya terus menerus menyusuri rambut halus Alesha.


"Aku sangat sayang pada Alesha, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi lagi padanya, Bas." Jacob mengangkat wajahnya untuk menatap pada Bastian. "Kau ingatkan kalau beberapa bulan lalu Alesha sekarat. Aku tidak mau hal itu terulang lagi."


"Tapi kenapa kau belum juga mengungkapkan perasaanmu, Mr. Jacob?"


Jacob tersenyum kecut. Kenapa ia masih belum mengungkapkan perasaan sedang Alesha sendiri sudah merasakan perasaannya itu?


"Aku akan segera mengungkapkannya."


"Kapan?"


"Saat waktunya sudah tepat."


"Kau harus mengatakan pada Alesha yang sesungguhnya sebelum Alesha menaruh hati pada lelaki lain, Mr. Jacob."


"Itu tidak akan terjadi, Alesha hanya akan mencintaiku dalam waktu yang tidak lama lagi."


Satu kecupan terakhir Jacob daratkan kembali pada kening gadisnya itu.


"Aku mencintaimu, Alesha." Jacob menggeser sedikit bangkunya agar ia bisa bersandar tepat disebelah kepala Alesha. Memeluk tubuh Alesha dengan satu lengannya, lalu mengalirkan kehangatan kasih sayang yang begitu besar. Jacob sangat tenang, walau ada secuil rasa takut dalam benaknya ketika memikirkan kondisi Alesha yang bisa jadi kembali memburuk.


"Jangan buat kepanikkan mendadak. Bangunlah besok pagi agar aku tidak semakin mengkhawatirkanmu, Alesha." Gumam Jacob.