May I Love For Twice

May I Love For Twice
The End



(Part ini agak panjang ya kawan-kawan🤧hiks, author sedih nih ketik-ketik part ini sampe air mata netes beberapa kali🤧)


****


*


*


Hari pun berganti. Kini Jacob dan timnya sudah bersiap untuk kembali menuju WOSA. Di luar markas SIO tersebut, mobil mini bus sudah menunggu untuk mengantarkan mereka menuju bandara. Tapi sebelum itu, Jacob dan anggota timnya menyempatkan diri untuk menemui jasad Yuna dan ketiga temannya terlebih dahulu.


"Selamat jalan, sayang. Tidurlah dengan tenang." Jacob menatap lekat wajah cantik yang pernah menjadi ratu dihatinya kala itu. "Ingat cincin ini, Yuna? Aku tidak akan pernah memberikan cincin ini pada wanita lain. Hanya kau lah yang boleh memikiki cincin ini." Lalu kemudian, Jacob pun menyelipkan cincin itu pada jari manis Yuna. Selama lima tahun ia menjaga dan terus menggantungkan cincin itu pada kalungnya yang termebunyi dibalik pakaian yang ia kenakan. "Selamat tinggal, dan selamat jalan, Putri Tidurku." Jacob mengecup kening Yuna dengan cukup lama. Ia ingin menghabiskan sisa kerinduannya agar tidak lagi terbayang-bayang akan sosok cantik yang selalu menjadi pujaannya beberapa tahun lalu.


Dibelakang, Alesha dan anggota timnya yang lain hanya bisa terdiam. Mereka membiarkan sang mentor untuk memberikan penghormatan dan pelepasan rindu untuk yang terakhir kali, karna setelah ini, jasad Yuna dan tiga temannya yang lain akan langsung diserahkan kekeluarga mereka masing-masing untuk dimakamkan secara layak.


"Sekarang aku akan mengikhlaskan kepergianmu dengan sangat tenang, Yuna. Sudah tidak ada lagi beban dalam hidupku setelah kita bertemu, walau pun untuk yang terakhir kalinya."


Jacob mengangkat wajahnya lalu menengok ke belakang. "Alesha, kemarilah."


Tanpa berpikir panjang, Alesha segera berjalan mendekati mentornya, meski ia merasa bingung karna tidak tahu kenapa Jacob tiba-tiba saja memanggilnya.


Tepat disebelah jasad Yuna, kini Jacob meraih kedua telapak tangan Alesha lalu menatap penuh keseriusan pada gadis yang menjadi ratu baru dihatinya itu.


"Jangan pernah lagi merasa cemburu terhadap Yuna, jangan pernah lagi berpikiran kalau aku mencintaimu karna kau memiliki aura yang sama dengan Yuna. Sekarang aku hanya akan mencintaimu, Alesha. Yuna sudah menjadi masa laluku, aku tidak akan melupakannya, tapi aku juga tidak akan pernah mengingat-ingatnya lagi. Percayalah, aku sudah mengikhlaskan kepergian Yuna dan melepaskan semua beban yang aku tanggung selama lima tahun sejak Yuna hilang. Dan berkatmu, kini aku bisa terbebas dari rasa bersalahku terhadap Yuna. Terima kasih, Alesha, terima kasih banyak." Jacob meraih lingkar pinggang Alesha lalu mengangkat tubuh gadis itu sembari memberikan pelukan yang begitu erat.


"Kau yang paling berjasa dalam hidupku, dan sekarang kau adalah yang paling berharga untukku, sayang."


Alesha yang merasakan tubuhnya mengambang pun terdiam membelenggu mulutnya sendiri. Ia malu, pasalnya di ruangan itu juga ada kawan-kawan setimnya.


"Alesha..."


"I-iya?"


"Aku mencintaimu..."


Blushed....


Sensasi panas menjalar dari ujung kaki hingga kepala Alesha.


Perlahan, Jacob menurunkan kembali tubuh gadis kesayangannya lalu beralih dengan meletakkan sebelah telapak tangan Alesha pada punggung tangan milik Yuna.


"Ada sesuatu yang ingin kau katakan pada Yuna?" Tawar Jacob disertai seukir senyum kecil yang tampak manis.


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Alesha kebingungan untuk memberikan jawabannya. Ia pun menatap bolak-balik kepada mentornya dan jenazah Yuna.


"Katakan saja apa ingin kau katakan, yang ada dalam hati dan kepalamu, Alesha." Lanjut Jacob.


Lalu Alesha memantapkan pandangannya pada Yuna. Menarik napas, dan menghembuskannya, kemudian Alesha mulai membuka suaranya. "Kau adalah gadis cantik, senang bisa membantu Mr. Jacob untuk menemukanmu dan tiga temanmu yang lain. Selamat tinggal, dan selamat jalan, Yuna. Mr. Jacob merasa beruntung karna pernah memilikimu dihatinya." Setelah mengucapkan potongan kalimat itu, Alesha pun beralih dengan menatap pada mentornya.


"Sudah?" Tanya Jacob.


Alesha mengangguk.


"Selamat jalan, kalian bertempat. Aku pamit sekarang." Jacob langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan begitu saja ke luar ruangan. Ia ingin menangis setelah berpamit pada keempat anak didiknya dahulu. Siapa yang tidak merasa sedih dan terharu? Mengucapkan kalimat 'Selamat tinggal' untuk yang terakhir kali, dan setelah itu melepaskan kepergian dengan hati yang memaksa untuk mengikhlaskan walau rasanya sangat sulit. Tetapi Jacob harus tegar, dan bahagia. Ia sudah dipertemukan kembali dengan sosok tercinta dan tiga remaja anak asuhnya yang sempat menghilang selama lima tahun.


Sekarang adalah saat untuk Jacob benar-benar mengubah alur dan jalan hidupnya. Beban berat sudah berlalu, sekarang ia akan fokus pada tujuan selanjutnya, yaitu menjadikan Alesha sebagai miliknya lalu menjalani sisa hidup berdua dengan gadis itu.


Berjalan memasuki mobil mini bus, dan menerobos waktu dengan kecepatan penuh. Setiba di bandara, pesawat milik SIO sudah mendarat dan akan mengudara dalam waktu beberapa menit lagi.


Setelah memasuki ruang dalam pesawat, Jacob mengambil tempat di bagian belakang. Ia sedang ingin menyendiri dan tidak mau diganggu, bahkan Alesha sekali pun tidak dapat mengusik diri mentornya saat ini.


Perjalanan panjang menempuh waktu berjam-jam dan melelahkan walau hanya duduk diam di atas bangku pesawat. Kelompok tim Jacob dan Eve sama-sama terdiam membisukan ruang pesawat yang kini sudah berada di tengah-tengah hamparan langit raksasa.


Meleburkan harapan untuk dapat kembali mengulang masa-masa indah dan menegangkan yang pernah terjadi, namun itu hanya dapat dilakukan dalam pikiran. Pada kenyataannya waktu tidak pernah berjalan mundur atau kembali pada masa lalu.


***


Tak terhitung sudah berapa jam berlalu sejak pesawat yang ditumpangi oleh tim Jacob dan Eve lepas landas dari bandara, yang mereka tahu adalah kini pesawat sudah kembali mendarat dengan sempurna di halaman belakang WOSA yang begitu luas.


Kedua kelompok tim itu kembali ke ruangan dan kamar mess masing-masing. Mereka membersihkan, merebahkan, lalu mengistirahatkan diri yang begitu lelah setelah menjalani ujian akhir di Himalaya.


Selang beberapa hari berlalu tanpa adanya kegiatan belajar mengajar, malam ini para murid senior WOSA akan berkumpul di ruang aula utama sesuai perintah yang sudah Mr. Thomson berikan.


Di dalam ruang aula itu, mereka mendengarkan pidato singkat yang Mr. Thomson berikan, dan ternyata pidato singkat itu merupakan pembukaan untuk acara kelulusan yang akan dilaksanakan pada malam itu pula.


Acara yang sesungguhnya pun dimulai, perayaan kelulusan berlangsung amat meriah. Keseratus murid senior WOSA telah sukses menjalani pelatihan selama dua tahun yang dirasa cukup berat. Tekanan fisik dan mental telah teruji, pengetahuan dan wawasan sudah memadai untuk dapat bergabung dengan SIO.


Lalu hari ini, tepatnya setelah malam penuh keceriaan tadi berlalu dan berubah menjadi pagi hari yang indah, Mr. Thomson kembali mengumpulkan keseratus murid senior WOSA untuk berkumpul di dalam ruang aula utama.


Setelah memastikan kalau keseratus murid tersebut sudah berkumpul, akhirnya Mr. Thomson memulai pertemuan itu. Sepatah dua patah kata, bersambung menjadi beberapa bait kalimat pembuka, Mr. Thomson pun selesai dengan pidato singkatnya, dan kini adalah saatnya untuk Mr. Thomson mengumumkan hasil rekapitulasi yang sudah SIO buat sedemikian rupa yang berisi pembagian penempatan bidang pekerjaan yang akan diambil atau diterima oleh keseratus murid WOSA yang sudah dinyatakan lulus tersebut.


Dimulai dari kelompok tim yang pertama, lanjut pada kelompok tim kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga sampai pada kelompok tim terakhir, yaitu Luxury-1.


Bastian dan anggota timnya sudah bersiap dengan perasaan yang sudah tidak karuan karna gugup dan menerka-nerka, kira-kira dimana mereka akan ditempatkan sebagai pegawai sah SIO.


'


"Untuk kelompok tim Luxury-1, mungkin saat ini SIO tidak akan menempatkan kalian dibagian mana pun."


Hening.....


*


*


Bastian dan anggota timnya seketika bungkam. Pandangan dan ekspresi wajah mereka berubah seratus delapan puluh derajat menjadi lurus, kosong, datar, dan bahkan mulai pucat karna syok setelah mendengar ucapan Mr. Thomson tadi.


Apa maksudnya? Apa mereka tidak diterima di SIO? Lalu apa gunanya mereka melatih diri begitu keras di WOSA jika hasilnya nihil? SIO tidak menerima mereka.


Timbul rasa kecewa, sedih, dan marah dalam benak mereka. Perjuangan selama dua tahun untuk menuntut ilmu sia-sia saja karna mereka tidak ditempatkan diposisi mana pun di SIO.


"SIO harap kalian bisa bersabar untuk menunggu rampungnya kantor pusat penelitian baru yang berada di Bandung, Indonesia. SIO akan menempatkan kalian di sana tiga bulan lagi sebagai pengurus, juga beberapa dari kalian akan ikut bersama para ilmuan untuk terjun langsung dalam berbagai macam ekspedisi penelitian ilmiah."


Lanjutan dari ucapan Mr. Thomson tersebut sontak saja menghasilkan sebuah lonjakan keterkejutan dalam diri Bastian dan anggota timnya, terutama Alesha.


"Bandung?" Pekik Alesha. "Itu kota kelahiran dan juga tempat tinggalku!"


"Horee........" Sorak sorai penuh kegembiraan dan kebahagiaan dari kesembilan anggota tim tersebut dan diikuti oleh tepuk tangan dari anggota tim lain.


"Akhirnya..... Horeeee...."


"Alhamdulillah, Ya Allah, terima kasih banyak..." Alesha menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia terharu dan terus menggumamkan sholawat, salam, dan terus menyebut-nyebut nama Sang Maha Kuasa sebagai ungkapkan rasa bersyukurnya.


Jacob yang duduk dibarisan depan bersama para mentor lain pun hanya bisa menyunggingkan senyum menawannya. Ia benar-benar bangga terhadap anak asuhannya itu, dua tahun memberi pengajaran dan pengarahan, kini semua sudah tuntas dan dibayar lunas dengan prestasi yang sudah didapatkan oleh anggota timnya. Kenangan kebersamaan selama selama dua tahun yang sangat berkesan dalam hati Jacob. Bersama anggota timnya yang sekarang, Jacob juga berhasil mendapatkan kembali jati diri yang sesungguhnya.


Kalian akan selalu menjadi bagian dari keluargaku, aku sangat menyayangi kalian semua. Terima kasih karna sudah membuatku mendapatkan kembali jati diriku yang sempat hilang waktu itu. Aku sangat bangga dan senang bisa menjadi guru, mentor, dan orang tua untuk kalian....... Ucap Jacob penuh ketulusan dalam hatinya.


Acara pun selesai, Mr. Thomson mengucapkan beberapa kalimat penutup untuk mengakhiri pertemuan itu.


"Ini mungkin adalah hari terakhir kalian di WOSA, tapi kalian akan tetap memiliki status sebagai murid WOSA sampai kapan pun. Sekian dari saya, Thomson selaku kepala sekolah Word School Academy, saya ucapkan selamat untuk kalian semua."


Prok...


Prok...


Prok...


"Horee...."


Riuh picuh kegembiraan yang saling sahut menyahut meramaikan ruangan aula yang besar itu.


Para mentor pun bangkit dari duduk mereka dan berjalan menghampiri kelompok tim masing-masing.


"Mr. Jacob....." Pekik Maudy yang langsung menghambur memeluk erat tubuh jangkung mentornya.


"Mr. Jacob..." Disusul Merina, Nakyung, dan yang lain. Kini Jacob berdiri tegap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh karna menahan pelukan serentak yang diberikan oleh anak-anak asuhnya.


Tetapi tidak dengan Alesha, gadis itu malah berdiri sendirian dengan air mata yang sudah mengucur hingga timbul sesegukan kecil yang menghalangi jalan napasnya.


"Alesha...." Gumam Jacob yang malah menimbulkan rasa khawatir dalam dirinya.


"Hey, kenapa kau menangis?" Jacob menyerka lembut air mata yang mengalir pada pipi Alesha.


"Hiks, hiks... A-apa, hiks, ki-kita akan, hiks, bertemu la-lagi?" Alesha menatap nanar pada Jacob.


Bukannya menjawab, Jacob malah tertawa mendengar pertanyaan gadis kesayangannya itu.


"Mr. Jacob, jangan tertawa, hiks!"


"Hahahhaha... Alesha, Alesha. Pertanyaanmu itu sangat konyol. Hahahah..." Ungkap Mike yang turut tertawa setelah mendengar pernyataan dari salah satu temannya itu.


"Aku tahu, Alesha pasti takut jika Mr. Jacob tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Hahahah...." Sambung Lucas.


Tiba-tiba saja Mike meraih jemari Lucas dan menatap lekat-lekat wajah kawannya itu. "Lucas, apakah kita akan dapat bertemu lagi?" Ucap Mike dengan nada yang dibuat-buat dan terkesan mendramatisir.


"Tentu saja, bagaimana bisa aku hidup tanpamu, Mike, aku sangat mencintaimu.." Balas Lucas yang sama-sama mendramatisir suaranya seolah dia adalah seorang pria yang takut akan kehilangan kekasihnya.


"Hahahah, cukup! Wajah Alesha sudah memerah matang, hahahaha." Seru Nakyung disela-sela tawa cekikikannya.


Alesha yang merasa dirinya sedang dijahili oleh teman-temannya itu pun kian menundukkan wajahnya dan menangis semakin deras.


"Cup, cup, cup. Jangan menangis lagi, sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tentu saja kita akan bertemu kembali, aku tidak bisa jika harus lama-lama berjauhan denganmu, Alesha." Jacob segera memeluk erat tubuh gadisnya untuk memberikan ketenangan, walau ia sendiri sebenarnya merasa geli dan ingin ikut tertawa seperti anggota timnya yang lain.


"Hiks, Mr. Jacob, kau akan sering mengunjungikukan ke Bandung? Hiks, Mr. Jacob, aku takut jika aku akan sendirian di sana."


Jacob menghela napasnya. Ia tahu kemungkinan besar Alesha akan tinggal sendirian di Bandung.


"Alesha, kita akan selalu saling terhubung. Lagi pula ada Nina yang akan menemanimu nanti." Jacob menangkup wajah Alesha lalu mengangkatnya agar mereka bisa saling bertatapan. "Alesha, dengar, mungkin setelah ini aku tidak akan bisa menemui untuk beberapa waktu kedepan, tapi aku akan berusaha agar bisa bertemu denganmu secepatnya."


Alesha hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus berbicara bagaimana lagi. Rasanya seperti bercampur-campur. Ia bahagia karna bisa lulus dari WOSA, dan juga masa depan pekerjaan sudah terjamin, namun disisi lain, ia takut jika Jacob akan melupakannya, dan di tempat ini, sungguh berat untuk Alesha meninggalkan WOSA, ia sudah terlanjur betah dan ingin tetap tinggal di sekolah ini. Jika saja bisa, Alesha ingin sekali mendaftar untuk menjadi seorang mentor, ia pasti akan merindukan pulau ini, bangunan di sekolah ini, suasana, aura, dan semua hal tentang WOSA, Alesha akan sangat merindukannya.


***


Hari pun sudah berganti, para murid yang sudah lulus baru saja selesai menghadiri upacara terakhir mereka di WOSA. Tangis haru mewarnai pagi cerah itu. Bagaimana tidak? Dua tahun hidup bersama, berjuang bersama, dan kini mereka semua sukses dan lulus bersama-sama. Sungguh pengalaman yang menakjubkan dan sangat amat berkesan dapat menjadi bagian dari WOSA, dan sekarang hidup baru akan segera ditempuh, menjadi bagian dari SIO, dan bekerja dengan mengandalkan ilmu yang sudah diajarkan oleh para guru dan mentor selama dua tahun lamanya.


"Ayo, kalian harus segera menaiki pesawat karna jam penerbangannya sebentar lagi akan tiba." Ucap Jacob yang menggiring anggota timnya menuju halaman belakang dimana satu buah pesawat milik SIO sudah terparkir.


Jacob pun sempat terharu dan meneteskan air matanya tadi. Ia tidak menyangka saja kalau waktu akan berjalan begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin ia menyuruh anggota timnya itu untuk berkumpul dan menghadiri acara first ceremony dimana para murid baru WOSA disambut dengan suka cita.


"Jaga diri kalian baik-baik. Tiga bulan lagi kalian akan menyandang status sebagai karyawan SIO." Ucap Jacob.


Tidak tahu kenapa, setelah mendengar ucapan mentornya barusan Alesha mendadak merasakan sebuah pukulan pada dirinya. Ia menundukkan kepalanya dan kembali menangis.


"Alesha, kau kenapa?" Tanya Nakyung sembari menyerka air matanya sendiri karna ia juga sempat menangis setelah mendengar pidato singkat Mr. Thomson di upacara terakhir tadi.


"Aku akan sangat merindukan WOSA." Lirih Alesha. "Di sini aku mendapatkan duniaku, keluarga baru, dan..." Alesha mengangkat wajahnya lalu menatap sendu pada sang mentor. "Aku mendapatkan kasih sayang yang sudah sejak lama tidak aku rasakan setelah sepeninggal orang tuaku."


Jacob menarik napas untuk menenangkan dirinya yang tiba-tiba merasakan emosi kesedihan mendalam setelah melihat tangis sendu gadisnya. "Kita semua menyayangimu, Alesha. Kita adalah keluarga sekarang, dan bagusnya lagi kalian akan bekerja di satu tempat yang sama. Kalian akan bisa terus mengukir banyak momen yang jauh lebih menyenangkan lagi dari sebelumnya. Tetaplah seperti ini, tetaplah bersama, saling membantu, melengkapi, dan menyayangi. Ini bukan perpisahan apalagi akhir, tapi ini adalah awal, sayang."


"Apa nanti kau juga akan bersama kami, Mr. Jacob?" Tanya Alesha.


Jacob sudah tidak kuat lagi untuk menahan dirinya yang ingin sekali memeluk tubuh Alesha. Ia pun akhirnya membenamkan Alesha pada dekapannya. "Aku akan sangat amat merindukanmu, Alesha. Kita akan memiliki banyak waktu bersama melalui sambungan telepon."


Alesha terdiam tanpa bisa mengucapkan kalimat apapun lagi. Ia paham, dan ia sangat mengerti kalau mentornya itu pasti akan menjadi mentor lagi untuk anak murid WOSA angkatan baru, dan itu berarti, kemungkinan ia akan dapat berjumpa dengan Jacob adalah satu tahun lagi.


"Sampai jumpa nanti, Mr. Jacob." Hanya itu yang dapat terucap dari mulut Alesha.


"Boleh aku minta satu permintaan, My Lil' Ale?"


"Apa?"


Jacob mengangkat tengkuk Alesha hingga kedua bibir mereka pun saling bersentuhan dengan begitu lembut dan hangat.


"Ya ampun..." Nakyung tersenyum sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain, begitu pun kawan-kawan setimnya, mereka juga sama-sama mengalihkan pandangan dari dua insan yang sedang saling bertukar sentuhan lembut pada bibir masing-masing.


"Alesha yang dicium aku yang malu.." Komen Merina.


Apa yang Jacob lakukan terhadap Alesha saat ini tentu saja membuat mereka berdua menjadi tontonan hangat para murid WOSA yang sedang berlalu-lalang.


Wajah-wajah tidak suka, cemburu, geram, dan masih banyak lagi terpampang cukup jelas, terutama untuk mereka yang merupakan pengagum rahasia Jacob, hancurlah seketika hati mereka saat melihat adegan panas dan romantis yang Jacob berikan untuk Alesha.


"Cukup, kau membuatku malu, Mr. Jacob." Ucap Alesha yang menyudahi ciumannya dengan sang mentor.


"Ya, ampun! Jika kalian ingin bermesraan jangan di sini juga!" Seru Laras yang tiba-tiba saja datang dan turut menyaksikan ciuman hangat yang terjadi antara Jacob dan Alesha.


"Jack, kau ini bagaimana? Mereka harus segera memasuki pesawat!" Omel Laras.


"Ck, sejak hamil kau jadi lebih sensitif, Laras." Balas Jacob sembari melirik jahil pada perut kawan wanitanya yang sudah membuncit. Ya, sejak enam bulan yang lalu Laras memang sedang mengandung anak dari Danish. Setiap kali Danish pergi ke SIO, Jacob lah yang selalu dipercaya oleh Danish untuk menjaga Laras, dan karna itu pula Jacob sering terkena semburan emosi Laras yang menjadi tidak stabil sejak mengandung. Salah sedikit, Laras akan langsung memarahinya, tapi untung saja Jacob bisa bersabar, dan itung-itung sebagai pembelajaran juga untuk Jacob jika ia sudah memiliki istri nanti.


"Sudah, sudah. Kalian semua cepat masuk ke dalam pesawat itu, atau kalian akan tertinggal nanti." Titah Laras pada kelompok tim Bastian.


"Baik, baik, kami pergi. Sampai jumpa lagi, Mr. Jacob. Kami akan sangat merindukanmu." Saut Bastian sembari berjalan mundur.


Rombongan para murid WOSA pun mengantri untuk menaiki tangga yang membantu mereka untuk melewati pintu dan masuk ke dalam ruangan pesawat besar itu.


"Huftt. Aku akan merindukan Alesha." Gumam Laras yang masih bisa terdengar oleh telinga Jacob.


"Kau akan bertemu dengannya lagi nanti. Bukannya kau yang akan menjadi pimpinan kantor pusat penelitian baru SIO di Bandung?" Tanya Jacob.


"Iya, juga. Kau benar, Jack." Ucap Laras sembari menjentrikkan jarinya.


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Laras.


"Aku?" Jacob menunjuk dirinya sendiri. "Entahlah, aku menunggu keputusan dari kakakku, Mona."


"Huh, semenjak keluar dari SIO dan menjabat sebagai CEO utama dari induk perusahaan milik ibumu, dia jadi lebih sering menghubungiku untuk bisa memantaumu."


"Apa?" Jacob mengerutkan keningnya menatap penuh kebingungan pada sahabatnya itu.


"Apa aku baru mengatakannya? Hehehe, aku jadi keceplosankan." Laras tersenyum kikuk. Ia lupa, seharusnya ia tidak mengatakan kalau selama hampir satu tahun ini Mona meminta bantuannya untuk mengawasi Jacob.


"Tunggu? Apa maksudnya? Kenapa Mona memintamu untuk mengawasiku?"


"Kau bisa tanyakan sendiri pada kakakmu itu."


Disisi lain, Alesha yang beberapa langkah lagi sampai pada pintu pesawat pun langsung teringat akan satu hal.


"Bonekaku!" Dengan cepat Alesha memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Jacob yang masih berdiri di tempat bersama Laras.


"Mr. Jacob, bonekaku!!"


Teriakkan Alesha barusan pun berhasil terdengarkan oleh telinga Jacob. Tidak kalah terkejutnya dengan Alesha, Jacob pun sama, ia baru ingat jika boneka Alesha masih berada di ruangannya.


"Ya ampun, Baby Ale!"


"Alesha, cepatlah masuk! Dibelakang antrian masih lumayan panjang!" Pekik Merina.


"Tapi bagaimana dengan bonekaku?"


"Kau malah mementingkan bonekamu! Pesawat akan segera lepas landas, cepat masuk!" Balas Nakyung.


Terpaksa sekali Alesha mengambil langkah selanjutnya untuk bisa melewati pintu dan masuk ke dalam pesawat. Ia tidak tenang dan menjadi salah tingkah, pasalnya boneka kesayangannya tertinggal di ruangan mentornya. Lalu bagaimana?


Sedangkan di luar, Jacob hanya bisa tertawa kecil. Ia pun baru ingat dan tersadar kalau Baby Ale masih menetap di ruangannya. Tapi tidak apa, Jacob akan menjadikan Baby Alenya sebagai kenang-kenangan dari Ale yang asli.


Biarkan Baby Ale tetap bersamaku, Alesha. Aku akan mengenangmu dengan Baby Ale itu. Sampai jumpa lagi, sayang. Aku mencintaimu..... Ucap Jacob dalam hatinya.


Melalui perantara jendela pesawat yang berukuran kecil, Alesha terus saja memandang ke arah pria yang selama dua tahun ini sudah memberinya banyak sekali pelajaran, pengalaman, dan hal-hal baru yang akan selalu terkenang. Sudah dan senang, pengorbanan dan kasih sayang, Alesha tidak akan melupakan itu semua.


Terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan padaku, Mr. Jacob. Aku harap kita dapat bertemu kembali dilain waktu. Semoga kau sehat selalu, dan tidak akan melupakanku. Aku menyayangimu, Mr. Jacob....... Alesha menundukkan kepalanya, menahan air mata yang sudah siap terjun. Kini ia tidak bisa lagi bertatapan langsung dengan wajah pria yang sudah terlanjur membuatnya jatuh hati kembali. Kenyataan yang cukup pahit karna mereka harus berpisah, dan entah kapan lagi mereka dapat bertemu kembali.


Long Distance Relationship......


Dan pada akhirnya mereka pun berpisah.


*THE END.........