May I Love For Twice

May I Love For Twice
Misi Pertama Luxury-01



Terlepas dari kejadian malam itu tepatnya dua hari lalu kala Alesha tertidur di rumah pohon akibat hujan yang menjebak, juga pesta mini yang Jacob buat untuk merayakan hari ulang tahun kesembilan belas gadisnya. Kini giliran para anggota termasuk Alesha merayakan balik pesta ulang tahun mentor mereka yang genap berusia dua puluh enam tahun.


"Semua sudah siap?" Tanya Bastian selaku pemimpin dalam proses pembuatan pesta itu.


"Sudah, Bas. Kue ulang tahunnya sedang dibawa oleh Alesha dan Maudy ke sini." Jawab Aiden.


Tapi pesta ini tidak hanya akan dihadiri oleh anggota tim Luxury-01 saja, Mr. Thomson pun turut Bastian undang karna rasanya kurang lengkap jika si kepala sekolah itu tidak diajak.


"Bagus, oh ya di mana Nakyung?"


"Nakyung sudah bersembunyi, Bas. Tenang saja pesta ini akan berlangsung sesuai rencana." Jawab Lucas yang mendaratkan tepukan pelan pada pundak Bastian.


Bastian bersyukur, sejauh ini rencananya juga yang lain berjalan mulus tanpa diketahui oleh mentor mereka. Proposal sudah dibuat, dimulai dari yang urutan pertama adalah membuat Jacob panik dengan berpura-pura mengabarkan kalau Nakyung diculik oleh kelompok jaringan gelap yang kembali berulah di WOSA. Untuk urusan itu Bastian menyerahkannya pada Mr. Thomson agar Jacob percaya kalau Nakyung sungguhan diculik.


Untuk tempat pestanya sendiri sudah diputuskan untuk dirayakan di taman tengah hutan buatan Jacob. Di sana sudah dihiasi oleh lampu kelap kelip yang berukuran kecil namun memanjang dan dikaitkan kererantingan, satu lampu besar yang menggantung didahan pohon, juga masih ada beberapa hiasan party yang dipesan melalui situs jual beli online dan diantar ke WOSA oleh pengawas SIO yang rutin datang ke WOSA setiap dua minggu sekali.


"Semua sudah pada tempatnya, tinggal pestanya saja yang akan dimulai beberapa jam lagi. Matahari juga akan segera tenggelam." Gumam Bastian.


"Mr. Thomson!" Seru Aiden saat mendapati kedatangan Mr. Thomson bersama Alesha dan Maudy yang juga berjalan disebelah kepala sekolah WOSA itu.


"Waw, tempat yang indah, aku tidak tahu kalau Jacob membuat taman seperti ini." Puji Mr. Thomson sembari mengedarkan pandangan kesekelilingnya.


"Kami pun diberitahu oleh Alesha kalau ternyata Mr. Jacob memiliki taman ini. Bahkan rumah pohon itu Mr. Jacob sendiri yang membangunnya." Seru Bastian.


"Mau ditaruh dimana kuenya?" Tanya Maudy.


"Meja itu." Tunjuk Stella pada salah satu meja berukuran sedang yang terletak disebelah pohon apel.


"Hey, Mr. Jacob sudah masuk dalam rencana kita, dia panik dan sedang mencari tahu keberadaan kelompok jaringan gelap itu bersama Mike untuk sekalian mencari Nakyung !" Lucas menyampaikan ucapannya itu dengan penuh semangat.


"Tentu saja, sebelum kesini aku sudah membuatnya panik setengah mati." Saut Mr. Thomson.


"Sekarang kita hanya tinggal menunggu Mike untuk menggiring Mr. Jacob ke taman ini." Ucap Bastian sembari menghembuskan napas lega.


Sedangkan di dalam ruangannya, Jacob kini mengutak-atik laptopnya untuk melihat denah peta pulau WOSA dan melacak lokasi kelompok jaringan gelap yang ia pikir sudah kembali melakukan ulah di WOSA dengan menculik Nakyung.


Jacob tidak tahu kalau itu semua adalah akal-akalan anggota timnya dan juga Mr. Thomson untuk merayakan hari ulang tahunnya. Tapi Jacob benar-benar dibuat panik dan takut, tidak terbesit sama sekali pikirannya mengenai hari ulang tahunnya, yang ada hanyalah bagaimana cara mendapatkan dan menemukan Nakyung. Untung saja Mr. Thomson sudah berpesan pada petugas IT di WOSA jika Jacob menanyakan mengenai keberadaan kelompok jaringan gelap, maka para petugas IT itu harus harus mengatakan kalau memang benar kelompok jaringan gelap itu sudah kembali berulah di WOSA.


"Mr. Jacob, kita menemukan lokasi Nakyung!" Seru Mike yang berpura-pura panik saat memasuki ruangan Jacob. "Bastian dan yang lain sudah menemukan Nakyung, dan penjaga WOSA sedang dikerahkan ke tengah hutan untuk memburu kelompok jaringan gelap itu!"


"Sungguh? Dimana dia? Dimana Nakyung?" Tanya Jacob antar senang dan panik.


"Ikuti aku." Mike pun segera berlari dan disusul oleh Jacob dibelakangnya.


"Bas, aku sudah membawa Mr. Jacob menuju taman." Ucap Mike pelan pada benda kecil yang menempel ditelinganya.


"Bagus, Mike sudah membawa Mr. Jacob kesini, kita harus bersiap." Ucap Bastian dengan penuh semangat.


Jacob begitu panik dan ingin cepat-cepat untuk menemukan Nakyung. Ia takut jika ia akan terlambat dan terjadi sesuatu yang buruk pada Nakyung. Jacob akan mengutuk dirinya sendiri jika hal itu terjadi. Ia menyayangi semua anggota timnya, tentu saja ia juga sangat menyayangi Nakyung, maka dari itu ia akan lakukan apapun untuk menjaga anggota timnya. Namun disela-sela berlari, Jacob merasakan adanya sedikit keanehan. Jalan yang Mike lewati untuk menuntun Jacob menuju tempat dimana Nakyung berada sangat tidak asing untuk Jacob. Tentu saja, Jacob sangat sering melewati jalan itu yang bukan lain adalah jalan menuju taman buatannya. Apa mungkin anggota jaringan gelap itu bermarkas di tamannya? Pikir Jacob.


Di taman sendiri, Alesha dan Stella sudah siap dengan balon mereka, Lucas, Tyson, Merina, dan Maudy sudah siap dengan trompet yang ada dimulut mereka, dan Aiden sudah siap dengan music box yang akan memutarkan sebuah lagu khusus untuk memeriahkan acara ulang tahun mentornya itu.


"Bas, aku sudah beberapa meter dari taman, bersiap lah."


Mendengar pesan singkat dari Mike barusan, segera Bastian meminta yang lain untuk berdiri di tempat masing-masing.


Dan benar saja, tidak sampai satu menit berlalu, Mike pun sampai bersama Jacob yang berlari dibelakangnya.


"Selamat ulang tahun, Mr. Jacob!!" Sambutan riuh itu pecah seketika disertai tiupan trompet yang menjadi tanda kalau pesta ulang tahun itu telah dimulai.


Jacob yang sedang panik setengah mati mendadak tersentak hingga terlonjak kebelakang setelah jantungnya dibuat meloncat karna gemaan suara dari ucapan selamat yang dibarengi dengan suara trompet juga ledakan dari balon kecil. Jacob mematung dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Bingung? Panik? Ada apa? Kenapa? Maksudnya apa? Kepala Jacob dibuat sibuk oleh pertanyaan-pertanyaan itu.


"Selamat ulang tahun yang ke dua puluh enam, Mr. Jacob!" Ucap kesepuluh anggota tim Luxury-01 secara serentak.


Ya ampun, aku lupa hari ini adalah hari ulang tahunku... Ucap Jacob dalam hati.


Ekspresi campur aduk pada wajah Jacob seketika luntur saat tergantikan oleh segaris senyum yang perlahan terbentuk. Jacob benar-benar tidak percaya dengan apa yang ada didepan matanya sekarang. Apa benar anggota timnya itu merayakan ulang tahunnya? Juga ada Mr. Thomson di sana, bukankah tadi Mr. Thomson yang mengatakan kalau Nakyung menghilang diculik oleh kelompok jaringan gelap? Pikir Jacob.


"Selamat ulang tahun, Jack." Mr. Thomson mendekati Jacob lalu menepuk pundak pria itu.


Jacob masih tidak bisa berkata apa-apa. Ia masih terpaku pada pikirannya sendiri. Apakah ia tidak senang bermimpi? Melihat seluruh anggota timnya dan Mr. Thomson membuat pesta kecil untuk merayakan ulang tahunnya?


"Jangan bingung, Mr. Jacob, ini semua rencana Bastian seminggu yang lalu, dia mengajak Mr. Thomson untuk bekerja sama, dan jadilah pesta ulang tahun kecil-kecillan ini." Ucap Mike sambil melayangkan senyum manis pada mentornya.


Kening Jacob berkerut saat mendengar ucapan Mike barusan. "Bastian?"


"Ya, ini semua rencana si ketua awalnya, dan kita semua setuju." Saut Tyson.


"Hehe, selamat ulang tahun, Mr. Jacob." Ucap Bastian yang tersenyum kikuk saat mendapatkan sorot bingung dari mentornya.


Jacob menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tunggu, ini semua maksudnya? Lalu dimana Nakyung?"


"Dia disana." Tunjuk Aiden pada salah satu dahan tinggi yang menggantung diatas pohon apel. Di sana lah Nakyung sedang asik bersandar sembari menikmati musik yang mengalir melalui earphone miliknya.


"Nakyung!" Panggil Bastian, namun Nakyung acuh karna tidak dapat mendengar suara ketuanya.


Plak....


Satu ranting pohon berhasil mengenai lengan Nakyung dan membuat si empunya lengan itu meringgis kesakitan.


"Ck, kalian itu, saki tahu tidak!!" Protes Nakyung yang membelokkan tubuhnya untuk melihat kearah pinggir, tepatnya pinggir bawah. "Eh, Mr. Jacob."


Seketika ekspresi wajah Nakyung berubah menjadi senyum kaku setelah melihat keberadaan mentornya.


"Jadi dia tidak menghilang? Lalu kelompok jaringan gelap itu?" Kening Jacob lagi-lagi berkerut dan menunjukan sebuah tanda tanya besar salam ekspresi mentor itu.


Mr. Thomson tersenyum saat mendengar itu. "Tidak ada anggota kelompok jaringan gelap yang kembali berulah berulah, itu hanya akal-akalan mereka saja, Jack."


"Apa?!" Pekik Jacob.


"Sudah jangan bingung atau banyak bertanya, sekarang tiup lilinnya." Ucap Alesha yang tiba-tiba saja maju mendekati Jacob seraya membawa kue ulang tahun itu pada telapak tangannya.


Jacob sedikit terkesiap saat melihat Alesha yang mendekatinya dengan menggunakan baju dress batik selutut.


"Selamat ulang tahun yang kedua puluh enam, Mr. Jacob." Eye Smile manis pun dikembangkan begitu saja oleh Alesha dan membuat Jacob merasa gemas.


"Terima kasih." Lirih Jacob yang masih mengunci pandangan pada gadis kesayangan didepannya itu. Lalu kemudian Jacob juga mengedarkan pandangannya pada yang lain. "Terima kasih banyak." Ucap Jacob sangat tulus.


"Terima kasih banyak, Bas." Haru Jacob pada sang ketua tim. Air mata pun tidak terasa mulai berlinangan pada ujung kelopak matanya. Ia sangat terharu dan tidak percaya jika timnya tahu tanggal ulang tahunnya dan membuat perayaan kecil yang akan sangat berarti untuk Jacob. Bahkan Jacob sendiri lupa kalau hari ini adalah ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk dan yang ia ingat adalah malam ini WOSA akan mengadakan acara dengan para murid, tepatnya jam setengah delapan nanti.


"Dua puluh enam tahun, sepuluh tahun lalu kau bergabung dengan kami, Jack, menjadi murid WOSA dan mendapat predikat lulusan terbaik, kau juga menjadi agent yang membanggakan untuk SIO. WOSA dan SIO beruntung karna memilikimu." Setelah mengucapkan itu, Mr. Thomson pun menaruh pelukan yang lumayan singkat pada Jacob. "Aku harap kau akan terus menjadi bagian dari SIO, kami masih sangat membutuhkanmu."


Pelukan antara Jacob dan Mr. Thomson pun terlepas.


"Aku tidak bisa menjanjikan untuk menjadi yang terbaik, tapi aku harap aku bisa lebih baik lagi dari yang lalu." Ucap Jacob.


"Kalian beruntung karna Jacob yang menjadi mentor kalian." Ucap Mr. Thomson sambil menatap kesepuluh murid WOSA yang ada didepannya.


"Sekarang tiup lilinnya, Jack." Mr. Thomson melirik pada Alesha yang sedari tadi telah menopang kue ulang tahun mentornya diatas telapak tangannya.


Jacob membongkokkan sedikit tubuhnya sedangkan Alesha mengangkat sedikit lengannya.


"Selamat ulang tahun untuk kita berdua, Al." Bisik Jacob yang hanya bisa didengar oleh Alesha.


"Huftt.." Satu tiupan dari dalam mulut Jacob langsung mematikan lilin mungil yang pada ujung sumbunya dibakar oleh api kecil.


Wangi dan segar sekali napasnya..... Gumam Alesha dalam hati.


Tiupan trompet dan sorakkan riang pun menggema disekitaran taman tengah hutan itu saat Jacob berhasil mematikan api yang menyala diatas lilin walau hanya dengan satu kali tiupan.


"Selamat ulang tahun, Mr. Jacob." Dengan cepat Nakyung pun menghampiri Jacob lalu memeluk tubuh mentornya itu.


"Selamat ulang tahun juga, Mr. Jacob." Susul Merina yang juga menaruh pelukkan pada mentornya, dan setelah itu yang lain pun mengikuti Nakyung dan Merina untuk memeluk mentor mereka. Kecuali Alesha. Gadis itu hanya terdiam sambil tertawa kecil saat melihat teman-temannya yang lain memeluk Jacob. Ah lupakan saja, Alesha sering mendapatkan pelukkan dari Jacob, jadi tidak masalah kalau sekarang ia tidak kebagian tempat untuk memeluk mentornya, lagi pun kuenya akan terjatuh jika Alesha ikut memeluk mentornya.


"Terima kasih, aku sangat menyayangi kalian semua." Balas Jacob sambil mengelus satu per satu puncak kepala anggota timnya.


Sudah dua puluh enam tahun ya? Kapan Jacob akan mengatakan perasaannya? Ia ingin segera menjemput jodohnya. Usianya sudah cukup matang, dan Jacob tidak ingin membuang-buang waktu, cepat atau lambat Jacob harus memastikan Alesha akan menjadi miliknya.


"Jack, aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini, yang lain sudah menungguku di aula, oh ya jangan lupa nanti jam setengah delapan kalian harus datang ke aula." Ucap Mr. Thomson.


"Baik, Mr. Thomson, dan terima kasih juga karna sudah mau membantu kami." Balas Bastian dengan sopan.


"Terima kasih sudah hadir, Mr. Thomson." Sambung Jacob.


Mr. Thomson mengangguk lalu. "Apa bisa salah satu dari kalian mengantarku? Aku tidak tahu jalan untuk kembali ke WOSA."


"Saya bisa, Mr. Thomson." Ucap Bastian.


"Baiklah, kalau begitu ayo. Jack, kalian semua, saya permisi." Mr. Thomson pun melangkahkan kakinya untuk kembali menuju WOSA dengan ditemani oleh Bastian.


Dan sekarang sisalah Jacob dan para anggota timnya. Saling melempar pandangan hingga akhirnya mereka pun sama-sama tertawa riang. Entah karna apa yang pasti hati mereka sedang dilanda mood yang bagus.


"Bagaimana kalian merencanakan ini semua?" Tanya Jacob.


"Sudah kami bilang, Bastian yang merencanakan kejutan ini awalnya, dan kami semua setuju lalu Alesha mengusulkan untuk merayakannya di taman ini." Jawab Lucas yang mulai berhenti tertawa.


"Alesha? Oh, jadi kau yang memberitahu mereka tentang taman ini." Jacob mengusap gemas puncak kepala Alesha.


"Hehehe, tidak masalah jugakan kalau mereka tahu." Balas Alesha.


"Tidak apa, kalian juga bisa bermain di sini jika merasa bosan."


Tunggu, tiba-tiba saja satu pertanyaan menyadari Jacob akan satu hal. "Bagaimana kalian tahu tanggal ulang tahunku?"


"Kau bisa tanyakan pada hacker amatirmu, Mr. Jacob." Jawab Nakyung yang melirik pada Lucas.


"Aku? Ah, ya apa aku belum mengatakan padamu kalau aku menerobos situs resmi WOSA dan mencari tahu profilmu?" Lucas memasang wajah tanpa dosa yang membuat Jacob menggelengkan kepalanya.


"Jadi kau yang memasuki situs resmi WOSA seminggu lalu." Jacob melipatkan kedua lengannya dan menatap lurus pada Lucas.


"Aku berurusan dengan tim IT WOSA, untungnya setelah Bastian dan Mr. Thomson menjelaskan pada mereka akhirnya aku terhindar dari hukuman." Lanjut Lucas.


Jacob pun berjalan mendekati Lucas dengan laga sok'nya. "Kerja bagus, kau tidak menyia-nyiakan apa yang sudah aku ajarkan." Satu tepukan lembut mendarat dibahu Lucas.


Dan momen itu pun berlanjut dengan candaan dan lawakan dari si pelawak ulung, yang lagi-lagi disini Lucas lah yang mengambil perannya, juga si partner sejati, Mike.


Mereka tidak henti-hentinya menertawakan segala hal yang memangnya tidak perlu dijadikan bahan lawakkan, namun karna gaya bicara dan penyampaian yang unik, akhirnya sesuatu yang membosankan pun menjadi hidup dan terkesan lucu.


Jacob merasakan hal yang sama seperti yang kemarin Alesha rasakan. Ulang tahunnya kali ini akan menjadi yang terbaik, dirayakan tanpa diketahui olehnya terlebih dahulu, kejutan kecil-kecilan yang sangat bermakna untuk Jacob.


Kalian semua berharga untukku, kalian adik-adikku, kecuali kau Alesha, kau yang akan menjadi ibu dari anak-anakku.... Ucap Jacob dalam hati. Senyum pun tak dapat terhindarkan dari wajah tampan Jacob. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika ia dan Alesha menikah lalu mempunyai anak, dan ia juga tidak ingin berpisah dengan anggota timnya yang sekarang, rasa sayangnya sudah seperti pada saudara kandung sendiri.


"Tunggu! Jam berapa sekarang?" Tanya Tyson.


Alesha melihat jam tangannya yang merupakan pemberian dari sang mentor. "Jam tujuh lewat dua puluh!" Pekik Alesha.


"Ya ampun, kita bisa telat! Ayo kita harus menuju aula sekarang!" Ucap Stella yang bertingkah seperti orang panik.


"Mr. Jacob kau langsung pergi saja ke aula bersama yang lain, biar aku yang membawa kado-kado ini, dan Stella, kau bawa kuenya!" Ucap Alesha yang berusaha mengendalikan dirinya agar tidak ikut panik.


Yang lain pun segera menuruti ucapan Alesha dan berlarian meninggalkan taman tempat pesta kecil itu berlangsung. Melangkah secepat mungkin sedangkan waktu semakin mengejar mereka. Setelah sampai di taman utama, mereka pun berpisah, Alesha dan Stella pergi ke ruangan Jacob untuk menaruh kue ulang tahun dan kado-kado milik mentor mereka.


"Ayo Alesha kita harus cepat! Taruh saja kado-kado itu disofanya! Ya ampun waktu kita kurang dari dua menit!" Stella semakin panik.


"Tenang, Stella." Balas Alesha.


"Sudahkan, ayo!" Stella menarik pergelangan tangan Alesha dan mereka pun berlari terbirit-birit.


Beberapa meter dari gedung aula, Alesha dan Stella mendapati kalau pintu aula itu masih terbuka, dan itu berarti acaranya belum dimulai. Segera mereka pun memasuki ruang aula yang sudah dan mengedarkan pandangan mencari letak anggota tim mereka.


"Disana!" Tunjuk Stella sembari menarik lengan Alesha menuju pojokkan gedung sebelah kiri.


Tepat saat Alesha dan Stella duduk dibangku mereka, Mr. Thomson pun datang dan pintu aula ditutup.


"Huft, syukurlah." Alesha menghembuskan napasnya dengan lega setelah tahu kalau mereka datang diwaktu yang sangat tepat.


"Selamat malam semuanya." Sapa Mr. Thomson. Ia pun langsung mengambil tempat dengan berdiri tepat dihadapan sebuah layar LED besar yang menampilkan visualisasi beberapa kota disuatu negara.


"Selamat malam, Mr. Thomson." Balas seluruh peserta rapat.


"Malam ini, saya Mr. Thomson selaku kepala sekolah dari WOSA akan mengumumkan kepada seluruh murid WOSA bahwa dua hari lagi kalian semua akan menjalani ujian akhir semester dua. Setiap tim akan kami kirim keberbagai tempat untuk menjalani sebuah misi. Siapa yang paling cepat menyelesaikan misi itu, maka tim tersebut akan mendapatkan peringkat satu dalam klasemen nilai dan poin. Kami memberi waktu dua puluh empat jam, jika melebihi waktu yang ditentukan maka tim itu dianggap gagal."


"Kalian akan kami kirim kelima kota di Amerika Serikat. Satu kota terdiri dari dua tim. Di sana kalian akan mencari sebuah benda yang nanti akan diberitahukan oleh mentor kalian. Tugas kalian adalah menemukan benda itu dan menghalangi tim lain yang satu kota dengan kalian untuk mendapatkan benda yang mereka cari."


"Persiapkan semua dengan baik, fisik kalian terutama semua pengetahuan dan kemampuan kalian yang sudah diajarkan oleh para mentor. Jangan buat membuat kekecewaan, ingatlah setelah lulus dari WOSA kalian akan langsung bekerja di SIO. Tentunya sesuai basic kalian masing-masing."


Mr. Thomson berjalan mendekati sebuah meja kecil yang diatasnya sudah terdapat kotak kaca berisi beberapa gulungan kertas.


"Tolong kepada semua ketua tim untuk dapat maju kedepan dan berdiri disebelahku."


Setelah mendengar perintah dari Mr. Thomson barusan, para ketua dari kesepuluh tim pun segera maju kedepan.


"Silahkan ambil." Mr. Thomson memajukan kotak kaca itu dan membiarkan kesepuluh remaja yang menjabat sebagai ketua tim itu mengambil masing-masing satu gulungan kertas.


"Buka kertas kalian dan bacakan tulisan yang ada dalam gulungan kertas itu." Titah Mr. Thomson.


Dimulai dari yang pertama, yaitu Brandon. " Los Angeles." Ucap Brandon.


Lalu disusul yang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga yang terakhir adalah Bastian.


"Los Angeles." Bastian mengucapkan nama kota itu dengan sebelah alis yang sedikit terangkat. Dia yang salah ambil atau bagaimana? Timnya akan berlawanan dengan tim Brandon.


Satu tarikan dari salah satu sudut bibir Brandon merupakan seringai ejekkan yang membuat Bastian dan anggota timnya merasa geram.


"Jangan terpancing karna hal sepele, kalian harus fokus pada tujuan kalian." Ucap Jacob yang menasihati anggota timnya.


"Dia menyepelekan kita, Mr. Jacob!" Geram Tyson.


"Akan ku buat dia menyesal!" Ucap Nakyung sambil menatap tajam pada Brandon.


"Sekarang kalian semua sudah tahu kota mana yang akan menjadi tempat kalian melaksanakan ujian akhir semester dua." Ucap Mr. Thomson. "Kalian bisa kembali ke tempat duduk masing-masing." Lanjutnya.


Lalu Mr. Thomson kembali menjelaskan mengenai beberapa peraturan yang harus ditaati oleh para murid WOSA saat melaksanakan ujian akhir nanti berlangsung. Cukup banyak namun disampaikan secara singkat, padat, dan jelas.


***


Hmmm, maapkeun ya kalo tulisannya agak sedikit acak-acakkan atau kurang enak dibaca atau alurnya jadi sedikit ngaco, authornya lagi kurang fokus karna banyak banget kerjaan and tugas. Tapi tetep kok aku prioritasin buat lanjutin dan up cerita ini secepat mungkin dan coba serapih mungkin (walau nyatanya masih banyak banget yang typo atau acak-acakkan😅) karna authornya pengen cepet cepet tuntasin cerita ini, makanya alurnya aku cepetin🙏😌 makasih juga yang udah vote, like, komen, and rate. Luv U All 💋