May I Love For Twice

May I Love For Twice
MISSION X



Author minta kritik dan sarannya ya dari para pembaca sekalian. Kurangnya dimana dan gimana yang terbaik, soalnya Author juga masih belajar 😊😁 Sebelumnya terima kasih ya yang udah like, komen, dan vote. Semoga kalian suka sama part ini πŸ™πŸ˜Š


*****


Pesawat SIO sudah bersiap menunggu Alesha, Jacob, dan Levin di halaman belakang.


Jacob berjalan menuju mess Alesha. Ia akan menjemput Alesha.


"Kau siap?" Tanya Jacob yang menghampiri Alesha. Alesha mengangguk.


"Aku akan menjaga mereka selama kau pergi, jaga Alesha di sana." Ucap Bastian.


Jacob berjalan dengan santaiΒ 


menuju halaman belakang tempat pesawat SIO parkir, berbeda dengan Alesha yang berjalan gugup.


Mereka akhirnya sampai di halaman belakang. Mr. Thomson sudah menunggu.


"Mereka akan berangkat setelah kalian siap." Ucap Mr. Thomson.


"Tanya dia." Balas Jacob sambil menatap pada Alesha. Alesha mengangguk ragu. Jacob mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan malas.


"Jacob, jaga Alesha, dan bawa kembali sampel milik SIO yang sudah dicuri." Ucap Mr. Thomson. "Mereka akan mengikuti ucapan dan perintahmu." Lanjut Mr. Thomson. Jacob hanya mengangguk paham.


Alesha mulai menaiki tangga untuk masuk ke dalam pesawat yang akan mengantarnya bersama Jacob dan Levin menuju Australia.


"Kalau kau takut lebih baik tidak usah." Ucap Jacob.


"Tidak, aku tidak takut, aku hanya gugup." Balas Alesha.


"Apa bedanya?" Jacob tersenyum meledek.


"Beda lah, kalau aku takut aku tidak akan berani mengambil resiko ini." Ucap Alesha.


"Terserah." Balas Jacob dengan malas.


Beberapa menit kemudian pesawat mulai lepas landas. Alesha membaca doa dulu sebelum itu untuk menenangkan hatinya.


Jacob hanya menengok pada Alesha tanpa memberikan komen apapun. Ia sedikit kecewa dengan keputusan Alesha yang ingin membantu Levin dari pada mempertimbangkan resiko yang akan Alesha dapat nanti.


Jacob menghela nafasnya. Ia sedang malas untuk berbicara pada siapapun saat itu, termasuk Alesha.


***


Setelah beberapa jam, pesawat mereka sudah sampai di bandara di Australia. Jacob, Alesha, dan Levin segera turun dari pesawat dan masuk ke mobil penjemput yang sudah menunggu mereka. Jacob dan Alesha berpisah mobil. Levin harus membawa Alesha ketuannya, Mack, dan Jacob mengikuti mereka dari belakang dengan mobil lain.


Diperjalanan, Jacob tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Alesha. Ia berusaha setenang mungkin. Jacob tidak mengkhawatirkan dirinya, atau timnya, ia hanya takut sesuatu terjadi pada Alesha. Ini pertama kalinya Alesha ikut dalam misi berbahaya, dia masih terlalu amatir, dan Jacob harus sangat berwaspada, Mack memiliki banyak anak buah dan penjagaan yang sangat amat ketat. Namun setidaknya Jacob sudah tau celah dimana ia dan timnya harus menyelinap agar bisa mengambil data perusahaan milik Mack lalu melaporkannya pada pihak pemerintah setempat.


Ini bukan hal yang pertama untuk Jacob. Ia sudah beberapa kali berhadapan dengan orang berbahaya dan Misi yang persis seperti yang akan ia dan timnya jalani sekarang. Jadi, Jacob tidak merasa gugup atau takut sedikit pun, namun ketakutannya sekarang hanya satu. Yaitu Alesha.


Jacob mengambil ponselnya. Ia menghubungi Levin.


"Berikan ponselmu pada Alesha." Ucap Jacob datar. Beberapa detik kemudian. Terdengar suara Alesha dikuping Jacob.


"Hallo, Al, kau baik-baik saja kan?"


"Iya."


"Kalau Levin melakukan hal-hal buruk padamu kabari aku melalui alat kecil yang ada di belakang kupingmu."


"Baik, Mr. Jacob."


Jacob menghela nafasnya. Ia mematikan sambungan telponnya. Hatinya merasa tidak tenang karna Alesha tidak ikut bersamanya. Jacob berharap kalau Levin tidak berbohong.


"Kau tau di mana kita akan berhenti?" Tanya Jacob pada supir disebelahnya.


"Teluk Wineglass." Jawab supir itu. Jacob mengangguk.


Mack membangun markas tersembunyi di teluk Wineglass, tempat dimana dia menyimpan semua aset dan rahasianya.


Tiga jam perjalanan menuju Teluk Wineglass. Mobil yang ditumpangi Alesha dan Levin berpisah dengan mobil yang ditumpangi Jacob dan timnya.


Jacob pergi langsung menuju pantai, sedangkan Alesha, Levin membawanya langsung menuju markas persembunyian Mack.


"Ikuti ucapanku jika kau ingin selamat, kau harus mempercayaiku karna aku tidak akan membiarkan lelaki brengsek itu melukaimu." Ucap Levin pelan. Alesha hanya bisa mengangguk. Alesha merasa sangat takut. Ia melihat penjaga yang memakai atribut lengkap dengan pistol panjang ditangan mereka.


Alesha keluar dari dalam mobil. Beberapa penjaga menghampirinya lalu menarik kasar tangan Alesha.


"Jangan sakiti dia atau Mr. Mack akan membunuhmu. Tidak mudah untukku mendapatkannya." Ucap Levin dengan datar pada penjaga yang menarik tangan Alesha.


Alesha dan Levin berjalan masuk kesebuah bangunan yang berada di bawah tanah dengan penjaga yang mengawal mereka di belakang.


Alesha benar-benar takut saat ini. Banyak sekali penjagaan dan protokol keamanan di bangunan bawah tanah itu.


"Di mana Mr. Mack?" Tanya Levin.


"Di ruang pribadinya." Jawab penjaga itu.


Dari kejauhan, Jacob bisa mendengar percakapan Levin dan Alesha melalui alat kecil yang ada dibalik telinganya.


Saat ini Jacob sudah siap dengan perlengkapan selamnya. Jacob dan timnya akan berenang sejauh lima ratus meter untuk bisa masuk ke gua tempat Mack membangun tempat persembunyiannya. Jacob harus berhati-hati karna di gua itu banyak sekali penjaga.


Alesha dan Levin masuk kesebuah ruangan. Ruangan itu bersebelahan langsung dengan tempat dimana Mack menyembunyikan dan merahasiakan semua data penting. Jacob harus bisa memasuki ruangan itu untuk bisa mengirim semua bukti kecurangan dan kejahatan Mack pada pemerintah dan beberapa perusahaan yang bekerja sama dengannya.


"Ada siapa saja di ruang data itu?" Tanya Levin pada penjaga sekalian memberi sinyal pada Jacob.


"Ada tiga orang penjaga." Jawab penjaga itu.


"Tiga orang? Baiklah." Ucap Levin. Jacob menyimak ucapan Levin. "Dan di bawah?" Tanya Levin lagi.


"Ada sekitar lima belas penajaga." Jawab penjaga itu. "Lima belas? Jadi penjagaannya masih sama." Ucap Levin.


"Di sana ada lima belas orang. Kita harus berhati-hati." Ucap Jacob.


"Tunggu, berhenti, jangan bergerak dulu." Ucap Levin memberi kode pada Jacob.


Penjaga yang ada disebelah Levin dan Alesha menatap bingung ke arah Levin. Levin menggelengkan kepalanya dan mengerjapkan matanya untuk berpura-pura pusing.


"Kepalaku pusing karna di sana kepalaku terbentur beberapa kali." Ucap Levin berbohong. Alesha mengerutkan keningnya.


Akhirnya, mereka kembali berjalan untuk menuju kesudut kecil ruangan itu. Terdapat sebuah pintu. Penjaga itu membuka pintu tersebut.


Dibukanya pintu, dan mereka mendapati seorang lelaki berusia tiga puluhan sedang duduk bersantai sambil memandang tv besar dihadapannya.


"Selamat datang Levin." Sambut lelaki itu sambil berbalik menghadap kearah Levin dan Alesha.


Mack. Dia adalah Mack yang berniat menjadikan Alesha sebagai tawanan.


Dari jauh Jacob mendengar percakapan antara Mack, Levin, dan Alesha. Ia dan timnya sudah berenang menuju gua itu.


"Kerja bagus." Ucap Mack sambil mendekati Alesha.


"Aku sudah membawanya, lepaskan keluargaku." Ucap Levin datar. Mack tersenyum.


"Kau sangat memaksa." Ucap Mack. "Penjaga! Lepaskan keluarga Levin!" Seorang penjaga mengangguk.


"Jika rahasia perusahaanku sampai diketahui publik, apalagi pemerintah, kau dan keluargamu yang pertama akan ku cari." Ucap Mack.


Levin hanya mengalihkan pandangannya, ia malas mendengar ucapan Mack. Mack sendri tidak tahu rencana apa yang sedang Levin lakukan bersama Jacob dan Alesha.


"Pergi dan temui keluargamu yang malang itu, gadis ini milikku sekarang." Ucap Mack.


Jacob menggeram saat mendengar itu.


Levin segera mengangguk dan pergi meninggalkan Alesha bersama Mack.


"Aku meninggalkan Alesha bersama, Mack. Tapi tenanglah, aku akan segera kembali untuk menjemputnya, aku tidak akan membiarkan Alesha lebih lama lagi bersama lelaki itu." Ucap Mack pelan.


Jacob menahan kesalnya. Jika saja bisa ia ingin sekali memaki-maki Levin, namun ia tidak bisa bicara karna sedang ada di dalam air.


"Aku akan matikan sistem CCTV dan keamanan digital lainnya, kau bisa langsung habisi penjaga-penjaga itu di bawah. Ruangan tempat Mack menyimpan semua datanya tidak jauh dari bawah, kau berjalan ikuti lorong yang ada di sana, dan diujung lorong itu kau akan menemui ruangan Mack, dan ruangan data itu berada tepat disebelah ruangan Mack. Ada tiga penjaga di sana. Habisi mereka, dan retas sistemnya, kirim semua data itu kepemerintah, pihak militer, dan beberapa perusahaan yang bekerjasama dengan Mack. Jangan lupa meminta bantuan kepihak militer untuk menyerbu tempat ini." Ucap Levin sambil memandangi jalan yang ia lewati.


"Aku sudah sampai di ruang kendali keamanan utama, kau cepatlah." Levin mengetuk pintu ruangan itu. Seseorang membuka pintu itu dan dengan sigap Levin langsung memukul orang itu hingga pingsan. Levin langsung membekap mulut orang itu dengan kain dan memasukan orang itu ke dalam lemari besar dan menguncinya. Levin segera mengambil alih sistem komputer itu lalu mematikan CCTV dan semua sistem keamanan berbasis digital lainnya.


"Aku sudah dipermukaan, tepat dimulut gua." Ucap Jacob.


"Kau bisa masuk sekarang, aku sudah mematikan semua sistem keamanan digital, jaringan sinyal, dan CCTVnya. Berhati-hatilah, persenjataan mereka sangat lengkap. Mereka mempunyai perangkap di dalam air." Ucap Levin.


Jacob dan timnya melepaskan semua perlengkapan menyelam mereka agar memudahkan mereka berenang dan menyerbu secara tiba-tiba. Ia segera masuk ke dalam air dan memasuki gua itu. Ketegangan terjadi saat seorang menyadari kehadiran Jacob dan timnya yang sedang berenang dalam air. Mereka menembaki Jacob. Untungnya ia bisa menghindar.


Jacob segera bangkit dari dalam air lalu menghabisi satu persatu penjaga itu.


Salah satu penjaga mencoba memencet tombol alarm keamanan, namun alarm itu tidak berbunyi karna Levin sudah mematikannya.


"Mereka sudah ada di dalam, mereka mematikan sistem keamanan!" Teriak orang itu.


"Kerja bagus, Lev." Ucap Jacob. Levin yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Habisi mereka semua kecuali Mack, aku sendiri yang akan mengurusnya." Ucap Levin.


***


"Siapa namamu?" Tanya Mack pada Alesha.


Dengan gugup Alesha menjawab. "Namaku Alesha."


"Bagaimana kau bisa masuk WOSA?" Tanya Mack sambil menoel pipi Alesha.


"Jangan menyentuhku!" Bentak Alesha. Mack terkejut. Ia mengeluarkan smirknya.


"Aku akan menawarkan perjanjian padamu. Jika kau mau, kau bisa menjadi asisten pribadiku." Ucap Mack sambil menyodorkan segelas wine pada Alesha.


Jacob mendengar itu. "Jangan lakukan itu, Al."


Alesha terkejut saat mendengar ucapan Jacob. Alesha menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Mack. "Kau cantik, aku akan memberikan apapun untukmu." Rayu Mack.


"Jangan dengar ucapannya, Al." Ucap Jacob sambil sibuk menghajar para penjaga.


Mack mendekat pada Alesha. Ia berusaha menyentuh Alesha. Reflek Alesha segera bangkit dari duduknya dan menjauh dari Mack.


"Kemarilah, aku tidak akan melukaimu." Ucap Mack mendekat pada Alesha.


Alesha melemparkan gelas yang ada didekatnya ke arah Mack. Seketika Mack terlihat marah dan mencengkram bahu Alesha. Alesha meringgis menahan sakit. "Jika kau lakukan itu lagi, aku akan menghabisimu malam ini." Ucap Mack. "Kau gadis yang manis." Rayu Mack.


Alesha mulai terisak karna ketakutan.


Jacob yang menyadari hal itu segera pergi menuju lorong dan diikuti beberapa anak buahnya. Semua penjaga yang ada di sana sudah berhasil Jacob habisi.


"Levin, di mana kau!" Bentak Jacob.


Saat ini Levin sedang bersama Keluarganya, ia sangat senang karna bisa membebaskan keluarganya. Levin sendiri sudah menghabisi semua penjaga yang tadi ia lewati.


"Kau sudah menghabisi semua penjaga di bawah kan?" Tanya Levin.


"Ya." Balas Jacob.


Levin menuntun keluarganya untuk keluar menuju gua itu.


"Levin, kau yang menghabisi mereka?" Tanya ibu Levin dengan raut wajah yang takut saat melihat beberapa penjaga yang tergeletak di lantai.


"Ya." Jawab Levin.


Tiba-tiba saja, ada dua orang penjaga yang berpapasan dengan Levin.


"Hei, kau!" Ucap penjaga itu. Levin maju lalu bertarung bersama dua penjaga itu. Ibu Levin menangis saat melihat Levin bertarung. Ia takut anaknya itu terluka.


Penjaga itu berhasil menonjok mulut Levin hingga Levin batuk dan mengeluarkan darah. Dan itu membuat ibu Levin histeris. Mendengar ibunya yang menangis, itu menjadi energi tambahan tersendiri untuk Levin.


Levin menghajar balik dua penjaga itu. Ia menjenggut kepala dua penjaga itu lalu membenturkannya ketembok. Penjaga itu sempoyongan. Selanjutnya, Levin menonjok kepala dua penjaga itu. Ibu Levin berteriak. Dua penjaga itu ambruk seketika.


"Levin kau tidak apa-apa?" Ibu Levin mengecek wajah Levin. Ia sangat panik.


"Aku tidak apa-apa, bu." Ucap Levin dengan lembut. "Ayo."


Levin segera membawa keluarganya untuk berjalan mengikutinya lagi.


***


Jacob berhasil masuk ke dalam lorong itu. Ada beberapa penjaga yang menghadangnya, namun dengan mudah, Jacob menghabisi mereka.


Jacob terus berjalan secara pelan-pelan dan awas. Ia melihat beberapa CCTV yang sudah tidak aktif.


"Mr. Jacob, kau di mana?" Ucap Alesha sambil terisak. Jacob terkejut saat mendengar Alesha yang mulai menangis.


"Aku akan ke sana sebentar lagi, tunggu aku." Balas Jacob.


"Alesha, tenanglah, aku tidak akan membiarkan Mack lebih lama bersamamu." Ucap Levin.


"Aku takut kalau lelaki itu melakukan hal-hal buruk padaku." Ucap Alesha.


"Itu tidak akan terjadi." Ucap Jacob.


"Ke mana Mack?" Tanya Levin.


"Dia sedang masuk ke dalam ruangan kecil di sana." Jawab Alesha.


"Aku sudah di depan pintu ruangan tempat Mack menyimpan semua datanya, kau tau apa sandinya?" Tanya Jacob.


"3301." Jawab Levin.


"Alesha tenanglah, aku ada di luar." Ucap Jacob.


"Hati-hati, bisa jadi Mack ada di dalam ruangan itu." Ucap Levin.


Jacob segera masuk ke dalam ruangan itu sambil menodongkan pistol yang dia ambil dari tangan seorang penjaga di bawah tadi.


Jacob memasang tatapan awas. Ia waspada akan sekitarnya.


"Di sini kosong?" Tanya Jacob pada Levin.


"Tidak, terus masuk ke dalam kau akan menemukan mereka." Ucap Levin.


Benar. Jacob melihat tiga orang sedang berjaga di ruangan itu dan dua orang lelaki yang sedang menatap ke arah komputer.


"Seribu mereka secepat mungkin!" Ucap Levin. Aku akan menyusul kalian sebentar lagi.


Levin sudah sampai di gua itu. Ia menatap sekelilingnya. Tubuh para penjaga tergeletak dimana-mana. Jacob memang ahlinya dalam menghabisi musuh.


Levin meloncat ke dalam air dan membawa sebuah perahu karet. Ia segera menaikkan orang tua dan adiknya keperahu itu. Levin menyalakan mesin yang ada diperahu karet itu.


"Bawa mereka ke pantai. Temui Tessa, dia sudah menunggu kalian di sana." Ucap Levin pada ayahnya.


"Kau?" Tanya ayah Levin.


"Aku masih ada urusan. Cepat pergi!" Balas Levin. Ayah Levin segera menjalankan perahu karet itu. Ibu Levin meronta dan berteriak histeris sambil memanggil nama Levin.


Levin segera naik ke daratan dan menyusul Jacob dan Alesha.


"Jack, kau tangani mereka, aku akan menjemput Alesha." Ucap Levin. "Alesha tenanglah, aku akan menjemputmu." Levin berjalan secepat mungkin.


Jacob sudah bersiap untuk menyerbu penjaga itu.


"Kalian serbu penjaga itu, aku akan menyerbu lelaki yang sedang duduk di sana." Bisik Jacob. Ia bersama tiga anggota timnya merangkak diam-diam menuju meja dimana komputer itu berada.


Jacob mulia menghitung.


"Satu.."


"Dua.." Ucap Levin sembari memanjat tembok agar bisa masuk ke lubang saluran udara yang akan tembus langsung ke dalam ruangan Mack.


"Tiga.." Jacob langsung membekap dan menghajar dua lelaki yang sedang mengutak-atik komputer.


Di belakangnya, anggota tim yang lain sibuk bertarung dengan penjaga.


Jacob tidak mau kehilangan momen, dengan sigap ia segera mengambil alih komputer itu dan mengumpulkan semua data hanya dalam waktu beberapa menit.


Disisi lain, Levin sudah bersiap. Ia merangkak dilubang saluran udara yang ada diatap. Saat Levin berada tepat di atas ruangan Mack. Ia melihat Alesha sedang sendirian di dalam ruangan itu bersama dengan Mack yang sedang menelpon.


"Al, aku berada tepat di atasmu, lihat ke arah lubang saluran udara." Ucap Levin. Alesha segera melihat ke arah atap dan mencari lubang saluran udara.


"Lakukan apa yang aku katakan!" Ucap Levin. Alesha mengangguk. Ia sudah melihat wajah Levin yang muncul disela-sela besi yang menutupi saluran udara itu.


"Tarik perhatian Mack." Perintah Levin.


Alesha segera menuruti perintah Levin. Ia mendekat ke arah Mack. Namun sebelum Alesha sampai pada Mack, Mack sudah berbalik dan melempar ponselnya.


"Levin!!" Teriak Mack.


Levin hanya menyeringai. Mack tau rencana yang sedang Levin jalankan sekarang, namun Mack masih belum menyadari keberadaan Levin.


Mack maju ke arah Alesha dan mencekik Alesha. Alesha meringgis. Ia sulit untuk bernafas. Levin yang melihat itu segera membuka paksa besi penutup lubang saluran udara dan loncat ke bawah.


"Lepaskan dia! Urusanmu denganku sekarang, Mack!" Bentak Levin marah.


Jacob yang mendengar itu segera bertanya pada Levin tentang apa yang terjadi, namun Levin tidak menjawab. Jacob segera mempercepat kerjaannya. Setelah mengumpulkan semua data untuk dijadikan bukti, Jacob segera mengirim itu kepihak pemerintah, militer, dan beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan Mack. Jadi benar, Mack melakukan banyak kecurangan dalam bisnisnya. Jacob juga meminta bantuan pihak militer untuk segera menyerbu markas Mack.


***


"Tuan, ada sebuah data masuk kesistem komputer kita!" Ucap seorang lelaki.


"Data apa?" Tanya balik seroang lelaki setengah gendut.


"Ini laporan data penjualan secara ilegal dan kerjasama Mack Martin dengan beberapa pengusaha di Vietnam."


"Apa?" Lelaki setengah gendut itu.


"Mack Martin telah dilaporkan atas kejahatannya dalam bisnis dan kerja sama ilegal oleh Jacob Ridle."


"Jacob Ridle? Dia agen SIO, bagaimana bisa? Hubungi Jacob!" Perintah lelaki setengah gendut itu.


"Bagaimana bisa Jacob mengirim data ini? Apa benar Mack sudah melakukan penjualan dan kerja sama ilegal? Tapi data ini benar apa adanya." Gumam lelaki setengah gendut itu.


Tringg... Suara ponsel berdering. Jacob mengambil ponsel itu. Pihak pemerintah menelponnya.


"Apa ini Mr. Jacob Ridle dari SIO?"


"Ya."


"Kami mendapat kiriman data atas nama anda, apa itu benar?"


"Ya, saya yang mengirimnya. Dimana perdana menteri? Aku ingin berbicara dengannya?"


"Hallo, Jack."


"Siang, Pak Perdana menteri, saya Jacob Ridle agen intelegent dari SIO, saya sudah mengetahui kejahatan Mack, dia mengkhianati anda dan beberapa perusahaan lain dengan diam-diam membuat markas khusus di teluk Wineglass untuk menyembunyikan dan merahasiakan kejahatannya dan berpura-pura menjual beberapa perusahaannya agar ia bisa melakukan kerjasama dagang dengan perusahaan gelap. Dia juga sudah mencuri sampel kimia milik SIO untuk digunakan sebagai bahan dasar peledak super yang akan ia jual secara ilegal. Saya sudah kirim data aslinya kepada anda, jadi tolong segera tangani ini. Kalian bisa melacak lokasinya melalui ponsel saya."


"Baik, terima kasih atas informasinya, Mr. Jacob. Kami akan kirim bantuan dari pihak militer untuk mengamankan wilayah itu."


Sambungan telepon sudah terputus. "Bisa-bisanya Mack melakukan itu." Ucap perdana menteri sambil menonjok pelan meja yang ada dihadapannya.


"Lacak ponsel milik Jacob, dan kirim pasukan militer ke wilayah itu!" Perintah perdana menteri itu.


***


"Mr. Jacob, tolong.." Rintih Alesha. Jacob tersentak mendengar suara Alesha.


Jacob segera pergi keluar setelah mendapatkan dan mengirim semua bukti kejahatan Mack. Tugasnya sekarang adalah menyelamatkan Alesha dan mengambil sampel yang sudah Mack curi.


"Kalian cari ruangan Laboratorium, ambil sampel yang kemarin sudah Mack curi dari SIO!" Perintah Jacob pada anggota timnya.


Jacob sendiri mencoba mendobrak pintu ruangan Mack namun terlalu sulit karna pintu itu terbuat dari baja.


Jacob mencoba mencari akal. Ia berlari lagi ke ruangan yang tadi dan mencoba mencari jalan masuk lewat sana.


"Jika kau maju, dia akan mati." Ucap Mack sembari masih mencekik leher Alesha. Alesha sudah tidak berdaya cekikan Mack terlalu kuat.


Tangan Levin sudah mengepal kuat. Ia ingin sekali mengajar Mack.


"Kau bermain-main denganku, Lev, aku akan membalasnya dengan senang hati." Mack menyeringai.


"Sudah cukup kejahatanmu, Mack, aku muak!" Ucap Levin dengan dingin namun menakutkan.


Levin maju dan mengabaikan ancaman Mack. Lagi pula Mack tidak memegang senjata dan sedang tersudut saat itu.


Jacob muncul disaat yang tepat. Levin menarik kasar tangan Alesha hingga membuat Alesha hampir terjatuh, namun tertahan oleh Jacob.


Levin menghajar Mack dengan sekali tonjokan hingga membuat kepala Mack terbentur tembok. Mack terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Itu untuk Alesha." Sekali lagi Levin menonjok kepala Mack hingga membentur tembok lagi. "Dan itu untuk keluargaku." Levin berniat ingin menonjok Mack lagi, namun Mack menahan tangan Levin dan balik menonjok Levin.


"Mr. Levin..." Reflek Alesha berteriak dan berniat lari untuk menghampiri Levin, namun Jacob menahan tangannya.


"Bawa dia pergi dari sini! Mack sudah menghubungi anak buahnya untuk segera datang kemari." Ucap Levin pada Jacob. Jacob mengangguk.


"Tidak! Bagaimana denganmu?" Tanya Alesha.


"Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja." Jawab Levin. "Cepat bawa dia!" Bentak Levin.


Jacob segera membawa paksa Alesha yang memberontak. "Tidak!!" Tolak Alesha.