May I Love For Twice

May I Love For Twice
Cemburu



"Lupakan honeymoon itu. Kesehatan kakakmu yang paling utama sekarang! "


Ucapan Alesha itu terus terngiang-ngiang dalam kepala Jacob. Semalaman ia tidak tidur, apalagi setelah ia menanyakan langsung keadaan kakaknya, Mona pada Sharon.


Jacob juga tidak tega pada kakaknya yang sedang menjalani rawat intensif di rumah sakit, tapi disisi lain ia kasihan pada Alesha karna bulan madu mereka kemungkinan besar akan diundur untuk beberapa waktu.


Jacob pun melirik pada istrinya yang sudah tertidur pulas. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya saja perasaan tidak enak kian berkecamuk membuat dilema besar. Satu sisi ia harus memimpin induk perusahaan milik ibunya yang akan segera melangsungkan promosi berskala besar di stadion GBLA, Bandung, tapi disisi lain ia juga sudah merencanakan bulan madunya bersama Alesha dua hari lagi.


Rapat para pemimpin perusahaan akan berlangsung lusa, dan itu berarti Jacob harus hadir untuk menggantikan Mona.


"Huftt," Jacob menepuk keningnya. Ia gusar, pesawat pribadi milik ibunya akan tiba besok siang atau sore di bandara.


"Aku bisa ambil cuti kerja setelah kau menyelesaikan tugasmu. Aku akan kembali bekerja besok, atau lusa, dan kau pergi ke Florida untuk menggantikan kakakmu."


Jacob semakin dibuat pusing dengan ucapan Alesha tadi. Memang Jacob sudah sempat berunding dengan Alesha mengenai bulan madu mereka, dan Alesha juga sudah memutuskan untuk lanjut bekerja hingga Jacob selesai menggantikan posisi Mona dan memimpin pelaksanaan promosi berskala besar yang akan dilakukan oleh seluruh perusahaan yang berada dibawah naungan induk perusahaan Laura.


Tapi satu yang mengganjal dalam diri Jacob, yaitu Alesha tidak akan ikut bersamanya ke Florida.


"Jika aku ikut bersamamu, itu hanya akan membuang-buang waktu cuti kerjaku. Lebih baik aku bekerja dahulu di sini, baru setelah kau selesai, aku akan kembali mengambil izin cutiku yang sudah tertunda."


Jacob khawatir jika Alesha berada jauh darinya. Ia takut akan ada sesuatu yang buruk menimpa istri tercintanya itu.


" Kau sudah mengajariku banyak hal, termasuk ilmu bela diri. Ayolah, aku tidak lemah, aku bisa bertarung, kau lihatkan bagaimana hebatnya aku ketika latihan bela diri sewaktu di WOSA dulu."


Jacob menghela napasnya, menahan selama beberapa detik, lalu kemudian menghembuskannya.


"Kau memang cukup pandai dalam bela diri, tapi aku tetap takut jika kau berada jauh dariku, Alesha. Aku tidak bisa melindungimu, jika kita berjauhan," Lirih Jacob sembari mengelusi puncak kepala istrinya.


Kemudian Jacob membaringkan tubuhnya tepat disebelah tubuh sang istri, sedangkan tangannya yang lain tidak berhenti mengelusi wajah si manis kesayangannya itu.


"Maaf, Alesha, seharusnya kita menghabiskan waktu sebagai pasangan pengantin baru dengan banyak mengukir momen-momen romantis, dan indah. Tapi kenyataannya sekarang adalah kita harus berpisah selama beberapa waktu karna kesibukanku."


Jacob menenggelamkan wajahnya pada lekukkan leher Alesha. Menghirup dan meresapi aroma parfum bayi yang melekat pada kulit istrinya itu.


Tak terasa, mata yang terpejam selama beberapa saat akhirnya membawa Jacob pada tidurnya. Hingga menjelang pagi tiba, alarm berupa suara adzan yang berasal dari ponsel pun berbunyi.


Jacob dan Alesha segera bangun dan sama-sama menunaikan kewajiban mereka untuk melaksakan ibadah subuh.


Jacob merasa lebih tenang ketika ia mengimami istrinya. Selang sepuluh menit, seusainya ibadah sholat subuh itu Jacob langsung membawa Alesha menuju sofa. Meski Alesha masih dibaluti oleh mukena, dan Jacob yang juga masih memakai sarung serta pecinya, hal itu tidak menjadi penggangu untuk mereka merundingkan kembali keputusan yang tepat.


"Alesha, kau yakin akan lanjut bekerja, dan tidak ikut bersamaku ke Florida?" Tanya Jacob, pelan.


Alesha tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku tidak ingin jatah cutiku habis, sedangkan kita tidak bisa menikmati waktu bersama. Jadi, lebih baik aku tunda saja cutiku, lalu kau selesaikan urusanmu, baru setelah itu kita bisa berbulan madu."


"Aku khawatir padamu, Alesha. Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa padamu sedangkan aku tidak berada di sini," Balas Jacob, gusar.


"Siapa yang akan berniat jahat padaku?" Alesha terkekeh. "Ayolah, aku ini seorang lulusan WOSA, dan yang mementoriku adalah pria hebat. Sia-sia sekali ilmuku jika aku tidak bisa menghadapi orang-orang jahat itu."


Jacob menggenggam telapak tangan istrinya seraya menatap penuh keseriusan. "Aku tidak perduli seberapa hebat dirimu, Alesha. Aku hanya ingin kau aman. Ikutlah denganku ke Florida."


"Jack, jika aku ikut bersamamu ke Florida, kita tidak akan memiliki waktu untuk berbulan madu, kecuali jika kau memang mau kalau kita tidak perlu melewatkan bulan madu kita. Aku sih tidak masalah karna aku juga tidak begitu mengharapkan bulan madu itu," Balas Alesha. Jujur saja, sebenarnya Alesha tidak mempermasalahkan jika ia dan Jacob tidak akan melewati masa bulan madu mereka, toh Alesha sudah merasa sangat amat bahagia karna Jacob sudah mau menerimanya sebagai seorang istri. Itu sudah sangat cukup untuk Alesha.


Tapi Jacob, dia tetap menginginkan bulan madunya bersama sang istri. Menyiptakan kesan romantis yang tidak akan pernah terlupakan. Namun situasi dan kondisi yang dihadapi sekarang sangat tidak mendukung.


"Lagi pun kau juga akan pergi-pergian terus, dan akan mengacuhkanku karna kesibukanmu. Daripada nanti aku sebal tidak jelas, lebih baik aku tetap di sini dan bekerja. Setidaknya aku memiliki kegiatan yang bisa membuat rasa bosanku hilang," Lanjut Alesha.


"Tapi aku sulit jika harus jauh darimu sekarang, kita baru saja menikah dua hari lalu, Alesha," Ucapan Jacob barusan terdengar seperti sebuah permohonan.


Lalu Alesha harus bagaimana?


"Baiklah, aku akan ikut, tapi aku tidak menjamin jika kita bisa berbulan madu," Ucap Alesha.


Jacob menepuk keningnya, dan mengusap wajahnya dengan gusar. Ayolah, masa iya tidak ada momentum bulan madu untuk mereka?


Tapi jika dipikir lagi, ada benarnya juga Alesha. Jacob pasti akan sangat sibuk mengurusi induk perusahaan yang akan segera melangsungkan promosi berskala besar itu, dan Alesha pasti akan terabaikan.


"Huftt.." Jacob kembali menghembuskan napas beratnya. Alesha akan sedih jika teracuhkan olehnya, belum lagi mereka juga tidak akan banyak memiliki waktu untuk bersama.


"Kau yakin tidak apa-apa jika aku tinggal di sini, Alesha?" Tanya Jacob, pelan.


"Memangnya kenapa? Aku tidak sendiri, ada banyak pelayan, dan kau pikir aku tidak tahu jika kau menempatkan delapan bodyguard yang dikhususkan untuk mengikuti, memantauku! Cukup, Jack, kau bilang waktu itu kau menempatkan sepuluh bodyguard secara diam-diam untuk memata-mataiku selama tiga bulan berturut-turut, dan sekarang setelah menikah pun kau masih saja menyuruh para bodyguard itu untuk mengawalku!" Alesha mendengus sebal. "Kurang aman apalagi? Huh?"


Jacob tersenyum kecil mendengar ucapan si manis kesayangannya itu. Ya, Jacob memang sengaja menyuruh delapan anak buahnya untuk selalu mengikuti dan mengawal Alesha secara diam-diam saat ia tidak sedang bersama Alesha.


"Aku melakukan itu semua untuk memastikan kalau kau selalu aman, sayang," Jacob mencubit penuh kegemasan pada pipi istrinya.


"Aww, sakit!" Alesha memghempaskan lengan suaminya yang mencubit kedua bagian pipinya itu. "Lalu kenapa kau masih ragu? Aku juga bisa mengajak Nina, dan teman-temanku yang lain untuk menginap dan menemaniku di sini, aku tidak akan kesepian."


"Serius kau tidak mau ikut bersamaku ke Florida?" Ulang Jacob untuk meyakinkan istrinya.


"Iya." Jawaban dan anggukan pasti pun Alesha tunjukkan untuk membuat suaminya itu yakin dengan keputusan terakhir tadi.


"Asalkan kau tidak main dengan wanita lain," Lanjut Alesha dengan sangat pelan.


Namun Jacob langsung tersentak ketika mendengar gumaman yang istrinya ucapkan barusan. Untung saja telinganya sangat jeli, jadi mampu mendengar apa yang Alesha ucapkan.


"Kau bilang apa?" Jacob terkekeh.


"Tidak," Balas Alesha, datar.


"Asalkan aku tidak bermain dengan wanita lain?" Sebelah alis Jacob terangkat, senyum geli pun tidak luput dari wajah tampan.


"Kau takut jika aku bermain dengan wanita lain?" Goda Jacob.


"Silahkan saja jika kau mau bermain bersama wanita lain, kau pikir aku tidak bisa mencari lelaki lain," Alesha mendengus sebal. Entah kenapa membahas masalah seperti ini membuat hatinya memanas. Membayangkan Jacob bersama wanita lain benar-benar mempermainkan emosinya.


"Kau cemburu?" Tawa kecil Jacob lolos begitu saja bersamaan dengan pertanyaan itu.


"Ck. Sudah tidak usah bahas masalah ini," Alesha yang merasa sebal pun bangkit dari duduknya, lalu kemudian membuka mukena yang masih melekati tubuhnya.


"Hey, hey, hey, istriku ini benar cemburu rupanya," Jacob merasa begitu gemas dengan sikap istrinya yang sedang sebal menahan kecemburuan saat ini.


Alesha manyun, menekuk mimik mukanya, dan menunjukan ekspresi tidak bersahabat pada Jacob.


"Hey, Jangan marah begitu," Jacob menangkup wajah istrinya. Ia begitu gemas dengan Alesha. "Bagaimana bisa aku bermain dengan wanita lain? Sedangkan aku sendiri sudah memiliki bidadari manis yang sangat aku cinta, dan memiliki semua yang aku butuhkan," Jacob memberikan beberapa ciuman penuh cinta pada setiap inchi wajah istrinya.


Tetapi Alesha tetap diam dengan ekspresi datar meski suaminya itu menciuminya.


***


Siang hari di kota yang berjuluk Paris Van Java itu, Alesha kini sedang sibuk memasukkan pakaian-pakaian suaminya kedalam koper, dan menyiapkan semua kebutuhan yang akan dibawa oleh Jacob menuju Florida, Amerika Serikat. Jacob sendiri sedang sibuk menelepon seseorang yang entah siapa Alesha pun tidak tahu.


Mencoba untuk tetap tersenyum seolah tidak ada sedikit pun kesedihan dalam dirinya, Alesha pun merapikan koper-koper, dan tas yang sudah ia isi dengan perlengkapan suaminya.


"Sudah, sayang?" Tanya Jacob yang menghampiri Alesha.


"Sudah," Jawab Alesha dengan senyum palsunya.


"Terima kasih sudah menyiapkan perlengkapanku, Alesha," Jacob memberikan kecupan singkat pada bibir Alesha.


Hal itu membuat Alesha semakin merasa sedih. Berapa lama mereka akan berpisah? Semoga saja Jacob bisa menjalankan tugasnya dengan lancar dan cepat.


"Kau akan berangkat jam berapa?" Tanya Alesha.


"Sebentar lagi. Mobil penjemputku akan tiba tidak lama lagi," Jawab Jacob tanpa mengetahui kesedihan yang sedang melanda istrinya.


Kembali senyum palsu terukir pada wajah Alesha. "Kira-kira kau akan kembali lagi kapan?"


"Entahlah, tapi yang pasti tidak akan lama. Tugasku sekarang adalah fokus pada perencanaan promosi perusahaan. Jadi, mungkin aku akan lebih sering bulak-balik Amerika-Indonesia."


Samar-samar Alesha terkesiap. Ia cukup senang mendengar jawaban dari suaminya barusan. Kali ini, seberkas senyuman pun memaniskan wajahnya.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam waktu yang lama, Alesha," Jacob mengelus puncak kepala istrinya, dan memberikan sebuah ciuman pada kening wanita pujaan hatinya itu.


"Tidak usah khawatirkan aku. Bekerjalah yang benar, dan teliti. Jangan lupa jaga kesehatan, ingat makan, atur waktu istirahat agar kau tidak sakit, jangan terlalu sering menghubungiku karna kau pasti akan sangat sibuk. Aku di sini akan baik-baik saja," Ucap Alesha sembari membenarkan dasi, dan jas yang melekat pada tubuh besar suaminya.


"Aku harap tidak ada wanita lain yang akan kau lirik," Lanjut Alesha dengan malas.


"Hey, kenapa kau bicara seperti itu, Alesha?" Jacob menangkup wajah istrinya.


"Kau berada dalam jarak yang jauh dariku, aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan di sana selepas kau bekerja. Bisa saja kau main bersama wanita lain saat kau merasa bosan," Alesha memalingkan pandangannya dari tatapan sang suami.


Jacob terkekeh. Ia bingung bagaimana bisa Alesha memiliki pikiran seperti itu?


"Kau cemburuan rupanya," Ledek Jacob.


"Ck," Alesha menghentakkan kakinya sembari berdecak sebal. "Istri mana yang tidak cemburu jika suaminya bermain dengan wanita lain?" Kemudian Alesha mendorong dada suaminya supaya ia dapat menjauh.


"Aku tidak tahu jika kau bisa secemburu ini, hahahaha..." Jacob tertawa sembari mencubit gemas kedua belah bagian pipi istrinya.


"Owh, jadi kau tidak suka jika aku memiliki rasa cemburu? Baiklah, kalau begitu aku tidak akan cemburu," Alesha melangkah mundur sembari melipatkan kedua tangannya, dan menatap angkuh pada suaminya. "Silahkan jika kau ingin bermain-main bersama wanita lain, lakukanlah sesukamu bersama wanita-wanita itu. Aku tidak akan marah, apalagi cemburu."


"Aku hanya akan bermain dengan satu wanita dalam hidupku," Jacob memajukan langkahnya untuk mendekap, dan mengangkat tubuh istrinya. "Yaitu, kau," Tanpa ada jeda, Jacob langsung mengulum lembut bibir ranum Alesha.


"Jangan pernah berpikiran macam-macam, Alesha. Aku tidak akan pernah melirik wanita lain," Ucap Jacob, serius.


"Buktikan!" Balas Alesha.


"Pasti, sayang!" Jacob menyunggingkan smirk nakalnya. "Dan jika kau berani bermain bersama lelaki lain, maka lelaki itu akan menanggung akibat yang sangat mematikan dariku."


"Untuk apa aku bermain bersama lelaki lain? Memangnya aku wanita macam apa? Sudah bersuami tapi masih melirik lelaki lain. Huh, aku tidak mau menurunkan harga diri, dan derajatku," Balas Alesha.


"Gadis yang pintar," Kembali Jacob mengecup bibir manis kesukaaannya.


Sungguh manis. Alesha sangat menyukai momen dimana Jacob mengangkat tubuhnya, dan memeluk dengan erat, belum lagi ciuman-ciuman lembut yang selalu Alesha terima. Mungkin ini yang disebut sebagai surga dunia. Mendapatkan cinta, dan kasih sayang penuh dari seorang suami.


Lalu Jacob menurunkan kembali tubuh istrinya. "Aku akan sangat merindukanmu, Alesha."


"Permisi, Tuan, mobil penjemput anda sudah tiba di depan," Ucap Taylor yang baru saja masuk ke dalam kamar majikannya itu.


Jacob mengangguk. "Tunggu sebentar lagi, aku akan segera ke sana."


"Baik, Tuan," Lalu Taylor pun kembali pergi meninggalkan kamar itu.


"Taylor akan tetap di sini untuk menjagamu, kemungkinan aku akan kembali empat atau lima hari lagi," Ucap Jacob.


"Iya. Jaga dirimu, aku menunggu di sini," Balas Alesha. "Ayo, mobilmu sudah menunggu di depan."


Lalu Alesha merangkul lengan Jacob, dan membawa suaminya itu berjalan menuju halaman rumah mereka.


Para pelayan menunduk, dan memberikan salam hormat pada Alesha, dan Jacob, seolah pasangan pengantin baru itu adalah raja, dan ratu dari sebuah kerajaan.


Setibanya di halaman rumah, beberapa pelayan langsung memasukan koper, dan tas yang akan Jacob bawa ke dalam bagasi mobil.


"Tuan, anda harus cepat, pesawat Nyonya Laura mesti berangkat kurang dari satu jam lagi," Ucap Taylor.


Jacob mengangguk, lalu menatap pada Alesha. "Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku."


"Siap, Pak Bos!" Alesha mengangkat telapak tangannya, dan memberi hormat seperti seorang prajurit TNI.


"Taylor, tetap berada dekat dengan Alesha, dan jaga dia baik-baik!" Titah Jacob pada asisten kepercayaannya.


"Nona Alesha akan selalu berada dalam pantauan saya, Tuan," Balas Taylor.


"Bagus. Kalau begitu aku berangkat akan sekarang, Alesha," Jacob menangkup wajah istrinya. "Aku mencintaimu, Lil' Ale."


Tubuh Alesha sedikit terlonjak ketika Jacob tiba-tiba saja menciumnya dihadapan seluruh anak buah, dan para pelayan yang ada di halaman mansion itu.


Malu!


Pipi Alesha merona karna ulah suaminya itu. Pasalnya ada cukup banyak pelayan, dan anak buah yang melihat adegan ciuman itu.


Segera Alesha meraih telapak tangan kanan Jacob, lalu mencium punggung tangan suaminya itu sebagai bentuk dari rasa hormatnya.


"Assalamualaikum," Ucap Jacob sembari mengelus puncak kepala istrinya yang selalu terlapisi oleh hijab.


"Waallaikumussalam," Balas Alesha yang masih dilanda malu-malu, dan grogi.


Kemudian, Jacob pun membalikkan tubuhnya, dan segera memasuki mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilat yang akan membawanya menuju bandara yang berada di kota tempatnya tinggal itu.


Alesha melambaikan tangannya ketika mobil sedan yang membawa suaminya itu pergi. Senyum manis masih sempat terukir pada wajahnya, namun ketika kendaraan beroda empat itu sudah menghilang dari pandangannya, Alesha pun berjalan secepat mungkin menuju kamarnya. Ia rasa ia akan menangis dipojokan kamar sembari memeluk kedua lututnya.


Lalu ketika sampai, pintu kamar pun langsung Alesha kunci, kemudian ia berlari menuju sofa yang berada disudut tembok dan bersebelahan dengan jendela kaca.


Alesha meraih boneka beruang besarnya, memeluk sangat erat, dan membiarkan tetes demi tetes air mata turun membasahi wajahnya.


"Mr. Jacob, hiks.." Tangis pelan Alesha.


Empat sampai lima hari lagi. Alesha harus bersabar, suaminya pasti akan sangat sibuk meski sudah kembali ke Indonesia, mengingat induk perusahaan milik ibu mertuanya akan segera melangsungkan promosi berskala besar di stadion GBLA.


Mungkin dua minggu, atau bahkan lebih Alesha, dan Jacob tidak akan memiliki banyak waktu bersama, dan Alesha juga tidak mau menyusahkan atau memberikan hambatan kepada suaminya itu. Jadi ya satu-satunya jalan adalah sabar, sabar, sabar, dan sabar.