
"Mr. Jacob benar-benar mengesalkan! Harusnya dia bisa nempatin situasi dan kondisi, bukan seenaknya maen peluk-peluk aja, emangnya aku siapa? Bisa seenaknya dia peluk gitu. Dia pikir aku Yuna! Kalo gini caranya jadi takut sendiri sama Mr. Jacob. Kok bisa dia seberani itu? Apa maksudnya? Udahlah, inimah pasti Alesha bakal jadi bahan ghibah tuh murid-murid yang tadi lewat, ntar ada rumor gak jelas aja kesebar." Oceh Alesha. Saat ini ia sedang terduduk dibangku kantin.
Alesha sangat kesal dengan mentornya itu. Alesha berpikir kalau Jacob terlalu berlebihan bersikap padanya, dan itu berbeda dengan sikap Jacob pada yang lain. Alesha tidak mau ada rumor tidak jelas yang akan membawa-bawa namanya, juga nama Jacob. Tapi semua sudah terjadi, Jacob juga punya banyak pengagum rahasia di WOSA. Alesha bisa jadi pembicaraan hangat bagi para pengagum rahasia Jacob itu. Namanya akan semakin terkenal diseluruh WOSA, apa lagi jika Mr. Thomson tahu.
Alesha meremas pinggiran meja untuk menahan emosinya. "Mr. Jacob tuh sebenernya kenapa sih? Kenapa perduli banget sama Alesha?" Alesha mendengus kesal. "Terus tadi itu maksudnya apa?" Alesha menggertakkan giginya serta memukul pelan meja itu.
"Astagfirullah, ya allah, sabar Alesha, sabar." Alesha mengelus dadanya untuk menahan emosinya agar tidak meluap lagi.
"Alesha!" Panggil Jacob dari jauh yang sedang berjalan menuju Alesha. Alesha yang melihat Jacob berjalan ke arahnya segera bangkit lalu pergi begitu saja untuk menghindari Jacob. Ia berlari secepat mungkin menuju kamar messnya.
"Alesha tunggu!" Panggil Jacob yang turut berlari mengikuti Alesha.
"Alesha, kumohon dengarkan aku dulu." Gumam Jacob disela-sela larinya.
Alesha memasuki gedung venus tempat kamar messnya berada. Ia menaiki anak tangga dengan cepat lalu segera berlari ke kamar messnya. Setelah sampai, Alesha segera menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Alesha segera berjalan lalu merentangkan tubuhnya di atas kasur. Ia menutup kuping dan matanya menggunakan bantal untuk menghiraukan Jacob yang sedang berbicara sambil mengetuk pintu di luar.
"Alesha, aku mohon, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, kumohon dengarkan aku dulu." Ucap Jacob sambil mengetuk-ngetuk pintu berharap Alesha akan membukakan untuknya. Namun Alesha tetap tidak mau karna ia masih marah pada Jacob. Sekali-sekali Jacob harus diberi peringatan oleh Alesha agar tidak seenaknya lagi.
"Pergilah! Alesha udah maafin Mr. Jacob, Alesha gak apa-apa." Saut Alesha dari dalam kamar.
"Enggak, tolong dengerin dulu, buka dulu pintunya, aku akan jelaskan semuanya, Al." Balas Jacob.
"Terserah!" Balas Alesha yang sudah malas meladeni Jacob.
"Alesha, aku akan menunggu di sini sampai kau membuka pintunya!" Saut Jacob. Jacob terduduk dan bersandar pada pintu itu. Ia akan menunggu Alesha hingga Alesha mau membukakan pintu untuknya dan memaafkannya.
Dalam hatinya, Jacob merutuki sikapnya tadi. Jacob mengerti maksud Alesha, dan memang seharusnya ia tidak melakukan itu tadi. Jacob memegangi keningnya. Apa pun caranya, Jacob harus bisa membuat Alesha memaafkannya. Jacob tidak mau Alesha marah padanya.
"Alesha, buka pintunya." Ucap Jacob datar sambil mengetuk pelan pintu kamar mess yang menjadi sandarannya itu.
"Alesha, aku tidak bermaksud seperti itu tadi. Aku hanya reflek saja. Maaf, Al." Ucap Jacob lagi dengan pasrah namun masih bisa didengar oleh Alesha.
Alesha sendiri masih mengabaikan ucapan Jacob. Ia sedang berusaha menepis jauh pikiran kalau Jacob adalah mentornya, walau pada kenyataannya Jacob memang mentornya. Alesha masih tidak perduli dengan ucapan Jacob. Intinya Alesha masih marah. Namun, Alesha sama sekali tidak menyadari perasaan Jacob padanya. Alesha hanya berpikir kalau memang begitulah sifat Jacob, bukan karna Jacob memiliki perasaan khusus. Hati Alesha masih tertutup karna masih ada nama Adam. Jadi, siapa pun itu lelakinya, Alesha tidak akan bisa menyadari perasaan lelaki itu padanya karna hati Alesha masih tertuju pada Adam.
Jacob memejamkan matanya. Hatinya benar-benar takut saat ini, pikirannya tidak bisa berjalan dengan baik.
"Aku tidak akan menyamakanmu dengan Yuna lagi, Al. Aku tau kalian sangat berbeda. Tapi, bagaimana? Aku selalu merasa ada kemiripan diantara kalian." Gumam Jacob.
"Tolong jangan seperti ini. Kau boleh menghukumku apa pun itu, tapi jangan diamkan aku seperti ini." Lanjut Jacob dengan lirih.
"Maaf, Mr. Jacob, tapi aku harus memberikan peringatan padamu dengan cara seperti ini. Kau tidak bisa seenaknya memelukku seperti tadi, apalagi ditempat umum. Aku marah padamu sekarang, tapi mungkin besok aku sudah memaafkanmu lagi. Maaf jika aku terkesan songong dan tidak sopan padamu." Ucap Alesha pelan. Ia jadi merasa tidak enak pada Jacob karna bagaimana juga Jacob adalah mentornya, dan Jacob juga sudah banyak membantu Alesha.
Alesha menghembuskan nafasnya. Perlahan matanya mulai terpejam. Angin yang menerpa Alesha melalui jendela kamar membantu Alesha untuk pergi kealam mimpi.
Sedangkan di luar, Jacob terus menunggu selama berjam-jam tanpa mengetahui kalau Alesha tertidur di dalam. Ia masih belum menyerah untuk menunggu Alesha membukakan pintu untuknya. Jacob mencoba menguatkan hatinya dan meyakinkan kalau ini mungkin adalah salah satu cara untuk Jacob membuktikan keseriusannya pada Alesha. Hati Jacob terasa hampa dan kosong. Ia takut kalau Alesha akan terus marah dan mendiaminya. Jacob tidak mau itu terjadi. Walau jenuh karna selama berjam-jam ia harus berdiam di luar tanpa melakukan apapun. Jacob masih teguh pada pendiriannya agar Alesha memaafkannya.
"Mr. Jacob, apa yang kau lakukan?" Tanya Nakyung yang datang bersama Stella.
Jacob mengangkat kepalanya dan menatap pada Nakyung dan Stella.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Jam berapa sekarang?" Tanya balik Jacob.
"Ini jam dua belas, kami sedang istirahat." Jawab Nakyung.
"Dimana Alesha?" Tanya Stella.
"Mr. Jacob, kau tidak apa-apakan?" Nakyung menatap bingung pada Jacob. Jacob hanya mengangguk. Ia tidak mungkin menceritakan masalahnya dengan Alesha pada Nakyung dan Stella.
"Alesha, buka pintunya!!" Teriak Nakyung sambil berusaha untuk membuka pintu yang terkunci dari dalam.
"Alesha!!" Stella menggedor-gedor pintunya.
"Sabar." Balas Alesha yang membuka pintunya. Wajahnya menunjukan ekspresi khas orang baru bangun tidur.
"Kenapa kau kunci pintunya?" Tanya Nakyung sambil berjalan masuk ke dalam kamar messnya.
Alesha tidak menjawab. Ia hanya berjalan kembali kekasurnya.
"Tadi Mr. Jacob ada di luar. Apa yang dia lakukan?" Tanya Nakyung sambil membuka rompi yang ia kenakan.
"Mr. Jacob di luar?" Tanya balik Alesha.
"Ya, aku dan Stella menemukannya sedang terduduk dan bersandar pada pintu barusan." Jawab Nakyung.
"Kalian tidak sedang ributkan?" Tanya Stella yang curiga pada ekspresi wajah Alesha.
"Ti-tidak, kok, aku tidak s-sedang bermarahan dengannya." Jawab Alesha yang sedikit gugup karna berbohong.
"Dimana dia sekarang?" Tanya Alesha.
"Entah, tadi dia di luar, kayanya udah pergi deh." Jawab Stella.
***
Jacob segera bergegas menuju ruangannya. Jalan Jacob begitu cepat dan langkahnya lebar, dan hal itu mempercepat waktu untuk Jacob sampai ke ruangannya.
Setelah sampai di ruangannya, Jacob segera mengambil sebuah kertas dan menuliskan sesuatu dikertas itu. Saat selesai menulis, Jacob segera menyelipkan kertas itu diboneka milik Alesha.
"Baby Ale, kau harus membantuku." Ucap Jacob sambil mengelus bulu Baby Alenya.
(Gambar boneka beruang Alesha)
***
Pelajaran segera berlanjut. Saat ini Jacob seperti biasa sedang mengajarkan timnya. Materi baru menjadi inti pembelajarannya hari ini.
Ia mengajarkan tentang cara menggunakan sistem komputer diperusahaan seperti SIO. Itu adalah keahlian Jacob, karna waktu itu juga selama beberapa bulan Jacob bekerja menjadi hacker di SIO.
"Mr. Jacob, apa kau yakin akan baik-baik saja jika kita menggunakan ponsel kita untuk mempelajari materi ini?" Tanya Lucas. Wajahnya menunjukan ekspresi yang sedikit khawatir karna ponselnya akan dijadikan alat untuk mempelajari materi baru.
"Bagaimana kalau ada yang meretas balik sistem ponsel kita?" Tanya Mike.
"Tidak akan, aku hanya meminta kalian untuk mempelajari lewat ponsel, bukan langsung meretas lewat ponsel kalian." Jawab Jacob dengan santai.
"Jika sesuatu terjadi pada ponsel kita, Mr. Jacob harus bertanggung jawab." Saut Maudy.
"Ya, aku akan tangguh jawab jika sesuatu terjadi pada ponsel kalian." Balas Jacob sambil mengacungkan ibu jarinya pada Maudy.
"Kalian harus mengikuti ucapanku jika ingin ponsel kalian aman." Lanjut Jacob.
"Baiklah, apa yang harus kami lakukan?" Tanya Nakyung dengan malas.
"Buka browser kalian dan cari cara meretas sistem android. Kita akan mulai dari yang paling dasar." Perintah Jacob dengan santai.
"Apa saja, terserah kalian. Kalian bisa gunakan situs yang ada diinternet. Kalian baca dan pahami, baru aku akan menjelaskannya pada kalian." Jawab Jacob.
Akhirnya, kesembilan anggota timnya itu mengikuti perintah Jacob. Jacob hanya mengawasi mereka sambil bersandar dibatang pohon. Tangannya dilipatkan dan pikiran kembali tertuju pada Alesha.
Alesha mungkin masih marah pada Jacob, tapi Jacob tidak akan menyerah. Ia akan berusaha untuk mendapatkan maaf Alesha dan bisa bercanda lagi dengan Alesha. Jujur saja saat ini Jacob sangat merindukan saat-saat ketika ia dan Alesha sedang bercanda. Jacob berharap waktu berjalan begitu cepat. Ia ingin segera meminta maaf pada Alesha. Jacob baru beberapa jam didiamkan oleh Alesha, dan sekarang hatinya terasa gelisah dan takut. Ia tidak bisa membiarkan Alesha untuk terus mengacuhkannya. Hatinya tidak bisa menerima sikap Alesha yang menghiraukannya begitu saja.
Dan syukurnya waktu pun berjalan sesuai harapan Jacob. Bel tanda pelajaran berakhir sudah berbunyi. Bastian dan anggota timnya yang lain segera kembali ke mess mereka masing-masing.
"Katakan pada Alesha kalau Mrs. Laras menunggunya di pos gerbang belakang jam lima." Ucap Jacob sambil menahan lengan Maudy. Maudy hanya membalas dengan dua anggukan kecil, dan setelah itu Jacob melepaskan lengan Maudy.
Maudy segera berjalan menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu berjalan.
"Kau harus memaafkan aku, Al, atau aku tidak akan pernah memaafkan diriku." Gumam Jacob. Ia segera melangkahkan kakinya untuk kembali ke ruangannya.
Maudy dan yang lain sudah sampai di kamar messnya. Ia tidak menemukan Alesha di kamar itu karna Alesha sedang mandi.
"Dimana Alesha?" Tanya Stella.
"Dia sedang mandi mungkin." Jawab Nakyung.
"Oh, ya, tadi Mr. Jacob bilang kalau Alesha ditunggu oleh Mrs. Laras di pos gerbang belakang jam lima nanti." Saut Maudy sambil memasukan rompinya kekeranjang khusus baju kotor. Keranjang itu nanti akan diambil oleh petugas kebersihan di WOSA.
"Ada apa memangnya?" Tanya Merina.
"Entah aku tidak tahu." Jawab Maudy.
Sekitar lima belas menit, Alesha keluar dari dalam kamar mandi dan sudah rapih dengan baju piyama favoritnya.
"Mrs. Laras menunggumu di pos gerbang belakang jam lima nanti." Ucap Maudy pada Alesha.
"Mrs. Laras? Ada apa?" Tanya Alesha dengan ekspresi bingung.
"Aku tidak tahu." Maudy mengedikan bahunya.
"Baiklah, terima kasih." Balas Alesha.
Alesha segera menyisir dan merapikan rambutnya. Ia jadi teringat waktu tadi saat Jacob mengeringkan rambutnya. Sungguh sosweet kalau ia diperlakukan seperti itu oleh Adam, namun itu tidak mungkin.
Saat jam sudah menunjukan pukul lima sore, Alesha segera bergegas menuju pos gerbang belakang untuk menemui Laras. Tidak lupa ia memakai jaketnya karna angin sedang berhembus begitu kencang di daerah WOSA. Ia jadi bertanya-tanya kenapa Laras memanggilnya ketempat itu? Ada apa?
Saat Alesha sudah sampai di pos gerbang belakang, Alesha tidak menemukan Laras. Alesha berpikir kalau Laras akan sidkit terlambat.
Seorang lelaki yang merupakan penjaga pos menghampiri Alesha.
"Kau Alesha?" Tanya penjaga pos itu. Alesha mengangguk. "Ini, ada pesan dari Mrs. Laras." Ucap penjaga pos itu sambil memberikan sebuah surat kepada Alesha.
Dengan rasa penasaran, akhirnya Alesha membuka surat itu.
*Temui aku di pantai. Cari pohon yang ada ayunan, aku menunggumu di sana.
Laras*.
Isi pesan dalam surat itu membuat Alesha semakin bingung dan penasaran. Sebenarnya apa yang sedang Laras rencanakan?
Alesha segera pergi ke arah pantai dan mencari sebuah pohon yang memiliki ayunan. Alesha mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Hamparan laut yang membentang dihadapannya membuat hati Alesha menjadi sedikit tenang. Matahari juga sudah berada beberapa derajat lagi untuk mencapai ujung cakrawala.
Alesha mengarahkan lagi matanya kesetiap pohon yang berjajar dipinggir pantai. Kakinya terus melangkah sampai ia menemukan pohon yang dimaksud oleh Laras melalui surat itu, dan mendadak matanya tertuju pada satu titik. Alesha mengerutkan keningnya.
"Bontot!" Alesha segera berlari menuju boneka beruangnya yang sedang terduduk disebuah ayunan yang berada disalah satu pohon yang jaraknya jauh dari gerbang belakang.
Alesha menatap ayunan dan pohon itu. Mungkin itu adalah pohon yang dimaksud oleh Laras. Alesha segera mengedarkan pandangannya kesekitarnya. Ia tidak menemukan Laras.
Alesha lelah berjalan. Ia segera duduk diayunan itu sambil memangku boneka beruangnya yang besar. Alesha menemukan sebuah surat yang disangkutkan dipita yang terpasang dileher boneknya.
Ia segera membuka lalu membaca isi surat itu. Perlahan, Alesha menggerakkan kakinya dan membuat ayunan itu bergerak.
*Alesha, ini aku Baby Ale, aku ingin memberitahukan sesuatu padamu. Aku akan mengatakan kalau Mr. Jacob sangat sedih tadi karna kau mengacuhkannya. Dia tidak ada maksud apa pun, dia hanya ingin menghindari para murid wanita yang mencoba untuk menggodanya. Mungkin caranya salah, dan Mr. Jacob menyadari kesalahannya. Jadi tolong jangan acuhkan dia lagi dan maafkan dia. Kau boleh menghukumnya karna perlakuannya itu, tapi jangan acuhkan dia lagi, dia tidak mau memiliki masalah dengan salah satu anggota timnya. Jadi berdamailah kembali dengan Mr. Jacob.
Tertanda
Baby Ale*.
Alesha tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi. Ia tau kalau surat itu pasti dari Jacob. Alesha tidak henti-hentinya tertawa saat melihat surat itu lagi. Cara permohonan maaf yang begitu manis dan menggemaskan menurut Alesha karna Alesha belum pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya.
"Hai, Baby Ale, katakan pada tuan Jacob, kalau aku sudah memaafkannya. Tadi mungkin hanya sedikit peringatan kecil yang aku tunjukkan agar dia tidak seperti itu lagi dan bisa lebih melihat situasi dan kondisi. Aku tidak marah padanya sekarang." Ucap Alesha sambil mengelus bulu bonekanya itu dengan lembut. "Dan, ya, satu lagi, namamu itu Bontot, katakan pada tuanmu kalau namamu itu Bontot, aku pemilikmu, bukan dia." Lanjut Alesha.
Alesha tidak menyadari kalau Jacob sudah berdiri beberapa meter di belakangnya. Jacob melipatkan tangannya sambil tersenyum. Senyum sumringah karna ia baru saja mendengarkan ucapan Alesha. Hatinya sangat tenang dan bahagia saat tau kalau Alesha sudah memaafkannya.
Jacob segera berjalan mendekati Alesha dan memberhentikan ayunan yang sedang Alesha gerakan dengan kakinya.
"Terima kasih, Baby Ale karna sudah menyampaikan pesanku dengan baik." Ucap Jacob dengan lembut.
Alesha tersentak saat menyadari Jacob yang tiba-tiba datang begitu saja. Jacob segera duduk diayunan itu, tepatnya disebelah Alesha dan memposisikan boneka Alesha menjadi tertidur dipangkuannya dan dipangkuan Alesha juga. Perlahan kaki Jacob mulai mengayunkan ayunan itu.
"Mr. Jacob, bagaimana kalau ayunan ini tidak kuat?" Tanya Alesha dengan panik.
"Tenang saja, ayunan ini kuat untuk empat orang sekaligus." Jawab Jacob dengan santai.
Matahari semakin turun dan angin berhembus dengan damai lalu menerpa wajah Alesha dan Jacob. Kicauan burung laut disore hari menambah kesan kedamaian bagi diri Jacob dan Alesha.
"Maaf, Alesha." Ucap Jacob pelan.
Alesha tidak menjawab apa-apa. Ia hanya mengangguk saja. Alesha jadi merasa canggung saat Jacob duduk disebelahnya.
"Kau tau, Al, aku sangat suka memandang matahari yang terbenam." Ucap Jacob yang mencoba untuk membuka pembicaraan. Jacob tau kalau saat ini Alesha sedang merasa canggung.
"Aku suka karna menurutku itu adalah momen terbaik untuk mengungkapkan sesuatu." Lanjut Jacob.
Beberapa anggukan kecil masih jadi tanda kalau Alesha menjawab dan menyimak ucapan Jacob. Namun, Alesha masih tidak membuka suaranya.
"Aku merasa momen seperti ini dapat menjadi cara untuk bisa menyelesaikan suatu masalah tanpa harus ada pertengkaran." Lanjut Jacob lagi. Ia menatap Alesha yang masih terus menundukkan kepalanya. Jika saja bisa Jacob ingin sekali mencium Alesha karna situasi dan kondisi sedang sangat mendukung. Namun, hal itu hanya akan memperkeruh situasi untuk saat ini karna mungkin Alesha akan benar-benar benci pada Jacob dan tidak akan pernah memaafkan Jacob, dan Jacob tidak mau itu terjadi.
Sebisa mungkin Jacob menahan hasratnya itu. Gejolak cinta semakin tumbuh dalam hatinya, dan Jacob tidak bisa menyangkal itu.
Jacob meraih tangan Alesha. "Aku minta maaf, Al. Bicaralah. Aku tidak mau ada permusuhan atau pertengkaran dalam tim kita. Aku tau aku salah, tapi tolong maafkan aku." Ucap Jacob dengan lirih.
Alesha mengangkat kepalanya lalu menatap Jacob. "Aku sudah memaafkan itu, tenang saja, aku juga tidak akan mengacuhkanmu." Ucap Alesha dengan senyum manisnya.
"Terima kasih, Al." Balas Jacob sambil membalas senyuman Alesha.
"Kau tau, Mr. Jacob, tadinya aku akan marah lagi padamu karna kau menaruh Bontot ditempat ini, tapi setelah aku tau kalau kau berniat untuk meminta maaf padaku melalui si Bontot, aku tidak jadi marah, dan aku merasa geli karna caramu ini." Ucap Alesha sambil mulai tertawa kecil.
Matahari sudah berada tepat di ujung cakrawala. Momen romantis mengelilingi Jacob dan Alesha selama beberapa saat. Baik Jacob atau Alesha, mereka berdua sama-sama menikmati waktu matahari terbenam itu dengan hatinya yang penuh ketenangan. Percakapan kecil antara Jacob dan Alesha menambah kesan manis disituasi yang tergolong romantis itu.