
"Mrs. Laras, kami belum menemukan Alesha dan Stella." Ucap Bastian.
"Bas, Mr. Jacob tadi menelponmu, ia menanyakan keadaan kita." Ucap Tyson sambil memberikan ponsel milik Bastian.
"Lalu apa katamu?" Tanya Bastian.
"Aku bilang kalau kita baik-baik saja, dan kau bersama Nakyung sedang mencari Alesha dan Stella." Jawab Tyson.
"Kau bilang pada Mr. Jacob kalau Alesha dan Stella hilang?" Bastian meninggikan sedikit nada bicaranya. Tyson hanya mengangguk polos.
Nakyung menepuk keningnya. "Mr. Jacob pasti sudah khawatir sekarang, dan kerjaan dia pasti akan terganggu di sana."
"Aku tidak tahu, aku hanya mengatakan apa adanya." Balas Tyson.
"Iya, tapi..." Bastian menghentikan ucapan Nakyung.
"Sudah, tidak akan benar jika meributkan hal ini, lebih baik kita cari Alesha dan Nakyung, ayo." Ucap Bastian.
***
Seorang petugas penjaga kamera CCTV sedang asik bersantai di ruang pengawasan sambil memakan makanan dan mendengarkan musik melalui ponselnya.
Ia bergumam mengikuti lirik dari musik yang ia dengarkan sambil menatap layar besar yang menunjukan beberapa tempat di WOSA yang dipasangi CCTV, ada yang sepi dan juga ramai. Ia terus bernyanyi dan menatap ke arah layar besar itu.
Tiba-tiba saja ia berhenti bernyanyi. Matanya menangkap sesuatu. Petugas pengawas itu menyipitkan matanya, memastikan kalau ia tidak salah lihat.
Ya, dia melihat dua orang gadis yang merupakan murid dari WOSA sedang melambaikan tangan mereka ke arah kamera. Bagaimana bisa dua gadis itu ada di dalam gedung kaca? Pikir petugas pengawas itu.
Ia segera menghubungi petugas keamanan WOSA untuk mengecek ke dalam gedung kaca itu.
***
Vincent bersama anak buahnya sudah siap untuk pergi ke Selandia Baru. Mereka mendapatkan lokasi dimana SIO dan para ilmuannya menemukan gua berlian itu. Saat ini, Vincent berusaha untuk mengambil semua berlian yang ada di gua itu. Dengan berlian itu, dia bisa melakukan apapun, termasuk menyingkirkan SIO dan beberapa induk organisasi intelegent yang memiliki masalah dengannya.
"Tuan, kami sudah siap." Ucap pelayan pribadi Vincent.
"Aku ingin bersenang-senang. Dua tahun dipenjara tidak akan merubah sikapku." Ucap Vincent sembari menyeringai.
***
Jacob sangat gelisah, ia belum mendapatkan informasi apapun dari timnya di WOSA. Berulang kali Jacob menghubungi Bastian dan yang lain, namun tidak ada jawaban.
"Kemana kalian?" Ucap Jacob sambil mematikan sambungan telponnya yang tidak dijawab.
"Mr. Jacob. Kami sudah siap, kita kembali sekarang." Ucap Profesor Lee. Jacob mengangguk.
"Aku menyusul sebentar lagi, anda bisa masuk kedalam mobil duluan." Ucap Jacob. Ia kembali untuk menghubungi timnya yang ada di WOSA dan tidak ada jawaban lagi.
Jacob mencoba menghubungi Laras.
"Hallo, jack, ada apa?"
"Laras, gimana Alesha dan Stella?" Tanya Jacob.
"Kami masih mencari mereka"
Jacob menghembuskannya nafasnya dengan kasar.
"Hallo, Jack, aku harus mematikan telponnya dulu, akan aku hubungi lagi nanti."
Jacob mendengus saat Laras memutuskan sambungan telponnya.
"Mr. Jacob, kita harus segera pergi." Ucap Profesor Lee lagi. Jacob mengangguk lalu masuk kedalam mobil dengan perasaan yang tidak tenang.
Saat ini Ia dan timnya akan segera kembali ke SIO setelah menyelesaikan misinya.
***
"Apa? Gedung kaca?" Tanya Bastian dengan nada tidak percaya.
"Tadi kami sudah melewati gedung kaca itu." Sambung Nakyung.
"Ya, mereka ada di dalam gedung kaca, dan sekarang Mr. Thomson, Mrs. Laras bersama anggota timmu dan seorang penjaga sedang menuju ke sana untuk mengeluarkan mereka." Ucap petugas penjaga ruangan CCTV. "Mr. Thomson meminta kalian untuk menyusulnya." Lanjutnya lalu pergi.
Bastian dan Nakyung saling menatap.
"Kita dari tadi berkeliling, dan mereka ada di dalam gedung itu." Ucap Nakyung sambil menggelengkan kepalanya. "Dasar gila, apa yang mereka lakukan di dalam gedung itu?"
"Sudah, ayo kita susul yang lain." Ucap Bastian. Ia dan Nakyung segera pergi ke bangunan kaca itu. Mereka berlarian untuk mempersingkat waktu.
Saat sedang berlari, tiba-tiba saja Brandon berpapasan dengan Bastian dan Nakyung. Dengan smirk usilnya, Brandon dengan sengaja memajukan sedikit kakinya hingga membuat Bastian yang sedang berlari menjadi terjatuh.
Nakyung yang melihat itu merasa tidak terima dan kesal. Brandon memang sangat menyebalkan.
"Apa masalahmu?" Nakyung mendorong Brandon hingga mundur beberapa langkah. "Ayo bertarung denganku, aku tidak takut padamu lelaki lemah!" Tantang Nakyung sambil melotot pada Brandon.
"Ayo!" Nakyung maju sekangkah lagi dan Brandon mundur sekangkah. Brandon menahan amarah karna ia dikata lelaki lemah. Jika saja Nakyung bukan wanita mungkin Brandon sudah menghajarnya.
"Cukup, ayo, kita harus pergi, biarkan saja dia, kita tidak punya waktu untuk berurusan dengan orang tidak berguna seperti dia." Bastian menarik tangan Nakyung dan membawanya berlari lagi. Nakyung menghembuskan nafasnya dengan kesal.
"Cemen!" Ucap Nakyung dengan penuh emosi pada Brandon.
Brandon mengepalkan tangannya, emosinya sudah diubun-ubun saat ini.
"Lihat saja, aku akan balas kalian!" Gumam Brandon sambil menahan amarah.
***
Seorang penjaga segera membuka pintu gedung kaca itu.
"Kalian tidak boleh ikut masuk! Tunggu di sini!" Perinta Mr. Thomson lalu masuk ke dalam gedung itu.
"Tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam gedung itu." Ucap Laras.
Di dalam gedung, Mr. Thomson mendapati Alesha dan Stella sedang terduduk pasrah disudut tembok kaca.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Mr. Thomson. Alesha dan Stella tersentak kaget.
"Ya ampun, Mr. Thomson." Gumam Alesha.
"Aku sudah bilang tadi itu bukan ide bagus." Ucap Stella.
"Cepat keluar!" Perintah Mr. Thomson. Alesha dan Nakyung langsung menuruti Mr. Thomson, mereka menunduk dan berjalan melewati Mr. Thomson.
Mr. Thomson menggelengkan kepalanya ketika melihat Alesha dan Stella ada di dalam bangunan itu. Bagaimana bisa mereka lolos dan bisa masuk?
Alesha dan Stella sudah keluar dari dalam bangunan disusul Mr. Thomson di belakang. Bastian dan Nakyung juga baru sampai.
"Siapa ketuanya?" Tanya Mr. Thomson. Bastian mengangkat tangannya.
"Kau dan mereka akan ikut keruanganku!" Perintah Mr. Thomson.
Bastian mengghela nafasnya mencoba bersabar.
"Kunci pintunya dengan benar, dan jangan sampai kejadian ini terulang lagi!" Perintah Mr. Thomson pada penjaga lalu pergi begitu saja.
Alesha, Nakyung, dan Bastian pergi mengikuti Mr. Thomson untuk keruangannya.
"Mrs. Laras, apa yang akan terjadi pada mereka?" Tanya Maudy.
"Aku tidak tau." Jawab Laras.
Alesha, Stella, dan Bastian terus berjalan di belakang Mr. Thomson.
"Perasaanku tidak enak." Bisik Stella. Alesha mengangguk. Mereka bertiga sudah pasrah jika Mr. Thomson memberi hukuman. Bastian juga merasa bersalah karna ia membiarkan Alesha dan Stella masuk begitu saja ke gedung kaca itu, walau ia juga tidak tahu.
Mr. Thomson masuk ke ruangannya. Alesha, Stella, dan Bastian kini berdiri di depan Mr. Thomson.
"Kenapa kau biarkan mereka masuk ke dalam gedung itu?" Tanya Mr. Thomson pada Bastian. Bastian menunduk, ia bingung harus jawab apa.
"Saya tidak tau kalau mereka masuk ke dalam gedung itu." Jawab Bastian.
"Kenapa bisa tidak tau? Kau ketua mereka bukan? Kau seharusnya mengawasi mereka!" Ucap Mr. Thomson dengan nada yang sedikit meninggi.
"Maafkan saya, ini salah saya." Ucap Bastian.
Alesha tidak tega melihat Bastian yang ikut menjadi korban karna ulahnya. "Maaf sebelumnya, Mr. Thomson, tapi ini adalah salah saya, saya yang penasaran ingin memasuki bangunan kaca itu." Ucap Alesha. Bastian menatap Alesha.
"Tapi dia ketuanya, dia tau peraturan di sini seperti apa!" Bentak Mr. Thomson.
"Berikan hukuman pada mereka dan pada dirimu sendiri!" Perintah Mr. Thomson. Bastian mengangkat kepalanya menatap Mr. Thomson lalu menatap Alesha dan Stella. Bastian berpikir. Hukuman apa yang harus diberikan?
"Kau ketua mereka, kau harus bersikap tegas pada anggota timmu dan dirimu juga!" Lanjut Mr. Thomson.
Bastian menatap Alesha dan Stella yang kini menunduk.
"Mereka tidak akan mendapatkan nilai untuk tiga hari kedepan." Alesha dan Stella kaget lalu menatap Bastian dengan tatapan tidak percaya. Bastian masih menatap Alesha dan Stella. "Dan aku tidak akan mendapatkan nilai selama seminggu." Lanjutnya.
Mulut Alesha dan Stella sedikit membuka. Mereka tidak percaya keputusan yang Bastian ambil. Itu merugikan mereka dan Bastian juga.
Mr. Thomson mempertimbangkan hukuman yang Bastian berikan.
"Baiklah. Dan apa yang terjadi jika timmu ada yang mengulangi kesalahan yang sama?" Tanya Mr. Thomson.
"Hukuman lebih berat dari ini. Mereka tidak akan mendapatkan nilai hingga dua minggu, dan tiga minggu untukku." Jawab Bastian dengan tenang dan pasrah.
Mr. Thomson mengangguk. "Itu hukuman darimu, dan hukuman dariku adalah kalian harus membantu petugas kebersihan selama tiga hari setelah seluruh jam mata pelajaran selesai." "Dari jam empat, hingga jam setengah delapan malam, dan hukuman itu berlaku dari hari ini dan tiga hari kedepan. " Lanjutnya.
Bastian, Alesha, dan Stella hanya bisa mengangguk pasrah dengan hukuman yang mereka dapatkan sekarang. Mr. Thomson segera memerintahkan mereka untuk keluar ruangannya.
"Maafkan aku, Bas. Aku yang salah." Ucap Alesha karna merasa tidak enak pada Bastian.
Bastian tersenyum kecut. "Tidak apa-apa."
***
Jacob baru saja sampai di pangkalan. Ia sudah menghubungi Laras, dan hatinya merasa tenang saat tau kalau Alesha dan Stella sudah ketemu. Jacob terkekeh saat mengetahui kalau Alesha dan Stella berada dalam bangunan kaca dan terjebak di sana.
"Mr. Jacob, helikopter akan menjemputmu dan timmu sebentar lagi." Ucap Profesor Lee.
"Kau tidak ikut?" Tanya Jacob.
Profesor Lee menggelengkan kepalanya. "Aku harus pergi ketempat lain, SIO mengirim ku untuk mengerjakan beberapa misi sekaligus." Jawab Profesor Lee. Jacob mengangguk.
"Mr. Jacob, sekali lagi aku berterima kasih padamu dan timmu karna sudah membantu kami." Ucap Proferos Lee. Jacob hanya membalasnya dengan senyuman.
********************
Haii, maaf ya up yang ini aku gak ngetik panjang karna ada beberapa urusan yang bikin ngetiknya kesendat-sendat, tapi buat next aku usahain buat ngetik lebih panjang lagi 🙏😊 Selamat membaca 😊❤️